Donor Darah dan Seluk Beluknya Terlengkap 2023

Donor Darah dan Seluk Beluknya Terlengkap 2023

Donor darah adalah kegiatan yang sangat penting untuk membantu menyelamatkan nyawa orang lain. Saat seseorang kehilangan darah karena kecelakaan, penyakit, atau prosedur medis, transfusi darah dapat menjadi penyelamat bagi mereka. Oleh karena itu, menjadi donor darah adalah langkah penting untuk membantu memastikan pasokan darah yang cukup untuk pasien yang membutuhkannya.

Seorang Laki-Laki sedang Menjalani Proses Donor Darah
Seorang Laki-Laki sedang Menjalani Proses Donor Darah Photo by LuAnn Hunt on Unsplash

Namun, ada banyak hal yang harus diketahui sebelum Anda menjadi donor darah. Pertama-tama, Anda harus memenuhi persyaratan kesehatan tertentu, termasuk berat badan yang cukup, tekanan darah stabil, dan tidak memiliki riwayat penyakit menular. Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan Anda untuk menjadi donor darah, seperti usia, jenis kelamin, dan gaya hidup.

 

Selain itu, proses donor darah melibatkan beberapa langkah, termasuk pemeriksaan kesehatan awal, pengambilan sampel darah, dan pengecekan darah Anda untuk memastikan bahwa itu aman untuk disumbangkan. Setelah itu, darah Anda akan disimpan dan diolah sebelum disumbangkan ke pasien yang membutuhkannya.

 

Namun, ada juga beberapa risiko dan efek samping yang terkait dengan donor darah, seperti kelelahan, pusing, dan infeksi. Oleh karena itu, penting untuk memahami seluk beluk donor darah sebelum memutuskan untuk menjadi donor.

 

Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam tentang seluk beluk donor darah, termasuk persyaratan kesehatan, prosedur donor darah, risiko dan efek samping yang mungkin terjadi, serta manfaat dari menjadi donor darah. Semoga artikel ini dapat membantu Anda memutuskan apakah menjadi donor darah adalah sesuatu yang ingin Anda lakukan dan memberikan Anda informasi yang berguna untuk mempersiapkan diri untuk melakukan donor darah dengan aman dan efektif.

 

Apa itu Donor Darah?

Ilustrasi Seseorang Sedang Mendonorkan Darah
Ilustrasi Seseorang Sedang Mendonorkan Darah

Donor darah adalah proses sukarela untuk menyumbangkan sebagian dari darah seseorang untuk digunakan oleh orang lain yang membutuhkan. Darah yang disumbangkan kemudian akan diolah dan disimpan sebelum digunakan untuk transfusi pada pasien yang membutuhkannya, seperti mereka yang menderita kecelakaan, penyakit, atau menjalani prosedur medis.

 

Donor darah adalah proses yang sangat penting untuk membantu memastikan pasokan darah yang cukup untuk pasien yang membutuhkannya. Ketika seseorang kehilangan darah, misalnya karena kecelakaan, penyakit, atau prosedur medis, transfusi darah dapat menjadi nyawa-nyawa bagi mereka.

 

Selain itu, donor darah juga dapat membantu mengurangi kekurangan darah di berbagai negara dan wilayah, terutama di negara-negara berkembang yang sering mengalami kesulitan dalam menyediakan pasokan darah yang cukup bagi masyarakatnya.

 

Untuk menjadi pendonor , seseorang harus memenuhi beberapa persyaratan kesehatan tertentu, seperti berat badan yang cukup, tekanan darah stabil, dan tidak memiliki riwayat penyakit menular. Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menjadi pendonoh darah, seperti usia, jenis kelamin, dan gaya hidup.

 

Proses donor darah melibatkan beberapa langkah, termasuk pemeriksaan kesehatan awal, pengambilan sampel darah, dan pengecekan darah untuk memastikan bahwa itu aman untuk disumbangkan. Setelah itu, darah yang disumbangkan akan disimpan dan diolah sebelum digunakan untuk transfusi pada pasien yang membutuhkannya.

 

Donor darah memiliki manfaat yang signifikan bagi pasien yang membutuhkan transfusi darah. Namun, penting untuk diingat bahwa ada juga beberapa risiko dan efek samping yang terkait dengan donor darah, seperti kelelahan, pusing, dan infeksi. Oleh karena itu, penting untuk memahami seluk beluk donor darah sebelum memutuskan untuk menjadi pendonor dan selalu berkonsultasi dengan dokter jika ada kekhawatiran.

 

Siapa yang Bisa Mendonorkan darahnya?

Setiap orang sehat yang memenuhi syarat kesehatan tertentu dapat menjadi penyumbang darah. Namun, persyaratan kesehatan yang harus dipenuhi dapat berbeda-beda di setiap negara dan lembaga donor darah.

 

Berikut adalah beberapa persyaratan umum yang harus dipenuhi:

  1. Usia minimal 17 tahun. Beberapa negara memungkinkan pendonor darah berusia di bawah 17 tahun dengan persetujuan orang tua atau wali.
  2. Berat badan minimal 45 kg.
  3. Tekanan darah yang stabil dan dalam rentang normal.
  4. Tidak memiliki riwayat penyakit menular, seperti HIV, hepatitis, atau malaria.
  5. Tidak mengonsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat pengencer darah atau obat-obatan terlarang.
  6. Tidak memiliki riwayat transfusi darah dalam 12 bulan terakhir.
  7. Tidak mengalami penyakit atau kondisi medis tertentu, seperti anemia atau diabetes.

 

Selain persyaratan kesehatan di atas, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menjadi pendonor darah, seperti jenis kelamin, orientasi seksual, dan riwayat perjalanan ke negara-negara tertentu. Beberapa negara mungkin memiliki persyaratan khusus untuk pendonor darah, seperti menjalani tes tertentu atau menunggu periode tertentu setelah perjalanan ke negara tertentu sebelum bisa menjadi pendonor darah.

 

Sebelum menjadi pendonor darah, sangat penting untuk mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh lembaga donor darah, seperti menjalani pemeriksaan kesehatan dan melengkapi formulir kesehatan. Hal ini untuk memastikan bahwa darah yang disumbangkan aman untuk digunakan oleh pasien yang membutuhkannya.

 

Dimana Seseorang Bisa Mendonorkan Darah?

Donor darah dapat dilakukan di berbagai lokasi di Indonesia, termasuk di rumah sakit, puskesmas, klinik kesehatan, dan unit donor darah yang dikelola oleh Palang Merah Indonesia atau PMI. Beberapa universitas dan perusahaan juga sering mengadakan kegiatan donor darah di lokasi mereka.

 

Berikut ini adalah beberapa lokasi donor darah yang dapat ditemukan di Indonesia:

 

Unit Donor Darah PMI

PMI memiliki lebih dari 130 unit donor darah di seluruh Indonesia yang tersebar di berbagai kota dan daerah. Lokasi unit donor darah PMI dapat ditemukan melalui situs resmi PMI.

 

Rumah Sakit

Banyak rumah sakit di Indonesia memiliki program donor darah, dan biasanya memiliki unit donor darah yang terpisah atau khusus. Lokasi donor darah di rumah sakit dapat dilihat di situs web atau kantor informasi rumah sakit.

 

Puskesmas dan Klinik Kesehatan

Beberapa puskesmas dan klinik kesehatan juga memiliki program donor darah, meskipun jumlahnya mungkin lebih sedikit dibandingkan dengan rumah sakit dan unit donor darah PMI.

 

Universitas dan Perusahaan

Banyak universitas dan perusahaan di Indonesia juga mengadakan kegiatan donor darah di lokasi mereka sebagai bentuk kegiatan sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR). Informasi tentang kegiatan donor darah di universitas dan perusahaan dapat ditemukan di situs web mereka atau melalui pengumuman di kampus atau kantor.

 

Penting untuk mencari informasi lebih lanjut tentang lokasi donor darah dan persyaratan yang diperlukan sebelum mengunjungi lokasi tersebut. Sebagai contoh, beberapa lokasi donor darah mungkin memerlukan janji temu terlebih dahulu atau memiliki persyaratan kesehatan tertentu.

 

Tahapan Donor Darah

Berikut adalah tahapan atau langkah-langkah yang harus diikuti saat mendonorkan darah:

 

Pendaftaran

Pendaftaran dilakukan pada saat kedatangan di lokasi donor darah. Calon pendonor akan diminta untuk mengisi formulir kesehatan dan memberikan informasi tentang diri mereka, seperti nama, umur, dan riwayat kesehatan.

 

Pemeriksaan kesehatan

Setelah pendaftaran, calon pendonor akan menjalani pemeriksaan kesehatan oleh petugas kesehatan. Pemeriksaan kesehatan meliputi pengukuran tekanan darah, suhu tubuh, dan kadar hemoglobin dalam darah. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa calon pendonor dalam kondisi sehat dan darah mereka aman untuk disumbangkan.

 

Persiapan Donor Darah

Setelah pemeriksaan kesehatan, calon pendonor akan diberikan informasi tentang proses donor darah dan diberi waktu untuk bersiap-siap. Petugas kesehatan juga akan menjelaskan bagaimana cara menjaga kesehatan setelah donor darah selesai. Calon donor juga diminta untuk minum ± 500 cc air mineral atau jus buah tanpa gula sebelum prosedur pengambilan darah di mulai.

 

Donor darah

Setelah persiapan, calon pendonor akan ditempatkan di kursi donor darah dan area lengan yang akan digunakan untuk donor darah akan dibersihkan dengan cairan antiseptik. Selama proses donor darah, sekitar 450 ml darah akan diambil dari tubuh calon pendonor dengan menggunakan jarum dan tas darah steril.

 

Istirahat

Setelah donor darah selesai, calon pendonor akan diminta untuk beristirahat selama beberapa menit. Petugas kesehatan akan memastikan bahwa calon pendonor merasa baik-baik saja sebelum meninggalkan lokasi donor darah.

 

Konsumsi cairan dan makanan

Pendonor akan diberikan minuman dan makanan ringan setelah donor darah selesai. Ini bertujuan untuk membantu tubuh dalam memulihkan kekuatannya setelah kehilangan cairan dan darah.

 

Pemulangan Peserta Donor Darah

Setelah konsumsi minuman dan makanan, calon pendonor dapat pulang. Petugas kesehatan biasanya memberikan petunjuk tentang cara menjaga kesehatan setelah donor darah, termasuk beristirahat cukup, mengonsumsi makanan yang sehat, dan menghindari kegiatan fisik yang berat selama beberapa jam setelah donor darah.

 

Itulah beberapa tahapan atau langkah-langkah yang harus diikuti saat mendonorkan darah. Penting untuk diingat bahwa proses donor darah aman dan relatif tidak menyakitkan, dan calon pendonor tidak perlu khawatir. Sebaliknya, donor darah merupakan tindakan yang sangat mulia dan penting bagi pasien yang membutuhkan darah untuk penyembuhan.

 

Batas Tekanan Darah yang Diperbolehkan Mendonor Darah

Tekanan darah yang diperbolehkan untuk mendonor bervariasi tergantung pada kebijakan setiap lembaga donor darah. Namun, umumnya, batas tekanan darah yang diperbolehkan untuk mendonor adalah tekanan darah sistolik (angka pertama) antara 90-180 mmHg dan tekanan darah diastolik (angka kedua) antara 60-100 mmHg.

 

Tekanan darah sistolik mengukur tekanan pada saat jantung berkontraksi, sedangkan tekanan darah diastolik mengukur tekanan pada saat jantung beristirahat. Kedua angka ini memberikan gambaran keseluruhan tentang tekanan darah seseorang.

 

Jika tekanan darah seseorang terlalu tinggi atau terlalu rendah, maka mendonorkan darah dapat menjadi berbahaya bagi kesehatannya. Tekanan darah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan organ tubuh lainnya, sedangkan tekanan darah yang terlalu rendah dapat menyebabkan pingsan atau bahkan syok.

 

Selain batas tekanan darah, ada juga beberapa persyaratan kesehatan lain yang harus dipenuhi sebelum seseorang dapat mendonorkan darah. Beberapa persyaratan tersebut meliputi berat badan minimum, tidak memiliki riwayat penyakit tertentu, tidak sedang hamil atau menyusui, dan tidak mengonsumsi obat-obatan tertentu.

 

Sebelum mendonorkan darah, calon donor akan menjalani pemeriksaan kesehatan yang meliputi pengukuran tekanan darah, pemeriksaan golongan darah, dan tes darah lainnya. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk memastikan bahwa calon donor memenuhi syarat dan aman untuk mendonorkan darah.

 

Dalam kesimpulannya, batas tekanan darah yang diperbolehkan untuk mendonor bervariasi tergantung pada kebijakan setiap lembaga donor darah. Namun, umumnya, batas tekanan darah yang diperbolehkan adalah tekanan darah sistolik antara 90-180 mmHg dan tekanan darah diastolik antara 60-100 mmHg. Penting untuk memastikan bahwa seseorang memenuhi persyaratan kesehatan lainnya sebelum mendonorkan darah.

 

Kadar Hemoglobin yang Diperbolehkan Mendonor

Hemoglobin adalah protein yang terdapat di dalam sel darah merah dan berfungsi mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Kadar hemoglobin yang diperbolehkan untuk mendonor darah bervariasi tergantung pada kebijakan setiap lembaga donor darah. Namun, umumnya, batas kadar hemoglobin yang diperbolehkan untuk mendonor adalah:

  • Pria dewasa: minimal 13,0 gram/dL
  • Wanita dewasa: minimal 12,5 gram/dL

 

Kadar hemoglobin yang terlalu rendah dapat menyebabkan anemia atau kekurangan darah. Jika seseorang mendonorkan darah dengan kadar hemoglobin yang terlalu rendah, maka akan memperburuk kondisi anemia tersebut dan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius.

 

Sebelum mendonorkan darah, calon donor akan menjalani pemeriksaan kesehatan yang meliputi pengukuran kadar hemoglobin. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk memastikan bahwa calon donor memenuhi syarat dan aman untuk mendonorkan darah.

 

Jika kadar hemoglobin seseorang tidak memenuhi batas yang ditetapkan, maka lembaga donor darah dapat menyarankan untuk menunda donasi darah hingga kadar hemoglobin meningkat. Seseorang dapat meningkatkan kadar hemoglobin dengan cara mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, seperti daging merah, hati, kacang-kacangan, dan sayuran hijau. Selain itu, seseorang juga dapat meningkatkan kadar hemoglobin dengan olahraga teratur dan menghindari kebiasaan merokok.

 

Kapan Saja Waktu yang Diperbolehkan untuk Mendonor

Setelah seseorang mendonorkan darah, lembaga donor darah biasanya menyarankan agar seseorang menunggu beberapa waktu sebelum mendonorkan darah kembali. Hal ini untuk memastikan bahwa tubuh seseorang sudah pulih sepenuhnya dan memenuhi persyaratan kesehatan untuk mendonorkan darah.

 

Waktu yang diperlukan untuk tubuh pulih dan memenuhi persyaratan kesehatan sebelum mendonorkan darah kembali bervariasi tergantung pada jenis donasi darah yang dilakukan. Berikut adalah waktu yang diperlukan untuk menunggu sebelum mendonorkan darah kembali setelah jenis donasi darah tertentu:

 

Donasi darah lengkap

Setelah mendonorkan darah lengkap, lembaga donor darah biasanya menyarankan untuk menunggu minimal 56 hari atau sekitar 8 minggu sebelum mendonorkan darah lagi. Hal ini karena tubuh membutuhkan waktu untuk menghasilkan kembali sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit yang hilang selama donasi.

 

Donasi plasma

Setelah mendonorkan plasma, seseorang biasanya dapat mendonorkan darah lengkap setelah 28 hari atau 4 minggu. Namun, jika seseorang hanya mendonorkan plasma, maka lembaga donor darah biasanya menyarankan untuk menunggu minimal 7 hari sebelum mendonorkan plasma lagi.

 

Donasi trombosit

Setelah mendonorkan trombosit, lembaga donor darah biasanya menyarankan untuk menunggu minimal 7 hari sebelum mendonorkan trombosit lagi. Namun, seseorang harus menunggu minimal 14 hari sebelum mendonorkan darah lengkap atau plasma.

 

Penting untuk diingat bahwa waktu yang diperlukan untuk tubuh pulih dan memenuhi persyaratan kesehatan sebelum mendonorkan darah kembali bervariasi tergantung pada faktor-faktor individu, seperti kondisi kesehatan dan pola makan. Oleh karena itu, sebaiknya seseorang selalu mengikuti saran dan instruksi dari lembaga donor darah setelah mendonorkan darah.

 

Kapan Waktu Terbaik untuk Mendonorkan Darah Bagi Wanita

Waktu terbaik untuk mendonorkan darah bagi wanita tergantung pada beberapa faktor, seperti siklus menstruasi, kehamilan, dan kondisi kesehatan secara umum.

 

Siklus menstruasi

Menstruasi dapat memengaruhi kadar hemoglobin dalam darah, yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mendonorkan darah. Oleh karena itu, disarankan bagi wanita untuk mendonorkan darah pada saat di luar masa menstruasi, yaitu pada hari ke-5 hingga hari ke-25 dari siklus menstruasi. Pada saat tersebut, kadar hemoglobin dalam darah cenderung lebih stabil.

 

Kehamilan

Wanita yang sedang hamil atau menyusui tidak boleh mendonorkan darah. Seorang wanita yang baru saja melahirkan juga harus menunggu beberapa waktu sebelum dapat mendonorkan darah lagi. Hal ini karena tubuh membutuhkan waktu untuk pulih dan kembali memproduksi darah yang cukup.

 

Kondisi kesehatan

Wanita yang memiliki kondisi kesehatan tertentu seperti anemia atau diabetes perlu memperhatikan kadar hemoglobin mereka sebelum mendonorkan darah. Jika kadar hemoglobin terlalu rendah, maka seseorang tidak dapat mendonorkan darah karena dapat berisiko bagi kesehatannya. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kesehatan secara umum dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

 

Selain itu, wanita juga harus memperhatikan asupan zat besi dan folat untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan produksi sel darah merah. Makanan yang kaya zat besi seperti daging merah, hati, ikan, dan sayuran hijau dapat membantu meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah.

 

Donor Darah Dengan Beberapa Kondisi Penyakit Tertentu

Mendonorkan darah adalah tindakan sosial yang sangat mulia dan dapat menyelamatkan banyak nyawa. Namun, seseorang yang memiliki riwayat sakit jantung, diabetes, asam urat tinggi, dan kolesterol darah tinggi harus memperhatikan beberapa hal sebelum mendonorkan darah.

 

Sakit Jantung

Orang yang memiliki riwayat sakit jantung atau penyakit kardiovaskular lainnya harus berkonsultasi dengan dokter sebelum mendonorkan darah. Hal ini disebabkan karena mendonorkan darah dapat menyebabkan penurunan volume darah dan menurunkan tekanan darah, yang dapat memperburuk kondisi jantung. Jika dokter menyetujui untuk mendonorkan darah, biasanya orang tersebut akan diminta untuk menjalani pemeriksaan medis dan tes untuk mengevaluasi kesehatan jantungnya.

 

Diabetes

Orang dengan diabetes harus memperhatikan kadar gula darah mereka sebelum mendonorkan darah. Jika gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi, maka seseorang tidak dapat mendonorkan darah. Selain itu, mereka juga harus memperhatikan penggunaan insulin dan obat-obatan diabetes, karena hal tersebut dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk mendonorkan darah. Sebelum mendonorkan darah, mereka disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter dan memastikan bahwa diabetes mereka terkontrol dengan baik.

 

Asam Urat Tinggi

Orang yang memiliki asam urat tinggi atau menderita penyakit asam urat seperti gout harus memperhatikan tingkat keasaman darah mereka. Jika keasaman darah terlalu tinggi, maka seseorang tidak dapat mendonorkan darah. Sebelum mendonorkan darah, mereka disarankan untuk memastikan bahwa asam urat mereka terkontrol dengan baik dan tidak sedang mengalami serangan gout.

 

Kolesterol Darah Tinggi

Orang dengan kolesterol darah tinggi harus memperhatikan tingkat kolesterol mereka sebelum mendonorkan darah. Jika kolesterol terlalu tinggi, maka seseorang tidak dapat mendonorkan darah. Sebelum mendonorkan darah, mereka disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter dan memastikan bahwa kolesterol mereka terkontrol dengan baik.

 

Komplikasi yang Mungkin Terjadi dan Pertolongan Pertamanya

Mendonorkan darah adalah tindakan sosial yang aman dan terkendali, namun tetap ada risiko terjadinya beberapa komplikasi selama atau setelah donor darah. Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi ketika mendonorkan darah dan tindakan pertolongan pertama yang dapat dilakukan:

 

Hipotensi atau penurunan tekanan darah

Penurunan volume darah akibat mendonorkan darah dapat menyebabkan penurunan tekanan darah atau hipotensi. Hal ini dapat menyebabkan pusing, kelemahan, pingsan, atau mual. Untuk mencegah terjadinya hipotensi, sebaiknya donor istirahat dengan cukup sebelum mendonorkan darah dan minum cairan yang cukup setelahnya. Jika terjadi hipotensi, donor perlu diposisikan dengan kepala lebih rendah dari kaki dan memberikan minuman manis.

 

Hematoma atau memar

Hematoma dapat terjadi ketika darah bocor ke dalam jaringan di sekitar area tusukan jarum. Hal ini dapat menyebabkan rasa nyeri, bengkak, atau memar. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah dengan menempelkan es di area tersebut untuk membantu mengurangi bengkak dan nyeri.

 

Infeksi

Infeksi dapat terjadi jika alat-alat yang digunakan tidak steril atau jika donor memiliki infeksi yang tidak terdeteksi. Tanda-tanda infeksi termasuk demam, kemerahan, atau pembengkakan pada area tusukan. Jika ada tanda-tanda infeksi, segera hubungi petugas medis.

 

Reaksi alergi pada pendonor darah

Beberapa orang dapat mengalami reaksi alergi terhadap komponen dalam produk darah yang didonorkan atau bahan antiseptik yang digunakan untuk membersihkan area tusukan jarum. Tanda-tanda reaksi alergi dapat berupa gatal-gatal, ruam, atau kesulitan bernapas. Jika ada tanda-tanda reaksi alergi, segera hubungi petugas medis.

 

Vasovagal syncope pada pendonor darah

Vasovagal syncope atau pingsan dapat terjadi pada beberapa orang selama atau setelah mendonorkan darah. Tanda-tanda vasovagal syncope termasuk pusing, penglihatan kabur, atau pingsan. Jika terjadi vasovagal syncope, donor perlu diposisikan dengan kepala lebih rendah dari kaki dan memberikan minuman manis.

 

Jika terjadi komplikasi selama atau setelah donor darah, segera hubungi petugas medis atau staf medis yang bertanggung jawab untuk mendapatkan pertolongan pertama dan perawatan medis yang tepat. Penting untuk mengikuti instruksi dan saran dari petugas medis untuk memastikan pemulihan yang cepat dan menghindari terjadinya komplikasi lebih lanjut.

 

Manfaat Kesehatan Donor Darah

Mendonorkan darah adalah tindakan sosial yang bermanfaat bagi penerima darah dan juga bagi donor itu sendiri. Selain memberikan manfaat sosial, ada beberapa manfaat kesehatan dari mendonorkan darah, di antaranya:

 

Menjaga kesehatan jantung

Donor darah secara teratur dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung. Ini karena mendonorkan darah dapat membantu mengurangi jumlah zat besi dalam tubuh, yang dapat mempengaruhi pembuluh darah dan menyebabkan kerusakan pada jantung. Dengan demikian, mendonorkan darah dapat membantu mengurangi risiko terkena penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung, stroke, dan penyakit arteri perifer.

 

Meningkatkan produksi sel darah merah

Mendonorkan darah dapat memicu tubuh untuk menghasilkan sel darah merah baru. Ini karena tubuh akan mengganti sel darah yang hilang dengan yang baru setelah mendonorkan darah. Hal ini dapat membantu meningkatkan kesehatan darah dan mencegah terjadinya anemia.

 

Meningkatkan kesehatan mental

Mendonorkan darah juga dapat membantu meningkatkan kesehatan mental. Ini karena tindakan membantu orang lain dan memberikan manfaat sosial dapat meningkatkan perasaan bahagia dan kepuasan pada diri donor.

 

Mengetahui kesehatan tubuh

Sebelum mendonorkan darah, setiap donor akan melewati pemeriksaan medis termasuk tes darah dan pemeriksaan kesehatan. Ini bisa membantu donor mengetahui kondisi kesehatannya dan menemukan penyakit yang tidak diketahui sebelumnya.

 

Mengurangi risiko kanker

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mendonorkan darah secara teratur dapat membantu mengurangi risiko terkena beberapa jenis kanker, termasuk kanker hati, paru-paru, usus besar, dan pankreas.

 

Jadi, mendonorkan darah tidak hanya memberikan manfaat sosial bagi penerima darah, tetapi juga membantu meningkatkan kesehatan tubuh dan mengurangi risiko terkena beberapa jenis penyakit. Namun, sebelum mendonorkan darah, donor harus memastikan kesehatan mereka memenuhi syarat dan tidak memiliki faktor risiko untuk terjadinya komplikasi.

 

Pesan dr. Rifan untuk Pendonor Darah

Donor darah adalah tindakan sosial yang penting dalam membantu orang-orang yang membutuhkan darah untuk menjalani perawatan medis atau operasi. Selain memberikan manfaat sosial, donor darah juga memiliki manfaat kesehatan untuk donor itu sendiri, seperti menjaga kesehatan jantung, meningkatkan produksi sel darah merah, meningkatkan kesehatan mental, dan mengurangi risiko kanker.

 

Namun, sebelum mendonorkan darah, donor harus memastikan kesehatan mereka memenuhi syarat dan tidak memiliki faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan mereka maupun penerima darah. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan seperti riwayat penyakit jantung, diabetes, asam urat tinggi, dan kolesterol darah tinggi.

 

Selain itu, ada juga beberapa komplikasi yang mungkin terjadi selama atau setelah mendonorkan darah, seperti pusing, mual, lemas, dan bahkan kehilangan kesadaran. Oleh karena itu, donor harus mengetahui seluk beluk tentang donor darah dan mempersiapkan diri dengan baik sebelum mendonorkan darah, termasuk menjaga asupan makanan dan cairan yang cukup, istirahat yang cukup, dan menghindari konsumsi alkohol.

 

Referensi Donor Darah

  1. Bani-Ahmad MA, et al. (2017). The impact of multiple blood donations on the risk of cardiovascular diseases: Insight of lipid profile.
    nlm.nih.gov/pubmed/28797569
  2. Blood need and blood supply. (n.d.).
    org/donate-blood/how-to-donate/how-blood-donations-help/blood-needs-blood-supply.html
  3. France CR, et al. (2017). Donating blood on a regular basis appears to reduce blood pressure, but appearances can be deceiving.
    nlm.nih.gov/pubmed/28083954
  4. The donation process. (n.d.).
    org/donate-blood/blood-donation-process/donation-process-overview.html
  5. Information for student donors. (n.d.).
    org/donate-blood/how-to-donate/info-for-student-donors.html
  6. Kamhieh-Milz S, et al. (2015). Regular blood donation may help in the management of hypertension: An observational study on 292 blood donors. DOI:
    1111/trf.13428
  7. Robotham D, et al. (2012). Doing good? Altruism and wellbeing in an age of austerity.
    org.uk/publications/doing-good-altruism-and-wellbeing-age-austerity
  8. Uche EI, et al. (2013). Lipid profile of regular blood donors. DOI:
    2147/JBM.S42211

Dr. Rifan Eka Putra Nasution, CPS., CTPS. Lahir di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, 29 Oktober 1992. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahiran lalu menyelesaikan pendidikan tingginya pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.Dr. Rifan mendapatkan medali Emas pada Olimpiade Kedokteran Regional Sumatera Pertama untuk cabang Kardiovaskular-Respirologi dan menghantarkan dirinya menjadi Mahasiswa Berprestasi Universitas Syiah Kuala pada tahun 2013. Pada tahun 2014, ia mendapatkan penghargaan Mahasiswa Kedokteran Berprestasi Se-Sumatera dari ISMKI Wilayah I. Beliau juga aktif menulis di Media Online dan Situs Kedokteran dan Kesehatan lainnya dan juga memiliki ketertarikan terkait proses pembelajaran serta ilmu komunikasi terutama terkait dengan public speaking.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Artikel Terkait