kulit tangan

Kulit: Organ Terbesar Pada Tubuh Manusia

Kulit dan turunannya (rambut dan kuku) merupakan suatu komponen tubuh manusia yang disebut sebagai sistem integumen. Ketiga komponen ini membentuk suatu sistem organ yang paling besar pada tubuh kita. Artikel ini akan memberikan gambaran tentang apa itu kulit, bagaimanana struktur, dan apa fungsinya.

Pada orang dewasa, sistem integumen menutupi area seluas kurang lebih 2 m2, atau sebesar sebuah selimut kecil. Tapi tidak seperti selimut pada umumnya, sistem organ ini lembut, kuat, tahan air, dan memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri. Berat keseluruhannya adalah sekitar 3,6 kg atau 15% dari total berat tubuh.

Organ ini juga merupakan bagian terindah dari tubuh seseorang. Selain indah, organ ini juga memiliki sistem organ yang sangat kompleks dan lengkap dengan berbagai jenis jaringan dan struktur dengan kemampuan tertentu.

struktur kulit

By Daniel de Souza Telles via Wikimedia Commons

Setiap satu inchi kuadrat dari lapisan organ ini mengandung lebih dari 650 kelenjar keringat, 20 pembuluh darah, lebih dari 1.000 folikel (tempat tumbuh) rambut, setengah juta melanosit (sel pigmen yang memberikan warna kulit), dan lebih dari 1.000 ujung saraf.

Organ ini tersusun lapis demi lapis. Sel baru pada organ ini akan memulai kehidupannya dari lapisan paling dalam (atau paling bawah) dan secara terus-menerus didorong menuju ke lapisan permukaan (paling atas) untuk menggantikan sel yang lama atau sel yang mati.

Ketika sel baru mencapai lapisan permukaan dia akan menjadi keras dan memipih. Kondisi menyebabkan sel tersebut dapat berperan sesuai dengan salah satu fungsinya yaitu melindungi.

 

Menakjubkan, setiap menit, 30.000 hingga 40.000 sel kulit mati akan jatuh dari tubuh kita. Dalam waktu kurang lebih sebulan, seluruh sel pada lapisan permukaan akan mati dan digantikan oleh sel yang baru.

 

Fungsi Kulit atau Sistem Integumen

Sistem integumen sebagai organ terluar memerankan berbagai fungsi yang memungkinkan interaksi antara kita sebagai pemilik tubuh dengan dunia luar (lingkungan). Beberapa fungsi penting organ ini antara lain:

  • Proteksi: sistem organ ini melindungi seluruh tubuh dari berbagai macam ancaman yang kita dapatkan dari lingkungan. Misalnya, infeksi atau serangan organisme lainnya, kerusakan karena radiasi sinar matahari, dan zat-zat kimia yang berbahaya disekitar kita.
  • Termoregulasi: sistem organ ini memberikan dukungan terhadap termoregulasi (pengaturan suhu tubuh) melalui berbagai cara.
  • Keseimbangan Air: permukaan terluar dari kulit merupakan lapisan yan paling tidak suka air. Kondisi ini memungkinkan air dan garam tetap tersimpan dalam tubuh sesuai dengan kebutuhan dan mencegah tubuh kehilangan cairan secara berlebihan. Sebagian kecil air dan limbah tubuh (misalnya urea) dibuang melalui keringat.
  • Penerima Pesan Masuk: Banyak kenis organ sensorik yang terletak pada sistem integumen. Beberapa di antaranya memungkinkan kita untuk merasakan panas, dingin, tekanan, geraran, dan juga nyeri.
  • Pengirim Pesan Keluar: sistem integumen dan terutama rambut dapat mengirimkan pesan ke lingkungan luar tubuh. Pesan ini dikirimkan terutama kepada manusia lainnya. Orang atau dokter dapat menangkap informasi terkait kondisi kesehatan kita melalui kulit dan rambut. Misalnya, ketika kita marah, kulit kita akan mulai tampak berwarna pucat atau kemerahan. Begitu pula ketika kita mengalami sakit tertentu warna kulit akan berubah.
  • Produksi Zat Penting: pada sistem integumen terdapat kelenjar Sebacea. Kelenjar ini terletak dan berhubungan dengan folikel rambut. Kelenjar ini memproduksi suatu zat yang disebut dengan sebum. Selain kelenjar Sebacea, terdapat pula kelenjar lainnya yaitu kelenjar keringat yang tentu saja memproduksi keringat. Sel pada kulit juga memproduksi keratin. Keratin merupakan sejenis protein jaringan ikat yang menjadi komponen struktural dan fungsional penting pada sistem integumen. Keratin juga yang menjadi bahan dasar pembentuk rambut dan kuku.

 

Struktur Sistem Integumen

Sistem integumen menutupi seluruh sistem otot yang membungkus tulang. Meski pun kita merasakan bahwa kulit sangat erat melekat pada otot tapi perlengketan ini sesungguhnya longgar dengan lapisan di bawahnya.

anatomi kulit

By Wong, D.J. and Chang, H.Y. Skin tissue engineering, via Wikimedia Commons

Pada daerah di mana tidak terdapat otot, misalnya pada tulang kering, kulit akan langsung berlekatan pada tulang.

Kulit tersusun atas beberapa lapisan dan lapisan-lapisan ini tidak dapat dilihat secara kasat mata. Kondisi ini terjadi karena selalu terdapat zona transisi di antara lapisan tersebut. Berikutnya kita akan membahas lapisan-lapisan tersebut satu per satu.

 

Menyentuh Epidermis

Epidermis bisa jadi merupakan aspek yang paling familiar dari sistem integumen. Lapisan ini terletak paling luar pada tubuh kita. Jadi, ketika kita menyentuh kulit kita dan merasakan bahwa kulit kita halus, elastik, kuat, atau sedikit berminyak sebenarnya kita sedang menyentuh epidermis.

kulit tebal dan tipis

By Madhero88 and M.Komorniczak, via Wikimedia Commons

Pada beberapa lokasi, permukaan epidermis ditutupi oleh rambut yang lebat. Di lokasi lainnya, epidermis hanya ditutupi oleh rambut tipis. Bahkan pada beberap tempat, epidermis tidak memiliki rambut dan digantikan oleh kuku pada ujung jari tangan dan kaki.

Epidermis sendiri tersusun atas 4 hingga 5 lapisan tipis (tentu saja tidak kasat mata). Mulai dari stratum korneum pada bagian paling atas hingga stratum germinativum (stratum basalis) pada bagian bawah.

Epidermis tersusun dari jaringan epitel skuamosa bertingkat, tapi setiap lapisan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Epidermis tidak memiliki suplai darah. Epidermis mendapatkan nutrisi melalui peristiwa difusi dari lapisan dibawahnya yaitu dermis. Berikutnya kita akan membahas lapisan epidermis satu per satu.

 

Stratum Korneum: Pembungkus Tipis Tapi Kuat

Cara paling mudah menganalogikan lapisan ini adalah dengan membayangkannya sebagai lapisan fiberglass tipis yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri. Stratum korneum hanya terdiri dari 25-30 lapis sel, padat, dan relatif keras.

Sel-sel ini disebut sebagai keratinosit dan memproduksi protein jaringan ikat yang disebut keratin.

Keratinosit pada stratum korneum berasal dari sel epitel skuamosa dari stratum germinativum. Saat melalui perjalanan menuju ke atas, sel-sel tersebut mengalami keratinisasi atau kornifikasi (pembentukan zat tanduk) dengan memproduksi serat keratin yang secara bertahap mengisi sel.

Kondisi ini terus berlangsung hingga inti sel (nukleus) dan organela sitoplasma sel hilang dan metabolisme sel berhenti. Sel telah diprogram untuk mati ketika mereka mengalami keratinisasi secara penuh dimana mereka juga akan bersifat tahan air dan kuat.

Filamen keratin pada lapisan dermis dapat berperan untuk membentuk struktur kulis (sistoskleton) yang secara mekanis menstabilkan sel dari stress fisik yang didapat dari lingkungan luar.

Bagian terluar dari stratum korneum dilapisi oleh lapisan lilin yang tahan air disebut sebum.

Stratum korneum melindungi tubuh dan memastikan segala sesuatu yang diluar tubuh tidak masuk ke dalam.

Satu hal penting lainnya yang dilakukan oleh stratum korneum adalah mencegah radiasi ultraviolet. Energi dari sinar matahari yang melalui lapisan teratas akan melewati lapisan di bawah stratum korneum dan menstimulasi produksi vitamin D.

 

Zona transisi

Stratum lucidum, lapisan yang hanya ditemukan pada telapak tangan dan kaki, stratum granulosum dan stratum spinosum merupakan lapisan yang berada tepat di bawah stratum korneum. Lapisan ini menyimpan sel-sel muda yang akan mengantikan sel-sel mati pada strautum korneum.

Proses penggantian sel-sel ini berlangsung sekitar 14-30 hari.

Keratinosit pada lapisan ini memproduksi lipid (zat lemak) dan membantu keberhasilan proses keratinisasi merupakan salah satu bentuk difirensiasi pada lapisan ini.

Lapisan ini juga mengandung sel Langerhans yang berperan dalam sistem imun. Bila ada kuman yang dapat masuk ke dalam kulit maka sel ini akan membawanya ke nodus limfe untuk dihancurkan.

 

Lapisan Terakhir: Pabrik Sel

Stratum germinativum atau disebut juga sebagai stratum basalil merupakan lapisan epidermis paling bawah. Lapisan ini secara konstan memproduksi sel baru dan mendorong sel tersebut untuk menuju ke lapisan di atasnya.

Lapisan ini mengandung melanosit, yang memproduksi pigmen melanin. Melanin, merupakan pigmen yang memberikan warna pada kulit, rambut, dan mata. Selain memberikan warna, melanin juga melindungi kulit dari efek kerusakan yang ditimbulkan oleh radiasi sinar ultraviolet cahaya matahari.

Jumlah sel melanosit pada setiap orang hampir sama, tapi jumlah melanin yang dihasilkan sangat bergantung pada genetik dan lingkungan tempat dimana orang tersebut menetap.

Orang yang tinggal lebih dekat dengan garis katulistiwa akan memiliki evolusi gen yang menstimulasi melanosit untuk memproduksi melanin lebih banyak sebagai proteksi tambahan terhadap sinar ultraviolet sehingga warna kulitnya menjadi lebih gelap.

 

Eksplorasi Dermis

Tepat di bawah lapisan epidermis terdapat lapisan yang lebih tebal yang disebut sebagai dermis. Dermis tersusun atas 2 lapisan yaitu: zona papilaris dan zona retikular.

 

Zona papilaris

Zona papilaris terdiri dari membran dan tersusun atas bentuk menyerupai jari. Bentuk ini memungkinkan daerah kontak antara epidermis dan dermis menjadi lebih besar. Pada telapak tangan, telapak kaki, dan jari-jari, papila-papila ini akan diproyeksikan pada epidermis dan membentuk garis tangan. Pola garis tangan pada jari disebut sebagai sidik jari.

 

Zona retikularis

Zona retikularis penuh dengan serabut protein yang kompleks dan aktif secara metabolik. Sel dan struktur pada zona ini memproduksi banyak produk karakteristik kulit seperti rambut, kuku, sebum, keringat. Zona ini juga mengandung struktur yang menghubungkan sistem integumen dengan sistem lainnya seperti sensor suhu, sentuhan, pembuluh limfe, serta memiliki banyak pembuluh darah.

Reseptor sentuhan pada dermis akan menyalurkan sensasi tekanan, getaran, sentuhan ringan ke sistem saraf. Nama-nama reseptor tersebut antara lain Lamellated (Pacinian) corpuscles, tactile (Meissner’s) corpuscles, dan Ruffini’s corpuscles.

 

Lapisan Kulit Terdalam: Hipodermis

Lapisan hipodermis atau disebut juga sebagai laposan subkutan merupakan lapisan yang terletak tepat di bawah dermis. Lapisan ini tersusun atas jaringan adiposa (lemak) dan jaringan penghubung.

Fungsi dari lapisan ini adalah sifat isolasi, menyimpan energi, dan membantu mempertahankan kulit.

kulit

By Don Bliss, via Wikimedia Commons

Lapisan ini mengandung banyak pembuluh darah, pembuluh getah bening, dan serabut saraf. Lapisan ini bersifat longgar karena tersusun atas serabut elastin yang melekatkan hipodermis ke jaringan otot di bawahnya.

Ketebalan dari lapisan subkutan ditentukan oleh jumlah lemak yang tersimpan dalam sel jaringan adiposa. Semakin banyak jumlah lemak maka semakin tebal lapisan subkutan ini.

 

Demikian gambaran terkait dengan apa itu kulit, struktur, dan fungsinya. Bila ingin mengetahui tentang organ berikutnya setelah kulit (otot) silakan menuju halaman berikut.

 

Referensi:

  1. Rizzo DC. Fundamentals of anatomy and physiology. Cengage Learning; 2015 Feb 27.
  2. Scanlon VC, Sanders T. Essentials of anatomy and physiology. FA Davis; 2014 Nov 25.
  3. Patton KT. Anatomy and Physiology-E-Book. Elsevier Health Sciences; 2015 Feb 10.
laserasi

Penanganan Luka Robek: Apa Yang Harus Dilakukan?

Luka robek (laserasi) merupakan inkontinuitas jaringan berupa robekan atau potongan jaringan lunak yang dapat disebabkan oleh trauma tumpul (jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor), insisi benda tajam, atau gigitan mamalia.

 

Perdarahan dapat terjadi pada luka robek mulai dari perdarahan minimal hingga perdarahan masif yang menyebabkan sudut luka tidak tampak jelas

Pada luka gigitan atau luka tusuk yang dalam, perdarahan biasanya terjadi secara internal dibandingkan eksternal. Kondisi mengakibatkan perubahan warna kulit disekitar luka.

Luka robek ini pada umumnya membutuhkan penutupan luka dengan metode penjahitan luka. Berdasarkan definisi penutupan luka robek dapat diklasifikasikan menjadi:

  1. Penutupan primer – penutupan luka pada saat presentasi awal.
  2. Penutupan luka primer tertunda (delayed) – penutupan luka dilakukan 3-5 hari setelah dressing awal luka pada luka yang harus dibiarkan terbuka karena risiko tinggi terinfeksi (misalnya luka gigitan).
  3. Penyembuhan luka intensi sekunder – membiarkan luka sembuh alami melalui kontraksi, tanpa upaya untuk membantu penutupan luka.

Pertimbangan Sebelum Pengobatan dan Indikasi Rujukan Bedah

  • Pertimbangkan hal ini sebelum membersihkan atau menutup luka
    • Mekanisme dan waktu cedera
    • Riwayat pasien, termasuk:
      • Infeksi HIV
      • Riwayat diabetes dan kadar gula darah terakhir
      • Alergi khususnya terhadap obat anastesia, lateks, antibiotik, dan perban
      • Riwayat imunisasi tetanus
    • Pemeriksaan awal status neurovaskular dan status fungsional bagian tubuh
    • Keparahan luka
    • Ada atau tidaknya benda asing pada luka
  • Indikasi rawat inap atau rujukan ke spesialis bedah
    • Luka dalam pada tangan dan kaki
    • Luka robek besar pada kelopak mata, bibir, atau telinga
    • Luka yang melibatkan nervus, arteri besar, tulang, sendi, dan tendon.
    • Luka penetrasi yang tidak diketahui kedalamannya
    • Cedera remuk berat
    • Luka terkontaminasi yang membutuhkan drainase
    • Luka dengan outcome terkait dengan kosmetik
    • Benda asing dekat pembuluh darah, sendi, dan nervus.

 

Manajemen Nyeri Peri Prosedural

Infiltrasi anestesia lokal

  • Anestetik lokal yang digunakan untuk infiltrasi seperti lidokain 1% (Xylocaine 10 mg / mL) atau bupivacaine 0,25% (Marcaine 2,5 mg / mL) sering digunakan untuk penutupan luka
  • Epinefrin dapat ditambahkan ke lidokain atau bupivakain untuk membantu mengendalikan perdarahan luka melalui vasokonstriksi di daerah dengan pasokan vaskular yang cukup banyak
  • Selain memberikan hemostasis, durasi kerja lidokain dengan epinefrin (sekitar 10,4 jam) dilaporkan dua kali lebih lama dibandingkan lidokain tanpa epinefrin (sekitar 4,9 jam)
  • Penambahan epinefrin tidak dianjurkan untuk daerah yang berisiko terkena iskemia karena suplai darah yang bervariasi, seperti ujung hidung distal, pinna, dan penis, namun dapat digunakan dengan suntikan pada daerah jari dan tangan.
  • Pilihan obat / dosis yang disarankan meliputi
    • Lidokain 3-5 mg / kg tanpa epinefrin, atau sampai 7 mg / kg dengan epinefrin
    • Bupivakain 1-2 mg / kg tanpa epinefrin, dan sampai 3 mg / kg dengan epinefrin
    • Luka besar pada ekstremitas mungkin memerlukan blok regional untuk mencegah dosis anestesi toksik
    • Pada pasien alergi terhadap bentuk amida anestesi lokal, pertimbangkan diphenhydramine intradermal 1%

Metode untuk meminimalkan rasa sakit injeksi lokal

  • Buffer lidocaine dan epinefrin dengan 10 mL : 1 mL bikarbonat 8,4%
  • Hangatkan obat anestesi lokal
  • Mengalihkan perhatian pasien (menggunakan musik atau berpaling dari pasien) dan / atau menarik perhatian dari area injeksi (jepit atau tekanan ringan di dekat tempat suntikan)
  • Gunakan jarum ukuran 27- atau 30-gauge
  • Masukkan jarum yang lebih tegak lurus dibandingkan sejajar dengan kulit
  • Menstabilkan spuit dengan tangan lain untuk menghindari goyangan jarum, dan letakkan ibu jari di ujung spuit sebelum menembus kulit.
  • Suntikkan 0,5 mL di bawah dermis (bukan di dermis), lalu tunggu sampai pasien mengatakan bahwa rasa sakit sudah hilang sebelum melanjutkan
  • Suntikkan 2 mL tambahan sebelum menggerakkan jarum, dan kemudian menyuntikkan secara anterior sambil menggerakkan jarum perlahan (pastikan 1 cm anestesi lokal selalu teraba atau terlihat di depan jarum)
  • Tusukkan kembali jarum 1 cm pada kulit yang pucat

Pembersihan Luka Robek

Rekomendasi Umum

  • Persiapan yang dilakukan pada daerah yang mengalami laserasi dan area sekitarnya termasuk:
    • Pembersihan luka dengan ≥ 1 irigasi, kompres, atau perendaman berdasarkan jenis cedera, pertimbangan lingkungan, dan keparahan luka
    • Bersihkan semua benda asing yang tampak dengan menggunakan klem
    • Debridement jaringan
    • Cukur rambut sekitar untuk mencegah kontaminasi (hindari mencukur alis mata)

Irigasi

  • Irigasi menggunakan air atau normal saline dialirkan secara perlahan melalui permukaan luka dan merupakan langkah yang penting untuk optimalisasi penyembuhan luka
  • Keuntungan irigasi antara lain:
    • Membersihkan debris dalam
    • Hidrasi luka
    • Membantu dalam inspeksi luka
  • Sesuaikan volume irigasi berdasarkan karakteristik luka dan derajat kontaminasi untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.
    • Jika tekanan irigasi terlalu tinggi, dapat menyebabkan risiko:
      • Kerusakan jaringan lebih lanjut, khususnya luka yang memiliki vaskularisasi besar seperti daerah kulit kepala dan wajah
      • Infeksi jika bakteri masuk ke kompartemen yang lebih dalam
    • Volume dan tekanan irigasi yang optimal masih tidak jelas
      • Volume irigasi 50-100 ml per cm laserasi dilaporkan cukup adekuat
      • Tekanan irigasi dapat dicapai denga menggunakan spuit volume 30 atau 60 mL dengan menggunakan jarum yang berukuran 18G
    • Pertimbangan tambahan:
      • Irigasi semua permukaan luka, termasuk yang membutuhkan pembukaan sisi kulit atau skin flap
      • Cairan irigasi yang dihangatkan lebih nyaman bagi pasien
      • Hindari penggunaan povidone-iodine, hidrogen peroksida, dan detergen karena dapat menghalangi proses penyembuhan

 

Antibiotik Profilaksis

  • Antibiotik profilaksis diindikasikan pada gigitan mamalia, luka tusuk dalam, atau luka yang melibatkan tangan atau jari, tapi tidak dibutuhkan pada jenis luka bersih lainnya, atau luka non gigitan pada pasien yang sehat.
  • Rekomendasi dari Infectious Disease Society of America (IDSA) 2014 untuk penggunaan antibiotik pada luka gigit:
    • Pilihan antibiotik oral atau parenteral bergantung pada kedalaman dan keparahan luka serta waktu sejak gigitan (> 8 ham berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi)
    • Untuk gigitan binatang, rejimen antibiotiknya berupa
      • Amoksisilin-klavulanat 875 mg setiap 12 jam PO
      • Bila alergi terhadap beta-laktam gunakan doksisiklin PO atau IV, Kotrimoksazol PO atau fluorokuinolon ditambahkan dengan klindamisin atau metronidazole
      • Pada ibu hamil yang alergi beta laktam pertimbangkan pemberian Azitromisin dan observasi ketat terkait toleransi obat
      • Pilihan IV adalah ampicillin-sulbactam 1.5-3 g setiap 6 jam
    • Gigitan manusia
      • Oral Amoksisilin-klavulanat 875 mg setiap 12 jam PO
      • Jika alergi penisilin, gunakan siprofloksasin atau levofloksasin ditambahkan dengan metronidazole
      • Pada ibu hamil yang alergi penisilin berikan kotrimoksazol
      • Pilihan IV adalah ampicillin-sulbactam 1.5-3 g setiap 6 jam

 

Profilaksis Tetanus Pada Luka Robek

  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan profilaksis tetanus pada:
    • Berikan vaksinasi tetanus booster segera jika
      • Tidak ada riwayat imunisasi tetanus
      • Pasien dengan riwayat imunisasi < 3 dosis atau jumlah dosis yang tidak pasti
      • Dosis pemberian terakhir > 10 tahun yang lalu
      • Dosis pemberian terakhir dalam 5-10 tahun dengan laserasi berat
    • Berikan tetanus immune globulin pada pasien dengan luka tusuk atau luka terkontaminasi dan tanpa riwayat imunisasi, riwayat imunisasi < 3 dosis, atau riwayat imunisasi yang tidak pasti.

 

Penutupan Luka Robek

Waktu Penutupan Luka Robek

  • Bukti yang menyarankan bahwa waktu optimal dari cedera hingga perbaikan laserasi tidak cukup baik, tapi rekomendasi menyarankan penutupan luka segera dan berhubungan dengan pembuhan luka yang lebih baik.
    • Laserasi non kontaminasi pada daerah dengan suplai pembuluh darah yang banyak, seperti kepala dan wajah, dapat ditutup hingga 24 jam dari waktu cedera
    • Laserasi non kontaminasi pada daerah tubuh dan ekstremitas harus ditutup < 12 jam pasca cedera. Beberapa bukti menunjukkan penyembuhan yang adekuat setelah 19 jam pasca cedera.
  • Luka robek karena gigitan harus dibiarkan terbuka karena risiko infeksi kecuali pada daerah wajah karena berpotensi menyebabkan cacat
  • Pertimbangkan penutupan luka primer tertunda pada hari ke 3-5 setelah dressing pada luka gigitan

 

Refensi

  1. Worster B, Zawora MQ, Hsieh C. Common questions about wound care. Am Fam Physician. 2015 Jan 15;91(2):86-92
  2. Nicks BA, Ayello EA, Woo K, Nitzki-George D, Sibbald RG. Acute wound management: revisiting the approach to assessment, irrigation, and closure considerations. Int J Emerg Med. 2010 Aug 27;3(4):399-407
  3. Forsch RT. Essentials of skin laceration repair. Am Fam Physician. 2008 Oct 15;78(8):945-51full-text,
  4. Al Youha S, Lalonde DH. Update/Review: changing of use of local anesthesia in the hand. Plast Reconstr Surg Glob Open. 2014 May;2(5):e150
krisis hipertensi

Captopril Sublingual & Oral: Mana Yang Lebih Efektif?

Krisis hipertensi merupakan salah satu kondisi yang sering kita temui di Puskesmas. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah berat (tekanan darah sistolik > 180 mmHg atau tekanan darah diastolik > 120 mmHg) dengan atau tanpa komplikasi berupa disfungsi organ target (hipertensi emergensi atau hipertensi urgensi). Untuk hipertensi emergensi obat pilihan untuk menurunkan tekanan darah adalah obat anti hipertensi intra vena seperti nicardipine, labetolol, dan esmolol. Pada hipertensi urgensi maka penurunan tekanan darah dapat dilakukan dengan obat anti hipertensi oral seperti captopril, nicardipin, atau labetolol. Namun, di Puskesmas obat anti hipertensi pilihan untuk menurunkan tekanan darah pada kondisi krisis hipertensi hanya berupa captopril. Artikel ini mencoba merangkum hasil penelitian terkait dengan perbandingan efektivitas pemberian captopril sublingual dengan captopril oral untuk menurunkan tekanan darah pada pasien dengan krisis hipertensi.

 

Penelitian 1 Comparison of sublingual and oral captopril in hypertension. 

Penelitian pertama yang dilakukan oleh Dess-Fulgheri P et al ini menyimpulkan bahwa:

“Tidak terdapat perbedaan signifikan terhadap penurunan tekanan darah baik pada pemberian captopril rute oral atau pun sublingual.”

 

Penelitian 2 Sublingual captopril in hypertensive crises

Sebuah tinjauan yang dilakukan oleh Alletto M et al menyimpulkan bahwa:

“Beberapa laporan menunjukkan efek penurunan tekanan darah yang lebih cepat setelah pemberian sublingual. Tidak ada efek samping. Captopril sublingual sangat efektif pada krisis hipertensi dan mekanisme hipotensi secara bertahap menghindari penurunan tekanan darah yang tiba-tiba.”

Penelitian 3 Same effect of sublingual and oral captopril in hypertensive crisis

Penelitian yang dilakukan oleh Karakili E menyimpulkan bahwa:

“Terdapat perbedaan antara efisiensi Captopril oral dan sublingual untuk mengendalikan hipertensi pada pasien dengan hipertensi urgensi. Untuk perawatan yang lebih nyaman, Captopril oral bisa menjadi pilihan yang lebih nyaman dalam urgensi hipertensi.”

 

Penelitian 4 Sublingual vs. Oral Captopril in Hypertensive Crisis.

Penelitian yang dilakukan oleh Kaya A et al terhadap 212 pasien dengan krisis hipertensi menyimpulkan bahwa:

“Captopril sublingual menurunkan tekanan darah lebih cepat pada 30 menit pertama setelah pemberian akan tetapi penurunan tekanan darah yang sama terjadi pada 60 menit pertama setelah pemberian”

 

Berdasarkan beberapa penelitian di atas baik pemberian captopril secara oral ataupun sublingual memberikan efek yang tidak terlalu berbeda untuk penurunan tekanan darah pada pasien dengan krisis hipertensi. Meskipun demikian, pemberian secara oral lebih membuat pasien merasa nyaman dibandingkan pemberian secara sublingual.

 

kepanjangan pico

PICO: Metode Mudah Menemukan Jurnal Kedokteran

Bila saat ini anda sedang mengerjakan sebuah karya tulis ilmiah maka anda sedang berada pada halaman yang tepat. Artikel ini akan memberikan anda pemahaman yang dapat menghemat waktu anda dalam pencarian jurnal. Artikel ini akan memuat tentang tips dan trik mencari jurnal kedokteran menggunakan metode PICO. Harapannya dengan menggunakan metode ini anda akan lebih mudah mencari jurnal yang ingin anda gunakan sebagai referensi dari karya tulis ilmiah anda.

 

Apa itu metode PICO?

PICO merupakan suatu akronim dari kata-kata berikut:

  • P untuk Patient, Population, Problem
    • Kata-kata ini mewakili pasien, populasi, dan masalah yang diangkat dalam karya ilmiah yang ditulis
  • I untuk Intervention, Prognostic Factor, atau Exposure
    • Kata ini mewakili intervensi, faktor prognostik atau paparan yang akan diangkat dalam karya ilmiah
  • C untuk Comparison atau Intervention (jika ada atau dibutuhkan)
    • Kata ini mewakili perbandingan atau interpensi yang ingin dibandingkan dengan intervensi atau pararan pada karya ilmiah yang akan ditulis
  • O untuk Outcome yang ingin diukur atau ingin dicapai
    • Kata ini mewakili target apa yang ingin dicapai dari suatu penelitian misalnya pengaruh atau perbaikan dari suatu kondisi atau penyakit tertentu.

 

Bagaimana menggunakan metode PICO?

Metode PICO dapat dilakukan apabila penulis karya tulis ilmiah telah memiliki masalah. Misalnya masalah yang akan diteliti adalah:

“Apakah Terdapat Pengaruh Lokasi Infark Dengan Keberhasilan Fibrinolitik Pada Pasien STEMI?”

Berdasarkan pertanyaan klinis masalah tersebut maka kita dapat menyusun sebuah PICO sebagai berikut:

  • P = STEMI
  • I = fibrinolitik
  • C = tidak ada pembanding atau intervensi lainnya
  • O = keberhasilan fibrinolitik

 

Contoh lainnya dengan masalah sebagai berikut:

 

“Apakah Terdapat Pengaruh Pemberian Ekstrak Mengkudu Dosis Tertentu Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah pada Tikus Wistar Diabetes?”

 

Berdasarkan masalah penelitian tersebut maka kita dapat menyusun PICO sebagai berikut:

  • P = Tikus Wistar Diabetes
  • I = Ekstrak Mengkudu
  • C = Dosis Tertentu
  • O = Kadar gula darah

 

Mengapa kita menggunakan PICO?

Suatu karya tulis ilmiah pada umumnya disusun berdasarkan suatu masalah. Masalah sendiri merupakan kesenjangan antara keinginan dan kenyataan. Masalah-masalah dalam bidang kedokteran dan kesehatan dapat disusun menjadi suatu pertanyaan klinis.

Pertanyaan klinis yang dibentuk sebaiknya harus memiliki model PICO sehingga memudahkan peneliti untuk menemukan referensi terbaik bagi karya ilmiahnya.

Pertumbuhan publikasi karya ilmiah belakangan ini terjadi dengan sangat pesat. Publikasi karya ilmiah dalam jurnal meningkat 2 kali lipat pada tahun 1950 dalam setiap 10 tahun hingga saat ini meningkat 2 kali lipat hanya dalam 1 tahun. Kondisi ini akan meningkat 2 kali lipat setiap 73 hari pada tahun 2020.

Banyaknya jumlah publikasi ilmiah ini disertai dengan menurunnya beberapa kualitas terbitan karya ilmiah dengan munculnya jurnal-jurnal yang tidak lagi sepenuhnya mempertimbangkan kaidah dan etika keilmuan.

Kualitas publikasi ilmiah yang berkurang dan banyaknya jumlah publikasi ilmiah ini akan menyulitkan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau tugas akhirnya menemukan referensi skripsi yang tepat untuk karya ilmiahnya.

Metode PICO dapat dengan mudah digunakan untuk menemukan referensi yang tepat untuk karya ilmiah yang sedang dibuat sangat menghemat waktu yang dibutuhkan untuk mencari referensi.

 

Pencarian Jurnal Menggunakan Metode PICO

Salah satu penyedia layanan pencarian dengan menggunakan metode PICO terbaik adalah PubMed.

PubMed sendiri merupakan bank atau basis data dari referensi dan abstrak dengan topik ilmu pengetahuan alam dan biomedis (MedLine) yang dikelola oleh United States National Library of Medicine (NLM) pada National Institutes of Health di Amerika Serikat.

Layanan ini diberikan secara gratis untuk menemukan jurnal referensi karya tulis ilmiah berdasarkan metode ini.

Layanannya dapat diakses melalui link berikut:

https://pubmedhh.nlm.nih.gov/nlmd/pico/piconew.php

 

Link ini akan menampilkan halaman utama layanan sebagai berikut:

PICO

Pada bagian Patient/Problem/Medical Condition anda dapat memasukkan kata kunci yang mewakit huruf P begitu seterusnya untuk huruf I, C, dan O.

Pada bagian Select Publication type anda bisa memilih jenis publikasi yang ingin anda cari dan disusun berdasarkan tingkat bukti pada evidence based medicine mulai dari tinjauan pustaka, pedoman klinis, hingga tinjauan sistematis dari beberapa meta analisis.

Pada kesempatan kali ini saya akan mencontohkan penggunaan masalah klinis berikut untuk mencari referensi yang dapat membantu dalam memecahkan masalah tersebut.

“Apakah terdapat perbedaan penggunaan captopril oral dan sublingual dalam kontrol tekanan darah pada pasien krisis hipertensi?”

Dari pertanyaan di atas maka kita dapat susun metode PICOnya sebagai berikut:

  • P = krisis hipertensi
  • I = captopril oral
  • C = captopril sublingual
  • O = kontrol tekanan darah

 

Maka, langkah selanjutnya adalah memasukkan istilah-istilah tersebut dalam kolom pencarian yang ditunjukkan pada gambar berikut:

Pico Isian

Pada contoh ini saya ingin mencari semua jenis publikasi dan pilihannya tetap pada “Not specified”. Langkah selanjutnya adalah menekan tombol “Submit”.

Hasil pencarian ini menunjukkan terdapat 7 publikasi ilmiah yang terdaftar di PubMed terkait dengan pencarian saya.

hasil pencarian PICO

 

Bila kita bandingkan dengan hasil pencarian di google scholar dengan memasukkan semua kata kunci yang sama pada metode ini dan menggunakan Boolean “AND” maka kita mendapatkan hasil berupa: 2.680 jurnal yang belum tentu  membahas spesifik tentang hal yang kita cari.

hasil google

 

Selain mengurangi jumlah pencarian jurnal yang lebih spesifik maka PICO PubMed ini juga memberikan beberapa kemudahan lainnya yaitu pada tombol-tombol

[TBL] [Abstract] [Full Text] [Related]

 

  • Tombol [TBL] akan menampilkan kesimpulan dari jurnal tersebut:

TBL PICO

 

  • Tombol [Abstract] tentu saja akan menampilkan abstrak dari jurnal yang dimaksud

PICO Abstrak

  • Tombol [Full Text] akan membawa anda ke sebuah halaman dimana anda dapat menemukan Full Text dari jurnal yang dimaksud. Meskipun, pada sebagian besar full text jurnal ini membutuhkan cara lain untuk dapat mengaksesnya karena jurnal ini sebagian besar adalah jurnal berbayar.

link full text

  • Tombol [Related] akan membawa anda ke sebuah halaman lainnya yang menunjukkan hasil pencarian yang sangat terkait dengan pencarian yang anda lakukan. Untuk kesempatan kali ini tentu saja yang terkait dengan penggunakan captopril oral vs sublingual untuk kontrol tekanan darah pada krisis hipertensi.

PICO Related

 

Pada pencarian ini menunjukkan terdapat 140 artikel lainnya yang terkait dengan masalah klinis yang telah ditanyakan yaitu apakah terdapat perbedaan pemberian captopril oran dengan captopril sublingual terhadap kontrol tekanan darah pada pasien dengan krisis hipertensi.

 

Silakan anda mencobanya sendiri dengan mulai untuk menyusun PICO berdasarkan masalah yang anda angkat dalam karya tulis anda.

Masukkan istilah tersebut dalam kolom pencarian yang disediakan dan buktikan sendiri bahwa anda dapat menghemat begitu banyak waktu untuk melakukan pencarian referensi anda hanya dengan menggunakan metode ini.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan memberikan anda banyak referensi terkait dengan karya ilmiah yang sedang anda tulis.

 

Apabila anda mengalami masalah dalam pencarian jurnal tertentu, kami dapat membantu anda untuk mengatasi masalah tersebut. Silakan hubungi kami di sini.

 

referensi ilmiah

Rintangan Dalam Menemukan Referensi Skripsi

Skripsi merupakan karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya. Karangan atau karya ilmiah sendiri merupakan laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Sehingga, untuk membuat skripsi menjadi baik maka dibutuhkan referensi skripsi yang baik pula.

 

Menemukan referensi skripsi yang baik terkadang cukup sulit untuk dilakukan, artikel ini memberikan gambaran terkait dengan hambatan dalam menemukan referensi yang baik dan beberapa hal untuk mengatasi hambatan tersebut.

Hal-hal yang menyebabkan kesulitan dalam menemukan referensi skripsi yang tepat dan baik.

1. Pertumbuhan publikasi karya ilmiah yang begitu cepat

Pertumbuhan publikasi karya ilmiah belakangan ini terjadi dengan sangat pesat. Publikasi karya ilmiah dalam jurnal meningkat 2 kali lipat pada tahun 1950 dalam setiap 10 tahun hingga saat ini meningkat 2 kali lipat hanya dalam 1 tahun. Kondisi ini akan meningkat 2 kali lipat setiap 73 hari pada tahun 2020.

Banyaknya jumlah publikasi ilmiah ini disertai dengan menurunnya beberapa kualitas terbitan karya ilmiah dengan munculnya jurnal-jurnal yang tidak lagi sepenuhnya mempertimbangkan kaidah dan etika keilmuan.

Kualitas publikasi ilmiah yang berkurang dan banyaknya jumlah publikasi ilmiah ini akan menyulitkan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau tugas akhirnya menemukan referensi skripsi yang tepat untuk karya ilmiahnya.

 

2. Hambatan dalam penggunaan bahasa dan istilah

Sebagian besar publikasi ilmiah yang terbit pada jurnal didominasi oleh bahasa Inggris. Hal ini menyebabkan pemahaman terhadap bahasa Inggris sangat dibutuhkan untuk mengerti apa yang seorang penulis karya ilmiah ingin sampaikan terkait dengan penelitiannya.

Kondisi ini menyulitkan mahasiswa dalam menemukan referensi yang tepat bagi skripsi atau tugas akhirnya. Beberapa mahasiswa hanya melakukan pencarian referensi atau jurnal untuk skripsinya dalam bahasa Indonesia. Indonesia sendiri hingga saat ini belum banyak melakukan publikasi ilmiah sehingga referensi untuk topik tertentu cukup terbatas.

Terkadang hanya dibutuhkan sedikit usaha dan tekad yang kuat untuk tidak menyerah hanya karena hambatan bahasa, maka jurnal referensi untuk topik skripsi dapat ditemukan dengan mudah.

Meskipun, terdapat kesulitan dalam menerjemahkan jurnal, kita dapat menggunakan bantuan alat-alat translasi (misalnya google translate) untuk membantu kita dalam memahami jurnal tertentu.

Selain hambatan bahasa, istilah yang digunakan dalam pencarian referensi skripsi juga menjadi masalah lainnya. Istilah-istilah ilmiah tertentu dalam bahasa Indonesia terkadang harus dicari padanan katanya dalam bahasa Inggris. Sebab, tidak semua istilah tersebut merupakan terjemahan langsung dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

Jika, istilahnya yang tepat sudah ditemukan maka pencarian referensinya akan lebih mudah dilakukan.

menulis skripsi

3. Tidak melakukan pencarian dengan menggunakan metode pencarian tertentu

Mahasiswa yang melakukan pencarian jurnal untuk referensi skripsi terkadang hanya melakukan pencarian dengan mengetik keseluruhan judul tugas akhir atau skripsi yang akan dia tulis pada mesin. Kondisi ini akan mengakibatkan munculnya ribuan bahkan puluhan ribu hasil pencarian yang akan sulit untuk disaring mana yang baik dan tepat sebagai referensi.

Di bawah ini terdapat beberapa metode yang dapat membantu dalam menemukan referensi yang tepat:

A. Pencarian Kata Kunci

Kata kunci merupakan sebuah kata atau frasa yang digunakan untuk menunjukkan topik yang dibahas oleh suatu jurnal. Bila kita menemukan istilah kata kunci yang tepat bagi skripsi atau tugas akhir maka kita hanya perlu memasukkan kata kunci tersebut dalam kolom pencarian. Tidak perlu memasukkan seluruh judul skripsi dalam kolom pencarian tersebut.

 

B. Pencarian dengan Operator Boolean

pencarian kata kunciBila ingin mencari referensi dengan satu atau lebih kata kunci maka sebaiknya kita menggunakan operator boolean. Operator Boolean adalah istilah yang digunakan untuk bahasa pemograman dimana terdiri dari operator AND, OR, dan NOT. Apabila kita ingin mencari 2 atau lebih kata kunci dalam satu kali pencarian maka dapat menggunakan operator AND. Misalnya kita ingin melakukan pencarian filsafat dan islam, maka kalau kita menuliskan hanya filsafat islam hasil pencariannya akan menemukan kata filsafat islam, filsafat saja, atau islam saja, atau filsafat dan islam dalam frasa terpisah.

Bila menggunakan operator AND maka kita melakukan pencarian filsafat islam dengan memasukkan AND antara kata filsafat dan islam, hasil pencariannya akan menampilkan seluruh halaman dengan frasa filsafat islam.

Cara mudah lain untuk menemukan frasa filsafat islam dimana kata filsafat dan islam terletak berdampingan maka cukup ketikkan: “filsafat islam” (dengan tanda kutip) dalam kolom pencarian.

 

C. Pencarian dengan Metode PICO (khusus kedokteran dan kesehatan)

PICO merupakan salah satu metode yang akan memudahkan pencarian referensi skripsi dibidang kedokteran dan kesehatan. PICO berisi pertanyan digunakan untuk membantu dalam memperjelas apa yang hendak  docari dan sebagai alat bantu untuk menentukan kata kunci yang dipakai untuk menemukan referensi. Pertanyaan yang baik harus memuat 4 hal PICO (pasien, intervensi , comparison, outcome).

Pasien/Populasi/PenyakitSeperti apa karakteristik pasien kita (poin-poin penting saja).

Bisa dimasukkan di dalamnya

  • hal-hal yang berhubungan atau relevan dengan penyakit pasien seperti usia , jenis kelamin atau suku bangsa.
  • hal-hal mengenai masalah, pemyakit atau kondisi pasien
Intervensi/Prognosis/ExposureBerisikan hal sehubungan dengan intervensi yang diberikan ke pasien

  • Apakah tentang meresepkan suatu obat ?
  • Apakah tentang melakukan tindakan ?
  • Apakah tentang melakukan tes dignosis?
  • Apakah tentang menanyakan bagaimana prognosis pasien ?
  • Apakah tentang menanyakan apa yang menyebabkan penyakit pasien ?
Comparison (perbandingan)Tidak harus selalu ada pembandingnya. Pembanding bisa dengan plasebo atau obat yang lain atau tindakan terapi yang lain
OutcomeHarapan yang anda inginkan dari intervensi tersebut,seperti

  • Apakah berupa pengurangan gejala ?
  • Apakah berupa pengurangan efek samping ?
  • Apakah berupa perbaikan fungsi atau kualitas hidup ?
  • Apakah berupa pengurangan jumlah hari dirawat RS ?

Contoh kasus:

Seorang wanita Ny Susi , 28 th G1P0A0 hamil 36 minggu datang ke dokter ingin konsultasi mengenai cara-cara melahirkan. Ibu Susi punya pengalaman kakaknya divakum karena kehabisan tenaga mengejan , anaknya saat ini 6 tahun menderita epilepsi dan kakaknya harus dijahit banyak pada saat melahirkan.Ia tidak mau melahirkan divakum. Dia mendengar tentang teknik yang menggunakan forsep. Dia bertanya yang mana yang lebih aman untuk ibu dan bayi.

Maka kata kunci dari pertanyaan yang mungkin diajukan adalah:

  • Pasien : melahirkan, kala II lama
  • Intervensi : vakum
  • Comparison : forcep
  • Outcome : aman untuk ibu dan bayi

 

4. Hanya melakukan pencarian di mesin pencari

Melakukan pencarian referensi skripsi di mesin pencari akan memakan waktu yang sangat banyak untuk menemukan jurnal yang tepat. Bila ingin menghemat waktu dan menemukan referensi yang baik serta tepat untuk skripsi atau tugas akhir maka silakan masuk ke website tertentu lalu lakukan pencarian jurnal disana.

Semoga tips ini dapat bermanfaat dan semoga dimudahkan dalam melakukan pencarian referensi skripsi yang baik dan tepat.

anti hipertensi

Kapan Waktu Tepat Mengkonsumsi Anti Hipertensi?

Peneliti telah lama menemukan bahwa kejadian kardiovaskular lebih sering terjadi di pagi hari. Stroke, serangan jantung, dan gangguan irama jantung (aritmia) sering terjadi pada pagi hari. Lalu, pertanyaannya adalah apakah kita harus memberikan obat anti hipertensi mengikuti pola kejadian penyakit kardiovaskular tersebut?

 

Artikel ini akan memberikan gambaran tingginya insiden kejadian kardiovaskular di pagi hari dan beberapa penelitian terkait waktu yang tepat untuk memberikan obat penurun tekanan darah.

 

Kejadian Kardiovaskular Cenderung Terjadi di Pagi Hari

penyakit kardiovaskularAnalisis data Framingham telah menunjukkan bahwa kejadian kematian jantung mendadak adalah 70% lebih tinggi antara pukul 7 pagi dan 9 pagi dari pada siang hari.

 

Selain itu, meta-analisis dari 30 penelitian yang melibatkan lebih dari 60.000 pasien telah menunjukkan bahwa kejadian infark miokard adalah 40% lebih besar antara jam 6 pagi dan 12 siang daripada waktu lainnya.

 

Demikian pula, stroke dan aritmia ventrikel terjadi dengan frekuensi yang lebih besar di pagi hari. Variasi siklus seperti kejadian kardiovaskular telah dikaitkan dengan sifat sirkadian dari jam biologis kita, yang dikenal sebagai “chronobiology“.

 

Kondisi ini dapat dijelaskan dengan salah satu teori yang cukup populer yaitu perubahan siklus hormon. Secara khusus, katekolamin dan kortisol plasma, serta tonus vaskular dan volume sirkulasi efektif, paling tinggi pada pagi hari. Kondisi ini menyebabkan kenaikan tekanan darah pagi (sekitar 3/2 mmHg), sehingga kejadian kardiovaskular menjadi lebih tinggi pada pagi hari.

 

Kapan waktu yang tepat untuk memberikan anti hipertensi?

aritmiaSatu pertanyaan jelas yang muncul adalah: Haruskah kita menggunakan obat anti hipertensi dengan cara seperti itu (yaitu, mengkonsumsi obat (dosis satu kali sehari) pada saat akan tidur dan pada malam hari untuk obat dengan pelepasan diperpanjang (extended-release) sehingga aktivitas puncaknya bertepatan dengan dan mungkin akan sesuai dengan meningkatnya tekanan darah pada pagi hari?

 

Strategi pengobatan semacam itu disebut sebagai “chronotherapeutics.” Penting untuk dicatat bahwa penurunan mengesankan pada outcome kardiovaskular telah ditunjukkan dalam berbagai uji klinis di mana obat penurun tekanan darah belum diberikan pada malam hari tetapi secara rutin diberikan di pagi hari.

 

Meskipun demikian, masalah yang dihadapi adalah apakah kita dapat mengurangi kejadian kardiovaskular dengan memberi dosis obat anti hipertensi pada malam hari.

 

Beberapa penelitian kecil telah melihat secara khusus respons tekanan darah secara malam hari dibandingkan dengan dosis pagi dengan berbagai obat penurun tekanan darah agen.

 

Sebuah penelitian kecil menunjukkan kontrol tekanan darah malam hari yang lebih baik apabila obat diberikan setiap malam dibandingkan dengan dosis pagi hari dari ACE-inhibitor (quinapril), meskipun tekanan darah pada siang hari adalah sama dibandingkan dengan kelompok kontrol.

 

Studi kecil lainnya tidak dapat menunjukkan efek yang berbeda pada tekanan darah setiap malam dibandingkan dengan dosis pagi atenolol, nifedipin, atau amlodipin. Khususnya, tak satu pun dari studi kecil ini melihat outcome kardiovaskular jangka panjang, seperti kematian kardiovaskular, infark miokard, atau stroke.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, dua penelitian prospektif besar diterbitkan yang menilai outcome kardiovaskular dengan menggunakan obat antihipertensi dosis malam hari. Penelitian pertama adalah uji klinis Heart Outcomes Prevention Evaluation (HOPE), yang menunjukkan bahwa ramipril dosis harian (selain pengobatan lainnya), dibandingkan dengan rejimen yang tidak mencakup obat golongan ACE Inhibitor lainnya, secara signifikan menurunkan semua outcome kardiovaskular.

 

Salah temuan penting dari percobaan HOPE adalah bahwa hanya setengah dari subyek yang diteliti memiliki hipertensi, dan hanya sebagian kecil dari manfaat tersebut yang dikaitkan dengan pengurangan tekanan darah.

 

Penelitian Controlled Onset Verapamil Investigation of Cardiovascular End Points (CONVINCE) adalah satu-satunya percobaan prospektif besar yang membandingkannya dengan dosis agen anti hipertensi (controlled-onset extended-release verapamil) dengan dosis agen anti hipertensi lainnya (hidroklorotiazid atau atenolol).

 

Penelian CONVINCE tidak dapat menunjukkan superioritas obat yang diberikan pada malam hari sehingga tidak mendukung konsep chronotherapeutic.

 

Kesimpulannya, Terdapat data penelitian yang saling bertolak belakang terkait dengan manfaat pemberian obat penurun tekanan darah baik pada malam atau pagi hari. Jadi untuk saat ini, jadwal pemberian obat anti hipertensi dapat ditentukan oleh faktor lain seperti kenyamanan, persetujuan dengan pemberian obat lain untuk menumbuhkan kepatuhan, dan waktu untuk meminimalkan efek tak diinginkan (misalnya, pemberian malam hari untuk obat-obatan yang dapat menyebabkan hipotensi ortostatik dan bisa mengakibatkan jatuh).

 

 

Referensi:

  1. Willich SN, Levy D, Rocco MB, et al. Circadian variation in the incidence of sudden cardiac death in the Framingham Heart Study population. Am J Cardiol. 1987;60(10):801-806.
  2. Cohen MC, Rohtla KM, Lavery CE, et al. Meta-analysis of the morning excess of acute myocardial infarction and sudden cardiac death. Am J Cardiol. 1997;79(11):1512-1516.
  3. Sica DA, White W. Current Concepts of Pharmacotherapy in Hypertension — Chronotherapeutics and Its Role in the Treatment of Hypertension and Cardiovascular Disease. J Clin Hypertens (Greenwich). 2000;2(4):279-286.
  4. Yusuf S, Sleight P, Pogue J, et al. Effects of an angioten-sin-converting-enzyme inhibitor, ramipril, on cardiovascular events in high-risk patients. The Heart Outcomes Prevention Evaluation Study Investigators. N Engl J Med. 2000;342(3):145-153.
  5. Svensson P, de Faire U, Sleight P, et al. Comparative effects of ramipril on ambulatory and office blood pressures: a HOPE Substudy. Hypertension. 2001;38(6):E28-E32.
  6. Black HR, Elliott WJ, Grandits G, et al., for the CONVINCE Research Group. Principal results of the Controlled Onset Verapamil Investigation of Cardiovascular End Points (CONVINCE) trial. JAMA. 2003;289(16):2073-2082.

Konjungtivitis Alergi: Diagnosis dan Tatalaksana

Konjungtivitis alergi adalah reaksi alergi pada jaringan okular dan periokular yang bermanifestasi sebagai kemerahan mata disertai dengan rasa gatal serta pembengkakan akibat paparan alergen. Konjungtivitis alergi dapat bersifat musiman dan perenial dengan tidak melibatkan kornea dan merupakan hasil dari reaksi hipersensitivitas awal imunoglobulin E (IgE). Kondisi  ini biasanya terkait dengan manifestasi penyakit atopik lainnya seperti rhinitis alergi, asma, urtikaria, dan / atau dermatitis atopik. Kondisi ini biasanya muncul dengan kemerahan mata ringan sampai sedang, air mata berlebihan, dan gatal dan pembengkakan konjungtiva hingga sedang (chemosis) dalam pola musiman atau sedang. Diagnosis awal biasanya ditemukan pada masa kanak-kanak atau dewasa muda.

Evaluasi Konjungtivitis Alergi

  • Pertimbangkan manajemen konservatif untuk penyakit ringan termasuk edukasi pasien untuk menghindari menggaruk mata, menghindari paparan alergen, dan iritan. Edukasi pasien untuk melakukan kompres dingin pada mata dan pemberian air mata buatan
  • Medikasi hanya diberikan pada penyakit derajat sedang hingga berat atau sebagai tambahan untuk mengatasi gejala
    • Pemberian stabilisator sel masa okular, anithistamin, atau keduanya merupakan terapi lini pertama
  • Pertimbangkan dual-action mast cell stabilizer / antihistamine sebagai terapi awal, seperti:
    • ketotifen 0,01% -0,035% 1 tetes mata ≤ 3 kali sehari
    • alcaftadine 0,25% 1-2 tetes mata satu kali sehari (FDA Pregnancy Category B)
    • bepotastine 1,5% 1 tetes mata dua kali sehari
    • olopatadine 1% 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari (atau olopatadine 2% 1-2 tetes mata satu kali sehari)
    • azelastine 0,15% 1 tetes mata satu kali sehari
  • Pertimbangkan obat single-action jika pasien peka terhadap komponen dual-action mast cell stabilizer / antihistamine, seperti:
    • antihistamin – dikontraindikasikan pada pasien yang berisiko terkena glaukoma sudut tertutup dan pilihannya meliputi:
      • feniramin maleat 0,315% / naphazolin 0,02675% (kombinasi antihistamin dan dekongestan) 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari
      • Epinastine 0,05% 1 tetes mata dua kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 3 tahun
      • emedastine difumarate 0,05% 1 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 3 tahun
      • levokabastin 0,1% 1 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 12 tahun
    • stabilizer sel mast – pilihan dapat mencakup:
      • nedocromil 2% 1-2 tetes mata dua kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 3 tahun
      • cromolyn 4% 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 2 tahun
      • lodoxamide tromethamine 0,1% 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 2 tahun
    • Obat okular lainnya dapat dipertimbangkan jika terapi awal tidak efektif, termasuk obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) sendiri atau sebagai obat tambahan, dekongestan okular sebagai pengobatan tambahan, atau steroid okular untuk kasus yang sangat parah atau resisten atau jika ada paparan yang berkepanjangan / berulang terhadap alergen.
    • Antihistamin oral generasi kedua dapat dipertimbangkan pada pasien dengan atau tanpa rinitis alergi.
    • Imunoterapi alergen dapat dipertimbangkan untuk penyakit sedang sampai berat jika alergen spesifik diidentifikasi dan diperlukan penanganan tambahan.
    • Jika terdapat gejala rhinitis alergi yang jelas, pertimbangkan steroid intranasal, antihistamin oral, dan / atau montelukast oral.
    • Pertimbangkan rujukan ke dokter mata jika ada komorbiditas yang signifikan, diperlukan pemberian kortikosteroid, atau gejala mata baru berkembang.

 

Referensi:

  1. La Rosa M, Lionetti E, Reibaldi M, et al. Allergic conjunctivitis: a comprehensive review of the literature. Ital J Pediatr. 2013 Mar 14;39:18full-text
  2. Friedlaender MH. Ocular allergy. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2011 Oct;11(5):477-82
  3. Bielory L, Meltzer EO, Nichols KK, Melton R, Thomas RK, Bartlett JD. An algorithm for the management of allergic conjunctivitis. Allergy Asthma Proc. 2013 Sep-Oct;34(5):408-20, commentary can be found in Allergy Asthma Proc 2015 Jul-Aug;36(4):79
ansietas

Guidelines Ansietas Berdasarkan NICE 2011

Gangguan cemas menyeluruh (generalised anxiety disorder / GAD) atau ansietas ditandai dengan kekhawatiran dan stres kronis, tidak fokus, dan terkait dengan gangguan klinis dan gangguan fungsional yang signifikan, sering disertai  insomnia, kegelisahan, spasme otot, dan masalah konsentrasi. Usia onset tampaknya bimodal, biasanya terjadi antara usia 10-14 tahun pada anak-anak dan remaja dan pada usia rata-rata 31 tahun pada orang dewasa. GAD dapat terjadi akibat aktivitas neurotransmiter serotonergik dan noradrenergik yang tidak normal. Kombinasi genetika dan pengaruh lingkungan dapat berperan dalam manifestasi gejala. Perjalanan klinis biasanya kronis, dengan kemungkinan remisi yang lebih rendah pada kondisi psikologis komorbid dan dukungan keluarga. GAD dikaitkan dengan peningkatan risiko perilaku bunuh diri serta semua penyebab kematian dan kematian terkait kardiovaskular. Artikel ini memuat guidelines ansietas berdasarkan NICE 2011.

Populasi

Dewasa

Rekomendasi

  • NICE 2011
  1. Rekomendasi cognitive behavioral therapy untuk gangguan cemas menyeluruh (generalized anxiety disorder/GAD)
  2. Rekomendasi pemberian Sertraline jika pengobatan dengan obat dibutuhkan
  3. Jika sertraline tidak efektif, direkomendasikan pemberian selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) atau selective noradrenergic reuptake inhibitor (SNRI) lainnya. Hindari penggunaan terapi benzodiazepin atau anti psikotik jangka panjang pada GAD.

 

Pengobatan/Medikasi berdasarkan Guidelines Ansietas NICE 2011

  1. Cognitive behavioral therapy:
  • Komponen CBT meliputi
    • Paparan terhadap stimulus dan perasaan yang terkait dengan peristiwa traumatik
    • Inhibisi perilaku mengurangi kecemasan dengan menjauhi atau mencari hiburan untuk meningkatkan ketahanan diri
    • Strategi kongnitif unutk mengurangi persepsi berlebihan terhadap ancaman
    • Strategi untuk mengelola tingkat kecemasan/arousal salah satunya dengan kontrol pernapasan
  • Dilakukan selama 6-12 sesi dengan durasi 1 jam untuk setiap sesi.

 

  1. Antidepresan
  • Antidepresan dengan bukti mengurangi remisi dan gejala
    • Sertraline; Escitalopram; Paroxetine
  • Antidepresan dengan bukti untuk mengurangi gejala
    • duloxetine venlafaxine extended release; imipramine; trazodone; opipramol; citalopram; agomelatine
  • Dosis antidepresan:
    • escitalopram 10-20 mg/hari
    • paroxetine 20-50 mg/hari
    • sertraline 50–200 mg/hari
    • duloxetine 60–120 mg/hari
    • venlafaxine 75–225 mg/hari
    • imipramine 50-200 mg/hari
    • citalopram 10-40 mg/hari
    • nortriptyline 20-150 mg/hari
    • opipramol 50–300 mg/hari

 

  1. Benzodiazepin
  • Efektif untuk pengobatan jangka pendek
  • Drug of Choice (DOC): alprazolam 0,5-2 mg/hari, diazepam 2,5-5 mg/hari, lorazepam 1-4 mg/hari
  • Gunakan dengan perhatian terhadap pembentukan kebiasaan yang berujung pada rebound ansietas, dan memiliki efek samping yang lebih parah ketika dihentikan

 

  1. Buspirone
  • Dilaporkan mengurangi gejala ansietas pada GAD
  • Memiliki efek samping yang lebih sedikit
  • Dosis 10-60 mg/hari diberikan 3-4 kali per hari

 

  1. Hidroxyzine
  • Dosis 50-100 mg 4 kali sehari (dewasa)
  • 50-100 mg/hari 3 kali sehari (anak)
  1. Pregabalin
  • DOC untuk pasien yang intoleran terhadap SSRI dan SNRI
  • Dosis 150-600 mg/hari

 

Referensi

  1. Katzman MA, Bleau P, Blier P, et al; Canadian Anxiety Guidelines Initiative Group on behalf of the Anxiety Disorders Association of Canada/Association Canadienne des troubles anxieux and McGill University. Canadian clinical practice guidelines for the management of anxiety, posttraumatic stress and obsessive-compulsive disorders. BMC Psychiatry. 2014;14 Suppl 1:S1
  2. http://www.nice.org.uk/nicemedia/live/13314/52599/52599.pdf
anafilaksis

Guidelines Anafilaksis NICE 2011 dan EACCI 2014

Anafilaksis adalah reaksi alergi sistemik akut yang mengancam jiwa yang dapat berkembang dengan cepat menuju obstruksi jalan napas dan kegagalan (kolaps) kardiovaskular. Anafilaksis dapat dikaitkan dengan kondisi alergi lainnya. Pemicu umum meliputi alergen makanan, obat-obatan, sengatan serangga, media kontras, dan paparan lateks dan anamnesis adalah modalitas yang paling penting dalam menentukan apakah anafilaksis telah terjadi dan apa yang menjadi penyebabnya. Artikel ini memberikan ringkasan guidelines anafilaksis NICE 2011 dan EACCI 2014.

Populasi yang termasuk dalam guidelines anafilaksis

  • Anak-anak dan dewasa

Rekomendasi guidelines anafilaksis NICE 2011 dan EACCI 2014

  • NICE 2011, EACCI 2014
    • Uji sel mast triptase dilakukan pada saat onset dan setelah 1-2 jam kemudian
    • Pada pasien ≥16 tahun dengan sangkaan reaksi anafilaksis harus diobservasi 6-12 jam sebelum dipulangkan
    • Semua pasien <16 tahun dengan sangkaan reaksi anafilaksis harus dirawat untuk observasi
    • Pasien yang telah mendapatkan pengobatan reaksi anafilaksis harus dirujuk ke konsultan alergi
    • Obati anafilaksis dengan epinefrin (1:1000/0,1%) 0,01 mg/kg (maksimal 0,5 mg) SC; jika diperlukan dapat diulang setiap 15 menit.
    • Pasien harus diberikan reseo epinefrin injektor (Cth: EpiPen)
    • Pasien dengan kardiovaskular tidak stabil harus diposisikan supine dengan kedua tungkai bawah ditinggikan dan bolus NaCl 0,9 IV 20mL/kg
    • Direkomendasikan pemberian agonis β-2 dan glukokortikoid pada pasien dengan wheezing atau tanda bronkokontriksi
    • H1– dan H2blockers dapat ditambahkan untuk mengatasi tanda kutaneus anafilaksis.

 

Poin Kunci Guidelines Anafilaksis:

Anafilaksis didefinisikan sebagai reaksi hipersensitivitas general berat, mengancam jiwa dengan karakteristik berupa perkembangan cepat dari: reaksi hipersensitivitas pada kulit atau mukosa, edema saluran napas, bronkospasme, dan disfungsi vaskular.

 

Pengobatan/Medikasi berdasarkan Guidelines Anafilaksis NICE 2011 dan EACCI 2014

  1. Epinefrin
  • Lini pertama
  • Diberikan setiap 5-15 menit untuk mengontrol gejala dan meningkatkan tekanan darah
    • Dosis dewasa (epinefrin 1: 1.000 atau 1mg/mL): 0,2-0,5 mL
    • Dosis anak : 0,01 mg/kg (Maks. 0,3 mg atau 0,3 mL)
    • Waktu antar injeksi hars semakin diperpendek
    • Pengulangan dosis diperlukan pada sekitar 35% kasus anafilaksis
  • Injeksi IM pada paha memungkinkan kadar plasma epinefrin tercapai lebih cepat dibandingkan dengan SC atau IM pada bahu.
  • Pada pasien yang tidak respons pemberian epinefrin IM maka perlu diberikan epinefrin IV.
  • Epinefrin IV
    • Potensial beriko untuk mengembangkan aritmia letal.
    • Hanya digunakan jika henti jantung atau hipotensi berkepanjangan yang tidak respons terhadap pemberian epinefrin IM berulang dan resusitasi cairan.
    • Rejimen epinefrin (dilusi 1:100.000)
      • Dosis inisial 2-10 mcg/menit
      • Titrasi dosis berdasarkan respons klinis dan efek samping
      • Lakukan monitoring hemodinamik
    • Jika terjadi Henti Jantung (Cardiac Arrest) maka pemberian epinefrin pada resusitasi jantung paru adalah sebagai berikut:
      • Dewasa: Epinefrin (1:10.000) 1 mg IV, Ulangi setiap 3-5 menit selama henti jantung
      • Anak: Epinefrin (1:10.000) 0,01 mg/kg (0,1 ml/kg hingga 1 mg dosis tunggal), ulangi setiap 3-5 menit selama henti jantung.

 

  1. Antihistamin
  • Terapi lini kedua
    • Antihistamin H1 (Difenhidramin)
      • Dewasa: 25-50 mg IV berikan selama 10-15 menit
      • Anak: 1 mg/kg (maks 50 mg) berikan selama 10-15 menit
    • Antihistamin H2 (Ranitidin)
      • Dewasa: 12,5-50 mg IV bolus lambat atau IM
      • Anak: 1 mg/kg IV bolus lambat atau IM

 

  1. Glukokortikoid
  • Diberikan sebagai terapi adjuvan epinefrin
  • Tidak membantu dalam mengurangi gejala akut akan tetapi mencegah rekurensi dan durasi anafilaksis
  • Pilihan Obat berupa:
    • Dewasa:
      • Hidrokortison 200 mg IV
      • Metilprednisolone 50-100 mg IV
      • Prednison PO dosis ekuivalen metilprednisolon
    • Anak
      • Metilprednisolon 1mg/kg IV (maks 50 mg)
      • Hidrokortison 2 mg/kg IV (maks 100 mg)
      • Prednison PO dosis ekuivalen metilprednisolon

 

  1. Agonis β-2
  • Untuk pengobatan bronkospasme berikan agonis β-2 inhalasi
  • Albuterol/salbutamol
    • 2-6 puff MDI atau 2,5-5 mg nebule+3 mL NaCl 0,9%
    • Dapat diulang jika diperlukan

 

  1. Vasopresor
  • Hanya diberikan pada pasien dengan hipotensi refrakter pasca pemberian epinefrin dan cairan resusitasi
  • Diberikan hanya jika tersedia alat monitoring hemodinamik
  • Dosis vasopresor
    • Dopamin 2-20 mcg/kg/menit titrasi hingga target tekanan darah tercapai
    • Norepinefrin 0,05-0,1 mcg/kg/menit (titrasi maksimal 2 mcg/kg/menit) juga dapat digunakan.

 

Referensi:

  1. Lieberman P, Nicklas RA, Randolph C, et al. American Academy of Allergy, Asthma, and Immunology/American College of Allergy, Asthma, and Immunology (AAAAI/ACAAI) Joint Task Force: Anaphylaxis – a practice parameter update 2015. Ann Allergy Asthma Immunol. 2015 Nov;115(5):341-84
  2. Campbell RL, Li JT, Nicklas RA, Sadosty AT, Members of the Joint Task Force, Practice Parameter Workgroup. Emergency department diagnosis and treatment of anaphylaxis: a practice parameter. Ann Allergy Asthma Immunol. 2014 Dec;113(6):599-608

 

Ringkasan Pedoman Hipertensi ACC/AHA 2017

krisis hipertensiPada tanggal 13 November 2017, American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC) mengeluarkan pedoman hipertensi terbaru. Pedoman ini berisikan banyak perubahan besar dalam pengelolaan hipertensi. Salah satu lompatan terbesar pedoman ini adalah perubahan klasifikasi atau bahkan definisi hipertensi dimana sebelumnya hipertensi dinyatakan sebagai peningkatan tekanan darah arteri sistemik yang menetap dimana tekanan darah sistolik  ≥ 140 Hgmm atau tekanan darah diastolik  ≥ 90 mmHg. Pada pedoman hipertensi tersebut maka hipertensi ditetapkan apabila tekanan darah sistolik  ≥ 130 mmHg atau tekanan darah diastolik  ≥ 80 mmHg. Penurunan 10 poin pada tekanan darah sistolik dan diastolik tersebut menyebabkan 103 juta penduduk Amerika Serikat mengalami hipertensi dan harus menjalani diet, perubahan gaya hidup (berolahraga) dan mengkonsumsi obat anti hipertensi. Seluruh hal tersebut harus dijalani untuk mengurangi risiko terhadap kejadian serangan jantung dan stroke. Artikel ini akan memberikan ringkasan pedoman tersebut.

Untuk memahami rekomendasi dan kualitas bukti pada ringkasan pedoman ini maka harus merujuk kepada kelas (kekuatan) rekomendasi dan tingkat (kualitas) bukti dari ACC/AHA pada tahun 2015 yang ditunjukkan pada gambar berikut.

Rekomendasi Dapat Diunduh Pada Link Berikut

Klik Disini

 

Ringkasan Pedoman Terkait Tekanan darah dan Risiko Kardiovaskular

  • Penelitian observasional menunjukkan hubungan antara tekanan darah sistolik dan diastolik tinggi dengan peningkatan risiko kardiovakular.
  • Meta analisis dari 61 penelitian prospektif menunjukkan bahwa
    • Risiko kardiovaskuler meningkat secara log-linier pada tekanan darah sistolik <155 mmHg hingga > 180 mmHg dan tekanan darah diastolik < 75 mmHg hingga > 105 mmHg
    • Peningkatan tekanan darah sistolik 20 mmHg dan diastolik 10 mmHg berhubungan dengan peningkatan risiko stroke, penyakit jantung, dan penyakit vaskular lainnya sebesar 2 kali lipat.
    • Lebih dari 1 juta pasien berusia ≥30 tahun yang mengalami peningkatan tekanan darah juga memiliki hubungan terkait peningkatan insiden kejadian kardiovaskular dan angina, infark miokard, gagal jantung, stroke, penyakit arteri perifer.
    • Meskipun risiko relatif insiden kardiovaskular dengan tekanan darah sistolik dan diastolik sangat kecil pada usia tua, peningkatan tekanan darah memiliki risiko absolut lebih besar pada usia ≥ 65 tahun.

 

Ringkasan Pedoman Terkait Komponen Tekanan Darah

Pedoman terbaru juga memuat komponen tekanan darah. Komponen tekanan darah tersebut dapat dimuat dalam ringkasan pedoman ini sebagai berikut.

Pengukuran Tekanan DarahDefinisi
Tekanan darah sistolikSuara Korotkoff Pertama
Tekanan darah DiastolikSuara Korotkoff Kelima
Tekanan PulsasiTekanan darah sistolik dikurangi tekanan darah diastolik
Tekanan arteri rata-rata (Mean Arterial Pressure)Tekanan Darah Diastolik ditambah sepertiga tekanan pulsasi atau dapat dirumuskan sebagai ( 2 kali tekanan diastol ditambah tekanan sistolik dibagi 3)+        
Tekanan tekanan darah tengah (Mid-BP)Penjumlahan tekanan darah sistolik dan diastolik dibagi 2.

+ perhitungan diasumsikan pada tekanan nadi normal

 

Ringkasan Pedoman Terkait Risiko Populasi

  • Tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian dan hendaya terbesar di seluruh dunia pada tahun 2010.
  • Di Amerika Serikat, hipertensi menyebabkan kematian akibat kardiovaskular terbesar dibanding faktor risiko yang dapat diubah kardiovaskular lainnya.
  • National Health and Nutrition Examination Survey menunjukkan bahwa >50% kematian karena penyakit jantung koroner dan stroke terjadi pada orang hipertensi.
  • Tingginya prevalensi hipertensi berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, stroke dan gagal ginjal stadium akhir.

Rekomendasi Ringkasan Pedoman Praktik Klinis Hipertensi ACC/AHA 2017 Dapat DiUnduh Pada Link Berikut

Klik Di Sini

 

 

Referensi

  1. 2017 Hypertension Guidelines Programming. American Heart Association’s annual scientific sessions, Anaheim, California. November 13, 2017.
  2. P.K. Whelton et al. 2017 ACC/AHA/AAPA/ABC/ACPM/AGS/APhA/ASH/ASPC/NMA/PCNA Guideline for the prevention, detection, evaluation and management of high blood pressure in adultsHypertension. Published November 13, 2017. doi: 10.1161/HYP.0000000000000065.
  3. P.K. Whelton et al. 2017 ACC/AHA/AAPA/ABC/ACPM/AGS/APhA/ASH/ASPC/NMA/PCNA Guideline for the prevention, detection, evaluation and management of high blood pressure in adultsJournal of the American College of Cardiology. November 2017. doi: 10.1016/j.jacc.2017.11.006.