pedoman praktik klinis

Rangkuman Pedoman Klinis Kardiologi Pada Tahun 2017

Rangkuman pedoman klinis kardiologi pada tahun 2017 ini berisikan 11 kelompok pedoman klinis dan rekomendasi yang dikeluarkan pada tahun 2017.

Rangkuman ini berisikan pedoman mulai dari target kadar kolesterol hingga pedoman klinis tromboemboli vena.

Anda dapat membaca hingga ke bawah keseluruhan dari rangkuman ini. Tapi, Apabila Anda hanya ingin membaca topik tertentu maka Anda dapat memilih salah satu topik tersebut pada daftar isi di atas.

Anda dapat menemukan link referensi asal rekomendasi tersebut pada setiap akhir bagian atau topik tersebut.

Pedoman praktik klinis pada rangkuman ini berasal dari beberapa pedoman atau rekomendasi dari:

  • American Academy of Family Physicians
  • American Academy of Neurology
  • American Academy of Pediatrics
  • American Association of Clinical Endocrinologists
  • American Association for Thoracic Surgery
  • American College of Cardiology
  • American College of Endocrinology
  • American College of Physicians
  • American Diabetes Association
  • American Heart Association
  • European Association of Cardiothoracic Anaesthesiology
  • European Association for Cardio-Thoracic Surgery
  • European Society of Anesthesiology
  • European Society of Cardiology
  • Heart Failure Society of America

 

Pedoman Klinis Kardiologi 1: Target Kadar Kolesterol

American Association of Clinical Endocrinologists/American College of Endocrinology

AACE/ACE merekomendasikan target LDL <55 mg/dL, <70 mg/dL, < 100 mg/dL, dan <130 mg/dL untuk individu dengan risiko kejadian kardiovaskular ekstrim, sangat tinggi, tinggi/sedang, dan rendah, masing-masing.

Pasien dengan risiko ekstrim: Target LDL <55 mg/dL, non-HDL <80 mg/dL, yaitu pasien dengan:

  • Penyakit kardiovaskular aterosklerotik progresif (ASCVD), termasuk angina tidak stabil pada pasien yang telah mencapai target LDL <70 mg/dL
  • Penyakit kardiovaskular yang telah ditegakkan pada pasien dengan diabetes, gagal ginjal kronis stadium ¾, atau hiperkolesterolemia familial heterozigot (HeFH)
  • Riwayat ASCVD prematur (usia <55 tahun pada pria, dan <65 tahun pada wanita)

 

Pasien dengan risiko sangat tinggi: Target LDL <70 mg/dL, non-HDL <80 mg/dL, yaitu pada pasien dengan:

  • Riwayat dirawat karena sindrom koroner akut, penyakit arteri karotis atau penyakit arteri perifer; risiko 10 tahun >20%
  • Pasien dengan dabetes dan gagal ginjal kronis stadium ¾ dengan satu atau lebih faktor risiko
  • HeFH

 

Pasien dengan risiko tinggi: Target LDL <100 mg/dL, non-HDL <130 mg/dL, yaitu pada pasien dengan:

  • Dua atau lebih faktor risiko kardiovaskular dan risiko 10 tahun 10-20%
  • Diabetes atau CKD stadium ¾ tanpa faktor risiko lainnya

 

Pasien dengan risiko sedang: Target LDL sama dengan risiko tinggi, yaitu pada pasien dengan:

  • Dua atau lebih faktor risiko dan risiko 10 tahun <10%

 

Pasien dengan risiko rendah: Target LDL <130 mg/dL, non-HDL <160 mg/dL

  • Tidak memiliki faktor risiko

 

Referensi

  1. Tucker ME. New AACE Lipid Guidelines Establish ‘Extreme’ CVD Risk Category. Medscape. WebMD Inc. May 5, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/879577
  2. Jellinger PS, Handelsman Y, Rosenblit PD, et al. AMERICAN ASSOCIATION OF CLINICAL ENDOCRINOLOGISTS AND AMERICAN COLLEGE OF ENDOCRINOLOGY GUIDELINES FOR MANAGEMENT OF DYSLIPIDEMIA AND PREVENTION OF CARDIOVASCULAR DISEASE. Endocrine Practice. Vol 23 (Suppl 2) April 2017. https://www.aace.com/files/lipid-guidelines.pdf

 

Pedoman Klinis Kardiologi 2: Terapi Antiplatelet pada Penyakit Jantung Koroner

European Society of Cardiology

Saran terbaru dari ESC adalah dengan melakukan pendekatan personalized medicine (kedokteran pribadi) dengan mempertimbangakan risiko iskemik vs perdarahan. Dimana, setiap pengobatan yang diberikan dan durasinya bersifat individual dan sangat bergantung pada profil pasien secara individu.

  • Terapi dengan antiplatelet ganda (DAPT) misalnya dengan aspirin ditambah inhibitor P2Y12 mengurangi risiko trombosis stent dan/atau infark miokard spontan pada pasien yang menjalani PCI (intervensi koroner perkutan) atau suatu sindrom koroner akut.
  • Risiko perdarahan pada pasien dengan DAPT secara proporsional berhubungan dengan durasi pemberian.
  • Pemanjangan durasi pemberian DAPT dan keuntungannya terhadap mortalitas, bergantung pada riwayat kardiovaskular sebelumnya (misalnya riwayat ACS/MI vs PJK stabil).
  • Untuk pasien dengan sindrom koroner akut, durasi pemberian DAPT harus 12 bulan. Tidak bergantung pada strategi revaskularisasi apa yang digunakan (terapi medis, PCI, atau operasi CABG).
  • Pemberian DAPT selama 6 bulan harus dipertimbangkan pada pada pasien dengan risiko perdarahan tinggi (Skor PRECISE-DAPT ≥ 25).
  • Pemberian DAPT lebih lama dari 12 bulan harus dipertimbangkan pada pasien ACS yang memiliki toleransi DAPT baik tanpa komplikasi perdarahan.
  • Kebutuhan untuk rejimen DAPT jangka pendek tidak lagi membenarkan penggunaan stent bare-metal daripada stent drug-eluting generasi baru. Durasi DAPT harus dipandu oleh penilaian risiko iskemik vs pendarahan individu pasien dan bukan oleh tipe stent.
  • Terlepas dari jenis stent metalik yang ditanamkan, durasi DAPT pada pasien CAD stabil yang diobati dengan PCI harus 1 hingga 6 bulan tergantung pada risiko pendarahan. Durasi DAPT yang lebih lama dapat dipertimbangkan pada pasien yang berisiko iskemik lebih besar daripada risiko perdarahan.
  • Tidak ada data yang cukup untuk merekomendasikan DAPT pada pasien CAD stabil yang diobati dengan CABG.
  • Penambahan DAPT ke terapi antikoagulasi oral meningkatkan risiko komplikasi perdarahan sebanyak dua hingga tiga kali lipat. Indikasi untuk antikoagulasi oral harus ditinjau kembali dan pengobatan dilanjutkan hanya jika ada indikasi yang meyakinkan seperti fibrilasi atrium, katup jantung mekanik, atau riwayat trombosis vena dalam atau emboli pulmoner berulang. Durasi terapi tiga kali (DAPT plus antikoagulan oral) harus dibatasi hingga 6 bulan atau dihilangkan setelah pulang dari rumah sakit, tergantung pada risiko iskemik dan perdarahan.
  • Clopidogrel direkomendasikan sebagai inhibitor P2Y12 pilihan pada pasien dengan CAD stabil yang diterapi dengan PCI, pasien dengan indikasi untuk antikoagulan oral, dan pasien ACS di antaranya ticagrelor atau prasugrel merupakan kontraindikasi. Ticagrelor atau prasugrel direkomendasikan untuk pasien ACS kecuali ada kontraindikasi spesifik obat.
  • Keputusan tentang kapan harus memulai inhibitor P2Y12 tergantung pada obat spesifik dan penyakit tertentu (CAD Stabil vs ACS).

 

Referensi

  1. Hughes S. ESC Guideline Update on Dual Antiplatelet Therapy in CAD. Medscape News. WebMD Inc. September 14, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/885683

 

Pedoman Klinis Kardiologi 3: Gagal Jantung

American College of Cardiology/American Heart Association/Heart Failure Society of America

Untuk pasien yang berisiko mengalami gagal jantung, pemeriksaan berbasis biomarker peptida natriuretik (BNP) yang diikuti oleh perawatan berbasis tim, termasuk spesialis kardiovaskular akan mengoptimalkan manajemen dan terapi yang berdasarkan pedoman (GDMT), dapat berguna untuk mencegah perkembangan disfungsi ventrikel kiri (sistolik atau diastolik) atau gagal jantung onset baru.

  • Pada pasien yang mengalami dispnea, pengukuran biomarker peptida natriuretik berguna untuk mendukung diagnosis atau eksklusi gagal jantung.
  • Selama rawat inap dengan kondisi gagal jantung, pemeriksaan kadar peptida natriuretik pada awal rawatan dapat berguna untuk menetapkan prognosis pasca rawatan.
  • Strategi klinis penghambatan sistem renin-angiotensin dengan inhibitor angiotensin-converting enzyme (ACE), ATAU angiotensin receptor blocker (ARB), atau angiotensin receptor-neprilysin inhibitor (ARNI) dalam hubungannya dengan beta-blocker berbasis bukti, dan antagonis aldosteron pada pasien tertentu, direkomendasikan untuk pasien dengan gagal jantung kronis dengan penurunan fraksi ejeksi (HFrEF) untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas.
  • Pada pasien dengan gejala kronis HFrEF NYHA kelas II atau III yang mentoleransi inhibitor ACE atau ARB, penggantian dengan ARNI dianjurkan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas lebih lanjut.
  • ARNI tidak boleh diberikan bersamaan dengan inhibitor ACE atau dalam waktu 36 jam dari dosis terakhir inhibitor ACE.
  • ARNI tidak boleh diberikan pada pasien dengan riwayat angioedema.
  • Ivabradine dapat bermanfaat untuk mengurangi rawat inap untuk pasien dengan gagal jantung simptomatik (NYHA kelas II-III) HFrEF kronis stabil (LVEF ≤35%) yang menerima mendapatkan GDEM, termasuk beta blocker pada dosis maksimum yang ditoleransi, dan yang dalam irama sinus dengan detak jantung 70 x/menit atau lebih saat istirahat.
  • Pada pasien yang terpilih secara baik dengan gagal jantung fraksi ejeksi yang tetap (HFpEF) (dengan EF ≥45%, peningkatan kadar B-type natriuretic peptide (BNP) atau gagal jantung dalam 1 tahun, perkiraan laju filtrasi glomerular> 30 mL / menit, kreatinin < 2,5 mg / dL, kalium <5,0 mEq / L), antagonis reseptor aldosteron mungkin dipertimbangkan untuk menurunkan rawat inap.
  • Penggunaan rutin nitrat atau phosphodiesterase-5 inhibitor untuk meningkatkan aktivitas atau kualitas hidup pada pasien dengan HFpEF tidak efektif.
  • Pada pasien dengan gagal jantung NYHA kelas II dan III disertai defisiensi besi (feritin <100 ng / mL atau 100 hingga 300 ng / mL jika saturasi transferin <20%), penggantian besi intravena mungkin dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan status fungsional dan kualitas hidup.
  • Pada pasien dengan gagal jantung dan anemia, agen stimulasi erythropoietin tidak boleh digunakan untuk memperbaiki morbiditas dan mortalitas.
  • Pada pasien dengan peningkatan risiko gagal jantung tahap A, tekanan darah optimal pada mereka dengan hipertensi harus kurang dari 130/80 mm Hg.
  • Pasien dengan HFrEF dan hipertensi harus diresepkan GDMT dititrasi untuk mencapai tekanan darah sistol kurang dari 130 mm Hg.
  • Pasien dengan HFpEF dan hipertensi persisten setelah manajemen volume berlebihan harus diresepkan GDMT dititrasi untuk mencapai tekanan darah sistol kurang dari 130 mm Hg.
  • Pada pasien dengan NYHA kelas II-IV HF dan dugaan gangguan tidur atau kantuk di siang hari yang berlebihan, penilaian tidur formal dapat dipertimbangkan.
  • Pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dan apnea tidur obstruktif, tekanan saluran napas positif kontinu (CPAP) mungkin dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi kantuk di siang hari.
  • Pada pasien dengan NYHA kelas II-IV HFrEF dan apnea tidur sentral, servo-ventilasi adaptif menyebabkan bahaya.

Referensi

  1. Yancy CW, Jessup M, Bozkurt B, et al. 2017 ACC/AHA/HFSA Focused Update of the 2013 ACCF/AHA Guideline for the Management of Heart Failure: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines and the Heart Failure Society of America. Circulation. 2017 Apr 28. http://circ.ahajournals.org/content/early/2017/04/26/CIR.0000000000000509.long

 

Pedoman Klinis Kardiologi 4: Klasifikasi dan Tatalaksana Hipertensi

American College of Cardiology and American Heart Association

Pedoman ACC / AHA baru menghilangkan klasifikasi prehipertensi dan membaginya menjadi dua tingkat: (1) Tenakan darah yang meningkat, dengan tekanan sistolik antara 120 dan 129 mm Hg dan tekanan diastolik kurang dari 80 mm Hg, dan (2) hipertensi tahap 1 , dengan tekanan sistolik 130 hingga 139 mm Hg atau tekanan diastolik 80 hingga 89 mm Hg.

Ringkasan Lengkap Pedoman Praktik Klinis Hipertensi AHA/ACC 2017 ini dapat Anda baca di sini:

Ringkasan Pedoman Hipertensi ACC/AHA 2017

Pedoman Hipertensi ACC/AHA 2017

 

Pedoman Klinis Kardiologi 5: Hipertensi pada Pasien Diabetes

American Diabetes Association

  • Tekanan darah harus diukur pada setiap kunjungan perawatan klinis rutin. Pasien yang ditemukan memiliki tekanan darah tinggi (≥140 / 90 mmHg) harus memiliki tekanan darah yang dikonfirmasi dengan menggunakan beberapa kali pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran pada hari yang terpisah, untuk mendiagnosis hipertensi.
  • Semua pasien hipertensi dengan diabetes harus memiliki monitoring tekanan darah di rumah untuk mengidentifikasi hipertensi jas putih (whitecoat hipertension).
  • Pengukuran ortostatik tekanan darah harus dilakukan selama evaluasi awal hipertensi dan secara berkala pada tindak lanjut, atau ketika gejala hipotensi ortostatik hadir, dan secara teratur jika hipotensi ortostatik telah terdiagnosis.
  • Sebagian besar pasien dengan diabetes dan hipertensi harus diobati dengan target tekanan darah sistolik <140 mm Hg dan tekanan darah diastolik <90 mm Hg.
  • Target tekanan darah sistolik dan diastolik yang lebih rendah, seperti <130/80 mm Hg, mungkin cocok untuk individu yang berisiko tinggi terhadap penyakit kardiovaskular jika mereka dapat dicapai tanpa beban pengobatan yang tidak semestinya.
  • Untuk pasien dengan tekanan darah sistolik >120 mm Hg atau tekanan darah diastolik >80 mm Hg, intervensi gaya hidup terdiri dari penurunan berat badan jika kelebihan berat badan atau obesitas; Pola Diet untuk Menghentikan Hipertensi (DASH) – gaya pola diet, termasuk mengurangi natrium dan meningkatkan asupan kalium; peningkatan konsumsi buah dan sayuran; moderasi asupan alkohol; dan meningkatkan aktivitas fisik.
  • Pasien dengan tekanan darah berdasarkan pemeriksaan pada poliklinik ≥140 / 90 mmHg harus, di samping terapi gaya hidup, memiliki titrasi tepat waktu terapi farmakologis untuk mencapai gol tekanan darah.
  • Pasien dengan tekanan darah berdasarkan pemeriksaan di poliklinik ≥160 / 100 mmHg harus, di samping terapi gaya hidup, memiliki inisiasi cepat dan titrasi tepat 2 obat atau kombinaobat si pil tunggal yang terbukti mengurangi kejadian kardiovaskular pada pasien dengan diabetes.
  • Pengobatan untuk hipertensi harus termasuk kelas obat yang ditunjukkan untuk mengurangi kejadian kardiovaskular pada pasien dengan diabetes: inhibitor angiotensin-converting enzyme (ACE), angiotensin-receptor blocker (ARB), diuretik tiazid, atau dihidropiridin calcium channel blockers. Terapi multi-obat umumnya diperlukan untuk mencapai target tekanan darah (tetapi bukan kombinasi dari ACE inhibitor dan ARB).
  • Inhibitor ACE atau ARB, pada dosis maksimum yang dapat diterima yang diindikasikan untuk pengobatan tekanan darah, adalah perawatan lini pertama yang disarankan untuk hipertensi pada pasien dengan diabetes dan rasio albumin-kreatinin ≥300 mg / g kreatinin atau 30-299 mg/g kreatinin. Jika satu kelas tidak ditoleransi, yang lain harus diganti.
  • Untuk pasien yang diobati dengan inhibitor ACE, ARB, atau diuretik, kreatinin serum / perkiraan laju filtrasi glomerulus dan kadar serum potasium harus dipantau.
  • Wanita hamil dengan diabetes dan hipertensi yang sudah ada sebelumnya atau hipertensi gestasional ringan dengan tekanan darah sistolik <160 mm Hg, tekanan darah diastolik <105 mm Hg, dan tidak ada bukti kerusakan organ akhir yang tidak perlu diobati dengan terapi antihipertensi farmakologis.
  • Pada pasien hamil dengan diabetes dan hipertensi yang sudah ada sebelumnya yang diobati dengan terapi antihipertensi, tekanan darah sistolik atau diastolik target 120-160 / 80-105 mm Hg disarankan untuk kepentingan mengoptimalkan kesehatan ibu dan pertumbuhan janin jangka panjang.

 

Referensi

  1. Jenkins K. ADA Updates Recommendations for Managing Hypertension in Diabetes. Medscape News. WebMD Inc. September 04, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/885163#vp_2
  2. De Boer IH, Bangalore S, Benetos A, et al. Diabetes and Hypertension: A Position Statement by the American Diabetes Association. Diabetes Care. 2017 Sep;40(9):1273-84. http://care.diabetesjournals.org/content/40/9/1273

 

Pedoman Klinis Kardiologi 6: Hipertensi Pada Pasien Usia ≥60 Tahun

American College of Physicians and American Academy of Family Physicians

  • Dokter harus memulai pengobatan pada pasien berusia 60 tahun atau lebih yang memiliki tekanan darah sistolik persisten ≥150 mm Hg untuk mencapai target <150 mm Hg untuk mengurangi risiko stroke, kejadian jantung, dan kematian.
  • Jika pasien berusia 60 tahun atau lebih memiliki riwayat stroke atau serangan iskemik transien atau memiliki risiko kardiovaskular yang tinggi, dokter harus mempertimbangkan memulai atau meningkatkan terapi obat untuk mencapai tekanan darah sistolik kurang dari 140 mm Hg untuk mengurangi risiko stroke dan kejadian jantung.
  • Pertimbangkan memulai atau mengintensifkan pengobatan farmakologis pada beberapa orang dewasa berusia 60 tahun atau lebih pada risiko kardiovaskular tinggi berdasarkan penilaian individual, untuk mencapai target tekanan darah sistolik kurang dari 140 mm Hg untuk mengurangi risiko stroke atau kejadian jantung. Faktor-faktor termasuk komorbiditas, beban obat, risiko efek samping, dan biaya. Umumnya, peningkatan risiko kardiovaskular termasuk penyakit kardiovaskular yang diketahui, diabetes, atau penyakit ginjal kronis dengan laju filtrasi glomerulus (GFR) kurang dari 45 mL/menit/1,73 m2.

Referensi

  1. Frellick M. Updated hypertension guidelines released by ACP, AAFP. Medscape Medical News. WebMD Inc. January 17, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/874494
  2. Qaseem A, Wilt TJ, Rich R, et al. Pharmacologic treatment of hypertension in adults aged 60 years or older to higher versus lower blood pressure targets: A clinical practice guideline from the American College of Physicians and the American Academy of Family Physicians. Ann Intern Med. 2017 Jan 17.

 

Pedoman Klinis Kardiologi 7: Regurgitasi Katup Mitral

American Association for Thoracic Surgery

  • Penggantian katup mitral dipertimbangkan pada pasien dengan regurgitasi katup mitral iskemik berat (IMR) yang tetap simtomatik meskipun terapi medial dan alat jantung berdasakan pedoman, dan yang memiliki aneurisma basal/diskinesis, penambatan leaflet (daun katup) yang signifikan, dan/atau dilatasi ventrikel kiri yang berat (diameter akhir diastolik ventrikel kiri [LVEDD] > 6,5 cm).
  • Perbaikan katup mitral dengan cincin anuloplasti kaku lengkap berukuran kecil dapat dipertimbangkan pada pasien dengan regurgitasi mitral iskemik berat yang tetap bergejala meskipun terapi peralatan medis dan jantung yang diarahkan oleh Pedoman dan yang tidak memiliki aneurisma basal/diskinesis, penambatan leaflet yang signifikan, atau pembesaran ventrikel kiri yang parah. .
  • Pada pasien dengan regurgitasi mitral iskemik sedang yang menjalani bypass grafting arteri koroner (CABG), perbaikan katup mitral dengan cincin anuloplasti kaku lengkap berukuran kecil dapat dipertimbangkan.
  • Perbaikan katup mitral untuk regurgitasi mitral iskemik dilakukan dengan pelestarian lengkap akord selebaran anterior dan posterior.
  • Perbaikan katup mitral untuk regurgitasi mitral iskemik dilakukan dengan cincin annuloplasty rigid yang kecil, berukuran kecil, dan lengkap.

Referensi

  1. 2016 update to The American Association for Thoracic Surgery consensus guidelines: Ischemic mitral valve regurgitation. J Thorac Cardiovasc Surg. 2017 Jan 17. http://www.jtcvsonline.org/article/S0022-5223(17)30031-4/fulltext

 

Pedoman Klinis Kardiologi 8: Infark Miokard

American College of Cardiology dan American Heart Association

Revisi Pengukuran ST elevasi MI (STEMI) dan non-STEMI (NSTEMI)

  • Statin digunakan untuk pasien dengan AMI (infark miokard akut)
  • Evaluasi LVEF (fraksi ejeksi ventrikel kiri)
  • Reseptor P2Y12 (clopidogrel, ticagrelor, prasugrel) yang diresepkan saat pasien dipulangkan. Ketiganya merupakan obat inhibitor dari reseptor P2Y12 dan direkomendasikan selain aspirin (sebagai bagian dari rejimen antiplatelet ganda) untuk mengurangi kejadian iskemik rekuren setelah AMI.

 

Pengukuran STEMI / NSTEMI Baru

  • Angiografi segera untuk serangan jantung diluar-rumah sakit yang diresusitasi pada pasien STEMI.
  • Tes stres noninvasif sebelum pasien dipulangkan pada pasien yang diobati secara konservatif untuk mendeteksi iskemia yang dapat diinduksi pada pasien STEMI dan NSTEMI yang diobati secara medis.
  • Pengukuran troponin jantung dini (dalam waktu 6 jam setelah kedatangan).
  • Partisipasi dalam registri infark miokard akut regional atau nasional untuk membantu melacak dan menilai hasil, komplikasi, dan kualitas perawatan untuk pasien dengan AMI.
  • Stratifikasi skor risiko untuk pasien NSTEMI untuk menentukan strategi yang tepat (invasif versus dipandu iskemik) dan waktu strategi (awal versus akhir invasif) pada pasien dengan NSTEMI.
  • Strategi invasif dini (dalam 24 jam) pada pasien NSTEMI berisiko tinggi.
  • Hipotermia terapeutik untuk pasien STEMI koma dengan henti jantung di luar rumah sakit.
  • Aldosterone antagonis saat pasien dipulangkan.
  • Penggunaan NSAID yang tidak tepat di rumah sakit (peringatan terhadap penggunaan obat-obatan ini setelah AMI).
  • Resep prasugrel yang tidak sesuai pada saat pasien dipulangkan pada pasien dengan riwayat stroke sebelumnya atau TIA (hati-hati terhadap penggunaan prasugrel pada pasien dengan TIA / stroke sebelumnya, karena bahaya klinis pada pasien ini. FDA juga mengeluarkan peringatan kotak hitam pada ini)
  • Peresepan yang tidak tepat untuk aspirin dosis tinggi dengan ticagrelor saat keluar (peringatan terhadap penggunaan aspirin dosis tinggi >100 mg di antara pasien yang menerima ticagrelor. FDA juga mengeluarkan peringatan kotak hitam mengenai hal ini)

Referensi

  1. Wendling P. AHA/​ACC Issue New Performance, Quality Measures for MI. Medscape News. WebMD Inc. Sep 22, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/886075
  2. Jneid H, Addison D, Bhatt DL, et al. 2017 AHA/ACC Clinical Performance and Quality Measures for Adults With ST-Elevation and Non-ST-Elevation Myocardial Infarction: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Performance Measures. Circ Cardiovasc Qual Outcomes. 2017 Oct;10(10). http://circoutcomes.ahajournals.org/content/10/10/e000032.long

 

Pedoman Klinis Kardiologi 9: Hipertensi Pediatri

American Academy of Pediatrics

  • Tekanan darah harus diperiksa pada semua anak dan remaja ≥3 tahun usia di setiap pertemuan perawatan kesehatan jika mereka mengalami obesitas, minum obat yang diketahui untuk meningkatkan tekanan darah, memiliki penyakit ginjal, memiliki riwayat obstruksi lengkungan aorta atau koarktasio, atau memiliki diabetes.
  • Profesional perawatan kesehatan yang terlatih di lingkungan poliklinik harus membuat diagnosis hipertensi jika seorang anak atau remaja memiliki pembacaan tekanan darah yang dikonfirmasi oleh auskultasi ≥95 persentil pada 3 kunjungan yang berbeda.
  • Pemantauan tekanan darah ambulasi (ABPM) harus dilakukan untuk konfirmasi hipertensi pada anak-anak dan remaja dengan pengukuran tekanan darah di poliklinik dalam kategori tekanan darah tinggi selama 1 tahun atau lebih atau dengan hipertensi tahap 1 selama 3 kunjungan poliklinik.
  • Anak-anak dan remaja dengan suspek hipertensi jas putih (WCH) harus menjalani ABPM. Diagnosis didasarkan pada adanya tekanan darah sistolik rata-rata (SBP) dan tekanan darah diastolik (DBP) <95 persentil dan SBP dan beban DBP <25%.
  • Pemantauan tekanan darah di rumah tidak boleh digunakan untuk mendiagnosis hipertensi, hipertensi tersamar, atau WCH tetapi mungkin merupakan tambahan yang berguna untuk pengukuran tekanan darah di poliklinik dan rawat jalan setelah hipertensi didiagnosis.
  • Anak-anak dan remaja ≥6 tahun usia tidak memerlukan evaluasi yang luas untuk penyebab sekunder hipertensi jika mereka memiliki riwayat keluarga positif hipertensi, kelebihan berat badan atau obesitas, dan/atau tidak memiliki riwayat atau temuan pemeriksaan fisik sugestif dari penyebab sekunder hipertensi.
  • Dokter tidak boleh melakukan elektrokardiografi pada anak hipertensi dan remaja yang sedang dievaluasi untuk hipertrofi ventrikel kiri (LVH).Disarankan bahwa ekokardiografi dilakukan untuk menilai kerusakan organ target jantung (massa LV, geometri, dan fungsi) pada saat pertimbangan pengobatan farmakologis hipertensi.LVH harus didefinisikan sebagai massa LV> 51 g/m (anak laki-laki dan perempuan) untuk anak-anak dan remaja yang lebih tua dari usia 8 tahun dan ditentukan oleh massa LV> 115 g/luas permukaan tubuh (BSA) untuk anak laki-laki dan massa LV> 95 g/ BSA untuk anak perempuan.
  • Ekokardiografi ulangan dapat dilakukan untuk memantau peningkatan atau perkembangan kerusakan organ target pada interval 6 sampai 12 bulan.
  • Indikasi untuk mengulangi echocardiography termasuk hipertensi persisten meskipun ada pengobatan, hipertrofi ventrikel LV, atau fraksi ejeksi ventrikel kiri yang berkurang.
  • Pada pasien tanpa cedera organ target LV pada penilaian ekokardiografi awal, ekokardiografi berulang pada interval tahunan dapat dipertimbangkan pada mereka dengan hipertensi tahap 2, hipertensi sekunder, atau hipertensi tahap 1 kronis yang belum selesai diobati (ketidakpatuhan atau resistansi obat) untuk menilai perkembangan perburukan. Cedera organ target LV.
  • Pada anak-anak dan remaja yang dicurigai memiliki stenosis arteri ginjal (RAS), CT angiografi atau MR angiografi dapat dilakukan sebagai pemeriksaan pencitraan noninvasif. Nuclear renography kurang berguna dalam pediatri dan umumnya harus dihindari.
  • Pada anak-anak dan remaja yang didiagnosis dengan hipertensi, tujuan pengobatan dengan terapi nonfarmakologis dan farmakologis harus mengurangi SBP dan DBP menjadi <90 persen dan <130/80 mm Hg pada remaja ≥13 tahun
  • Pada saat diagnosis BP tinggi atau hipertensi pada anak atau remaja, dokter harus memberikan saran tentang diet DASH dan merekomendasikan aktivitas fisik sedang hingga kuat setidaknya 3 hingga 5 hari / minggu (30-60 menit per sesi) untuk membantu mengurangi BP.
  • Pada anak hipertensi dan remaja yang mengalami modifikasi gaya hidup (terutama mereka yang menderita hipertrofi ventrikel kiri pada ekokardiografi, hipertensi gejala, atau hipertensi tahap 2 tanpa faktor yang dapat dimodifikasi secara jelas [misalnya, obesitas]), dokter harus memulai pengobatan farmakologis dengan enzim pengubah angiotensin. (ACE) inhibitor, angiotensin-receptor blocker (ARB), long-acting calcium channel blocker, atau diuretik tiazid.
  • Anak-anak atau remaja dengan penyakit ginjal kronis dan hipertensi harus diobati untuk menurunkan tekanan arteri rata-rata 24 jam <50 persen oleh ABPM.Anak-anak dan remaja dengan CKD, hipertensi, dan proteinuria harus diobati dengan ACE inhibitor atau ARB.Anak-anak dan remaja dengan diabetes mellitus tipe 1 atau diabetes mellitus tipe 2 harus dievaluasi untuk hipertensi pada setiap pertemuan medis dan diobati jika tekanan darah ≥95 persentil atau> 130/80 mm Hg pada remaja ≥13 tahun.
  • Pada anak-anak dan remaja dengan hipertensi berat akut dan gejala yang mengancam jiwa, pengobatan segera dengan obat antihipertensi jangka pendek harus dimulai, dan tekanan darah harus dikurangi tidak lebih dari 25% dari pengurangan yang direncanakan selama 8 jam pertama.

Referensi

  1. Phillips D. AAP Guideline Updates Practice for Pediatric Hypertension. Medscape News. WebMD Inc. August 21, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/884555#vp_2
  2. Flynn JT, Kaelber DC, Baker-Smith CM, et al. Clinical Practice Guideline for Screening and Management of High Blood Pressure in Children and Adolescents. Pediatrics. 2017 Sep;140(3). http://pediatrics.aappublications.org/content/early/2017/08/21/peds.2017-1904

 

Pedoman Klinis Kardiologi 10: Infark Miokard dengan Elevasi Segmen ST

European Society of Cardiology

  • Dimana fibrinolisis adalah strategi reperfusi, penundaan waktu maksimum dari diagnosis STEMI untuk pengobatan telah dipersingkat dari 30 menit pada tahun 2012 menjadi 10 menit pada tahun 2017.
  • Revaskularisasi lengkap pada pasien dengan penyakit multivessel menerima rekomendasi yang lebih kuat, bergerak dari kelas III (tidak boleh dilakukan) ke kelas IIa (harus dipertimbangkan), dengan non-infark arteri terkait yang dirawat selama prosedur indeks atau titik waktu lain sebelum dipulangkan dari rumah Sakit.
  • Aspirasi trombus tidak lagi direkomendasikan, berdasarkan dua uji coba besar pada lebih dari 15.000 pasien.
  • Stenting yang ditangguhkan, yang melibatkan membuka arteri dan menunggu 48 jam untuk menanamkan stent, tidak lagi direkomendasikan.Untuk PCI, penggunaan stent drug-eluting sebagai pengganti stent bare-metal telah ditingkatkan dari kelas IIa (harus dipertimbangkan) ke kelas I (disarankan/diindikasikan), seperti penggunaan radial, bukan femoral, akses arteri.
  • Terapi antiplatelet ganda setelah 12 bulan dapat dipertimbangkan pada pasien terpilih. Bivalirudin telah diturunkan dari kelas I ke IIa (harus dipertimbangkan), dan enoxaparin ditingkatkan dari kelas IIb (dapat dipertimbangkan) ke IIa (harus dipertimbangkan). Cangrelor (Kengreal), yang tidak disebutkan dalam dokumen 2012, telah direkomendasikan sebagai pilihan pada pasien tertentu.
  • Terapi penurun lipid tambahan dianjurkan pada pasien dengan kolesterol tinggi meskipun mengambil dosis maksimum statin.
  • Cutoff untuk administrasi terapi oksigen telah diturunkan dari kurang dari 95% hingga kurang dari 90% saturasi oksigen arteri.
  • Blok cabang berkas kiri dan kanan sekarang dianggap sama untuk merekomendasikan angiografi urgen ketika pasien mengalami gejala iskemik.

Referensi

  1. Busko M. New ESC Guideline on Acute ST-Segment Elevation MI. Medscape News. WebMD Inc. September 11, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/885509

 

Pedoman Klinis Kardiologi 11: Tromboemboli Vena

European Society of Anesthesiology

  • Risiko untuk tromboemboli vena pasca operasi (VTE) meningkat pada pasien yang lebih tua dari 70 tahun dan pada pasien usia lanjut yang mengalami komorbiditas, seperti gangguan kardiovaskular, keganasan, atau insufisiensi ginjal. Oleh karena itu, stratifikasi risiko, koreksi risiko yang dapat dimodifikasi, dan tromboprofilaksis perioperatif berkelanjutan sangat penting pada populasi pasien ini.
  • Waktu dan dosis farmakoprofilaksis dapat diadopsi dari populasi yang lebih muda.
  • Antikoagulan oral langsung efektif dan ditoleransi dengan baik pada orang tua; statin tidak dapat menggantikan farmakologis thromboprophylaxis.
  • Mobilisasi dini dan penggunaan sarana nonfarmakologis thromboprophylaxis harus dieksploitasi.
  • Pada pasien usia lanjut, sarankan identifikasi komorbiditas yang meningkatkan risiko VTE (misalnya, gagal jantung kongestif, gangguan sirkulasi paru, gagal ginjal, limfoma, kanker metastatik, obesitas, arthritis, terapi estrogen pasca-menopause) dan koreksi jika ada (mis., Anemia , koagulopati).
  • Anjurkan untuk penggantian lutut bilateral pada pasien lanjut usia dan lemah.
  • Sarankan waktu dan dosis farmakologi profilaksis VTE seperti pada populasi yang lebih muda.
  • Pada pasien usia lanjut dengan gagal ginjal, heparin tak terpecah dosis rendah (UFH) dapat digunakan atau dosis yang disesuaikan dengan berat heparin berat molekul rendah.
  • Pada orang lanjut usia, anjurkan secara hati-hati resep profilaksis VTE pasca operasi dan mobilisasi pasca operasi dini.
  • Rekomendasikan intervensi multifaset untuk profilaksis VTE pada pasien lanjut usia dan lemah, termasuk perangkat kompresi pneumatik, heparin berat molekul rendah, dan / atau antikoagulan oral langsung setelah penggantian lutut atau pinggul.

Referensi

  1. Kozek-Langenecker S, Fenger-Eriksen C, Thienpont E, et al. European guidelines on perioperative venous thromboembolism prophylaxis: Surgery in the elderly. Eur J Anaesthesiol 2017 Sep 9. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28901992

 

anatomi tubuh manusia

Anatomi Tubuh Dasar dan Terminologi Anatomi

Anatomi merupakan ilmu yang mempelajari struktur tubuh. Anatomi tubuh manusia dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari morfologi tubuh manusia. Ilmu ini berkaitan dengan istilah pada tubuh manusia mulai dari bagian terkecil yang kasat mata hingga bagaimana bagian-bagian tersebut berinteraksi sehingga membentuk suatu kesatuan fungsional. Pada artikel ini kami akan menampilkan ringkasan anatomi tubuh dasar dan terminologi anatomi.

 

Posisi Anatomis Pada Anatomi Tubuh Dasar

Posisi anatomis adalah konsep sentral dari semua deskripsi lokasi dan posisi struktur lainnya pada tubuh. Berikut ini merupakan deskripsi umum posisi anatomi:

  • Seseorang harus berdiri tegak, menghadap ke depan
  • Lengan lurus dan tangan terbuka setinggi pinggul, telapak tangan menghadap ke depan
  • Tungkai bawah dan kaki sejajar serta ibu jari menghadap ke arah depan

 

Bidang Anatomis Pada Anatomi Tubuh Dasar

Bidang merupakan potongan 2 dimensi terhadap ruang 3 dimensi, secara sederhana dapat dianggap sebagai lembaran kaca yang memotong tubuh pada 2 titik lurus tertentu.

Bidang anatomis adalah garis yang digunakan untuk membagi tubuh manusia. Biasanya terlihat sebagai model anatomi dan proyeksi.

Menggunakan bidang anatomis memungkinkan deskripsi lokasi struktur tertentu secara akurat, dan juga memungkinkan pembaca untuk memahami diagram atau gambar yang coba ditunjukkan.

Terdapat 3 bidang anatomis yang biasa digunakan, yaitu: sagital, koronal, tranversal

  • Bidang sagital: garis vertikal yang membagi tubuh menjadi dua bagian yaitu bagian kiri dan kanan
  • Bidang koronal: garis vertikal yang membagi tubuh menjadi bagian depan (anterior) dan bagian belakang (posterior)
  • Bidang transversal: garis horizontal yang membagi tubuh menjadi bagian atas (superior) dan bagian bawah (inferior)
anatomi tubuh

By National Cancer Institute [Public domain], via Wikimedia Commons

Artikel lain tentang Anatomi Tubuh dapat dibaca di sini:

Kulit: Organ Terbesar Pada Tubuh Manusia

Otot: Penggerak Utama Tubuh Manusia

 

Istilah Anatomis untuk Lokasi

Istilah anatomis untuk lokasi merupakan hal yang sangat penting untuk dipahami. Istilah lokasi ini digunakan untuk membantu menghindari kesalahpahaman ketika menjelaskan struktur tertentu.

Bagian ini akan memuat istilah anatomi dasar dan contoh penggunaannya dalam ilmu anatomi

 

istilah anatomi

By Anatomy_Directional_terms_heb.svg: *Human_anatomy_planes.svg: GYassineMrabetTalk✉This vector image was created with Inkscape.derivative work: Yosi I (talk)derivative work: Cristianrodenas (Anatomy_Directional_terms_heb.svg) [CC BY-SA 3.0 or GFDL], via Wikimedia Commons

Medial dan Lateral

Bayangkan sebuah garis pada bidang sagital membagi 2 tubuh menjadi bagian kanan dan kiri sama besar. Garis ini disebut sebagai midline atau garis tengah tubuh.

 

Medial merupakan istilah yang digunakan untuk struktur yang lebih dekat dari midline.

Lateral merupakan istilah yang digunakan untuk struktur yang lebih jauh dari midline.

Contoh:

  • Mata terletak lateral dari hidung
  • Hidung terletak medial dari telinga
  • Arteri brachialis terletak medial dari tendon biceps

 

Anterior dan Posterior

Anterior (ventral) merujuk kepada “depan” dan posterior (dorsal) merujuk kepada “belakang”. Bila digunakan dalam konteks anatomi, jantung terletak posterior dari sternum karena jantung berada di belakang sternum. Begitu pula sebaliknya, sternum terletak anterior dari jantung. Contoh lainnya adalah sebagai berikut:

  • Pectoralis mayor terletak anterior dari m. Pectoralis minor
  • Tripceps brachii terletak posterior dari m. Biceps brachii
  • Patela berada di anterior dari os. Femur dan os. Tibia

 

Superior dan Inferior

Kedua istilah di atas merujuk kepada sumbu vertikal. Superior berarti “lebih tinggi” sedangkan inferior berarti “lebih rendah”. Kepala terletak superior dari leher. Umbilikus terletak inferior dari sternum.

Contohnya:

  • Sendi shoulder terletak superior dibandingkan sendi elbow
  • Paru-paru terletak superior dibanding hepar
  • Appendiks terletak inferior dibandingkan colon transversa

Terdapat masalah kecil dalam penggunaan kedua istilah ini. Tungkai atas dan tungkai bawah merupakan kedua struktur yang sangat mobile sehingga sulit untuk untuk menentukan posisi struktur yang mana yang lebih superior atau inferior dibanding dengan struktur lainnya. Untuk itu, terdapat satu pasang istilah lainnya untuk membantu kita yaitu:

 

Proksimal dan Distal

Istilah proksimal dan distal digunakan pada struktur yang dipertimbangkan memiliki awal dan akhir (seperti tungkai bawah, tungkai atas, dan pembuluh darah). Istilah ini mendeskripsikan posisi struktur dengan referensi terhadap asalnya. Proksimal berarti lebih dekat dari asalnya, distal berarti lebih jauh.

Contohnya:

  • Sendi wrist lebih distal dari sendi elbow
  • Scaphoid terletak pada garis proksimal susunan ossa. Carpalia
  • Sendi knee terletak proksimal dari sendi ankle

 

Istilah Anatomis untuk Gerakan Tertentu

Istilah anatomis untuk gerakan digunakan untuk menggambarkan tindakan otot pada tulang. Otot berkontraksi untuk menghasilkan gerakan pada persendian, dan gerakan selanjutnya dapat dideskripsikan dengan tepat menggunakan terminologi di bawah ini.

Adapun istilah anatomis lokasi, istilah yang digunakan mengasumsikan bahwa tubuh dimulai pada posisi anatomis. Sebagian besar gerakan memiliki gerakan berlawanan, atau dikenal sebagai gerakan antagonis. Istilah tersebut dijelaskan di sini dalam pasangan antagonis untuk memudahkan pemahaman.

 

Fleksi dan Ekstensi

Fleksi dan Ekstensi adalah gerakan yang terjadi pada bidang sagital. Mereka mengacu pada peningkatan dan penurunan sudut antara dua bagian tubuh:

  • Fleksi merujuk kepada gerakan yang menurunkan sudut antara dua bagian tubuh. Fleksi siku menurunkan sudut antara os. Humerus dan os. Ulna. Sedangkan ketika fleksi lutut, pergelangan kaki akan mendekati bokong, dan sudut antara os. Femur dan os. Tibia menjadi lebih kecil.
  • Ekstensi merupakan gerakan yang meningkatkan sudut antara dua bagian tubuh. Ekstensi siku kan meningkatkan sudut antara os. Humerus dan os. Ulna sedangkan ekstensi lutut akan meluruskan tungkai bawah.
ekstensi lutut

By Centers for Disease Control and Prevention [Public domain], via Wikimedia Commons

Abduksi dan Adduksi

Abduksi dan adduksi merupakan dua istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan gerakan mendekati dan menjauhi midline tubuh.

  • Abduksi merupakan gerakan menjauhi Seperti menjauhi seseorang. Sebagai contoh, abduksi sendi bahu dengan mengayunkan tangan menjauhi badan.
  • Adduksi adalah gerakan mendekati Adduksi sendi panggul adalah dengan menjauhkan kedua kaki.

Jari-jari tidak menggunakan midline tubuh sebagai acuan melainkan titik tengah tangan dan kaki masing-masing. Sehingga abduksi jari-jari adalah merentangkan mereka bersama-sama.

 

Rotasi Medial dan Rotasi lateral

Rotasi medial dan rotasi lateral menjelaskan pergerakan tungkai disekitar sumbu panjangnya.

  • Rotasi medial merupakan gerakan berputar menuju Terkadang disebutjuga sebagai rotasi internal. Untuk memahaminya, kita dapat menggunakan 2 skenario ini. Pertama, dengan kaki yang lurus coba putar kaki menuju ke arah jempol. Ini adalah rotasi medial sendi panggul. Kedua, bayangkan Anda membawa nampan teh di depan Anda, dengan siku 90 derajat. Sekarang putar lengannya, arahkan tangan ke arah pinggul yang berlawanan  (siku masih di 90 derajat). Ini adalah rotasi internal bahu.
  • Rotasi lateral adalah gerakan berputar menjauh Istilah ini digunakan berlawanan arah dengan gerakan yang dijelaskan di atas.

 

Elevasi dan Depresi

Elevasi mengacu pada pergerakan ke arah yang superior (misalnya mengangkat bahu), depresi mengacu pada pergerakan ke arah yang inferior.

 

Pronasi dan Supinasi

Isitilah ini dengan rotasi medial dan lateral sering membingungkan, namun memiliki perbedaan.

Banyangkan tangan Anda bertumpu pada meja di depan Anda, dengan posisi bahu dan siku tetap, putar tangan Anda ke punggungnya, telapak tangan ke atas. Ini adalah posisi telentang, jadi gerakan ini adalah supinasi.

Sekali lagi, dengan siku dan bahu tetap, putar tangan Anda ke depannya, telapak ke bawah. Ini adalah posisi telungkup, jadi gerakan ini dinamakan pronasi.

Istilah ini juga berlaku untuk seluruh tubuh – saat berbaring telentang, tubuh supinasi. Saat berbaring rata di bagian depan, tubuh pronasi.

 

Dorsofleksi dan Flantarfleksi

Dorsifleksi dan plantarflesi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan gerakan pada pergelangan kaki. Mereka mengacu pada dua permukaan kaki; dorsum (permukaan superior) dan permukaan plantar (telapak kaki).

Dorsifleksi mengacu pada fleksi pada pergelangan kaki, sehingga titik kaki lebih superior. Dorsifleksi tangan adalah istilah yang membingungkan, dan jarang digunakan. Dorsum tangan adalah permukaan posterior, dan gerakan ke arah itu adalah eksternsi. Oleh karena itu, kita bisa mengatakan bahwa dorsofleksi pergelangan tangan sama dengan ekstensi.

Plantarfleksi merujuk ekstensi pada pergelangan kaki, sehingga titik kaki berada di inferior. Demikian pula ada istilah untuk tangan, yaitu palmarfleksi.

 

Inversi dan Eversi

Inversi dan eversi adalah gerakan yang terjadi pada sendi pergelangan kaki, mengacu pada rotasi kaki di sekitar sumbu panjangnya.

 

  • Inversi melibatkan pergerakan telapak kaki menuju bidang median – sehingga telapak kaki berada di arah medial.
  • Eversi melibatkan pergerakan telapak kaki menjauhi dari bidang median – sehingga telapak kaki berada dalam arah lateral.

 

Referensi:

  1. Frank HN. ATLAS OF HUMAN ANATOMY INTERNATIONAL EDITION. ELSEVIER-HEALTH SCIENCE; 2018.
  2. Gosling JA, Harris PF, Humpherson JR, Whitmore I, Willan PL. Human Anatomy, Color Atlas and Textbook E-Book. Elsevier Health Sciences; 2016 Feb 27.
Acute mountain sickness

Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Acute Altitude Illnesses

Acute altitude illnesses merupakan kondisi yang berpotensi serius yang dialami oleh orang yang berada atau naik pada ketinggian lebih dari 2.500 meter (8.202 kaki) dari permukaan air laut.

Kondisi ini memiliki banyak faktor risiko mayor termasuk pendakian yang cepat, tingkat ketinggian yang semakin meningkat, riwayat penyakit acute altitude illnesses sebelumnya, pengeluaran tenaga yang berlebihan (kelelahan), dan suhu dingin.

Kondisi ini mencakup:

Acute mountain sickness (AMS)

  • gejala dari kondii ini adalah nyeri kepala, mual/muntah, keletihan, dan pusing
  • umunya terjadi 6-12 jam paska sampai pada ketinggian dan membaik pada 1-3 hari setelahnya

High altitude cerebral edema (HACE)

  • perkembangan penyakit dari acute mountain sickness yang tidak membaik

High altitude pulmonary edema (HAPE)

  • bentuk non kardiogenik dari edema paru
  • berkembang 1-4 hari setelah sampai pada ketinggian lebih dari 2.500 meter pada orang dengan atau tanpa gejala acute mountain sickness

 

Evaluasi Acute Altitude Illnesses

Diagnosis acute mountain sickness ditegakkan pada orang yang berada pada ketinggian lebih 500 meter dari permukaan air laut yang mengalami keluhan  sakit kepala, keletihan, kelemahan, pusing, mual, muntah, anoreksia, atau sulit tidur.

Kondisi ini biasanya muncul 6-12 jam setelah sampai pada ketinggian tersebut

Acute altitude illnesses

By Benh LIEU SONG (Own work) [GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html) or CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)], via Wikimedia Commons

Diagnosis HACE ditegakkan apabila terdapat perubahan status mental pada pasien AMS yang tidak mengalami perbaikan atau perubahan status mental dan ataksia pada pasien tanpa AMS

Diagnosis HAPE ditegakkan apabila terdapat ≥ 2 gejala pulmoner (dispneu saat beristirahat, batuk, penurunan kemampuan beraktivitas, dan dada terasa sesak) dan ≥ 2 tanda (ronhki atau wheezing, sianosis sentral, takipneu, takikardi).

HAPE biasanya terjadi 1-4 hari setelah sampai, dan dapat terjadi tanpa AMS.

Pertimbangkan penggunaan skor Lake Louise untuk mengetahui tingkat keparahan AMS.

Skor Lake Louise untuk AMS

Skor ini terdiri dari 5 pertanyaan terkait gejala dan 3 pemeriksaan klinis

Kuisioner Gejala

  • Nyeri Kepala
  • Tidak ada – 0
  • Ringan – 1 poin
  • Sedang – 2 poin
  • Berat – 3 poin

Gejala gastrointestinal

  • Tidak ada – 0
  • Nafsu makan buruk atau nausea – 1 poin
  • Nausea sedang atau vomitus – 2 poin
  • Nausea dan vomitus berat – 3 poin

Kelemahan atau keletihan

  • Tidak letih atau lemah – 0
  • Ringan – 1 poin
  • Sedang – 2 poin
  • Berat – 3 poin

Pusing

  • Tidak ada – 0
  • Ringan – 1 poin
  • Sedang – 2 poin
  • Berat – 3 poin

Sulit tidur

  • Tidur baik seperti biasa – 0
  • Tidak dapat tidur seperti biasa – 1 poin
  • Terbangun beberapa kali di malam hari – 2 poin
  • Tidak dapat tidur sama sekali – 3 poin

Penilaian Klinis

Perubahan status mental

  • Tidak ada perubahan – 0
  • Letargis – 1 poin
  • Disorientasi/kebingungan – 2 poin
  • Stupor/setengah sadar – 3 poin

Penilaian ataksia (menggunakan pemeriksaan berjalan menggunakan tumit-jempol)

  • Tidak ada – 0
  • Bermanuver untuk mempertahankan keseimbangan – 1 poin
  • Berjalan keluar garis – 2 poin
  • Jatuh – 3 poin
  • Tidak mampu berdiri – 4 poin

Penilaian edema perifer

  • Tidak ada – 0
  • Satu lokasi – 1 poin
  • ≥ 2 lokasi – 2 poin

Interpretasi Skor

  • Skor 2-4 dipertimbangkan sebagai AMS ringan
  • Skor 5-15 dipertimbangkan sebagai AMS sedang-berat

 

Tatalaksana Acute Altitude Illnesses

Prinsip Tatalaksana

  • Setiap gejala atau keluhan yang tidak berkurang dengan istirahat dianggap sebagai AMS
  • Berikan parasetamol atau ibuprofen untuk nyeri kepala saat berada diketinggian tanpa gejala lainnya.
  • Berikan anti-emetik untuk gejala gastrointestinal tanpa gejala lainnya
  • Untuk AMS, HACE, dan HAPE
  • Bila memungkinkan, turun hingga gejala menghilang
  • Turun sejauh 300-1.000 meter pada umumnya adekuat tapi bervariasi antar individu
  • Jangan dibiarkan pasien turun sendiri

Untuk AMS

  • Pemberian deksametason direkomendasikan untuk semua derajat AMS khususnya derajat sedang-berat
  • Dewasa: Deksametason 4 mg PO, IV atau IM setiap 6 jam
  • Anak-anak: Deksametason 0,15 mg/kg per dosis PO, IV, IM setiap 6 jam
  • Tunda pendakian lebih lanjut setelah pasien mendapatkan deksametason sampai pasien asimptomatik tanpa obat ini.
  • Acetazolamid dapat digunakan untuk AMS ringan
  • Dewasa: Acetazolamid 250 mg 2 kali sehari PO
  • Anak: Acetazolamid 2,5 mg/kg setiap 12 jam (dosis maksimal 125 mg per dosis)

Bila tidak terdapat perbaikan terhadap manajemen konservatif, pertimbangkan:

  • Pemberian oksigan
  • Ruang hiperbarik portabel

HACE dan HAPE harus tatalaksana sebagai kondisi emergensi (kematian karena edema serebri dapat terjadi dalam hitungan jam setelah gejala)

Jika tidak memungkinkan untuk turun, pertimbangkan pemberian:

  • Oksigen
  • Ruang hiperbarik portabel

Jika sangkaan HACE

  • Lakukan terapi primer dengan deksametason 8 mg dosis pertama lalu dilanjutkan 4 mg PO, IV, atau IM setiap 6 jam
  • Pertimbangkan menambah acetazolamid 250 mg 2 kali sehari pada dewasa atau 2,5 mg/kg setiap 12 jam (maksimal 125 mg/kali beri) pada anak sebagai tambahan deksametason

Jika sangkaan HAPE

  • Tambahkan nipedifine sustained release 30 mg 2 kali sehari (tanpa dosis loading) sebagai tambahan terapi oksigen dan turun.

 

Pencegahan Acute Altitude Illnesses

Direkomendasikan naik secara bertahap kurang lebih 500 meter/hari dengan istirahat setiap 3-4 hari

Untuk orang dengan risiko sedang hingga berat (seperti riwayat high-altitude illness atau yang akan naik hingga 2.800 meter dalam satu hari)

  • Berikan acetazolamid 125 mg (2,5 mg/kg untuk anak) PO 2 kali sehari dimulai ≥ 1 hari sebelum naik dan dilanjutkan hingga mulai untuk turun.
  • Jika acetazolamid tidak ditoleransi, berikan deksametason 2 mg PO setiap 6 jam atau 4 mg PO setiap 12 jam (hingga 10 hari)

Untuk orang dengan riwayat HAPE, pertimbangkan salah satu pencegahan berikut

  • Nifedipin SR 30 mg 2 kali sehari PO dimulai dari saat naik hingga mulai turun atau 4 hari
  • Salmeterol inhalasi 125 mcg 2 kali sehari
  • Deksametason 8 mg PO 2 kali sehari
  • Tadalafil 10 mg PO 2 kali sehari

 

Referensi:

  1. Luks AM, McIntosh SE, Grissom CK, et al. Wilderness Medical Society practice guidelines for the prevention and treatment of acute altitude illness: 2014 update. Wilderness Environ Med. 2014 Dec;25(4 Suppl):S4-14
  2. Imray C, Booth A, Wright A, Bradwell A. Acute altitude illnesses.  2011 Aug 15;343:d4943
  3. Palmer BF. Physiology and pathophysiology with ascent to altitude. Am J Med Sci. 2010 Jul;340(1):69-77
  4. Fiore DC, Hall S, Shoja P. Altitude illness: risk factors, prevention, presentation, and treatment. Am Fam Physician. 2010 Nov 1;82(9):1103-10

 

Beberapa Pedoman dan Tinjauan Lainnya terkait kondisi ini dapat dilihat pada link berikut

Pedoman

International Climbing and Mountaineering Federation – Union International des Associations d’Alpinisme (UAII) guidelines for drug use and misuse in the mountains can be found in High Alt Med Biol 2016 Sep;17(3):157

Tinjauan Pustaka

JEMS 2016 Jun;41(6):22

Curr Sports Med Rep 2015 Mar-Apr;14(2):82

BMJ 2011 Aug 15;343:d4943

Am Fam Physician 2010 Nov 1;82(9):1103 full-text

 

 

obat-obat

Interaksi Obat yang Berbahaya bahkan Mematikan

Pasien dengan penyakit kronis pada umumnya akan mendapatkan polifarmasi. Pasien akan mengkonsumsi sekitar 5-6 jenis golongan obat berbeda setiap harinya. Kondisi ini akan cenderung memunculkan interaksi obat bahkan tidak jarang muncul interaksi obat yang berbahaya bahkan mematikan.

Interaksi obat meningkat karena volume konsumsi obat juga meningkat dari pada sebelumnya. Dua atau lebih obat yang saling berinteraksi dapat menyebabkan penurunan atau peningkatan efektivitas obat yang dikonsumsi.

Kondisi ini bahkan dapat menimbulkan efek samping obat hingga menimbulkan kondisi yang berbahaya dan mengancam jiwa.

Interaksi obat yang berbahaya harus dipertimbangkan sebagai suatu kesalahan yang dapat dicegah.

Artikel ini menampilkan beberapa interaksi obat yang berbahaya. Contoh-contoh interaksi ini tidak urutkan berdasarkan frekuensi kejadian interaksi atau signifikansi klinisnya.

 

Interaksi Obat yang Berbahaya Bahkan Mematikan

Statins dengan Inhibitor CYP3A4 [1]

bahaya statin

By The U.S. Food and Drug Administration (Statin Risks) [Public domain], via Wikimedia Commons

Statin merupakan salah satu golongan obat yang sangat banyak diresepkan terutama pada penderita kolesterol tinggi. Statin telah diketahui memiliki risiko interaksi obat yang cukup tinggi karena perbedaan jalur eliminasinya.

Setiap obat pada golongan statin memiliki risiko yang berbeda. Simvastatin merupakan obat yang paling mungkin berinteraksi dengan obat lainnya.

Obat yang memiliki risiko paling kecil pada golongan ini adalah pravastatin dan rosuvastatin.

Rhabdomiolisis, kondisi dimana otot mengalami kerusakan dan mengeluarkan pigmen mioglobin otot ke dalam darah serta dapat berujung kepada gagal ginjal kronis, merupakan salah satu kondisi yang muncul karena interaksi obat lain dengan golongan statin.

Rhabdomiolisis dapat terjadi pada monoterapi statin dosis tinggi. Risiko kondisi ini meningkat apabila statin digunakan bersamaan dengan golongan inhibitor CYP3A4.

Konsumsi statin dan inhibitor CYP3A4 secara bersamaan akan meningkatkan konsentrasi serum dari bentuk aktif simvastatin, lovastatin, dan atorvastatin.

Obat-obat yang paling mungkin berinteraksi dengan golongan statin antara lain:

  • Obat golongan fibrat, terutama gemfibrozil
  • Agen antijamur golongan azol: ketokonazole, mikonazole, clotrimazole, itrakonazole, dan flukonazole.
  • Antibiotik golongan makrolide seperti erithromisin, klarithromisin tapi tidak pada azitromisin.
  • Antiviral golongan inhibitor protease seperti ritonavir, dan
  • Calsium channel blocker non dihidropiridin verapamil dan dilitiazem

Sebaiknya hindari konsumsi obat tersebut bersamaan dengan statin. Bila tidak dapat dihindari pemberian dosis obat jam terpisah kurang lebih selama 12 jam dapat meminimalkan risiko interaksi. Kondisi ini akan mencegah konsentrasi kedua obat meningkat secara bersamaan.

 

Klaritromisin dan Calcium-Channel Blockers (CCB) [2]

Pemberian klaritromisin bersama dengan CCB seperti amlodipin atau nifedipin dapat menyebabkan hipotensi dan gagal ginjal akut.

Interaksi obat yang berbahaya ini terjadi karena klaritromisin mempengaruhi efek CCB seperti nifedipin dengan menghambat metabolisme CYP3A4. Kondisi ini akan menyebabkan hipotensi yang apabila tidak di atasi berujung pada kematian.

calcium channel blocker

By Ulrich Förstermann – Elsevier GmbH [Public domain], via Wikimedia Commons

Antibiotik golongan makrolid lainnya juga dapat menimbulkan efek yang sama, termasuk eritromisin.

Azitromisin merupakan obat pilihan dari golongan makrolid bila harus dikombinasikan dengan CCB.

Azitromisin tidak menghambat CYP3A4 sehingga tidak menimbulkan hipotensi.

Selain interaksi obat ini terdapat 82 interaksi obat lainnya yang telah dilaporkan terkait klaritromisin.

 

Kotrimoksazol dan Anti Hipertensi [3,4]

Kotrimoksazol (Trimetoprim/Sulfametoksazol) merupakan penyebab potensial hiperkalemia pada pasien lanjut usia. Kondisi hiperkalemia juga berpotensi terjadi pada pasien dengan gagal ginjal kronis.obat kolesterol

Interaksi obat yang berbahaya ini dapat muncul terutama bila dikonsumsi bersamaan dengan anti hipertensi golongan inhibitor ACE dan angiotensin reseptor blocker.

Penggunaan kotrimoksazol cenderung meningkat. Komponen trimetoprim memiliki sifat seperti amilorida (diuretik hemat kalium) dan dapat meningkatkan kadar kalium dalam darah bahkan ke tingkat yang mengancam jiwa.

Kematian mendadak telah dilaporkan pada pasien yang mengkonsumsi kotrimoksazol bersamaan dengan inhibitor ACE atau ARB.

 

NSAID dan Anti Hipertensi [5,6]

NSAID merupakan salah satu golongan obat yang sering digunakan dan telah dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah. NSAID menghambang enzim (COX) -1 dan COX-2, yang merusak sintesis prostaglandin.

Prostaglandin yang dihambat akan meningkatkan tonus otot polos arteri dan menghasilkan efek terkait dengan dosis berupa natriuresis. Kondisi ini akan mengakibatkan retensi cairan.

Mekanisme interaksi obat ini mengakibatkan NSAID menurunkan efektivitas beberapa agen anti hipertensi lainnya seperti diuretik, inhibitor ACE dan ARB bila dikonsumsi secara bersamaan.

Sebagian besar obat golongan NSAID merupakan obat bebas terbatas sehingga pasien penderita hipertensi yang mengkonsumsi obat ini bersamaan dengan anti hipertensi dapat memperparah kondisi hipertensinya.

Indometasin, piroksikam, dan naproksen merupakan NSAID dengan efek interaksi pada anti hipertensi yang paling besar. Aspirin merupakan obat yang tidak meningkatkan tekanan darah bahkan pada penderita hipertensi.

Pemberian NSAID dikombinasikan dengan ARB atau inhibitor ACE dan diuretik juga telah terbukti meningkatkan risiko gagal ginjal akut sebesar 31%.

Penggunaan kombinasi ini juga meningkatkan risiko hipertensi resisten pada pasien hipertensi.

 

Hormon Tiroid dan Proton Pump Inhibitors (PPI) [7,8]

Hormon tiroid sangat umum dikonsmsi terutama pada penderita hipotiroid.

Beberapa obat yang sering dikonsmsi, termasuk penghambat pompa proton (PPI), statin, besi, kalsium, magnesium, raloxifene, dan estrogen, dapat mengganggu penyerapan hormon tiroid, menyebabkan pasien yang penyakitnya terkontrol dengan baik akan kembali mengembangkan hipotiroidisme.

Estrogen memiliki efek mengikat dan membutuhkan peningkatan dosis hormon tiroid.

macam-macam pil

Interaksi antara levothyroxine dan omeprazole pada pasien dengan gangguan sekresi asam lambung memerlukan peningkatan dosis tiroksin oral, yang menunjukkan bahwa sekresi asam lambung normal diperlukan untuk penyerapan tiroksin oral yang efektif.

Pasien dengan hipotiroidisme yang bersifat eutiroid dan pada pengobatan dengan levothyroxine mungkin memerlukan pemeriksaan fungsi tiroid setelah memulai konsumsi PPI, terutama jika gejala hipotiroid muncul.

Pada pasien dengan gangguan sekresi asam lambung mungkin memerlukan peningkatan dosis levothyroksine untuk menjaga kadar TSH dalam batas normal.

Pelabelan produk untuk levothyroxine merekomendasikan agar tidak diberikan bersamaan dengan antasida karena efek pengikatan kalsium dan magnesium pada antasida. Jika penggunaan bersamaan diperlukan, pemberian keduanya harus dipisahkan minimal 4 jam.

 

Warfarin dan Parasetamol [9]

Pasien yang mengkonsumsi warfarin rutin sering disarankan untuk memilih paracetamol untuk analgesia karena obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) dapat meningkatkan risiko perdarahan gastrointestinal.

anti hipertensi

Interaksi antara warfarin dan paracetamol tidak banyak yang mengetahui.

Banyak yang tidak mengetahui data substansial yang menunjukkan bahwa penggunaan paracetamol secara reguler meningkatkan INR.

Pasien yang mengkonsumsi warfarin harus dipantau dengan ketat, dan INR harus diperikasa 3-5 hari setelah pasien mulai mengkonsumsi paracetamol setiap hari.

Pemeriksaan ini tidak perlu dilakukan pada pemberian dosis paracetamol sesekali.

Oleh karena itu, ketika pasien yang mengkonsumsi warfarin mengalami lonjakan INR yang tidak dapat dijelaskan, perlu ditanyakan tentang konsumsi rutin parasetamol.

 

Daftar Pustaka:

  1. Neuvonen PJ. Drug interactions with HMG-CoA reductase inhibitors (statins): the importance of CYP enzymes, transporters and pharmacogenetics. Curr Opin Investig Drugs. 2010;11:323-332.
  2. Gandhi S, Fleet JL, Bailey DG, et al. Calcium-channel blocker-clarithromycin drug interactions and acute kidney injury. JAMA. 2013;310:2544-2553
  3. Antoniou T, Gomes T, Juurlink DN, Loutfy MR, Glazier RH, Mamdani MM. Trimethoprim-sulfamethoxazole-induced hyperkalemia in patients receiving inhibitors of the renin-angiotensin system: a population-based study. Arch Intern Med. 2010;170:1045-1049.
  4. Antoniou T, Gomes T, Juurlink DN, Loutfy MR, Glazier RH, Mamdani MM. Trimethoprim-sulfamethoxazole-induced hyperkalemia in patients receiving inhibitors of the renin-angiotensin system: a population-based study. Arch Intern Med. 2010;170:1045-1049
  5. Brook RD, Kramer MB, Blaxall BC, Bisognano JD. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs and hypertension. J Clin Hypertens (Greenwich). 2000;2:319-323.
  6. Hulisz D, Lagzdins M. Drug-induced hypertension. US Pharmacist. 2008;33:HS11-HS20.
  7. Irving SA, Vadiveloo T, Leese GP. Drugs that interact with levothyroxine: an observational study from the Thyroid Epidemiology, Audit and Research Study (TEARS). Clin Endocrinol (Oxf). 2015;82:136-141.
  8. Centanni M, Gargano L, Canettieri G, et al. Thyroxine in goiter, Helicobacter pylori infection, and chronic gastritis. N Engl J Med. 2006;354:1787-1795
  9. Zhang Q, Bal-dit-Sollier C, Drouet L, et al. Interaction between acetaminophen and warfarin in adults receiving long-term oral anticoagulants: a randomized controlled trial. Eur J Clin Pharmacol. 2011;67:309-314.
atls 10th

Advanced Trauma Life Support 10th Edition: What’s New

Advanced Trauma Life Support (ATLS) merupakan program pelatihan manajemen kasus trauma akut untuk dokter yang dikembangkan oleh American College of Surgeons. Program ini telah diadopsi dan dilaksanakan pada kurang lebih 60 negara di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Tujuan dari program pelatihan Advance Trauma Life Support adalah untuk menyederhanakan dan memberikan standar pendekatan klinis pada penanganan pasien trauma.

Program pelatihan ATLS didesain secara khusus untuk situasi emergensi dimana hanya terdapat satu orang dokter.

Setiap dokter yang mendaftar program pelatihan ini akan mendapatkan sebuah Student Course Manual yang didalamnya berisi seluruh materi yang akan didapatkan selama pelatihan dan yang harus diterapkan pada pasien dengan kasus trauma akut di unit gawat darurat.

Student Course Manual ATLS ini baru saja mendapatkan edisi terbarunya (Edisi 10) dan menggantikan edisi terdahulu.

Advanced Trauma Life Support

Pada artikel ini, kami mencoba untuk merangkum apa saja perbedaan ATLS edisi 10 dari edisi 9 atau apa saja rekomendasi baru baru yang terdapat pada edisi terbaru ini.

Perubahan Mayor Pada Advanced Trauma Life Support edisi 10

Initial Assessment

Beberapa rekomendasi terbaru terkait dengan penilaian awal/initial assessment antara lain berfokus pada:

  • Pemberian 1 liter cairan, pendekatan bijaksana
  • Fokus pada protokol transfusi masif
  • Asam traneksamat
  • koagulopati
  • Aturan Canadian C Spine Rule
  • Penilaian awal Tim Trauma (Trauma Team Initial Assessment)

Pemberian 1 liter cairan, pendekatan bijaksana.

Pemberian bolus cairan isotonik (kristaloid) 1 liter pada orang dewasa dan 20 mL/kgBB untuk anak < 40 kg dapat diberikan secara bijak sana.

Resusitasi cairan agresif sebelum dilakukan kontrol perdarahan menunjukkan peningkatan mortalitas dan morbiditas.

Jika pasien tidak respon terhadap pemberian terapi kristaloid awal, maka harus mendapatkan tranfusi darah.

Resusitasi volume yang agresif dan kontinu bukanlah pengganti untuk kontrol perdarahan defenitif.

Airway dan Ventilasi

Beberapa rekomendasi terbaru terkait dengan airway dan ventilasi antara lain berfokus pada:

  • Perubahan Rapid Squence Intubation menjadi Drug Assisted Intubation
  • Video-Laryngoscopy
  • Trauma Team

 

Shock

Beberapa rekomendasi terbaru terkait dengan shock antara lain berfokus pada:

  • Perubahan tabel Kelas Perdarahan: Kelebihan Basa
  • Penggunaan darah dan produk darah segera/awal
  • Manajemen koagulopati
  • Asam traneksamat
  • Trauma team

Klasifikasi Advanced Trauma Life Support untuk shock hipovolemik

Berikut ini merupakan perubahan tabel kelas perdarahan dimana terdapat penambahan kelebihan basa:

kelas perdarahan ATLS

Penggunaan darah dan produk darah segera/awal

Resusitasi awal dengan darah dan produk darah harus dipertimbangkan pada pasien dengan bukti perdarahan/hemoragik kelas III dan IV.

Pemberian produk darah segera/awal pada rasio packed red blood cells (PRC) ke plasma dan trombosit rendah dapat mencegah perkembangan koagulopati dan trombositopenia.

Manajemen koagulopati

Perdarahan yang tidak terkontrol dapat terjadi pada pasien yang mengkonsumsi obat anti platelet dan anti koagulan.

Pencegahan yang dapat dilakukan:

  • Segera dapatkan daftar obat yang dikonsumsi
  • Berikan agen reversal/pembalik secepat mungkin
  • Bila tersedia, monitor koagulasi dengan thromboelastography (TEG) atau rotational thromboelastometry (ROTEM)
  • Pertimbangkan pemberian tranfusi platelet, bahkan pada kadar platelet/trombosit normal.

Asam traneksamat

Penelitian yang dilakukan oleh militer Amerika dan Eropa menunjukkan peningkatan harapan hidup ketika asam traneksamat diberikan selama 10 menit hingga 3 jam awal cedera. Asam traneksamat dapat diberikan secara bolus di lapangan, diikuti dengan pemberian infus asam traneksamat sebanyak 1 gram selama 8 jam di rumah sakit.

kulit tangan

Kulit: Organ Terbesar Pada Tubuh Manusia

Kulit dan turunannya (rambut dan kuku) merupakan suatu komponen tubuh manusia yang disebut sebagai sistem integumen. Ketiga komponen ini membentuk suatu sistem organ yang paling besar pada tubuh kita. Artikel ini akan memberikan gambaran tentang apa itu kulit, bagaimanana struktur, dan apa fungsinya.

Pada orang dewasa, sistem integumen menutupi area seluas kurang lebih 2 m2, atau sebesar sebuah selimut kecil. Tapi tidak seperti selimut pada umumnya, sistem organ ini lembut, kuat, tahan air, dan memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri. Berat keseluruhannya adalah sekitar 3,6 kg atau 15% dari total berat tubuh.

Organ ini juga merupakan bagian terindah dari tubuh seseorang. Selain indah, organ ini juga memiliki sistem organ yang sangat kompleks dan lengkap dengan berbagai jenis jaringan dan struktur dengan kemampuan tertentu.

struktur kulit

By Daniel de Souza Telles via Wikimedia Commons

Setiap satu inchi kuadrat dari lapisan organ ini mengandung lebih dari 650 kelenjar keringat, 20 pembuluh darah, lebih dari 1.000 folikel (tempat tumbuh) rambut, setengah juta melanosit (sel pigmen yang memberikan warna kulit), dan lebih dari 1.000 ujung saraf.

Organ ini tersusun lapis demi lapis. Sel baru pada organ ini akan memulai kehidupannya dari lapisan paling dalam (atau paling bawah) dan secara terus-menerus didorong menuju ke lapisan permukaan (paling atas) untuk menggantikan sel yang lama atau sel yang mati.

Ketika sel baru mencapai lapisan permukaan dia akan menjadi keras dan memipih. Kondisi menyebabkan sel tersebut dapat berperan sesuai dengan salah satu fungsinya yaitu melindungi.

 

Menakjubkan, setiap menit, 30.000 hingga 40.000 sel kulit mati akan jatuh dari tubuh kita. Dalam waktu kurang lebih sebulan, seluruh sel pada lapisan permukaan akan mati dan digantikan oleh sel yang baru.

 

Fungsi Kulit atau Sistem Integumen

Sistem integumen sebagai organ terluar memerankan berbagai fungsi yang memungkinkan interaksi antara kita sebagai pemilik tubuh dengan dunia luar (lingkungan). Beberapa fungsi penting organ ini antara lain:

  • Proteksi: sistem organ ini melindungi seluruh tubuh dari berbagai macam ancaman yang kita dapatkan dari lingkungan. Misalnya, infeksi atau serangan organisme lainnya, kerusakan karena radiasi sinar matahari, dan zat-zat kimia yang berbahaya disekitar kita.
  • Termoregulasi: sistem organ ini memberikan dukungan terhadap termoregulasi (pengaturan suhu tubuh) melalui berbagai cara.
  • Keseimbangan Air: permukaan terluar dari kulit merupakan lapisan yan paling tidak suka air. Kondisi ini memungkinkan air dan garam tetap tersimpan dalam tubuh sesuai dengan kebutuhan dan mencegah tubuh kehilangan cairan secara berlebihan. Sebagian kecil air dan limbah tubuh (misalnya urea) dibuang melalui keringat.
  • Penerima Pesan Masuk: Banyak kenis organ sensorik yang terletak pada sistem integumen. Beberapa di antaranya memungkinkan kita untuk merasakan panas, dingin, tekanan, geraran, dan juga nyeri.
  • Pengirim Pesan Keluar: sistem integumen dan terutama rambut dapat mengirimkan pesan ke lingkungan luar tubuh. Pesan ini dikirimkan terutama kepada manusia lainnya. Orang atau dokter dapat menangkap informasi terkait kondisi kesehatan kita melalui kulit dan rambut. Misalnya, ketika kita marah, kulit kita akan mulai tampak berwarna pucat atau kemerahan. Begitu pula ketika kita mengalami sakit tertentu warna kulit akan berubah.
  • Produksi Zat Penting: pada sistem integumen terdapat kelenjar Sebacea. Kelenjar ini terletak dan berhubungan dengan folikel rambut. Kelenjar ini memproduksi suatu zat yang disebut dengan sebum. Selain kelenjar Sebacea, terdapat pula kelenjar lainnya yaitu kelenjar keringat yang tentu saja memproduksi keringat. Sel pada kulit juga memproduksi keratin. Keratin merupakan sejenis protein jaringan ikat yang menjadi komponen struktural dan fungsional penting pada sistem integumen. Keratin juga yang menjadi bahan dasar pembentuk rambut dan kuku.

 

Struktur Sistem Integumen

Sistem integumen menutupi seluruh sistem otot yang membungkus tulang. Meski pun kita merasakan bahwa kulit sangat erat melekat pada otot tapi perlengketan ini sesungguhnya longgar dengan lapisan di bawahnya.

anatomi kulit

By Wong, D.J. and Chang, H.Y. Skin tissue engineering, via Wikimedia Commons

Pada daerah di mana tidak terdapat otot, misalnya pada tulang kering, kulit akan langsung berlekatan pada tulang.

Kulit tersusun atas beberapa lapisan dan lapisan-lapisan ini tidak dapat dilihat secara kasat mata. Kondisi ini terjadi karena selalu terdapat zona transisi di antara lapisan tersebut. Berikutnya kita akan membahas lapisan-lapisan tersebut satu per satu.

 

Menyentuh Epidermis

Epidermis bisa jadi merupakan aspek yang paling familiar dari sistem integumen. Lapisan ini terletak paling luar pada tubuh kita. Jadi, ketika kita menyentuh kulit kita dan merasakan bahwa kulit kita halus, elastik, kuat, atau sedikit berminyak sebenarnya kita sedang menyentuh epidermis.

kulit tebal dan tipis

By Madhero88 and M.Komorniczak, via Wikimedia Commons

Pada beberapa lokasi, permukaan epidermis ditutupi oleh rambut yang lebat. Di lokasi lainnya, epidermis hanya ditutupi oleh rambut tipis. Bahkan pada beberap tempat, epidermis tidak memiliki rambut dan digantikan oleh kuku pada ujung jari tangan dan kaki.

Epidermis sendiri tersusun atas 4 hingga 5 lapisan tipis (tentu saja tidak kasat mata). Mulai dari stratum korneum pada bagian paling atas hingga stratum germinativum (stratum basalis) pada bagian bawah.

Epidermis tersusun dari jaringan epitel skuamosa bertingkat, tapi setiap lapisan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Epidermis tidak memiliki suplai darah. Epidermis mendapatkan nutrisi melalui peristiwa difusi dari lapisan dibawahnya yaitu dermis. Berikutnya kita akan membahas lapisan epidermis satu per satu.

 

Stratum Korneum: Pembungkus Tipis Tapi Kuat

Cara paling mudah menganalogikan lapisan ini adalah dengan membayangkannya sebagai lapisan fiberglass tipis yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sendiri. Stratum korneum hanya terdiri dari 25-30 lapis sel, padat, dan relatif keras.

Sel-sel ini disebut sebagai keratinosit dan memproduksi protein jaringan ikat yang disebut keratin.

Keratinosit pada stratum korneum berasal dari sel epitel skuamosa dari stratum germinativum. Saat melalui perjalanan menuju ke atas, sel-sel tersebut mengalami keratinisasi atau kornifikasi (pembentukan zat tanduk) dengan memproduksi serat keratin yang secara bertahap mengisi sel.

Kondisi ini terus berlangsung hingga inti sel (nukleus) dan organela sitoplasma sel hilang dan metabolisme sel berhenti. Sel telah diprogram untuk mati ketika mereka mengalami keratinisasi secara penuh dimana mereka juga akan bersifat tahan air dan kuat.

Filamen keratin pada lapisan dermis dapat berperan untuk membentuk struktur kulis (sistoskleton) yang secara mekanis menstabilkan sel dari stress fisik yang didapat dari lingkungan luar.

Bagian terluar dari stratum korneum dilapisi oleh lapisan lilin yang tahan air disebut sebum.

Stratum korneum melindungi tubuh dan memastikan segala sesuatu yang diluar tubuh tidak masuk ke dalam.

Satu hal penting lainnya yang dilakukan oleh stratum korneum adalah mencegah radiasi ultraviolet. Energi dari sinar matahari yang melalui lapisan teratas akan melewati lapisan di bawah stratum korneum dan menstimulasi produksi vitamin D.

 

Zona transisi

Stratum lucidum, lapisan yang hanya ditemukan pada telapak tangan dan kaki, stratum granulosum dan stratum spinosum merupakan lapisan yang berada tepat di bawah stratum korneum. Lapisan ini menyimpan sel-sel muda yang akan mengantikan sel-sel mati pada strautum korneum.

Proses penggantian sel-sel ini berlangsung sekitar 14-30 hari.

Keratinosit pada lapisan ini memproduksi lipid (zat lemak) dan membantu keberhasilan proses keratinisasi merupakan salah satu bentuk difirensiasi pada lapisan ini.

Lapisan ini juga mengandung sel Langerhans yang berperan dalam sistem imun. Bila ada kuman yang dapat masuk ke dalam kulit maka sel ini akan membawanya ke nodus limfe untuk dihancurkan.

 

Lapisan Terakhir: Pabrik Sel

Stratum germinativum atau disebut juga sebagai stratum basalil merupakan lapisan epidermis paling bawah. Lapisan ini secara konstan memproduksi sel baru dan mendorong sel tersebut untuk menuju ke lapisan di atasnya.

Lapisan ini mengandung melanosit, yang memproduksi pigmen melanin. Melanin, merupakan pigmen yang memberikan warna pada kulit, rambut, dan mata. Selain memberikan warna, melanin juga melindungi kulit dari efek kerusakan yang ditimbulkan oleh radiasi sinar ultraviolet cahaya matahari.

Jumlah sel melanosit pada setiap orang hampir sama, tapi jumlah melanin yang dihasilkan sangat bergantung pada genetik dan lingkungan tempat dimana orang tersebut menetap.

Orang yang tinggal lebih dekat dengan garis katulistiwa akan memiliki evolusi gen yang menstimulasi melanosit untuk memproduksi melanin lebih banyak sebagai proteksi tambahan terhadap sinar ultraviolet sehingga warna kulitnya menjadi lebih gelap.

 

Eksplorasi Dermis

Tepat di bawah lapisan epidermis terdapat lapisan yang lebih tebal yang disebut sebagai dermis. Dermis tersusun atas 2 lapisan yaitu: zona papilaris dan zona retikular.

 

Zona papilaris

Zona papilaris terdiri dari membran dan tersusun atas bentuk menyerupai jari. Bentuk ini memungkinkan daerah kontak antara epidermis dan dermis menjadi lebih besar. Pada telapak tangan, telapak kaki, dan jari-jari, papila-papila ini akan diproyeksikan pada epidermis dan membentuk garis tangan. Pola garis tangan pada jari disebut sebagai sidik jari.

 

Zona retikularis

Zona retikularis penuh dengan serabut protein yang kompleks dan aktif secara metabolik. Sel dan struktur pada zona ini memproduksi banyak produk karakteristik kulit seperti rambut, kuku, sebum, keringat. Zona ini juga mengandung struktur yang menghubungkan sistem integumen dengan sistem lainnya seperti sensor suhu, sentuhan, pembuluh limfe, serta memiliki banyak pembuluh darah.

Reseptor sentuhan pada dermis akan menyalurkan sensasi tekanan, getaran, sentuhan ringan ke sistem saraf. Nama-nama reseptor tersebut antara lain Lamellated (Pacinian) corpuscles, tactile (Meissner’s) corpuscles, dan Ruffini’s corpuscles.

 

Lapisan Kulit Terdalam: Hipodermis

Lapisan hipodermis atau disebut juga sebagai laposan subkutan merupakan lapisan yang terletak tepat di bawah dermis. Lapisan ini tersusun atas jaringan adiposa (lemak) dan jaringan penghubung.

Fungsi dari lapisan ini adalah sifat isolasi, menyimpan energi, dan membantu mempertahankan kulit.

kulit

By Don Bliss, via Wikimedia Commons

Lapisan ini mengandung banyak pembuluh darah, pembuluh getah bening, dan serabut saraf. Lapisan ini bersifat longgar karena tersusun atas serabut elastin yang melekatkan hipodermis ke jaringan otot di bawahnya.

Ketebalan dari lapisan subkutan ditentukan oleh jumlah lemak yang tersimpan dalam sel jaringan adiposa. Semakin banyak jumlah lemak maka semakin tebal lapisan subkutan ini.

 

Demikian gambaran terkait dengan apa itu kulit, struktur, dan fungsinya. Bila ingin mengetahui tentang organ berikutnya setelah kulit (otot) silakan menuju halaman berikut.

 

Referensi:

  1. Rizzo DC. Fundamentals of anatomy and physiology. Cengage Learning; 2015 Feb 27.
  2. Scanlon VC, Sanders T. Essentials of anatomy and physiology. FA Davis; 2014 Nov 25.
  3. Patton KT. Anatomy and Physiology-E-Book. Elsevier Health Sciences; 2015 Feb 10.
laserasi

Penanganan Luka Robek: Apa Yang Harus Dilakukan?

Luka robek (laserasi) merupakan inkontinuitas jaringan berupa robekan atau potongan jaringan lunak yang dapat disebabkan oleh trauma tumpul (jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor), insisi benda tajam, atau gigitan mamalia.

 

Perdarahan dapat terjadi pada luka robek mulai dari perdarahan minimal hingga perdarahan masif yang menyebabkan sudut luka tidak tampak jelas

Pada luka gigitan atau luka tusuk yang dalam, perdarahan biasanya terjadi secara internal dibandingkan eksternal. Kondisi mengakibatkan perubahan warna kulit disekitar luka.

Luka robek ini pada umumnya membutuhkan penutupan luka dengan metode penjahitan luka. Berdasarkan definisi penutupan luka robek dapat diklasifikasikan menjadi:

  1. Penutupan primer – penutupan luka pada saat presentasi awal.
  2. Penutupan luka primer tertunda (delayed) – penutupan luka dilakukan 3-5 hari setelah dressing awal luka pada luka yang harus dibiarkan terbuka karena risiko tinggi terinfeksi (misalnya luka gigitan).
  3. Penyembuhan luka intensi sekunder – membiarkan luka sembuh alami melalui kontraksi, tanpa upaya untuk membantu penutupan luka.

Pertimbangan Sebelum Pengobatan dan Indikasi Rujukan Bedah

  • Pertimbangkan hal ini sebelum membersihkan atau menutup luka
    • Mekanisme dan waktu cedera
    • Riwayat pasien, termasuk:
      • Infeksi HIV
      • Riwayat diabetes dan kadar gula darah terakhir
      • Alergi khususnya terhadap obat anastesia, lateks, antibiotik, dan perban
      • Riwayat imunisasi tetanus
    • Pemeriksaan awal status neurovaskular dan status fungsional bagian tubuh
    • Keparahan luka
    • Ada atau tidaknya benda asing pada luka
  • Indikasi rawat inap atau rujukan ke spesialis bedah
    • Luka dalam pada tangan dan kaki
    • Luka robek besar pada kelopak mata, bibir, atau telinga
    • Luka yang melibatkan nervus, arteri besar, tulang, sendi, dan tendon.
    • Luka penetrasi yang tidak diketahui kedalamannya
    • Cedera remuk berat
    • Luka terkontaminasi yang membutuhkan drainase
    • Luka dengan outcome terkait dengan kosmetik
    • Benda asing dekat pembuluh darah, sendi, dan nervus.

 

Manajemen Nyeri Peri Prosedural

Infiltrasi anestesia lokal

  • Anestetik lokal yang digunakan untuk infiltrasi seperti lidokain 1% (Xylocaine 10 mg / mL) atau bupivacaine 0,25% (Marcaine 2,5 mg / mL) sering digunakan untuk penutupan luka
  • Epinefrin dapat ditambahkan ke lidokain atau bupivakain untuk membantu mengendalikan perdarahan luka melalui vasokonstriksi di daerah dengan pasokan vaskular yang cukup banyak
  • Selain memberikan hemostasis, durasi kerja lidokain dengan epinefrin (sekitar 10,4 jam) dilaporkan dua kali lebih lama dibandingkan lidokain tanpa epinefrin (sekitar 4,9 jam)
  • Penambahan epinefrin tidak dianjurkan untuk daerah yang berisiko terkena iskemia karena suplai darah yang bervariasi, seperti ujung hidung distal, pinna, dan penis, namun dapat digunakan dengan suntikan pada daerah jari dan tangan.
  • Pilihan obat / dosis yang disarankan meliputi
    • Lidokain 3-5 mg / kg tanpa epinefrin, atau sampai 7 mg / kg dengan epinefrin
    • Bupivakain 1-2 mg / kg tanpa epinefrin, dan sampai 3 mg / kg dengan epinefrin
    • Luka besar pada ekstremitas mungkin memerlukan blok regional untuk mencegah dosis anestesi toksik
    • Pada pasien alergi terhadap bentuk amida anestesi lokal, pertimbangkan diphenhydramine intradermal 1%

Metode untuk meminimalkan rasa sakit injeksi lokal

  • Buffer lidocaine dan epinefrin dengan 10 mL : 1 mL bikarbonat 8,4%
  • Hangatkan obat anestesi lokal
  • Mengalihkan perhatian pasien (menggunakan musik atau berpaling dari pasien) dan / atau menarik perhatian dari area injeksi (jepit atau tekanan ringan di dekat tempat suntikan)
  • Gunakan jarum ukuran 27- atau 30-gauge
  • Masukkan jarum yang lebih tegak lurus dibandingkan sejajar dengan kulit
  • Menstabilkan spuit dengan tangan lain untuk menghindari goyangan jarum, dan letakkan ibu jari di ujung spuit sebelum menembus kulit.
  • Suntikkan 0,5 mL di bawah dermis (bukan di dermis), lalu tunggu sampai pasien mengatakan bahwa rasa sakit sudah hilang sebelum melanjutkan
  • Suntikkan 2 mL tambahan sebelum menggerakkan jarum, dan kemudian menyuntikkan secara anterior sambil menggerakkan jarum perlahan (pastikan 1 cm anestesi lokal selalu teraba atau terlihat di depan jarum)
  • Tusukkan kembali jarum 1 cm pada kulit yang pucat

Pembersihan Luka Robek

Rekomendasi Umum

  • Persiapan yang dilakukan pada daerah yang mengalami laserasi dan area sekitarnya termasuk:
    • Pembersihan luka dengan ≥ 1 irigasi, kompres, atau perendaman berdasarkan jenis cedera, pertimbangan lingkungan, dan keparahan luka
    • Bersihkan semua benda asing yang tampak dengan menggunakan klem
    • Debridement jaringan
    • Cukur rambut sekitar untuk mencegah kontaminasi (hindari mencukur alis mata)

Irigasi

  • Irigasi menggunakan air atau normal saline dialirkan secara perlahan melalui permukaan luka dan merupakan langkah yang penting untuk optimalisasi penyembuhan luka
  • Keuntungan irigasi antara lain:
    • Membersihkan debris dalam
    • Hidrasi luka
    • Membantu dalam inspeksi luka
  • Sesuaikan volume irigasi berdasarkan karakteristik luka dan derajat kontaminasi untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.
    • Jika tekanan irigasi terlalu tinggi, dapat menyebabkan risiko:
      • Kerusakan jaringan lebih lanjut, khususnya luka yang memiliki vaskularisasi besar seperti daerah kulit kepala dan wajah
      • Infeksi jika bakteri masuk ke kompartemen yang lebih dalam
    • Volume dan tekanan irigasi yang optimal masih tidak jelas
      • Volume irigasi 50-100 ml per cm laserasi dilaporkan cukup adekuat
      • Tekanan irigasi dapat dicapai denga menggunakan spuit volume 30 atau 60 mL dengan menggunakan jarum yang berukuran 18G
    • Pertimbangan tambahan:
      • Irigasi semua permukaan luka, termasuk yang membutuhkan pembukaan sisi kulit atau skin flap
      • Cairan irigasi yang dihangatkan lebih nyaman bagi pasien
      • Hindari penggunaan povidone-iodine, hidrogen peroksida, dan detergen karena dapat menghalangi proses penyembuhan

 

Antibiotik Profilaksis

  • Antibiotik profilaksis diindikasikan pada gigitan mamalia, luka tusuk dalam, atau luka yang melibatkan tangan atau jari, tapi tidak dibutuhkan pada jenis luka bersih lainnya, atau luka non gigitan pada pasien yang sehat.
  • Rekomendasi dari Infectious Disease Society of America (IDSA) 2014 untuk penggunaan antibiotik pada luka gigit:
    • Pilihan antibiotik oral atau parenteral bergantung pada kedalaman dan keparahan luka serta waktu sejak gigitan (> 8 ham berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi)
    • Untuk gigitan binatang, rejimen antibiotiknya berupa
      • Amoksisilin-klavulanat 875 mg setiap 12 jam PO
      • Bila alergi terhadap beta-laktam gunakan doksisiklin PO atau IV, Kotrimoksazol PO atau fluorokuinolon ditambahkan dengan klindamisin atau metronidazole
      • Pada ibu hamil yang alergi beta laktam pertimbangkan pemberian Azitromisin dan observasi ketat terkait toleransi obat
      • Pilihan IV adalah ampicillin-sulbactam 1.5-3 g setiap 6 jam
    • Gigitan manusia
      • Oral Amoksisilin-klavulanat 875 mg setiap 12 jam PO
      • Jika alergi penisilin, gunakan siprofloksasin atau levofloksasin ditambahkan dengan metronidazole
      • Pada ibu hamil yang alergi penisilin berikan kotrimoksazol
      • Pilihan IV adalah ampicillin-sulbactam 1.5-3 g setiap 6 jam

 

Profilaksis Tetanus Pada Luka Robek

  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan profilaksis tetanus pada:
    • Berikan vaksinasi tetanus booster segera jika
      • Tidak ada riwayat imunisasi tetanus
      • Pasien dengan riwayat imunisasi < 3 dosis atau jumlah dosis yang tidak pasti
      • Dosis pemberian terakhir > 10 tahun yang lalu
      • Dosis pemberian terakhir dalam 5-10 tahun dengan laserasi berat
    • Berikan tetanus immune globulin pada pasien dengan luka tusuk atau luka terkontaminasi dan tanpa riwayat imunisasi, riwayat imunisasi < 3 dosis, atau riwayat imunisasi yang tidak pasti.

 

Penutupan Luka Robek

Waktu Penutupan Luka Robek

  • Bukti yang menyarankan bahwa waktu optimal dari cedera hingga perbaikan laserasi tidak cukup baik, tapi rekomendasi menyarankan penutupan luka segera dan berhubungan dengan pembuhan luka yang lebih baik.
    • Laserasi non kontaminasi pada daerah dengan suplai pembuluh darah yang banyak, seperti kepala dan wajah, dapat ditutup hingga 24 jam dari waktu cedera
    • Laserasi non kontaminasi pada daerah tubuh dan ekstremitas harus ditutup < 12 jam pasca cedera. Beberapa bukti menunjukkan penyembuhan yang adekuat setelah 19 jam pasca cedera.
  • Luka robek karena gigitan harus dibiarkan terbuka karena risiko infeksi kecuali pada daerah wajah karena berpotensi menyebabkan cacat
  • Pertimbangkan penutupan luka primer tertunda pada hari ke 3-5 setelah dressing pada luka gigitan

 

Refensi

  1. Worster B, Zawora MQ, Hsieh C. Common questions about wound care. Am Fam Physician. 2015 Jan 15;91(2):86-92
  2. Nicks BA, Ayello EA, Woo K, Nitzki-George D, Sibbald RG. Acute wound management: revisiting the approach to assessment, irrigation, and closure considerations. Int J Emerg Med. 2010 Aug 27;3(4):399-407
  3. Forsch RT. Essentials of skin laceration repair. Am Fam Physician. 2008 Oct 15;78(8):945-51full-text,
  4. Al Youha S, Lalonde DH. Update/Review: changing of use of local anesthesia in the hand. Plast Reconstr Surg Glob Open. 2014 May;2(5):e150
krisis hipertensi

Captopril Sublingual & Oral: Mana Yang Lebih Efektif?

Krisis hipertensi merupakan salah satu kondisi yang sering kita temui di Puskesmas. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah berat (tekanan darah sistolik > 180 mmHg atau tekanan darah diastolik > 120 mmHg) dengan atau tanpa komplikasi berupa disfungsi organ target (hipertensi emergensi atau hipertensi urgensi). Untuk hipertensi emergensi obat pilihan untuk menurunkan tekanan darah adalah obat anti hipertensi intra vena seperti nicardipine, labetolol, dan esmolol. Pada hipertensi urgensi maka penurunan tekanan darah dapat dilakukan dengan obat anti hipertensi oral seperti captopril, nicardipin, atau labetolol. Namun, di Puskesmas obat anti hipertensi pilihan untuk menurunkan tekanan darah pada kondisi krisis hipertensi hanya berupa captopril. Artikel ini mencoba merangkum hasil penelitian terkait dengan perbandingan efektivitas pemberian captopril sublingual dengan captopril oral untuk menurunkan tekanan darah pada pasien dengan krisis hipertensi.

 

Penelitian 1 Comparison of sublingual and oral captopril in hypertension. 

Penelitian pertama yang dilakukan oleh Dess-Fulgheri P et al ini menyimpulkan bahwa:

“Tidak terdapat perbedaan signifikan terhadap penurunan tekanan darah baik pada pemberian captopril rute oral atau pun sublingual.”

 

Penelitian 2 Sublingual captopril in hypertensive crises

Sebuah tinjauan yang dilakukan oleh Alletto M et al menyimpulkan bahwa:

“Beberapa laporan menunjukkan efek penurunan tekanan darah yang lebih cepat setelah pemberian sublingual. Tidak ada efek samping. Captopril sublingual sangat efektif pada krisis hipertensi dan mekanisme hipotensi secara bertahap menghindari penurunan tekanan darah yang tiba-tiba.”

Penelitian 3 Same effect of sublingual and oral captopril in hypertensive crisis

Penelitian yang dilakukan oleh Karakili E menyimpulkan bahwa:

“Terdapat perbedaan antara efisiensi Captopril oral dan sublingual untuk mengendalikan hipertensi pada pasien dengan hipertensi urgensi. Untuk perawatan yang lebih nyaman, Captopril oral bisa menjadi pilihan yang lebih nyaman dalam urgensi hipertensi.”

 

Penelitian 4 Sublingual vs. Oral Captopril in Hypertensive Crisis.

Penelitian yang dilakukan oleh Kaya A et al terhadap 212 pasien dengan krisis hipertensi menyimpulkan bahwa:

“Captopril sublingual menurunkan tekanan darah lebih cepat pada 30 menit pertama setelah pemberian akan tetapi penurunan tekanan darah yang sama terjadi pada 60 menit pertama setelah pemberian”

 

Berdasarkan beberapa penelitian di atas baik pemberian captopril secara oral ataupun sublingual memberikan efek yang tidak terlalu berbeda untuk penurunan tekanan darah pada pasien dengan krisis hipertensi. Meskipun demikian, pemberian secara oral lebih membuat pasien merasa nyaman dibandingkan pemberian secara sublingual.

 

kepanjangan pico

PICO: Metode Mudah Menemukan Jurnal Kedokteran

Bila saat ini anda sedang mengerjakan sebuah karya tulis ilmiah maka anda sedang berada pada halaman yang tepat. Artikel ini akan memberikan anda pemahaman yang dapat menghemat waktu anda dalam pencarian jurnal. Artikel ini akan memuat tentang tips dan trik mencari jurnal kedokteran menggunakan metode PICO. Harapannya dengan menggunakan metode ini anda akan lebih mudah mencari jurnal yang ingin anda gunakan sebagai referensi dari karya tulis ilmiah anda.

 

Apa itu metode PICO?

PICO merupakan suatu akronim dari kata-kata berikut:

  • P untuk Patient, Population, Problem
    • Kata-kata ini mewakili pasien, populasi, dan masalah yang diangkat dalam karya ilmiah yang ditulis
  • I untuk Intervention, Prognostic Factor, atau Exposure
    • Kata ini mewakili intervensi, faktor prognostik atau paparan yang akan diangkat dalam karya ilmiah
  • C untuk Comparison atau Intervention (jika ada atau dibutuhkan)
    • Kata ini mewakili perbandingan atau interpensi yang ingin dibandingkan dengan intervensi atau pararan pada karya ilmiah yang akan ditulis
  • O untuk Outcome yang ingin diukur atau ingin dicapai
    • Kata ini mewakili target apa yang ingin dicapai dari suatu penelitian misalnya pengaruh atau perbaikan dari suatu kondisi atau penyakit tertentu.

 

Bagaimana menggunakan metode PICO?

Metode PICO dapat dilakukan apabila penulis karya tulis ilmiah telah memiliki masalah. Misalnya masalah yang akan diteliti adalah:

“Apakah Terdapat Pengaruh Lokasi Infark Dengan Keberhasilan Fibrinolitik Pada Pasien STEMI?”

Berdasarkan pertanyaan klinis masalah tersebut maka kita dapat menyusun sebuah PICO sebagai berikut:

  • P = STEMI
  • I = fibrinolitik
  • C = tidak ada pembanding atau intervensi lainnya
  • O = keberhasilan fibrinolitik

 

Contoh lainnya dengan masalah sebagai berikut:

 

“Apakah Terdapat Pengaruh Pemberian Ekstrak Mengkudu Dosis Tertentu Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah pada Tikus Wistar Diabetes?”

 

Berdasarkan masalah penelitian tersebut maka kita dapat menyusun PICO sebagai berikut:

  • P = Tikus Wistar Diabetes
  • I = Ekstrak Mengkudu
  • C = Dosis Tertentu
  • O = Kadar gula darah

 

Mengapa kita menggunakan PICO?

Suatu karya tulis ilmiah pada umumnya disusun berdasarkan suatu masalah. Masalah sendiri merupakan kesenjangan antara keinginan dan kenyataan. Masalah-masalah dalam bidang kedokteran dan kesehatan dapat disusun menjadi suatu pertanyaan klinis.

Pertanyaan klinis yang dibentuk sebaiknya harus memiliki model PICO sehingga memudahkan peneliti untuk menemukan referensi terbaik bagi karya ilmiahnya.

Pertumbuhan publikasi karya ilmiah belakangan ini terjadi dengan sangat pesat. Publikasi karya ilmiah dalam jurnal meningkat 2 kali lipat pada tahun 1950 dalam setiap 10 tahun hingga saat ini meningkat 2 kali lipat hanya dalam 1 tahun. Kondisi ini akan meningkat 2 kali lipat setiap 73 hari pada tahun 2020.

Banyaknya jumlah publikasi ilmiah ini disertai dengan menurunnya beberapa kualitas terbitan karya ilmiah dengan munculnya jurnal-jurnal yang tidak lagi sepenuhnya mempertimbangkan kaidah dan etika keilmuan.

Kualitas publikasi ilmiah yang berkurang dan banyaknya jumlah publikasi ilmiah ini akan menyulitkan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau tugas akhirnya menemukan referensi skripsi yang tepat untuk karya ilmiahnya.

Metode PICO dapat dengan mudah digunakan untuk menemukan referensi yang tepat untuk karya ilmiah yang sedang dibuat sangat menghemat waktu yang dibutuhkan untuk mencari referensi.

 

Pencarian Jurnal Menggunakan Metode PICO

Salah satu penyedia layanan pencarian dengan menggunakan metode PICO terbaik adalah PubMed.

PubMed sendiri merupakan bank atau basis data dari referensi dan abstrak dengan topik ilmu pengetahuan alam dan biomedis (MedLine) yang dikelola oleh United States National Library of Medicine (NLM) pada National Institutes of Health di Amerika Serikat.

Layanan ini diberikan secara gratis untuk menemukan jurnal referensi karya tulis ilmiah berdasarkan metode ini.

Layanannya dapat diakses melalui link berikut:

https://pubmedhh.nlm.nih.gov/nlmd/pico/piconew.php

 

Link ini akan menampilkan halaman utama layanan sebagai berikut:

PICO

Pada bagian Patient/Problem/Medical Condition anda dapat memasukkan kata kunci yang mewakit huruf P begitu seterusnya untuk huruf I, C, dan O.

Pada bagian Select Publication type anda bisa memilih jenis publikasi yang ingin anda cari dan disusun berdasarkan tingkat bukti pada evidence based medicine mulai dari tinjauan pustaka, pedoman klinis, hingga tinjauan sistematis dari beberapa meta analisis.

Pada kesempatan kali ini saya akan mencontohkan penggunaan masalah klinis berikut untuk mencari referensi yang dapat membantu dalam memecahkan masalah tersebut.

“Apakah terdapat perbedaan penggunaan captopril oral dan sublingual dalam kontrol tekanan darah pada pasien krisis hipertensi?”

Dari pertanyaan di atas maka kita dapat susun metode PICOnya sebagai berikut:

  • P = krisis hipertensi
  • I = captopril oral
  • C = captopril sublingual
  • O = kontrol tekanan darah

 

Maka, langkah selanjutnya adalah memasukkan istilah-istilah tersebut dalam kolom pencarian yang ditunjukkan pada gambar berikut:

Pico Isian

Pada contoh ini saya ingin mencari semua jenis publikasi dan pilihannya tetap pada “Not specified”. Langkah selanjutnya adalah menekan tombol “Submit”.

Hasil pencarian ini menunjukkan terdapat 7 publikasi ilmiah yang terdaftar di PubMed terkait dengan pencarian saya.

hasil pencarian PICO

 

Bila kita bandingkan dengan hasil pencarian di google scholar dengan memasukkan semua kata kunci yang sama pada metode ini dan menggunakan Boolean “AND” maka kita mendapatkan hasil berupa: 2.680 jurnal yang belum tentu  membahas spesifik tentang hal yang kita cari.

hasil google

 

Selain mengurangi jumlah pencarian jurnal yang lebih spesifik maka PICO PubMed ini juga memberikan beberapa kemudahan lainnya yaitu pada tombol-tombol

[TBL] [Abstract] [Full Text] [Related]

 

  • Tombol [TBL] akan menampilkan kesimpulan dari jurnal tersebut:

TBL PICO

 

  • Tombol [Abstract] tentu saja akan menampilkan abstrak dari jurnal yang dimaksud

PICO Abstrak

  • Tombol [Full Text] akan membawa anda ke sebuah halaman dimana anda dapat menemukan Full Text dari jurnal yang dimaksud. Meskipun, pada sebagian besar full text jurnal ini membutuhkan cara lain untuk dapat mengaksesnya karena jurnal ini sebagian besar adalah jurnal berbayar.

link full text

  • Tombol [Related] akan membawa anda ke sebuah halaman lainnya yang menunjukkan hasil pencarian yang sangat terkait dengan pencarian yang anda lakukan. Untuk kesempatan kali ini tentu saja yang terkait dengan penggunakan captopril oral vs sublingual untuk kontrol tekanan darah pada krisis hipertensi.

PICO Related

 

Pada pencarian ini menunjukkan terdapat 140 artikel lainnya yang terkait dengan masalah klinis yang telah ditanyakan yaitu apakah terdapat perbedaan pemberian captopril oran dengan captopril sublingual terhadap kontrol tekanan darah pada pasien dengan krisis hipertensi.

 

Silakan anda mencobanya sendiri dengan mulai untuk menyusun PICO berdasarkan masalah yang anda angkat dalam karya tulis anda.

Masukkan istilah tersebut dalam kolom pencarian yang disediakan dan buktikan sendiri bahwa anda dapat menghemat begitu banyak waktu untuk melakukan pencarian referensi anda hanya dengan menggunakan metode ini.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan memberikan anda banyak referensi terkait dengan karya ilmiah yang sedang anda tulis.

 

Apabila anda mengalami masalah dalam pencarian jurnal tertentu, kami dapat membantu anda untuk mengatasi masalah tersebut. Silakan hubungi kami di sini.

 

referensi ilmiah

Rintangan Dalam Menemukan Referensi Skripsi

Skripsi merupakan karangan ilmiah yang wajib ditulis oleh mahasiswa sebagai bagian dari persyaratan akhir pendidikan akademisnya. Karangan atau karya ilmiah sendiri merupakan laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan. Sehingga, untuk membuat skripsi menjadi baik maka dibutuhkan referensi skripsi yang baik pula.

 

Menemukan referensi skripsi yang baik terkadang cukup sulit untuk dilakukan, artikel ini memberikan gambaran terkait dengan hambatan dalam menemukan referensi yang baik dan beberapa hal untuk mengatasi hambatan tersebut.

Hal-hal yang menyebabkan kesulitan dalam menemukan referensi skripsi yang tepat dan baik.

1. Pertumbuhan publikasi karya ilmiah yang begitu cepat

Pertumbuhan publikasi karya ilmiah belakangan ini terjadi dengan sangat pesat. Publikasi karya ilmiah dalam jurnal meningkat 2 kali lipat pada tahun 1950 dalam setiap 10 tahun hingga saat ini meningkat 2 kali lipat hanya dalam 1 tahun. Kondisi ini akan meningkat 2 kali lipat setiap 73 hari pada tahun 2020.

Banyaknya jumlah publikasi ilmiah ini disertai dengan menurunnya beberapa kualitas terbitan karya ilmiah dengan munculnya jurnal-jurnal yang tidak lagi sepenuhnya mempertimbangkan kaidah dan etika keilmuan.

Kualitas publikasi ilmiah yang berkurang dan banyaknya jumlah publikasi ilmiah ini akan menyulitkan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi atau tugas akhirnya menemukan referensi skripsi yang tepat untuk karya ilmiahnya.

 

2. Hambatan dalam penggunaan bahasa dan istilah

Sebagian besar publikasi ilmiah yang terbit pada jurnal didominasi oleh bahasa Inggris. Hal ini menyebabkan pemahaman terhadap bahasa Inggris sangat dibutuhkan untuk mengerti apa yang seorang penulis karya ilmiah ingin sampaikan terkait dengan penelitiannya.

Kondisi ini menyulitkan mahasiswa dalam menemukan referensi yang tepat bagi skripsi atau tugas akhirnya. Beberapa mahasiswa hanya melakukan pencarian referensi atau jurnal untuk skripsinya dalam bahasa Indonesia. Indonesia sendiri hingga saat ini belum banyak melakukan publikasi ilmiah sehingga referensi untuk topik tertentu cukup terbatas.

Terkadang hanya dibutuhkan sedikit usaha dan tekad yang kuat untuk tidak menyerah hanya karena hambatan bahasa, maka jurnal referensi untuk topik skripsi dapat ditemukan dengan mudah.

Meskipun, terdapat kesulitan dalam menerjemahkan jurnal, kita dapat menggunakan bantuan alat-alat translasi (misalnya google translate) untuk membantu kita dalam memahami jurnal tertentu.

Selain hambatan bahasa, istilah yang digunakan dalam pencarian referensi skripsi juga menjadi masalah lainnya. Istilah-istilah ilmiah tertentu dalam bahasa Indonesia terkadang harus dicari padanan katanya dalam bahasa Inggris. Sebab, tidak semua istilah tersebut merupakan terjemahan langsung dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

Jika, istilahnya yang tepat sudah ditemukan maka pencarian referensinya akan lebih mudah dilakukan.

menulis skripsi

3. Tidak melakukan pencarian dengan menggunakan metode pencarian tertentu

Mahasiswa yang melakukan pencarian jurnal untuk referensi skripsi terkadang hanya melakukan pencarian dengan mengetik keseluruhan judul tugas akhir atau skripsi yang akan dia tulis pada mesin. Kondisi ini akan mengakibatkan munculnya ribuan bahkan puluhan ribu hasil pencarian yang akan sulit untuk disaring mana yang baik dan tepat sebagai referensi.

Di bawah ini terdapat beberapa metode yang dapat membantu dalam menemukan referensi yang tepat:

A. Pencarian Kata Kunci

Kata kunci merupakan sebuah kata atau frasa yang digunakan untuk menunjukkan topik yang dibahas oleh suatu jurnal. Bila kita menemukan istilah kata kunci yang tepat bagi skripsi atau tugas akhir maka kita hanya perlu memasukkan kata kunci tersebut dalam kolom pencarian. Tidak perlu memasukkan seluruh judul skripsi dalam kolom pencarian tersebut.

 

B. Pencarian dengan Operator Boolean

pencarian kata kunciBila ingin mencari referensi dengan satu atau lebih kata kunci maka sebaiknya kita menggunakan operator boolean. Operator Boolean adalah istilah yang digunakan untuk bahasa pemograman dimana terdiri dari operator AND, OR, dan NOT. Apabila kita ingin mencari 2 atau lebih kata kunci dalam satu kali pencarian maka dapat menggunakan operator AND. Misalnya kita ingin melakukan pencarian filsafat dan islam, maka kalau kita menuliskan hanya filsafat islam hasil pencariannya akan menemukan kata filsafat islam, filsafat saja, atau islam saja, atau filsafat dan islam dalam frasa terpisah.

Bila menggunakan operator AND maka kita melakukan pencarian filsafat islam dengan memasukkan AND antara kata filsafat dan islam, hasil pencariannya akan menampilkan seluruh halaman dengan frasa filsafat islam.

Cara mudah lain untuk menemukan frasa filsafat islam dimana kata filsafat dan islam terletak berdampingan maka cukup ketikkan: “filsafat islam” (dengan tanda kutip) dalam kolom pencarian.

 

C. Pencarian dengan Metode PICO (khusus kedokteran dan kesehatan)

PICO merupakan salah satu metode yang akan memudahkan pencarian referensi skripsi dibidang kedokteran dan kesehatan. PICO berisi pertanyan digunakan untuk membantu dalam memperjelas apa yang hendak  docari dan sebagai alat bantu untuk menentukan kata kunci yang dipakai untuk menemukan referensi. Pertanyaan yang baik harus memuat 4 hal PICO (pasien, intervensi , comparison, outcome).

Pasien/Populasi/PenyakitSeperti apa karakteristik pasien kita (poin-poin penting saja).

Bisa dimasukkan di dalamnya

  • hal-hal yang berhubungan atau relevan dengan penyakit pasien seperti usia , jenis kelamin atau suku bangsa.
  • hal-hal mengenai masalah, pemyakit atau kondisi pasien
Intervensi/Prognosis/ExposureBerisikan hal sehubungan dengan intervensi yang diberikan ke pasien

  • Apakah tentang meresepkan suatu obat ?
  • Apakah tentang melakukan tindakan ?
  • Apakah tentang melakukan tes dignosis?
  • Apakah tentang menanyakan bagaimana prognosis pasien ?
  • Apakah tentang menanyakan apa yang menyebabkan penyakit pasien ?
Comparison (perbandingan)Tidak harus selalu ada pembandingnya. Pembanding bisa dengan plasebo atau obat yang lain atau tindakan terapi yang lain
OutcomeHarapan yang anda inginkan dari intervensi tersebut,seperti

  • Apakah berupa pengurangan gejala ?
  • Apakah berupa pengurangan efek samping ?
  • Apakah berupa perbaikan fungsi atau kualitas hidup ?
  • Apakah berupa pengurangan jumlah hari dirawat RS ?

Contoh kasus:

Seorang wanita Ny Susi , 28 th G1P0A0 hamil 36 minggu datang ke dokter ingin konsultasi mengenai cara-cara melahirkan. Ibu Susi punya pengalaman kakaknya divakum karena kehabisan tenaga mengejan , anaknya saat ini 6 tahun menderita epilepsi dan kakaknya harus dijahit banyak pada saat melahirkan.Ia tidak mau melahirkan divakum. Dia mendengar tentang teknik yang menggunakan forsep. Dia bertanya yang mana yang lebih aman untuk ibu dan bayi.

Maka kata kunci dari pertanyaan yang mungkin diajukan adalah:

  • Pasien : melahirkan, kala II lama
  • Intervensi : vakum
  • Comparison : forcep
  • Outcome : aman untuk ibu dan bayi

 

4. Hanya melakukan pencarian di mesin pencari

Melakukan pencarian referensi skripsi di mesin pencari akan memakan waktu yang sangat banyak untuk menemukan jurnal yang tepat. Bila ingin menghemat waktu dan menemukan referensi yang baik serta tepat untuk skripsi atau tugas akhir maka silakan masuk ke website tertentu lalu lakukan pencarian jurnal disana.

Semoga tips ini dapat bermanfaat dan semoga dimudahkan dalam melakukan pencarian referensi skripsi yang baik dan tepat.