OSCE adalah Jenis Ujian Yang Mengerikan?

OSCE adalah singkatan dari Objective Structured Clinical Examination. Jenis ujian klinis ini pertama kali dijelaskan dan diperkenalkan oleh Harden dan rekannya pada tahun 1975.

OSCE adalah Mudah (Sumber: pixabay.com)

OSCE telah berkembang menjadi salah satu metode ujian modern untuk mengevaluasi keterampilan klinis dokter dan mahasiswa kedokteran.

 

Di Amerika Serikat, USMLE Step 2 Clinical Skills merupakan salah satu ujian lisensi bagi calon dokter dan pada dasarnya merupakan OSCE.

 

Di Indonesia sendiri, OSCE UKMPPD merupakan salah satu jenis ujian yang harus dijalani oleh mahasiswa program profesi pendidikan dokter bila ingin lulus dan disumpah menjadi seorang dokter.

 

OSCE adalah salah satu jenis ujian yang banyak digunakan di seluruh dunia untuk mengevaluasi mahasiswa kedokteran atau mahasiswa kepaniteraan klinis di pusat-pusat pendidikan kedokteran.

 

Alasan mengapa OSCE adalah ujian yang sering digunakan karena kemampuan OSCE untuk menilai berbagai dimensi kompetensi klinis peserta pendidikan kedokteran.

 

Dimensi kompetensi klinis tersebut antara lain:

  • Anamnesis
  • Pemeriksaan fisik
  • Pengetahuan medis
  • Kemampuan komunikasi
  • Kemampuan interpersonal
  • Profesionalisme
  • Pengumpulan data/informasi
  • Pemahaman terhadap proses penyakit
  • Pengambilan keputusan berdasarkan bukti
  • Keterampilan manajemen perawatan primer/manajemen klinis
  • Tatalaksana yang berpusat pada pasien
  • Promosi kesehatan
  • Pencegahan penyakit
  • Praktik kedokteran yang aman dan efektif

 

Ujian OSCE menggunakan pasien standar. Penilai mengamati secara langsung interaksi antara kandidat peserta didik dengan pasien standar.

 

Ujian OSCE terdiri dari beberapa stasion dimana setiap peserta didik harus keluar masuk stasion dalam rentang waktu tertentu.

 

Sebagian besar mahasiswa kedokteran menganggap OSCE adalah ujian yang sulit.

 

Sering kali mahasiswa mulai stress dan panik ketika akan menghadapinya

 

Tapi, Benarkah ujian OSCE adalah ujian yang mengerikan?

 

Apa yang diharapkan dari OSCE?

Pemeriksaan Vital Sign Saat OSCE (sumber: pixabay.com)

Sering kali ketakutan terhadap OSCE muncul karena seorang mahasiswa kedokteran atau mahasiswa kepaniteraan klinik belum memahami OSCE secara menyeluruh.

 

OSCE adalah ujian yang terdiri dari beberapa station (10-14) dimana masing-masing station harus diselesaikan dalam 5 hingga 15 menit.

 

Setiap fakultas kedokteran memiliki panduan untuk OSCE yang berbeda-beda.

 

Maka langkah pertama untuk mengurangi rasa takut Anda adalah baca dan ikuti panduan OSCE dari kampus Anda masing-masing.

 

OSCE pada umumnya akan meminta para peserta ujian (kandidat) untuk berotasi memasuki setiap station.

 

Pada setiap station OSCE tersebut peserta akan diberikan waktu untuk terlebih dahulu membaca informasi dan data yang dicetak pada selembar kertas.

 

Informasi dan data ini disebut sebagai skenario.

 

Masing-masing station memiliki skenario yang berbeda-beda.

 

Peserta ujian diharapkan melakukan salah satu atau beberapa hal berikut ini pada setiap station:

  • Melakukan anamnesis terfokus dan terperinci
  • Melakukan pemeriksaan fisik terfokus dan terperinci
  • Melakukan penilaian masalah dan mengatasi masalah pasien
  • Menjawab pertanyaan spesifik terkait dengan pasien
  • Memberikan interpretasi pemeriksaan penunjang seperti rongent, elektrokardiografi, analisa gas darah, dan pemeriksaan lainnya
  • Menegakkan dan menuliskan diagnosis
  • Membuat permintaan pemeriksaan penunjang

 

OSCE adalah ujian keterampilan klinis yang mencakup sebagian besar masalah dalam bidang:

  • Ilmu Penyakit Dalam
  • Pediatri
  • Obstetri dan ginekologi
  • Kedokteran preventif dan kesehatan masyarakat
  • Psikiatri
  • Bedah, dan
  • Cabang-cabang kedokteran lainnya.

 

Setiap station OSCE memiliki penguji dan pasien simulasi yang telah terlatih untuk menjalankan skenario tertentu.

 

Penguji melakukan penilaian terhadap peserta ujian dengan menggunakan formulir penilaian standar yang disebut sebagai checklist OSCE.

 

Persiapan Sebelum Menjalani Ujian OSCE

Pemeriksan OSCE (sumber: pixabay.com)

Menurut sebagian besar mahasiswa kedokteran, Ujian OSCE adalah salah satu ujian yang paling sulit.

 

Sehingga dibutuhkan persiapan tertentu sebelum menjalani ujian ini.

 

Persiapan OSCE paling baik dilakukan dengan membentuk kelompok belajar atau belajar dengan 2 atau 3 orang teman.

 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa belajar persiapan OSCE 2 minggu sekali selama 4 sampai 5 jam setiap hari kemudian berlatih skenario seminggu sekali dengan teman kelompok merupakan salah satu persiapan yang paling baik.

 

Belajar kelompok untuk menghadapi ujian OSCE adalah penting karena rekan satu kelompok belajar dapat memberikan umpan balik dan kritik saat belajar simulasi OSCE.

 

Buatlah Rencana Belajar

Rencana belajar penting dibuat untuk persiapan sebelum menghadapi ujian OSCE.

 

Beberapa orang mempersiapkan rencana belajar OSCE beberapa hari sebelum ujian sedangkan beberapa mahasiswa lainnya mempersiapkan rencana belajar 2 hingga 3 bulan sebelum ujian OSCE dilangsungkan.

 

Rencana belajar ini sangat bervariasi secara individu, bergantung pada jadwal perkuliahan Anda, pengalaman klinis, pengetahuan klinis, dan pemahaman terkait dengan topik OSCE yang akan diujikan.

 

Identifikasi tujuan dari setiap station adalah salah satu hal yang penting. Fokuskan diri Anda untuk memahami presentasi pasien yang umum ditemukan dan gejala yang kritis.

 

Membuat daftar diagnosis banding juga penting, buat daftar pemeriksaan yang dibutuhkan, dan mengatur serta berlatih bagaimana Anda dapat melakukan semua hal ini dalam waktu OSCE yang telah ditentukan.

 

Saat berlatih skenario dengan teman kelompok, jika Anda tidak berpikir bahwa Anda tidak berhasil melakukan topik tertentu.

 

Cukup luangkan lebih banyak waktu untuk membahas topik tersebut dan diskusikan pada kelompok belajar Anda.

 

Pengembangan Keterampilan Anamnesis pada OSCE adalah Penting

Anamnesis pada OSCE adalah salah satu komponen paling penting.

 

Pengetahuan klinis, kelancaran dan pemahaman, dan berlatih sebelum ujian merupakan komponen kunci dari pengembangan keterampilan anamnesis.

 

Pada OSCE terdapat sejumlah informasi terbatas yang perlu diketahui untuk bisa lulus ujian ini.

 

OSCE adalah ujian keterampilan klinis yang terkait dengan penentuan prioritas dan pemikiran strategis dalam waktu terbatas.

 

Jadi, dalam situasi apa pun, Anda harus mengingat checklist OSCE yang dijadikan dasar penilaian, atau pertanyaan penting yang harus ditanyakan pada pasien simulasi dan tidak boleh dilewatkan.

 

OSCE adalah Mudah, Jangan Panik!

Berikut ini beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk menyambut ujian OSCE.

  • Pastikan Anda cukup tidur sebelum hari OSCE dan cukup istirahat
  • Kecemasan ketika melakukan pemeriksaan fisik dan anamnesis adalah musuh terbesar Anda, jadi cobalah untuk tetap tenang dan santai.
  • Hindari persiapan dengan mempelajari checklist OSCE hingga menit terakhir. Saya menyarankan Anda menyelesaikan belajar dan berlatih OSCE 24 jam sebelum ujian.
  • Selalu percaya diri dan lakukan yang terbaik
  • Setel alarm Anda dan bila memungkinkan maka mintalah seseorang untuk memastikan Anda bangun tepat waktu
  • Bila OSCE dilangsungkan di pagi hari pastikan Anda sarapan sebelum ujian
  • Kenakan pakaian yang paling nyaman dan yang terakhir jangan pernah PANIK.

 

Semoga Anda dapat menghadapi OSCE Anda dengan baik.

 

Referensi

Klik di Sini
  1. Harden RM, Stevenson M, Downie WW, Wilson GM. Assessment of clinical competence using objective structured examination. Br Med J. 1975;1:447. https://www.bmj.com/content/1/5955/447
  2. USMLE Step 2 CS. http://www.usmle.org/step-2-cs/.
  3. Wiprud R. Improving patient care. 30 standardized hospital admission orders. Fam Pract Manag. 2001;8(9):49–51. https://www.aafp. org/fpm/2001/1000/p49.html
Featured Image Kolesterol

Kolesterol Dalam Tubuh Kita: Teman Atau Musuh?

Kolesterol merupakan salah satu komponen penyusun sel pada tubuh kita. Terutama untuk membentuk membran sel. Namun, senyawa dari golongan lemak atau lipid ini sering kali diasumsikan sebagai hal yang negatif.

 

Metabolit yang mengandung lemak sterol ini sering kali dikaitkan dengan keluhan tegang pada belakang leher atau sakit kepala.

 

Penelitian ilmiah dalam dekade terakhir juga menunjukkan hubungan erat senyawa ini dengan penyakit jantung koroner.

 

Meskipun demikian, penemuan terbaru seharusnya mengubah pola pikir dan rekomendasi dokter terhadap pasien yang mengalami peningkatan kadar kolesterol.

 

Dan untuk Anda yang memiliki tingkat kolesterol darah tinggi, sebaiknya Anda menyelesaikan membaca artikel ini.

 

Terutama bila dokter Anda melarang Anda untuk sama sekali mengonsumsi daging atau seafood karena Anda memiliki kolesterol tinggi.

 

Apa itu Kolesterol?

senyawa kolesterol
senyawa kolesterol | sumber: pixabay.com

Kolesterol normal merupakan suatu komponen yang dimiliki oleh tubuh kita.

 

Ciri ciri kolesterol disebutkan sebagai zat lunak, berwarna putih atau putih kekuningan.

 

Kolesterol normal dapat ditemukan dalam aliran darah dan di dalam sel-sel tubuh.

 

Terdapat 2 sumber utama yang menjadi dasar peningkatan kadar senyawa ini dalam tubuh dan aliran darah.

Sumber pertama adalah tubuh kita sendiri. Hati atau liver merupakan organ yang menghasilkan senyawa ini sekitar 1 gram per hari.

 

Yang kedua, makanan yang mengandung senyawa ini terutama dari sumber hewani seperti:

  • Kuning telur
  • Daging
  • Unggas
  • Ikan
  • Makanan laut, dan
  • Produk susu murni

 

Kolesterol yang terkandung pada makanan akan disebut sebagai kolesterol makanan.

 

Fungsi Kolesterol Pada Tubuh Kita

Kolesterol pada membran sel
Kolesterol pada membran sel | sumber: pixabay.com

Senyawa yang ditemukan di setiap sel tubuh ini memiliki beberapa fungsi penting dalam menjaga kesehatan tubuh, seperti:

  • menjaga membran sel tetap utuh
  • meningkatkan kinerja mental/pikiran
  • membantu pencernaan
  • membentuk tulang yang kuat
  • membangun otot
  • menjaga energi, vitalitas, dan kesuburan
  • mengatur kadar gula darah
  • memperbaiki jaringan yang rusak
  • melindungi tubuh terhadap penyakit menular

 

Namun, kolesterol adalah penyakit sering kali disebutkan pada kondisi kelebihan kadar senyawa ini dalam aliran darah.

 

Beberapa penelitian telah menunjukkan penumpukan senyawa ini dalam aliran darah dan di dinding pembuluh darah(arteri) akan membentuk “plak” yang dapat menyumbat pembuluh darah (aterosklerosis).

 

Aterosklerosis dapat menjadi penyebab utama stroke dan serangan jantung atau stroke.

 

Karena kolesterol darah tinggi adalah salah satu faktor risiko utama penyakit jantung, kolesterol makanan telah menjadi fokus perdebatan.

 

Terutama terkait dengan apakah kolesterol dalam makanan mempengaruhi kadar senyawa ini dalam darah.

 

Atau tentang kolesterol total, kolesterol jahat VS kolesterol baik.

 

Termasuk berapa kadar kolesterol normal wanita dan kolesterol normal pria.

 

Dan berapa nilai kolesterol sehat serta apa perbedaan kolesterol HDL, kolesterol LDL dan trigliserida serta bagaimana dampak mereka terhadap tubuh.

 

Sebelum membahas nilai normal kolesterol darah di atas maka sebaiknya kita harus memahami terlebih dahulu dari mana kolesterol berasal.

 

Dari Mana Kadar Kolesterol Darah Berasal

liver
ilustrasi hati (liver)| sumber: pixabay.com

Jika kita ingin mengetahui pengaruh kadar kolesterol darah terhadap tubuh kita, maka sebaiknya kita tahu dari mana kolesterol ini berasal.

 

DELAPAN PULUH PERSEN kolesterol pada tubuh kita dibuat oleh liver (hati)”

 

Pernyataan di atas adalah fakta yang mungkin belum banyak diketahui.

 

Sebagian besar orang akan menganggap bahwa makanan yang mereka konsumsi merupakan penyebab naiknya kadar kolesterol dalam tubuh.

 

Anggapan tersebut menyebabkan orang-orang berkesimpulan bahwa ketika mereka mengonsumsi makanan berlemak maka akan sulit untuk menurunkan kadar zat lemak ini dalam darah.

 

Secara teoritis, bila kita sama sekali tidak mengonsumsi makanan dengan kandungan kolesterol apa pun maka kadar zat lemak ini akan berkurang 20 persen.

 

Faktanya, orang-orang dengan kadar kolesterol tinggi yang menghindari makanan berlemak dan mengonsumsi obat statin untuk menurunkan kadar zat lemak ini malah tidak efektif untuk menurunkan kadar lemaknya.

 

Mengapa demikian, ketika kita sama sekali tidak mengonsumsi lemak, maka liver (hati) akan meningkatkan sintesis kolesterol.

 

Jadi, Anda tidak perlu untuk tidak sama sekali mengonsumsi makanan berlemak tapi harus membatasinya.

 

Bila kadar kolesterol Anda 50% di atas normal maka membatasi konsumsi lemak saja tidak cukup.

 

Anda harus mengonsumsi obat yang tepat untuk menurunkan kadar lemak dalam pembuluh darah Anda.

 

Lalu, bagaimana seharusnya pengukuran nilai normal kolesterol dilakukan?

 

Pengukuran Kadar Kolesterol

pemeriksaan kadar kolesterol darah
pemeriksaan kadar kolesterol darah | sumber: pixabay.com

Jika, seorang dokter ingin mengetahui nilai zat lemak ini pada pembuluh darah Anda maka seorang dokter meminta Anda untuk menjalani pemeriksaan “profil lipid”.

Pemeriksaan Profil Lipid ini mencakup pemeriksaan 4 golongan lipid utama yang ada pada pembuluh darah yaitu:

  1. kolesterol total
  2. Kolesterol jahat (kolesterol LDL)
  3. Kolesterol baik (kolesterol HDL)
  4. Trigliserida

 

Banyak pasien yang menjalani pemeriksaan hanya dilakukan salah satu pemeriksaan saja dari 4 pemeriksaan di atas.

 

“HANYA PEMERIKSAAN KOLESTEROL TOTAL”

 

Padahal, di antara 4 lipid di atas KOLESTEROL TOTAL adalah yang “PALING TIDAK PENTING”.

 

Ketika dokter melakukan prediksi risiko penyakit jantung, nilai LDL adalah yang paling penting.

 

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kadar LDL tinggi dengan terjadinya penyakit jantung.

 

Sebaliknya, Kadar HDL yang tinggi menurunkan risiko kejadian penyakit jantung.

 

Karena kedua jenis lipoprotein ini memiliki efek yang saling bertolak belakang terhadap risiko penyakit jantung, nilai kolesterol total menjadi tidak penting jika dilibatkan dalam prediktor penyakit jantung.

 

Contoh sederhana, katakanlah ada seorang wanita sehat dengan kadar HDL yang sangat tinggi (85 mg/dL) dan kadar LDL yang normal (125 mg/dL). Meskipun, pemeriksaan Kolesterol Totalnya menunjukkan nilai tinggi (> 200 mg/dL) hal ini terjadi karena kadar HDL nya yang sangat tinggi.

Hal inilah yang menyebabkan pemeriksaan kolesterol total menjadi “PALING TIDAK PENTING”.

 

Lalu berapa kadar normal untuk masing-masing pemeriksaan di atas?

 

Kadar Normal Pemeriksaan Profil Lipid

 

Berapa kadar normal untuk kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida?

 

Pedoman terbaru menunjukkan bahwa kadar kolesterol normal harus di bawah 200 mg/dL.

 

HDL harus > 40 mg/dl untuk pria dan > 45 mg/dL untuk wanita, LDL harus < 130 mg/dL dan trigliserida < 150 mg.

 

Lalu, bila kadar profil lipid Anda ada yang tidak normal, kapan Anda harus minum obat?

 

Langkah-Langkah Menurunkan Kolesterol

Sebelum membahas langkah menurunkan kolesterol darah maka kita harus memahami terlebih dahulu klasifikasi kadar kolesterol yang dinyatakan tinggi.

 

Seseorang dapat dinyatakan memiliki kadar kolesterol tinggi atau hiperkolesterolemia apabila:

  • Kadar kolesterol total 200-239 mg/dL adalah borderline tinggi dan ≥ 240 mg/dL adalah tinggi
  • Kadar LDL 100-129 mg/dL adalah di atas optimal, 130-159 mg/dL adalah borderline tinggi, 160-189 mg/dL adalah dipertimbangkan tinggi dan ≥ 190 mg/dL dipertimbangkan sangat tinggi.

 

Klasifikasi di atas didasarkan pada publikasi dari National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) guideline on high blood cholesterol in adults (National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III) yang versi lengkapnya bisa Anda lihat di tautan ini:

https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/01.CIR.0000133317.49796.0E?url_ver=Z39.88-2003&rfr_id=ori:rid:crossref.org&rfr_dat=cr_pub%3dpubmed

 

Yang harus kita garis bawahi, pedoman saat ini menekankan kadar low-density lipoprotein (LDL) dan fokus pada pengobatan untuk pasien yang berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah yang akan memperoleh manfaat dari pengobatan.

 

Anda harus menurunkan kadar kolesterol Anda bila kadar kolesterol Anda melebihi target di atas dengan catatan bahwa obat penurun kolesterol hanya diberikan pada orang yang memiliki risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

 

Diet untuk Menurunkan Kolesterol

Terdapat beberapa organisasi kedokteran yang memberikan rekomendasi terkait dengan pengaturan makanan apa saja yang harus dikonsumsi terutama pada orang dengan kadar kolesterol jahat yang tinggi.

 

Rekomendasi tersebut antara lain:

 

Rekomendasi diet American College of Cardiology/American Heart Association (ACC / AHA)

Rekomendasi untuk orang dewasa yang akan mendapat manfaat dari penurunan kadar LDL-C

  • mengurangi persen kalori dari lemak jenuh untuk mencapai target 5%-6% dari total kalori harian (ACC / AHA Kelas I, Level A)
  • mengurangi persen kalori dari lemak trans (ACC / AHA Kelas I, Level A)
  • pola diet untuk pasien yang akan mendapat manfaat dari penurunan kadar LDL (ACC / AHA Kelas I, Level A) adalah:
    • menekankan asupan sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian termasuk produk susu rendah lemak, unggas, ikan, kacang-kacangan, minyak sayur nontropis, dan kacang-kacangan
    • membatasi asupan permen, minuman manis, dan daging merah
    • Diet disesuaikan dengan kebutuhan kalori, preferensi makanan pribadi (makanan favorit) dan budaya makan, dan terapi nutrisi untuk kondisi medis lainnya (termasuk diabetes mellitus)
    • dapat dicapai dengan mengikuti rencana-rencana seperti pola diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) atau Diet American American Association (AHA)

 

Rekomendasi Diet European Society of Cardiology/European Atherosclerosis Society (ESC/EAS)

 

ESC/EAS merekomendasikan langkah-langkah diet dan pilihan makanan sehat untuk mengelola risiko penyakit jantung dan pembuluh darah meliputi:

  • menyesuaikan asupan energi untuk mencegah kelebihan berat badan dan obesitas serta mengonsumsi berbagai jenis makanan
  • konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, legume, dan ikan (terutama minyak ikan)
  • rekomendasi asupan lemak
    • total lemak < 35% kebutuhan kalori harian
    • lemak jenuh <7% kebutuhan kalori harian
    • lemak trans <1% kebutuhan kalori harian
    • kolesterol dari makanan < 300 mg/hari
  • kurangi konsumsi garam hingga < 5 gram/hari
  • kurangi asupan minuman atau makanan dengan gula tambahan

 

Rekomendasi Diet National Institute for Clinical Excellence (NICE)

NICE merekomendasikan diet pada orang-orang dengan risiko tinggi atau orang dengan penyakit kardiovaskular.

 

Rekomendasi diet kardioprotektif ini antara lain:

  • total asupan lemak ≤ 30%, lemak jenuh ≤ 7%, dan kolesterol makanan <300 mg/hari
  • ganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda
  • gunakan minyak zaitun
  • pilih varietas gandum dari makanan bertepung
  • mengurangi asupan gula dan produk makanan yang mengandung gula olahan termasuk fruktosa
  • konsumsi ≥ 5 porsi buah dan sayuran per hari
  • konsumsi ≥ 2 porsi ikan per minggu, termasuk ikan berminyak. Jika hamil, batasi ikan berminyak hingga ≤ 2 porsi per minggu dan hindari ikan marlin, hiu dan swordfish
  • konsumsi ≥ 4 hingga 5 porsi kacang tanpa biji, biji dan polong-polongan per minggu
  • Pertahankan berat badan normal atau ideal

 

Aktivitas Fisik Untuk Menurunkan Kolesterol

American College of Cardiology / American Heart Association (ACC / AHA) merekomendasikan orang dewasa untuk melakukan aktivitas fisik aerobik agar kadar lipoprotein densitas rendah menurun dan kadar lipoprotein densitas tinggi meningkat (ACC / AHA Class IIa, Level A).

 

Aktivitas fisik tersebut dilakukan dalam:

  • 3 atau 4 sesi aktivitas fisik / minggu
  • durasi rata-rata 40 menit / sesi
  • aktivitas harus intensitas sedang hingga kuat

 

Sedangkan European Society of Cardiology / European Atherosclerosis Society (ESC / EAS) merekomendasikan aktivitas fisik selama ≥ 30 menit / hari setiap hari.

 

Bila dengan aktivitas fisik dan pengaturan diet ini kadar LDL Anda tidak juga turun maka Anda memerlukan obat untuk menurunkan kadar lemak jahat pada pembuluh darah Anda.

 

Rekomendasi Obat Kolesterol (Statin)

ACC/AHA, ESC/EAS, dan NICE memiliki rekomendasi pengobatan dan ambang batas yang berbeda untuk risiko penyakit kardiovaskular 10 tahun (menggunakan persamaan yang berbeda) ketika terapi statin harus diberikan pada pasien dengan kadar LDL berlebih.

 

Rekomendasi ACC/AHA tentang terapi statin

  • Di semua individu di segala usia, penting menekankan gaya hidup sehat jantung, yang berarti diet dan olahraga yang tepat, untuk mengurangi risiko mengembangkan penyakit arterosklerotik harus disarankan.
  • Individu termasuk dalam kelompok dengan risiko penyakit arterosklerotik yang berbeda atau kambuhnya penyakit arterosklerotik dan rekomendasinya disusun sesuai dengan kelompok risiko ini.
  • Pencegahan penyakit arterosklerotik sekunder: Pasien yang sudah memiliki penyakit arterosklerotik berdasarkan telah memiliki suatu kejadian atau diagnosis yang ditetapkan (MI, angina, peristiwa serebrovaskular atau stroke, atau penyakit pembuluh darah perifer) termasuk dalam kategori pencegahan sekunder:
  • Pasien berusia 75 tahun dan lebih muda dengan penyakit arterosklerotik klinis: Terapi statin intensitas tinggi harus dimulai dengan tujuan untuk mengurangi kadar LDL sebesar 50%. Pada pasien yang mengalami efek samping terkait statin, statin intensitas sedang harus dimulai dengan tujuan untuk mengurangi LDL sebesar 30%-49%.
  • Pada pasien yang sangat berisiko tinggi dengan LDL di atas 70 mg / dL pada terapi statin yang ditoleransi secara maksimal, masuk akal untuk mempertimbangkan penggunaan agen penurun kolesterol nonstatin dengan tujuan LDL di bawah 70 mg / dL.
  • Untuk pasien yang berusia lebih dari 75 tahun dengan penyakit arterosklerotik yang jelas, masuk akal untuk melanjutkan terapi statin intensitas tinggi jika pasien mentolerir pengobatan.

 

Hiperkolesterolemia berat

  • Pasien dengan LDL di atas 190 mg / dL tidak perlu memperhitungkan skor risiko 10 tahun. Orang-orang ini harus menerima terapi statin yang dapat ditoleransi secara maksimal.
  • Jika pasien tidak dapat mencapai 50% pengurangan LDL dan/atau memiliki level LDL100 mg/dL, penambahan terapi ezetimibe dapat dipertimbangkan.
  • Jika LDL masih lebih besar dari 100mg/dL pada statin plus ezetimibe, penambahan inhibitor PCSK9 dapat dipertimbangkan. Harus diakui bahwa penambahan PCSK9 dalam keadaan ini diklasifikasikan sebagai rekomendasi yang lemah.

 

Diabetes mellitus pada orang dewasa

  • Pasien berusia 40-75 tahun dengan diabetes, terlepas dari risiko penyakit aterosklerotik 10-tahun, harus diresepkan statin intensitas sedang (rekomendasi kuat).
  • Pada orang dewasa dengan diabetes mellitus dan beberapa faktor risiko penyakit aterosklerotik, Pertimbangkan untuk meresepkan terapi statin intensitas tinggi dengan tujuan untuk mengurangi LDL lebih dari 50%.
  • Pada orang dewasa dengan diabetes mellitus dan risiko penyakit aterosklerotik 10 tahun 20% atau lebih tinggi, mungkin pertimbangkan untuk menambahkan ezetimibe pada terapi statin yang ditoleransi secara maksimal untuk mengurangi kadar LDL sebesar 50% atau lebih.
  • Pada pasien berusia 20-39 tahun dengan diabetes yang berdurasi lama (setidaknya 10 tahun, diabetes mellitus tipe 2; setidaknya 20 tahun, diabetes mellitus tipe 1), atau dengan kerusakan organ akhir termasuk albuminuria, insufisiensi ginjal kronis, retinopati, neuropati, atau indeks pergelangan kaki-brakialis di bawah 0,9, pertimbangkan untuk memulai terapi statin (rekomendasi lemah).

 

Kesimpulan

Ilmu tentang kolesterol dalam tubuh kita sangat kompleks.

 

Peneliti telah memberikan kita pemahaman terkait mekanisme lemak apa yang berpengaruh terhadap penyakit jantung, perkembangan pengobatan yang lebih baik dan lebih terfokus.

 

Saat ini, kita harus memiliki informasi yang cukup untuk menjaga kesehatan jantung kita dari pengaruh buruk kolesterol jahat.

 

Pastikan kita tahu berapa kadar LDL, HDL, dan trigliserida kita. Bukan hanya kadar kolesterol total.

 

Ingat, liver atau hati kita memproduksi 80% dari total kolesterol dalam tubuh kita dan hanya 20% yang berasal dari makanan.

 

Jadi, cukup hindari dan kurangi konsumsi kolesterol harian dan lemak trans. Jangan menyiksa diri kita dengan tidak sama sekali mengonsumsi makanan favorit kita hanya karena kolesterol total tinggi.

 

Kolesterol LDL (lemak jahat) adalah target pengobatan yang paling utama dan kadar HDL (lemak baik) harus dapat kita tingkatkan.

 

Referensi

Klik di Sini
  1. Skolnik, Neil, and Gregory Palko. “AHA/ACC updates blood cholesterol management advice.” Family Practice News, Feb. 2019, p. 16. Health & Wellness Resource Center, http://link.galegroup.com/apps/doc/A579994686/HWRC?u=stanhosp_main&sid=HWRC&xid=dd8dcc2b . Accessed 28 Apr. 2019.
  2. Grundy SM et al. 2018 AHA/ACC/AACVPR/AAPA/ABC/ACPM/ADA/AGS/APhA/ASPC/NLA/PCNA Guideline on the management of blood cholesterol: Executive Summary: A report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines. Circulation. 2018 Nov 10.
  3. National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Lipid modification: cardiovascular risk assessment and the modification of blood lipids for the primary and secondary prevention of cardiovascular disease. NICE 2014 Jul:CG181PDF, summary can be found in BMJ 2014 Jul 17;349:g4356
  4. Stone NJ, Robinson J, Lichtenstein AH, et al. 2013 ACC/AHA Guideline on the Treatment of Blood Cholesterol to Reduce Atherosclerotic Cardiovascular Risk in Adults: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S1-45or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2889 PDF (correction can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):3024), commentary can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jun 3;63(21):2300
  5. Goff DC Jr, Lloyd-Jones DM, Bennett G, et al. 2013 ACC/AHA Guideline on the Assessment of Cardiovascular Risk: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S49-73or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2935 full-text (correction can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):3026), commentary can be found in Mayo Clin Proc 2014 Jun;89(6):722
  6. Eckel RH, Jakicic JM, Ard JD, et al. 2013 AHA/ACC Guideline on Lifestyle Management to Reduce Cardiovascular Risk: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S76-99or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2960 PDF
  7. European Association for Cardiovascular Prevention & Rehabilitation, Reiner Z, Catapano AL, De Backer G, et al; ESC Committee for Practice Guidelines (CPG) 2008-2010 and 2010-2012 Committees. ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: the Task Force for the management of dyslipidaemias of the European Society of Cardiology (ESC) and the European Atherosclerosis Society (EAS). Eur Heart J. 2011 Jul;32(14):1769-818
  8. Laberge, Monique, PhD. “Dietary Cholesterol.” The Gale Encyclopedia of Diets, edited by Deirdre S. Hiam, 3rd ed., vol. 1, Gale, 2019, pp. 347-350. Health & Wellness Resource Center, http://link.galegroup.com/apps/doc/CX2491000093/HWRC?u=stanhosp_main&sid=HWRC&xid=b50d5970 . Accessed 28 Apr. 2019.
Featured Image Benjolan di Leher

Benjolan di Leher: Algoritma Klinis

Benjolan di leher dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Mulai dari infeksi hingga kondisi tumor jinak atau bahkan keganasan.

benjolan di leher
Nyeri Pada Leher (Sumber: pixabay.com)

 

Artikel ini akan memberikan gambaran bagaimana algoritma klinis terkait dengan gejala benjolan di leher.

 

Pendekatan Algoritma Benjolan di Leher

algoritma klinis benjolan di leher
Algoritma Klinis Benjolan di Leher (Sumber: whitecoathunter.com)

 

Download Algoritma Klinis Benjolan di Leher melalui link berikut ini.

Algoritma Klinis Benjolan di Leher (21 downloads)

 

Algoritma Benjolan di Leher A

Anamnesis dan pemeriksaan fisik menyeluruh tetap menjadi andalan evaluasi awal benjolan di leher.

 

Gejala “red flag” utama meliputi:

  1. benjolan bertambah besar dengan cepat,
  2. disfagia,
  3. penurunan berat badan,
  4. otalgia,
  5. telinga terasa penuh,
  6. gangguan pendengaran,
  7. hemoptisis,
  8. epistaksis,
  9. parestesia, dan
  10. dispnea

 

Sembilan puluh persen massa leher anak adalah lesi jinak, terkait dengan respons inflamasi atau anomali kongenital.

 

Bila bukan benjolan di leher karena pembesaran tiroid, 80% dari benjolan di leher pada orang dewasa adalah “GANAS”.

 

Tanda dan gejala infeksi termasuk gejala:

  • demam,
  • menggigil,
  • meriang,
  • eritema,
  • nyeri tekan pada benjolan, atau
  • benjolan terasa hangat

 

Bila tanda dan gejala infeksi ini muncul maka harus segera diobati dengan pemberian antibiotik dan evaluasi ulang.

 

Algoritma B

Pemeriksaan kepala dan leher yang terperinci sangat penting.

 

Mobilitas, nyeri tekan, lokasi benjolan pada leher, kekencangan, fluktuasi, eritema, dan bruit terpalpasi adalah beberapa tanda yang harus diperhatikan.

 

Saluran aerodigestif harus dievaluasi melalui palpasi dan visualisasi dari dasar mulut, lidah, langit-langit, amandel, pangkal lidah, mukosa bukal, nasofaring, orofaring, laring, dan rongga hidung.

 

Algoritma C

Computed tomography (CT) adalah modalitas pencitraan yang paling sering digunakan.

 

Untuk menghindari radiasi pengion, ultrasonografi mungkin awalnya berguna dalam populasi anak karena mereka memiliki kemungkinan lebih tinggi dari proses inflamasi, infeksi, atau penyakit bawaan.

 

Ultrasonografi (USG) juga harus dipertimbangkan untuk massa tiroid, karena penggunaan CT dengan kontras yodium dapat menunda potensi perawatan radioiodine.

 

MRI berguna dalam menggambarkan anatomi jaringan lunak, terutama jika dicurigai adanya penyakit perineural.

 

CTA atau MRA dapat dipertimbangkan jika ada kecurigaan untuk lesi vaskular.

 

Algoritma D

Aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration) atau biopsi jarum inti (Core Needle Biopsy) dapat dilakukan.

 

Jika tindakan ini belum mampu memastikan diagnosis, biopsi eksisi dapat dilakukan.

 

Namun, ahli bedah harus menyadari risiko penyebaran tumor.

 

 

Algoritma E

Jika lesi ditemukan menular, terapi konservatif dengan pengobatan antibiotik dan steroid yang mungkin dapat diberikan sementara lesi kongenital harus menjalani pengamatan dengan penilaian ulang untuk eksisi bedah.

 

Lesi neoplastik harus dirujuk ke ahli bedah onkologi kepala dan leher untuk pemeriksaan lebih lanjut untuk staging dan manajemen yang tepat.

 

Referensi
  1. Shokri T., Siddique L., Goyal N. (2019) Evaluation of Neck Mass. In: Docimo Jr. S., Pauli E. (eds) Clinical Algorithms in General Surgery. Springer, Cham
  2. Goff CJ, Allred C, Glade RS. Current management of congenital branchial cleft cysts, sinuses and fistulae. Curr Opin Otolaryngol Head Neck Surg. 2012;20:533–9.
  3. Tracy TF, Muratore CS. Management of common head and neck masses. Semin Pediatr Surg. 2007;16:3–13.
  4. Chen AY, Otto KJ. Differential diagnosis of neck masses. In: Flint PW, Haughey BH, Lund VJ, editors. Cummings otolaryngology: head and neck surgery. 5th ed. Philadelphia: Elsevier; 2010.
  5. Kadom N, Lee EY. Neck masses in children: current imaging guidelines and imaging findings. Semin Roentgenol. 2012;47:7–20.
  6. Layfield L. Fine-needle aspiration in the diagnosis of head and neck lesions: a review and discussion of problems in differential diagnosis. Diagn Cytopathol. 2007;35:798–805.
Featured Image Alergi 101

Alergi 101: Mengenal Segala Jenis Alergi

Alergi adalah respons berlebihan (hipersensitif) sistem kekebalan tubuh terhadap zat asing yang tidak berbahaya yang disebut alergen. Kondisi ini merupakan gangguan medis dan masalah kesehatan paling umum pada anak-anak. Kondisi ini memengaruhi hingga 30% orang dewasa dan hingga 40% anak-anak, dan pada umumnya lebih dari separuh populasi negara positif mengidap satu atau lebih alergen. Kondisi ini juga penyebab utama keenam penyakit kronis dan alasan paling sering anak tidak datang ke sekolah.

Alergi
Urtikaria sebagai salah satu Alergi (Sumber:By James Heilman, MDOwn work, CC BY-SA 3.0, Link)

 

Data-Data Terkait Kejadian Alergi

  • Hingga 50 juta orang Amerika menderita alergi musiman, terutama rinitis alergi musiman atau demam hay.
  • Alergi serbuk sari umumnya berkembang antara usia 6 dan 13 tahun.
  • Sekitar 15 juta orang Amerika memiliki alergi makanan, termasuk sekitar 8% anak balita dan 4% orang dewasa.
  • Insiden alergi makanan telah meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
  • Kacang adalah alergi makanan yang paling umum dan yang paling parah, diikuti dengan makanan laut.
  • Alergi makanan mencakup sekitar 200.000 kunjungan ruang gawat darurat Amerika serikat setiap tahun dan hampir 10.000 rawat inap.
  • Alergi merupakan 5% -10% dari semua reaksi obat yang merugikan, dengan reaksi kulit yang paling umum.
  • Sekitar seperlima dari semua anak alergi terhadap beberapa jenis obat, seringkali penisilin, obat sulfa, atau aspirin.
  • Sekitar 15% orang dewasa memiliki reaksi alergi ringan dan terlokalisasi terhadap gigitan dan sengatan serangga, dan 3% alergi serius terhadap racun serangga, meskipun reaksi racun parah jarang terjadi pada anak-anak.
  • Urtikaria mempengaruhi hingga 20% orang di beberapa titik dalam kehidupan mereka.
  • Sekitar 8,8 juta anak-anak Amerika menderita alergi kulit, yang paling umum pada anak-anak berusia empat tahun ke bawah dan pada anak-anak Afrika-Amerika.
  • Dermatitis kontak alergi adalah kondisi kulit yang paling umum pada anak di bawah 11 tahun dan telah meningkat secara signifikan di antara anak-anak dalam beberapa dekade terakhir.
  • Dermatitis kontak juga merupakan salah satu penyakit kulit yang paling umum pada orang dewasa, serta penyakit akibat kerja yang paling umum.
  • Alergi lateks memengaruhi 1%-6% populasi, termasuk 8%-12% dari petugas kesehatan.
  • Asma, yang dapat dipicu oleh banyak alergen yang berbeda
  • Anafilaksis adalah reaksi alergi yang mengancam jiwa terhadap makanan, sengatan serangga, dan terutama obat-obatan.
  • Insiden alergi dan asma meningkat di negara-negara industri sekitar 5% setiap tahun, dengan hingga setengahnya meningkat pada anak-anak.

 

Faktor Risiko Alergi

Meskipun alergi spesifik tidak diwariskan, kecenderungan bawaan untuk mengembangkan alergi adalah satu-satunya faktor risiko yang paling penting.

  • Seorang anak memiliki 10% -20% risiko mengembangkan reaksi hipersensitivitas jika tidak ada orang tua yang memiliki riwayat yang sama
  • Seorang anak dengan satu orang tua dengan riwayat reaksi hipersensitivitas memiliki risiko 30%-50%
  • Kemungkinan anak mengalami kondisi ini akan meningkat hingga 40%-75% jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi

 

Paparan berulang terhadap alergen tertentu atau paparan yang lama terhadap alergen kuat merupakan faktor risiko spesifik. Faktor risiko lain pada anak termasuk:

  • berat badan lahir rendah
  • dilahirkan selama musim serbuk sari tinggi
  • tidak mendapatkan ASI ekslusif
  • paparan asap tembakau
  • pajanan terhadap hewan peliharaan

 

Penyebab dan Gejala Alergi

Jalur Proses Terjadinya Alergi
Jalur Proses Terjadinya Alergi (Sumber:By SariSabban Sabban, Sari (2011) Development of an in vitro model system for studying the interaction of Equus caballus IgE with its high- affinity FcεRI receptor (PhD thesis), The University of Sheffield, CC BY-SA 3.0, Link)

 

Predisposisi genetik terhadap reaksi hipersensitivitas setelah terpapar antigen spesifik disebut atopi.

 

Setelah lahir, interaksi hereditas dan lingkungan menyebabkan sistem kekebalan menjadi rawan non-alergi (TH1) atau rawan alergi (TH2).

 

Sel-sel TH1 adalah sel T-helper yang melawan bakteri dan virus dan melindungi dari alergi.

 

Sel T-helper TH2 melawan infeksi parasit dan meningkatkan produksi IgE berlebihan, meningkatkan kemungkinan alergi.

 

Imunitas TH2 jauh lebih mungkin untuk diaktifkan pada anak-anak dengan riwayat alergi keluarga.

 

Namun, anak-anak tidak selalu peka terhadap alergen yang sama dengan orang tua mereka; mereka mungkin hanya mewarisi kecenderungan untuk menghasilkan lebih banyak IgE.

 

Mereka juga harus terpapar alergen spesifik yang rentan secara genetik dan, mungkin, pada tingkat ambang batas dan lamanya pemaparan terhadap alergen.

Tingkat IgE yang tinggi meningkatkan kemungkinan sensitivitas terhadap beberapa alergen.

 

Anak-anak dengan mutasi gen yang mengganggu fungsi enzim yang disebut A20 lebih mungkin untuk mengembangkan alergi dan asma, dan A20 telah ditemukan kurang aktif di paru-paru orang dewasa dengan asma.

 

Video singkat terkait dengan alergi dapat dilihat pada halaman berikut.

Penyebab kondisi hipersensitivitas mengancam jiwa (Anafilaksis)

anafilaksis
Gejala Anafilaksis (Sumber: Mikael Häggström [CC0], via Wikimedia Commons)
Anafilaksis adalah reaksi hipersensitivitas yang dimediasi IgE yang ditimbulkan oleh mediator yang dilepaskan oleh sel mast dalam jaringan dan oleh basofil dalam darah.

 

Mediator ini dapat menyebabkan penyempitan jalan napas, penurunan tekanan darah, pembengkakan jaringan yang luas, kelainan irama jantung, dan kadang-kadang kehilangan kesadaran.

 

Gejala anafilaksis lainnya mungkin termasuk pusing, lemah, kejang, batuk, kemerahan, atau kram.

 

Gejala dapat dimulai segera setelah paparan alergen dan biasanya mencapai keparahan puncak dalam 5-30 menit.

 

Atopi telah meningkat secara signifikan di Amerika Serikat selama setengah abad terakhir, karena alasan yang tidak dipahami dengan baik.

 

Alergen lingkungan mungkin telah meningkat, dan faktor-faktor pelindung mungkin telah hilang dari lingkungan.

 

Sebagai contoh, ada bukti yang menunjukkan bahwa peningkatan kebersihan pribadi dan perjuangan dunia melawan penyakit menular dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh.

 

Hipotesis kebersihan yang disebut berteori bahwa kurangnya paparan kuman dan antigen lain di awal kehidupan meningkatkan alergi anak-anak.

 

Perubahan iklim dan perubahan yang menyertai dalam pola vegetasi dan peningkatan produksi serbuk sari juga bisa menjadi faktor yang mempengaruhi.

 

Alergen di Udara

Alergen di udara
Alergen di udara (sumber: pexels.com)

Alergen yang ditularkan melalui udara adalah:

  • serbuk sari tanaman
  • bulu binatang dan bulu
  • bagian tubuh dari tungau debu, yang selalu ada di rumah
  • debu rumah tangga
  • spora jamur
  • kecoak
  • bulu
  • asap rokok
  • bahan kimia
  • pelarut
  • pembersih

 

Serbuk sari dapat menyebabkan rinitis alergi musiman dan kronis.

 

Rinitis musiman terjadi pada waktu yang sama setiap tahun dan disebabkan oleh serbuk sari dari tanaman tertentu, terutama rumput dan pohon di musim semi dan ragweed di akhir musim panas dan gugur.

 

Gejala cenderung memburuk saat musim berlangsung dan sistem kekebalan menjadi peka terhadap antigen tertentu dan menghasilkan respons yang lebih cepat dan lebih kuat.

 

Rinitis alergi kronis atau tahunan dapat disebabkan oleh tungau debu, bulu binatang, kecoak, dan/atau spora jamur.

Alergen di udara menyebabkan reaksi hipersensitivitas langsung di saluran udara bagian atas dan mata.

 

Gejalanya meliputi bersin, pilek, hidung tersumbat, dan tenggorokan gatal atau teriritasi karena tetesan postnasal.

 

Peradangan pada selaput tipis (konjungtiva) yang menutupi mata menyebabkan kemerahan, iritasi, dan meningkatnya robekan konjungtivitis alergi.

 

Asma adalah gangguan pernapasan kronis dan reversibel yang disebabkan oleh obstruksi dan pembengkakan saluran udara.

 

Gejala asma termasuk batuk, mengi, sesak napas, sesak dada, kelelahan, dan kecemasan.

 

Asma dapat dipicu oleh alergen seperti serbuk sari, bulu binatang, debu, bagian kecoa, dan makanan tertentu, serta oleh iritan non-alergen.

 

Alergi Makanan

Alergi Makanan
Makanan Penyebab Alergi (David Castor (dcastor) [CC BY-SA 3.0], via Wikimedia Commons)
Kondisi ini paling umum terjadi pada anak kecil, dan juga dapat berlanjut hingga dewasa. Alergen makanan umum adalah:

  • susu sapi
  • telur
  • biji-bijian seperti gandum atau jagung
  • kacang-kacangan, terutama kacang tanah, kacang kenari, dan kacang Brazil
  • ikan, moluska, dan kerang
  • kedelai
  • beberapa buah, terutama buah berbiji mentah
  • beberapa sayuran, terutama tomat atau kacang-kacangan seperti kacang polong atau kacang-kacangan
  • cokelat
  • rempah-rempah tertentu
  • bahan aditif dan pengawet makanan

 

Sebagian besar kondisi ini dimediasi oleh IgE, yang dihasilkan dari paparan kulit atau saluran pencernaan terhadap alergen dalam makanan.

 

Perbedaan dengan intoleransi makanan

Sebagian kecil dari kondisi ini dimediasi sel-T. Alergi makanan berbeda dari intoleransi makanan.

 

Misalnya, alergi susu disebabkan oleh sensitivitas terhadap alergen (seringkali protein laktalbumin) dalam susu.

 

Sebaliknya, orang yang kekurangan enzim laktase memiliki intoleransi laktosa. Suatu ketidakmampuan untuk mencerna salah satu gula dalam susu.

 

Perbedaan dengan intoleransi gluten

Demikian juga, alergi biji-bijian berbeda dari intoleransi gluten, yang mengiritasi saluran pencernaan, dan penyakit celiac, yang merupakan kelainan autoimun yang diturunkan yang disebabkan oleh gluten dalam gandum, barley, dan gandum hitam.

 

Gejala Alergi Makanan

Gejala kondisi ini tergantung pada jaringan yang paling sensitif terhadap alergen dan apakah alergen telah menyebar secara sistemik melalui sistem peredaran darah.

 

Alergen makanan dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas langsung yang meliputi gatal, bengkak, dan/atau ruam mata, bibir, mulut, dan tenggorokan.

 

Kondisi ini juga dapat menyebabkan gejala pernapasan.

 

Pembengkakan dan iritasi pada lapisan usus dapat menyebabkan mual, muntah, kram, diare, dan gas.

 

Ketika alergen makanan memasuki aliran darah dari saluran pencernaan, mereka dapat menyebabkan gatal-gatal, dermatitis atopik, atau reaksi yang lebih parah seperti angioedema.

 

Beberapa alergen makanan dapat menyebabkan anafilaksis.

 

Reaksi terhadap kacang dan kacang-kacangan lainnya bisa sangat berbahaya sehingga banyak kantin sekolah membatasi atau melarangnya, karena bahkan mencium atau menyentuh kacang dapat menyebabkan reaksi alergi yang parah pada beberapa anak.

 

Alergi obat dan racun

Alergi obat
Ilustrasi Obat Penyebab Alergi (Sumber: pexels.com)

Alergen yang disuntikkan dari obat-obatan atau gigitan serangga dan sengatan dimasukkan langsung ke dalam sirkulasi di mana mereka dapat menyebabkan reaksi lokal, seperti pembengkakan dan iritasi di tempat suntikan, dan reaksi sistemik (sistemik), termasuk anafilaksis.

 

Penisilin dan antibiotik lain, vaksin flu, dan gamma globulin adalah obat yang sering menyebabkan reaksi alergi.

 

Serangga Penyebab Reaksi Hipersensitivitas

Serangga dan arthropoda lain yang gigitan dan sengatannya dapat menyebabkan berbagai reaksi alergi termasuk:

  • tawon dan lebah
  • nyamuk
  • kutu
  • semut api
  • tomcat

 

Gejala reaksi hipersensitivitas racun serangga meliputi:

  • gatal-gatal
  • mata gatal
  • batuk kering
  • penyempitan tenggorokan dan sesak napas
  • mual
  • pusing
  • sakit perut

 

Alergi kulit

Ada tiga jenis utama reaksi hipersensitivitas pada kulit, yaitu:

  1. dermatitis atopik atau eksim
  2. gatal-gatal atau biduran (urtikaria)
  3. dermatitis kontak

 

Dermatitis Atopik

dermatitis atopik
Dermatitis atopik (sumber: The original uploader was Eisfelder at German Wikipedia. [CC BY-SA 3.0], via Wikimedia Commons)
Dermatitis atopik atau eksim adalah reaksi kulit terhadap alergen yang masuk melalui kulit, saluran udara, atau saluran pencernaan.

 

Eksim sering terjadi pada bayi dan anak-anak dengan riwayat keluarga alergi dan biasanya tumbuh terlalu besar pada usia enam tahun.

 

Biasanya terjadi dalam siklus, dimulai dengan kulit kering, gatal yang menjadi meradang ketika digaruk, diikuti oleh luka yang kemudian mengeras.

 

Pada tahap kronis, kulit yang terkena menjadi menebal, kasar, dan bersisik.

 

Eksim paling sering terjadi pada pipi, telinga, leher, dan lipatan dalam siku dan lutut, tetapi juga dapat mempengaruhi bagian tubuh lainnya.

 

Lebih dari setengah anak-anak dengan dermatitis atopik juga menderita asma.

 

Biduran (urtikaria)

Biduran adalah reaksi kulit sistemik yang ditandai dengan bercak-bercak yang terangkat, merah, gatal dengan berbagai ukuran di mana saja di tubuh, tetapi terutama pada perut, dada, lengan, tangan, dan wajah.

 

Seluruh tubuh atau reaksi sistemik dapat terjadi dengan semua jenis alergen tetapi lebih umum terjadi setelah konsumsi atau injeksi makanan atau obat.

 

Angioedema adalah reaksi yang lebih dalam, lebih luas, dan menyakitkan, di mana akumulasi cairan dapat menyebabkan pembengkakan berulang pada kulit, kelopak mata, bibir, selaput lendir, alat kelamin, otak, dan organ lainnya.

 

Namun, angioedema paling sering terjadi pada ekstremitas, jari tangan, jari kaki, dan bagian kepala, leher, dan wajah.

 

Gatal-gatal dan angioedema biasanya merupakan kondisi akut, meskipun kadang-kadang dapat bertahan selama berminggu-minggu.

 

Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak memiliki gejala dimulai dengan kuli memerah, gatal, dan melepuh karena kontak kulit dengan alergen.

 

Dermatitis kontak kadang-kadang memiliki pola pengidentifikasian, seperti garis anting-anting atau sarung tangan lateks.

 

Sekitar 3.000 zat yang berbeda dikenal sebagai alergen kontak, termasuk:

  • racun ivy, oak, sumac, dan tanaman lainnya — alergen kulit yang paling umum
  • nikel, paduan nikel, dan logam lainnya
  • bahan kimia, termasuk pewarna
  • kosmetik dan deodoran
  • getah
  • kecoak dan tungau debu
  • makanan tertentu

 

Diagnosis Alergi

Pemeriksaan

Kondisi ini sering dapat didiagnosis dengan riwayat medis yang cermat yang menghubungkan timbulnya gejala dengan paparan terhadap alergen yang dicurigai, serta riwayat alergi keluarga.

 

Pemeriksaan Penunjang

Tes Alergi
Tes Tusuk Kulit Untuk Penilaian Alergi (Sumber: National Institutes of Health (NIH) [Public domain], via Wikimedia Commons)
Tes alergi dapat mengidentifikasi alergen potensial, tetapi hasilnya harus didukung oleh bukti respons alergi.

 

Tes tusuk atau gores kulit dengan dosis kecil dari ekstrak alergen yang dicurigai ke dalam kulit, biasanya di bagian belakang, lengan, atau paha atas.

 

Tes kulit intradermal menyuntikkan alergen ke lapisan luar kulit.

 

Tes intradermal lebih sensitif dan menggunakan jumlah alergen yang lebih sedikit, sehingga dapat digunakan dengan alergen yang berpotensi fatal seperti antibiotik.

 

Reaksi biasanya dievaluasi sekitar 20 menit setelah paparan.

 

Alergen dapat menghasilkan respons imun dan  ruam (flare) imun klasik: lesi kulit dengan area yang terangkat, putih, dan dapat dikompresi, dikelilingi oleh ruam merah.

 

Reaksi kulit yang positif akan terjadi bahkan jika alergen biasanya ditemui di saluran udara atau saluran pencernaan.

 

Pengujian kulit dapat menghasilkan positif palsu dan, kadang-kadang, reaksi alergi yang serius.

 

Jenis-jenis tes alergi lainnya

Ada berbagai tes alergi lainnya.

  • Tes tempel digunakan untuk mendiagnosis dermatitis kontak. Sejumlah kecil alergen potensial ditempatkan pada kulit dan ditutupi dengan perban. Reaksi positif adalah ruam yang muncul dalam 48 jam.
  • Tes provokasi dilakukan dengan pemberian alergen melalui rute normal dalam kondisi yang terkendali secara medis. Sebagai contoh, alergen makanan yang dicurigai dapat dicerna dalam kapsul setelah tidak ada paparan atau pantang mengonsumsi alergen yang dicurigai selama dua minggu atau lebih. Hasilnya dibandingkan dengan respons terhadap konsumsi plasebo. Tes provokasi tidak pernah digunakan ketika ada kemungkinan anafilaksis.
  • Total IgE dalam serum darah dapat diukur; Namun, ada tumpang tindih yang cukup dalam kadar serum IgE di antara orang dengan dan tanpa alergi. Kondisi non-alergi, termasuk merokok, HIV/AIDS, infeksi parasit, dan IgE myeloma, dapat meningkatkan kadar IgE.
  • IgE spesifik alergen dapat diukur dengan menginkubasi serum pasien dengan alergen yang dicurigai dengan dukungan padat. Uji radioallergosorbent (RAST), multiple radioallergosorbent test (MAST), dan radioimmunosorbent test (RIST) menggunakan antibodi anti-IgE radioaktif untuk mendeteksi ikatan. Uji immunosorbent terkait enzim (ELISA) menggunakan antibodi anti-IgE terkait dengan enzim. CAP-RAST mengukur jumlah IgE dalam darah yang spesifik untuk makanan tertentu.
  • Pengujian elektrodermal atau uji alergi akupuntur elektrik menerapkan potensi listrik pada kulit dan mengukur perubahan resistensi listrik setelah terpapar alergen yang dicurigai.

 

Pengobatan Alergi

Pengobatan alergi yang paling efektif adalah menghindari alergen tertentu.

 

Walaupun ini biasanya dilakukan dengan alergen makanan, bisa jadi sulit untuk menghindari jenis alergen lain.

 

Imunoterapi atau suntikan alergen atau desensitisasi dapat mengubah keseimbangan jenis antibodi dalam tubuh.

 

Pengobatan ini digunakan ketika alergen tidak dapat dihindari, dan obat-obatan tidak dapat menghilangkan gejala.

 

Ekstrak alergen disuntikkan ke kulit dalam jumlah yang meningkat secara bertahap selama beberapa minggu, bulan, atau tahun, dengan suntikan penguat sesekali.

 

Jumlah alergen terlalu kecil untuk memicu respons alergi, meskipun pasien dipantau secara ketat setelah setiap suntikan karena risiko kecil anafilaksis.

 

Lebih dari 1.200 ekstrak alergen telah disetujui untuk imunoterapi.

 

Imunoterapi paling efektif untuk rinitis alergi dan racun serangga.

 

Beberapa ahli merekomendasikan imunoterapi pencegahan untuk anak-anak yang memiliki reaksi parah terhadap sengatan serangga.

 

Namun, imunoterapi mungkin memerlukan pengobatan selama beberapa tahun untuk manfaat penuh, dan sekitar satu dari lima pasien tidak merespons sama sekali.

 

Imunoterapi biasanya tidak efektif untuk bulu, makanan, atau alergi obat atau untuk eksim atau biduran.

 

Obat

Ada banyak obat bebas dan resep untuk mengobati reaksi hipersensitivitas secara langsung.

 

Sebagian besar bekerja dengan mengganggu aktivitas histamin.

 

Obat yang lain menangkal efek histamin dengan menstimulasi sistem lain atau dengan mengurangi respons imun secara umum.

 

Obat-obatan tersedia dalam bentuk pil, cairan, semprotan hidung, obat tetes mata, dan krim kulit.

 

Obat yang tepat tergantung pada gejala dan kesehatan keseluruhan pasien. Seorang dokter dapat merekomendasikan mencoba berbagai obat untuk menentukan mana yang paling efektif dengan efek samping paling sedikit.

 

Antihistamin/dekongestan

Antihistamin dan dekongestan adalah pengobatan paling umum untuk alergi, termasuk rinitis, ruam, dan gatal-gatal.

 

Antihistamin

Antihistamin memblokir reseptor histamin, sehingga mengurangi efek histamin yang dilepaskan oleh sel mast.

 

Obat ini dapat digunakan setelah gejala muncul, meskipun mereka mungkin lebih efektif ketika digunakan secara preventif, sebelum gejala muncul.

 

Antihistamin membantu mengurangi bersin, gatal, dan pilek (rinore).

 

Obat tetes mata resep mengandung antihistamin yang dapat mengurangi gejala mata alergi.

 

Antihistamin generasi pertama meliputi diphenhydramine (Benadryl dan obat generik), chlorpheniramine (Chlor-trimeton dan obat generik), brompheniramine, dan clemastine.

 

Mengantuk bisa menjadi efek samping utama dari obat generasi pertama.

 

Obat ini juga dapat menyebabkan pusing, mulut kering, takikardia, penglihatan kabur, sembelit, dan ambang batas kejang yang lebih rendah.

 

Antihistamin generasi baru yang tidak menyebabkan kantuk atau melewati sawar darah-otak termasuk:

  • loratadine
  • setirizin
  • fexofenadine
  • desloratadine
  • azelastine

 

Dekongestan

Dekongestan menyempitkan pembuluh darah di mukosa nasofaring dan sinus, mengurangi pembengkakan dan mengurangi hidung tersumbat dan sinus.

 

Obat ini tersedia sebagai persiapan sistemik oral dan semprotan hidung.

 

Dekongestan adalah stimulan dan dapat menyebabkan peningkatan detak jantung dan tekanan darah, sakit kepala, insomnia, agitasi, dan kesulitan mengosongkan kandung kemih.

 

Penggunaan dekongestan hidung selama lebih dari tiga hari dapat berakibat pada hilangnya keefektifan dan peningkatan sumbatan di mana saluran hidung menjadi semakin membengkak.

 

Pengubah sistem kekebalan tubuh

Cromolyn sodium adalah stabilisator sel mast nonsteroid yang mencegah pelepasan granula sel mast yang mengandung histamin dan bahan kimia lainnya.

 

Obat ini dapat dimulai beberapa minggu sebelum dimulainya musim alergi sebagai pengobatan pencegahan.

 

Obat ini juga dapat digunakan untuk pencegahan alergi sepanjang tahun.

 

Cromolyn sodium tersedia sebagai semprotan hidung untuk mengobati rinitis alergi dan dalam bentuk aerosol untuk asma.

 

Jenis-jenis obat alergi yang lebih baru termasuk:

  • pengubah IgE omalizumab yang mengganggu aksi sel mast
  • pengubah leukotrien atau antileukotrien termasuk zafirlukast, montelukast, dan zileuton (Zyflo) yang memblok kerja leukotrien (zat inflamasi yang dilepaskan oleh sistem kekebalan tubuh selama reaksi alergi)
  • salep topikal imunomodulator, termasuk pimecrolimus dan tacrolimus, yang mengganggu mekanisme sel yang menghasilkan respons inflamasi
  • ekstrak alergen untuk rinitis alergi, termasuk ekstrak serbuk sari rumput (Oralair dan Grastek), ekstrak serbuk sari ragweed (Ragwitek untuk orang dewasa saja), dan ekstrak tungau debu rumah (Odactra hanya untuk orang dewasa)

 

Kortikosteroid

Kortikosteroid membantu mencegah dan mengobati peradangan yang berhubungan dengan alergi dengan mengurangi perekrutan sel-sel inflamasi dan sintesis bahan kimia sistem kekebalan yang disebut sitokin.

 

Penelitian telah menunjukkan bahwa semprotan hidung steroid lebih efektif berdasarkan kebutuhan untuk alergi musiman daripada antihistamin.

 

Walaupun gatal-gatal dan angioedema biasanya diobati dengan antihistamin, kromolin, atau epinefrin, kasus-kasus yang sulit ditangani dapat diobati dengan kortikosteroid oral.

 

Kortikosteroid juga digunakan untuk mencegah dan mengendalikan serangan asma.

 

Kortikosteroid topikal mengurangi selaput lendir dan peradangan kulit dengan mengurangi jumlah cairan yang bergerak dari ruang pembuluh darah ke jaringan.

 

Krim kortikosteroid topikal efektif untuk dermatitis kontak, meskipun terlalu sering dapat menyebabkan kulit kering dan bersisik.

 

Kortikosteroid yang cukup kuat dapat diaplikasikan sebagai bungkus selama 24 jam.

 

Terapi kortikosteroid oral jangka pendek mungkin sesuai untuk dermatitis kontak akut. Efek samping biasanya ringan.

 

Bronkodilator

Karena reaksi alergi yang melibatkan paru-paru menyebabkan saluran udara atau saluran bronkial menyempit, bronkodilator yang mengendurkan otot polos untuk melebarkan saluran udara bisa sangat efektif untuk mengobati serangan asma. Bronkodilator meliputi:

  • epinefrin
  • Albuterol
  • pirbuterol
  • teofilin
  • stimulan adrenergik lainnya

 

Sebagian besar bronkodilator diberikan sebagai aerosol.

 

Teofilin biasanya diminum tetapi dapat diberikan secara intravena untuk serangan asma yang parah.

 

Bronkodilator sering diberikan melalui inhaler takaran terukur (MDI).

 

Keadaan darurat anafilaksis diobati dengan injeksi epinefrin, yang melemaskan otot dan membantu membuka saluran udara.

 

Orang yang rentan terhadap anafilaksis karena alergi makanan atau serangga sering membawa Epipen untuk injeksi epinefrin segera ke paha.

 

Pengobatan Alternatif

Berbagai pengobatan alternatif dapat membantu meringankan gejala alergi, tetapi ada sedikit bukti untuk efektivitasnya.

  • Pengobatan Tiongkok tradisional menggunakan obat kombinasi untuk mencegah dan mengobati rinitis alergi dan obat herbal, krim topikal, dan mencuci untuk ruam dan dermatitis atopik. Obat yang mengandung ephedra (ma huang) tidak boleh digunakan karena risiko kesehatan yang parah.
  • Berbagai obat homeopati disarankan untuk sumbatan hidung, sengatan serangga, gatal-gatal, dan ruam.
  • Akupunktur mungkin sama efektifnya dengan antihistamin untuk mengobati rinitis alergi dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.
  • Vitamin antioksidan dan A, E, koenzim Q10, dan seng dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh normal tetapi tidak akan mengurangi alergi atau gejala alergi.
  • Echinacea spp. mungkin memiliki aktivitas anti-inflamasi dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
  • Astragalus membranaceus dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh tetapi tidak akan mengurangi alergi atau gejala alergi.
  • Vitamin C memiliki aktivitas antihistamin dan dekongestif.
  • Ekstrak sengatan jelatang (Urtica dioica) dan anggur (Vitis vinifera) memiliki sifat antihistamin dan antiinflamasi.
  • Bioflavonoid hesperidin dan quercetin dapat membantu menstabilkan sel mast.
  • Suplemen makanan N-asetilsistein mungkin memiliki aktivitas dekongestif.
  • Licorice (Glycyrrhiza glabra) memiliki aktivitas anti-inflamasi seperti kortison untuk menghilangkan gejala alergi.
  • Kulit kepala Cina (Scutellaria baicalensis), khellin (Ammi visnaga), dan kulit kram (Viburnum opulus) memiliki aktivitas bronkodilatasi.

 

Solusi Pengobatan Rumahan

Obat yang paling penting untuk alergi adalah menghindari atau menghilangkan alergen, termasuk mengendalikan debu rumah tangga, menghilangkan binatang peliharaan dan barang-barang seperti bantal bulu, dan menghilangkan makanan alergen dari makanan.

 

Membilas saluran hidung dengan larutan garam (NaCl 0,9%) bisa seefektif dekongestan.

 

Eksim diobati dengan menjaga kulit dilumasi dengan lotion hypoallergenic dan sabun lembut.

 

Untuk kulit yang sangat kering dan sensitif, lotion Cetaphil dapat digunakan sebagai pembersih daripada sabun.

 

Kompres air dingin dan lotion kalamin dapat membantu mengurangi iritasi akibat dermatitis kontak.

 

Prosedur desensitisasi oral kadang-kadang digunakan untuk anak-anak yang alergi terhadap susu, telur, ikan, atau apel.

 

Anak-anak terpapar pada makanan alergi dalam jumlah yang dikontrol dengan hati-hati, sehingga membantu mereka mengembangkan toleransi.

 

Prognosa

Alergi dapat berubah seiring waktu: kadang-kadang membaik tetapi sering memburuk.

 

Dermatitis atopik bayi hampir selalu menghilang.

 

Anak-anak kecil seringkali tumbuh melampaui alergi makanan berbahaya terhadap susu, telur, gandum, dan kedelai, meskipun anak-anak yang mengembangkan alergi makanan setelah usia tiga tahun lebih kecil kemungkinannya untuk berkembang.

 

Alergi terhadap makanan seperti kacang pohon, ikan, dan makanan laut umumnya seumur hidup.

 

Lebih dari separuh anak-anak mengatasi asma, dan 10% lainnya membaik ke titik di mana mereka hanya mengalami serangan sesekali saat dewasa.

 

Namun, kehilangan alergi yang jelas paling sering disebabkan oleh berkurangnya paparan alergen atau meningkatnya toleransi terhadap gejala.

 

Alergi ragweed anak-anak dapat berkembang menjadi alergi debu dan serbuk sari sepanjang tahun.

 

Terkadang alergi hilang hanya untuk kembali bertahun-tahun kemudian. Sebagian besar gejala alergi dapat berhasil diobati dengan obat-obatan, tetapi obat-obatan biasanya tidak mencegah reaksi alergi di masa depan.

 

Namun, suntikan alergi dapat mengurangi gejala demam pada sekitar 85% pasien.

 

Referensi

Buku

  1. Allergies Sourcebook. 5th ed. Detroit: Omnigraphics, 2016.
  2. Bassett, Clifford W. The New Allergy Solution: Supercharge Resistance, Slash Medication, Stop Suffering. New York: Avery, 2017.
  3. Galland, Leo, and Jonathan Galland. The Allergy Solution: Unlock the Surprising, Hidden Truth About Why You Are Sick and How to Get Well. Carlsbad, CA: Hay House, 2016.
  4. Mindell, Earl, and Pamela Wartian Smith. What You Must Know About Allergy Relief: How to Overcome the Allergies You Have & Find the Hidden Allergies That Make You Sick. Garden City Park, NY: Square One, 2016.
  5. Pompa, Robin Nixon. Allergy-Free Kids: The Science-Based Approach to Preventing Food Allergies. New York: William Morrow, 2017.
  6. Schwartz, Mireille. When Your Child has Food Allergies: A Parent’s Guide to Managing It All, from the Everyday to the Extreme. New York: AMACOM, 2017.

 

Website

  1. American College of Allergy, Asthma & Immunology. “Allergic Reactions.”http://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/library/at-a-glance/allergic-reactions
  2. American College of Allergy, Asthma & Immunology. “Allergy” February 18, 2016.http://acaai.org/news/facts-statistics/allergies.aspx 
  3. Asthma and AllergyFoundation of America. “Allergies.” September 2015.http://www.aafa.org/page/allergies.aspx⊂=15 .
  4. National Institute of Allergyand Infectious Diseases. “Food Allergy.” March 27, 2017.https://www.niaid.nih.gov/diseases-conditions/food-allergy 
  5. S. Food and Drug Administration. “AllergyRelief for Your Child.” For Consumers. June 1, 2017.https://www.fda.gov/forconsumers/consumerupdates/ucm273617.htm 
Featured Image Penyakit Menular Seksual

Segala Hal Tentang Penyakit Menular Seksual

Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan lebih dari 20 infeksi berbeda yang ditularkan melalui pertukaran sperma, darah, dan cairan tubuh lainnya atau melalui kontak langsung dengan area tubuh orang yang sudah menderita PMS.

 

Sesuai dengan namanya, PMS biasanya ditularkan dari satu orang ke orang selama hubungan seksual.

 

Penyakit menular seksual juga disebut Infeksi menular seksual (IMS) dan penyakit kelamin.

 

Deskripsi Penyakit Menular Seksual

Lebih dari 30 bakteri, parasit, dan virus yang berbeda, diketahui ditularkan melalui hubungan seks, termasuk seks anal dan oral serta hubungan seks vagina.

 

Penyakit ini juga dapat ditularkan dengan menggunakan jarum yang tidak disterilkan (sering ketika digunakan untuk injeksi obat-obatan terlarang), selama kehamilan dan persalinan (dari ibu ke bayi), dan dari transfusi darah.

 

Delapan dari patogen (kuman penyebab penyakit) pada penyakit ini menghasilkan jumlah terbesar penyakit menular seksual.

 

Di seluruh dunia, empat PMS di antaranya tidak dapat disembuhkan (virus hepatitis B [HBV], virus herpes simpleks [HSV, biasa disebut herpes], virus human immunodeficiency [HIV], dan human papillomavirus [HPV]).

 

Empat dari PMS ini dapat disembuhkan (klamidia, gonore, sifilis, dan trikomoniasis).

 

Beberapa IMS yang paling umum terjadi dan berpotensi menjadi penyakit serius meliputi:

 

  1. Chlamydia

PMS ini disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis, organisme mikroskopis yang hidup sebagai parasit di dalam sel manusia. Pada 2015, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), ada lebih dari 1,5 juta kasus klamidia baru yang dilaporkan di Amerika Serikat, yang berarti bahwa klamidia memengaruhi sekitar 479 dari setiap 100.000 orang.

 

Insiden klamidia terus meningkat sejak tahun 2001. CDC melaporkan klamidia menjadi PMS paling umum di Amerika Serikat dari tahun 1994 hingga 2015.

 

Sekitar 40% wanita dengan klamidia akan mengembangkan penyakit radang panggul (PID), penyebab utama dari infertilitas. Chlamydia dapat menyebabkan masalah serius pada anus, mata, leher rahim, tenggorokan, uretra, dan vagina.

 

  1. Human papillomavirus (HPV)

HPV menyebabkan kutil kelamin, dan infeksi HPV adalah faktor risiko terpenting untuk kanker serviks pada wanita.

 

Lebih dari 100 jenis HPV ada, tetapi hanya sekitar 30 di antaranya yang dapat menyebabkan kutil kelamin.

 

Virus ini tersebar luas melalui kontak seksual. Dalam beberapa kasus, HPV ditularkan dari ibu ke anak saat melahirkan, yang mengarah ke kondisi yang berpotensi mengancam jiwa bagi bayi baru lahir di mana kutil berkembang di tenggorokan (laryngeal papillomatosis) yang menyebabkan kesulitan bernapas.

CDC menganggap HPV sebagai infeksi menular seksual yang paling umum. Sekitar 14 juta kasus didiagnosis di Amerika Serikat setiap tahun.

 

Sayangnya, HPV dapat menyebabkan berbagai jenis kanker. Sekitar 19.400 wanita Amerika dan 12.100 pria Amerika setiap tahunnya menderita kanker yang dapat didiagnosis secara langsung berasal dari HPV.

 

  1. Herpes Genitalis

Herpes adalah infeksi virus yang tidak dapat disembuhkan yang dianggap sebagai salah satu PMS paling umum di Amerika Serikat.

 

Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari dua jenis virus herpes simpleks: HSV-1 (umumnya menyebabkan herpes oral) atau HSV-2 (biasanya menyebabkan herpes genital).

 

Pada 2017, CDC memperkirakan bahwa 776.000 orang di Amerika Serikat setiap tahun mendapatkan infeksi herpes baru. Sekitar 15,7% orang Amerika berusia 14 hingga 49 tahun memiliki infeksi HSV-2.

 

Namun, CDC menyatakan bahwa persentase ini lebih tinggi dari yang dilaporkan karena banyak dari infeksi HSV-2 ini disebabkan oleh HSV-1 (yang umumnya tertular pada masa kanak-kanak).

 

Diperkirakan 84% orang berusia 14 hingga 49 tahun tidak pernah memiliki diagnosis klinis infeksi.

 

HSV-2 lebih umum pada wanita daripada pria, masing-masing 20,3% berbanding 10,6%, dan lebih sering terjadi pada orang kulit hitam non-hispanik (39,2%) daripada kulit putih non-hispanik (12,3%).

 

 

  1. Gonorea

Bakteri Neisseria gonore adalah agen penyebab gonore.

 

Penyakit ini dapat menyebar melalui kontak vagina, oral, atau anal. Ini lebih umum di kalangan remaja dan dewasa muda daripada di kelompok usia lainnya di Amerika Serikat.

 

Penyakit ini paling umum pada orang dari 15 hingga 24 tahun, dengan 897,6 laki-laki dari 100.000 dan 1.077,6 perempuan dari 100.000 terinfeksi, seperti yang dilaporkan oleh CDC pada 2016.

 

Pada tahun 2016, CDC melaporkan 468.514 kasus baru gonore, yang berhubungan dengan hingga 145,8 kasus gonore per 100.000 populasi.

 

Jumlah kasus gonore di Amerika Serikat telah menurun secara stabil dari tahun 1975 hingga 1996. Sejak itu (dari 1997 hingga 2016) jumlah kasus secara kasar berkurang.

 

  1. Sifilis

Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini adalah infeksi yang berpotensi mengancam jiwa, yang terjadi dalam tiga tahap (primer, sekunder, dan tersier) yang meningkatkan kemungkinan tertular atau menularkan HIV.

 

CDC menyatakan bahwa laki-laki lebih mungkin untuk mendapatkan sifilis daripada wanita, dan persentase yang sangat besar dari kasus sifilis terjadi dari laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL).

 

Organisasi kesehatan dunia menyatakan bahwa 27.814 kasus sifilis dilaporkan di Amerika Serikat pada 2016.

 

Tingkat sifilis primer dan sekunder meningkat sebesar 17,6% dari 2015 hingga 2016, mencapai 8,7 kasus per 100.000 penduduk. Angka ini adalah yang tertinggi sejak 1993.

 

Dari tahun 2000 hingga 2016, CDC melaporkan bahwa sebagian besar kasus sifilis disebabkan oleh hubungan seksual di antara LSL.

 

Sejumlah kecil kasus berasal dari apa yang disebut sifilis bawaan, atau sifilis yang ditularkan dari ibu ke bayi saat lahir.

 

Sifilis kongenital dapat menyebabkan masalah kesehatan yang tidak dapat dipulihkan atau kematian pada bayi yang dilahirkan oleh wanita dengan sifilis yang tidak diobati.

 

Kejadian sifilis meningkat pada wanita antara tahun 2013 dan 2016. Faktanya, selama 2015-2016 kasusnya meningkat 35,7% pada wanita, sementara hanya meningkat sebesar 14,7% pada pria.

 

Lonjakan kasus sifilis pada wanita ini menjadi perhatian karena peningkatan sifilis primer dan sekunder biasanya berarti peningkatan yang sesuai pada sifilis kongenital.

 

  1. Infeksi human immunodeficiency virus (HIV)

Human immunodeficiency virus (HIV), yang menyerang sel-T (sel CD-4) dalam sistem kekebalan tubuh, dapat menyebabkan sindrom imunodefisiensi  yang didapat (AIDS).

 

CDC memperkirakan bahwa pada 2015 ada sekitar 1,1 juta orang di Amerika Serikat yang hidup dengan HIV, dan sekitar 15% dari mereka (162.500) tidak mengetahui infeksi HIV (yaitu, belum didiagnosis). Pada 2011, ada 49.273 kasus yang dilaporkan.

 

  1. Penyakit Menular Seksual Lainnya

PMS lainnya termasuk chancroid (disebabkan oleh bakteri Haemophilus ducreyi), gonore (bakteri Neisseria gonorrhoeae), dan hepatitis B (disebabkan oleh virus hepatitis B [HBV]).

 

PMS dapat memiliki konsekuensi jangka panjang yang sangat menyakitkan serta masalah kesehatan langsung. PMS dapat menyebabkan:

  • cacat lahir
  • kebutaan
  • kelainan tulang
  • kerusakan otak
  • kanker
  • penyakit jantung
  • kerusakan pada organ wanita kemudian menghasilkan kehamilan ektopik
  • infertilitas dan kelainan lain dari sistem reproduksi
  • keterbelakangan mental karena syphillis bawaan
  • kematian

 

PMS mempengaruhi kelompok populasi tertentu lebih parah daripada yang lain.

 

Wanita, usia muda, dan anggota kelompok minoritas sangat terpengaruh. Wanita dalam kelompok usia berapa pun lebih cenderung mengembangkan komplikasi medis terkait PMS daripada pria.

 

Gejala dan Tanda Penyakit Menular Seksual

Gejala-gejala PMS bervariasi tergantung pada agen penyakit (kebanyakan virus atau bakteri), jenis kelamin pasien, dan sistem tubuh yang terpengaruh.

 

Gejala-gejala beberapa PMS mudah diidentifikasi, sementara yang lain menghasilkan infeksi yang tidak diketahui selama beberapa waktu atau menyebabkan kebingungan karena gejalanya mirip dengan penyakit lain.

 

Pada Sifilis khususnya, gejala dan tanda dapat dikacaukan dengan gangguan mulai dari infeksi mononukleosis hingga reaksi alergi.

 

Selain itu, masa inkubasi kuman penyebab PMS sangat bervariasi.

 

Beberapa kuman menghasilkan gejala yang cukup dekat dengan waktu kontak seksual, seringkali dalam waktu kurang dari 48 jam bagi individu untuk mengenali hubungan antara perilaku seksual dan gejala.

 

Kuman yang lain memiliki masa inkubasi yang lebih lama, sehingga individu tersebut mungkin tidak mengenali gejala awal sebagai gejala infeksi menular seksual.

 

Beberapa gejala IMS memengaruhi alat kelamin dan organ reproduksi:

  • Seorang wanita yang mengalmai PMS mungkin memiliki keluhan perdarahan per vaginam bahkan ketika dia tidak menstruasi, atau mungkin mengalami keputihan yang tidak normal. Vagina terasa panas, gatal, dan bau adalah gejala dan tanda umum, dan wanita juga mungkin mengalami rasa sakit di daerah panggulnya saat berhubungan seks.
  • Keluar cairan dari ujung penis mungkin merupakan tanda bahwa seorang pria mengalami PMS. Laki-laki juga mungkin memiliki sensasi sakit atau terbakar ketika mereka buang air kecil.
  • Mungkin terdapat pembengkakan kelenjar getah bening di dekat pangkal paha.
  • Baik pria maupun wanita dapat mengalami ruam kulit, luka, benjolan, atau lepuh di dekat mulut atau alat kelamin. Pria homoseksual sering mengalami gejala-gejala ini di daerah sekitar anus.

 

Gejala PMS lainnya adalah gejala sistemik, yang artinya memengaruhi tubuh secara keseluruhan. Gejala-gejala ini mungkin termasuk:

  • demam, menggigil, dan gejala mirip flu lainnya
  • ruam kulit menutupi sebagian besar area tubuh
  • nyeri seperti radang sendi atau nyeri pada sendi
  • tenggorokan nyeri dan kemerahan yang berlangsung selama tiga minggu atau lebih

 

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Penyakit Ini?

Seseorang yang aktif secara seksual dan  memiliki gejala IMS harus diperiksa tanpa penundaan oleh salah satu dari petugas kesehatan berikut:

  • seorang spesialis dalam kesehatan wanita (ginekolog)
  • seorang spesialis gangguan saluran kemih dan organ seksual pria (ahli urologi)
  • seorang dokter umum atau keluarga
  • seorang spesialis gangguan kulit (dermatologis) (untuk infeksi yang menyebabkan luka, ruam, atau lesi kulit lainnya)
  • seorang dokter darurat, untuk penyakit serius dan akut

 

Proses diagnostik dimulai dengan pemeriksaan fisik menyeluruh dan riwayat medis terperinci yang mendokumentasikan riwayat seksual pasien dan menilai risiko infeksi.

 

Dokter atau profesional kesehatan lainnya akan:

  • Menjelaskan proses pemeriksaan yang dibutuhkan untuk diagnosis. Pemeriksaan ini termasuk semua tes darah dan tes lain yang mungkin relevan dengan infeksi spesifik, seperti mengoleskan area yang terkena dan termasuk pemeriksaan urine.
  • Menjelaskan hasil pemeriksaan tersebut.
  • Memberikan pasien informasi mengenai perilaku berisiko tinggi dan perawatan atau prosedur yang diperlukan.

 

Profesional kesehatan mungkin menyarankan bahwa pasien yang didiagnosis dengan satu PMS diuji untuk kemungkinan penyakit yang lain, karena dimungkinkan untuk memiliki lebih dari satu PMS pada suatu waktu.

 

Satu infeksi dapat menyembunyikan gejala yang lain atau menciptakan lingkungan yang mendorong pertumbuhan kuman penyebab PMS.

 

Saat ini, sangat penting bagi orang yang HIV-positif dites untuk sifilis juga.

 

Pengobatan Penyakit Menular Seksual

Meskipun perawatan sendiri dapat meringankan beberapa nyeri herpes genital atau kutil kelamin setelah beberapa saat didiagnosis dan dirawat oleh dokter, gejala PMS lainnya memerlukan perhatian medis segera.

 

Antibiotik diresepkan untuk mengobati gonore, klamidia, sifilis, dan PMS lain yang disebabkan oleh bakteri. Meskipun beberapa jenis gonore resisten terhadap antibiotik tertentu.

 

Meskipun diagnosis yang cepat dan perawatan dini biasanya dapat menyembuhkan PMS ini, infeksi baru dapat berkembang jika pajanan berlanjut atau terjadi infeksi baru.

 

Infeksi virus dapat diobati secara simtomatis dan mungkin dengan obat antivirus.

 

Prognosis Penyakit Menular Seksual

Prognosis untuk pemulihan dari PMS bervariasi di antara berbagai penyakit. Prognosis untuk pemulihan dari gonore, sifilis, dan PMS lain yang disebabkan oleh bakteri umumnya baik, asalkan penyakit tersebut didiagnosis lebih awal dan segera diobati.

 

Sifilis yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi dan kecacatan jangka panjang, sementara sifilis tersier (tahap akhir) dapat melumpuhkan secara permanen dan menyebabkan kematian.

 

PMS karena virus (herpes genital, kutil kelamin, HIV) tidak dapat disembuhkan tetapi harus diobati secara jangka panjang untuk menghilangkan gejala dan mencegah komplikasi yang mengancam jiwa.

 

Referensi
pencarian jurnal kedokteran indonesia

Tips dan Trik Pencarian Jurnal PubMed

Untuk menulis artikel kesehatan atau artikel ilmiah yang baik Anda tidak hanya harus menghabiskan berjam-jam menulis tetapi juga melibatkan berjam-jam mencari dan membaca jurnal kedokteran. Salah satu literatur kedokteran terbaik dapat ditemukan pada jurnal PubMed.

mencari jurnal
(Sumber: pixabay.com)

Menemukan jurnal kedokteran berkualitas tinggi dan melakukan penelitian untuk menyelesaikan tugas ilmiah Anda membutuhkan pencarian jurnal PubMed yang akurat dan spesifik terkait dengan topik yang sedang Anda tulis.

 

Selain itu, Anda juga harus mencari penelitian yang relevan, dirancang dengan baik, dan diterbitkan dalam jurnal kedokteran terkemuka (impact factor tinggi).

 

PubMed merupakan salah satu database jurnal kedokteran online terbesar.

 

Jurnal PubMed sering digunakan oleh orang-orang atau penulis artikel ilmiah untuk mencari literatur medis dengan topik tertentu.

 

Jika Anda menggunakan jurnal PubMed secara teratur untuk mencari bukti berkualitas tinggi.

 

Anda mungkin menghabiskan banyak waktu yang tidak perlu dan membaca berbagai abstrak jurnal PubMed yang tidak terhitung jumlahnya.

 

Anda akan sering kali menemukan jurnal medis yang tidak relevan.

 

Terlepas apakah Anda baru mengenal database jurnal kedokteran atau artikel medis yang diterbitkan PubMed atau telah lama menggunakan database kedokteran sejak belajar di universitas.

 

Ada beberapa tips pencarian yang membantu Anda untuk menghemat waktu menemukan artikel berkualitas untuk penulisan artikel ilmiah Anda.

 

Pertama, Apa Itu Jurnal PubMed?

Jika Anda sering menggunakan PubMed sebagai mesin pencari jurnal kedokteran Anda.

 

Akan sangat berguna untuk menyegarkan pikiran kita bagaimana mesin pencari jurnal kedokteran ini bekerja.

 

PubMed merupakan salah satu platform mesin pencari jurnal kedokteran gratis dan berbayar dari MEDLINE.

 

MEDLINE merupakan database jurnal kedokteran yang mengindeks sebagian besar artikel medis dan ilmiah yang diterbitkan secara global dan disusun oleh U.S. National Library of Medicine (NLM).

 

Salah satu fitur MEDLINE yang membantu dalam pencarian jurnal kedokteran adalah artikel yang diindeks oleh NLM menggunakan Medical Subject Headings (MeSH).

 

MeSH merupakan salah satu alat hebat yang dapat menghemat waktu dan membantu Anda untuk menemukan jurnal kedokteran yang ingin Anda cari.

 

PubMed tersedia online secara gratis dan sangat user-friendly bila Anda terbiasa dengan navigasi pencarian pada database jurnal kedokteran lainnya.

 

Tips dan Trik Pencarian Jurnal PubMed

PubMed dilengkapi dengan filter pencarian untuk membantu Anda menemukan artikel yang relevan dengan tulisan yang sedang Anda kerjakan.

 

Jenis pencarian yang Anda lakukan akan menentukan bagaimana Anda menggunakan PubMed.

 

Jadi bagian terpenting dalam pencarian jurnal PubMed Anda adalah menentukan terlebih dahulu apa yang akan Anda cari sebelum mencarinya di database jurnal kedokteran.

 

Pada PubMed ada 2 jenis pencarian yang dapat Anda lakukan.

 

Jenis Pertama: Pencarian terfokus untuk mencari informasi spesifik yang terkait dengan tulisan Anda

 

Kiat Pencarian:

Masukkan istilah pencarian atau konsep kunci pada kotak pencarian pubmed.

 

Misalnya, jika Anda sedang mencari tentang:

 

“Apakah Terdapat Peran Nyeri Terhadap Gangguan Tidur?”

 

Maka konsep utama pencarian Anda adalah “NYERI” dan “GANGGUAN TIDUR”.

 

Tutorialnya adalah sebagai berikut:

  1. Buka situs PubMed dengan klik link pada tombol berikut ini:

  1. Tampilan awal PubMed adalah sebagai berikut:
    PubMed
    Halaman Awal PubMed
  2. Masukkan kata kunci “Nyeri” dan “Gangguan Tidur” tentunya dalam bahasa Inggris yaitu “Pain” dan “Sleep Disorder”. Lihat contoh pada gambar di bawah ini.
    Pencarian PubMed
    Proses Memasukkan Kata Kunci Dalam Kolom Pencarian
  3. Hasil pencariannya adalah sebagai berikut:
    Hasil Pencarian Jurnal Pubmed
    Hasil Pencarian Jurnal Pubmed
  4. Anda juga dapat memasukkan logika Boolean (AND, OR, atau NOT) di antara kata kunci yang dimasukkan.
  5. Bila menambahkan logika Boolean AND maka hasil pencariaanya akan berbeda seperti di bawah ini.
PubMed Dengan Boolean
PubMed Dengan Boolean “AND”

Kiat lainnya:

Anda dapat menggunakan MeSH untuk menemukan kata kunci yang sesuai dan yang harus Anda masukkan dalam kolom pencarian PubMed.

 

Untuk menuju halaman MeSH Anda dapat menekan tombol berikut:

 

Bila Anda sering melakukan pencarian jurnal PubMed maka riwayat pencarian Anda akan ditampilkan pada bagian Recent Activity seperti gambar berikut.

riwayat jurnal pubmed
Riwayat Pencarian PubMed

Artikel yang Anda cari dapat ditemukan dengan kata kunci apa pun yang Anda masukkan ke dalam kolom pencarian pada judul, abstrak, nama penulis, dan lembaga di mana penelitian dilakukan.

 

Jenis Kedua: Mencari sumber artikel yang dikenal atau artikel yang telah Anda baca sebelumnya ingin Anda temukan lagi.

 

Tips Pencarian:

Artikel dapat ditemukan dengan kata-kata apa pun yang tercantum dalam judul, abstrak, nama penulis, dan lembaga di mana penelitian dilakukan.

 

Alat pencarian yang berguna adalah pencocokan kutipan tunggal yang memungkinkan Anda memasukkan informasi yang Anda miliki di kotak isian kosong.

 

Untuk menuju alat pencocokan kutipan tunggal silakan klik tombol berikut:

 

 

Alat Pencarian Jurnal PubMed Lainnya

cari jurnal
(Sumber: pixabay.com)

Pencarian jurnal PubMed lanjutan (advanced search) memungkinkan Anda memilih bidang tertentu, seperti penulis atau judul jurnal dalam kombinasi, yang jika benar-benar berguna jika Anda mencari daftar artikel yang ditulis pada area klinis tertentu oleh penulis.

 

Opsi pencarian lainnya adalah pertanyaan klinis di beranda PubMed, yang memungkinkan Anda untuk mencari studi yang melaporkan penelitian klinis terapan.

 

Anda dapat menemukan kutipan untuk kategori studi klinis tertentu, yang berguna jika Anda mencari artikel dari satu area kategori klinis saja.

 

Anda dapat klik tombol di bawah ini untuk menuju ke halaman pertanyaan klinis (clinical queries)

 

Apakah Anda memiliki tips pencarian PubMed lainnya yang bermanfaat? Silakan berbagi komentar di bawah.

[simple-author-box]
solusi jurnal kedokteran

Pusing Mencari Jurnal Kedokteran? Ini Solusinya

Pernah merasa pusing dan kesulitan dalam menemukan sumber informasi kedokteran tepercaya yang Anda butuhkan? Terutama untuk tugas karya ilmiah, skripsi, atau tesis Anda. Bila jawaban Anda adalah “YA” maka Anda sedang berada pada artikel yang tepat. Pada artikel ini kami akan memberikan informasi terkait 7 mesin pencari jurnal kedokteran yang dapat memudahkan Anda dalam menemukan referensi kedokteran.

cari jurnal
(Sumber: pexels.com)

Akses terhadap informasi kesehatan dan medis yang kredibel merupakan salah satu hal yang penting. Terutama saat Anda sedang mencari referensi untuk tugas penulisan Anda.

 

Untuk itu Anda butuh masuk ke dalam mesin pencari jurnal kedokteran yang tepercaya.

 

Mesin pencari ini akan sangat membantu Anda dalam menemukan informasi sesuai dengan kebutuhan Anda.

 

Mesin pencari artikel jurnal kedokteran adalah platform online yang memusatkan dan memungkinkan Anda menemukan literatur dari berbagai topi kedokteran dalam waktu yang cepat.

 

Bajpai AK et al dalam publikasinya berjudul “In search of the right literature search engine(s)” menemukan bahwa:

 

Menggunakan lebih dari satu platform pencarian akan menghasilkan pencarian yang lebih luas dan lebih baik dibandingkan hanya menggunakan satu mesin pencari saja.

 

Meski pun demikian, kami tidak merekomendasikan Anda untuk mencoba melakukan pencarian pada semua mesin pencari jurnal kedokteran yang kami sarankan pada artikel ini.

 

Silakan bandingkan masing-masing mesin pencari yang kami rekomendasikan dan temukan dua atau tiga mesin pencari yang menurut Anda paling dapat diandalkan untuk mencari informasi kedokteran.

 

Kami juga menyertakan setiap link menuju halaman mesin pencari atau database jurnal kedokteran tersebut.

 

Menemukan Jurnal Kedokteran pada Mesin Pencari Jurnal

jurnal kedokteran online
(Sumber: pexels.com)

Mesin pencari dirancang dengan mengintegrasikan database akademik online dari berbagai jenis literatur yang diterbitkan dan diarsipkan.

 

Suatu database jurnal medis yang besar akan mengindeks artikel dari ribuan jurnal kedokteran di seluruh dunia.

 

Berikut ini adalah beberapa database yang biasa digunakan untuk menemukan informasi kedokteran yang kredibel:

  • EMBASE – dimiliki oleh Elsevier dengan lebih dari 29 juta publikasi
  • MEDLINE – merangkum lebih dari 22 juta artikel yang diterbitkan oleh jurnal bidang biomedis
  • PsycINFO – berisi lebih dari 3,5 juta publikasi
  • Cochrane Database of Systematic Review (CDSR) – database khusus yang mengumpulkan berbagai tinjauan sistematis bidang biomedis
  • MedlinePlus

 

Untuk menemukan jurnal yang tepat maka Anda harus tahu pula tentang mesin pencari yang paling kredibel.

 

Inilah 7 mesin pencari andal untuk penulisan kesehatan atau kedokteran Anda.

 

7 Mesin Pencari Jurnal Kedokteran Terbaik

mesin pencari jurnal
(Sumber: pexels.com)

1. PubMed

PubMed adalah mesin pencari online pertama yang sering kami gunakan setiap kali membutuhkan artikel kedokteran.

 

PubMed merupakan mesin pencari online gratis dari berbagai artikel jurnal kedokteran yang dikelola oleh United States National Institutes of Health’s National Library of Medicine (NLM).

 

Mesin pencari ini berisikan 25 juta catatan dan dapat digunakan untuk melakukan pencarian dalam beberapa database.

 

Termasuk dengan melakukan pencarian langsung pada MEDLINE dan publikasi NLM lainnya seperti MedlinePlus.

 

Ketika menggunakan PubMed, Anda dapat dengan mudah mempersempit pencarian Anda untuk topik tertentu.

 

Pencarian Anda juga lebih dimudahkan dengan adanya MeSH (judul teks subjek kedokteran) yang bisa digunakan untuk memfilter dan menemukan artikel jurnal tertentu.

 

2. Ovid

Jika universitas Anda berlangganan database jurnal kedokteran tertentu maka salah satu diantaranya adalah mesin pencari yang mencari database pada MEDLINE seperti Ebscohost, ProQuest, dan Ovid.

 

Menurut kami, Ovid merupakan mesin pencari yang sebanding dengan PubMed.

 

Ovid juga memiliki kelebihan dibandingkan PubMed yaitu mencari lebih banyak database dibandingkan PubMed.

 

Bila PubMed hanya mencari database pada MEDLINE maka Ovid dapat melakukan pencarian selain MEDLINE, termasuk EMBASE dan Cochrane Database of Systematic Reviews (CDSR).

 

Hal ini akan memperluas pencarian Anda dan Anda akan mendapatkan lebih banyak hasil pencarian.

 

Lebih banyak hasil pencarian berarti lebih banyak bukti yang dapat digunakan untuk tulisan ilmiah Anda.

 

3. Web of Science

Web of Science merupakan salah satu mesin pencarian dengan database lebih dari 8.700 jurnal ilmiah dari Thomson Reuters.

 

Database ini memuat berbagai publikasi internasional terutama dari wilayah Asia Pasifik.

 

Web of Science memiliki database untuk mencari data penelitian ilmiah kedokteran yang sedang tren jika Anda menuliskan protokol (“protocols”) atau pedoman (“guidelines”) dalam kolom pencarian.

 

Mesin pencari ini mencakup lebih dari 250 disiplin keilmuan di bidang sains, ilmu sosial, seni, dan humaniora.

 

4. ScienceDirect

Pasti Banyak yang familiar dengan ScienceDirect.

 

Mesin pencari ini berisi database jurnal kedokteran yang dapat membantu Anda dalam menyelesaikan penulisan tugas ilmiah.

 

Pada mesin pencari ini Anda bisa menemukan artikel di lebih dari 3.800 jurnal sains, teknologi, dan kedokteran yang dimiliki oleh penerbit Elsevier.

 

Portal serupa lainnya adalah SpringerLink yang memiliki akses ke lebih dari lima juta artikel jurnal kedokteran yang dimiliki oleh penerbit Springer.

 

5. Scopus

Pada tahun 2006, seorang peneliti Amerika menulis ulasan yang menyarankan bahwa, jika Anda secara teratur menggunakan Web of Science untuk mencari artikel, Scopus bisa menjadi pelengkap yang hebat.

 

Scopus adalah database besar lebih dari 60 juta literatur peer-review yang juga dimiliki oleh Elsevier.

 

Scopus berinteraksi dengan database EMBASE dan MEDLINE untuk mencari artikel jurnal.

 

Anda dapat mengakses artikel teks lengkap dari lebih dari 4.200 jurnal teks lengkap, namun login mungkin diperlukan melalui berlangganan untuk beberapa artikel jurnal teks lengkap.

 

6. Cochrane Library

Jika Anda mencari artikel jurnal yang memuat tinjauan sistematis atau meta-analisis, Anda harus mencarinya di Cochrane Library.

 

Selain hasil yang diperoleh dari Cochrane Database of Systematic Reviews (CDSR), hasil pencarian Cochrane Library juga dapat mencakup penelitian terkontrol  yang terdapat pada MEDLINE dan EMBASE, protokol dan editorial Cochrane.

 

Cochrane Library adalah platform pencarian berbasis langganan. Namun, beberapa artikel akses terbuka dapat diperoleh, tergantung pada kapan artikel tersebut diterbitkan.

 

7. Google Cendekia

Last but not least, Google Cendekia. Mesin pencari jurnal kedokteran gratis yang mengindeks artikel jurnal dari berbagai database.

 

Jika Anda secara teratur menggunakan Google untuk melakukan pencarian secara online maka menggunakan Google Cendekia adalah mudah bagi Anda.

 

Trik melakukan pencarian jurnal pada Google Cendekia persis sama dengan pencarian di Google termasuk dengan menggunakan logika Boolean (AND, OR, NOT) dan berbagai trik pencarian lainnya.

 

Google Cendekia adalah mesin pencari artikel jurnal online yang bagus digunakan setelah Anda melakukan pencarian awal pada 6 mesin pencari jurnal di atas.

 

Jika Anda mengalami kesulitan menemukan artikel yang diinginkan maka kemungkinan Anda dapat menemukannya dengan pencarian pada Google Cendekia.

 

Mesin Pencari Jurnal Kedokteran Open-Access

cari jurnal kedokteran
(Sumber: pexels.com)

Jika Anda tidak mendapatkan akses penuh terhadap artikel full-text dari Institusi Anda maka, terdapat beberapa mesin pencari jurnal kedokteran yang dapat Anda gunakan untuk mencari artikel jurnal gratis atau open-access.

 

Mesin pencari tersebut antara lain:

  • Free Medical Journals – mengindeks lebih dari 4.832 jurnal peer-reviewed dengan open-access
  • Highwire Press – dikelola oleh Universitas Stanford, mesin pencari ini memuat lebih dari 3.000 jurnal high impact. Lebih dari setengahnya tersedia sebagai artikel full-text gratis.
  • Omni Medical Search – Anda dapat melakukan pencarian dan mendapatkan jurnal gratis dari lebih 250 jurnal yang memuat sekitar 55 topik kedokteran.

 

 

Apa mesin pencari jurnal kedokteran pilihan Anda untuk menemukan artikel jurnal? Silakan beri tahu kami pada kolom komentar di bawah.

 

Featured Picture Nyeri Telinga Selama Penerbangan

Pencegahan Nyeri Telinga Selama Penerbangan

Nyeri telinga selama penerbangan merupakan salah satu masalah yang sering dialami. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja yang sedang berpergian menggunakan pesawat terbang.

nyeri telinga selama penerbangan

Nyeri telinga selama penerbangan ini sebenarnya merupakan salah satu kondisi trauma. Nyeri telinga selama penerbangan ini disebut juga sebagai barotrauma telinga atau airplane ear.

 

Kondisi ini dapat terjadi karena gangguan keseimbangan tekanan pada gendang telinga, tuba eustachius (saluran kecil yang menghubungkan telinga bagian tengah dan tenggorokan) dan struktur telinga lainnya dengan dilingkungan sekitarnya.

 

Anda dapat mengalami nyeri telinga selama penerbangan ketika ketinggian pesawat mulai naik atau turun.

 

Perubahan ketinggian yang cepat menyebabkan tekanan udara di lingkungan juga berubah dengan cepat.

 

Sementara tekanan udara pada bagian telinga tengah tidak dapat menyesuaikan kondisi ini sama cepatnya dengan perubahan ketinggian tersebut.

 

Tanda dan gejala nyeri telinga karena pendengaran

Gejala yang dapat dialami oleh orang-orang yang mengalami kondisi ini antara lain:

  • Nyeri pada satu atau kedua telinga
  • Sedikit hilang pendengaran
  • Rasa tersumbat pada satu atau kedua telinga

 

Gejala ini dirasakan karena tekanan udara pada telinga tengah meningkat atau menurun dan mendorong atau menarik gendang telinga.

 

Dorongan ini akan mengakibatkan gendang telinga menonjol ke arah daun telinga. Sedangkan tarikan akan mengakibatkan gendang telinga menjadi cekung dan tertarik ke arah telinga tengah.

 

Selain karena naik pesawat, barotrauma telinga ini juga dapat terjadi pada penyelam skuba.

 

Nyeri telinga pada penyelaman ini dapat terjadi ketika tekanan air di luar telinga lebih besar dibandingkan dengan tekanan di telinga tengah.

 

Risiko nyeri telinga selama penerbangan

Setiap kondisi yang dapat mengganggu fungsi telinga tengah dapat meningkatkan kemungkinan risiko nyeri telinga selama penerbangan.

 

Faktor risiko tersebut antara lain:

  • Hidung tersumbat
  • Alergi
  • Pilek
  • Infeksi tenggorokan
  • Infeksi telinga

 

Meskipun demikian, pilek dan infeksi pada telinga atau tenggorokan tidak menjadi alasan untuk mengubah jadwal penerbangan atau menunda penerbangan Anda.

 

Lalu, apa yang dapat Anda lakukan untuk mencegah atau mengurangi risiko nyeri telinga selama penerbangan ini.

 

Pengobatan Rumahan Untuk Mencegah Nyeri Telinga Selama Penerbangan

Untuk mencegah atau mengurangi gejala dari kondisi ini maka terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan.

 

Tindakan tersebut antara lain:

 

1. Mengonsumsi Dekongestan

Dekongestan adalah golongan obat yang dapat melebarkan saluran napas.

 

Beberapa jenis obat yang termasuk dalam golongan dekongestan ini adalah:

  • Pseudoefedrin Sulfat
  • Pseudoefedrin Hidroklorida

 

Obat ini dapat beli sebagai obat bebas terbatas dan biasanya dikombinasikan dengan obat anti histamin seperti loratadin atau desloratadin.

 

Mengonsumsi dekongestan 30 menit sampai 1 jam sebelum lepas landas atau 30 menit sampai 2 jam sebelum mendarat dapat mencegah penyumbatan tuba eustachius.

 

Jika Anda menderita penyakit jantung, gangguan irama jantung, tekanan darah tinggi, atau mengalami kemungkinan interaksi obat karena menggunakan berbagai jenis obat rutin lainnya, hindari penggunaan obat ini.

 

Anda dapat mengonsumsi obat ini untuk mencegah nyeri telinga selama penerbangan atas persetujuan dokter.

 

2. Isap Permen atau Kunyah Permen Karet

Dengan mengisap permen atau mengunyah permen karet maka akan mendorong terjadinya proses menelan.

 

Meskipun hanya proses menelan air liur, proses ini dapat membuka saluran tuba  eustachius.

 

Pembukaan tuba ini akan mengembalikan keseimbangan tekanan udara antara telinga tengah dan lingkungan.

 

3. Jangan tidur selama pesawat take off atau landing

Jika Anda tertidur Anda tidak dapat melakukan beberapa teknik untuk mengembalikan keseimbangan tekanan pada telinga tengah.

 

Bila Anda terjaga Anda masih dapat mengunyah permen karet atau mengisap permen.

 

Atau Anda dapat pula melakukan teknik manuver valsava.

 

4. Lakukan manuver valsava

Manuver valsava ini adalah sejumlah tindakan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan sumbatan pada telinga.

 

Langkah-langkah melakukan manuver valsava adalah:

  • Tutup mulut Anda
  • Pencet kedua lubang hidung Anda menggunakan ibu jari dan jari telunjuk
  • Perlahan tiup seolah-olah meniup hidung Anda tanpa membuka mulut dan lubang hidung Anda.
  • Tiup hingga seperti terdengar suara “pop” pada telinga Anda.
  • Bila Anda dapat melakukan manuver ini sambil menelan maka akan lebih baik.

 

Manuver ini dapat Anda lakukan beberapa kali untuk menyamakan tekanan telinga Anda dengan kabin pesawat.

 

Untuk lebih jelasnya Anda dapat melihat cara malakukan manuver valsava pada video youtube berikut.

 

5. Gunakan penyumbat telinga

Penyumbat telinga khusus dapat menyaring udara dan menyamakan tekanan pada gendang telinga selama ketinggian pesawat naik atau turun.

sumbat telinga

Anda dapat menemukan penyumbat telinga khusus ini pada toko obat, toko suvenir bandara, atau apotek di daerah Anda.

 

6. Khusus untuk bayi dan anak-anak beri mereka minuman

Minum air atau memberikan ASI atau susu selama ketinggian pesawat naik atau turun dapat mendorong proses menelan.

nyeri telinga pada bayi

Beri botol atau dot kepada anak untuk mendorong proses menelan.

 

Dekongestan tidak boleh diberikan kepada anak kecil atau bayi untuk mencegah kondisi nyeri telinga selama penerbangan.

 

 

Kapan Anda Harus Mendapatkan Bantuan Medis

pemeriksaan nyeri telinga

Biasanya, kondisi nyeri telinga selama penerbangan ini dapat Anda atasi sendiri menggunakan beberapa tips di atas.

 

Selain itu, gejala rasa penuh atau redam pada pendengaran dapat berlangsung selama sekitar 1 jam.

 

Bila gejala bertahan hingga lebih dari 1 jam atau jika Anda mengalami gejala atau tanda apa pun yang Anda rasa berat maka segera hubungi dokter Anda.

 

Semoga bermanfaat.

 

Bila Anda memiliki pertanyaan terkait dengan kondisi ini silakan menuliskannya di kolom komentar. Kami akan senang hati menanggapi pertanyaan Anda.

 

 

Diagnosis Adalah Kunci Pengobatan Penyakit

Bila merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, diagnosis adalah  penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya. Diagnosis dapat pula berarti pemeriksaan terhadap suatu hal.

diagnosis adalah

Dalam bidang kedokteran, diagnosis adalah upaya yang dilakukan oleh dokter dalam melakukan analisa keluhan subjektif dan temuan objektif pada pasien untuk menentukan penyakit pasien.

 

Pendekatan diagnosis adalah suatu hal yang terkadang sulit dilakukan. Karena banyaknya jenis penyakit tertentu yang memiliki gejala saling tumpang tindih.

 

Oleh karena hal ini, langkah pertama yang penting dilakukan oleh dokter adalah membuat daftar diagnosis banding dan daftar masalah dengan deskripsi terperinci.

 

Diagnosis adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya untuk prognosis (ramalan/kemungkinan tentang peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang berhubungan dengan penyakit atau penyembuhan setelah operasi) tapi juga untuk rencana pengobatan.

 

Diagnosis yang baik juga harus selalu ditinjau kembali. Penyakit sekunder, komplikasi, dan efek samping dapat menjadi diagnosis tambahan saat merawat pasien.

 

Seperti yang disebutkan di atas, diagnosis harus ditentukan berdasarkan diagnosis banding. Tujuan dari diagnosis banding adalah untuk menunjukkan penyakit apa yang dapat terjadi.

 

Dalam kebanyakan kasus, ada banyak kemungkinan dan faktor tambahan. Faktor tambahan ini termasuk:

  • Frekuensi penyakit
  • Usia pasien
  • Gejala sekunder

 

Seluruh komponen ini harus selalu diperhitungkan ketika melakukan diagnosis.

 

Artikel ini akan memberikan gambaran diagnosis banding berdasarkan kelompok penyakit.

 

 

Mengapa Diagnosis Adalah Kunci Pengobatan?

diagnosis adalah kunci

Ketika melakukan proses diagnosis, pada awalnya sangat tidak mungkin mengidentifikasi diagnosis yang sebenarnya hanya dari gambaran klinis.

 

Biasanya diagnosis dapat ditentukan setelah temuan yang relevan terkait suatu penyakit hadir (misalnya tanda spesifik atau pemeriksaan penunjang).

 

Diagnosis banding terkadang harus puas disusun dengan klasifikasi salah satu kelompok penyakit saja.

 

Dalam semua kasus penyakit yang tidak jelas, pertimbangan selalu disusun berdasarkan kelompok penyakit tersebut bukan diagnosis pasti penyakitnya.

 

Bila diagnosis pasti belum dapat ditentukan, rencana pengobatan hanya pada upaya untuk meredakan gejala penyakit yang dirasakan oleh pasien.

 

Target pengobatan tidak tepat saran. Berbeda bila diagnosis penyakit telah dapat ditegakkan.

 

Inilah yang menjadikan diagnosis adalah kunci dalam pengobatan penyakit.

 

Karena proses diagnosis merupakan hal yang terkadang tidak mudah. Mari mengenali beberapa deskripsi kelompok penyakit tertentu yang dapat digunakan untuk melakukan diagnosis banding.

 

 

Kelompok Penyakit Kondisi Degeneratif

 

penyakti degeneratif

Kelompok penyakit ini ditandai dengan perubahan irreversibel yang progresif lambat pada pembuluh darah dan jaringan ikat. Salah satunya adalah peristiwa arteriosklerosis, yang menyebabkan kerusakan pada organ (jantung, otak, ginjal) dan arteri perifer, dan arthrosis adalah gambaran klinis yang paling sering diamati dalam praktek medis saat ini, terutama pada orang tua.

 

 

Kelompok Penyakit Infeksi

penyakit sistem imun

Peradangan atau inflamasi secara klasik ditandai oleh:

  1. rubor (memerah),
  2. calor (panas),
  3. tumor (pembengkakan),
  4. dolor (nyeri), dan
  5. functio laesa (hilangnya fungsi).

 

Demam, pemeriksaan hitung darah, peningkatan protein C-reaktif, dan peningkatan laju endap darah sering dikaitkan dengan infeksi.

 

Namun, tidak adanya gejala-gejala ini tidak mengesampingkan kemungkinan infeksi (mis., Infeksi virus).

 

Selain itu, penyakit lain dapat dipertimbangkan dengan adanya 5 tanda inflamasi tersebut (misalnya Penyakit kolagen atau tumor).

 

 

Kelompok Penyakit Yang Dimediasi Oleh Sistem Imun

penyakit infeksi

Kolagenosis dan vaskulitis termasuk dalam kelompok penyakit ini (lupus eritematosus sistemik, dermatomiositis, sklerodermia, polymyositis, periarteritis nodosa, granulomatosis Wegener, alergi vaskulitis, dan lain-lain).

 

Penyakit-penyakit ini dapat dikenali secara klinis oleh keterlibatan simultan berbagai organ. Effloresensi (perubahan tidak normal) kulit dan arthropathi sering menjadi gejala klinis yang paling sering ditemui.

 

Pada saat yang sama perubahan pada fungsi ginjal, paru-paru, otot, dan jantung terkadang menjadi sangat jelas.

 

Kompleks imun, hasil dari antigen yang berbeda (misalnya Bakteri, virus, substansi tubuh seperti DNA, ribo-nukleoprotein, dan obat-obatan) memainkan peran penting, meskipun saat ini hanya sebagian yang dipahami.

 

Hasil uji laboratorium biasanya menunjukkan tingkat sedimentasi eritrosit meningkat, anemia, dan perubahan hematologi lainnya.

 

Secara praktis semua penyakit dari antibodi anti-nuklear semacam ini dapat ditemukan.

 

Beberapa penyakit di mana autoantibodi memainkan peran penting tercantum dalam Tabel berikut.

 

Contoh Penyakit Autoimun

Organ yang TerlibatPenyakit
Saluran Pencernaan·       Pernicious anemia,

·       Celiac disease/sprue,

·       Colitis ulcerosa,

·       Crohn disease

Darah·       Immune thrombopenia (ITP),

·       Thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP),

·       Autoimmune hemolytic anemia,

·       Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria,

·       Secondary cryoglobulinemia

Ginjal·         Postinfectious glomerulonephritis,

·         IgA nephropathy,

·         Goodpasture syndrome,

·         Syndromes characterized by purpura, arthritis, nephropathy,

·         Periarteritis nodosa

Sistem Endokrin·         Autoimmune thyroiditis (Hashimoto),

·         Basedow disease,

·         Addison disease,

·         Diabetes mellitus (type 1),

·         Idiopathic hypoparathyroidism,

·         Polyglandular deficiency syndrome (Schmidt syndrome),

·         Infertility caused by antibodies,

·         Premature ovarian failure

Sistem Saraf Pusat·         Myasthenia gravis,

·         Mononeuritis multiplex,

·         Multiple sclerosis,

·         Guillain−Barré syndrome,

·         Amyotrophic lateral sclerosis,

Sendi, Otot, & Jaringan Ikat·         Chronic polyarthritis,

·         Visceral lupus erythematosus,

·         Sjögren syndrome,

·         Scleroderma (including CREST),

·         Thromboangitis obliterans,

·         Bechterew disease,

·         Behçet disease,

·         Polymyalgia rheumatica,

·         Arteritis temporalis

Kulit·         Cutaneous lupus erythematosus,

·         Chronic diskoid lupus erythematosus,

·         Alopecia areata,

·         Vitiligo,

·         Pemphigus vulgaris,

·         Dermatitis herpetiformis Duhring,

·         Schoenlein−Henoch purpura

Paru-paru·         Wegener granulomatosis,

·         Churg−Strauss syndrome

Liver (Hati)·         Autoimmune hepatitis,

·         Primary biliary cirrhosis,

·         Sclerosing cholangitis

 

 

Tumor

Diagnosis Sangkaan Tumor

 

Gejala dengan onset lambat hingga sangat lambat, kelelahan, penurunan berat badan, dan gejala umum menyebar di usia menengah dan lanjut adalah penyebab kecurigaan tumor.

 

Gejala lokal dapat tidak muncul untuk jangka waktu yang panjang.

Penting untuk mengetahui perbedaan frekuensi tumor menurut jenis kelamin seperti gambar di bawah ini.

 

Infografis kanker Indonesia tahun 2018 ini juga menunjukkan insiden dan prevalensi kanker di Indonesia.

Infografis Kanker Indonesia 2018
Infografis Kanker Indonesia 2018 (https://whitecoathunter.com)

 

Suhu tubuh bisa dalam kisaran subfebris.

 

Tingkat sedimentasi eritrosit dapat meningkat. Anemia dan jumlah trombosit yang meningkat juga dapat terjadi.

 

 

Penanda Tumor Sebagai Bantuan Diagnosis

Skrining untuk penanda tumor tidak sesuai karena sensitivitas dan spesifisitas rendah. Terkecuali untuk prostate-specific antigen (PSA) yang merupakan penanda tumor prostat.

 

Namun beberapa penanda digunakan untuk tindak lanjut setelah terapi dan untuk klasifikasi stadium kanker.

 

Beberapa penanda tumor tersebut antara lain:

  • α-fetoprotein: Hepatocellular carcinoma
  • α-fetoprotein: Ovarian tumors
  • β-HCG, LDH: Nonseminomatous testicular cancer
  • β-HCG, LDH: Testicular seminoma
  • β2-Microglobulin: Multiple myeloma
  • CA 15−3: Breast cancer
  • CA 19−9: Colon carcinoma
  • CA 125: Ovarian carcinoma
  • CEA: Colon and rectum carcinoma
  • CRP, LDH: Malignant lymphoma
  • PSA: Prostate cancer
  • SCC: Cervical, lung, and rectal carcinoma

 

Tumor yang terjadi dapat menyebabkan gambaran dan kondisi klinis tertentu. Sebuah subkelompok penting yang disebut sindrom paraneoplastik dibentuk oleh sindrom paraendokrin.

 

Tabel Berikut menunjukkan sindrom para neoplastik dan para endokrin

Manifestasi KlinisJenis Tumor Yang Paling Umum
Sindrom Paraneoplastik Umum
AnemiaBerbagai Jenis Tumor
EosinofiliaLimfoma maligna, Leukemia, Metastasis Tumor
LeukositosisBerbagai Jenis Tuor
TrombositosisBerbagai Jenis Tumor
TrombositopeniaHemangioma maligna, Penyakit limfoproliperatif
HiperkoagulabilitasBronkus, lambung, usus, pankreas, payudara, karsinoma uterus; limfoma ganas
Disseminated intravascular coagulationMetastasis karsinoma, leukemia, limfoma
Erythema nodosumlimfoma, leukemia, karsinoma
HiperpigmentasiKarsinoma saluran pencernaan, melanoma maligna
UrtikariaLimfoma maligna, polistemia vera mastositosis
MiopatiKarsinoma Bronkus, Lambung, Ovarium
NeuropatiKarsinoma bronkus, payudara, lambung
EnsefalomiopatiTumor paru, karsinoma ovarium, karsinoma endometrium, Penyakit Hodgkin
ParaproteinemiaLimfoma maligna, leukemia kronis
GlomerulonefritisLimfoma maligna, leukemia, karsinoma
Trombotik endokarditisAdenokarsinoma (lambung, paru, pankreas)
DemamSarkoma, hipernefroma, tumor saluran pencernaan, hepatoma, leukemia
AkropachyTumor intratorakalis, karsinoma bronkus
Sindrom Paraendokrin
Sindrom CushingKarsinoma bronkial sel kecil, tumor sel island pankreas, thymoma, karsinoma tiroid meduler, karsinoid
HirutismeOvarium, tumor adrenal (androgenik)
Pubertas praekok, GinekomastiaHeratoma hepatoselular, testis dan mediastinum, korio karsinoma, tumor paru
Hipoglikemiasarkoma besar, hepatoma, karsinoma gastrointestinal, karsinoid
Hiperkalemiametastasis tulang, multiple myeloma, limfoma ganas serta karsinoma bronkus (epitelioma), tumor di daerah otolaryngeal, karsinoma serviks
HiperertireoidosisChoriocarcinoma, tumor paru-paru,
PoliglobulinKarsinoma ginjal, hemangioblastoma serebelum (erythropoietin)
Sindrom Schwartz−BartterBronkus, pankreas, karsinoma duodenum (ADH)

 

 

Jaringan tumor dari organ non-endokrin dapat menjadi aktif secara hormonal. Jenis produksi hormon ini biasanya tidak tunduk pada mekanisme kontrol fisiologis dan tidak hilang sampai tumor diangkat.

 

 

Faktor Predisposisi Tumor Ganas

Perbedaan antara lima kelompok utama faktor predisposi yang dapat dipertimbangkan sebagai etiologi tumor manusia dalam penegakan diagnosis adalah:

 

  1. Warisan langsung atau tidak langsung (sekitar 5% dari tumor):
  • Retinoblastomas, sel basal nevoid, endokrin multipel adenomatosis, poliposis kolon familial, kanker payudara
  • Neurofibromatosis, tuberous sclerosis, multipel eksostosis, albinisme, sindrom Fanconi, Sindrom Wiskott−Aldrich (pengembangan sekunder tumor)

 

  1. Faktor lingkungan (sekitar 60%)
  • Pola makan (tinggi lemak, rendah serat, nitrosamin, mikotoksin)
  • Konsumsi tembakau (bertanggung jawab terhadap 40% diagnosis karsinoma pada laki-laki termasuk karsinoma mulut, laring, dan paru)
  • Alkohol (karsinoma esofagus dan liver)
  • Profesi (faktor pencetus pada 5% kasus tumor)
  • Seks bebas: human papillomavirus, yang bisa menyebabkan karsinoma serviks pada wanita yang lebih muda, Tumor terkait HIV
  • Sinar ultraviolet (melanoma), radioisotop, radiasi
  • Obat (obat sitostatik, hormon)

 

 

  1. Virus:
  • Infeksi HIV (sarkoma kaposi, limfoma maligna)
  • Epstein−Barr virus (Burkitt lymphoma)
  • Hepatitis B dan C virus (hepatoma)

 

  1. Tidak diketahui penyebab tumor (sekitar 35%)

 

  1. Berbagai Kondisi Lainnya (langka):
  • -cholelithiasis, sirosis hati, penyakit Crohn, kolitis ulcerosa, anemia pernisiosa –
  • dermatomiositis
  • Struma nodosa, lupus vulgaris, penyakit Paget, akromegali

 

 

Penyakit-Penyakit Metabolik

Metabolisme patologis atau jumlah abnormal zat fisiologis dalam darah, urine, atau jaringan tubuh dapat diidentifikasi dengan berbagai jenis penyakit.

 

Misalnya, porfiria ditandai dengan porfirin, ochronosis yang disebabkan oleh asam homogentisic, penyakit asam urat yang disebabkan oleh asam urat, hyperlipoproteinemia yang dicirikan oleh kolesterol dan trigliserida.

 

Enzimopati terkait genetik

Hingga saat ini peran diagnosis adalah menemukan lebih dari 150 penyakit dengan gangguan enzimatik yang melibatkan cacat genetik (enzymopathy).

 

Kondisi ini juga disebut sebagai “kesalahan metabolisme bawaan”.

 

Mayoritas adalah penyakit bawaan resesif autosom. Sebuah gen mutan menghasilkan penurunan atau non-produksi protein enzimatik atau non-enzimatik.

 

Enzim yang dimaksud merupakan bagian integral dari langkah khusus metabolisme dalam biosintesis atau katabolisme.

 

Untuk beberapa hal, jalur metabolik diblokir dan jalur alternatif diperlukan, yang sering tidak dapat mencegah defisiensi metabolik karena kapasitas yang buruk. Karena efek ini, berbagai mekanisme dalam enzim dapat dideteksi:

  • Pada beberapa penyakit, jumlah zat-zat biologis penting yang tidak cukup diproduksi. Misalnya produksi melanin ditekan dalam albinisme karena tiadanya tirosinase, atau diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh kurangnya insulin.
  • Produk patologis yang terakumulasi karena kurangnya degradasi enzimatik diekskresi melalui ginjal dan dapat menyebabkan batu ginjal. Misalnya oxaluria, xanthinuria, dan cystinuria.
  • Metabolit abnormal terakumulasi. Misalnya penyakit penyimpanan glikogen, mucopolysaccharidosis, dan galaktosemia.
  • Melalui akumulasi produk antara, efek toksik berkembang. Misalnya alkaptonuria, dicirikan oleh asam homogentisic, atau galaktosemia, dicirikan oleh galaktosa-1-fosfat.
  • Steroid metabolik normal terakumulasi dalam sindrom adrenogenital karena defisiensi 17-hidroksilase.
  • Struktur kolagen yang salah menyebabkan kolagen normal menjadi tidak stabil seperti pada sindrom Ehlers−Danlos.

 

 

Diagnosis adalah Penting Untuk Mengetahui Disfungsi Sistem Endokrin

Gambaran klinis penyakit organ sekretori sering ditandai oleh sekresi disfungsional daripada oleh organ yang sakit itu sendiri. Hormon dan metabolitnya dapat ditentukan secara kuantitatif, yang pada gilirannya memberikan informasi penting tentang jenis penyakit (misalnya dalam kasus diabetes mellitus).

 

 

Gangguan Mental

Penilaian kondisi mental adalah salah satu upaya diagnostik. Melakukan tindakan diagnosis adalah penting pada kondisi ini.

 

Pengenalan sindrom psikopatologi khas sebagian memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi penyakit fisik (misalnya, delirium tremens dan sindrom Korsakow ditemukan pada alkoholisme kronis yang menyertai pneumonia, atau setelah operasi).

 

Faktor ini tidak berlaku untuk psikosis endogen (skizofrenia, manic-depressive psychosis) atau untuk keluhan vegetatif.

 

Dalam kasus ini, seringkali bukan pasien yang mengeluh, tetapi perilaku intelektual atau afektifnya dicatat oleh orang lain.

 

Keluhan Vegetatif secara Fungsional

Ketika mendiagnosis keluhan-keluhan vegetatif “secara fungsional” (juga gangguan psikosomatis atau sindrom psychovegetative), penting untuk menyingkirkan penyakit somatik.

 

Umumnya, penyakit fungsional termasuk kelompok gangguan psikis terbesar, baik sebagai penyakit yang berdiri sendiri atau sebagai akibat dari penyakit lain.

 

Karakterisasi yang seragam dari pasien psikosomatis tidak mungkin. Namun, penyakit vegetatif fungsional sering muncul sebagai berikut:

  • Dengan perjalanan penyakit kronis
  • Dengan perubahan yang tidak teratur dari organ yang terkena
  • Dipicu oleh situasi stres.

 

Diagnosis banding dan diagnosis adalah penting pada kondisi ini. Klinisi biasanya membedakan antara berbagai sub-kelompok somatik dari sindrom psikovegetatif (misalnya gangguan pada daerah kepala, sistem kardiovaskular, pernapasan, dan saluran cerna).

 

Hampir tidak ada diagnosis yang lebih sulit daripada diagnosis gangguan fungsional.

 

Gangguan Psikosomatis

Asma bronkial, obesitas, dan anoreksia, serta serangan kecemasan yang sering dianggap sebagai gangguan psikosomatis. Gejala kompleks yang semakin umum, yang sulit dibedakan dari depresi, adalah sindrom kelelahan kronis.

 

Sindrom kelelahan kronis dapat didefinisikan sebagai:

  1. Kelelahan yang dievaluasi secara klinis, tidak dapat dijelaskan, persisten atau kambuh yang merupakan onset baru atau pasti, bukan hasil dari pengerahan yang sedang berlangsung, dan tidak berkurang dengan istirahat, dan menghasilkan pengurangan substansial dalam tingkat dari pekerjaan, pendidikan, sosial, atau kegiatan pribadi sebelumnya.
  2. Empat atau lebih dari gejala berikut yang bertahan atau kambuh selama enam atau lebih bulan berturut-turut sakit dan gejala tersebut tidak mendahului kelelahan:
    1. Penurunan yang dilaporkan sendiri dalam memori jangka pendek atau konsentrasi
    2. Sakit tenggorokan
    3. Nyeri serviks atau aksilaris
    4. Nyeri otot
    5. Nyeri beberapa sendi tanpa kemerahan atau bengkak
    6. Sakit kepala
    7. Tidur tidak nyenyak
    8. Malaise pasca-aktivitas berlangsung >24 jam

 

 

Psosis Eksogen

Gangguan mental pada kelompok “psikosis eksogen” adalah gejala yang menyertai penyakit somatik. Bleuler membedakan antara empat kelompok utama gangguan terkait somatik:

  1. Sindrom Psychoorganic (POS). Sebagai akibat dari kerusakan otak difus (arteriosclerosis, cedera otak, sindrom Korsakow), pasien yang diperiksa memiliki disfungsi dan disorientasi perhatian yang khas serta kurangnya konsentrasi. Selanjutnya, ketidakmampuan untuk berpikir, ketekunan, dan labilitas emosional adalah karakteristik utama kondisi ini.
  2. Psikosyndrome lokal. Meskipun otak secara lokal berpenyakit, gangguan memori atau gangguan kesadaran tidak biasanya terjadi, tetapi perubahan suasana hati yang tidak menentu diamati.
  3. Psikosyndrome endokrin. Gangguan mental dapat terjadi pada penyakit endokrin. Gambaran klinisnya sama dengan psikosyndrome lokal.
  4. Jenis reaksi eksogen akut. Pada penyakit akut, berat, umum, serta pada penyakit otak akut, gejala mental yang khas (seperti amentia tiba-tiba, disorientasi, pengucapan tidak jelas, gelisah, dan apatis, serta halusinasi dan ide delusional), dapat berkembang. Subkelompok khas dari tipe reaksi eksogen akut adalah delirium (halusinasi), dan keadaan senja, serta berbagai tingkat gangguan kesadaran (somnolen, sopor, koma). Seringkali sulit untuk membedakan antara jenis psikosis akut dengan reaksi eksogen dan gangguan neurotik atau skizofrenia.

 

 

Diagnosis Penyakit-Penyakit Herediter

Kromosom manusia terdiri dari 22 pasang kromosom autosomal dan 2 kromosom seks (laki-laki: XY, perempuan: XX), total 46 kromosom. Untuk diagnosis, kromosom dari sel manusia dianalisis secara individual menggunakan pewarnaan fluoresen (kariotipe).

 

 

Aberasi Struktural

Penyimpangan kromosom dapat diwariskan atau ditransmisikan (zat kimia mutagenik, sinar-X, radioaktivitas). Kelainan kromosom dapat dideteksi sebelum lahir dengan metode cytogenic.

 

 

Kromosom Anomali: Aberasi Numerik.

Trisomi (47 kromosom), gangguan kromosom yang paling umum, ditemukan kebanyakan dalam trisomi 21 (sindrom Down; terjadi pada 1: 650) dan pada trisomi kromosom seks, dengan harapan hidup lebih lama daripada sindrom Down.

 

Di antara kelainan kromosom seks yang paling umum adalah: sindrom Klinefelter (47, XXY; terjadi pada 1: 500) dan sindrom Triplo X yang biasanya tidak terlihat secara klinis yang mempengaruhi wanita (47, XXX; terjadi pada 1: 1000), dan sindrom Turner ( 45, X0; terjadi dalam 1: 10000), yang merupakan monosomi kromosom seks.

 

 

Genetika Mendelian Sederhana

Jenis hereditas ini dicapai dengan transmisi gen mutan tunggal.

 

Warisan dominan Autosomal. Gejala terjadi pada pembawa heterozigot, yang memiliki satu kromosom dengan gen mutan dan kromosom lainnya dengan gen normal.

 

Faktor risiko untuk progeni dari pasien dengan penyakit nyata adalah 50%.

 

Kelainan bawaan yang berat dan dominan pada sebagian besar kasus disebabkan oleh mutasi baru, dan menghilang dengan kematian pembawa sebelum memiliki keturunan.

 

Warisan autosomal resesif. Gejala hanya terjadi ketika pasien homozigot (i. E., Alel yang sama pada kedua kromosom homologinya).

 

Risiko pengulangan untuk saudara kandung lainnya dengan penyakit nyata adalah 25%, untuk pembawa sehat heterozigot 50%, dan untuk saudara kandung yang sehat 25%.

 

Warisan X-kromosom. X kromosom membawa gen mutan. Dalam kebanyakan kasus, wanita hanya vektor tanpa gejala (pembawa), tetapi 50% dari keturunan laki-laki mereka jatuh sakit.

 

 

Diagnosis Penyakit-Penyakit Alergi

Alergi ditandai oleh reaksi kekebalan tubuh yang abnormal terhadap zat (alergen), yang tidak mempengaruhi individu yang sehat.

 

Kita membedakan antara alergi humoral yang disebabkan oleh antibodi yang bersirkulasi (tipe I, II, III) dan alergi sel-mediated (tipe IV).

 

Alergi Tipe-I

Alergi Tipe-I yang disebut mewakili reaksi anafilaksis yang dramatis. Jenis alergi ini ditandai dengan terjadinya gejala dalam beberapa menit, atau jam, paparan alergen (inhalasi, per oral, per suntikan, perkutan). Selain pruritus, urtikaria, dan angioedema, dyspnea serta diare, kolik, dan gejala syok berat juga bisa terjadi.

 

Alergi Tipe-II

Dalam tipe-II, antibodi sirkulasi alergi dapat menyebabkan lisis sel (misalnya, anemia hemolitik alergik, reaksi transfusi).

 

Alergi Tipe III

Alergi tipe-III terdiri dari apa yang disebut penyakit kompleks imun. Antigen yang berbeda (obat, bakteri, virus, sel tumor, mungkin jaringan endogen) bersama dengan antibodi masing-masing membentuk kompleks imun yang beredar yang dapat mengendap dalam membran basal arteri dan glomeruli.

 

Biasanya, pasien ini menyajikan gambaran klinis yang relatif sama, yang biasanya ditandai oleh arthralgia, berbagai jenis perubahan kulit, dan glomerulonefritis. Gejala yang kurang sering adalah pleuritis, perikarditis, dan alveolitis alergika.

 

Contoh penyakit kompleks imun adalah: paru-paru Petani, glomerulonefritis pascainptokokus, glomerulonefritis yang berhubungan dengan endokarditis, dan berbagai jenis tumor, seperti kanker kolon, tumor bronkus, dan hipernephroma.

 

 

Alergi Tipe-IV

Dalam kaitannya dengan alergi tipe-IV, limfosit T peka dapat menyebabkan reaksi alergi, terutama pada kulit. Alergi ini diamati sebagai kontak eczemas dan exanthemas. Permulaan dari waktu kontak alergi hingga munculnya gejala bisa sampai 10 hari.

 

 

Kesimpulan

Daftar di atas merupakan daftar penyakit-penyakit berdasarkan subkelompok sistemnya.

 

Pengelompokan ini membuat dokter lebih mudah dalam penegakan diagnosis.

 

Hal ini juga yang membuat tindakan diagnosis adalah kunci pengobatan penyakit.

 

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar diagnosis adalah kunci pengobatan silakan tuliskan di kolom komentar.

Referensi
  1. Bowen SL. Educational strategies to promote clinical diagnostic reasoning. N Engl J Med 2006;355:2217−2225.
  2. De Vita VT Jr, Hellmann S, Rosenberg SA. Cancer – Principles and Practice of Oncology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott 1997.
  3. Kassirer JP. Teaching problem solving-how are we doing? N Engl J Med 1995; 332: 1507.
  4. Fitzgerald FT. Chapter 1. History and Physical Examination: Art and Science. In: Henderson MC, Tierney LM, Jr., Smetana GW. eds. The Patient History: An Evidence-Based Approach to Differential Diagnosis New York, NY: McGraw-Hill; 2012. http://accessmedicine.mhmedical.com/content.aspx?bookid=500&sectionid=41026543.
  5. Diagnostic Process. In: Stern SC, Cifu AS, Altkorn D. eds. Symptom to Diagnosis: An Evidence-Based Guide, 3e New York, NY: McGraw-Hill; 2014. http://accessmedicine.mhmedical.com/content.aspx?bookid=1088&sectionid=61696411.
antibiotik rasional

Antibiotik: Penggunaan Rasional Antibiotik Pada ISPA

Sebagian besar obat antibiotik diresepkan pada pasien rawat jalan. Terutama untuk kondisi infeksi saluran napas, otitis media akut, infeksi saluran kemih, dan masalah terkait kulit.

Hasil penelitian yang diterbitkan pada jurnal Clinical Infectious Diseases  menyatakan bahwa lebih dari setengah obat antibiotik yang diresepkan untuk pasien rawat jalan adalah tidak sesuai.

 

Sedangkan sebesar 30% pemberian antibiotik ternyata tidak dibutuhkan.

 

Sebagian besar penelitian menggunakan pendapat ahli atau definisi berdasarkan pedoman terapi yang tepat untuk menilai ketepatan penggunaan obat ini.

 

Penggunaan tidak tepat didefinisikan sebagai:

  • Penggunaan anti mikroba tidak direkomendasikan pada pedoman pengobatan ATAU
  • Penggunaan anti mikroba pada organisme resistan obat

 

Sedangkan penggunaan yang tidak perlu atau tidak dibutuhkan didefinisikan sebagai

  • Penggunaan anti mikroba untuk gangguan atau penyakit non infeksi
  • Penggunaan antibiotik pada kondisi infeksi non bakteri
  • Durasi penggunaan obat sebagai terapi yang melebihi waktu manfaat
  • Terapi anti mikroba yang mubazir (menggunakan ≥ 2 jenis obat dengan aktivitas melawan bakteri yang sama)
  • Melanjutkan terapi spektrum luas empiris setelah organisme penyebab infeksi dan uji sensitivitas antibiotik telah diketahui

 

Terdapat pula istilah penggunaan anti mikroba sub optimal yang didefinisikan sebagai kesalahan dalam:

  • Pemilihan jenis agen
  • Rute pemberian
  • Dosis obat

 

Penggunaan rasional antibiotik merujuk kepada pemberian antibiotik hanya pada pasien yang diharapkan mendapatkan manfaat dari pemberian obat tersebut dengan:

  • menentukan kemungkinan infeksi bakteri
  • Menimbang manfaat vs bahaya terapi antibiotik untuk pasien dengan infeksi bakteri yang sangat mungkin atau terkonfirmasi
  • memilih agen spektrum sempit yang tepat dan dosis, rute, dan durasi terapi yang tepat

 

 

Pada artikel ini Anda akan menemukan pendekatan rasional penggunaan antibiotik khususnya untuk pasien rawat jalan.

 

Bila Anda tidak punya cukup waktu untuk membaca artikel ini sekarang. Kami menyediakan versi Antibiotik.pdf untuk artikel ini. Anda dapat mengunduhnya dengan klik tombol di bawah ini.

 

 

Latar Belakang

antibiotik
sumber: pixabay.com

Penggunaan anti mikroba yang tidak sesuai berhubungan dengan berbagai konsekuensi yang tidak menguntungkan termasuk:

  1. berkembangnya organisme resistan-antibiotik
  2. kejadian efek samping seperti:
    • reaksi efek samping ringan misalnya ruam atau diare
    • respons hipersensitivitas yang mengancam jiwa seperti sindrom Steven-Johnson atau anafilaksis
    • infeksi Clostridium difficile
    • reaksi dari interaksi antar obat
  3. biaya pengobatan yang meningkat

 

Resistansi anti mikroba menjadi isu kesehatan masyarakat yang cukup besar.

 

Kondisi ini merupakan ancaman terhadap pencegahan dan pengobatan berbagai jenis infeksi.

 

Resistansi sendiri merupakan proses alami pada bakteri. Bakteri akan mengembangkan resistansi lebih cepat karena penggunaan atau salah guna agen anti mikroba.

 

Beberapa isu besar yang menjadi perhatian dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) termasuk:

  • carbapenem-resistant Enterobacteriaceae (CRE)
  • drug-resistant Neisseria gonorrhoeae

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memiliki beberapa isu terkait resistansi obat yang menjadi perhatian besar mereka seperti:

  • resistansi Escherichia coli (bakteri penyebab umum infeksi saluran kemih, infeksi darah, infeksi intra abdomen, dan infeksi terkait kebersihan lingkungan dan makanan) terhadap cephalosporins generasi ketiga dan fluoroquinolone
  • resistansi Klebsiella pneumoniae terhadap cephalosporins generasi ketiga dan karbapenem
  • resistansi Staphylococcus aureus terhadap methicillin
  • resistansi Streptococcus pneumoniae terhadap penicillin
  • resistansi spesies nontyphoidal Salmonella dan Shigella terhadap fluoroquinolones
  • resistansi gonorrhoeae terhadap cephalosporins generasi ketiga

 

 

Pendekatan Dalam Menurunkan Kejadian Resistansi Antibiotik

pil antibiotik
sumber: pixabay.com

Pendekatan rasional penggunaan anti mikroba merupakan salah satu pendekatan untuk mengurangi resistensi anti mikroba.

Tujuan dari program ini adalah untuk:

  • memaksimalkan penggunaan antibiotik yang sesuai untuk mencapai outcome klinis optimal
  • mengurangi efek samping terkait antibiotik, seperti infeksi Difficile
  • mengurangi kemunculan resistansi antibiotik
  • menurunkan biaya kesehatan

 

Selain itu, program ini juga bertujuan memberikan edukasi kepada pasien terkait dengan:

  • kapan anti mikroba dibutuhkan sebagai bagian dari pengambilan keputusan klinis
  • potensi efek buruk dari terapi anti mikroba
  • kapan harus menemui dokter jika gejala tidak membaik atau memburuk
  • penggunaan dan durasi terapi yang tepat.

 

Versi lebih lengkap dari laporan dan program ini dapat dilihat dengan menekan link berikut.

 

WHO 2014 Antimicrobial Resistance Global Report WHO 2014 Apr PDF

Clin Infect Dis 2007 Jan 15;44(2):159

CDC 2013 PDF

 

 

Pemberian Antibiotik Yang Tidak Sesuai Untuk Pasien Rawat Jalan

resistensi antibiotik
sumber: pixabay.com

Kriteria standar yang memuat pemberian antibiotik yang sesuai hingga saat ini belum tersedia. Upaya untuk mendefinisikan ketidaksesuaian terhalang oleh berbagai skenario klinis.

 

Sebagian besar penelitian menggunakan pendapat pakar atau definisi berdasarkan pedoman untuk terapi yang sesuai dalam menilai kecocokan pemberian anti mikroba.

 

Proses mendefinisikan indikator kualitas dan metode untuk menentukan ketepatan penggunaan anti mikroba berdasarkan kriteria obyektif masih diperlukan.

 

Kriteria yang saat ini digunakan telah kami tuliskan pada bagian awal artikel ini.

 

Untuk versi lebih lengkapnya Anda dapat melihatnya pada jurnal berikut:

 

Clin Infect Dis 2016 Dec 15;63(12):1639

 

 

Tingkat Penggunaan Antibiotik Secara Tidak Tepat

Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam JAMA 2016 May 3;315(17):1864 sekitar 30% dari seluruh anti mikroba yang diresepkan di Amerika Serikat adalah tidak tepat.

 

Meskipun demikian, penelitian lainnya menyatakan bahwa 50% hingga 80% anak-anak yang memerlukan antibiotik untuk infeksi saluran pernapasan atas di Belanda mendapatkan pengobatan dengan anti mikroba lini pertama sesuai dengan rekomendasi pedoman praktik klinis. (J Antimicrob Chemother 2016 Jun;71(6):1707)

 

Angka yang lebih kecil dilaporkan untuk pengobatan sinusitis, otitis media, atau faringitis di Amerika Serikat yang mendapatkan pengobatan menggunakan anti mikroba lini pertama sesuai rekomendasi pedoman praktik klinis. (JAMA Intern Med 2016 Dec 1;176(12):1870)

 

 

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian Yang Tidak Cepat

anti mikroba
sumber: pixabay.com

Berdasarkan tinjuan sistematik dari penelitian observasional disimpulkan bahwa:

 

“Persepsi dokter terhadap keinginan pasien mendapatkan antibiotik berhubungan dengan peningkatan kemungkinan kesalahan pemberian obat ini pada pasien dengan infeksi saluran pernapasan.-Antimicrob Agents Chemother 2016 Jul;60(7):4106 full-text

 

 

Pasien dengan infeksi pernapasan yang datang ke unit gawat darurat lebih jarang diberikan pengobatan menggunakan anti mikroba tapi agen anti mikroba bila diberikan selalu menggunakan spektrum luas. (J Antimicrob Chemother 2014 Jan;69(1):234)

 

Disisi lain, perawatan di rumah sakit dan perawatan di layanan kesehatan komunitas masing-masing berhubungan dengan peresepan antibiotik yang tidak tepat bila dibandingkan dengan perawatan di unit gawat darurat untuk pasien dengan infeksi saluran napas. (Open Forum Infect Dis 2016 Feb 23;3(1):ofw045 full-text)

 

Pasien lanjut usia dan kunjungan ke spesialis penyakit dalam juga berhubungan dengan pemberian agen golongan fluorokuinolon pada wanita dengan infeksi saluran kemih tanpa komplikasi. (Open Forum Infect Dis 2016 Aug 2;3(3):ofw159 full-text)

 

Faktor lainnya yang berhubungan dengan pemberian obat anti mikroba yang tidak tepat adalah alergi penisilin dan batuk yang dikeluhkan pasien dengan infeksi saluran napas atas non spesifik. (Antimicrob Agents Chemother 2015 Jul;59(7):3848 full-text)

 

 

Penggunaan Antibiotik Rasional

obat antibiotik
sumber: pixabay.com

Infeksi Saluran Napas Non Spesifik (Infeksi Saluran Napas Atas)

Infeksi saluran napas atas (ISPA) atau common cold merupakan diagnosis yang paling sering dijumpai pada pasien rawat jalan.

 

Sebagian besar ISPA disebabkan oleh virus dan antibiotik bukan merupakan pengobatan yang efektif.

 

Tujuan pengobatan kondisi ini adalah perbaikan dan hilangnya gejala.

Beberapa rekomendasi penolakan penggunaan anti mikroba untuk kondisi ISPA antara lain:

 

  • American College of Physicians/Centers for Disease Control and Prevention (ACP/CDC) recommends against using antibiotics for the common cold.(2)
  • American Academy of Family Physicians (AAFP) recommends against using antibiotics for the treatment of cold symptoms in children or adults (Am Fam Physician 2012 Jul 15;86(2):153full-text)
  • American Academy of Pediatrics recommends against using antibiotics for apparent viral respiratory illnesses including sinusitis, pharyngitis, and bronchitis (Choosing Wisely 2014 Mar 17)
  • Canadian Medical Association (CMA) Forum on General and Family Practice Issues, and College of Family Physicians of Canada recommend against using antibiotics for upper respiratory infections that are likely viral in origin, such as influenza-like illness, or self-limiting, such as sinus infections of < 7-day duration (Choosing Wisely Canada 2014 Oct 29)
  • Australasian Society for Infectious Diseases recommends avoiding prescription of antibiotics for upper respiratory tract infection (Choosing Wisely Australia 2016 Mar 1)

 

Dokter  harus memberikan edukasi kepada pasien terkait dengan:

  • Gejala dapat berlangsung hingga 2 minggu
  • Antibiotik tidak dibutuhkan dan dapat menyebabkan efek samping
  • Penggunaan antibiotik yang tidak perlu pada situasi infeksi virus tidak memberikan keuntungan terapeutik pada pasien dan berkontribusi terhadap resistansi antibiotik
  • Risiko dan keuntungan dari terapi simtomatis
  • Pentingnya untuk kembali memeriksakan diri jika gejala memburuk atau berlangsung lebih dari 2 minggu.

 

 

Bronkitis Akut

Tidak kriteria diagnosis yang jelas tersedia untuk bronkitis akut. Pasien dengan akut bronkitis biasanya datang dengan keluhan:

  • Batuk produktif atau non produktif yang berlangsung lebih dari 6 minggu
  • Gejala konstitusional ringan mirip dengan pasien infeksi saluran pernapasan bagian atas

 

Terapi anti mikroba rutin tidak direkomendasikan untuk akut bronkitis tanpa komplikasi, terlepas dari durasi batuknya.

 

Pasien dengan bronkitis akut akan mendapatkan keuntungan dari pemberian obat pereda gejala.

 

Rekomendasi terkait anti mikroba untuk diagnosis bronkitis akut antara lain:

  • American College of Physicians/Centers for Disease Control and Prevention (ACP/CDC) do not recommend routine antibiotic treatment for uncomplicated acute bronchitis, regardless of duration of cough, unless pneumonia suspected. (2)
  • American Academy of Pediatrics (AAP) principles of judicious antibiotic prescribing for upper respiratory tract infections (URI) in pediatrics do not recommend antibiotics for common cold, nonspecific upper respiratory infection, acute cough illness, and acute bronchitis(1)
  • National Institute for Health and Care Excellence (NICE) recommends a no antibiotic strategy or a delayed antibiotic prescribing strategy for adults and children > 3 months old with acute cough/acute bronchitis (NICE 2008 Jul:CG69PDF), reaffirmed February 2014, summary can be found in BMJ 2008 Jul 23;337:a437, editorial can be found in BMJ 2008 Jul 23;337:a656
  • Canadian Association of Emergency Physicians recommends avoiding use of antibiotics in adults with bronchitis/asthma (Choosing Wisely Canada 2015 Jun 2)

 

Jika disangkakan diagnosis pertusis, lakukan pemeriksaan diagnostik dan mulai terapi anti mikroba.( N Engl J Med 2006 Nov 16;355(20):2125 full-text)

 

Terapi anti mikroba pada pasien dewasa dengan dugaan pertusis direkomendasikan terutama untuk mengurangi patogen dan penyebaran penyakit.

 

Terapi anti mikroba pada pasien dengan dugaan pertusis juga menunjukkan percepatan resolusi gejala.

 

 

Pengobatan Simtomatis ISPA Non Spesifik

Tujuan pengobatan ISPA non spesifik adalah untuk perbaikan gejala. Beberapa pengobatan yang dapat dilakukan antara lain:

 

Pada anak-anak:

  • Suction nasal
  • Terapi inhalasi
  • Irigasi nasal
  • Menggunakan humidifer ruangan
  • Berikan asupan cairan yang cukup
  • Elevasi kepala ketika berbaring
  • Berkumur dengan larutan garam (seperempat sampai setengah sendok makan larutkan dengan 200 mL air hangat)
  • Istirahat yang cukup

 

Pada orang dewasa:

  • Istirahat yang cukup
  • Hidrasi dan nutrisi adekuat

 

Beberapa obat bebas dan terapi alternatif yang efektif untuk meringankan gejala antara lain:

 

Pada anak-anak:

  • madu dapat membantu meredakan batuk dan meningkatkan kualitas tidur pada anak-anak> 1 tahun
  • Ekstrak pelargonium sidoides (geranium) dapat membantu meredakan batuk
  • Vapor yang dioleskan pada dada dan leher dapat mengurangi gejala batuk dan meningkatkan kualitas tidur
  • zinc sulfate berhubungan dengan pengurangan durasi gejala ketika dikonsumsi dalam 24 jam setelah onset ISPA muncul
  • kortikosteroid inhalasi dosis tinggi dapat mengurangi gejala wheezing
  • acetylcysteine (umumnya digunakan di Eropa) selama 6-7 hari dapat meredakan batuk pada anak-anak usia > 2 tahun

 

Pada orang dewasa:

  • Dekongestan oral dan topikal mungkin agak efektif untuk meredakan gejala jangka pendek
  • Kombinasi antihistamin generasi pertama dan dekongestan dapat membantu meredakan gejala umum, gejala terkait hidung, dan batuk
  • Ipratropium dapat membantu meredakan batuk
  • obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) efektif untuk menghilangkan rasa sakit
  • Ekstrak sidoides (geranium) dapat mengurangi durasi dan keparahan gejala
  • Echinacea purpura pada awal penyakit dapat mengurangi durasi dan keparahan gejala
  • Andrographis paniculata dapat meredakan gejala
  • Zinc acetate atau glukonat berhubungan dengan pengurangan durasi gejala ketika dikonsumsi dalam 24 jam setelah onset

 

Pedoman lengkap untuk pengobatan simptomatis pada pasien dengan ISPA dapat diunduh pada link di bawah ini:

Am Fam Physician 2012 Jul 15;86(2):153 full-text

ICSI 2013 Jan PDF

 

FDA (BPOM-nya Amerika Serikat) merekomendasikan untuk tidak menggunakan produk obat bebas atau resep obat batuk pada anak yang berusia < 2 tahun dan mendukung untuk menggunakan obat batuk pada anak < 2 tahun. (FDA Press Release 2008 Jan 17)

 

Rekomendasi ini termasuk termasuk obat bebas berupa:

  • Dekongestan
  • Ekspektoran
  • Anti histamin, dan
  • Antitusif

 

Larangan ini dibuat karena terkait dengan efek samping yang serius bahkan mengancam jiwa.

 

Efek samping tersebut termasuk:

  • Kematian
  • Kejang
  • Peningkatan denyut nadi
  • Penurunan kesadaran

 

Rekomendasi yang sama juga disampaikan oleh American Academy of Pediatrics (APA). APA merekomendasikan untuk tidak meresepkan atau merekomendasikan obat batuk dan pilek untuk penyakit ISPA pada anak-anak <4 tahun. (Choosing Wisely 2014 Mar 17)

 

Bila Anda ingin mengajukan pertanyaan atau pendapat terkait artikel ini, silakan tuliskan di kolom komentar.

 

Referensi Utama
  1. Hersh AL, Jackson MA, Hicks LA, American Academy of Pediatrics Committee on Infectious Diseases. Principles of judicious antibiotic prescribing for upper respiratory tract infections in pediatrics.  2013 Dec;132(6):1146-54full-text
  2. Harris AM, Hicks LA, Qaseem A. Appropriate Antibiotic Use for Acute Respiratory Tract Infection in Adults: Advice for High-Value Care From the American College of Physicians and the Centers for Disease Control and Prevention. Ann Intern Med. 2016 Mar 15;164(6):425-34, summary for patients can be found in Ann Intern Med 2016 Mar 15;164(6):I34
  3. Sanchez GV, Fleming-Dutra KE, Roberts RM, Hicks LA. Core Elements of Outpatient Antibiotic Stewardship. MMWR Recomm Rep. 2016 Nov 11;65(6):1-12