Akhirnya Lulus?: Sebuah Renungan Bagiku & Rekan Sejawat

Untuk Angkatan 2010 Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala yang berbahagia.

Suatu kehormatan bagi saya dapat berbagi kelelahan dan pengalaman yang tidak dapat dilupakan dengan kalian selama 6 tahun. Izikanlah saya menulis sebuah renungan untuk kita semua. “Hidup adalah sebuah pilihan”. Memilih merupakan kekuatan terbesar manusia yang diberikan oleh sang pencipta. Kita semua telah memilih suatu kesempatan untuk berbagi berbagai halangan dan rintangan dalam beberapa tahun terakhir serta berharap dapat menggapai cita, harapan dan asa sebagaimana kita pada hari ini yang telah bersiap menyosong petualangan baru di hadapan kita semua.

Kita memulai pendidikan kedokteran ini dengan semangat. Semangat menggapai mimpi masa kecil atau realisasi ambisi orang tua. Kita berhasil diterima pada Fakultas Kedokteran. Siapa yang tidak senang? Tapi, Kita menyadari bahwa diperlukan tekat baja dan kerja keras untuk menjadi seorang dokter terbaik. Tetapi terkadang kita juga takut. Takut jika, “Bagaimana jika “mereka” mengetahui saya tidak terlalu pintar?” atau “wow, “Bonar” telah menyelesaikan membahas setengah silabus anatomi hanya dalam waktu setengah hari!”, kita takut orang lain lebih baik dari pada kita. Akan tetapi, apakah kita menyadari bahwa setiap dari kita adalah individu yang unik. Individu yang diapresiasi atas bakat yang berbeda dari masing-masing kita, dan kemudian kita mulai bangga dan nyaman dengan pemberian Allah SWT yang unik tersebut.

Izinkan saya kembali menuliskan tahun pertama pendidikan kita. Saya pribadi menyebutnya sebagai SMA kelas 4 atau kelas XIII ditambah dengan beberapa kuliah pengantar ilmu hukum dan etika. Kita mencoba untuk memahami kata-kata yang sulit misalnya “sulcus tendinis fleksoris halucis longus os calcaneus” (percayalah ini adalah istilah terpanjang di atlas Sobotta) untuk sebuah lekukan tempat melekatnya sebuah otot pada sebuah tulang atau saat masa preklinik dimana kita selalu dibayang-bayangi oleh sinyal-sinyal yang menyatakan kepada kita bahwa kita harus pulang ke rumah. Pertanyaan “Kapan bisa pulang ke rumah?” selalu terpirikirkan. Terkadang kita membesarkan diri kita sendiri dengan berkata dalam hati “Sabar, tinggal 4-5 jam lagi kita pasti pulang”. Di rumah, bantal dan kasur yang bahkan pasti akan menjadi teman terindah itupun kalau tidak ada referat atau laporan kasus yang harus diselesaikan.

Berikan Komentar Di Sini

One thought to “Akhirnya Lulus?: Sebuah Renungan Bagiku & Rekan Sejawat”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.