Featured Image Termometer

Termometer adalah alat untuk mengukur suhu. Tidak hanya suhu tubuh, penggunaan termometer sangat luas. Mulai dari mengukur suhu lingkungan sampai pada mengukur berbagai macam suhu dalam industri.

Ilustrasi Alat Pengukur Suhu Tubuh
Ilustrasi Alat Pengukur Suhu (pixabay.com)

Termometer yang kita gunakan pada pelayanan kesehatan atau termometer rumah berbeda dengan termometer ruangan atau termometer industri. Jenisnya juga beragam seperti:

  1. Digital
  2. Air raksa
  3. Inframerah
  4. Termometer dahi dan termometer telinga

 

Pada artikel ini kami akan memberikan gambaran seputar:

  1. Apa itu termometer?
  2. Bagaimana alat ini bekerja?
  3. Bagaimana kita menggunakan alat ini untuk mengukur suhu tubuh?
  4. Kapan kita harus menggunakan alat ini?
  5. Kenapa kita butuh alat ini di setiap rumah?
  6. Bagaimana membaca hasil pengukuran termometer?

 

Mari kita mulai dengan mengenal termometer lebih dekat.

 

Apa itu Termometer Pengukur Suhu Tubuh?

demam akut
Ilustrasi Termometer Mengukur Demam (pixabay.com)

Termometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur suhu tubuh. Tenaga kesehatan menggunakan alat ini mengukur dan memantau suhu tubuh.

 

Kata termometer berasal dari kata Thermo yang berarti panas dan Meter yang berarti pengukuran.

 

Pengukuran suhu berulang berguna untuk mendeteksi perubahan suhu tubuh karena masalah atau gangguan tertentu. Pengukuran berulang juga berguna dalam memantau efektivitas pengobatan atau perawatan lain.

 

Tenaga kesehatan juga akan memeriksa dan mencatat suhu tubuh pasien bila mengalami demam tinggi (pireksia) atau untuk memantau derajat hipotermia (suhu tubuh rendah).

 

Suhu normal tubuh adalah 37 °C. Demam adalah sebutan untuk suhu tubuh lebih dari 38,3 °C. Pada bayi di bawah tiga bulan, demam adalah suhu tubuh di atas 38,9 °C.

 

Sementara hipotermia adalah istilah yang digunakan untuk suhu tubuh anak-anak dan orang dewasa di bawah 35,5 °C.

 

Bagaimana Cara Kerja Termometer?

Ragam Hasil Pengukuran Suhu Tubuh
Ragam Hasil Pengukuran Suhu Tubuh (pixabay.com)

Suhu adalah ukuran jumlah panas atau energi panas. Partikel penyusun suatu benda mengeluarkan sejumlah energi panas tertentu yang dapat kita ukur menggunakan termometer.

 

Pernahkah kita bertanya bagaimana cara kerja alat pengukur suhu?

 

Pada alat pengukur suhu tubuh konvensional (menggunakan air raksa) terdapat tabung kaca yang berisi cairan berupa air raksa (merkuri) atau alkohol.

 

Tabung kaca tersebut memiliki ujung yang sensitif terhadap panas (biasanya terbuat dari metal). Bila bagian ujung tabung kaca memanas, cairan dalam tabung akan meningkat.

 

Tabung kaca ini kemudian memiliki skala ukuran dalam satuan derajat. Ukuran suhu adalah ketinggian cairan dalam tabung kaca yang terbaca dalam satuan derajat tertentu.

 

Alat pengukur suhu sering menggunakan Alkohol sebagai cairannya. Alkohol adalah cairan yang baik karena tetap menjadi cairan pada sebagian besar suhu normal yang ditemukan di permukaan bumi.

 

Terkadang kita dapat menemukan termometer alkohol di sekolah. Alkohol pada alat pengukur suhu sering diberi warna merah atau hijau agar cairannya lebih mudah terlihat.

 

Namun, alkohol tidak banyak digunakan pada suhu panas karena alkohol mendidih pada suhu  sekitar 80°C. Untuk suhu yang lebih tinggi, kita memerlukan cairan yang berbeda. Air raksa atau merkuri adalah contoh cairan lain yang sering kita temukan pada alat pengukur suhu.

 

Meskipun demikian, air raksa atau merkuri dapat menimbulkan efek buruk terhadap tubuh kita dan lingkungan. Penggunaannya dalam alat kesehatan telah mendapat larangan.

 

Hal ini pula yang menjadi alasan mengapa saat ini banyak jenis alat pengukur suhu tubuh tersedia untuk menggantikan termometer air raksa.

 

Mari kita kenali satu per satu jenis alat pengukur suhu tubuh ini.

 

Jenis-Jenis Termometer Pengukur Suhu Tubuh

Termometer Air Raksa

termometer demam
termometer raksa (pixabay.com)

Alat pengukur suhu tubuh merkuri terdiri dari tabung kaca sempit dengan panjang sekitar 5 inci (12,7 cm) dengan tanda ukuran di sepanjang satu atau kedua sisi yang menunjukkan skala suhu, ditunjukkan dalam derajat Fahrenheit, Celcius, atau keduanya.

 

Merkuri cair tertahan dalam bohlam metal pada salah satu tabung kaca. Cairan ini akan naik ketika bohlam metal bersentuhan dengan tubuh. Termometer air raksa tidak digunakan dalam pelayanan kesehatan modern.

 

Mengapa termometer air raksa dilarang penggunaannya dalam pelayanan kesehatan modern?

 

Risiko Air Raksa atau Merkuri

Terdapat rekomendasi internasional yang melarang penjualan termometer dan monitor tekanan darah yang mengandung merkuri atau air raksa.

 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan surat edaran tentang penghapusan dan penarikan alat kesehatan bermerkuri di fasilitas pelayanan kesehatan 100 persen pada tahun 2020.

 

Aktivis kesehatan khawatir dengan merkuri dari instrumen yang rusak atau tidak diinginkan akan mencemari lingkungan.

 

Termometer air raksa mengandung 0,7 gram air raksa. Sebanyak 1 gram air raksa tersebut cukup untuk mencemari danau seluas 20 hektar.

 

Di samping itu, penggunaan alat kesehatan bebas merkuri juga dapat memantau informasi kesehatan. Tekanan darah dan suhu tubuh dapat terpantau menggunakan alat bebas merkuri tanpa mengurangi akurasi alat kesehatan tersebut.

 

Termometer Digital

Termometer Digital
Termometer Digital (sarang, Public domain, via Wikimedia Commons)

Alat pengukur suhu tubuh elektronik atau digital dapat merekam berbagai suhu antara 35 °C sampai 42 °C). Penggunaannya juga cukup mudah dan dapat merekam suhu tubuh pada bagian mulut, ketiak, atau rektal.

 

Alat pengukur suhu tubuh ini miliki sensor suhu di dalam probe berujung bulat yang dapat ditutup dengan pelindung sekali pakai untuk mencegah penyebaran infeksi.

 

Sensor terhubung ke wadah yang menampung unit pemrosesan pusat. Informasi yang dikumpulkan oleh sensor kemudian ditampilkan pada layar tampilan.

 

Beberapa model alat pengukur suhu tubuh elektronik memiliki fitur lain seperti mengingat kembali rekaman terakhir atau layar tampilan besar untuk memudahkan pembacaan.

 

Termometer Timpani atau Termometer Telinga

Ilustrasi Mengukur Suhu Tubuh di Telinga
Ilustrasi Mengukur Suhu Tubuh di Telinga (BruceBlaus, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Alat pengukur suhu tubuh timpani memiliki probe berujung bundar yang berisi sensor yang dapat ditutup dengan pelindung sekali pakai untuk melindungi dari penyebaran infeksi telinga.

 

Probe dapat ditempatkan di saluran telinga selama satu detik sementara sensor inframerah mencatat panas tubuh yang dipancarkan oleh gendang telinga. Bacaan kemudian muncul di layar unit.

 

Termometer Sekali Pakai

Alat pengukur suhu tubuh sekali pakai adalah strip plastik dengan titik-titik di permukaannya yang telah ditempatkan bahan kimia yang sensitif terhadap suhu.

 

Strip tersebut lengket di satu sisi untuk menempel pada kulit di bawah ketiak dan mencegah selip.

 

Titik-titik tersebut berubah warna pada suhu yang berbeda karena bahan kimia di dalamnya merespons panas tubuh.

 

Suhu dapat terbaca setelah dua hingga tiga menit, tergantung pada pedoman instrumen.

 

Produk-produk ini bervariasi dalam lamanya penggunaan; mungkin sekali pakai, dapat digunakan kembali, atau digunakan terus menerus hingga 48 jam.

 

Termometer sekali pakai berguna untuk anak-anak, karena dapat merekam suhu saat anak-anak tidur.

 

Hal lain yang harus menjadi perhatian kita sebelum menggunakan termometer adalah memastikan bahwa alat pengukur suhu yang kita beli telah terdaftar.

 

Kementerian Kesehatan mencatat dan menguji apakah alat kesehatan tertentu layak digunakan untuk mengukur tanda-tanda vital.

 

Kami merangkum alat kesehatan untuk mengukur suhu tubuh yang telah mendapat izin edar pada daftar di bawah ini.

 

Daftar Termometer Berizin Edar Kemenkes

  1. TERUMO Digital Clinical Thermometer
  2. HUBDIC Thermo Buddy Infrared Ear Thermometer
  3. HUBDIC Non-Contact Infrared Thermometer
  4. ONEMED Medical Digital Thermometer
  5. THERMOONE Digital Clinical Thermometer
  6. JUMPER Dual Mode Infrared Thermometer
  7. SERENITY Digital Thermometer
  8. SERENITY Infrared Ear Thermometer
  9. SERENITY Digital Thermometer
  10. BEURER Express Thermometer
  11. BEURER Clinical Thermometer
  12. BEURER Multifunction Thermometer
  13. OMRON Ear Thermometer
  14. OMRON Forehead Thermometer
  15. GENERAL CARE Digital Thermometer
  16. GENERAL CARE Digital Flexible Thermometer
  17. GENERAL CARE Digital Thermometer
  18. GENERAL CARE Digital Thermometer YD-201
  19. LAICA Infrared Forehead Thermometer
  20. PUREMED Digital Thermometer
  21. PUREMED Ear Infrared Thermometer
  22. RADIANT Infrared Ear & Forehead Thermometer
  23. RADIANT Infrared Forehead Thermometer
  24. RADIANT Infrared Ear Thermometer
  25. RADIANT Infrared Ear Thermometer
  26. ABN Digital Thermometer
  27. ONEMED Ear Thermometer
  28. YUWELL Infrared Thermometer
  29. ONEMED Digital Thermometer
  30. ONEMED Digital Clinical Thermometer
  31. THERMSCAN Infrared Thermometer
  32. AVICO Thermometer Flexible
  33. LAICA BODYFORM Infrared Ear & Forehead Thermometer
  34. ELITECH Medical Non Contact Forehead Thermometer
  35. POLYHEALTH Infrared Thermometer
  36. ENDO Infrared Thermometer ( Non-Touch )
  37. LUNA LIFE Thermogun (Thermometer Inframerah Digital)
  38. RGB MEDICAL Electronic Thermometer
  39. SAKAMED Thermometer Digital Rigid
  40. SAKAMED Thermometer Digital Infrared

 

Daftar tersebut hanya berisi sebagian dari alat pengukur suhu tubuh yang terdaftar pada Kementerian Kesehatan. Untuk melihat daftar lengkapnya silakan klik tautan di bawah ini:

http://infoalkes.kemkes.go.id

 

Selanjutnya mari kita pelajari bagaimana cara menggunakan alat pengukur suhu tubuh dengan benar.

 

Bagaimana Cara Menggunakan Termometer?

Terkadang kita menganggap pengukuran suhu tubuh adalah tindakan yang mudah. Namun, mendapatkan hasil pengukuran suhu tubuh yang akurat terutama pada bayi dan anak terkadang menyulitkan.

 

Salah satu pertanyaan yang paling sering adalah dimana lokasi pengukuran suhu tubuh yang paling akurat?

 

Termometer klinis mempunyai daerah ukur antara dahi, telinga, ketiak, mulut, dan dubur.

 

Mari kita bahas satu per satu.

 

Lokasi Pengukuran Suhu Tubuh yang Akurat

Suhu rektal (dubur) adalah suhu tubuh yang paling akurat. Pengukuran suhu tubuh yang dilakukan di mulut, ketiak, dahi, dan telinga juga akurat bila tindakan pengukuran dilakukan dengan benar.

 

Suhu ketiak adalah suhu tubuh yang paling tidak akurat. Namun, mengukur suhu tubuh di ketiak lebih baik dari pada kita tidak melakukan pengukuran suhu tubuh sama sekali.

 

Lokasi terbaik ini juga tergantung dari usia anak atau bayi yang akan kita ukur suhu tubuhnya. Mari kita bahas lebih lanjut.

 

Untuk bayi berusia kurang dari 3 bulan (90 hari)

Suhu ketiak paling baik karena paling aman dan berfungsi dengan baik untuk pemeriksaan cepat. Jika suhu ketiak lebih dari 37,2 °C, periksa kembali dengan suhu rektal.

 

Sebaiknya periksa kembali dengan suhu rektal karena jika bayi benar-benar demam, kita harus segera memeriksakan diri ke penyedia layanan kesehatan.

 

Untuk anak berusia antara 3 bulan sampai 4 atau 5 tahun

Pengukuran suhu dubur atau rektal dengan alat pengukur suhu digital adalah yang terbaik.

 

Mengukur suhu tubuh di telinga dapat dilakukan setelah usia 6 bulan. Suhu ketiak bagus untuk pemeriksaan cepat jika dilakukan dengan benar.

 

Untuk anak di atas 4 atau 5 tahun

Mengukur suhu tubuh melalui mulut (secara oral), atau gunakan arteri temporalis atau menggunakan termometer telinga adalah salah satu cara yang paling direkomendasikan.

 

Cara Menggunakan Termometer yang Benar

Untuk cara penggunaan termometer yang benar silakan unduh file presentasi atau pdf yang kami sediakan melalui tautan di bawah ini.

 

Termometer.pptx

Termometer.pdf

 

File tersebut berisi langkah-langkah pengukuran suhu tubuh disertai dengan ilustrasi yang dapat membantu kita mengukur suhu tubuh dengan baik dan benar.

Lalu, Bagaimana menentukan hasil pengukuran suhu tubuh yang telah kita lakukan?

 

Menentukan Hasil Pengukuran Suhu Tubuh

Pengukuran suhu tubuh kita lakukan untuk menentukan apakah kita mengalami perubahan suhu tubuh. Kita mencatat ukuran suhu tubuh untuk menentukan apakah kita atau keluarga kita mengalami demam (hipertermia) atau untuk memantau derajat hipotermia.

 

Suhu tubuh normal bila kita melakukan pengukuran pada mulut (secara oral) adalah 37 °C, dengan kisaran 36,5 °C sampai 37,2 °C.

 

Demam umumnya dianggap sebagai suhu tubuh lebih tinggi dari 38,3 °C. Meskipun pada orang lanjut usia suhu tubuh lebih tinggi dari 38 °C dapat dikategorikan sebagai demam.

 

Hipotermia dikenali sebagai suhu di bawah 35,5 °C.

 

Bila teman-teman tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang hipotermia maka teman-teman dapat membaca artikel kami pada tautan di bawah ini:

Hipotermia: Diagnosis dan Tatalaksana – WhiteCoatHunter

 

Kapan Kita Harus Bertemu Dokter Berdasarkan Pengukuran Suhu Tubuh

Salah satu alasan mengapa kita harus memiliki alat pengukur suhu tubuh di rumah karena terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan perubahan suhu tubuh. Baik demam dan hipotermia karena kondisi tertentu mengharuskan kita segera mendapatkan pelayanan kesehatan.

 

Beberapa hal yang dapat dijadikan patokan bahwa kita harus segera bertemu dokter setelah melakukan pengukuran suhu tubuh antara lain:

  1. Mengalami hipotermia suhu di bawah 35,5 °C
  2. Suhu tubuh lebih tinggi dari 39,4 °C disertai dengan salah satu atau beberapa gejala berikut:
    • Sakit kepala parah
    • Ruam kulit yang tidak biasa, terutama jika ruam memburuk dengan cepat
    • Sensitivitas yang tidak biasa terhadap cahaya terang
    • Leher kaku dan nyeri saat menundukkan kepala ke depan
    • Kebingungan
    • Muntah terus menerus
    • Kesulitan bernapas atau nyeri dada
    • Sakit perut atau nyeri saat buang air kecil
    • Kejang

 

Demikian artikel terkait termometer ini kami susun. Semoga dapat membantu kita untuk melakukan pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer yang lebih akurat.

 

Referensi

  1. Bickley, Lynn S., and Peter G. Szilagyi. Bates’ Guide to Physical Examination & History Taking. 11th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins, 2013.
  2. Seidel, Henry M. Mosby’s Physical Examination Handbook. 7th ed. St. Louis, MO: Mosby/Elsevier, 2011.
  3. Swartz, Mark A. Textbook of Physical Diagnosis: History and Examination. 6th ed. Philadelphia: Saunders/Elsevier, 2010.
  4. Fallon, L. Fleming. “Thermometer.” The Gale Encyclopedia of Surgery and Medical Tests, edited by Kristin Key, 3rd ed., vol. 4, Gale, 2014, pp. 1810-1813. Gale Health and Wellness, https://link.gale.com/apps/doc/CX3199500548/HWRC?u=stanhosp_main&sid=HWRC&xid=0f1ad17c
  5. Stockley, Margaret A. “Thermometer.” The Gale Encyclopedia of Nursing and Allied Health, edited by Jacqueline L. Longe, 4th ed., vol. 6, Gale, 2018, pp. 3490-3492. Gale Health and Wellness, https://link.gale.com/apps/doc/CX3662601130/HWRC?u=stanhosp_main&sid=HWRC&xid=bc8bce6e

By Rifan Eka Putra Nasution

Dr. Rifan Eka Putra Nasution, Lahir di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, 29 Oktober 1992. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahiran lalu menyelesaikan pendidikan tingginya pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.Dr. Rifan mendapatkan medali Emas pada Olimpiade Kedokteran Regional Sumatera Pertama untuk cabang Kardiovaskular-Respirologi dan menghantarkan dirinya menjadi Mahasiswa Berprestasi Universitas Syiah Kuala pada tahun 2013. Pada tahun 2014, ia mendapatkan penghargaan Mahasiswa Kedokteran Berprestasi Se-Sumatera dari ISMKI Wilayah I.Saat ini beliau bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan Jabatan Dokter Ahli Pertama di UPTD Puskesmas Sukarame, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara.Beliau juga aktif menulis di Media Online dan Situs Kedokteran dan Kesehatan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan Newsletter Kami

Berlangganan Newsletter Kami

Bergabunglah dengan milis kami untuk menerima berita dan pembaruan terbaru dari tim kami.

Anda Telah Berhasil Berlangganan