Skip to main content

Terapi Nyeri: Pemilihan Obat Berdasarkan Jenis Nyeri

Bila Artikel Ini Bermanfaat Silakan di Share:

International Association for the Study of Pain (IASP) mendefinisikan nyeri sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual atau potensial. Nyeri masih menjadi salah satu masalah kesehatang global dimana 1 dari 5 orang pasti pernah mengalaminya. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pertama sekali mempublikasikan pedoman pada bulan Maret 2016 untuk pemberian opioid pada nyeri kronik (termasuk nyeri kronik non kanker, nyeri kanker, dan nyeri pada akhir kehidupan). Meskipun demikian, terapi nyeri masih menjadi salah satu topik yang membutuhkan perhatian. Kondisi ini terkait dengan penentuan jenis nyeri serta pemilihan golongan obat anti nyeri pada pasien yang membutuhkan terapi nyeri. Artikel ini akan mencoba untuk memberikan gambaran bagaimana pemilihan golongan obat anti nyeri berdasarkan jenis nyerinya.

 

Terapi Nyeri akut

Nyeri akut dapat reda dalam rentang waktu penyembuhan yang diharapkan atau suatu kondisi yang sembuh dengan sendirinya (self-limited). Contoh dari nyeri akut antara lain:

  1. Nyeri akibat fraktur
  2. Nyeri karena batu ginjal dan saluran kemih
  3. Nyeri pasca pembedahan
  4. Nyeri pasca trauma

 

Manajemen nyeri akut dilakukan berdasarkan jenis nyeri, berupa:

 

Selain itu, risiko dan keuntungan terapi potensial juga harus menjadi pertimbagan dalam melakukan terapi nyeri.

 

Nyeri akut yang tidak mendapatkan terapi adekuat akan menjadi memiliki konsekuensi perburukan dengan segera; pada beberapa persen pasien, nyeri kronik akan berkembang setelah periode nyeri akut. Transisi dari nyeri akut ke nyeri kronik (disebut juga kronifikasi nyeri) sangat bergantung pada:

  • Penyebab nyeri
  • Jenis nyeri
  • Keparahan nyeri
  • Usia pasien
  • Status sosial
  • Genetik, dan faktor lainnya.

 

terapi nyeriOxford League Table of Analgesics merupakan pedoman yang berguna karena memiliki daftar jumlah pasien yang membutuhkan pengobatan dari berbagai dosis golongan obat untuk mengatasi nyeri akut. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) dan cyclooxygenase (COX) inhibitors merupakan golongan terbaik dengan jumlah pasien yang membutuhkan pengobatan paling kecil.

 

Parasetamol juga dapat digunakan sebagai anti nyeri akut tunggal atau dikombinasikan dengan COX-i atau opiod. Meskipun teori mekanisme kerja PCT masih belum jelas, obat ini merupakan analgesik dengan toleransi paling baik dan batasan primernya hanya hepatotoksik pada pemberian dosis tinggi (3-4 gram/hari) atau pada pasien yang sebelumnya mengalami gangguan fungsi hepar (berikan < 2 gram/hari).

 

 

 

 

 

 

Terapi Nyeri Kronik Non-Kanker

Sebelas persen populasi dewasa Amerika menderita nyeri kronik non kanker. Nyeri ini dapat bermula sebagai nyeri akut dan gagal untuk mengalami penyembuhan dan mengalami perpanjangan waktu penyembuhan yang diharapkan, atau sebagai kondisi penyakit primer, serta gejala sisa dari kondisi lainnya. Contoh dari nyeri kronik non kanker antara lain:

  • Nyeri punggung bawah
  • Artralgia kronik (sering somatik)
  • Nyeri abdomen kronik
  • Nyeri panggul kronik (sering viseral)
  • Nyeri kepala kronik
  • Neuropati perifer
  • Neuralgia post herpetik
  • Beberapa sindrom seperti: neuralgia trigeminal, sindrom nyeri regional

 

Nyeri kronik non kanker membutuhkan model manajemen terapi nyeri interdisiplin ilmu kedokteran dengan melibatkan antara lain:

  • Terapi farmakologis
  • Modalitas intervensi
  • Terapi fisik/fungsional
  • Psikologi yeri
  • Pendekatan komplementer/integratif

 

Terapi Nyeri Kanker

Nyeri ini memiliki penggolongan sendiri pada taksonomi nyeri. Hal ini dilakukan karena fitur unik yang menyertainya dan karena metastasis kanker tidak terkontrol dengan pengobatan analgesk akan diprediksi menyulitkan akir kehidupan. Pada manajemen terapi nyeri kanker, terdapat tumpang tindih dengan beberapa area manajemen nyeri akut dan kronik non kanker.

 

Nyeri kanker dapat terdiri dari nyeri akut dan kronik yang berasal dari neoplasma itu sendiri atau dari terapi yang berhubungan dengan kanker. WHO Analgesic Ladder yang dipublikasikan pada tahun 1986, menyarankan untuk memulai terapi dengan menggunakan analgesik non opioid, kemudian agonis opioid lemah, disertai dengan agonis opioid kuat.

 

Referensi:

  1. Chapman  CR  et al. The transition of acute postoperative pain to chronic pain: an integrative overview of research on mechanisms. J Pain. 2017 Apr;18(4):359.
  2. The Oxford Pain Group League Table of Analgesic Efficacy. http://www.nature.com/ebd/journal/v5/n1/fig_tab/6400237t1.html
  3. Buchbinder  R  et al. Placing the global burden of low back pain in context. Best Pract Res Clin Rheumatol. 2013 Oct;27(5):575–89. 
  4. Williams  CM  et al. Efficacy of paracetamol for acute low-back pain: a double-blind, randomised controlled trial. Lancet. 2014 Nov 1;384(9954):1586–96. 
  5. Reville  B  et al. The global state of palliative care—progress and challenges in cancer care. Ann Palliat Med. 2014 Jul;3(3):129–38. 
Berikan Komentar Di Sini
Bila Artikel Ini Bermanfaat Silakan di Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.