anak demam

Diagnosis dan Tatalaksana Demam Pada Anak

Demam pada anak dapat didefinisikan sebagai suhu pada anus (rektal) > 38°C atau suhu pada ketiak (aksila) > 37,2°C atau suhu pada mulut > 37,5°C (oral).

 

Demam < 41,7 °C tidak menyebabkan kerusakan otak. Dan hanya 4% dari total anak yang demam mengalami kejang demam.

demam pada anak
Sumber: https://pixabay.com

Beberapa istilah yang perlu dipahami terkait dengan demam pada anak antara lain:

 

  1. Hiperpireksia

Istilah ini digunakan untuk kondisi suhu tubuh > 41,5°C. Kondisi ini membutuhkan terapi anti piretik agresif karena berisiko untuk menimbulkan kerusakan organ permanen (irreversibel)

 

  1. Fever of unknown origin (FUO)

FUO berarti demam > 3 minggu, demam > 38°C pada beberapa kesempatan pengukuran, dan diagnosis yang tidak jelas setelah 1 minggu perawatan dan pemeriksaan di rumah sakit.

 

  1. Nosocomial FUO

Istilah ini merujuk kepada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit bukan karena penyakit infeksi atau gejala deam tapi memiliki suhu tubuh > 38,3°C dalam beberapa kali pemeriksaan dengan menggunakan termometer.

 

 

Diagnosis Demam Pada Anak

Pencatatan Demam Pada Anak

diagnosis demam pada anak
Sumber: https://pixabay.com
  • Suhu tubuh yang diperiksa pada mulut cukup akurat untuk menentukan apakah seorang anak mengalami demam atau tidak bila anak tidak mengkonsumsi minuman dingin atau panas sekurangnya 20 menit sebelum pemeriksaan dilakukan.
  • Suhu tubuh pada ketiak sebenarnya paling tidak akurat dan pemeriksaan suhu tubuh ada anus tidak nyaman terutama pada anak yang sudah cukup besar.
  • Pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer membran timpani menunjukkan suhu tubuh yang akurat dan lebih aman dibandingkan termometer klasik (termometer raksa)
  • Termometer raksa harus ditempatkan sekitar 2 menit untuk pengukuran pada anus; 3 menit pada mulut; dan 5-6 menit untuk ketiak
  • Termometer digital dapat mengukur suhu tubuh kurang dari 2 detik tapi tentu saja harganya lebih mahal

 

Temukan Penyebab Demam Pada Anak

  • Cobalah untuk menentukan penyebab demam berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik
  • Demam dengan durasi singkat (< 2 minggu) biasanya terjadi karena infeksi
  • Karakter demam (misalnya relaps, Pel Ebstein, Step ladder) dapat memberikan petunjuk penyebab demam.
  • Hiperpireksia karena paparan lingkungan yang panas, demam karena dehidrasi, demam karena alergi obat, dan krisis hemolitik merupakan penyebab yang jarang ditemukan untuk kasus demam dengan durasi singkat.

 

Secara sederhana demam pada anak juga dapat dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan gejala dan tanda yang ditemukan pada anak, yaitu:

 

  1. Demam karena infeksi tanpa tanda lokal (Tabel 1)

 

Tabel 1 Diagnosis Banding demam tanpa tanda lokal

DiagnosisDeskripsi
Malaria·   Onset tiba-tiba disertai menggigil kemudian berkeringat

·   Apusan darah positif malaria

·   Tes diagnostik cepat (RDT) positif

·   Anemia berat

·   Pembesaran limfa (lien)

Septikemia·   Sakit berat dan sakit tanpa penyebab yang pasti

·   Purpura atau petekie

·   Syok atau hipotermia

Demam Tifoid·   Sakit berat dan sakit tanpa penyebab yang pasti

·   Nyeri tekan abdomen

·   Kebingunan

·   Mencret dan muntah

Infeksi saluran kemih·   Nyeri ketok CVA atau suprapubik

·   Nyeri ketika buang air kecil

·   Buang air kecil menjadi lebih sering

·   Inkontinesia urin

·   Leukosit dan/atau bakteri pada urin

 

  1. Demam karena infeksi dengna tanda lokal (Tabel 2)

 

Tabel 2 Diagnosis Banding demam dengan tanda lokal

DiagnosisDeskripsi
Meningitis
  • Demam dengan nyeri kepala dan muntah
  • Kejang
  • Leher kaku (tanda meningeal positif)
  • Ubun-ubun cembung (bulging)
  • Ruam meningococcal (petekie atau purpura)
Otitis Media
  • Gendang telinga eritem pada pemeriksaan otoskopi
  • Pus dari telinga
  • Nyeri telinga
Mastoiditis
  • Nyeri atau kemerahan di bagian belakang telinga
Osteomielitis
  • Nyeri lokal
  • Terbatasnya gerakan tungkai yang sakit
  • Batasan menyangga berat badan pada tungkai yang sakit
Artritis septik
  • Sendi terasa panas, nyeri, dan bengkak
Pneumonia
  • Batuk dengan sesak napas
  • Demam
  • Rhonki
  • Nyeri dada
Infeksi saluran napas atas
  • Gejala batuk dan pilek
  • Disertai perasaan tidak enak badan (letih dan lemah)

 

  1. Demam disertai ruam pada kulit (Tabel 3)

 

Tabel 3 Diagnosis Banding demam disertai ruam pada kulit

DiagnosisDeskripsi
Campak/Measles/Rubeola
  • Ruam tipikal (makulopapular)
  • Batuk, hidung berair, mata merah
  • Terpapar penderia campak sebelumnya
  • Tidak mendapatkan imunisasi campak
Infeksi Virus
  • Badan letih dan lemas
  • Ruam tidak spesifik transien
Infeksi Meningococcal
  • Ruam petekie atau purpura
  • Kulit lebam
  • Syok
  • Leher kaku bila disertai dengan meningitis
Demam Berdarah Dengue
  • Nyeri perut
  • Petekie
  • Perdarahan pada hidung, gusi atau perdarahan saluran cerna
  • syok

 

 

Selain itu dapat pula dipikirkan kemungkinan diagnosis pada demam yang lebih dari 7 hari (Tabel 4)

 

Tabel 4 Diagnosis Banding demam lebih dari 7 hari

DiagnosisDeskripsi
Abses
  • demam tanpa fokus infeksi yang jelas (deep abses)
  • massa dengan nyeri tekan atau fluktuasi
  • nyeri lokal
  • tanda spesifik pada daerah supraprenikus, liver, psoas, retroperitoneal, paru-paru, atau renal
Demam Reumatik
  • Murmur jantung
  • Artritis/artralgia
  • Gagal jantung
  • Denyut nadi cepat
  • Pericardial friction rub
  • Korea
  • Riwayat infeksi streptoccocal
Endokarditis Infektif
  • Penurunan berat badan
  • Lien membesar
  • Anemia
  • Murmur jantung
  • Perdarahan splinter pada nailbed
  • Hematuria mikroskopik
  • Jari tabuh
Tuberkulosis
  • Penurunan berat badan
  • Anoreksia, keringat pada malam hari
  • Batu
  • Pembesaran hepar dan/atau lien
  • Riwayat keluarga dengan tuberkulosis
  • Rongent paru mengarah ke tuberkulosis
  • Tes tuberkulin positif
  • Limfadenopati

 

 

  • Demam yang bertahan hingga > 2 minggu harus diinvestigasi terkait dengan infeksi, keganasan, gangguan jaringan ikat, penyakit autoimun, dan penyebab metabolik
  • Pemeriksaan laboratorium yang sesuai seperti pemeriksaan darah lengkap, apusan darah tepi, urinalisa, tes serologi, pemeriksaan radiologi (terutama rongent thoraks) dan kultur darah atau cairan tubuh. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan sesuai indikasi dengan memperhatikan tanda dan gejala terkait demam.

 

 

Anak dengan salah satu kondisi berikut harus diperiksa segera:

  • Usia < 3 bulan
  • Demam > 40,6°C
  • Menangis tanpa sebab yang jelas
  • Menangis ketika digerakkan atau disentuh
  • Sulit untuk dibangunkan
  • Leher kaku
  • Ruam ungun atau merah pada kulit
  • Sulit bernapas
  • Sulit menelan
  • Kejang
  • Tampak sakit berat

 

 

Tatalaksana Demam Pada Anak

Terapi Non Farmakologis

obat demam pada anak
sumber: https://pixabay.com
  • Tenangkan orang tua pasien atau pasien dan jelaskan bahwa demam dengan derajat ringan tidak harus diatasi dengan pemberian antipiretik
  • Berikan lebih banyak minum
  • Gunakan pakaian satu lapis yang tipis
  • Jangan berada di lingkungan yang dingin atau panas
  • Kompres menggunakan air biasa pada daerah lipatan tubuh seperti ketiak dan/atau lipat paha. Berikan parasetamol 30 menit sebelum mengompres anak.
  • Untuk anak dengan usia < 3 bulan. Identifikasi risiko rendah pada bayi seperti yang ditunjukkan pada tabel 5. Pasien dengan risiko rendah demam tidak harus dirawat di rumah sakit
  • Bila tidak memenuhi kriteria pada tabel 5 maka pasien harus dirawat di rumah sakit

 

Tabel 5. Identifikasi demam risiko rendah untuk infeksi bakteri pada anak < 3 bulan

1. Non-toksik
2. Anak sebelumnya tampak sehat
3. Tidak ditemukan fokus infeksi bakteri saat pemeriksaan fisik
4. status sosial baik
5. Hitung leukosit 5.000-15.000/μL dan < 1.500 neutrofil batang/μL
6. leukosit pada pemeriksaan urin mikroskopik leukosit ≤10 sel/lapangan pandang
7. Jika diare, hasil pemeriksaan mikroskopik feses leukosit ≤10 sel/lapangan pandang

 

Pada anak usia > 3 bulan

  • Suhu tubuh < 38°C tidak perlu diberikan antipiretik
  • Suhu tubuh > 38°C pemberian antipiretik direkomendasikan

 

 

Terapi Farmakologis

 

Parasetamol tablet atau sirup per oral 10-15 mg/kgBB/dosis, dosis dapat diulangi dengan interval 4 jam

(parasetamol menurunkan demam sekitar 1-2°C 2 jam setelah pemberian)

Perhatian!

Parasetamol intravena tidak direkomendasikan untuk anak usia < 6 bulan dan berat badan < 5 kg

ATAU

 

Ibuprofen tablet atau sirup per oral 10 mg/kgBB/dosis, dosis dapat diulangi dengan interval 8 jam.

(efektivitas sama dengan parasetamol. Efek obat dapat berlangsung sekitar 6-8 jam dibandingkan parasetamol 4-6 jam)

 

Perhatian!

Aspirin tidak boleh digunakan untuk pengobatan demam pada anak karena berpotensi menyebabkan sindrom Reye

 

Pengobatan spesifik harus dilakukan berdasarkan diagnosis.

 

Bila Anda memiliki pertanyaan seputar demam pada anak silakan tuliskan pada kolom komentar.

Referensi
  1. In: Current Paediatric Diagnosis and Treatment. Hay WW, Hayward AR, Levin MJ, Sandheimer JM (eds). 15th Edition. Lange Medical Books, New York, 2001; pp. 211-212.
  2. Fevers in Childhood. In: Ghai’s Essential Paediatrics. Ghai OP, Gupta P, Paul VK (eds). 6th Edition. Interprint, New Delhi, 2004; pp. 201-239.
  3. Facility Based IMNCI (F-IMNCI) Participants Manual. WHO, UNICEF, and Ministry of Health & Family Welfare, Government of India, 2009.
termometer demam

Diagnosis dan Tatalaksana Pada Demam Akut

Demam akut merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan suhu tubuh di atas suhu tubuh normal < 7 hari.

 

Rata-rata suhu tubuh manusia dewasa adalah sekitar 36,8 ±0,4 °C dengan suhu terendah pada pukul 6 pagi serta tertinggi pada pukul 4 hingga 6 sore.

 

Suhu tubuh > 37,2 °C pada pagi hari dan > 37,7 °C di sore hari dapat dipertimbangkan sebagai kondisi demam.

 

Demam secara klasik dapat dikelompokkan menjadi:

  • Kontinu: terus-menerus
  • Intermiten: hilang-timbul, berjeda, tidak menetap
  • Remiten: demam naik turun tapi tidak mencapai suhu tubuh normal

 

Akan tetapi, penggunaan anti piretik yang tersedia sebagai obat bebas menyebabkan pola klasik di atas sudah jarang ditemukan.

 

 

Diagnosis Demam Akut

Demam merupakan salah satu keluhan yang cukup sulit untuk ditegakkan diagnosis pastinya.

 

Terkadang bahkan diagnosis dari kondisi ini hanya sekedar observasi febris”.

 

Rentang dosis yang cukup luas ini terkadang menjadi tantangan sendiri bagi seorang dokter.

 

Jika anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat mengarahkan kepada diagnosis, misalnya seperti infeksi saluran kemih atau infeksi virus maka tidak dibutuhkan pemeriksaan lanjutan.

 

Kebutuhan akan pemeriksaan lanjutan sangat bergantung pada:

  • Keadaan umum pasien (sakit sedang atau berat)
  • Kemungkinan diagnosis (misalnya pada demam berdarah atau malaria)
  • Status kekebalan tubuh pasien (misalnya pasien immunocompromised atau orang dengan HIV/AIDS)
demam akut
Sumber: https://pixabay.com

Pada kasus dimana pasien datang dengan keadaan umum sakit sedang-berat tapi tidak ada petunjuk yang mengarahkan pada diagnosis maka pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Hitung darah lengkap dengan laju endap darah
  • Urinalisa
  • Pemeriksaan malaria
  • Pemeriksaan tifoid (tes Widal atau Tubex)

 

Bila demam menetap hingga > 2 minggu maka dapat diindikasikan pemeriksaan rongent thoraks bahkan bila pasien tidak memiliki gejala saluran napas.

 

Ultrasonografi terkadang dibutuhkan pada beberapa kasus demam akut tertentu misalnya pada pasien dengan abses hepar amoebeik.

 

 

Tatalaksana Demam Akut

obat demam
Sumber: https://pixabay.com

Penggunaan antipiretik rutin untuk demam derajat rendah tidak dapat dibenarkan.

 

Gunakan anti piretik sesuai dengan indikasi klinis.

 

Pada kondisi demam akut yang mengarah kepada diagnosis infeksi bakteri atau virus maka demam dapat ditatalaksana secara simptomatis.

 

 

Tatalaksana Non Farmakologis

Hidroterapi dengan menggunakan kompres. Teknik kompres dengan air biasa (air keran bukan air dingin [es] apalagi air panas) pada daerah lipatan seperti ketiak dan lipat paha dapat membantu menurunkan suhu tubuh.

 

Istirahat yang cukup (bed rest) dan konsumsi cukup air dapat membantu mengatasi demam.

 

 

Tatalaksana Farmakologis

Pengobatan demam akut sangat tidak spesifik dan bersifat simptomatis.

 

Beberapa pilihan pengobatan simptomatis tersebut antara lain:

 

Parasetamol tablet 500-1.000 mg setiap 6-8 jam (maksimal 4 gram dalam 24 jam)

 

Untuk dosis anak dapat diberikan:

 

10-15 mg/kg/dosis secara oral setiap 4 sampai 6 jam; maksimal 75 mg/kg/hari untuk bayi dan kurang dari 100 mg/kg/hari atau 1625 mg/hari pada anak-anak

[Catatan: kurangi dosis pada lansia dan orang dewasa dengan berat badan < 50 kg serta orang dengan risiko hepatotoksik yang lebih besar]

 

ATAU

 

Ibuprofen 400-600 mg setiap 8 jam

 

Untuk dosis anak dapat diberikan:

  • Usia 6 bulan hingga 12 tahun: 5-10 mg/kg/dosis secara oral setiap 6 hingga 8 jam sesuai kebutuhan, maksimal 4 dosis/hari

  • Usia > 12 tahun: 200 hingga 400 mg per oral setiap 4 hingga 6 jam sesuai kebutuhan, maksimal 1200 mg/hari

  • jangan memberikan lebih dari 10 hari kecuali dengan anjuran oleh dokter

 

 

Pengobatan spesifik seperti pemberian antibiotik, antiviral, atau anti malaria sangat bergantung pada kondisi klinis, evaluasi laboratoris, dan diagnosis.

 

 

Outcome

anak demam
Sumber: https://pixabay.com

Pada sebagian besar kasus demam akut. Pasien dapat pulih secra spontan atau diagnosis dapat ditentukan setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik ulang beberapa hari setelah demam muncul.

 

Jika tidak dapat menentukan diagnosis dan demam berlangsung hingga minggu ke 3 maka pasien dapat dinyatakan mengalami FUO.

 

Pasien yang mengalami Fever of Unknown Origin (FUO) harus menjalani beberapa pemeriksaan lanjutan untuk dapat menentukan diagnosis penyebab demam tersebut.

 

 

Edukasi Pasien

  • Pada demam yang tidak turun setelah pemberian anti piretik pertama kali di rumah maka hindari untuk meneruskan pengobatan rumahan dan segera periksakan pasien ke dokter
  • Anti piretik injeksi sebaiknya dihindari bila pasien masih memungkinkan untuk asupan oral dan hanya digunakan pada kasus demam berat
  • Jangan mengkonsumsi antibiotik ketika demam terjadi. Demam bukanlah penyakit melainkan gejala penyakit dan tidak tepat diobati dengan antibiotik
  • Hindari penggunaan selimut pada pasien dengan demam tinggi
  • Cobalah untuk menambah asupan air.
  • Kompres pada daerah lipatan harus dilakukan berulang kali hingga demam teratasi.

 

 

Referensi
  1. Alterations in Body Temperature. In: Harrison’s Principles of Internal Medicine. Fauci, Braunwald, Kasper et al (eds), 18th Edition, McGraw Hill Company Inc., New York, 2012; pp 143-170.
  2. Physiological Changes in Infected Patients. In: Oxford Textbook of Medicine. Warrell DA, Cox TM, Firth JD, Benz EJ Jr (eds), 4th Edition, Oxford University Press, 2003; pp 1.289-1.292.
  3. http://www.dynamed.com
Acute mountain sickness

Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Acute Altitude Illnesses

Acute altitude illnesses merupakan kondisi yang berpotensi serius yang dialami oleh orang yang berada atau naik pada ketinggian lebih dari 2.500 meter (8.202 kaki) dari permukaan air laut.

Kondisi ini memiliki banyak faktor risiko mayor termasuk pendakian yang cepat, tingkat ketinggian yang semakin meningkat, riwayat penyakit acute altitude illnesses sebelumnya, pengeluaran tenaga yang berlebihan (kelelahan), dan suhu dingin.

Kondisi ini mencakup:

Acute mountain sickness (AMS)

  • gejala dari kondii ini adalah nyeri kepala, mual/muntah, keletihan, dan pusing
  • umunya terjadi 6-12 jam paska sampai pada ketinggian dan membaik pada 1-3 hari setelahnya

High altitude cerebral edema (HACE)

  • perkembangan penyakit dari acute mountain sickness yang tidak membaik

High altitude pulmonary edema (HAPE)

  • bentuk non kardiogenik dari edema paru
  • berkembang 1-4 hari setelah sampai pada ketinggian lebih dari 2.500 meter pada orang dengan atau tanpa gejala acute mountain sickness

 

Evaluasi Acute Altitude Illnesses

Diagnosis acute mountain sickness ditegakkan pada orang yang berada pada ketinggian lebih 500 meter dari permukaan air laut yang mengalami keluhan  sakit kepala, keletihan, kelemahan, pusing, mual, muntah, anoreksia, atau sulit tidur.

Kondisi ini biasanya muncul 6-12 jam setelah sampai pada ketinggian tersebut

Acute altitude illnesses
By Benh LIEU SONG (Own work) [GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html) or CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)], via Wikimedia Commons
Diagnosis HACE ditegakkan apabila terdapat perubahan status mental pada pasien AMS yang tidak mengalami perbaikan atau perubahan status mental dan ataksia pada pasien tanpa AMS

Diagnosis HAPE ditegakkan apabila terdapat ≥ 2 gejala pulmoner (dispneu saat beristirahat, batuk, penurunan kemampuan beraktivitas, dan dada terasa sesak) dan ≥ 2 tanda (ronhki atau wheezing, sianosis sentral, takipneu, takikardi).

HAPE biasanya terjadi 1-4 hari setelah sampai, dan dapat terjadi tanpa AMS.

Pertimbangkan penggunaan skor Lake Louise untuk mengetahui tingkat keparahan AMS.

Skor Lake Louise untuk AMS

Skor ini terdiri dari 5 pertanyaan terkait gejala dan 3 pemeriksaan klinis

Kuisioner Gejala

  • Nyeri Kepala
  • Tidak ada – 0
  • Ringan – 1 poin
  • Sedang – 2 poin
  • Berat – 3 poin

Gejala gastrointestinal

  • Tidak ada – 0
  • Nafsu makan buruk atau nausea – 1 poin
  • Nausea sedang atau vomitus – 2 poin
  • Nausea dan vomitus berat – 3 poin

Kelemahan atau keletihan

  • Tidak letih atau lemah – 0
  • Ringan – 1 poin
  • Sedang – 2 poin
  • Berat – 3 poin

Pusing

  • Tidak ada – 0
  • Ringan – 1 poin
  • Sedang – 2 poin
  • Berat – 3 poin

Sulit tidur

  • Tidur baik seperti biasa – 0
  • Tidak dapat tidur seperti biasa – 1 poin
  • Terbangun beberapa kali di malam hari – 2 poin
  • Tidak dapat tidur sama sekali – 3 poin

Penilaian Klinis

Perubahan status mental

  • Tidak ada perubahan – 0
  • Letargis – 1 poin
  • Disorientasi/kebingungan – 2 poin
  • Stupor/setengah sadar – 3 poin

Penilaian ataksia (menggunakan pemeriksaan berjalan menggunakan tumit-jempol)

  • Tidak ada – 0
  • Bermanuver untuk mempertahankan keseimbangan – 1 poin
  • Berjalan keluar garis – 2 poin
  • Jatuh – 3 poin
  • Tidak mampu berdiri – 4 poin

Penilaian edema perifer

  • Tidak ada – 0
  • Satu lokasi – 1 poin
  • ≥ 2 lokasi – 2 poin

Interpretasi Skor

  • Skor 2-4 dipertimbangkan sebagai AMS ringan
  • Skor 5-15 dipertimbangkan sebagai AMS sedang-berat

 

Tatalaksana Acute Altitude Illnesses

Prinsip Tatalaksana

  • Setiap gejala atau keluhan yang tidak berkurang dengan istirahat dianggap sebagai AMS
  • Berikan parasetamol atau ibuprofen untuk nyeri kepala saat berada diketinggian tanpa gejala lainnya.
  • Berikan anti-emetik untuk gejala gastrointestinal tanpa gejala lainnya
  • Untuk AMS, HACE, dan HAPE
  • Bila memungkinkan, turun hingga gejala menghilang
  • Turun sejauh 300-1.000 meter pada umumnya adekuat tapi bervariasi antar individu
  • Jangan dibiarkan pasien turun sendiri

Untuk AMS

  • Pemberian deksametason direkomendasikan untuk semua derajat AMS khususnya derajat sedang-berat
  • Dewasa: Deksametason 4 mg PO, IV atau IM setiap 6 jam
  • Anak-anak: Deksametason 0,15 mg/kg per dosis PO, IV, IM setiap 6 jam
  • Tunda pendakian lebih lanjut setelah pasien mendapatkan deksametason sampai pasien asimptomatik tanpa obat ini.
  • Acetazolamid dapat digunakan untuk AMS ringan
  • Dewasa: Acetazolamid 250 mg 2 kali sehari PO
  • Anak: Acetazolamid 2,5 mg/kg setiap 12 jam (dosis maksimal 125 mg per dosis)

Bila tidak terdapat perbaikan terhadap manajemen konservatif, pertimbangkan:

  • Pemberian oksigan
  • Ruang hiperbarik portabel

HACE dan HAPE harus tatalaksana sebagai kondisi emergensi (kematian karena edema serebri dapat terjadi dalam hitungan jam setelah gejala)

Jika tidak memungkinkan untuk turun, pertimbangkan pemberian:

  • Oksigen
  • Ruang hiperbarik portabel

Jika sangkaan HACE

  • Lakukan terapi primer dengan deksametason 8 mg dosis pertama lalu dilanjutkan 4 mg PO, IV, atau IM setiap 6 jam
  • Pertimbangkan menambah acetazolamid 250 mg 2 kali sehari pada dewasa atau 2,5 mg/kg setiap 12 jam (maksimal 125 mg/kali beri) pada anak sebagai tambahan deksametason

Jika sangkaan HAPE

  • Tambahkan nipedifine sustained release 30 mg 2 kali sehari (tanpa dosis loading) sebagai tambahan terapi oksigen dan turun.

 

Pencegahan Acute Altitude Illnesses

Direkomendasikan naik secara bertahap kurang lebih 500 meter/hari dengan istirahat setiap 3-4 hari

Untuk orang dengan risiko sedang hingga berat (seperti riwayat high-altitude illness atau yang akan naik hingga 2.800 meter dalam satu hari)

  • Berikan acetazolamid 125 mg (2,5 mg/kg untuk anak) PO 2 kali sehari dimulai ≥ 1 hari sebelum naik dan dilanjutkan hingga mulai untuk turun.
  • Jika acetazolamid tidak ditoleransi, berikan deksametason 2 mg PO setiap 6 jam atau 4 mg PO setiap 12 jam (hingga 10 hari)

Untuk orang dengan riwayat HAPE, pertimbangkan salah satu pencegahan berikut

  • Nifedipin SR 30 mg 2 kali sehari PO dimulai dari saat naik hingga mulai turun atau 4 hari
  • Salmeterol inhalasi 125 mcg 2 kali sehari
  • Deksametason 8 mg PO 2 kali sehari
  • Tadalafil 10 mg PO 2 kali sehari

 

Referensi:

  1. Luks AM, McIntosh SE, Grissom CK, et al. Wilderness Medical Society practice guidelines for the prevention and treatment of acute altitude illness: 2014 update. Wilderness Environ Med. 2014 Dec;25(4 Suppl):S4-14
  2. Imray C, Booth A, Wright A, Bradwell A. Acute altitude illnesses.  2011 Aug 15;343:d4943
  3. Palmer BF. Physiology and pathophysiology with ascent to altitude. Am J Med Sci. 2010 Jul;340(1):69-77
  4. Fiore DC, Hall S, Shoja P. Altitude illness: risk factors, prevention, presentation, and treatment. Am Fam Physician. 2010 Nov 1;82(9):1103-10

 

Beberapa Pedoman dan Tinjauan Lainnya terkait kondisi ini dapat dilihat pada link berikut

Pedoman

International Climbing and Mountaineering Federation – Union International des Associations d’Alpinisme (UAII) guidelines for drug use and misuse in the mountains can be found in High Alt Med Biol 2016 Sep;17(3):157

Tinjauan Pustaka

JEMS 2016 Jun;41(6):22

Curr Sports Med Rep 2015 Mar-Apr;14(2):82

BMJ 2011 Aug 15;343:d4943

Am Fam Physician 2010 Nov 1;82(9):1103 full-text

 

 

obat kolesterol

Kolesterol Tinggi: Kapan Saat Tepat Minum Obat?

Kolesterol tinggi atau dalam istilah medis disebut sebagai hiperkolesterolemia merupakan suatu kondisi peningkatan kadar kolesterol total dalam darah. Kondisi ini dilaporkan menjadi salah satu diagnosis yang paling sering ditemukan saat kunjungan pasien ke dokter umum.

Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa 35% populasi dewasa di Amerika Serikat mengalami hiperkolesterolemia. Artikel ini akan memberikan gambaran terkait dengan faktor apa saja yang menyebabkan kolesterol tinggi dan kapan seseorang dengan hiperkolesterolemia harus mengkonsumsi obat penurun kadar kolesterol.

kolesterol tinggi
By BruceBlaus [GFDL or CC BY 3.0],

Faktor Risiko Kolesterol Tinggi

Banyak faktor yang dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Beberapa di antara faktor-faktor tersebut sangat berkaitan dengan gaya hidup kita, yaitu:

  • Kelebihan berat badan dan obesitas
  • Kurangnya aktivitas fisik
  • Merokok
  • Konsumsi alkohol
  • Diet dengan konsumsi sumbur karbohidrat yang tinggi (> 60% dari total kebutuhan energi harian)
  • Sindrom metabolik (kumpulan risiko metabolik seperti hipertensi dan resistensi insulin)

 

Selain faktor-faktor yang terkait dengan gaya hidup, kondisi ini juga dapat terjadi karena faktor sekunder seperti:

  • Penyakit komorbid: diabetes mellitus tipe 2, penyakit ginjal kronik, dan sindrom nefrotik
  • Hipotiroid
  • Beberapa obat seperti: progestin, steroid dan kortikosteroid, dan anti virus golongan inhibitor protease

 

Kapan Seseorang Dinyatakan Memiliki Kolesterol Tinggi?

Berdasarkan pedoman kolesterol darah tinggi pada dewasa dari National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) atau National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III, kadar kolesterol darah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • < 200 mg/dL (5,2 mmol/L) kadar kolesterol yang diinginkan
  • 200-239 mg/dL (5,2-6,2 mmol/L) kadar kolesterol batas (borderline) tinggi
  • ≥ 240 mg/dL (6,2 mmol/L) kadar kolesterol tinggi
aktivitas fisik
Design vector created by Freepik

Kapan Saat Yang Tepat Mengkonsumsi Obat?

Apabila anda memeriksaka kadar kolesterol lalu kemudian hasilnya menunjukkan lebih dari 240 mg/dl kemudian anda langsung diminta untuk mengkonsumsi obat agar kadar kolesterol dalam darah turun?

Pengobatan kolesterol tinggi sangat terkait dengan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Perubahan gaya hidup merupakan pengobatan yang pertama sekali direkomendasikan. Anda dapat memulai menurunkan kadar kolesterol dalam darah dengan merubah gaya hidup berupa:

  • Merubah diet termasuk mengurangi asupan lemak jenuh (<7%), kolesterol (< 300 mg/hari) dan total lemak (< 30-35% dari kkal kebutuhan energi harian).
  • Meningkatkan aktivitas fisik (contohnya olahraga selama 40 menit sehari dengan intensitas sedang 3-4 hari/seminggu)

 

Pemberian obat penurun kolesterol bergantung pada risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Selain itu, perlu pula dipertimbangkan penyakit lainnya misalnya orang yang memiliki kolesterol darah tinggi dan diabetes atau hipertensi secara bersamaan maka harus mendapatkan obat penurun kolesterol.

Jadi, ketika anda dikatakan memiliki kolesterol darah tinggi, maka tidak harus selalu mengkonsumsi obat penurun kolesterol. Tapi, bila anda mengalami hiperkolesterolemia bersamaan dengan hipertensi atau diabetes maka obat penurun kolesterol merupakan pilihan pengobatan yang tepat untuk anda.

 

Referensi:

  1. National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III). Third Report of the National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III) final report.  2002 Dec 17;106(25):3143-421PDF or at NHLBI 2002 Sep PDF, editorial can be found in Circulation 2002 Dec 17;106(25):3140
  2. Grundy SM, Cleeman JI, Merz CN, et al; National Heart, Lung, and Blood Institute, American College of Cardiology Foundation, American Heart Association. Implications of recent clinical trials for the National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III guidelines.  2004 Jul 13;110(2):227-39full-text, correction can be found in Circulation 2004 Aug 10;110(6):763
  3. National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Lipid modification: cardiovascular risk assessment and the modification of blood lipids for the primary and secondary prevention of cardiovascular disease. NICE 2014 Jul:CG181PDF, summary can be found in BMJ 2014 Jul 17;349:g4356
  4. Stone NJ, Robinson J, Lichtenstein AH, et al. 2013 ACC/AHA Guideline on the Treatment of Blood Cholesterol to Reduce Atherosclerotic Cardiovascular Risk in Adults: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S1-45or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2889 PDF (correction can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):3024), commentary can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jun 3;63(21):2300
  5. Goff DC Jr, Lloyd-Jones DM, Bennett G, et al. 2013 ACC/AHA Guideline on the Assessment of Cardiovascular Risk: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S49-73or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2935 full-text (correction can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):3026), commentary can be found in Mayo Clin Proc 2014 Jun;89(6):722
  6. Eckel RH, Jakicic JM, Ard JD, et al. 2013 AHA/ACC Guideline on Lifestyle Management to Reduce Cardiovascular Risk: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S76-99or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2960 PDF
  7. European Association for Cardiovascular Prevention & Rehabilitation, Reiner Z, Catapano AL, De Backer G, et al; ESC Committee for Practice Guidelines (CPG) 2008-2010 and 2010-2012 Committees. ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: the Task Force for the management of dyslipidaemias of the European Society of Cardiology (ESC) and the European Atherosclerosis Society (EAS). Eur Heart J. 2011 Jul;32(14):1769-818
laserasi

Penanganan Luka Robek: Apa Yang Harus Dilakukan?

Luka robek (laserasi) merupakan inkontinuitas jaringan berupa robekan atau potongan jaringan lunak yang dapat disebabkan oleh trauma tumpul (jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor), insisi benda tajam, atau gigitan mamalia.

 

Perdarahan dapat terjadi pada luka robek mulai dari perdarahan minimal hingga perdarahan masif yang menyebabkan sudut luka tidak tampak jelas

Pada luka gigitan atau luka tusuk yang dalam, perdarahan biasanya terjadi secara internal dibandingkan eksternal. Kondisi mengakibatkan perubahan warna kulit disekitar luka.

Luka robek ini pada umumnya membutuhkan penutupan luka dengan metode penjahitan luka. Berdasarkan definisi penutupan luka robek dapat diklasifikasikan menjadi:

  1. Penutupan primer – penutupan luka pada saat presentasi awal.
  2. Penutupan luka primer tertunda (delayed) – penutupan luka dilakukan 3-5 hari setelah dressing awal luka pada luka yang harus dibiarkan terbuka karena risiko tinggi terinfeksi (misalnya luka gigitan).
  3. Penyembuhan luka intensi sekunder – membiarkan luka sembuh alami melalui kontraksi, tanpa upaya untuk membantu penutupan luka.
Luka Robek
by Jannoon028 – Freepik.com

Pertimbangan Sebelum Pengobatan dan Indikasi Rujukan Bedah

  • Pertimbangkan hal ini sebelum membersihkan atau menutup luka
    • Mekanisme dan waktu cedera
    • Riwayat pasien, termasuk:
      • Infeksi HIV
      • Riwayat diabetes dan kadar gula darah terakhir
      • Alergi khususnya terhadap obat anastesia, lateks, antibiotik, dan perban
      • Riwayat imunisasi tetanus
    • Pemeriksaan awal status neurovaskular dan status fungsional bagian tubuh
    • Keparahan luka
    • Ada atau tidaknya benda asing pada luka
  • Indikasi rawat inap atau rujukan ke spesialis bedah
    • Luka dalam pada tangan dan kaki
    • Luka robek besar pada kelopak mata, bibir, atau telinga
    • Luka yang melibatkan nervus, arteri besar, tulang, sendi, dan tendon.
    • Luka penetrasi yang tidak diketahui kedalamannya
    • Cedera remuk berat
    • Luka terkontaminasi yang membutuhkan drainase
    • Luka dengan outcome terkait dengan kosmetik
    • Benda asing dekat pembuluh darah, sendi, dan nervus.

 

Manajemen Nyeri Peri Prosedural

Infiltrasi anestesia lokal

  • Anestetik lokal yang digunakan untuk infiltrasi seperti lidokain 1% (Xylocaine 10 mg / mL) atau bupivacaine 0,25% (Marcaine 2,5 mg / mL) sering digunakan untuk penutupan luka
  • Epinefrin dapat ditambahkan ke lidokain atau bupivakain untuk membantu mengendalikan perdarahan luka melalui vasokonstriksi di daerah dengan pasokan vaskular yang cukup banyak
  • Selain memberikan hemostasis, durasi kerja lidokain dengan epinefrin (sekitar 10,4 jam) dilaporkan dua kali lebih lama dibandingkan lidokain tanpa epinefrin (sekitar 4,9 jam)
  • Penambahan epinefrin tidak dianjurkan untuk daerah yang berisiko terkena iskemia karena suplai darah yang bervariasi, seperti ujung hidung distal, pinna, dan penis, namun dapat digunakan dengan suntikan pada daerah jari dan tangan.
  • Pilihan obat / dosis yang disarankan meliputi
    • Lidokain 3-5 mg / kg tanpa epinefrin, atau sampai 7 mg / kg dengan epinefrin
    • Bupivakain 1-2 mg / kg tanpa epinefrin, dan sampai 3 mg / kg dengan epinefrin
    • Luka besar pada ekstremitas mungkin memerlukan blok regional untuk mencegah dosis anestesi toksik
    • Pada pasien alergi terhadap bentuk amida anestesi lokal, pertimbangkan diphenhydramine intradermal 1%

Metode untuk meminimalkan rasa sakit injeksi lokal

  • Buffer lidocaine dan epinefrin dengan 10 mL : 1 mL bikarbonat 8,4%
  • Hangatkan obat anestesi lokal
  • Mengalihkan perhatian pasien (menggunakan musik atau berpaling dari pasien) dan / atau menarik perhatian dari area injeksi (jepit atau tekanan ringan di dekat tempat suntikan)
  • Gunakan jarum ukuran 27- atau 30-gauge
  • Masukkan jarum yang lebih tegak lurus dibandingkan sejajar dengan kulit
  • Menstabilkan spuit dengan tangan lain untuk menghindari goyangan jarum, dan letakkan ibu jari di ujung spuit sebelum menembus kulit.
  • Suntikkan 0,5 mL di bawah dermis (bukan di dermis), lalu tunggu sampai pasien mengatakan bahwa rasa sakit sudah hilang sebelum melanjutkan
  • Suntikkan 2 mL tambahan sebelum menggerakkan jarum, dan kemudian menyuntikkan secara anterior sambil menggerakkan jarum perlahan (pastikan 1 cm anestesi lokal selalu teraba atau terlihat di depan jarum)
  • Tusukkan kembali jarum 1 cm pada kulit yang pucat
luka laserasi
by Luis_molinero – Freepik.com

Pembersihan Luka Robek

Rekomendasi Umum

  • Persiapan yang dilakukan pada daerah yang mengalami laserasi dan area sekitarnya termasuk:
    • Pembersihan luka dengan ≥ 1 irigasi, kompres, atau perendaman berdasarkan jenis cedera, pertimbangan lingkungan, dan keparahan luka
    • Bersihkan semua benda asing yang tampak dengan menggunakan klem
    • Debridement jaringan
    • Cukur rambut sekitar untuk mencegah kontaminasi (hindari mencukur alis mata)

Irigasi

  • Irigasi menggunakan air atau normal saline dialirkan secara perlahan melalui permukaan luka dan merupakan langkah yang penting untuk optimalisasi penyembuhan luka
  • Keuntungan irigasi antara lain:
    • Membersihkan debris dalam
    • Hidrasi luka
    • Membantu dalam inspeksi luka
  • Sesuaikan volume irigasi berdasarkan karakteristik luka dan derajat kontaminasi untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.
    • Jika tekanan irigasi terlalu tinggi, dapat menyebabkan risiko:
      • Kerusakan jaringan lebih lanjut, khususnya luka yang memiliki vaskularisasi besar seperti daerah kulit kepala dan wajah
      • Infeksi jika bakteri masuk ke kompartemen yang lebih dalam
    • Volume dan tekanan irigasi yang optimal masih tidak jelas
      • Volume irigasi 50-100 ml per cm laserasi dilaporkan cukup adekuat
      • Tekanan irigasi dapat dicapai denga menggunakan spuit volume 30 atau 60 mL dengan menggunakan jarum yang berukuran 18G
    • Pertimbangan tambahan:
      • Irigasi semua permukaan luka, termasuk yang membutuhkan pembukaan sisi kulit atau skin flap
      • Cairan irigasi yang dihangatkan lebih nyaman bagi pasien
      • Hindari penggunaan povidone-iodine, hidrogen peroksida, dan detergen karena dapat menghalangi proses penyembuhan

 

Antibiotik Profilaksis

  • Antibiotik profilaksis diindikasikan pada gigitan mamalia, luka tusuk dalam, atau luka yang melibatkan tangan atau jari, tapi tidak dibutuhkan pada jenis luka bersih lainnya, atau luka non gigitan pada pasien yang sehat.
  • Rekomendasi dari Infectious Disease Society of America (IDSA) 2014 untuk penggunaan antibiotik pada luka gigit:
    • Pilihan antibiotik oral atau parenteral bergantung pada kedalaman dan keparahan luka serta waktu sejak gigitan (> 8 ham berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi)
    • Untuk gigitan binatang, rejimen antibiotiknya berupa
      • Amoksisilin-klavulanat 875 mg setiap 12 jam PO
      • Bila alergi terhadap beta-laktam gunakan doksisiklin PO atau IV, Kotrimoksazol PO atau fluorokuinolon ditambahkan dengan klindamisin atau metronidazole
      • Pada ibu hamil yang alergi beta laktam pertimbangkan pemberian Azitromisin dan observasi ketat terkait toleransi obat
      • Pilihan IV adalah ampicillin-sulbactam 1.5-3 g setiap 6 jam
    • Gigitan manusia
      • Oral Amoksisilin-klavulanat 875 mg setiap 12 jam PO
      • Jika alergi penisilin, gunakan siprofloksasin atau levofloksasin ditambahkan dengan metronidazole
      • Pada ibu hamil yang alergi penisilin berikan kotrimoksazol
      • Pilihan IV adalah ampicillin-sulbactam 1.5-3 g setiap 6 jam

 

Profilaksis Tetanus Pada Luka Robek

  • Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan profilaksis tetanus pada:
    • Berikan vaksinasi tetanus booster segera jika
      • Tidak ada riwayat imunisasi tetanus
      • Pasien dengan riwayat imunisasi < 3 dosis atau jumlah dosis yang tidak pasti
      • Dosis pemberian terakhir > 10 tahun yang lalu
      • Dosis pemberian terakhir dalam 5-10 tahun dengan laserasi berat
    • Berikan tetanus immune globulin pada pasien dengan luka tusuk atau luka terkontaminasi dan tanpa riwayat imunisasi, riwayat imunisasi < 3 dosis, atau riwayat imunisasi yang tidak pasti.

 

Penutupan Luka Robek

Waktu Penutupan Luka Robek

  • Bukti yang menyarankan bahwa waktu optimal dari cedera hingga perbaikan laserasi tidak cukup baik, tapi rekomendasi menyarankan penutupan luka segera dan berhubungan dengan pembuhan luka yang lebih baik.
    • Laserasi non kontaminasi pada daerah dengan suplai pembuluh darah yang banyak, seperti kepala dan wajah, dapat ditutup hingga 24 jam dari waktu cedera
    • Laserasi non kontaminasi pada daerah tubuh dan ekstremitas harus ditutup < 12 jam pasca cedera. Beberapa bukti menunjukkan penyembuhan yang adekuat setelah 19 jam pasca cedera.
  • Luka robek karena gigitan harus dibiarkan terbuka karena risiko infeksi kecuali pada daerah wajah karena berpotensi menyebabkan cacat
  • Pertimbangkan penutupan luka primer tertunda pada hari ke 3-5 setelah dressing pada luka gigitan

 

Refensi

  1. Worster B, Zawora MQ, Hsieh C. Common questions about wound care. Am Fam Physician. 2015 Jan 15;91(2):86-92
  2. Nicks BA, Ayello EA, Woo K, Nitzki-George D, Sibbald RG. Acute wound management: revisiting the approach to assessment, irrigation, and closure considerations. Int J Emerg Med. 2010 Aug 27;3(4):399-407
  3. Forsch RT. Essentials of skin laceration repair. Am Fam Physician. 2008 Oct 15;78(8):945-51full-text,
  4. Al Youha S, Lalonde DH. Update/Review: changing of use of local anesthesia in the hand. Plast Reconstr Surg Glob Open. 2014 May;2(5):e150
krim jerawat

Panduan Diagnosis dan Tatalaksana Jerawat

Jerawat (Acne Vulgaris) adalah masalah kulit yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik pada beberapa bagian tubuh, seperti wajah, leher, punggung, dan dada. Kondisi ini dapat memunculkan presentasi yang berbeda-beda mulai dari yang ringan seperti komedo (hitam dan putih atau terbuka dan terutup), pustula, hingga kista dan nodul.

jerawat
Background image created by Bearfotos – Freepik.com

 

 

PETUNJUK PENTING JERAWAT

 

  • Sering dialami pada masa pubertas
  • Komedo terbuka dan tertutup merupakan ciri khas jerawat
  • Kondisi kulit yang paling sering terjadi
  • Tingkat keparahan bervariasi mulai dari komedonal-papular-pustular (jewarat inflamatorik)-kista atau nodul
  • Mengenai wajah dan badan atau punggung
  • Skuele penyakit berupa skar dan terjadi karena garukan pasien

 

 

Manifestasi Klinis

Gejala dan Tanda

krim jerawat
Leaf image created by Skadyfernix – Freepik.com
  • Nyeri tekan ringan, nyeri, dan gatal
  • Lesi muncul pada wajah, leher, dada, punggung, dan bahu
  • Komedo merupakan ciri khas
  • Komedo tertutup (putih) berukuran kecil, sewarna kulit, papula superfisial non inflamatorik yang menyebabkan tekstur kulit menjadi kasar
  • Komedo terbuka (hitam) berukuran lebih besar, memiliki material hitam
  • Papula inflamatorik, pustula, kista jerawat, dan skar
  • Jewarat dapat memiliki presentasi yang berbeda pada usia yang berbeda

Penegakan dan Diagnosis Banding

Diagnosis banding kondisi ini antara lain:

  • Acne rosacea (wajah)
  • Bacterial folliculitis (wajah atau badan)
  • Tinea (wajah atau badan)
  • Penggunaan steroid topikal (wajah)
  • Perioral dermatitis (wajah)
  • Pseudofolliculitis barbae
  • Miliaria (biang keringat) (badan)
  • Eosinophilic folliculitis (badan)
  • Kondisi hiperandrogen pada wanita
  • Pustula pada wajah juga disebabkan karena infeksi tinea

 

Diagnosis kondisi ini ditegakkan berdasarkan:

 

Tatalaksana Jerawat

Medikamentosa

Jerawat Komedonal

  • Sabun berperan kecil, jika digunakan harus bersifat ringan
  • Retinoid topikal
    • Tretinoin
      • Sangat efektif
      • Mulai dengan krim 0,025% 2 kali per minggu pada malam hari
      • Tingkatkan frekuensi bila toleransi tidak baik
      • Krim seukuran kacang cukup untuk separuh wajah
      • Oleskan 20 menit setelah mencuci muka
    • Jika tretinoin standar menyebabkan iritasi, pilihan lainnya termasuk:
      • Adapalene gel 0,1%
      • Tretinoin refomulasi
      • Tazarotene gel 0,05% atau 0,1%
    • Lesi dapat mengalami flare selama 4 minggu masa perawatan
    • Kontraindikasi pada ibu hamil
  • Benzoyl peroxide 2,5% lebih efektif dan kurang iritatif dibandingkan dengan 10%
  • Penggunaan antibiotik topikal menunjukkan penurunan lesi komedonal dan pustular
    • Pilihan antibiotik dapat berbeupa:
    • Clindamycin phosphate: solusio, gel, dan losion  1% → 2 kali sehari
    • Eritromisin: solusio dan gel 2% → 2 kali sehari

Jerawat inflamatorik papular atau kistik

  • Antibiotik adalah terapi pemeliharaan yang diberikan per oral dan topikal
  • Jerawat derajat ringan
    • Pilihan pertama adalah kombinasi eritromisin atau klindamisin → 2 kali sehari dengan benzoyl peroxida gel topikal → 1 kali sehari pada pagi hari
    • Dapat ditambahkan tretinoin gel 0,025% atau 0,01% pada malam hari
  • Jerawat derajat sedang
    • Doksisiklin oral (100 mg 2 kali sehari), atau kotrimoksazol (960 mg 2 kali sehari), atau sefalosporin (sefadroksil 500 mg 2 kali sehari)
      • Dikombinasikan dengan benzoyl peroxide
      • Dosis diturunkan 50% setiap 6-8 minggu hingga dosis terendah
    • Penghentian antibiotik tiba-tiba akan meningkatkan risiko kekambuhan
    • Retinoid topikal merupakan terapi pemeliharaan terbaik bersama dengan antibiotik
    • Pada ibu hamil, doksiklin dikontraindikasikan. Gunakan eritromisin atau sefalosforin
  • Jerawat derajat berat kistik
    • Gunakan isotretinoin sebelum skar signifikan ditemukan atau jika gejala tidak dapat dikontrol dengan pemberian antibiotik
      • Dosis 0,5-1,0 mg / kg / hari selama 20 minggu untuk dosis kumulatif minimal 120 mg / kg biasanya cukup
      • Memiliki cukup banyak efek samping

 

Komplikasi, Prognosis, dan Pencegahan Jerawat

Komplikasi kondisi ini antara lain:

  • Pembentukan kista
  • Perubahan pigmen
  • Skar berat
  • Masalah psikologis

Prognosis kondisi ini adalah sebagai berikut:

  • Flare intermiten pada saat pengobatan
  • Jika kondisi ini menetap hingga dewasa dapat menyebabkan skar berat jika tidak ditatalaksana dengan baik
  • Antibiotik berkelanjutan memperbaiki kulit selama 3-6 bulan pengobatan
  • Kekambuhan selama pengobatan menunjukkan suatu P acnes yang resistan
  • Remisi terhadap pengobatan sistemik dengan isotretinoin dapat bertahan pada 60% kasus
  • Kekambuhan setelah isotretionin dapat terjadi dalam 3 tahun dan membutuhkan pemberian isotretionion kedua pada hingga 20% pasien

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk kondisi ini antara lain:

  • Edukasi pasien untuk tidak memanipulasi lesi (memencet dan menggaruk)
  • Hindari paparan minyak topikal

 

Kapan Jerawat Harus Dirujuk

Kondisi ini harus dirujuk ke spesialis kulit dan kelamin ketika:

  • Gagal respons terhadap rejimen standar
  • Ketika diagnosis tidak dapat ditegakkan
  • Penyakit skar fulminant (gejala parah dan onset tiba-tiba)

Referensi:

Das  S  et al. Recent advances in acne pathogenesis: implications for therapy. Am J Clin Dermatol. 2014 Dec;15(6):479–88.
[PubMed: 25388823] 

Koo  EB  et al. Meta-analysis comparing efficacy of antibiotics versus oral contraceptives in acne vulgaris. J Am Acad Dermatol. 2014 Sep;71(3):450–9.
[PubMed: 24880665] 
Thompson  AE. JAMA patient page. Acne. JAMA. 2015 Feb 10;313(6):640.
[PubMed: 25668279] 
kram pergelangan kaki

Kram: Definisi, Penyebab dan Pengobatan

Saat malam hari, ketika anda sedang berbaring di atas tempat tidur, tiba-tiba betis anda terasa nyeri dan kaku. Kemudian, diikuti dengan perasaan kesemutan. Tidak dapat menggerakkan kaki. lalu Anda binggung apa yang harus dilakukan. Kondisi tersebut datang dengan tiba-tiba tanpa tanda lainnya terlebih dahulu tapi juga hilang begitu saja setelah beberapa saat. Kondisi ini disebut sebagai kram.

Kram merupakan suatu kondisi nyeri dan kaku (spasm) otot yang tidak terkontrol. Kondisi ini biasanya terjadi pada otot bagian betis. Selain itu, dapat pula terjadi pada otot-otot kecil kaki lainnya. Otot yang mengalami kondisi ini akan terasa keras dan tenggang, dan kita dapat dipastikan tidak dapat mengontrol kondisi ini.

Terkadang otot juga akan terasa berkedut (bergetar). Kondisi ini umumnya terjadi ketika beristirahat dan pada malam hari.

Siapa yang lebih sering menderita kram?

Kram dapat terjadi sepanjang waktu pada setiap orang. Sekitar 1 dari 3 orang pada usia < 60 tahun mengalami kram dan setengah dari yang berusia >60 tahun.

Pada beberapa orang, kondisi ini malah dapat cenderung dirasakan secara reguler. Kram reguler biasanya terjadi pada ibu hamil. Selain ibu hamil, kram juga sering dirasakan oleh atlet dan pemain sepak bola. Khususnya ketika mereka telah menjalani latihan dalam waktu yang lama.

kram
People image created by Yanalya – Freepik.com

Kondisi ini juga dirasakan pada orang-orang yang melakukan olahraga tidak teratur.

Pada kebanyakan orang, khususnya orang tua, kondisi ini terjadi selama tidur dengan tiba-tiba dan biasanya berlangsung lebih berat pada betis.

Apa yang menjadi penyebab kram?

Penyebab pasti kondisi ini tidak diketahui secara pasti.

Kemungkinan penyebabnya adalah olahraga yang tidak teratur. Kondisi ini muncul karena penumpukan senyawa asam pada otot (asam laktat) yang memicu terjadinya kram. Kondisi ini juga dapat terjadi karena duduk terlalu lama, berdiri atau berbaring pada posisi yang tidak nyaman serta pada orang dengan kekurangan cairan (dehidrasi).

Penyebab lainnya yang jarang adalah pengapuran dan kekakuan pada pembuluh darah bagian betis, masalah hormon tiroid, kurangnya garam pada sel dan efek samping obat.

Beberapa obat memiliki efek samping menyebabkan kondisi ini contohnya obat diuretik (obat untuk mengurangi cairan pada tubuh), statin (penurun kolesterol), litium (obat penstabil mood), dan obat anti hipertensi seperti nifedipin.

 

Apa yang dapat kita lakukan untuk membuat kaki menjadi lebih nyaman?

pijatan pada kaki kramBiasanya kondisi ini hanya terjadi selama beberapa menit tapi dapat pula berlangsung selama 10 menit.

Tapi pada umumnya, akan hilang dengan sendirinya.

Teknik sederhana untuk mengurangi rasa kurang nyaman saat kondisi ini muncul adalah dengan memijat otot yang terasa nyeri dan kaku.

Secara pelan dan halus coba untuk menarik otot dan meluruskan kaki.

Bila terjadi saat anda sedang bersama seseorang teman lainnya. Mintalah bantuannya untuk melakukan hal tersebut.

Beberapa orang juga mengatakan bahwa kondisi ini lebih cepat menghilang dengan melakukan tekanan ringan menggunakan ibu jari tangan pada sela jari kaki pertama dan kedua yang mengalami kram.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan membantu anda mengatasi masalah kram lebih baik.

 

Referensi: Common General Problems. In: Murtagh AM J. eds. John Murtagh’s Patient Education, 7e New York, NY: McGraw-Hill; http://murtagh.mhmedical.com/content.aspx?bookid=1914&sectionid=142127659. Accessed December 12, 2017.

 

 

Demam: Penyebab & Kapan Harus Ke Dokter?

Demam juga disebut dengan hipertermia, pireksia, atau peningkatan suhu tubuh. Kondisi ini menjelaskan peningkatan suhu tubuh di atas batas normal. Kondisi ini dapat terjadi baik pada anak-anak atau orang dewasa. Peningkatan suhu tubuh jangka pendek dapat membantu tubuh untuk melawan penyakit. Meskipun demikian, peningkatan suhu tubuh berat dapat menjadi gejala dari suatu kondisi yang serius dan membutuhkan perawatan medis dengan segera. Artikel ini akan memberikan gambaran penyebab demam, pengobatan kondisi ini di rumah, dan kapan harus menemui dokter.

demam
Background image created by Xb100 – Freepik.com

Mengenali kondisi ini merupakan salah satu langkah yang dibutuhkan untuk mendapatkan pengobatan. Suhu tubuh normal pada umumnya berada pada rentang 36,5-37,5°C. Meskipun demikian, suhu tubuh sangat bervariasi antara satu orang dengan orang yang lainnya.

Suhu tubuh normal juga dapat berfluktuasi bergantung pada waktu dalam sehari. Suhu tubuh paling rendah dapat diukur pada pagi hari sedangkan suhu tubuh tertinggi ditemukan pada siang atau sore hari. Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi suhu tubuh antara lain siklus menstruasi dan olahraga.

 

Untuk mengecek suhu tubuh kita dapat menggunakan termometer baik termometer pada mulut, anus, atau ketiak.

  • Termometer mulut harus diletakkan di bawah lidah selama kurang lebih 3 menit.
  • Termometer ketiak diletakkan ketiak kemudian dijepit dengan lengan atas selama kurang lebih 5 menit.
  • Termometer anus biasanya digunakan untuk mengukur suhu tubuh pada bayi. Sebelum dimasukkan ke anus termometer terlebih dahulu diberikan jelly pelumas. Kemudian dimasukkan sekitar 3 cm ke dalam anus bayi selama 3 menit.

Secara umum, bayi dikatakan mengalami demam apabila suhu tubuhnya berada pada ≥ 38°C. Pada anak dinyatakan demam apabila suhu tubuh lebih dari 37,5 °C dan pada orang dewasa > 37,2-37,5°C.

 

Apa Yang Biasanya Menyebabkan Demam?

Demam akan muncul apabila bagian otak yang disebut hipotalamus merubah titik kontrol (set point) suhu tubuh menjadi lebih tinggi. Ketika kondisi ini terjadi, maka seseorang akan merasa menggigil dan menyelimuti diri untuk meningkatkan panas tubuh. Kondisi ini akan meningkatkan suhu tubuh.

Terdapat berbagai kondisi yang berbeda yang dapat menyebabkan demam pada seseorang. Beberapa kondisi tersebut antara lain:

  • Infeksi: flu, infeksi saluran napas atas dan pneumonia
  • Pemberian imunisasi: imunisasi dipteri atau tetanus pada anak
  • Tumbuh gigi pada bayi
  • Penyakit inflamasi seperti artritis reumatik dan penyakit Crohn’s
  • Bekuan darah
  • Paparan sinar matahari berlebihan
  • Keracunan makanan

 

Berdasarkan dari penyebab demam, beberbagai gejala tambahan dapat terjadi seperti:

  • Berkeringat
  • Gemetar
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Hilang nafsu makan
  • Dehidrasi
  • Lemah seluruh tubuh
anak demam
Love image created by Peoplecreations – Freepik.com

Bagaimana Mengatasi Demam di Rumah?

Perawatan demam bergantung dari keparahannya. Demam ringan tanpa gejala lainnya biasanya tidak membutuhkan pengobatan medis. Minum lebih banyak air dan beristirahat cukup untuk mengatasi kondisi ini.

Ketika peningkatan suhu tubuh disertai dengan gejala ringan seperti perasaan lemas atau dehidrasi, beberapa hal berikut dapat membantu untuk menurunkan suhu tubuh:

  • Pastikan suhu ruangan nyaman untuk beristirahat
  • Mandi dengan menggunakan air hangat
  • Minum parasetamol atau ibuprofen
  • Minum air putih lebih banyak dari biasanya

 

Kapan Anda Butuh Menemui Dokter? 

Peningkatan suhu tubuh ringan biasanya dapat diobati di rumah. Pada beberapa kasus, demam dapat menjadi gejala kondisi medis serius yang membutuhkan pengobatan tepat.

Anda harus membawa bayi anda ke dokter apabila:

  • Usia < 3 bulan, demam > 38°C
  • Usia 3-6 bulan, demam > 38,9°C dan tampak rewel, lemas, dan tidak nyaman
  • Usia 6-24 bulan, dmam lebuh dari 38,9°C, lebih dari satu hari

Anda harus membawa anak anda ke dokter apabila:

  • Suhu tubuh ≥ 39°C
  • Demam lebih dari tiga hari
  • Kontak mata buruk
  • Tampak lemas atau rewel
  • Baru saja dilakukan immunisasi
  • Memiliki riwayat penyakit serius sebelumnya

Untuk orang dewasa, maka harus menemui dokter apabila:

  • Suhu tubuh ≥ 39°C
  • Mengalami demam lebih dari 3 hari
  • Mengalami gejala berat lainnya

Semua yang mengalami peningkatan suhu tubuh harus menemui dokter apabila disertai dengan gejala:

  • Nyeri kepala hebat
  • Nyeri tenggorokan
  • Ruam pada kulit, terutama apabila ruam semakin berat
  • Sensisitf terhadap cahaya terang
  • Leher kaku atau nyeri leher
  • Muntah menetap
  • Lemas dan rewel
  • Nyeri perut
  • Nyeri saat kencing
  • Otot menjadi lemah

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan laboratorium. Hal ini membantu dokter untuk menentukan penyebab demam dan pengobatan yang efektif.

 

Kapan Demam Menjadi Suatu Kondisi Gawat Darurat?

Anda harus membawa bayi, anak anda, atau diri anda sendiri ke unit gawat darurat terdekat apabila mengalami peningkatan suhu tubuh disertai dengan salah satu gejala berikut:

  • Penurunan kesadaran
  • Tidak mampu untuk berjalan
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Kejang

 

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan selalu sediakan termometer di rumah. Demam merupakan suatu gejala yang umum, namun dapat menjadi masalah kesehatan yang serius apabila ditangani dengan cara yang salah.

 

Wallahu’alam bisshawab

 

Referensi: Fever and chills. In: Murtagh J. eds. Murtagh’s General Practice, 6e New York, NY: McGraw-Hill; . http://murtagh.mhmedical.com/content.aspx?bookid=1522&sectionid=116032462. Accessed December 09, 2017.

 

Konjungtivitis Alergi: Diagnosis dan Tatalaksana

Konjungtivitis alergi adalah reaksi alergi pada jaringan okular dan periokular yang bermanifestasi sebagai kemerahan mata disertai dengan rasa gatal serta pembengkakan akibat paparan alergen. Konjungtivitis alergi dapat bersifat musiman dan perenial dengan tidak melibatkan kornea dan merupakan hasil dari reaksi hipersensitivitas awal imunoglobulin E (IgE). Kondisi  ini biasanya terkait dengan manifestasi penyakit atopik lainnya seperti rhinitis alergi, asma, urtikaria, dan / atau dermatitis atopik. Kondisi ini biasanya muncul dengan kemerahan mata ringan sampai sedang, air mata berlebihan, dan gatal dan pembengkakan konjungtiva hingga sedang (chemosis) dalam pola musiman atau sedang. Diagnosis awal biasanya ditemukan pada masa kanak-kanak atau dewasa muda.

konjungtivitis alergi
Business image created by Katemangostar – Freepik.com

Evaluasi Konjungtivitis Alergi

  • Pertimbangkan manajemen konservatif untuk penyakit ringan termasuk edukasi pasien untuk menghindari menggaruk mata, menghindari paparan alergen, dan iritan. Edukasi pasien untuk melakukan kompres dingin pada mata dan pemberian air mata buatan
  • Medikasi hanya diberikan pada penyakit derajat sedang hingga berat atau sebagai tambahan untuk mengatasi gejala
    • Pemberian stabilisator sel masa okular, anithistamin, atau keduanya merupakan terapi lini pertama
  • Pertimbangkan dual-action mast cell stabilizer / antihistamine sebagai terapi awal, seperti:
    • ketotifen 0,01% -0,035% 1 tetes mata ≤ 3 kali sehari
    • alcaftadine 0,25% 1-2 tetes mata satu kali sehari (FDA Pregnancy Category B)
    • bepotastine 1,5% 1 tetes mata dua kali sehari
    • olopatadine 1% 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari (atau olopatadine 2% 1-2 tetes mata satu kali sehari)
    • azelastine 0,15% 1 tetes mata satu kali sehari
  • Pertimbangkan obat single-action jika pasien peka terhadap komponen dual-action mast cell stabilizer / antihistamine, seperti:
    • antihistamin – dikontraindikasikan pada pasien yang berisiko terkena glaukoma sudut tertutup dan pilihannya meliputi:
      • feniramin maleat 0,315% / naphazolin 0,02675% (kombinasi antihistamin dan dekongestan) 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari
      • Epinastine 0,05% 1 tetes mata dua kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 3 tahun
      • emedastine difumarate 0,05% 1 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 3 tahun
      • levokabastin 0,1% 1 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 12 tahun
    • stabilizer sel mast – pilihan dapat mencakup:
      • nedocromil 2% 1-2 tetes mata dua kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 3 tahun
      • cromolyn 4% 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 2 tahun
      • lodoxamide tromethamine 0,1% 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 2 tahun
    • Obat okular lainnya dapat dipertimbangkan jika terapi awal tidak efektif, termasuk obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) sendiri atau sebagai obat tambahan, dekongestan okular sebagai pengobatan tambahan, atau steroid okular untuk kasus yang sangat parah atau resisten atau jika ada paparan yang berkepanjangan / berulang terhadap alergen.
    • Antihistamin oral generasi kedua dapat dipertimbangkan pada pasien dengan atau tanpa rinitis alergi.
    • Imunoterapi alergen dapat dipertimbangkan untuk penyakit sedang sampai berat jika alergen spesifik diidentifikasi dan diperlukan penanganan tambahan.
    • Jika terdapat gejala rhinitis alergi yang jelas, pertimbangkan steroid intranasal, antihistamin oral, dan / atau montelukast oral.
    • Pertimbangkan rujukan ke dokter mata jika ada komorbiditas yang signifikan, diperlukan pemberian kortikosteroid, atau gejala mata baru berkembang.

 

Referensi:

  1. La Rosa M, Lionetti E, Reibaldi M, et al. Allergic conjunctivitis: a comprehensive review of the literature. Ital J Pediatr. 2013 Mar 14;39:18full-text
  2. Friedlaender MH. Ocular allergy. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2011 Oct;11(5):477-82
  3. Bielory L, Meltzer EO, Nichols KK, Melton R, Thomas RK, Bartlett JD. An algorithm for the management of allergic conjunctivitis. Allergy Asthma Proc. 2013 Sep-Oct;34(5):408-20, commentary can be found in Allergy Asthma Proc 2015 Jul-Aug;36(4):79
ansietas

Guidelines Ansietas Berdasarkan NICE 2011

Gangguan cemas menyeluruh (generalised anxiety disorder / GAD) atau ansietas ditandai dengan kekhawatiran dan stres kronis, tidak fokus, dan terkait dengan gangguan klinis dan gangguan fungsional yang signifikan, sering disertai  insomnia, kegelisahan, spasme otot, dan masalah konsentrasi. Usia onset tampaknya bimodal, biasanya terjadi antara usia 10-14 tahun pada anak-anak dan remaja dan pada usia rata-rata 31 tahun pada orang dewasa. GAD dapat terjadi akibat aktivitas neurotransmiter serotonergik dan noradrenergik yang tidak normal. Kombinasi genetika dan pengaruh lingkungan dapat berperan dalam manifestasi gejala. Perjalanan klinis biasanya kronis, dengan kemungkinan remisi yang lebih rendah pada kondisi psikologis komorbid dan dukungan keluarga. GAD dikaitkan dengan peningkatan risiko perilaku bunuh diri serta semua penyebab kematian dan kematian terkait kardiovaskular. Artikel ini memuat guidelines ansietas berdasarkan NICE 2011.

guidelines ansietas
Business image created by Creativeart – Freepik.com

Populasi

Dewasa

Rekomendasi

  • NICE 2011
  1. Rekomendasi cognitive behavioral therapy untuk gangguan cemas menyeluruh (generalized anxiety disorder/GAD)
  2. Rekomendasi pemberian Sertraline jika pengobatan dengan obat dibutuhkan
  3. Jika sertraline tidak efektif, direkomendasikan pemberian selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) atau selective noradrenergic reuptake inhibitor (SNRI) lainnya. Hindari penggunaan terapi benzodiazepin atau anti psikotik jangka panjang pada GAD.

 

Pengobatan/Medikasi berdasarkan Guidelines Ansietas NICE 2011

  1. Cognitive behavioral therapy:
  • Komponen CBT meliputi
    • Paparan terhadap stimulus dan perasaan yang terkait dengan peristiwa traumatik
    • Inhibisi perilaku mengurangi kecemasan dengan menjauhi atau mencari hiburan untuk meningkatkan ketahanan diri
    • Strategi kongnitif unutk mengurangi persepsi berlebihan terhadap ancaman
    • Strategi untuk mengelola tingkat kecemasan/arousal salah satunya dengan kontrol pernapasan
  • Dilakukan selama 6-12 sesi dengan durasi 1 jam untuk setiap sesi.

 

  1. Antidepresan
  • Antidepresan dengan bukti mengurangi remisi dan gejala
    • Sertraline; Escitalopram; Paroxetine
  • Antidepresan dengan bukti untuk mengurangi gejala
    • duloxetine venlafaxine extended release; imipramine; trazodone; opipramol; citalopram; agomelatine
  • Dosis antidepresan:
    • escitalopram 10-20 mg/hari
    • paroxetine 20-50 mg/hari
    • sertraline 50–200 mg/hari
    • duloxetine 60–120 mg/hari
    • venlafaxine 75–225 mg/hari
    • imipramine 50-200 mg/hari
    • citalopram 10-40 mg/hari
    • nortriptyline 20-150 mg/hari
    • opipramol 50–300 mg/hari

 

  1. Benzodiazepin
  • Efektif untuk pengobatan jangka pendek
  • Drug of Choice (DOC): alprazolam 0,5-2 mg/hari, diazepam 2,5-5 mg/hari, lorazepam 1-4 mg/hari
  • Gunakan dengan perhatian terhadap pembentukan kebiasaan yang berujung pada rebound ansietas, dan memiliki efek samping yang lebih parah ketika dihentikan

 

  1. Buspirone
  • Dilaporkan mengurangi gejala ansietas pada GAD
  • Memiliki efek samping yang lebih sedikit
  • Dosis 10-60 mg/hari diberikan 3-4 kali per hari

 

  1. Hidroxyzine
  • Dosis 50-100 mg 4 kali sehari (dewasa)
  • 50-100 mg/hari 3 kali sehari (anak)
  1. Pregabalin
  • DOC untuk pasien yang intoleran terhadap SSRI dan SNRI
  • Dosis 150-600 mg/hari

 

Referensi

  1. Katzman MA, Bleau P, Blier P, et al; Canadian Anxiety Guidelines Initiative Group on behalf of the Anxiety Disorders Association of Canada/Association Canadienne des troubles anxieux and McGill University. Canadian clinical practice guidelines for the management of anxiety, posttraumatic stress and obsessive-compulsive disorders. BMC Psychiatry. 2014;14 Suppl 1:S1
  2. http://www.nice.org.uk/nicemedia/live/13314/52599/52599.pdf