Featured Image Pengobatan alternatif dan komplementer

Pengobatan Alternatif dan Komplementer Pada Kanker

Banyak pasien dengan diagnosis kanker saat ini menggunakan pengobatan alternatif dan komplementer. Fakta ini memunculkan pertanyaan bahwa seberapa sering pengobatan alternatif dan komplementer digunakan oleh pasien kanker. Serta, alasan apa yang menyebabkan pasien kanker lebih memilih metode pengobatan ini.

Pengobatan Alternatif dan Komplementer
Pengobatan Alternatif dan Komplementer (sumber: pixabay.com)

Kanker atau tumor ganas merupakan salah satu diagnosis medis yang paling menakutkan.

 

Bila seorang pasien didiagnosis dengan kondisi kanker, pasien mungkin akan bertanya apakah terdapat perawatan non medis atau non konvensional yang memiliki manfaat apa pun.

 

Sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh Martin Keene dan rekan-rekannya dari Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi di James University Australia memberikan beberapa penjelasan terbaru terkait jawaban pertanyaan di atas.

 

Tapi, sebelum saya menjabarkan apa temuan penelitian tersebut ada baiknya kita terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan pengobatan alternatif dan komplementer dalam bidang kedokteran.

 

Berbagai Definisi dari Pengobatan Alternatif dan Komplementer

Obat alternatif
Obat alternatif (sumber: pixabay.com)

Sebagian orang menganggap suatu pengobatan yang cukup “alami” sebagai pelayanan kesehatan alternatif dan komplementer.

 

Sebagian lainnya beranggapan bahwa metode pengobatan ini cenderung diberikan oleh profesional non kesehatan jadi berdasarkan oleh siapa yang memberikannya.

 

Pengobatan alternatif telah menjalani evolusi dari yang sebelumnya disebut sebagai metode perdukunan kini berkembang menjadi terapi alternatif.

Istilah pengobatan alternatif lebih sering didengar dan memiliki arti bahwa metode ini merupakan alternatif dari pengobatan konvensional.

 

Para pendukung metode ini tidak setuju dengan pernyataan di atas sehingga menambahkan pelayanan kesehatan alternatif dan komplementer.

 

Dampaknya, intervensi yang tidak masuk akal, tidak terbukti, atau bisa dibilang berbahaya dapat masuk ke dalam kategori pelayanan kesehatan alternatif dan komplementer.

 

Mengapa Memahami Pengobatan Alternatif dan Komplementer yang Digunakan pada Kanker Menjadi Penting?

Obat Alami
Obat Alami (sumber: pixabay.com)

Penggunaan pelayanan kesehatan alternatif dan komplementer yang luas tetapi tidak dinyatakan secara jujur berpotensi membahayakan pengobatan kanker.

 

Banyak pasien kanker meninggalkan perawatan kanker berbasis ilmu pengetahuan dan beralih menggunakan pelayanan kesehatan alternatif atau bahkan menggunakan keduanya secara bersamaan.

 

Beberapa produk obat alternatif dapat mempengaruhi atau meningkatkan risiko perdarahan atau bahkan menyebabkan kemoterapi yang diberikan menjadi tidak efektif.

 

Khususnya pada pasien yang masih menjalani pengobatan konvensional dengan kemoterapi namun menyembunyikan fakta bahwa ia juga menggunakan obat alternatif.

 

Kondisi di atas adalah hal yang sering ditemukan. Publikasi ilmiah menunjukkan sekitar 20 hingga 77 persen pasien kanker tidak mengungkapkan bahwa mereka juga menggunakan obat alternatif atau komplementer.

 

Penelitian yang akan saya tampilkan dalam artikel ini adalah sebuah tinjauan sistematis.

 

Sebuah pencarian komprehensif terhadap literatur medis untuk seluruh penelitian yang kemudian dirangkum menjadi analisis tunggal.

 

Penelitian yang dirangkum adalah penelitian berbahasa Inggris dengan tujuan menentukan penggunaan pengobatan alternatif dan komplementer yang setidaknya melibatkan 100 pasien kanker aktif.

 

Lalu, apa yang menjadi hasil tinjauan sistematis ini?

 

Hasil Tinjauan Sistematis Tentang Pengobatan Alternatif dan Komplementer pada Pasien Kanker

Pengobatan Alternatif dan Komplementer Pada Kanker
Pengobatan Alternatif dan Komplementer Pada Kanker (sumber: pixabay.com)

Publikasi ilmiah ini berjudul Complementary and alternative medicine use in cancer: A systematic review dan diterbitkan dalam jurnal Complementary Therapies in Clinical Practice.

 

Para penulis mengidentifikasi 61 studi yang relevan yang mencakup lebih dari 20.000 pasien kanker secara total.

 

Pasien kanker payudara adalah kelompok pasien yang paling umum dipelajari, diikuti oleh kanker hematologi (darah).

 

Menariknya, topik ini sedang diteliti di Amerika Utara. Negara yang paling umum di antara 61 studi adalah Jerman (9), Turki (6), Australia (5), dan Malaysia (5).

 

Ada 4 dari Italia dan Amerika Serikat, dengan beberapa negara lain diwakili oleh 3 atau kurang. Dalam sebagian besar studi, kuesioner yang diisi sendiri adalah sumber data.

 

Yang paling penting, 53 dari 61 studi memiliki definisi pengobatan alternatif dan komplementer yang mencakup terapi pikiran/tubuh.

 

Hanya 5 studi yang meneliti “terapi biologis” seperti obat herbal atau suplemen makanan.

 

Secara keseluruhan, keragaman dan definisi pengobatan alternatif berfungsi untuk memperkirakan populasi pengguna obat alternatif secara berlebihan.

 

Lalu, apa yang menjadi hasil tinjauan sistematis ini:

 

Prevalensi

Rata-rata, 51% pasien kanker menggunakan pengobatan alternatif & komplementer dengan rentang prevalensi mulai dari 16,5% hingga 93,4%.

 

Para penulis berusaha memecah pasien kanker ini berdasarkan jenis kanker, tetapi analisis statistik tidak menunjukkan perbedaan antara kelompok.

 

Selain itu, tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara negara yang berbeda dalam hal prevalensi penggunaan.

 

Demografis

56 dari 61 studi melihat demografi pengguna. Prediktor paling umum penggunaan obat alternatif dan komplementer adalah:

  • Perempuan
  • Pendidikan yang lebih tinggi
  • Usia muda
  • Penghasilan yang lebih tinggi
  • Penggunaan terapi alternatif & komplementer sebelumnya

 

Alasan Menggunakan Terapi Alternatif dan Komplementer

Keinginan untuk mengobati atau menyembuhkan kanker adalah alasan yang paling sering dikutip untuk digunakan, tercatat dalam 74% penelitian.

 

Alasan lain yang diberikan termasuk niat untuk mengobati komplikasi (misalnya, efek samping kemoterapi) (61%), mempengaruhi kesehatan umum (misalnya, meningkatkan kekebalan tubuh) (57%), pengobatan holistik (57%), “Mengambil Kontrol” atau “Tidak ingin ketinggalan sebuah peluang untuk kesembuhan”(46%) dan kepercayaan pada obat alternatif dan komplementer atau ketidakpuasan dengan pengobatan konvensional (34%).

 

Kesimpulan

Jika Pengobatan alternatif berfungsi dan sesuai dengan prinsip ilmiah maka dapat dijadikan pertimbangan serta bukan sekedar alternatif dari pengobatan konvensional.

 

Sayangnya, tidak terdapat banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa perawatan kesehatan alternatif dan komplementer bermanfaat untuk pasien kanker bahkan bila diberikan bersamaan dengan terapi konvensional.

 

Yang paling penting harus diingat bahwa apa pun metode pengobatannya semuanya memiliki risiko termasuk pengobatan alternatif & komplementer.

 

Namun, pasien kanker mungkin lebih bersedia menerima risiko dari obat alternatif dan komplementer.

 

Penelitian tinjauan sistematis yang saya gambarkan pada artikel ini mengonfirmasi bahwa sebagian besar pasien kanker menggunakan pelayanan kesehatan alternatif dan komplementer.

 

Peran dokter seharusnya dapat membuat pasien kanker nyaman untuk mendiskusikan pengobatan alternatif & komplementer dengan dokter mereka.

 

Dokter harus melakukan pendekatan untuk tidak menghakimi pandangan pasien terhadap penggunaan pengobatan alternatif & komplementer  sambil memberikan informasi ilmiah terbaik.

 

Tujuan hal di atas adalah untuk mendukung prinsip etik autonomi pada pasien dan perawatan kanker yang optimal dan aman.

 

Referensi

Klik di Sini
  1. Complementary and alternative medicine use in cancer: A systematic review

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1744388118307679?via%3Dihub

  1. “Integrative” medicine versus “alternative” medicine

https://sciencebasedmedicine.org/integrative-medicine-versus-alternative-medicine/

Diagnosis Adalah Kunci Pengobatan Penyakit

Bila merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, diagnosis adalah  penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya. Diagnosis dapat pula berarti pemeriksaan terhadap suatu hal.

diagnosis adalah

Dalam bidang kedokteran, diagnosis adalah upaya yang dilakukan oleh dokter dalam melakukan analisa keluhan subjektif dan temuan objektif pada pasien untuk menentukan penyakit pasien.

 

Pendekatan diagnosis adalah suatu hal yang terkadang sulit dilakukan. Karena banyaknya jenis penyakit tertentu yang memiliki gejala saling tumpang tindih.

 

Oleh karena hal ini, langkah pertama yang penting dilakukan oleh dokter adalah membuat daftar diagnosis banding dan daftar masalah dengan deskripsi terperinci.

 

Diagnosis adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya untuk prognosis (ramalan/kemungkinan tentang peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang berhubungan dengan penyakit atau penyembuhan setelah operasi) tapi juga untuk rencana pengobatan.

 

Diagnosis yang baik juga harus selalu ditinjau kembali. Penyakit sekunder, komplikasi, dan efek samping dapat menjadi diagnosis tambahan saat merawat pasien.

 

Seperti yang disebutkan di atas, diagnosis harus ditentukan berdasarkan diagnosis banding. Tujuan dari diagnosis banding adalah untuk menunjukkan penyakit apa yang dapat terjadi.

 

Dalam kebanyakan kasus, ada banyak kemungkinan dan faktor tambahan. Faktor tambahan ini termasuk:

  • Frekuensi penyakit
  • Usia pasien
  • Gejala sekunder

 

Seluruh komponen ini harus selalu diperhitungkan ketika melakukan diagnosis.

 

Artikel ini akan memberikan gambaran diagnosis banding berdasarkan kelompok penyakit.

 

 

Mengapa Diagnosis Adalah Kunci Pengobatan?

diagnosis adalah kunci

Ketika melakukan proses diagnosis, pada awalnya sangat tidak mungkin mengidentifikasi diagnosis yang sebenarnya hanya dari gambaran klinis.

 

Biasanya diagnosis dapat ditentukan setelah temuan yang relevan terkait suatu penyakit hadir (misalnya tanda spesifik atau pemeriksaan penunjang).

 

Diagnosis banding terkadang harus puas disusun dengan klasifikasi salah satu kelompok penyakit saja.

 

Dalam semua kasus penyakit yang tidak jelas, pertimbangan selalu disusun berdasarkan kelompok penyakit tersebut bukan diagnosis pasti penyakitnya.

 

Bila diagnosis pasti belum dapat ditentukan, rencana pengobatan hanya pada upaya untuk meredakan gejala penyakit yang dirasakan oleh pasien.

 

Target pengobatan tidak tepat saran. Berbeda bila diagnosis penyakit telah dapat ditegakkan.

 

Inilah yang menjadikan diagnosis adalah kunci dalam pengobatan penyakit.

 

Karena proses diagnosis merupakan hal yang terkadang tidak mudah. Mari mengenali beberapa deskripsi kelompok penyakit tertentu yang dapat digunakan untuk melakukan diagnosis banding.

 

 

Kelompok Penyakit Kondisi Degeneratif

 

penyakti degeneratif

Kelompok penyakit ini ditandai dengan perubahan irreversibel yang progresif lambat pada pembuluh darah dan jaringan ikat. Salah satunya adalah peristiwa arteriosklerosis, yang menyebabkan kerusakan pada organ (jantung, otak, ginjal) dan arteri perifer, dan arthrosis adalah gambaran klinis yang paling sering diamati dalam praktek medis saat ini, terutama pada orang tua.

 

 

Kelompok Penyakit Infeksi

penyakit sistem imun

Peradangan atau inflamasi secara klasik ditandai oleh:

  1. rubor (memerah),
  2. calor (panas),
  3. tumor (pembengkakan),
  4. dolor (nyeri), dan
  5. functio laesa (hilangnya fungsi).

 

Demam, pemeriksaan hitung darah, peningkatan protein C-reaktif, dan peningkatan laju endap darah sering dikaitkan dengan infeksi.

 

Namun, tidak adanya gejala-gejala ini tidak mengesampingkan kemungkinan infeksi (mis., Infeksi virus).

 

Selain itu, penyakit lain dapat dipertimbangkan dengan adanya 5 tanda inflamasi tersebut (misalnya Penyakit kolagen atau tumor).

 

 

Kelompok Penyakit Yang Dimediasi Oleh Sistem Imun

penyakit infeksi

Kolagenosis dan vaskulitis termasuk dalam kelompok penyakit ini (lupus eritematosus sistemik, dermatomiositis, sklerodermia, polymyositis, periarteritis nodosa, granulomatosis Wegener, alergi vaskulitis, dan lain-lain).

 

Penyakit-penyakit ini dapat dikenali secara klinis oleh keterlibatan simultan berbagai organ. Effloresensi (perubahan tidak normal) kulit dan arthropathi sering menjadi gejala klinis yang paling sering ditemui.

 

Pada saat yang sama perubahan pada fungsi ginjal, paru-paru, otot, dan jantung terkadang menjadi sangat jelas.

 

Kompleks imun, hasil dari antigen yang berbeda (misalnya Bakteri, virus, substansi tubuh seperti DNA, ribo-nukleoprotein, dan obat-obatan) memainkan peran penting, meskipun saat ini hanya sebagian yang dipahami.

 

Hasil uji laboratorium biasanya menunjukkan tingkat sedimentasi eritrosit meningkat, anemia, dan perubahan hematologi lainnya.

 

Secara praktis semua penyakit dari antibodi anti-nuklear semacam ini dapat ditemukan.

 

Beberapa penyakit di mana autoantibodi memainkan peran penting tercantum dalam Tabel berikut.

 

Contoh Penyakit Autoimun

Organ yang TerlibatPenyakit
Saluran Pencernaan·       Pernicious anemia,

·       Celiac disease/sprue,

·       Colitis ulcerosa,

·       Crohn disease

Darah·       Immune thrombopenia (ITP),

·       Thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP),

·       Autoimmune hemolytic anemia,

·       Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria,

·       Secondary cryoglobulinemia

Ginjal·         Postinfectious glomerulonephritis,

·         IgA nephropathy,

·         Goodpasture syndrome,

·         Syndromes characterized by purpura, arthritis, nephropathy,

·         Periarteritis nodosa

Sistem Endokrin·         Autoimmune thyroiditis (Hashimoto),

·         Basedow disease,

·         Addison disease,

·         Diabetes mellitus (type 1),

·         Idiopathic hypoparathyroidism,

·         Polyglandular deficiency syndrome (Schmidt syndrome),

·         Infertility caused by antibodies,

·         Premature ovarian failure

Sistem Saraf Pusat·         Myasthenia gravis,

·         Mononeuritis multiplex,

·         Multiple sclerosis,

·         Guillain−Barré syndrome,

·         Amyotrophic lateral sclerosis,

Sendi, Otot, & Jaringan Ikat·         Chronic polyarthritis,

·         Visceral lupus erythematosus,

·         Sjögren syndrome,

·         Scleroderma (including CREST),

·         Thromboangitis obliterans,

·         Bechterew disease,

·         Behçet disease,

·         Polymyalgia rheumatica,

·         Arteritis temporalis

Kulit·         Cutaneous lupus erythematosus,

·         Chronic diskoid lupus erythematosus,

·         Alopecia areata,

·         Vitiligo,

·         Pemphigus vulgaris,

·         Dermatitis herpetiformis Duhring,

·         Schoenlein−Henoch purpura

Paru-paru·         Wegener granulomatosis,

·         Churg−Strauss syndrome

Liver (Hati)·         Autoimmune hepatitis,

·         Primary biliary cirrhosis,

·         Sclerosing cholangitis

 

 

Tumor

Diagnosis Sangkaan Tumor

 

Gejala dengan onset lambat hingga sangat lambat, kelelahan, penurunan berat badan, dan gejala umum menyebar di usia menengah dan lanjut adalah penyebab kecurigaan tumor.

 

Gejala lokal dapat tidak muncul untuk jangka waktu yang panjang.

Penting untuk mengetahui perbedaan frekuensi tumor menurut jenis kelamin seperti gambar di bawah ini.

 

Infografis kanker Indonesia tahun 2018 ini juga menunjukkan insiden dan prevalensi kanker di Indonesia.

Infografis Kanker Indonesia 2018
Infografis Kanker Indonesia 2018 (https://whitecoathunter.com)

 

Suhu tubuh bisa dalam kisaran subfebris.

 

Tingkat sedimentasi eritrosit dapat meningkat. Anemia dan jumlah trombosit yang meningkat juga dapat terjadi.

 

 

Penanda Tumor Sebagai Bantuan Diagnosis

Skrining untuk penanda tumor tidak sesuai karena sensitivitas dan spesifisitas rendah. Terkecuali untuk prostate-specific antigen (PSA) yang merupakan penanda tumor prostat.

 

Namun beberapa penanda digunakan untuk tindak lanjut setelah terapi dan untuk klasifikasi stadium kanker.

 

Beberapa penanda tumor tersebut antara lain:

  • α-fetoprotein: Hepatocellular carcinoma
  • α-fetoprotein: Ovarian tumors
  • β-HCG, LDH: Nonseminomatous testicular cancer
  • β-HCG, LDH: Testicular seminoma
  • β2-Microglobulin: Multiple myeloma
  • CA 15−3: Breast cancer
  • CA 19−9: Colon carcinoma
  • CA 125: Ovarian carcinoma
  • CEA: Colon and rectum carcinoma
  • CRP, LDH: Malignant lymphoma
  • PSA: Prostate cancer
  • SCC: Cervical, lung, and rectal carcinoma

 

Tumor yang terjadi dapat menyebabkan gambaran dan kondisi klinis tertentu. Sebuah subkelompok penting yang disebut sindrom paraneoplastik dibentuk oleh sindrom paraendokrin.

 

Tabel Berikut menunjukkan sindrom para neoplastik dan para endokrin

Manifestasi KlinisJenis Tumor Yang Paling Umum
Sindrom Paraneoplastik Umum
AnemiaBerbagai Jenis Tumor
EosinofiliaLimfoma maligna, Leukemia, Metastasis Tumor
LeukositosisBerbagai Jenis Tuor
TrombositosisBerbagai Jenis Tumor
TrombositopeniaHemangioma maligna, Penyakit limfoproliperatif
HiperkoagulabilitasBronkus, lambung, usus, pankreas, payudara, karsinoma uterus; limfoma ganas
Disseminated intravascular coagulationMetastasis karsinoma, leukemia, limfoma
Erythema nodosumlimfoma, leukemia, karsinoma
HiperpigmentasiKarsinoma saluran pencernaan, melanoma maligna
UrtikariaLimfoma maligna, polistemia vera mastositosis
MiopatiKarsinoma Bronkus, Lambung, Ovarium
NeuropatiKarsinoma bronkus, payudara, lambung
EnsefalomiopatiTumor paru, karsinoma ovarium, karsinoma endometrium, Penyakit Hodgkin
ParaproteinemiaLimfoma maligna, leukemia kronis
GlomerulonefritisLimfoma maligna, leukemia, karsinoma
Trombotik endokarditisAdenokarsinoma (lambung, paru, pankreas)
DemamSarkoma, hipernefroma, tumor saluran pencernaan, hepatoma, leukemia
AkropachyTumor intratorakalis, karsinoma bronkus
Sindrom Paraendokrin
Sindrom CushingKarsinoma bronkial sel kecil, tumor sel island pankreas, thymoma, karsinoma tiroid meduler, karsinoid
HirutismeOvarium, tumor adrenal (androgenik)
Pubertas praekok, GinekomastiaHeratoma hepatoselular, testis dan mediastinum, korio karsinoma, tumor paru
Hipoglikemiasarkoma besar, hepatoma, karsinoma gastrointestinal, karsinoid
Hiperkalemiametastasis tulang, multiple myeloma, limfoma ganas serta karsinoma bronkus (epitelioma), tumor di daerah otolaryngeal, karsinoma serviks
HiperertireoidosisChoriocarcinoma, tumor paru-paru,
PoliglobulinKarsinoma ginjal, hemangioblastoma serebelum (erythropoietin)
Sindrom Schwartz−BartterBronkus, pankreas, karsinoma duodenum (ADH)

 

 

Jaringan tumor dari organ non-endokrin dapat menjadi aktif secara hormonal. Jenis produksi hormon ini biasanya tidak tunduk pada mekanisme kontrol fisiologis dan tidak hilang sampai tumor diangkat.

 

 

Faktor Predisposisi Tumor Ganas

Perbedaan antara lima kelompok utama faktor predisposi yang dapat dipertimbangkan sebagai etiologi tumor manusia dalam penegakan diagnosis adalah:

 

  1. Warisan langsung atau tidak langsung (sekitar 5% dari tumor):
  • Retinoblastomas, sel basal nevoid, endokrin multipel adenomatosis, poliposis kolon familial, kanker payudara
  • Neurofibromatosis, tuberous sclerosis, multipel eksostosis, albinisme, sindrom Fanconi, Sindrom Wiskott−Aldrich (pengembangan sekunder tumor)

 

  1. Faktor lingkungan (sekitar 60%)
  • Pola makan (tinggi lemak, rendah serat, nitrosamin, mikotoksin)
  • Konsumsi tembakau (bertanggung jawab terhadap 40% diagnosis karsinoma pada laki-laki termasuk karsinoma mulut, laring, dan paru)
  • Alkohol (karsinoma esofagus dan liver)
  • Profesi (faktor pencetus pada 5% kasus tumor)
  • Seks bebas: human papillomavirus, yang bisa menyebabkan karsinoma serviks pada wanita yang lebih muda, Tumor terkait HIV
  • Sinar ultraviolet (melanoma), radioisotop, radiasi
  • Obat (obat sitostatik, hormon)

 

 

  1. Virus:
  • Infeksi HIV (sarkoma kaposi, limfoma maligna)
  • Epstein−Barr virus (Burkitt lymphoma)
  • Hepatitis B dan C virus (hepatoma)

 

  1. Tidak diketahui penyebab tumor (sekitar 35%)

 

  1. Berbagai Kondisi Lainnya (langka):
  • -cholelithiasis, sirosis hati, penyakit Crohn, kolitis ulcerosa, anemia pernisiosa –
  • dermatomiositis
  • Struma nodosa, lupus vulgaris, penyakit Paget, akromegali

 

 

Penyakit-Penyakit Metabolik

Metabolisme patologis atau jumlah abnormal zat fisiologis dalam darah, urine, atau jaringan tubuh dapat diidentifikasi dengan berbagai jenis penyakit.

 

Misalnya, porfiria ditandai dengan porfirin, ochronosis yang disebabkan oleh asam homogentisic, penyakit asam urat yang disebabkan oleh asam urat, hyperlipoproteinemia yang dicirikan oleh kolesterol dan trigliserida.

 

Enzimopati terkait genetik

Hingga saat ini peran diagnosis adalah menemukan lebih dari 150 penyakit dengan gangguan enzimatik yang melibatkan cacat genetik (enzymopathy).

 

Kondisi ini juga disebut sebagai “kesalahan metabolisme bawaan”.

 

Mayoritas adalah penyakit bawaan resesif autosom. Sebuah gen mutan menghasilkan penurunan atau non-produksi protein enzimatik atau non-enzimatik.

 

Enzim yang dimaksud merupakan bagian integral dari langkah khusus metabolisme dalam biosintesis atau katabolisme.

 

Untuk beberapa hal, jalur metabolik diblokir dan jalur alternatif diperlukan, yang sering tidak dapat mencegah defisiensi metabolik karena kapasitas yang buruk. Karena efek ini, berbagai mekanisme dalam enzim dapat dideteksi:

  • Pada beberapa penyakit, jumlah zat-zat biologis penting yang tidak cukup diproduksi. Misalnya produksi melanin ditekan dalam albinisme karena tiadanya tirosinase, atau diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh kurangnya insulin.
  • Produk patologis yang terakumulasi karena kurangnya degradasi enzimatik diekskresi melalui ginjal dan dapat menyebabkan batu ginjal. Misalnya oxaluria, xanthinuria, dan cystinuria.
  • Metabolit abnormal terakumulasi. Misalnya penyakit penyimpanan glikogen, mucopolysaccharidosis, dan galaktosemia.
  • Melalui akumulasi produk antara, efek toksik berkembang. Misalnya alkaptonuria, dicirikan oleh asam homogentisic, atau galaktosemia, dicirikan oleh galaktosa-1-fosfat.
  • Steroid metabolik normal terakumulasi dalam sindrom adrenogenital karena defisiensi 17-hidroksilase.
  • Struktur kolagen yang salah menyebabkan kolagen normal menjadi tidak stabil seperti pada sindrom Ehlers−Danlos.

 

 

Diagnosis adalah Penting Untuk Mengetahui Disfungsi Sistem Endokrin

Gambaran klinis penyakit organ sekretori sering ditandai oleh sekresi disfungsional daripada oleh organ yang sakit itu sendiri. Hormon dan metabolitnya dapat ditentukan secara kuantitatif, yang pada gilirannya memberikan informasi penting tentang jenis penyakit (misalnya dalam kasus diabetes mellitus).

 

 

Gangguan Mental

Penilaian kondisi mental adalah salah satu upaya diagnostik. Melakukan tindakan diagnosis adalah penting pada kondisi ini.

 

Pengenalan sindrom psikopatologi khas sebagian memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi penyakit fisik (misalnya, delirium tremens dan sindrom Korsakow ditemukan pada alkoholisme kronis yang menyertai pneumonia, atau setelah operasi).

 

Faktor ini tidak berlaku untuk psikosis endogen (skizofrenia, manic-depressive psychosis) atau untuk keluhan vegetatif.

 

Dalam kasus ini, seringkali bukan pasien yang mengeluh, tetapi perilaku intelektual atau afektifnya dicatat oleh orang lain.

 

Keluhan Vegetatif secara Fungsional

Ketika mendiagnosis keluhan-keluhan vegetatif “secara fungsional” (juga gangguan psikosomatis atau sindrom psychovegetative), penting untuk menyingkirkan penyakit somatik.

 

Umumnya, penyakit fungsional termasuk kelompok gangguan psikis terbesar, baik sebagai penyakit yang berdiri sendiri atau sebagai akibat dari penyakit lain.

 

Karakterisasi yang seragam dari pasien psikosomatis tidak mungkin. Namun, penyakit vegetatif fungsional sering muncul sebagai berikut:

  • Dengan perjalanan penyakit kronis
  • Dengan perubahan yang tidak teratur dari organ yang terkena
  • Dipicu oleh situasi stres.

 

Diagnosis banding dan diagnosis adalah penting pada kondisi ini. Klinisi biasanya membedakan antara berbagai sub-kelompok somatik dari sindrom psikovegetatif (misalnya gangguan pada daerah kepala, sistem kardiovaskular, pernapasan, dan saluran cerna).

 

Hampir tidak ada diagnosis yang lebih sulit daripada diagnosis gangguan fungsional.

 

Gangguan Psikosomatis

Asma bronkial, obesitas, dan anoreksia, serta serangan kecemasan yang sering dianggap sebagai gangguan psikosomatis. Gejala kompleks yang semakin umum, yang sulit dibedakan dari depresi, adalah sindrom kelelahan kronis.

 

Sindrom kelelahan kronis dapat didefinisikan sebagai:

  1. Kelelahan yang dievaluasi secara klinis, tidak dapat dijelaskan, persisten atau kambuh yang merupakan onset baru atau pasti, bukan hasil dari pengerahan yang sedang berlangsung, dan tidak berkurang dengan istirahat, dan menghasilkan pengurangan substansial dalam tingkat dari pekerjaan, pendidikan, sosial, atau kegiatan pribadi sebelumnya.
  2. Empat atau lebih dari gejala berikut yang bertahan atau kambuh selama enam atau lebih bulan berturut-turut sakit dan gejala tersebut tidak mendahului kelelahan:
    1. Penurunan yang dilaporkan sendiri dalam memori jangka pendek atau konsentrasi
    2. Sakit tenggorokan
    3. Nyeri serviks atau aksilaris
    4. Nyeri otot
    5. Nyeri beberapa sendi tanpa kemerahan atau bengkak
    6. Sakit kepala
    7. Tidur tidak nyenyak
    8. Malaise pasca-aktivitas berlangsung >24 jam

 

 

Psosis Eksogen

Gangguan mental pada kelompok “psikosis eksogen” adalah gejala yang menyertai penyakit somatik. Bleuler membedakan antara empat kelompok utama gangguan terkait somatik:

  1. Sindrom Psychoorganic (POS). Sebagai akibat dari kerusakan otak difus (arteriosclerosis, cedera otak, sindrom Korsakow), pasien yang diperiksa memiliki disfungsi dan disorientasi perhatian yang khas serta kurangnya konsentrasi. Selanjutnya, ketidakmampuan untuk berpikir, ketekunan, dan labilitas emosional adalah karakteristik utama kondisi ini.
  2. Psikosyndrome lokal. Meskipun otak secara lokal berpenyakit, gangguan memori atau gangguan kesadaran tidak biasanya terjadi, tetapi perubahan suasana hati yang tidak menentu diamati.
  3. Psikosyndrome endokrin. Gangguan mental dapat terjadi pada penyakit endokrin. Gambaran klinisnya sama dengan psikosyndrome lokal.
  4. Jenis reaksi eksogen akut. Pada penyakit akut, berat, umum, serta pada penyakit otak akut, gejala mental yang khas (seperti amentia tiba-tiba, disorientasi, pengucapan tidak jelas, gelisah, dan apatis, serta halusinasi dan ide delusional), dapat berkembang. Subkelompok khas dari tipe reaksi eksogen akut adalah delirium (halusinasi), dan keadaan senja, serta berbagai tingkat gangguan kesadaran (somnolen, sopor, koma). Seringkali sulit untuk membedakan antara jenis psikosis akut dengan reaksi eksogen dan gangguan neurotik atau skizofrenia.

 

 

Diagnosis Penyakit-Penyakit Herediter

Kromosom manusia terdiri dari 22 pasang kromosom autosomal dan 2 kromosom seks (laki-laki: XY, perempuan: XX), total 46 kromosom. Untuk diagnosis, kromosom dari sel manusia dianalisis secara individual menggunakan pewarnaan fluoresen (kariotipe).

 

 

Aberasi Struktural

Penyimpangan kromosom dapat diwariskan atau ditransmisikan (zat kimia mutagenik, sinar-X, radioaktivitas). Kelainan kromosom dapat dideteksi sebelum lahir dengan metode cytogenic.

 

 

Kromosom Anomali: Aberasi Numerik.

Trisomi (47 kromosom), gangguan kromosom yang paling umum, ditemukan kebanyakan dalam trisomi 21 (sindrom Down; terjadi pada 1: 650) dan pada trisomi kromosom seks, dengan harapan hidup lebih lama daripada sindrom Down.

 

Di antara kelainan kromosom seks yang paling umum adalah: sindrom Klinefelter (47, XXY; terjadi pada 1: 500) dan sindrom Triplo X yang biasanya tidak terlihat secara klinis yang mempengaruhi wanita (47, XXX; terjadi pada 1: 1000), dan sindrom Turner ( 45, X0; terjadi dalam 1: 10000), yang merupakan monosomi kromosom seks.

 

 

Genetika Mendelian Sederhana

Jenis hereditas ini dicapai dengan transmisi gen mutan tunggal.

 

Warisan dominan Autosomal. Gejala terjadi pada pembawa heterozigot, yang memiliki satu kromosom dengan gen mutan dan kromosom lainnya dengan gen normal.

 

Faktor risiko untuk progeni dari pasien dengan penyakit nyata adalah 50%.

 

Kelainan bawaan yang berat dan dominan pada sebagian besar kasus disebabkan oleh mutasi baru, dan menghilang dengan kematian pembawa sebelum memiliki keturunan.

 

Warisan autosomal resesif. Gejala hanya terjadi ketika pasien homozigot (i. E., Alel yang sama pada kedua kromosom homologinya).

 

Risiko pengulangan untuk saudara kandung lainnya dengan penyakit nyata adalah 25%, untuk pembawa sehat heterozigot 50%, dan untuk saudara kandung yang sehat 25%.

 

Warisan X-kromosom. X kromosom membawa gen mutan. Dalam kebanyakan kasus, wanita hanya vektor tanpa gejala (pembawa), tetapi 50% dari keturunan laki-laki mereka jatuh sakit.

 

 

Diagnosis Penyakit-Penyakit Alergi

Alergi ditandai oleh reaksi kekebalan tubuh yang abnormal terhadap zat (alergen), yang tidak mempengaruhi individu yang sehat.

 

Kita membedakan antara alergi humoral yang disebabkan oleh antibodi yang bersirkulasi (tipe I, II, III) dan alergi sel-mediated (tipe IV).

 

Alergi Tipe-I

Alergi Tipe-I yang disebut mewakili reaksi anafilaksis yang dramatis. Jenis alergi ini ditandai dengan terjadinya gejala dalam beberapa menit, atau jam, paparan alergen (inhalasi, per oral, per suntikan, perkutan). Selain pruritus, urtikaria, dan angioedema, dyspnea serta diare, kolik, dan gejala syok berat juga bisa terjadi.

 

Alergi Tipe-II

Dalam tipe-II, antibodi sirkulasi alergi dapat menyebabkan lisis sel (misalnya, anemia hemolitik alergik, reaksi transfusi).

 

Alergi Tipe III

Alergi tipe-III terdiri dari apa yang disebut penyakit kompleks imun. Antigen yang berbeda (obat, bakteri, virus, sel tumor, mungkin jaringan endogen) bersama dengan antibodi masing-masing membentuk kompleks imun yang beredar yang dapat mengendap dalam membran basal arteri dan glomeruli.

 

Biasanya, pasien ini menyajikan gambaran klinis yang relatif sama, yang biasanya ditandai oleh arthralgia, berbagai jenis perubahan kulit, dan glomerulonefritis. Gejala yang kurang sering adalah pleuritis, perikarditis, dan alveolitis alergika.

 

Contoh penyakit kompleks imun adalah: paru-paru Petani, glomerulonefritis pascainptokokus, glomerulonefritis yang berhubungan dengan endokarditis, dan berbagai jenis tumor, seperti kanker kolon, tumor bronkus, dan hipernephroma.

 

 

Alergi Tipe-IV

Dalam kaitannya dengan alergi tipe-IV, limfosit T peka dapat menyebabkan reaksi alergi, terutama pada kulit. Alergi ini diamati sebagai kontak eczemas dan exanthemas. Permulaan dari waktu kontak alergi hingga munculnya gejala bisa sampai 10 hari.

 

 

Kesimpulan

Daftar di atas merupakan daftar penyakit-penyakit berdasarkan subkelompok sistemnya.

 

Pengelompokan ini membuat dokter lebih mudah dalam penegakan diagnosis.

 

Hal ini juga yang membuat tindakan diagnosis adalah kunci pengobatan penyakit.

 

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar diagnosis adalah kunci pengobatan silakan tuliskan di kolom komentar.

Referensi
  1. Bowen SL. Educational strategies to promote clinical diagnostic reasoning. N Engl J Med 2006;355:2217−2225.
  2. De Vita VT Jr, Hellmann S, Rosenberg SA. Cancer – Principles and Practice of Oncology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott 1997.
  3. Kassirer JP. Teaching problem solving-how are we doing? N Engl J Med 1995; 332: 1507.
  4. Fitzgerald FT. Chapter 1. History and Physical Examination: Art and Science. In: Henderson MC, Tierney LM, Jr., Smetana GW. eds. The Patient History: An Evidence-Based Approach to Differential Diagnosis New York, NY: McGraw-Hill; 2012. http://accessmedicine.mhmedical.com/content.aspx?bookid=500&sectionid=41026543.
  5. Diagnostic Process. In: Stern SC, Cifu AS, Altkorn D. eds. Symptom to Diagnosis: An Evidence-Based Guide, 3e New York, NY: McGraw-Hill; 2014. http://accessmedicine.mhmedical.com/content.aspx?bookid=1088&sectionid=61696411.
takut suntik insulin

Pasien Diabetes Takut Suntikan Insulin?

Seminggu yang lalu saya bertemu dengan seorang penderita diabetes mellitus tipe 2. Ini adalah kunjungan rutinnya ke klinik. Sebulan sebelumnya kadar gula darahnya 340 mg/dL. Kali ini angka itu lebih tinggi lagi 480 mg/dL. Pasien ini telah mendapat kombinasi 2 obat hipoglikemik oral. Saya menawarkan untuk merujuknya ke dokter spesialis penyakit dalam. Ia menolak, alasannya dokter penyakit dalam pasti akan menyarankannya untuk mendapatkan suntikan insulin.

 

Rasa penasarannya saya muncul lalu saya bertanya kepada pasien:

 

“Kenapa Bapak menolak untuk mendapatkan pengobatan dengan suntikkan insulin?”

 

Pasien menjawab:

 

“Saya tidak mau kecanduan insulin, dan saya tidak mau lebih cepat mati karena suntikan itu.”

 

“Dari mana Bapak mendengar bahwa insulin dapat menyebabkan kecanduan? Dan bagaimana Bapak bisa menyatakan pasien diabetes yang mendapatkan pengobatan insulin akan lebih cepat mati?”

 

Pasien kemudian menceritakan pandangan saudara, teman, tetangga, dan siapa pun yang pernah punya pengalaman atau pernah mendengar cerita tentang bahaya insulin ini. Selain itu, dia melihat sendiri tetangga sebelah rumahnya yang juga penderita diabetes meninggal dunia setelah 1 bulan menggunakan insulin.

 

Sungguh, meskipun ada satu Dokter yang paling pintar sekalipun, tiada daya dan upayanya untuk dapat menunda kematian seorang pasien bahkan satu detik pun.

 

Profesi ini hanya berusaha untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari, melakukan tindakan pengobatan sesuai standar, dan memberikan edukasi kepada pasien tentang kondisi sakitnya.

 

Itu semua sebagai salah satu upaya (ikhtiar) yang dapat dilakukan seorang pasien untuk mendapatkan kesembuhan.

kadar gula darah tinggi
Background image created by Xb100 – Freepik.com

Lalu, kembali ke cerita insulin di atas. Pada akhir pertemuan akhirnya pasien tersebut mau untuk saya rujuk ke spesialis penyakit dalam tapi masih tetap pada pendiriannya yang sederhana bahwa insulin itu berbahaya dan mempercepat kematian.

 

Sulit memang untuk mengubah persepsi seseorang bila orang tersebut sudah terlalu percaya.

 

Tapi, apakah benar insulin itu berbahaya? Kalau insulin aman, mengapa masih banyak penderita diabetes yang takut dengan suntikan insulin?

 

 

Mengapa pasien takut dengan suntikan insulin?

Beberapa pasien saya memahami bahwa insulin penting dan perlu untuk diabetes, tetapi pasien lain benar-benar menolak pendapat saya ketika saya memperkenalkan insulin kepada mereka. Baru sekedar memperkenalkan belum meresepkannya dan meminta mereka untuk menyuntikkan jarum halus pada ujung pena insulin di tubuh mereka.

 

Saya mendengar banyak tentang pasien yang melaporkan bahwa keluarga mereka memiliki masalah dengan insulin.

 

“Ketika bibi saya harus mendapatkan insulin, dia kehilangan kakinya,”

 

atau

 

“Ketika nenek saya menderita diabetes dan mendapatkan suntikan insulin, dia menjadi buta.”

 

Pendekatan apa yang harus dilakukan oleh dokter terhadap pasien dengan kekhawatiran tentang keamanan insulin ketika mereka benar-benar membutuhkannya?

 

Yang pertama harus disampaikan kepada pasien bahwa insulin “AMAN”. Tapi, keterlibatan masalah budaya, masalah sosial ekonomi, masalah agama, dan kepercayaan merupakan teka-teki bagi banyak orang.

 

Penelitian dari University of Texas Southwestern di Dallas menunjukkan bahwa 43% dari pasien diabetes yang mendapatkan suntikan insulin ragu untuk mendapatkan suntikan. Kekhawatiran ini berlandaskan pada alasan-alasan tertentu termasuk pernah melihat atau mendengar anggota keluarga mengalami efek merugikan dari insulin.

 

Selain itu, banyak pasien takut kecanduan insulin. Banyak orang yang tidak memahami konsekuensi atau manfaat penggunaan insulin dalam jangka waktu yang lama.

 

Orang-orang yang takut suntikan insulin ini juga mengaku bahwa mereka takut jarum, tidak mau disuntik karena nyeri pasca suntikan.

 

Yang menarik, 25% dari pasien yang diteliti oleh University of Texas Southwestern menyatakan bahwa mereka tidak mau disuntik insulin karena khawatir insulin menyebabkan kebutaan.

 

 

Pertanyaannya, benarkah insulin memiliki efek yang demikian parah bahkan hingga menyebabkan kebutaan?

 

 

Mengapa Insulin Penting Bagi Tubuh?

Insulin merupakan hormon yang diproduksi oleh organ pankreas. Insulin memungkinkan tubuh untuk menggunakan gula dan mengubahnya menjadi energi.

 

Setelah makan, saluran pencernaan Anda akan menghancurkan karbohidrat dan mengubahnya menjadi glukosa. Glukosa kemudian diserap pembuluh darah yang terdapat di permukaan usus halus.

 

Ketika glukosa berada di aliran darah, insulin akan membantu untuk memindahkan glukosa dari pembuluh darah tersebut ke sel. Sel, terutama mitokondria sel akan menggunakan glukosa tersebut sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi.

 

Insulin juga membantu tubuh mempertahankan keseimbangan kadar glukosa darah. Ketika terlalu banyak glukosa pada darah, insulin adakan memberikan sinyal kepada tubuh untuk menyimpan kelebihan glukosa tersebut pada liver (hati).

 

Glukosa yang disimpan tidak akan dilepaskan ke dalam aliran darah hingga kadar glukosa di dalam aliran darah menurun. Misalnya ketika, Anda berpuasa atau ketika tubuh menghadapi stres atau tubuh sedang membutuhkan energi ekstra seperti saat Anda berolah raga.

 

Penderita diabetes tidak dapat menggunakan hormon insulin dengan baik atau pankreas tidak memproduksi insulin yang cukup untuk mempertahankan keseimbangan glukosa darah tersebut.

 

Lalu, apakah semua penderita diabetes membutuhkan suntikkan insulin?

 

 

Insulin Sebagai Pengobatan Penderita Diabetes

Suntikan insulin dapat membantu mengobati kedua jenis diabetes. Insulin yang disuntikkan bertindak sebagai pengganti atau menambah insulin tubuh Anda. Orang dengan diabetes tipe 1 tidak dapat memproduksi insulin, jadi mereka harus menyuntikkan insulin untuk mengontrol kadar glukosa darah mereka.

suntikan insulin
People image created by Dragana_Gordic – Freepik.com

Banyak orang dengan diabetes tipe 2 dapat mengatur kadar glukosa darah mereka dengan perubahan gaya hidup dan obat-obatan oral. Namun, jika perawatan ini tidak membantu mengontrol kadar glukosa, maka mereka juga memerlukan insulin untuk membantu mengontrol kadar glukosa darah mereka.

 

 

Insulin dengan dosis yang sesuai sangat aman digunakan. Beberapa efek buruk yang ditimbulkan oleh insulin erat kaitannya dengan penggunaan dosis yang tidak sesuai.

 

Yang paling sering adalah penggunaan dosis insulin yang terlalu tinggi.

 

Insulin yang berlebihan akan menyebabkan tubuh mengalami kondisi kekurangan kadar glukosa darah yang disebut sebagai hipoglikemia.

 

Hipoglikemia, atau kadar glukosa darah yang terlalu rendah, kadang-kadang dapat terjadi ketika Anda mendapatkan suntikan insulin.

 

Kondisi ini disebut  sebagai reaksi insulin. Jika Anda berolahraga terlalu banyak atau tidak cukup makan, kadar glukosa Anda bisa turun terlalu rendah dan memicu reaksi insulin. Anda perlu menyeimbangkan insulin yang Anda berikan sendiri dengan makanan atau kalori. Gejala reaksi insulin meliputi:

 

  • kelelahan
  • ketidakmampuan untuk berbicara
  • berkeringat
  • kebingungan
  • hilang kesadaran
  • kejang
  • kedutan otot
  • kulit pucat

 

Jadi, bila digunakan dengan tepat, insulin membantu menjaga kadar glukosa darah Anda dalam kisaran yang sehat.

 

Kadar glukosa darah yang sehat membantu mengurangi risiko komplikasi diabetes, seperti kebutaan dan kehilangan anggota badan.

 

Pasien buta dan kehilangan anggota badang karena harus diamputasi bukan karena penggunaan insulin tapi karena kadar glukosa darahnya tidak terkontrol.

 

Sangat penting untuk memonitor kadar glukosa darah Anda secara teratur jika Anda menderita diabetes.

 

Anda juga harus membuat perubahan gaya hidup untuk mencegah tingkat glukosa darah menjadi terlalu tinggi. Dan bicarakan dengan dokter Anda tentang cara-cara untuk membuat pengobatan Anda dengan insulin seefektif mungkin.

 

Bila Anda memiliki pertanyaan atau cerita tentang penggunaan suntikan insulin ini silakan tuliskan di kolom komentar.

 

Referensi

1. Everything You Need to Know About Insulin

https://www.healthline.com/health/type-2-diabetes/insulin

2. If Insulin Is Safe, Why Are Patients Afraid of It?

https://www.medscape.com/viewarticle/875794

obat kolesterol

Kolesterol Tinggi: Kapan Saat Tepat Minum Obat?

Kolesterol tinggi atau dalam istilah medis disebut sebagai hiperkolesterolemia merupakan suatu kondisi peningkatan kadar kolesterol total dalam darah. Kondisi ini dilaporkan menjadi salah satu diagnosis yang paling sering ditemukan saat kunjungan pasien ke dokter umum.

Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa 35% populasi dewasa di Amerika Serikat mengalami hiperkolesterolemia. Artikel ini akan memberikan gambaran terkait dengan faktor apa saja yang menyebabkan kolesterol tinggi dan kapan seseorang dengan hiperkolesterolemia harus mengkonsumsi obat penurun kadar kolesterol.

kolesterol tinggi
By BruceBlaus [GFDL or CC BY 3.0],

Faktor Risiko Kolesterol Tinggi

Banyak faktor yang dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Beberapa di antara faktor-faktor tersebut sangat berkaitan dengan gaya hidup kita, yaitu:

  • Kelebihan berat badan dan obesitas
  • Kurangnya aktivitas fisik
  • Merokok
  • Konsumsi alkohol
  • Diet dengan konsumsi sumbur karbohidrat yang tinggi (> 60% dari total kebutuhan energi harian)
  • Sindrom metabolik (kumpulan risiko metabolik seperti hipertensi dan resistensi insulin)

 

Selain faktor-faktor yang terkait dengan gaya hidup, kondisi ini juga dapat terjadi karena faktor sekunder seperti:

  • Penyakit komorbid: diabetes mellitus tipe 2, penyakit ginjal kronik, dan sindrom nefrotik
  • Hipotiroid
  • Beberapa obat seperti: progestin, steroid dan kortikosteroid, dan anti virus golongan inhibitor protease

 

Kapan Seseorang Dinyatakan Memiliki Kolesterol Tinggi?

Berdasarkan pedoman kolesterol darah tinggi pada dewasa dari National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) atau National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III, kadar kolesterol darah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • < 200 mg/dL (5,2 mmol/L) kadar kolesterol yang diinginkan
  • 200-239 mg/dL (5,2-6,2 mmol/L) kadar kolesterol batas (borderline) tinggi
  • ≥ 240 mg/dL (6,2 mmol/L) kadar kolesterol tinggi
aktivitas fisik
Design vector created by Freepik

Kapan Saat Yang Tepat Mengkonsumsi Obat?

Apabila anda memeriksaka kadar kolesterol lalu kemudian hasilnya menunjukkan lebih dari 240 mg/dl kemudian anda langsung diminta untuk mengkonsumsi obat agar kadar kolesterol dalam darah turun?

Pengobatan kolesterol tinggi sangat terkait dengan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Perubahan gaya hidup merupakan pengobatan yang pertama sekali direkomendasikan. Anda dapat memulai menurunkan kadar kolesterol dalam darah dengan merubah gaya hidup berupa:

  • Merubah diet termasuk mengurangi asupan lemak jenuh (<7%), kolesterol (< 300 mg/hari) dan total lemak (< 30-35% dari kkal kebutuhan energi harian).
  • Meningkatkan aktivitas fisik (contohnya olahraga selama 40 menit sehari dengan intensitas sedang 3-4 hari/seminggu)

 

Pemberian obat penurun kolesterol bergantung pada risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Selain itu, perlu pula dipertimbangkan penyakit lainnya misalnya orang yang memiliki kolesterol darah tinggi dan diabetes atau hipertensi secara bersamaan maka harus mendapatkan obat penurun kolesterol.

Jadi, ketika anda dikatakan memiliki kolesterol darah tinggi, maka tidak harus selalu mengkonsumsi obat penurun kolesterol. Tapi, bila anda mengalami hiperkolesterolemia bersamaan dengan hipertensi atau diabetes maka obat penurun kolesterol merupakan pilihan pengobatan yang tepat untuk anda.

 

Referensi:

  1. National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III). Third Report of the National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III) final report.  2002 Dec 17;106(25):3143-421PDF or at NHLBI 2002 Sep PDF, editorial can be found in Circulation 2002 Dec 17;106(25):3140
  2. Grundy SM, Cleeman JI, Merz CN, et al; National Heart, Lung, and Blood Institute, American College of Cardiology Foundation, American Heart Association. Implications of recent clinical trials for the National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III guidelines.  2004 Jul 13;110(2):227-39full-text, correction can be found in Circulation 2004 Aug 10;110(6):763
  3. National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Lipid modification: cardiovascular risk assessment and the modification of blood lipids for the primary and secondary prevention of cardiovascular disease. NICE 2014 Jul:CG181PDF, summary can be found in BMJ 2014 Jul 17;349:g4356
  4. Stone NJ, Robinson J, Lichtenstein AH, et al. 2013 ACC/AHA Guideline on the Treatment of Blood Cholesterol to Reduce Atherosclerotic Cardiovascular Risk in Adults: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S1-45or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2889 PDF (correction can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):3024), commentary can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jun 3;63(21):2300
  5. Goff DC Jr, Lloyd-Jones DM, Bennett G, et al. 2013 ACC/AHA Guideline on the Assessment of Cardiovascular Risk: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S49-73or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2935 full-text (correction can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):3026), commentary can be found in Mayo Clin Proc 2014 Jun;89(6):722
  6. Eckel RH, Jakicic JM, Ard JD, et al. 2013 AHA/ACC Guideline on Lifestyle Management to Reduce Cardiovascular Risk: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S76-99or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2960 PDF
  7. European Association for Cardiovascular Prevention & Rehabilitation, Reiner Z, Catapano AL, De Backer G, et al; ESC Committee for Practice Guidelines (CPG) 2008-2010 and 2010-2012 Committees. ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: the Task Force for the management of dyslipidaemias of the European Society of Cardiology (ESC) and the European Atherosclerosis Society (EAS). Eur Heart J. 2011 Jul;32(14):1769-818
macam-macam pil

Resistensi Antibiotik: Ancaman Bagi Setiap Orang

Antibiotik merupakan golongan obat yang dapat menyelamatkan kehidupan. Akan tetapi, penggunaannya yang tidak rasional atau sembarangan akan menyebabkan malapetaka. Penggunaan yang tidak rasional menyebakan jumlah kuman yang resisten (kebal terhadap obat) semakin bertambah. Artikel ini akan memberikan gambaran terkait apa yang dimaksud dengan resistensi antibiotik, bagaimana pengaruhnya, dan apa yang dapat kita lakukan untuk mencegah hal ini terus terjadi.

 

Sebelum membahas apa yang dimaksud dengan resistensi maka sebaiknya kita mengetahui fakta penting terkait hal ini:

  • Kondisi ini merupakan salah satu masalah kesehatan global, keamanan makanan dan perkembangan dunia saat ini
  • Dapat terjadi pada siapa pun, usia berapa pun dan di negara mana pun
  • Dapat terjadi secara natural, akan tetapi penggunaan obat yang tidak rasional pada manusia atau hewan dapat mempercepat proses ini
  • Meningkatkan angka kejadian infeksi seperti Pneumonia (radang paru-paru), tuberkulosis, gonorrhoea, dan infeksi tifoid. Selain itu, kondisi infeksi ini akan sulit diobati dengan antibiotik karena obat tersebut menjadi kurang efektif
  • Resistensi antibiotik menyebabkan lama rawatan di rumah sakit semakin panjang, biaya kesehatan yang semakin bertambah, dan meningkatkan angka kematian.
resistensi antibiotik
Background image created by Creativeart – Freepik.com

Antibiotik merupakan obat yang penting. Penisilin dan golongan obat lainnya berperan dalam mengatasi masalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, mencegah penularan penyakit, dan menurunkan risiko komplikasi dari penyakit infeksi.

 

Pengobatan dengan antibiotik juga memiliki masalah. Saat ini, obat yang digunakan sebagai pengobatan standar untuk infeksi bakteri tertentu terkadang kurang efektif atau bahkan tidak bekerja sama sekali. Ketika suatu jenis antibiotik tidak lagi memiliki efek pada beberapa jenis bakteri, maka bakteri tersebut dikatakan resisten antibiotik.

 

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional (penggunaan berlebihan atau penggunaan yang tidak tepat) merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap resistensi antibiotik. Kita semua, dokter, pusat layanan kesehatan seperti puskesmas atau rumah sakit, dan pelayan kesehatan lainnya harus berperan dalam penggunaan obat ini secara tepat dan mengurangi perkembangan resistensi antibiotik.

 

Apa yang menyebabkan resistensi antibiotik?

Bakteri atau kuman akan kebal terhadap obat (resisten) apabila kuman tersebut mengubah beberapa cara untuk melindungi diri mereka terhadap efek dari obat atau membuat obat menjadi tidak aktif (menetralkan kerja obat). Bakteri yang dapat bertahan dari pengobatan antibiotik dapat memperbanyak diri dan menurunkan kekebalan tersebut kepada bakteri hasil membelah diri tadi. Sehingga, kemampuan untuk resisten antibiotik pada bakteri dapat ditransfer ke bakteri lainnya. Mereka membuat suatu mekanisme untuk membantu satu sama lain bertahan dari antibiotik.

 

Fakta bahwa bakteri dapat mengembangkan resistensi terhadap suatu obat adalah kondisi yang normal dan dapat diprediksi. Meskipun demikian, cara penggunaan obat akan mempengaruhi seberapa cepat dan seberapa luas penyebaran resistensi obat tersebut berlangsung.

 

Penggunaan antibiotik secara berlebihan

Penggunaan antibiotik secara berlebihan, khususnya saat antibiotik tidak menjadi pilihan pengobatan yang tepat, meningkatkan peluang resistensi antibiotik. Antibiotik mengobati infeksi bakteri bukan infeksi virus.

 

pil antibiotik
Background image created by Dragana_Gordic – Freepik.com

Contohnya, antibiotik yang cocok untuk pengobatan nyeri tenggorokan hanya diberikan jika nyeri tenggorokan disebabkan oleh bakteri Streptococcus pyogenes atau spesies bakteri lainnya. Faktanya, sebagian besar nyeri tenggorokan itu dapat disebabkan oleh infeksi virus yang tidak membutuhkan pemberian antibiotik.

Bila anda mengkonsumsi antibiotik sedangkan anda sebenarnya mengalami infeksi virus maka obat ini tetap akan menyerang bakteri yang ada di dalam tubuh. Tanpa sakit pun tubuh sebenarnya telah memiliki bakteri yang menguntungkan dan tidak menimbulkan penyakit. Pengobatan yang salah menyebabkan kemampuan resisten antibiotik pada kuman normal lalu mereka akan menurunkan kemampuan tersebut dengan bakteri lainnya.

 

Beberapa infeksi virus yang tidak akan mendapatkan keuntungan dengan pemberian antibiotik termasuk:

  • Meriang
  • Flu
  • Bronkitis
  • Sebagian besar batuk
  • Sebagian besar nyeri tenggorokan
  • Beberapa infeksi teling
  • Beberapa infeksi sinus

 

Ada kemungkinan beberapa faktor yang berkontribusi terlalu banyak. Ketika penisilin dan antibiotik lainnya diperkenalkan pertama kali, obat-obatan tersebut dianggap sebagai obat ajaib karena mereka bekerja dengan cepat dan dengan efek samping yang relatif sedikit. Mereka tampak seperti jawaban untuk semua penyakit yang umumnya terjadi pada masa itu.

 

Terlepas dari meningkatnya kesadaran akan resistensi antibiotik dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan berlebihan masih terjadi karena beberapa alasan:

  • Dokter mungkin meresepkan antibiotik sebelum menerima hasil tes yang mengidentifikasi penyebab infeksi yang sebenarnya.
  • Orang yang menginginkan kesembuhan lebih cepat dari gejala, terlepas dari penyebab penyakitnya, dapat menekan dokter untuk memberikan antibiotik.
  • Orang mungkin menggunakan antibiotik yang dibeli sendiri di apotek tanpa resep dokter.
  • Orang mungkin menggunakan antibiotik yang merupakan sisa obat dari resep sebelumnya.

 

Masalah yang dihadapi apabila tidak mengikuti intruksi dokter

Kegagalan dalam mengkonsumsi antibiotik seperti yang diresepkan dapat berkontribusi terhadap resistensi antibiotik. Dokter yang memberikan antibiotik akan memberi tahu Anda berapa banyak pil yang dibutuhkan dan seberapa sering Anda harus meminumnya.

 

Resep yang diberikan harus rasinal sehingga Anda memiliki jumlah obat yang tepat yang Anda butuhkan untuk menyelesaikan pengobatan sehingga bila anda mengikuti anjuran minum obat maka tidak akan ada antibiotik yang tersisa.

 

Sebagian besar akan sangat tergoda untuk berhenti minum antibiotik begitu Anda merasa lebih baik. Tapi perawatan penuh diperlukan untuk membunuh bakteri penyebab penyakit. Kegagalan dalam membunuh bakteri dapat mengakibatkan kebutuhan untuk melanjutkan pengobatan di masa akan datang dan dapat meningkatkan penyebaran sifat resisten antibiotik di antara bakteri yang berbahaya.

 

Konsekuensi Dari Resistensi antibiotik

DNA bakteri
Background image created by Kjpargeter – Freepik.com

Selama bertahun-tahun, pengenalan antibiotik baru melampaui perkembangan resistensi antibiotik. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, laju resistensi obat telah berkontribusi pada peningkatan jumlah masalah perawatan kesehatan.

Di Amerika Serikat, menurut sebuah laporan tahun 2013 oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), setidaknya 2 juta orang setiap tahunnya “mendapatkan infeksi serius dengan bakteri yang resisten terhadap satu atau lebih antibiotik yang merupakan standar pengobatan untuk mengobati infeksi tersebut.” Dan setidaknya 23.000 orang meninggal setiap tahun sebagai akibat dari infeksi bakteri resisten antibiotik.

 

Meningkatnya jumlah infeksi yang resisten terhadap obat menyebabkan:

  • Penyakit atau kecacatan yang lebih serius
  • Lebih banyak kematian akibat penyakit yang sebelumnya dapat diobati dengan mudah
  • Pemulihan yang berkepanjangan
  • Lebih sering atau lebih lama menjalani rawat inap
  • Lebih banyak kunjungan ke dokter
  • Perawatan kurang efektif atau lebih invasif
  • Perawatan lebih mahal

 

Penggunaan Secara Rasional Mencegah Resistensi Antibiotik

Penggunaan antibiotik yang tepat, yang sering disebut penggunaan antibiotik secara rasional, dapat membantu mempertahankan efektivitas antibiotik saat ini, memperpanjang masa hidup mereka dan melindungi masyarakat dari infeksi yang resisten terhadap antibiotik.

 

Banyak rumah sakit dan asosiasi medis telah menerapkan pedoman diagnostik dan pengobatan baru untuk memastikan perawatan yang efektif untuk infeksi bakteri dan mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

bakteri batang
Background vector created by Katemangostar – Freepik.com

Masyarakat juga harus berperan dalam rasionalitas antibiotik. Anda dapat membantu mengurangi perkembangan resistensi antibiotik dengan melakukan langkah-langkah berikut:

  • Gunakan antibiotik hanya seperti yang ditentukan oleh dokter Anda.
  • Konsumsi obat dengan dosis harian yang sesuai dan selesaikan keseluruhan pengobatan (jangan sampai ada antibiotik yang tersisa).
  • Jika Anda diberikan antibiotik, tanyakan kepada dokter Anda apa yang harus Anda lakukan jika Anda lupa minum satu dosis antibiotik tersebut.
  • Jika karena beberapa alasan Anda memiliki sisa antibiotik, buang saja. Jangan pernah minum antibiotik sisa untuk penyakit selanjutnya. Obat tersebut mungkin bukan antibiotik yang tepat dan tidak akan menjadi pengobatan yang menyeluruh untuk infeksi berikutnya.
  • Jangan pernah minum antibiotik yang diresepkan untuk orang lain.
  • Jangan menekan dokter Anda untuk memberi resep antibiotik. Mintalah saran dari dokter Anda untuk mengobati gejala yang anda derita.
  • Terapkan pola hidup bersih dan sehat. Cuci tangan Anda secara teratur dengan sabun dan air, terutama setelah menggunakan toilet, sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan dan setelah mengolah daging daging segar. Cuci buah dan sayuran secara menyeluruh, dan jaga kebersihan permukaan dapur tetap bersih.
  • Pastikan Anda atau anak Anda mendapatkan vaksinasi yang direkomendasikan. Beberapa vaksin yang direkomendasikan melindungi dari infeksi bakteri, seperti difteri dan batuk rejan (pertusis).
  • Jika Anda berpikir Anda mungkin menderita alergi penisilin, sampaikan kepada dokter Anda tentang kemungkinan untuk melakukan tes alergi kulit. Penelitian telah menunjukkan bahwa alergi penisilin atau alergi antibiotik lainnya mungkin dilaporkan secara berlebihan. Mengesampingkan alergi antibiotik dapat membantu dokter meresepkan antibiotik yang paling tepat saat dibutuhkan.

 

Referensi:

  1. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/consumer-health/in-depth/antibiotics/art-20045720?pg=2
  2. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/antibiotic-resistance/en/
anti hipertensi

Kapan Waktu Tepat Mengkonsumsi Anti Hipertensi?

Peneliti telah lama menemukan bahwa kejadian kardiovaskular lebih sering terjadi di pagi hari. Stroke, serangan jantung, dan gangguan irama jantung (aritmia) sering terjadi pada pagi hari. Lalu, pertanyaannya adalah apakah kita harus memberikan obat anti hipertensi mengikuti pola kejadian penyakit kardiovaskular tersebut?

 

Artikel ini akan memberikan gambaran tingginya insiden kejadian kardiovaskular di pagi hari dan beberapa penelitian terkait waktu yang tepat untuk memberikan obat penurun tekanan darah.

 

Kejadian Kardiovaskular Cenderung Terjadi di Pagi Hari

penyakit kardiovaskularAnalisis data Framingham telah menunjukkan bahwa kejadian kematian jantung mendadak adalah 70% lebih tinggi antara pukul 7 pagi dan 9 pagi dari pada siang hari.

 

Selain itu, meta-analisis dari 30 penelitian yang melibatkan lebih dari 60.000 pasien telah menunjukkan bahwa kejadian infark miokard adalah 40% lebih besar antara jam 6 pagi dan 12 siang daripada waktu lainnya.

 

Demikian pula, stroke dan aritmia ventrikel terjadi dengan frekuensi yang lebih besar di pagi hari. Variasi siklus seperti kejadian kardiovaskular telah dikaitkan dengan sifat sirkadian dari jam biologis kita, yang dikenal sebagai “chronobiology“.

 

Kondisi ini dapat dijelaskan dengan salah satu teori yang cukup populer yaitu perubahan siklus hormon. Secara khusus, katekolamin dan kortisol plasma, serta tonus vaskular dan volume sirkulasi efektif, paling tinggi pada pagi hari. Kondisi ini menyebabkan kenaikan tekanan darah pagi (sekitar 3/2 mmHg), sehingga kejadian kardiovaskular menjadi lebih tinggi pada pagi hari.

 

Kapan waktu yang tepat untuk memberikan anti hipertensi?

aritmiaSatu pertanyaan jelas yang muncul adalah: Haruskah kita menggunakan obat anti hipertensi dengan cara seperti itu (yaitu, mengkonsumsi obat (dosis satu kali sehari) pada saat akan tidur dan pada malam hari untuk obat dengan pelepasan diperpanjang (extended-release) sehingga aktivitas puncaknya bertepatan dengan dan mungkin akan sesuai dengan meningkatnya tekanan darah pada pagi hari?

 

Strategi pengobatan semacam itu disebut sebagai “chronotherapeutics.” Penting untuk dicatat bahwa penurunan mengesankan pada outcome kardiovaskular telah ditunjukkan dalam berbagai uji klinis di mana obat penurun tekanan darah belum diberikan pada malam hari tetapi secara rutin diberikan di pagi hari.

 

Meskipun demikian, masalah yang dihadapi adalah apakah kita dapat mengurangi kejadian kardiovaskular dengan memberi dosis obat anti hipertensi pada malam hari.

 

Beberapa penelitian kecil telah melihat secara khusus respons tekanan darah secara malam hari dibandingkan dengan dosis pagi dengan berbagai obat penurun tekanan darah agen.

 

Sebuah penelitian kecil menunjukkan kontrol tekanan darah malam hari yang lebih baik apabila obat diberikan setiap malam dibandingkan dengan dosis pagi hari dari ACE-inhibitor (quinapril), meskipun tekanan darah pada siang hari adalah sama dibandingkan dengan kelompok kontrol.

 

Studi kecil lainnya tidak dapat menunjukkan efek yang berbeda pada tekanan darah setiap malam dibandingkan dengan dosis pagi atenolol, nifedipin, atau amlodipin. Khususnya, tak satu pun dari studi kecil ini melihat outcome kardiovaskular jangka panjang, seperti kematian kardiovaskular, infark miokard, atau stroke.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, dua penelitian prospektif besar diterbitkan yang menilai outcome kardiovaskular dengan menggunakan obat antihipertensi dosis malam hari. Penelitian pertama adalah uji klinis Heart Outcomes Prevention Evaluation (HOPE), yang menunjukkan bahwa ramipril dosis harian (selain pengobatan lainnya), dibandingkan dengan rejimen yang tidak mencakup obat golongan ACE Inhibitor lainnya, secara signifikan menurunkan semua outcome kardiovaskular.

 

Salah temuan penting dari percobaan HOPE adalah bahwa hanya setengah dari subyek yang diteliti memiliki hipertensi, dan hanya sebagian kecil dari manfaat tersebut yang dikaitkan dengan pengurangan tekanan darah.

 

Penelitian Controlled Onset Verapamil Investigation of Cardiovascular End Points (CONVINCE) adalah satu-satunya percobaan prospektif besar yang membandingkannya dengan dosis agen anti hipertensi (controlled-onset extended-release verapamil) dengan dosis agen anti hipertensi lainnya (hidroklorotiazid atau atenolol).

 

Penelian CONVINCE tidak dapat menunjukkan superioritas obat yang diberikan pada malam hari sehingga tidak mendukung konsep chronotherapeutic.

 

Kesimpulannya, Terdapat data penelitian yang saling bertolak belakang terkait dengan manfaat pemberian obat penurun tekanan darah baik pada malam atau pagi hari. Jadi untuk saat ini, jadwal pemberian obat anti hipertensi dapat ditentukan oleh faktor lain seperti kenyamanan, persetujuan dengan pemberian obat lain untuk menumbuhkan kepatuhan, dan waktu untuk meminimalkan efek tak diinginkan (misalnya, pemberian malam hari untuk obat-obatan yang dapat menyebabkan hipotensi ortostatik dan bisa mengakibatkan jatuh).

 

 

Referensi:

  1. Willich SN, Levy D, Rocco MB, et al. Circadian variation in the incidence of sudden cardiac death in the Framingham Heart Study population. Am J Cardiol. 1987;60(10):801-806.
  2. Cohen MC, Rohtla KM, Lavery CE, et al. Meta-analysis of the morning excess of acute myocardial infarction and sudden cardiac death. Am J Cardiol. 1997;79(11):1512-1516.
  3. Sica DA, White W. Current Concepts of Pharmacotherapy in Hypertension — Chronotherapeutics and Its Role in the Treatment of Hypertension and Cardiovascular Disease. J Clin Hypertens (Greenwich). 2000;2(4):279-286.
  4. Yusuf S, Sleight P, Pogue J, et al. Effects of an angioten-sin-converting-enzyme inhibitor, ramipril, on cardiovascular events in high-risk patients. The Heart Outcomes Prevention Evaluation Study Investigators. N Engl J Med. 2000;342(3):145-153.
  5. Svensson P, de Faire U, Sleight P, et al. Comparative effects of ramipril on ambulatory and office blood pressures: a HOPE Substudy. Hypertension. 2001;38(6):E28-E32.
  6. Black HR, Elliott WJ, Grandits G, et al., for the CONVINCE Research Group. Principal results of the Controlled Onset Verapamil Investigation of Cardiovascular End Points (CONVINCE) trial. JAMA. 2003;289(16):2073-2082.
herbal

Pengobatan Darah Tinggi Dengan Herbal

Banyak orang beranggapan bahwa pengobatan dengan menggunakan obat kimiawi akan menimbulkan efek samping. Salah satu yang paling dipercayai masyarakat adalah: mengkonsumsi obat anti hipertensi dalam waktu yang lama akan membuat ginjal menjadi rusak. Kepercayaan ini menyebabkan sebagian orang mengalihkan pengobatan darah tinggi mereka dengan mengkonsumsi herbal atau pengobatan alternatif. Lalu, apakah pengobatan alternatif tersebut dapat memberikan efek penurunan tekanan darah? Apakah pengobatan alternatif tersebut aman sebagai pengganti pengobatan darah tinggi dengan obat anti hipertensi? Artikel ini akan memberikan gambaran terkait dengan efektivitas dan bukti ilmiah penggunaan herbal dalam pengobatan darah tinggi.

pengobatan darah tinggi
Background image created by Valeria_aksakova – Freepik.com

PERHATIAN: Semua herbal dan pengobatan alternatif di bawah ini memiliki bukti ilmiah sekedar mewakili laporan yang tidak didasarkan pada analisis ilmiah terhadap suatu outcome klinis. Contohnya adalah hanya berdasarkan laporan kasus, seri kasus, pendapat ahli dan kesimpulan yang ditarik secara tidak langsung berdasarkan penelitian ilmiah.

 

Intervensi yang dapat mengurangi tekanan darah sistolik ≥ 7 mmHg dibandingkan dengan kontrol berdasarkan uji coba acak tanpa hasil klinis untuk pengobatan darah tinggi

 

TanamanVitamin dan anti oksidanPengobatan alternatif
·  Bawang Putih

·  Susu Kedelai

·  Ekstrak Tomat

·  Jus Bit

·  Ekstrak Hawthorn

·  Salvia Miltiorrhiza (Fufang Danshen)

·   Kombinasi Vitamin Antioksidan

·   Stevioside

 

·   Tai Chi

·   Program Kelompok Berbasis Agama

 

 

Intervensi yang mungkin mengurangi tekanan darah berdasarkan uji coba acak tanpa hasil klinis untuk pengobatan darah tinggi

 

Vitamin dan mineralMakananSuplemen HerbalPengobatan Alternatif
·  Vitamin D

·  Kombinasi Vitamin Antioksidan

·  Vitamin C

·  Vitamin E (Tapi Bukti Tidak Konsisten)

·  Kalsium

·  Kalium

·  Kalium + Magnesium

·  Magnesium

· Asam lemak omega-6 (minyak zaitun)

· Asam lemak omega-3 (minyak ikan)

· Coklat hitam

· Bawang putih

· Ekstrak biji kopi hijau

· Buah jambu biji

· Roti yang kaya tepung lupine

· Susu fermentasi

· Produk kedelai

· Ekstrak tomat

· Jus bit

· Glucomannan

· Teh

·  Abana

·  Balsamodendron mukul

·  Biji anggur polifenol (tapi bukti tidak konsisten)

·  Ekstrak hawthorn

·  Hibiscus sabdariffa (teh asam)

·  Jiangya

·  Salvia miltiorrhiza (Fufang Danshen)

·  Berberine

·  Stevioside

·  Ekstrak daun zaitun

·  Panax ginseng (ginseng Asia)

· Akupunktur

· Latihan pernapasan lambat (tapi bukti tidak konsisten)

· Qigong

· Terapi relaksasi, termasuk meditasi

· Tai chi

· Yoga

· Program kelompok berbasis agama

· Cerita yang ditargetkan secara kultural

· Biofeedback

 

 

Intervensi yang ternyata tidak efektif untuk menurunkan tekanan darah pada pengobatan darah tinggi

  1. Kalsium plus vitamin D
  2. Kalsium plus magnesium
  3. Kalsium plus potassium
  4. Jus anggur Concord
  5. Ginseng Amerika Utara
  6. Ekstrak kulit pinus
  7. Koenzim Q10

 

 

Referensi

  1. DynaMed Plus [Internet]. Ipswich (MA): EBSCO Information Services. 1995 – . Record No. 204619, Hypertension alternative treatments; [updated 2017 Nov 21, cited place cited date here]; [about 29 screens]. Available from http://www.dynamed.com/login.aspx?direct=true&site=DynaMed&id=204619 Registration and login required

Gangguan Bipolar [Episode Depresi] (MedUpdate)

[av_textblock size=” font_color=” color=”] Gangguan bipolar merupakan gangguan mood dengan episode berulang dari mood meningkat atau iritabel dan depresi, yang disertai perubahan aktivitas dan energi dan berhubungan dengan gejala kognitif, prilaku dan fisik.

Update Terbaru Pengobatan Gangguan Bipolar Episode Depresi

[/av_textblock] [av_image src=’http://pengejarjasputih.com/wp-content/uploads/2016/12/ebm-300×52.png’ attachment=’436′ attachment_size=’medium’ align=’center’ styling=” hover=” link=” target=” caption=’yes’ font_size=” appearance=” overlay_opacity=’0.4′ overlay_color=’#000000′ overlay_text_color=’#ffffff’ animation=’no-animation’] Pengobatan Bipolar (Depresi)
[/av_image] [av_tab_container position=’sidebar_tab sidebar_tab_left’ boxed=’border_tabs’ initial=’1′] [av_tab title=’Update 1′ icon_select=’no’ icon=’ue800′ font=’entypo-fontello’] Penambahan agomelatine mungkin tidak mengurangi tingkat depresi persisten pada pasien yang menerima penstabil mood.

Br J Psychiatry 2016

[/av_tab] [av_tab title=’Update 2′ icon_select=’no’ icon=’ue800′ font=’entypo-fontello’] Wanita dengan gangguan bipolar yang mendapatkan pengobatan valproate memiliki peningkatan risiko sindrom polikistik ovarium, gangguan menstruasi, dan hiperandrogenisme.

Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol 2016 Jul

[/av_tab] [/av_tab_container]