Featured Image Kolesterol

Kolesterol Dalam Tubuh Kita: Teman Atau Musuh?

Kolesterol merupakan salah satu komponen penyusun sel pada tubuh kita. Terutama untuk membentuk membran sel. Namun, senyawa dari golongan lemak atau lipid ini sering kali diasumsikan sebagai hal yang negatif.

 

Metabolit yang mengandung lemak sterol ini sering kali dikaitkan dengan keluhan tegang pada belakang leher atau sakit kepala.

 

Penelitian ilmiah dalam dekade terakhir juga menunjukkan hubungan erat senyawa ini dengan penyakit jantung koroner.

 

Meskipun demikian, penemuan terbaru seharusnya mengubah pola pikir dan rekomendasi dokter terhadap pasien yang mengalami peningkatan kadar kolesterol.

 

Dan untuk Anda yang memiliki tingkat kolesterol darah tinggi, sebaiknya Anda menyelesaikan membaca artikel ini.

 

Terutama bila dokter Anda melarang Anda untuk sama sekali mengonsumsi daging atau seafood karena Anda memiliki kolesterol tinggi.

 

Apa itu Kolesterol?

senyawa kolesterol
senyawa kolesterol | sumber: pixabay.com

Kolesterol normal merupakan suatu komponen yang dimiliki oleh tubuh kita.

 

Ciri ciri kolesterol disebutkan sebagai zat lunak, berwarna putih atau putih kekuningan.

 

Kolesterol normal dapat ditemukan dalam aliran darah dan di dalam sel-sel tubuh.

 

Terdapat 2 sumber utama yang menjadi dasar peningkatan kadar senyawa ini dalam tubuh dan aliran darah.

Sumber pertama adalah tubuh kita sendiri. Hati atau liver merupakan organ yang menghasilkan senyawa ini sekitar 1 gram per hari.

 

Yang kedua, makanan yang mengandung senyawa ini terutama dari sumber hewani seperti:

  • Kuning telur
  • Daging
  • Unggas
  • Ikan
  • Makanan laut, dan
  • Produk susu murni

 

Kolesterol yang terkandung pada makanan akan disebut sebagai kolesterol makanan.

 

Fungsi Kolesterol Pada Tubuh Kita

Kolesterol pada membran sel
Kolesterol pada membran sel | sumber: pixabay.com

Senyawa yang ditemukan di setiap sel tubuh ini memiliki beberapa fungsi penting dalam menjaga kesehatan tubuh, seperti:

  • menjaga membran sel tetap utuh
  • meningkatkan kinerja mental/pikiran
  • membantu pencernaan
  • membentuk tulang yang kuat
  • membangun otot
  • menjaga energi, vitalitas, dan kesuburan
  • mengatur kadar gula darah
  • memperbaiki jaringan yang rusak
  • melindungi tubuh terhadap penyakit menular

 

Namun, kolesterol adalah penyakit sering kali disebutkan pada kondisi kelebihan kadar senyawa ini dalam aliran darah.

 

Beberapa penelitian telah menunjukkan penumpukan senyawa ini dalam aliran darah dan di dinding pembuluh darah(arteri) akan membentuk “plak” yang dapat menyumbat pembuluh darah (aterosklerosis).

 

Aterosklerosis dapat menjadi penyebab utama stroke dan serangan jantung atau stroke.

 

Karena kolesterol darah tinggi adalah salah satu faktor risiko utama penyakit jantung, kolesterol makanan telah menjadi fokus perdebatan.

 

Terutama terkait dengan apakah kolesterol dalam makanan mempengaruhi kadar senyawa ini dalam darah.

 

Atau tentang kolesterol total, kolesterol jahat VS kolesterol baik.

 

Termasuk berapa kadar kolesterol normal wanita dan kolesterol normal pria.

 

Dan berapa nilai kolesterol sehat serta apa perbedaan kolesterol HDL, kolesterol LDL dan trigliserida serta bagaimana dampak mereka terhadap tubuh.

 

Sebelum membahas nilai normal kolesterol darah di atas maka sebaiknya kita harus memahami terlebih dahulu dari mana kolesterol berasal.

 

Dari Mana Kadar Kolesterol Darah Berasal

liver
ilustrasi hati (liver)| sumber: pixabay.com

Jika kita ingin mengetahui pengaruh kadar kolesterol darah terhadap tubuh kita, maka sebaiknya kita tahu dari mana kolesterol ini berasal.

 

DELAPAN PULUH PERSEN kolesterol pada tubuh kita dibuat oleh liver (hati)”

 

Pernyataan di atas adalah fakta yang mungkin belum banyak diketahui.

 

Sebagian besar orang akan menganggap bahwa makanan yang mereka konsumsi merupakan penyebab naiknya kadar kolesterol dalam tubuh.

 

Anggapan tersebut menyebabkan orang-orang berkesimpulan bahwa ketika mereka mengonsumsi makanan berlemak maka akan sulit untuk menurunkan kadar zat lemak ini dalam darah.

 

Secara teoritis, bila kita sama sekali tidak mengonsumsi makanan dengan kandungan kolesterol apa pun maka kadar zat lemak ini akan berkurang 20 persen.

 

Faktanya, orang-orang dengan kadar kolesterol tinggi yang menghindari makanan berlemak dan mengonsumsi obat statin untuk menurunkan kadar zat lemak ini malah tidak efektif untuk menurunkan kadar lemaknya.

 

Mengapa demikian, ketika kita sama sekali tidak mengonsumsi lemak, maka liver (hati) akan meningkatkan sintesis kolesterol.

 

Jadi, Anda tidak perlu untuk tidak sama sekali mengonsumsi makanan berlemak tapi harus membatasinya.

 

Bila kadar kolesterol Anda 50% di atas normal maka membatasi konsumsi lemak saja tidak cukup.

 

Anda harus mengonsumsi obat yang tepat untuk menurunkan kadar lemak dalam pembuluh darah Anda.

 

Lalu, bagaimana seharusnya pengukuran nilai normal kolesterol dilakukan?

 

Pengukuran Kadar Kolesterol

pemeriksaan kadar kolesterol darah
pemeriksaan kadar kolesterol darah | sumber: pixabay.com

Jika, seorang dokter ingin mengetahui nilai zat lemak ini pada pembuluh darah Anda maka seorang dokter meminta Anda untuk menjalani pemeriksaan “profil lipid”.

Pemeriksaan Profil Lipid ini mencakup pemeriksaan 4 golongan lipid utama yang ada pada pembuluh darah yaitu:

  1. kolesterol total
  2. Kolesterol jahat (kolesterol LDL)
  3. Kolesterol baik (kolesterol HDL)
  4. Trigliserida

 

Banyak pasien yang menjalani pemeriksaan hanya dilakukan salah satu pemeriksaan saja dari 4 pemeriksaan di atas.

 

“HANYA PEMERIKSAAN KOLESTEROL TOTAL”

 

Padahal, di antara 4 lipid di atas KOLESTEROL TOTAL adalah yang “PALING TIDAK PENTING”.

 

Ketika dokter melakukan prediksi risiko penyakit jantung, nilai LDL adalah yang paling penting.

 

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kadar LDL tinggi dengan terjadinya penyakit jantung.

 

Sebaliknya, Kadar HDL yang tinggi menurunkan risiko kejadian penyakit jantung.

 

Karena kedua jenis lipoprotein ini memiliki efek yang saling bertolak belakang terhadap risiko penyakit jantung, nilai kolesterol total menjadi tidak penting jika dilibatkan dalam prediktor penyakit jantung.

 

Contoh sederhana, katakanlah ada seorang wanita sehat dengan kadar HDL yang sangat tinggi (85 mg/dL) dan kadar LDL yang normal (125 mg/dL). Meskipun, pemeriksaan Kolesterol Totalnya menunjukkan nilai tinggi (> 200 mg/dL) hal ini terjadi karena kadar HDL nya yang sangat tinggi.

Hal inilah yang menyebabkan pemeriksaan kolesterol total menjadi “PALING TIDAK PENTING”.

 

Lalu berapa kadar normal untuk masing-masing pemeriksaan di atas?

 

Kadar Normal Pemeriksaan Profil Lipid

 

Berapa kadar normal untuk kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida?

 

Pedoman terbaru menunjukkan bahwa kadar kolesterol normal harus di bawah 200 mg/dL.

 

HDL harus > 40 mg/dl untuk pria dan > 45 mg/dL untuk wanita, LDL harus < 130 mg/dL dan trigliserida < 150 mg.

 

Lalu, bila kadar profil lipid Anda ada yang tidak normal, kapan Anda harus minum obat?

 

Langkah-Langkah Menurunkan Kolesterol

Sebelum membahas langkah menurunkan kolesterol darah maka kita harus memahami terlebih dahulu klasifikasi kadar kolesterol yang dinyatakan tinggi.

 

Seseorang dapat dinyatakan memiliki kadar kolesterol tinggi atau hiperkolesterolemia apabila:

  • Kadar kolesterol total 200-239 mg/dL adalah borderline tinggi dan ≥ 240 mg/dL adalah tinggi
  • Kadar LDL 100-129 mg/dL adalah di atas optimal, 130-159 mg/dL adalah borderline tinggi, 160-189 mg/dL adalah dipertimbangkan tinggi dan ≥ 190 mg/dL dipertimbangkan sangat tinggi.

 

Klasifikasi di atas didasarkan pada publikasi dari National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) guideline on high blood cholesterol in adults (National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III) yang versi lengkapnya bisa Anda lihat di tautan ini:

https://www.ahajournals.org/doi/full/10.1161/01.CIR.0000133317.49796.0E?url_ver=Z39.88-2003&rfr_id=ori:rid:crossref.org&rfr_dat=cr_pub%3dpubmed

 

Yang harus kita garis bawahi, pedoman saat ini menekankan kadar low-density lipoprotein (LDL) dan fokus pada pengobatan untuk pasien yang berisiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung dan pembuluh darah yang akan memperoleh manfaat dari pengobatan.

 

Anda harus menurunkan kadar kolesterol Anda bila kadar kolesterol Anda melebihi target di atas dengan catatan bahwa obat penurun kolesterol hanya diberikan pada orang yang memiliki risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.

 

Diet untuk Menurunkan Kolesterol

Terdapat beberapa organisasi kedokteran yang memberikan rekomendasi terkait dengan pengaturan makanan apa saja yang harus dikonsumsi terutama pada orang dengan kadar kolesterol jahat yang tinggi.

 

Rekomendasi tersebut antara lain:

 

Rekomendasi diet American College of Cardiology/American Heart Association (ACC / AHA)

Rekomendasi untuk orang dewasa yang akan mendapat manfaat dari penurunan kadar LDL-C

  • mengurangi persen kalori dari lemak jenuh untuk mencapai target 5%-6% dari total kalori harian (ACC / AHA Kelas I, Level A)
  • mengurangi persen kalori dari lemak trans (ACC / AHA Kelas I, Level A)
  • pola diet untuk pasien yang akan mendapat manfaat dari penurunan kadar LDL (ACC / AHA Kelas I, Level A) adalah:
    • menekankan asupan sayuran, buah-buahan, dan biji-bijian termasuk produk susu rendah lemak, unggas, ikan, kacang-kacangan, minyak sayur nontropis, dan kacang-kacangan
    • membatasi asupan permen, minuman manis, dan daging merah
    • Diet disesuaikan dengan kebutuhan kalori, preferensi makanan pribadi (makanan favorit) dan budaya makan, dan terapi nutrisi untuk kondisi medis lainnya (termasuk diabetes mellitus)
    • dapat dicapai dengan mengikuti rencana-rencana seperti pola diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) atau Diet American American Association (AHA)

 

Rekomendasi Diet European Society of Cardiology/European Atherosclerosis Society (ESC/EAS)

 

ESC/EAS merekomendasikan langkah-langkah diet dan pilihan makanan sehat untuk mengelola risiko penyakit jantung dan pembuluh darah meliputi:

  • menyesuaikan asupan energi untuk mencegah kelebihan berat badan dan obesitas serta mengonsumsi berbagai jenis makanan
  • konsumsi buah, sayuran, kacang-kacangan, legume, dan ikan (terutama minyak ikan)
  • rekomendasi asupan lemak
    • total lemak < 35% kebutuhan kalori harian
    • lemak jenuh <7% kebutuhan kalori harian
    • lemak trans <1% kebutuhan kalori harian
    • kolesterol dari makanan < 300 mg/hari
  • kurangi konsumsi garam hingga < 5 gram/hari
  • kurangi asupan minuman atau makanan dengan gula tambahan

 

Rekomendasi Diet National Institute for Clinical Excellence (NICE)

NICE merekomendasikan diet pada orang-orang dengan risiko tinggi atau orang dengan penyakit kardiovaskular.

 

Rekomendasi diet kardioprotektif ini antara lain:

  • total asupan lemak ≤ 30%, lemak jenuh ≤ 7%, dan kolesterol makanan <300 mg/hari
  • ganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda
  • gunakan minyak zaitun
  • pilih varietas gandum dari makanan bertepung
  • mengurangi asupan gula dan produk makanan yang mengandung gula olahan termasuk fruktosa
  • konsumsi ≥ 5 porsi buah dan sayuran per hari
  • konsumsi ≥ 2 porsi ikan per minggu, termasuk ikan berminyak. Jika hamil, batasi ikan berminyak hingga ≤ 2 porsi per minggu dan hindari ikan marlin, hiu dan swordfish
  • konsumsi ≥ 4 hingga 5 porsi kacang tanpa biji, biji dan polong-polongan per minggu
  • Pertahankan berat badan normal atau ideal

 

Aktivitas Fisik Untuk Menurunkan Kolesterol

American College of Cardiology / American Heart Association (ACC / AHA) merekomendasikan orang dewasa untuk melakukan aktivitas fisik aerobik agar kadar lipoprotein densitas rendah menurun dan kadar lipoprotein densitas tinggi meningkat (ACC / AHA Class IIa, Level A).

 

Aktivitas fisik tersebut dilakukan dalam:

  • 3 atau 4 sesi aktivitas fisik / minggu
  • durasi rata-rata 40 menit / sesi
  • aktivitas harus intensitas sedang hingga kuat

 

Sedangkan European Society of Cardiology / European Atherosclerosis Society (ESC / EAS) merekomendasikan aktivitas fisik selama ≥ 30 menit / hari setiap hari.

 

Bila dengan aktivitas fisik dan pengaturan diet ini kadar LDL Anda tidak juga turun maka Anda memerlukan obat untuk menurunkan kadar lemak jahat pada pembuluh darah Anda.

 

Rekomendasi Obat Kolesterol (Statin)

ACC/AHA, ESC/EAS, dan NICE memiliki rekomendasi pengobatan dan ambang batas yang berbeda untuk risiko penyakit kardiovaskular 10 tahun (menggunakan persamaan yang berbeda) ketika terapi statin harus diberikan pada pasien dengan kadar LDL berlebih.

 

Rekomendasi ACC/AHA tentang terapi statin

  • Di semua individu di segala usia, penting menekankan gaya hidup sehat jantung, yang berarti diet dan olahraga yang tepat, untuk mengurangi risiko mengembangkan penyakit arterosklerotik harus disarankan.
  • Individu termasuk dalam kelompok dengan risiko penyakit arterosklerotik yang berbeda atau kambuhnya penyakit arterosklerotik dan rekomendasinya disusun sesuai dengan kelompok risiko ini.
  • Pencegahan penyakit arterosklerotik sekunder: Pasien yang sudah memiliki penyakit arterosklerotik berdasarkan telah memiliki suatu kejadian atau diagnosis yang ditetapkan (MI, angina, peristiwa serebrovaskular atau stroke, atau penyakit pembuluh darah perifer) termasuk dalam kategori pencegahan sekunder:
  • Pasien berusia 75 tahun dan lebih muda dengan penyakit arterosklerotik klinis: Terapi statin intensitas tinggi harus dimulai dengan tujuan untuk mengurangi kadar LDL sebesar 50%. Pada pasien yang mengalami efek samping terkait statin, statin intensitas sedang harus dimulai dengan tujuan untuk mengurangi LDL sebesar 30%-49%.
  • Pada pasien yang sangat berisiko tinggi dengan LDL di atas 70 mg / dL pada terapi statin yang ditoleransi secara maksimal, masuk akal untuk mempertimbangkan penggunaan agen penurun kolesterol nonstatin dengan tujuan LDL di bawah 70 mg / dL.
  • Untuk pasien yang berusia lebih dari 75 tahun dengan penyakit arterosklerotik yang jelas, masuk akal untuk melanjutkan terapi statin intensitas tinggi jika pasien mentolerir pengobatan.

 

Hiperkolesterolemia berat

  • Pasien dengan LDL di atas 190 mg / dL tidak perlu memperhitungkan skor risiko 10 tahun. Orang-orang ini harus menerima terapi statin yang dapat ditoleransi secara maksimal.
  • Jika pasien tidak dapat mencapai 50% pengurangan LDL dan/atau memiliki level LDL100 mg/dL, penambahan terapi ezetimibe dapat dipertimbangkan.
  • Jika LDL masih lebih besar dari 100mg/dL pada statin plus ezetimibe, penambahan inhibitor PCSK9 dapat dipertimbangkan. Harus diakui bahwa penambahan PCSK9 dalam keadaan ini diklasifikasikan sebagai rekomendasi yang lemah.

 

Diabetes mellitus pada orang dewasa

  • Pasien berusia 40-75 tahun dengan diabetes, terlepas dari risiko penyakit aterosklerotik 10-tahun, harus diresepkan statin intensitas sedang (rekomendasi kuat).
  • Pada orang dewasa dengan diabetes mellitus dan beberapa faktor risiko penyakit aterosklerotik, Pertimbangkan untuk meresepkan terapi statin intensitas tinggi dengan tujuan untuk mengurangi LDL lebih dari 50%.
  • Pada orang dewasa dengan diabetes mellitus dan risiko penyakit aterosklerotik 10 tahun 20% atau lebih tinggi, mungkin pertimbangkan untuk menambahkan ezetimibe pada terapi statin yang ditoleransi secara maksimal untuk mengurangi kadar LDL sebesar 50% atau lebih.
  • Pada pasien berusia 20-39 tahun dengan diabetes yang berdurasi lama (setidaknya 10 tahun, diabetes mellitus tipe 2; setidaknya 20 tahun, diabetes mellitus tipe 1), atau dengan kerusakan organ akhir termasuk albuminuria, insufisiensi ginjal kronis, retinopati, neuropati, atau indeks pergelangan kaki-brakialis di bawah 0,9, pertimbangkan untuk memulai terapi statin (rekomendasi lemah).

 

Kesimpulan

Ilmu tentang kolesterol dalam tubuh kita sangat kompleks.

 

Peneliti telah memberikan kita pemahaman terkait mekanisme lemak apa yang berpengaruh terhadap penyakit jantung, perkembangan pengobatan yang lebih baik dan lebih terfokus.

 

Saat ini, kita harus memiliki informasi yang cukup untuk menjaga kesehatan jantung kita dari pengaruh buruk kolesterol jahat.

 

Pastikan kita tahu berapa kadar LDL, HDL, dan trigliserida kita. Bukan hanya kadar kolesterol total.

 

Ingat, liver atau hati kita memproduksi 80% dari total kolesterol dalam tubuh kita dan hanya 20% yang berasal dari makanan.

 

Jadi, cukup hindari dan kurangi konsumsi kolesterol harian dan lemak trans. Jangan menyiksa diri kita dengan tidak sama sekali mengonsumsi makanan favorit kita hanya karena kolesterol total tinggi.

 

Kolesterol LDL (lemak jahat) adalah target pengobatan yang paling utama dan kadar HDL (lemak baik) harus dapat kita tingkatkan.

 

Referensi

Klik di Sini
  1. Skolnik, Neil, and Gregory Palko. “AHA/ACC updates blood cholesterol management advice.” Family Practice News, Feb. 2019, p. 16. Health & Wellness Resource Center, http://link.galegroup.com/apps/doc/A579994686/HWRC?u=stanhosp_main&sid=HWRC&xid=dd8dcc2b . Accessed 28 Apr. 2019.
  2. Grundy SM et al. 2018 AHA/ACC/AACVPR/AAPA/ABC/ACPM/ADA/AGS/APhA/ASPC/NLA/PCNA Guideline on the management of blood cholesterol: Executive Summary: A report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines. Circulation. 2018 Nov 10.
  3. National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Lipid modification: cardiovascular risk assessment and the modification of blood lipids for the primary and secondary prevention of cardiovascular disease. NICE 2014 Jul:CG181PDF, summary can be found in BMJ 2014 Jul 17;349:g4356
  4. Stone NJ, Robinson J, Lichtenstein AH, et al. 2013 ACC/AHA Guideline on the Treatment of Blood Cholesterol to Reduce Atherosclerotic Cardiovascular Risk in Adults: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S1-45or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2889 PDF (correction can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):3024), commentary can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jun 3;63(21):2300
  5. Goff DC Jr, Lloyd-Jones DM, Bennett G, et al. 2013 ACC/AHA Guideline on the Assessment of Cardiovascular Risk: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S49-73or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2935 full-text (correction can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):3026), commentary can be found in Mayo Clin Proc 2014 Jun;89(6):722
  6. Eckel RH, Jakicic JM, Ard JD, et al. 2013 AHA/ACC Guideline on Lifestyle Management to Reduce Cardiovascular Risk: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S76-99or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2960 PDF
  7. European Association for Cardiovascular Prevention & Rehabilitation, Reiner Z, Catapano AL, De Backer G, et al; ESC Committee for Practice Guidelines (CPG) 2008-2010 and 2010-2012 Committees. ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: the Task Force for the management of dyslipidaemias of the European Society of Cardiology (ESC) and the European Atherosclerosis Society (EAS). Eur Heart J. 2011 Jul;32(14):1769-818
  8. Laberge, Monique, PhD. “Dietary Cholesterol.” The Gale Encyclopedia of Diets, edited by Deirdre S. Hiam, 3rd ed., vol. 1, Gale, 2019, pp. 347-350. Health & Wellness Resource Center, http://link.galegroup.com/apps/doc/CX2491000093/HWRC?u=stanhosp_main&sid=HWRC&xid=b50d5970 . Accessed 28 Apr. 2019.
Cara menurunkan kolesterol tanpa obat

Cara Menurunkan Kolesterol Tanpa Obat

Kolesterol yang ada pada tubuh kita diproduksi oleh hati atau liver dan memerankan banyak fungsi penting. Salah satu fungsi kolesterol adalah menjaga agar dinding sel tubuh Anda tetap fleksibel dan diperlukan untuk membuat beberapa hormon. Namun, terkadang kadar kolesterol dalam tubuh terlalu tinggi sehingga diperlukan cara menurunkan kolesterol.

makanan cepat saji
makanan cepat saji dan kolesterol (Sumber: pixabay.com)

Meskipun demikian, tidak semua kadar kolesterol yang tinggi memberikan dampak buruk terhadap kesehatan.

 

Beberapa jenis kolesterol memiliki efek berbeda untuk kesehatan.

 

Sebagai contoh kolesterol LDL atau low-density lipoprotein, kadar LDL yang terlalu tinggi dapat menumpuk kolesterol pada dinding bagian dalam pembuluh darah.

 

Kondisi in akan menyebabkan penyumbatan pembuluh darah arteri.

 

Bila terjadi di jantung maka akan muncul serangan jantung.

 

Bila terjadi di arteri pada otak maka akan terjadi stroke sedangkan bila kolesterol menyumbat arteri pada ginjal dapat muncul gagal ginjal.

 

Sebaliknya, kadar kolesterol HDL atau high-density lipoprotein yang tinggi, akan membantu mencegah kondisi-kondisi di atas.

 

Begitu pula dengan kadar kolesterol total. Kadar kolesterol total yang terlalu tinggi tidak baik untuk kesehatan.

 

Pada umumnya cara menurunkan kolesterol dengan cepat adalah dengan mengonsumsi obat-obat penurun kadar kolesterol.

 

Obat-obat ini termasuk dalam golongan obat statin.

 

Obat ini antara lain:

  • Atorvastatin
  • Fluvastatin
  • Lovastatin
  • Pitavastatin
  • Pravastatin
  • Rosuvastatin
  • Simvastatin
obat penurun kolesterol
ilustrasi obat penurun kolesterol (Sumber: pixabay.com)

Lalu, apakah dengan mengonsumsi obat-obatan merupakan cara satu-satunya untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah?

 

Berbagai organisasi kesehatan seperti:

  • American College of Cardiology/American Heart Association (ACC/AHA)
  • National Institute for Health and Care Excellence (NICE), dan
  • European Society of Cardiology/European Atherosclerosis Society (ESC/EAS)

 

Mereka merekomendasikan untuk menurunkan kadar kolesterol yang tinggi dengan pola hidup sehat.

 

Artikel ini akan memberikan gambaran cara menurunkan kolesterol tanpa harus mengonsumsi obat.

 

 

  1. Fokus mengonsumsi lemak tak jenuh tunggal

Istilah lemak tak jenuh tunggal mungkin dapat membingungkan Anda. Sederhananya, golongan lemak tak jenuh adalah lemak yang baik yang dapat Anda dapatkan dengan mengonsumsi berbagai jenis makanan tertentu.

 

Lemak tak jenuh tunggal ini dapat ditemukan pada beberapa makanan berikut:

  • Zaitun dan minyak zaitun
  • Minyak canola
  • Kacang pohon, seperti almond, kenari, hazelnut, dan kacang mede
  • Alpukat
cara menurunkan kolesterol tanpa obat
Alpukat dapat menurunkan kolesterol (sumber: pixabay.com)

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi makanan yang menganduk lemak tak jenuh tunggal ini dapat meningkatkan kadar kolesterol baik yaitu kolesterol HDL.

 

Selain itu, mereka juga dapat membantu mengurangi kadar kolesterol jahat yaitu LDL.

 

Manfaat lainnya dari konsumsi lemak tak jenuh tunggal ini adalah mengurangi proses oksidasi dengan mengikat radikal bebas dan mengurangi risiko penyumbatan arteri.

 

  1. Konsumsi lemak tak jenuh ganda, khususnya yang mengandung omega-3

Mirip dengan lemak tak jenuh tunggal di atas, konsumsi lemak tak jenuh ganda juga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

cara menurunkan kolesterol jahat
Salmon adalah salah satu sumber Omega-3 (sumber: pixabay.com)

Perbedaan kedua jenis lemak ini hanya pada rantai ikatan lemaknya yang satu tunggal sedangkan lainnya ganda.

Asam lemak omega-3 adalah salah sau jenis lemak tak jenuh ganda yang sehat untuk jantung.

 

Omega-3 ditemukan dalam makanan laut (seafood) dan minyak ikan.

 

Pernah berpikir bahwa mengonsumsi seafood meningkatkan kadar kolesterol?

 

Lemak omega-3 ditemukan dalam jumlah tinggi pada ikan berlemak seperti salmon, mackerel, herring dan tuna dan lebih sedikit kerang-kerang termasuk udang.

 

Lalu, mengapa banyak orang yang merasa kolesterolnya naik setelah mengonsumsi ikan laut?

 

Terkadang itu hanya perasaan saja, belum ada bukti ilmiah konsumsi makanan khususnya seafood akan meningkatkan kadar kolesterol secara signifikan.

 

Malah omega-3 yang terkandung dalam seafood merupakan salah satu zat yang dapat mengurangi risiko menderita penyakit gula atau diabetes dan baik untuk kesehatan jantung Anda.

 

  1. Hindari konsumsi lemak trans

Bila lemak tak jenuh adalah teman baik yang harus ada dalam menu makanan Anda maka lemak trans adalah musuh yang harus dilawan.

cara menurunkan kolesterol tinggi
Seafood tidak meningkatkan kadar kolesterol (sumber: pixabay.com)

Lemak trans ini paling banyak terdapat pada makanan yang digoreng menggunakan minyak kelapa sawit.

 

Selain itu, lemak ini juga banyak terdapat dalam makanan cepat saji dan juga makanan kemasan atau kalengan.

 

Jangan mudah percaya label makanan yang menyebutkan bahwa makanan cepat saji atau makanan kemasan bebas lemak.

 

Karena faktanya tidak selalu demikian.

 

Lemak trans meningkatkan kolesterol total dan LDL, tetapi menurunkan HDL bermanfaat sebanyak 20%.

 

Selain itu, Sebuah penelitian tentang pola kesehatan global memperkirakan lemak trans mungkin bertanggung jawab atas 8% kematian akibat penyakit jantung di seluruh dunia.

 

Penelitian lain memperkirakan undang-undang yang membatasi lemak trans di New York, Amerika Serikat akan mengurangi kematian akibat penyakit jantung sebesar 4,5%.

 

  1. Konsumsi Serat Larut

Serat larut adalah sekelompok senyawa yang berbeda dalam tanaman yang larut dalam air dan tidak dapat dicerna manusia.

 

Namun, bakteri menguntungkan yang hidup di usus Anda dapat mencerna serat larut.

 

Bahkan, mereka membutuhkannya untuk nutrisi mereka sendiri. Bakteri baik ini, juga disebut probiotik.

 

Probiotik dapat mengurangi kedua jenis lipoprotein, LDL dan VLDL yang berbahaya.

 

Beberapa sumber serat larut terbaik termasuk kacang, kacang polong dan lentil, buah-buahan, gandum dan biji-bijian utuh.

 

  1. Olahraga teratur

Olahraga teratur adalah tindakan terbaik untuk kesehatan jantung.

Tidak hanya meningkatkan kebugaran fisik dan membantu memerangi obesitas, tetapi juga mengurangi kolesterol LDL berbahaya dan meningkatkan Kolesterol HDL yang baik.

 

Olahraga teratur adalah cara yang mudah dan murah yang dapat dilakukan oleh setiap orang.

 

Olahraga adalah cara menurunkan kolesterol alami.

 

Berdasarkan tinjauan dari 13 penelitian, olahraga selama 30 menit lima hari dalam seminggu sudah cukup sebagai cara menurunkan kolesterol alamiah dan mengurangi risiko penyakit jantung.

 

  1. Menurunkan Berat Badan adalah Cara Menurunkan Kolesterol Terbaik

Diet mempengaruhi cara tubuh Anda menyerap dan memproduksi kolesterol. Tapi, berat badan berlebih akan menyebabkan kadar kolesterol Anda cenderung tinggi meskipun Anda tidak hobi mengonsumsi makanan berlemak.

cara menurunkan kolesterol
menurunkan berat badan untuk menurunkan kolesterol (sumber: pixabay.com)

Sebuah penelitian selama dua tahun terhadap 90 orang yang menjalani diet penurunan berat badan yang ditetapkan secara acak menemukan bahwa penurunan berat badan pada salah satu diet meningkatkan penyerapan kolesterol dari makanan dan menurunkan pembentukan kolesterol baru dalam tubuh.

Penurunan berat badan mengurangi kolesterol total, sebagian dengan mengurangi pembentukan kolesterol baru di hati.

 

Penurunan berat badan memiliki efek yang berbeda, meskipun secara umum bermanfaat, pada HDL dan LDL dalam beberapa penelitian yang berbeda.

 

Jadi, salah satu cara menurunkan kolesterol dengan cepat adalah berolahraga teratur.

 

  1. Cara menurunkan kolesterol terakhir, Jangan Merokok

Cara menurunkan kolesterol tinggi yang terakhir pada artikel ini adalah jangan merokok.

 

Atau bagi Anda penderita kolesterol tinggi dan juga perokok saat ini maka cara yang efektif untuk menurunkannya adalah berhenti merokok.

 

Merokok meningkatkan kadar kolesterol jahat dan menurunkan kadar kolesterol baik.

 

Merokok juga dapat menghambat kemampuan tubuh untuk mengirim kolesterol kembali ke hati untuk disimpan atau dipecah.

 

Berhenti merokok dapat membalikkan efek ini.

 

Kesimpulan Cara Menurunkan Kolesterol

Kolesterol memiliki fungsi penting dalam tubuh, tetapi dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah dan penyakit jantung saat kadarnya terlalu tinggi.

 

Low-density lipoprotein (LDL) rentan terhadap kerusakan akibat radikal bebas dan berkontribusi paling besar pada penyakit jantung.

 

Sebaliknya, high-density lipoprotein (HDL) melindungi tubuh terhadap penyakit jantung dengan membawa kolesterol menjauh dari dinding pembuluh dan kembali ke hati.

 

Jika kolesterol Anda tidak seimbang, intervensi gaya hidup adalah cara menurunkan kolesterol secara cepat.

 

Lemak tak jenuh dan serat larut dapat meningkatkan HDL yang baik dan mengurangi LDL yang buruk.

 

Olahraga dan penurunan berat badan juga cara efektif menurunkan kolesterol.

 

Makan lemak trans dan merokok itu berbahaya dan harus dihindari karena tidak membantu sebagai cara menurunkan kolesterol jahat.

 

Jika Anda khawatir dengan kadar kolesterol Anda, periksakan ke dokter.

 

Pengambilan darah sederhana yang dilakukan setelah Anda puasa di malam adalah cara yang diperlukan untuk mengetahui kadar kolesterol Anda.

 

pedoman praktik klinis

Rangkuman Pedoman Klinis Kardiologi Pada Tahun 2017

Rangkuman pedoman klinis kardiologi pada tahun 2017 ini berisikan 11 kelompok pedoman klinis dan rekomendasi yang dikeluarkan pada tahun 2017.

Rangkuman ini berisikan pedoman mulai dari target kadar kolesterol hingga pedoman klinis tromboemboli vena.

pedoman klinis kardiologi
Technology image created by Creativeart – Freepik.com

Anda dapat membaca hingga ke bawah keseluruhan dari rangkuman ini. Tapi, Apabila Anda hanya ingin membaca topik tertentu maka Anda dapat memilih salah satu topik tersebut pada daftar isi di atas.

Anda dapat menemukan link referensi asal rekomendasi tersebut pada setiap akhir bagian atau topik tersebut.

Pedoman praktik klinis pada rangkuman ini berasal dari beberapa pedoman atau rekomendasi dari:

  • American Academy of Family Physicians
  • American Academy of Neurology
  • American Academy of Pediatrics
  • American Association of Clinical Endocrinologists
  • American Association for Thoracic Surgery
  • American College of Cardiology
  • American College of Endocrinology
  • American College of Physicians
  • American Diabetes Association
  • American Heart Association
  • European Association of Cardiothoracic Anaesthesiology
  • European Association for Cardio-Thoracic Surgery
  • European Society of Anesthesiology
  • European Society of Cardiology
  • Heart Failure Society of America

 

Pedoman Klinis Kardiologi 1: Target Kadar Kolesterol

American Association of Clinical Endocrinologists/American College of Endocrinology

AACE/ACE merekomendasikan target LDL <55 mg/dL, <70 mg/dL, < 100 mg/dL, dan <130 mg/dL untuk individu dengan risiko kejadian kardiovaskular ekstrim, sangat tinggi, tinggi/sedang, dan rendah, masing-masing.

Pasien dengan risiko ekstrim: Target LDL <55 mg/dL, non-HDL <80 mg/dL, yaitu pasien dengan:

  • Penyakit kardiovaskular aterosklerotik progresif (ASCVD), termasuk angina tidak stabil pada pasien yang telah mencapai target LDL <70 mg/dL
  • Penyakit kardiovaskular yang telah ditegakkan pada pasien dengan diabetes, gagal ginjal kronis stadium ¾, atau hiperkolesterolemia familial heterozigot (HeFH)
  • Riwayat ASCVD prematur (usia <55 tahun pada pria, dan <65 tahun pada wanita)

 

Pasien dengan risiko sangat tinggi: Target LDL <70 mg/dL, non-HDL <80 mg/dL, yaitu pada pasien dengan:

  • Riwayat dirawat karena sindrom koroner akut, penyakit arteri karotis atau penyakit arteri perifer; risiko 10 tahun >20%
  • Pasien dengan dabetes dan gagal ginjal kronis stadium ¾ dengan satu atau lebih faktor risiko
  • HeFH

 

Pasien dengan risiko tinggi: Target LDL <100 mg/dL, non-HDL <130 mg/dL, yaitu pada pasien dengan:

  • Dua atau lebih faktor risiko kardiovaskular dan risiko 10 tahun 10-20%
  • Diabetes atau CKD stadium ¾ tanpa faktor risiko lainnya

 

Pasien dengan risiko sedang: Target LDL sama dengan risiko tinggi, yaitu pada pasien dengan:

  • Dua atau lebih faktor risiko dan risiko 10 tahun <10%

 

Pasien dengan risiko rendah: Target LDL <130 mg/dL, non-HDL <160 mg/dL

  • Tidak memiliki faktor risiko

 

Referensi

  1. Tucker ME. New AACE Lipid Guidelines Establish ‘Extreme’ CVD Risk Category. Medscape. WebMD Inc. May 5, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/879577
  2. Jellinger PS, Handelsman Y, Rosenblit PD, et al. AMERICAN ASSOCIATION OF CLINICAL ENDOCRINOLOGISTS AND AMERICAN COLLEGE OF ENDOCRINOLOGY GUIDELINES FOR MANAGEMENT OF DYSLIPIDEMIA AND PREVENTION OF CARDIOVASCULAR DISEASE. Endocrine Practice. Vol 23 (Suppl 2) April 2017. https://www.aace.com/files/lipid-guidelines.pdf

 

Pedoman Klinis Kardiologi 2: Terapi Antiplatelet pada Penyakit Jantung Koroner

European Society of Cardiology

Saran terbaru dari ESC adalah dengan melakukan pendekatan personalized medicine (kedokteran pribadi) dengan mempertimbangakan risiko iskemik vs perdarahan. Dimana, setiap pengobatan yang diberikan dan durasinya bersifat individual dan sangat bergantung pada profil pasien secara individu.

  • Terapi dengan antiplatelet ganda (DAPT) misalnya dengan aspirin ditambah inhibitor P2Y12 mengurangi risiko trombosis stent dan/atau infark miokard spontan pada pasien yang menjalani PCI (intervensi koroner perkutan) atau suatu sindrom koroner akut.
  • Risiko perdarahan pada pasien dengan DAPT secara proporsional berhubungan dengan durasi pemberian.
  • Pemanjangan durasi pemberian DAPT dan keuntungannya terhadap mortalitas, bergantung pada riwayat kardiovaskular sebelumnya (misalnya riwayat ACS/MI vs PJK stabil).
  • Untuk pasien dengan sindrom koroner akut, durasi pemberian DAPT harus 12 bulan. Tidak bergantung pada strategi revaskularisasi apa yang digunakan (terapi medis, PCI, atau operasi CABG).
  • Pemberian DAPT selama 6 bulan harus dipertimbangkan pada pada pasien dengan risiko perdarahan tinggi (Skor PRECISE-DAPT ≥ 25).
  • Pemberian DAPT lebih lama dari 12 bulan harus dipertimbangkan pada pasien ACS yang memiliki toleransi DAPT baik tanpa komplikasi perdarahan.
  • Kebutuhan untuk rejimen DAPT jangka pendek tidak lagi membenarkan penggunaan stent bare-metal daripada stent drug-eluting generasi baru. Durasi DAPT harus dipandu oleh penilaian risiko iskemik vs pendarahan individu pasien dan bukan oleh tipe stent.
  • Terlepas dari jenis stent metalik yang ditanamkan, durasi DAPT pada pasien CAD stabil yang diobati dengan PCI harus 1 hingga 6 bulan tergantung pada risiko pendarahan. Durasi DAPT yang lebih lama dapat dipertimbangkan pada pasien yang berisiko iskemik lebih besar daripada risiko perdarahan.
  • Tidak ada data yang cukup untuk merekomendasikan DAPT pada pasien CAD stabil yang diobati dengan CABG.
  • Penambahan DAPT ke terapi antikoagulasi oral meningkatkan risiko komplikasi perdarahan sebanyak dua hingga tiga kali lipat. Indikasi untuk antikoagulasi oral harus ditinjau kembali dan pengobatan dilanjutkan hanya jika ada indikasi yang meyakinkan seperti fibrilasi atrium, katup jantung mekanik, atau riwayat trombosis vena dalam atau emboli pulmoner berulang. Durasi terapi tiga kali (DAPT plus antikoagulan oral) harus dibatasi hingga 6 bulan atau dihilangkan setelah pulang dari rumah sakit, tergantung pada risiko iskemik dan perdarahan.
  • Clopidogrel direkomendasikan sebagai inhibitor P2Y12 pilihan pada pasien dengan CAD stabil yang diterapi dengan PCI, pasien dengan indikasi untuk antikoagulan oral, dan pasien ACS di antaranya ticagrelor atau prasugrel merupakan kontraindikasi. Ticagrelor atau prasugrel direkomendasikan untuk pasien ACS kecuali ada kontraindikasi spesifik obat.
  • Keputusan tentang kapan harus memulai inhibitor P2Y12 tergantung pada obat spesifik dan penyakit tertentu (CAD Stabil vs ACS).

 

Referensi

  1. Hughes S. ESC Guideline Update on Dual Antiplatelet Therapy in CAD. Medscape News. WebMD Inc. September 14, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/885683

 

Pedoman Klinis Kardiologi 3: Gagal Jantung

American College of Cardiology/American Heart Association/Heart Failure Society of America

Untuk pasien yang berisiko mengalami gagal jantung, pemeriksaan berbasis biomarker peptida natriuretik (BNP) yang diikuti oleh perawatan berbasis tim, termasuk spesialis kardiovaskular akan mengoptimalkan manajemen dan terapi yang berdasarkan pedoman (GDMT), dapat berguna untuk mencegah perkembangan disfungsi ventrikel kiri (sistolik atau diastolik) atau gagal jantung onset baru.

  • Pada pasien yang mengalami dispnea, pengukuran biomarker peptida natriuretik berguna untuk mendukung diagnosis atau eksklusi gagal jantung.
  • Selama rawat inap dengan kondisi gagal jantung, pemeriksaan kadar peptida natriuretik pada awal rawatan dapat berguna untuk menetapkan prognosis pasca rawatan.
  • Strategi klinis penghambatan sistem renin-angiotensin dengan inhibitor angiotensin-converting enzyme (ACE), ATAU angiotensin receptor blocker (ARB), atau angiotensin receptor-neprilysin inhibitor (ARNI) dalam hubungannya dengan beta-blocker berbasis bukti, dan antagonis aldosteron pada pasien tertentu, direkomendasikan untuk pasien dengan gagal jantung kronis dengan penurunan fraksi ejeksi (HFrEF) untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas.
  • Pada pasien dengan gejala kronis HFrEF NYHA kelas II atau III yang mentoleransi inhibitor ACE atau ARB, penggantian dengan ARNI dianjurkan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas lebih lanjut.
  • ARNI tidak boleh diberikan bersamaan dengan inhibitor ACE atau dalam waktu 36 jam dari dosis terakhir inhibitor ACE.
  • ARNI tidak boleh diberikan pada pasien dengan riwayat angioedema.
  • Ivabradine dapat bermanfaat untuk mengurangi rawat inap untuk pasien dengan gagal jantung simptomatik (NYHA kelas II-III) HFrEF kronis stabil (LVEF ≤35%) yang menerima mendapatkan GDEM, termasuk beta blocker pada dosis maksimum yang ditoleransi, dan yang dalam irama sinus dengan detak jantung 70 x/menit atau lebih saat istirahat.
  • Pada pasien yang terpilih secara baik dengan gagal jantung fraksi ejeksi yang tetap (HFpEF) (dengan EF ≥45%, peningkatan kadar B-type natriuretic peptide (BNP) atau gagal jantung dalam 1 tahun, perkiraan laju filtrasi glomerular> 30 mL / menit, kreatinin < 2,5 mg / dL, kalium <5,0 mEq / L), antagonis reseptor aldosteron mungkin dipertimbangkan untuk menurunkan rawat inap.
  • Penggunaan rutin nitrat atau phosphodiesterase-5 inhibitor untuk meningkatkan aktivitas atau kualitas hidup pada pasien dengan HFpEF tidak efektif.
  • Pada pasien dengan gagal jantung NYHA kelas II dan III disertai defisiensi besi (feritin <100 ng / mL atau 100 hingga 300 ng / mL jika saturasi transferin <20%), penggantian besi intravena mungkin dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan status fungsional dan kualitas hidup.
  • Pada pasien dengan gagal jantung dan anemia, agen stimulasi erythropoietin tidak boleh digunakan untuk memperbaiki morbiditas dan mortalitas.
  • Pada pasien dengan peningkatan risiko gagal jantung tahap A, tekanan darah optimal pada mereka dengan hipertensi harus kurang dari 130/80 mm Hg.
  • Pasien dengan HFrEF dan hipertensi harus diresepkan GDMT dititrasi untuk mencapai tekanan darah sistol kurang dari 130 mm Hg.
  • Pasien dengan HFpEF dan hipertensi persisten setelah manajemen volume berlebihan harus diresepkan GDMT dititrasi untuk mencapai tekanan darah sistol kurang dari 130 mm Hg.
  • Pada pasien dengan NYHA kelas II-IV HF dan dugaan gangguan tidur atau kantuk di siang hari yang berlebihan, penilaian tidur formal dapat dipertimbangkan.
  • Pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dan apnea tidur obstruktif, tekanan saluran napas positif kontinu (CPAP) mungkin dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi kantuk di siang hari.
  • Pada pasien dengan NYHA kelas II-IV HFrEF dan apnea tidur sentral, servo-ventilasi adaptif menyebabkan bahaya.

Referensi

  1. Yancy CW, Jessup M, Bozkurt B, et al. 2017 ACC/AHA/HFSA Focused Update of the 2013 ACCF/AHA Guideline for the Management of Heart Failure: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines and the Heart Failure Society of America. Circulation. 2017 Apr 28. http://circ.ahajournals.org/content/early/2017/04/26/CIR.0000000000000509.long

 

Pedoman Klinis Kardiologi 4: Klasifikasi dan Tatalaksana Hipertensi

American College of Cardiology and American Heart Association

Pedoman ACC / AHA baru menghilangkan klasifikasi prehipertensi dan membaginya menjadi dua tingkat: (1) Tenakan darah yang meningkat, dengan tekanan sistolik antara 120 dan 129 mm Hg dan tekanan diastolik kurang dari 80 mm Hg, dan (2) hipertensi tahap 1 , dengan tekanan sistolik 130 hingga 139 mm Hg atau tekanan diastolik 80 hingga 89 mm Hg.

Ringkasan Lengkap Pedoman Praktik Klinis Hipertensi AHA/ACC 2017 ini dapat Anda baca di sini:

Ringkasan Pedoman Hipertensi ACC/AHA 2017

Pedoman Hipertensi ACC/AHA 2017

 

Pedoman Klinis Kardiologi 5: Hipertensi pada Pasien Diabetes

American Diabetes Association

  • Tekanan darah harus diukur pada setiap kunjungan perawatan klinis rutin. Pasien yang ditemukan memiliki tekanan darah tinggi (≥140 / 90 mmHg) harus memiliki tekanan darah yang dikonfirmasi dengan menggunakan beberapa kali pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran pada hari yang terpisah, untuk mendiagnosis hipertensi.
  • Semua pasien hipertensi dengan diabetes harus memiliki monitoring tekanan darah di rumah untuk mengidentifikasi hipertensi jas putih (whitecoat hipertension).
  • Pengukuran ortostatik tekanan darah harus dilakukan selama evaluasi awal hipertensi dan secara berkala pada tindak lanjut, atau ketika gejala hipotensi ortostatik hadir, dan secara teratur jika hipotensi ortostatik telah terdiagnosis.
  • Sebagian besar pasien dengan diabetes dan hipertensi harus diobati dengan target tekanan darah sistolik <140 mm Hg dan tekanan darah diastolik <90 mm Hg.
  • Target tekanan darah sistolik dan diastolik yang lebih rendah, seperti <130/80 mm Hg, mungkin cocok untuk individu yang berisiko tinggi terhadap penyakit kardiovaskular jika mereka dapat dicapai tanpa beban pengobatan yang tidak semestinya.
  • Untuk pasien dengan tekanan darah sistolik >120 mm Hg atau tekanan darah diastolik >80 mm Hg, intervensi gaya hidup terdiri dari penurunan berat badan jika kelebihan berat badan atau obesitas; Pola Diet untuk Menghentikan Hipertensi (DASH) – gaya pola diet, termasuk mengurangi natrium dan meningkatkan asupan kalium; peningkatan konsumsi buah dan sayuran; moderasi asupan alkohol; dan meningkatkan aktivitas fisik.
  • Pasien dengan tekanan darah berdasarkan pemeriksaan pada poliklinik ≥140 / 90 mmHg harus, di samping terapi gaya hidup, memiliki titrasi tepat waktu terapi farmakologis untuk mencapai gol tekanan darah.
  • Pasien dengan tekanan darah berdasarkan pemeriksaan di poliklinik ≥160 / 100 mmHg harus, di samping terapi gaya hidup, memiliki inisiasi cepat dan titrasi tepat 2 obat atau kombinaobat si pil tunggal yang terbukti mengurangi kejadian kardiovaskular pada pasien dengan diabetes.
  • Pengobatan untuk hipertensi harus termasuk kelas obat yang ditunjukkan untuk mengurangi kejadian kardiovaskular pada pasien dengan diabetes: inhibitor angiotensin-converting enzyme (ACE), angiotensin-receptor blocker (ARB), diuretik tiazid, atau dihidropiridin calcium channel blockers. Terapi multi-obat umumnya diperlukan untuk mencapai target tekanan darah (tetapi bukan kombinasi dari ACE inhibitor dan ARB).
  • Inhibitor ACE atau ARB, pada dosis maksimum yang dapat diterima yang diindikasikan untuk pengobatan tekanan darah, adalah perawatan lini pertama yang disarankan untuk hipertensi pada pasien dengan diabetes dan rasio albumin-kreatinin ≥300 mg / g kreatinin atau 30-299 mg/g kreatinin. Jika satu kelas tidak ditoleransi, yang lain harus diganti.
  • Untuk pasien yang diobati dengan inhibitor ACE, ARB, atau diuretik, kreatinin serum / perkiraan laju filtrasi glomerulus dan kadar serum potasium harus dipantau.
  • Wanita hamil dengan diabetes dan hipertensi yang sudah ada sebelumnya atau hipertensi gestasional ringan dengan tekanan darah sistolik <160 mm Hg, tekanan darah diastolik <105 mm Hg, dan tidak ada bukti kerusakan organ akhir yang tidak perlu diobati dengan terapi antihipertensi farmakologis.
  • Pada pasien hamil dengan diabetes dan hipertensi yang sudah ada sebelumnya yang diobati dengan terapi antihipertensi, tekanan darah sistolik atau diastolik target 120-160 / 80-105 mm Hg disarankan untuk kepentingan mengoptimalkan kesehatan ibu dan pertumbuhan janin jangka panjang.

 

Referensi

  1. Jenkins K. ADA Updates Recommendations for Managing Hypertension in Diabetes. Medscape News. WebMD Inc. September 04, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/885163#vp_2
  2. De Boer IH, Bangalore S, Benetos A, et al. Diabetes and Hypertension: A Position Statement by the American Diabetes Association. Diabetes Care. 2017 Sep;40(9):1273-84. http://care.diabetesjournals.org/content/40/9/1273

 

Pedoman Klinis Kardiologi 6: Hipertensi Pada Pasien Usia ≥60 Tahun

American College of Physicians and American Academy of Family Physicians

  • Dokter harus memulai pengobatan pada pasien berusia 60 tahun atau lebih yang memiliki tekanan darah sistolik persisten ≥150 mm Hg untuk mencapai target <150 mm Hg untuk mengurangi risiko stroke, kejadian jantung, dan kematian.
  • Jika pasien berusia 60 tahun atau lebih memiliki riwayat stroke atau serangan iskemik transien atau memiliki risiko kardiovaskular yang tinggi, dokter harus mempertimbangkan memulai atau meningkatkan terapi obat untuk mencapai tekanan darah sistolik kurang dari 140 mm Hg untuk mengurangi risiko stroke dan kejadian jantung.
  • Pertimbangkan memulai atau mengintensifkan pengobatan farmakologis pada beberapa orang dewasa berusia 60 tahun atau lebih pada risiko kardiovaskular tinggi berdasarkan penilaian individual, untuk mencapai target tekanan darah sistolik kurang dari 140 mm Hg untuk mengurangi risiko stroke atau kejadian jantung. Faktor-faktor termasuk komorbiditas, beban obat, risiko efek samping, dan biaya. Umumnya, peningkatan risiko kardiovaskular termasuk penyakit kardiovaskular yang diketahui, diabetes, atau penyakit ginjal kronis dengan laju filtrasi glomerulus (GFR) kurang dari 45 mL/menit/1,73 m2.

Referensi

  1. Frellick M. Updated hypertension guidelines released by ACP, AAFP. Medscape Medical News. WebMD Inc. January 17, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/874494
  2. Qaseem A, Wilt TJ, Rich R, et al. Pharmacologic treatment of hypertension in adults aged 60 years or older to higher versus lower blood pressure targets: A clinical practice guideline from the American College of Physicians and the American Academy of Family Physicians. Ann Intern Med. 2017 Jan 17.

 

Pedoman Klinis Kardiologi 7: Regurgitasi Katup Mitral

American Association for Thoracic Surgery

  • Penggantian katup mitral dipertimbangkan pada pasien dengan regurgitasi katup mitral iskemik berat (IMR) yang tetap simtomatik meskipun terapi medial dan alat jantung berdasakan pedoman, dan yang memiliki aneurisma basal/diskinesis, penambatan leaflet (daun katup) yang signifikan, dan/atau dilatasi ventrikel kiri yang berat (diameter akhir diastolik ventrikel kiri [LVEDD] > 6,5 cm).
  • Perbaikan katup mitral dengan cincin anuloplasti kaku lengkap berukuran kecil dapat dipertimbangkan pada pasien dengan regurgitasi mitral iskemik berat yang tetap bergejala meskipun terapi peralatan medis dan jantung yang diarahkan oleh Pedoman dan yang tidak memiliki aneurisma basal/diskinesis, penambatan leaflet yang signifikan, atau pembesaran ventrikel kiri yang parah. .
  • Pada pasien dengan regurgitasi mitral iskemik sedang yang menjalani bypass grafting arteri koroner (CABG), perbaikan katup mitral dengan cincin anuloplasti kaku lengkap berukuran kecil dapat dipertimbangkan.
  • Perbaikan katup mitral untuk regurgitasi mitral iskemik dilakukan dengan pelestarian lengkap akord selebaran anterior dan posterior.
  • Perbaikan katup mitral untuk regurgitasi mitral iskemik dilakukan dengan cincin annuloplasty rigid yang kecil, berukuran kecil, dan lengkap.

Referensi

  1. 2016 update to The American Association for Thoracic Surgery consensus guidelines: Ischemic mitral valve regurgitation. J Thorac Cardiovasc Surg. 2017 Jan 17. http://www.jtcvsonline.org/article/S0022-5223(17)30031-4/fulltext

 

Pedoman Klinis Kardiologi 8: Infark Miokard

American College of Cardiology dan American Heart Association

Revisi Pengukuran ST elevasi MI (STEMI) dan non-STEMI (NSTEMI)

  • Statin digunakan untuk pasien dengan AMI (infark miokard akut)
  • Evaluasi LVEF (fraksi ejeksi ventrikel kiri)
  • Reseptor P2Y12 (clopidogrel, ticagrelor, prasugrel) yang diresepkan saat pasien dipulangkan. Ketiganya merupakan obat inhibitor dari reseptor P2Y12 dan direkomendasikan selain aspirin (sebagai bagian dari rejimen antiplatelet ganda) untuk mengurangi kejadian iskemik rekuren setelah AMI.

 

Pengukuran STEMI / NSTEMI Baru

  • Angiografi segera untuk serangan jantung diluar-rumah sakit yang diresusitasi pada pasien STEMI.
  • Tes stres noninvasif sebelum pasien dipulangkan pada pasien yang diobati secara konservatif untuk mendeteksi iskemia yang dapat diinduksi pada pasien STEMI dan NSTEMI yang diobati secara medis.
  • Pengukuran troponin jantung dini (dalam waktu 6 jam setelah kedatangan).
  • Partisipasi dalam registri infark miokard akut regional atau nasional untuk membantu melacak dan menilai hasil, komplikasi, dan kualitas perawatan untuk pasien dengan AMI.
  • Stratifikasi skor risiko untuk pasien NSTEMI untuk menentukan strategi yang tepat (invasif versus dipandu iskemik) dan waktu strategi (awal versus akhir invasif) pada pasien dengan NSTEMI.
  • Strategi invasif dini (dalam 24 jam) pada pasien NSTEMI berisiko tinggi.
  • Hipotermia terapeutik untuk pasien STEMI koma dengan henti jantung di luar rumah sakit.
  • Aldosterone antagonis saat pasien dipulangkan.
  • Penggunaan NSAID yang tidak tepat di rumah sakit (peringatan terhadap penggunaan obat-obatan ini setelah AMI).
  • Resep prasugrel yang tidak sesuai pada saat pasien dipulangkan pada pasien dengan riwayat stroke sebelumnya atau TIA (hati-hati terhadap penggunaan prasugrel pada pasien dengan TIA / stroke sebelumnya, karena bahaya klinis pada pasien ini. FDA juga mengeluarkan peringatan kotak hitam pada ini)
  • Peresepan yang tidak tepat untuk aspirin dosis tinggi dengan ticagrelor saat keluar (peringatan terhadap penggunaan aspirin dosis tinggi >100 mg di antara pasien yang menerima ticagrelor. FDA juga mengeluarkan peringatan kotak hitam mengenai hal ini)

Referensi

  1. Wendling P. AHA/​ACC Issue New Performance, Quality Measures for MI. Medscape News. WebMD Inc. Sep 22, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/886075
  2. Jneid H, Addison D, Bhatt DL, et al. 2017 AHA/ACC Clinical Performance and Quality Measures for Adults With ST-Elevation and Non-ST-Elevation Myocardial Infarction: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Performance Measures. Circ Cardiovasc Qual Outcomes. 2017 Oct;10(10). http://circoutcomes.ahajournals.org/content/10/10/e000032.long

 

Pedoman Klinis Kardiologi 9: Hipertensi Pediatri

American Academy of Pediatrics

  • Tekanan darah harus diperiksa pada semua anak dan remaja ≥3 tahun usia di setiap pertemuan perawatan kesehatan jika mereka mengalami obesitas, minum obat yang diketahui untuk meningkatkan tekanan darah, memiliki penyakit ginjal, memiliki riwayat obstruksi lengkungan aorta atau koarktasio, atau memiliki diabetes.
  • Profesional perawatan kesehatan yang terlatih di lingkungan poliklinik harus membuat diagnosis hipertensi jika seorang anak atau remaja memiliki pembacaan tekanan darah yang dikonfirmasi oleh auskultasi ≥95 persentil pada 3 kunjungan yang berbeda.
  • Pemantauan tekanan darah ambulasi (ABPM) harus dilakukan untuk konfirmasi hipertensi pada anak-anak dan remaja dengan pengukuran tekanan darah di poliklinik dalam kategori tekanan darah tinggi selama 1 tahun atau lebih atau dengan hipertensi tahap 1 selama 3 kunjungan poliklinik.
  • Anak-anak dan remaja dengan suspek hipertensi jas putih (WCH) harus menjalani ABPM. Diagnosis didasarkan pada adanya tekanan darah sistolik rata-rata (SBP) dan tekanan darah diastolik (DBP) <95 persentil dan SBP dan beban DBP <25%.
  • Pemantauan tekanan darah di rumah tidak boleh digunakan untuk mendiagnosis hipertensi, hipertensi tersamar, atau WCH tetapi mungkin merupakan tambahan yang berguna untuk pengukuran tekanan darah di poliklinik dan rawat jalan setelah hipertensi didiagnosis.
  • Anak-anak dan remaja ≥6 tahun usia tidak memerlukan evaluasi yang luas untuk penyebab sekunder hipertensi jika mereka memiliki riwayat keluarga positif hipertensi, kelebihan berat badan atau obesitas, dan/atau tidak memiliki riwayat atau temuan pemeriksaan fisik sugestif dari penyebab sekunder hipertensi.
  • Dokter tidak boleh melakukan elektrokardiografi pada anak hipertensi dan remaja yang sedang dievaluasi untuk hipertrofi ventrikel kiri (LVH).Disarankan bahwa ekokardiografi dilakukan untuk menilai kerusakan organ target jantung (massa LV, geometri, dan fungsi) pada saat pertimbangan pengobatan farmakologis hipertensi.LVH harus didefinisikan sebagai massa LV> 51 g/m (anak laki-laki dan perempuan) untuk anak-anak dan remaja yang lebih tua dari usia 8 tahun dan ditentukan oleh massa LV> 115 g/luas permukaan tubuh (BSA) untuk anak laki-laki dan massa LV> 95 g/ BSA untuk anak perempuan.
  • Ekokardiografi ulangan dapat dilakukan untuk memantau peningkatan atau perkembangan kerusakan organ target pada interval 6 sampai 12 bulan.
  • Indikasi untuk mengulangi echocardiography termasuk hipertensi persisten meskipun ada pengobatan, hipertrofi ventrikel LV, atau fraksi ejeksi ventrikel kiri yang berkurang.
  • Pada pasien tanpa cedera organ target LV pada penilaian ekokardiografi awal, ekokardiografi berulang pada interval tahunan dapat dipertimbangkan pada mereka dengan hipertensi tahap 2, hipertensi sekunder, atau hipertensi tahap 1 kronis yang belum selesai diobati (ketidakpatuhan atau resistansi obat) untuk menilai perkembangan perburukan. Cedera organ target LV.
  • Pada anak-anak dan remaja yang dicurigai memiliki stenosis arteri ginjal (RAS), CT angiografi atau MR angiografi dapat dilakukan sebagai pemeriksaan pencitraan noninvasif. Nuclear renography kurang berguna dalam pediatri dan umumnya harus dihindari.
  • Pada anak-anak dan remaja yang didiagnosis dengan hipertensi, tujuan pengobatan dengan terapi nonfarmakologis dan farmakologis harus mengurangi SBP dan DBP menjadi <90 persen dan <130/80 mm Hg pada remaja ≥13 tahun
  • Pada saat diagnosis BP tinggi atau hipertensi pada anak atau remaja, dokter harus memberikan saran tentang diet DASH dan merekomendasikan aktivitas fisik sedang hingga kuat setidaknya 3 hingga 5 hari / minggu (30-60 menit per sesi) untuk membantu mengurangi BP.
  • Pada anak hipertensi dan remaja yang mengalami modifikasi gaya hidup (terutama mereka yang menderita hipertrofi ventrikel kiri pada ekokardiografi, hipertensi gejala, atau hipertensi tahap 2 tanpa faktor yang dapat dimodifikasi secara jelas [misalnya, obesitas]), dokter harus memulai pengobatan farmakologis dengan enzim pengubah angiotensin. (ACE) inhibitor, angiotensin-receptor blocker (ARB), long-acting calcium channel blocker, atau diuretik tiazid.
  • Anak-anak atau remaja dengan penyakit ginjal kronis dan hipertensi harus diobati untuk menurunkan tekanan arteri rata-rata 24 jam <50 persen oleh ABPM.Anak-anak dan remaja dengan CKD, hipertensi, dan proteinuria harus diobati dengan ACE inhibitor atau ARB.Anak-anak dan remaja dengan diabetes mellitus tipe 1 atau diabetes mellitus tipe 2 harus dievaluasi untuk hipertensi pada setiap pertemuan medis dan diobati jika tekanan darah ≥95 persentil atau> 130/80 mm Hg pada remaja ≥13 tahun.
  • Pada anak-anak dan remaja dengan hipertensi berat akut dan gejala yang mengancam jiwa, pengobatan segera dengan obat antihipertensi jangka pendek harus dimulai, dan tekanan darah harus dikurangi tidak lebih dari 25% dari pengurangan yang direncanakan selama 8 jam pertama.

Referensi

  1. Phillips D. AAP Guideline Updates Practice for Pediatric Hypertension. Medscape News. WebMD Inc. August 21, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/884555#vp_2
  2. Flynn JT, Kaelber DC, Baker-Smith CM, et al. Clinical Practice Guideline for Screening and Management of High Blood Pressure in Children and Adolescents. Pediatrics. 2017 Sep;140(3). http://pediatrics.aappublications.org/content/early/2017/08/21/peds.2017-1904

 

Pedoman Klinis Kardiologi 10: Infark Miokard dengan Elevasi Segmen ST

European Society of Cardiology

  • Dimana fibrinolisis adalah strategi reperfusi, penundaan waktu maksimum dari diagnosis STEMI untuk pengobatan telah dipersingkat dari 30 menit pada tahun 2012 menjadi 10 menit pada tahun 2017.
  • Revaskularisasi lengkap pada pasien dengan penyakit multivessel menerima rekomendasi yang lebih kuat, bergerak dari kelas III (tidak boleh dilakukan) ke kelas IIa (harus dipertimbangkan), dengan non-infark arteri terkait yang dirawat selama prosedur indeks atau titik waktu lain sebelum dipulangkan dari rumah Sakit.
  • Aspirasi trombus tidak lagi direkomendasikan, berdasarkan dua uji coba besar pada lebih dari 15.000 pasien.
  • Stenting yang ditangguhkan, yang melibatkan membuka arteri dan menunggu 48 jam untuk menanamkan stent, tidak lagi direkomendasikan.Untuk PCI, penggunaan stent drug-eluting sebagai pengganti stent bare-metal telah ditingkatkan dari kelas IIa (harus dipertimbangkan) ke kelas I (disarankan/diindikasikan), seperti penggunaan radial, bukan femoral, akses arteri.
  • Terapi antiplatelet ganda setelah 12 bulan dapat dipertimbangkan pada pasien terpilih. Bivalirudin telah diturunkan dari kelas I ke IIa (harus dipertimbangkan), dan enoxaparin ditingkatkan dari kelas IIb (dapat dipertimbangkan) ke IIa (harus dipertimbangkan). Cangrelor (Kengreal), yang tidak disebutkan dalam dokumen 2012, telah direkomendasikan sebagai pilihan pada pasien tertentu.
  • Terapi penurun lipid tambahan dianjurkan pada pasien dengan kolesterol tinggi meskipun mengambil dosis maksimum statin.
  • Cutoff untuk administrasi terapi oksigen telah diturunkan dari kurang dari 95% hingga kurang dari 90% saturasi oksigen arteri.
  • Blok cabang berkas kiri dan kanan sekarang dianggap sama untuk merekomendasikan angiografi urgen ketika pasien mengalami gejala iskemik.

Referensi

  1. Busko M. New ESC Guideline on Acute ST-Segment Elevation MI. Medscape News. WebMD Inc. September 11, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/885509

 

Pedoman Klinis Kardiologi 11: Tromboemboli Vena

European Society of Anesthesiology

  • Risiko untuk tromboemboli vena pasca operasi (VTE) meningkat pada pasien yang lebih tua dari 70 tahun dan pada pasien usia lanjut yang mengalami komorbiditas, seperti gangguan kardiovaskular, keganasan, atau insufisiensi ginjal. Oleh karena itu, stratifikasi risiko, koreksi risiko yang dapat dimodifikasi, dan tromboprofilaksis perioperatif berkelanjutan sangat penting pada populasi pasien ini.
  • Waktu dan dosis farmakoprofilaksis dapat diadopsi dari populasi yang lebih muda.
  • Antikoagulan oral langsung efektif dan ditoleransi dengan baik pada orang tua; statin tidak dapat menggantikan farmakologis thromboprophylaxis.
  • Mobilisasi dini dan penggunaan sarana nonfarmakologis thromboprophylaxis harus dieksploitasi.
  • Pada pasien usia lanjut, sarankan identifikasi komorbiditas yang meningkatkan risiko VTE (misalnya, gagal jantung kongestif, gangguan sirkulasi paru, gagal ginjal, limfoma, kanker metastatik, obesitas, arthritis, terapi estrogen pasca-menopause) dan koreksi jika ada (mis., Anemia , koagulopati).
  • Anjurkan untuk penggantian lutut bilateral pada pasien lanjut usia dan lemah.
  • Sarankan waktu dan dosis farmakologi profilaksis VTE seperti pada populasi yang lebih muda.
  • Pada pasien usia lanjut dengan gagal ginjal, heparin tak terpecah dosis rendah (UFH) dapat digunakan atau dosis yang disesuaikan dengan berat heparin berat molekul rendah.
  • Pada orang lanjut usia, anjurkan secara hati-hati resep profilaksis VTE pasca operasi dan mobilisasi pasca operasi dini.
  • Rekomendasikan intervensi multifaset untuk profilaksis VTE pada pasien lanjut usia dan lemah, termasuk perangkat kompresi pneumatik, heparin berat molekul rendah, dan / atau antikoagulan oral langsung setelah penggantian lutut atau pinggul.

Referensi

  1. Kozek-Langenecker S, Fenger-Eriksen C, Thienpont E, et al. European guidelines on perioperative venous thromboembolism prophylaxis: Surgery in the elderly. Eur J Anaesthesiol 2017 Sep 9. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28901992

 

obat kolesterol

Kolesterol Tinggi: Kapan Saat Tepat Minum Obat?

Kolesterol tinggi atau dalam istilah medis disebut sebagai hiperkolesterolemia merupakan suatu kondisi peningkatan kadar kolesterol total dalam darah. Kondisi ini dilaporkan menjadi salah satu diagnosis yang paling sering ditemukan saat kunjungan pasien ke dokter umum.

Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa 35% populasi dewasa di Amerika Serikat mengalami hiperkolesterolemia. Artikel ini akan memberikan gambaran terkait dengan faktor apa saja yang menyebabkan kolesterol tinggi dan kapan seseorang dengan hiperkolesterolemia harus mengkonsumsi obat penurun kadar kolesterol.

kolesterol tinggi
By BruceBlaus [GFDL or CC BY 3.0],

Faktor Risiko Kolesterol Tinggi

Banyak faktor yang dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Beberapa di antara faktor-faktor tersebut sangat berkaitan dengan gaya hidup kita, yaitu:

  • Kelebihan berat badan dan obesitas
  • Kurangnya aktivitas fisik
  • Merokok
  • Konsumsi alkohol
  • Diet dengan konsumsi sumbur karbohidrat yang tinggi (> 60% dari total kebutuhan energi harian)
  • Sindrom metabolik (kumpulan risiko metabolik seperti hipertensi dan resistensi insulin)

 

Selain faktor-faktor yang terkait dengan gaya hidup, kondisi ini juga dapat terjadi karena faktor sekunder seperti:

  • Penyakit komorbid: diabetes mellitus tipe 2, penyakit ginjal kronik, dan sindrom nefrotik
  • Hipotiroid
  • Beberapa obat seperti: progestin, steroid dan kortikosteroid, dan anti virus golongan inhibitor protease

 

Kapan Seseorang Dinyatakan Memiliki Kolesterol Tinggi?

Berdasarkan pedoman kolesterol darah tinggi pada dewasa dari National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) atau National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III, kadar kolesterol darah dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • < 200 mg/dL (5,2 mmol/L) kadar kolesterol yang diinginkan
  • 200-239 mg/dL (5,2-6,2 mmol/L) kadar kolesterol batas (borderline) tinggi
  • ≥ 240 mg/dL (6,2 mmol/L) kadar kolesterol tinggi
aktivitas fisik
Design vector created by Freepik

Kapan Saat Yang Tepat Mengkonsumsi Obat?

Apabila anda memeriksaka kadar kolesterol lalu kemudian hasilnya menunjukkan lebih dari 240 mg/dl kemudian anda langsung diminta untuk mengkonsumsi obat agar kadar kolesterol dalam darah turun?

Pengobatan kolesterol tinggi sangat terkait dengan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Perubahan gaya hidup merupakan pengobatan yang pertama sekali direkomendasikan. Anda dapat memulai menurunkan kadar kolesterol dalam darah dengan merubah gaya hidup berupa:

  • Merubah diet termasuk mengurangi asupan lemak jenuh (<7%), kolesterol (< 300 mg/hari) dan total lemak (< 30-35% dari kkal kebutuhan energi harian).
  • Meningkatkan aktivitas fisik (contohnya olahraga selama 40 menit sehari dengan intensitas sedang 3-4 hari/seminggu)

 

Pemberian obat penurun kolesterol bergantung pada risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Selain itu, perlu pula dipertimbangkan penyakit lainnya misalnya orang yang memiliki kolesterol darah tinggi dan diabetes atau hipertensi secara bersamaan maka harus mendapatkan obat penurun kolesterol.

Jadi, ketika anda dikatakan memiliki kolesterol darah tinggi, maka tidak harus selalu mengkonsumsi obat penurun kolesterol. Tapi, bila anda mengalami hiperkolesterolemia bersamaan dengan hipertensi atau diabetes maka obat penurun kolesterol merupakan pilihan pengobatan yang tepat untuk anda.

 

Referensi:

  1. National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III). Third Report of the National Cholesterol Education Program (NCEP) Expert Panel on Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Cholesterol in Adults (Adult Treatment Panel III) final report.  2002 Dec 17;106(25):3143-421PDF or at NHLBI 2002 Sep PDF, editorial can be found in Circulation 2002 Dec 17;106(25):3140
  2. Grundy SM, Cleeman JI, Merz CN, et al; National Heart, Lung, and Blood Institute, American College of Cardiology Foundation, American Heart Association. Implications of recent clinical trials for the National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III guidelines.  2004 Jul 13;110(2):227-39full-text, correction can be found in Circulation 2004 Aug 10;110(6):763
  3. National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Lipid modification: cardiovascular risk assessment and the modification of blood lipids for the primary and secondary prevention of cardiovascular disease. NICE 2014 Jul:CG181PDF, summary can be found in BMJ 2014 Jul 17;349:g4356
  4. Stone NJ, Robinson J, Lichtenstein AH, et al. 2013 ACC/AHA Guideline on the Treatment of Blood Cholesterol to Reduce Atherosclerotic Cardiovascular Risk in Adults: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S1-45or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2889 PDF (correction can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):3024), commentary can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jun 3;63(21):2300
  5. Goff DC Jr, Lloyd-Jones DM, Bennett G, et al. 2013 ACC/AHA Guideline on the Assessment of Cardiovascular Risk: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S49-73or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2935 full-text (correction can be found in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):3026), commentary can be found in Mayo Clin Proc 2014 Jun;89(6):722
  6. Eckel RH, Jakicic JM, Ard JD, et al. 2013 AHA/ACC Guideline on Lifestyle Management to Reduce Cardiovascular Risk: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.  2014 Jun 24;129(25 Suppl 2):S76-99or in J Am Coll Cardiol 2014 Jul 1;63(25 Pt B):2960 PDF
  7. European Association for Cardiovascular Prevention & Rehabilitation, Reiner Z, Catapano AL, De Backer G, et al; ESC Committee for Practice Guidelines (CPG) 2008-2010 and 2010-2012 Committees. ESC/EAS Guidelines for the management of dyslipidaemias: the Task Force for the management of dyslipidaemias of the European Society of Cardiology (ESC) and the European Atherosclerosis Society (EAS). Eur Heart J. 2011 Jul;32(14):1769-818

Manajemen Kolesterol Pada Diabetes (MedUpdate)

[av_textblock size=” font_color=” color=”] Tujuan dari manajemen kolesterol pada diabetes adalah untuk mengurangi risiko kardiovaskular

Target kadar kolesterol  pada diabetes:

  1. Kadar kolesterol low-density lipoprotein kolesterol (LDL-C): pada orang dewasa, <100 mg / dL (<2.6 mmol / L), dan <70 mg / dL (<1,8 mmol / L) dengan penyakit kardiovaskular (AACE Grade A, Level 1) (American Diabetes Association [ADA] tidak lagi merekomendasikan tujuan LDL-C tertentu pada orang dewasa); pada anak-anak, <100 mg / dL (<2.6 mmol / L) (ADA kelas E) (American Association of Clinical Endocrinologists [AACE] menganggap <110 mg / dL [<2,9 mmol / L] dapat diterima).
  2. Kadar trigliserida <150 mg / dL (<1,7 mmol / L) (ADA kelas C; AACE Grade A, Level 4)
  3. Kadar kolesterol high-density lipoprotein (HDL-C) > 40 mg / dL (> 1 mmol / L) (ADA merekomendasikan> 50 mg / dL [> 1,3 mmol / L] pada wanita) (ADA kelas C; AACE kelas C, level 4)
  4. AACE juga merekomendasikan kadar apolipoprotein B <90 mg / dL untuk semua pasien dengan diabetes, dan <80 mg / dL jika tambahan faktor risiko kardiovaskular (AACE kelas D, Level 4)
  5. American College of Cardiology / American Heart Association (ACC / AHA) tidak lagi merekomendasikan spesifik LDL-C atau HDL-C non-target untuk pencegahan primer atau sekunder dari penyakit kardiovaskular aterosklerotik.

Update Manajemen Kolesterol pada Diabetes

[/av_textblock] [av_image src=’http://pengejarjasputih.com/wp-content/uploads/2016/12/ebm-300×52.png’ attachment=’436′ attachment_size=’medium’ align=’center’ styling=” hover=” link=” target=” caption=’yes’ font_size=” appearance=’on-hover’ overlay_opacity=’0.4′ overlay_color=’#000000′ overlay_text_color=’#ffffff’ animation=’no-animation’] Manajemen Kolesterol
[/av_image] [av_tab_container position=’sidebar_tab sidebar_tab_left’ boxed=’border_tabs’ initial=’1′] [av_tab title=’Update 1′ icon_select=’no’ icon=’ue800′ font=’entypo-fontello’] Pedoman ESC/EAS untuk manajemen dislipidemia

Atherosclerosis 2016 Oct

[/av_tab] [av_tab title=’Update 2′ icon_select=’no’ icon=’ue800′ font=’entypo-fontello’] Pendapat ADA untuk standar pengobatan diabetes.

ADA 2016 Jan PDF

[/av_tab] [/av_tab_container]