Featured Image Henti Jantung

Henti Jantung: Apa Yang Harus Anda Tahu?

Henti jantung atau cardiac arresst adalah suatu kondisi dimana jantung tiba-tiba berhenti berdetak. Kondisi ini pada umumnya terjadi karena masalah dengan sistem kelistrikan jantung.

Penyakit Jantung Koroner Sebagai Penyebab Henti Jantung
Penyakit Jantung Koroner Sebagai Penyebab Henti Jantung | Sumber: NIH: National Heart, Lung and Blood Institute [Public domain], via Wikimedia Commons
Ketika henti jantung terjadi, pertolongan medis darurat perlu segera disediakan. Jika tidak, orang tersebut dapat dengan cepat meninggal karena darah tidak dipompa ke seluruh tubuh.

 

Henti jantung tidak sama dengan serangan jantung.

 

Ketika seseorang mengalami serangan jantung, aliran darah ke jantung terganggu. Kondisi serangan jantung mungkin karena masalah dengan arteri koroner, seperti penumpukan plak, gumpalan darah, atau penebalan dinding arteri.

 

Anda dapat membaca lebih lengkap tentang serangan jantung pada artikel berikut ini:

Serangan Jantung: Edukasi Pasien

 

Penyebab Henti Jantung

Sumbatan pembuluh darah pada serangan jantung
Sumbatan pembuluh darah pada serangan jantung

Henti jantung dapat disebabkan oleh:

  • Irama jantung yang cepat dan tidak teratur, mencegah terjadinya proses sirkulasi darah (penyebab paling umum henti jantung mendadak) – fibrilasi ventrikel
  • Irama jantung yang cepat tetapi teratur yang jika berkelanjutan dapat berubah menjadi fibrilasi ventrikel— takikardia ventrikel
  • Detak jantung yang lambat secara dramatis karena kegagalan alat pacu jantung atau blok jantung yang parah (gangguan pada konduksi listrik jantung)
  • Henti pernapasan
  • Tersedak atau tenggelam
  • Sengatan listrik
  • Hipotermia
  • Tiba-tiba kehilangan tekanan darah
  • Komplikasi dari gangguan makan
  • Penyebab tidak dikenal

 

Faktor Risiko Henti Jantung

Faktor risiko adalah hal-hal yang menyebabkan seseorang lebih mungkin mengalami suatu kondisi atau penyakit.

 

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung meliputi:

  • Penyakit jantung koroner
  • Serangan jantung
  • Kardiomiopati
  • Jantung membesar (kardiomiopati)
  • Penyakit jantung bawaan
  • Katup jantung yang tidak berfungsi dengan baik
  • Kondisi yang mempengaruhi sistem kelistrikan jantung
  • Ketidakseimbangan metabolisme yang parah
  • Efek samping obat seperti dari obat untuk mengobati irama jantung abnormal
  • Kondisi paru-paru
  • Trauma ke dada
  • Kehilangan darah yang ekstensif (cukup banyak)
  • Mengalami gangguan makan
  • Beban kerja jantung yang berlebihan pada orang dengan gangguan jantung
  • Obat-obatan terlarang seperti penggunaan kokain

 

Gejala

Gejalanya meliputi:

 

  • Hilang kesadaran
  • Tidak bernafas
  • Tidak ada denyut nadi

 

Sebelum henti jantung, beberapa orang melaporkan gejala atau tanda peringatan berikut pada minggu-minggu sebelum kejadian:

  • Mengalami nyeri dada
  • Merasa lemah
  • Memiliki sensasi berdebar di dada
  • Merasa lemas

 

Diagnosis

Orang pertama yang melihat seseorang yang tiba-tiba jatuh atau pingsan dengan kecurigaan henti jantung harus memeriksa apakah orang tersebut responsif (sadar atau merespons terhadap panggilan).

 

Jika orang itu tidak merespons, segera hubungi layanan medis darurat atau minta orang lain yang mencari bantuan/menelepon.

 

Jika ada defibrillator eksternal otomatis (AED) yang tersedia, Anda atau orang lain harus mendapatkannya dan ikuti langkah-langkah pada mesin.

 

Setelah memanggil layanan medis darurat, Resusitasi Jantung Paru (RJP) akan dimulai jika orang tersebut tidak bernapas secara normal.

 

Jika tidak ada AED tersedia atau saat Anda menunggu, mulai lakukan RJP dengan memberikan kompresi dada.

 

Tekan dada (pompa jantung) setidaknya dengan kedalaman dua inci dan kecepatan cepat setidaknya 100 kompresi per menit.

 

Jika Anda terlatih dalam RJP, setelah 30 kali kompresi, buka jalan napas orang tersebut dan berikan dua napas.

 

Kemudian, lanjutkan dengan kompresi dada. Jika Anda merasa lebih nyaman, Anda bisa memberikan pompa jantung luar tanpa napas sampai ambulans tiba.

 

Untuk lebih jelasnya terkait proses RJP Anda dapat melihat video dibawah ini.

 

Tatalaksana Henti Jantung

AED Pada Henti Jantung
AED Pada Henti Jantung | Sumber: Puradigm [CC BY-SA 4.0], via Wikimedia Commons
Perawatan segera meningkatkan peluang untuk bertahan hidup. 4 langkah dalam rantai bantuan hidup jantung adalah:

 

Panggilan untuk Layanan Medis Darurat (Mencari Pertolongan)

Segera hubungi layanan medis darurat, terutama jika Anda melihat tanda-tanda henti jantung (tidak respon, tidak bernapas, tidak ada nadi) atau dugaan serangan jantung.

 

Defibrilasi

Defibrilasi mengirimkan sengatan listrik melalui dada.

 

Sengatan listrik melalui proses defibrilasi bertujuan untuk menghentikan irama jantung yang tidak efektif dan tidak teratur.

 

Tindakan ini memungkinkan jantung untuk melanjutkan pola listrik yang lebih normal.

 

AED memeriksa ritme jantung sebelum menginstruksikan penyelamat untuk memberikan kejutan.

 

Mulai Resusitasi Jantung Paru

Chain of Survival di Luar Rumah Sakit
Rantai Kehidupan pada Henti Jantung | Sumber: https://cpr.heart.org/AHAECC/CPRAndECC/AboutCPRFirstAid/CPRFactsAndStats/UCM_475731_CPR-Chain-of-Survival.jsp

Resusitasi Jantung Paru membantu menjaga darah dan oksigen mengalir ke jantung dan otak sampai perawatan lain dapat diberikan.

 

Jantung dan otak sangat rentan terhadap kadar oksigen yang rendah.

 

Kerusakan permanen dapat terjadi, bahkan dengan resusitasi yang berhasil.

 

Perawatan Medis Lanjut

Tenaga medis darurat di tempat kejadian dan dokter di rumah sakit akan memberikan perawatan medis yang penting dan pemantauan intensif.

 

Mereka akan memberikan obat-obatan, memasukkan tabung untuk mempertahankan jalan napas terbuka, dan mengelola perawatan darurat.

 

Epinefrin sering diberikan sejak dini untuk membuat jantung lebih mudah menerima impuls listrik dan meningkatkan aliran darah ke jantung dan otak.

 

Pasien juga akan diberikan oksigen.

 

Hipotermia terapeutik adalah jenis perawatan lain yang dapat digunakan di rumah sakit.

 

Tindakan ini melibatkan penurunan suhu tubuh seseorang menjadi 89 ° -93 ° F (32 ° -34 ° C) dengan menggunakan selimut dingin, kompres es, dan infus saline dingin.

 

Pendinginan tubuh ini dilakukan dalam upaya membantu fungsi dan pemulihan otak.

 

Tubuh orang tersebut dapat tetap pada suhu ini untuk waktu yang lama (12-24 jam).

 

Bahkan dalam kasus di mana irama jantung yang efektif telah dipulihkan, kadar oksigen yang rendah dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung, otak, dan organ vital lainnya.

 

Pencegahan Henti Jantung

Anda mungkin dapat menurunkan risiko serangan jantung dengan:

  • Pelajari tanda-tanda peringatan penyakit jantung dan dapatkan bantuan segera jika Anda mengalaminya
  • Bicarakan dengan dokter Anda tentang cara untuk menjadi lebih sehat jika Anda sudah didiagnosis menderita penyakit jantung — Sebagai contoh, dokter Anda mungkin menyarankan Anda minum obat untuk mencegah aritmia.
  • Tanyakan kepada dokter Anda apakah Anda harus memiliki AED di rumah Anda jika Anda berisiko tinggi terkena henti jantung

 

Bila Anda memiliki pertanyaan terkait dengan henti jantung silakan tuliskan pada kolom komentar.

Referensi
  1. About cardiac arrest. American Heart Association website. Available at: http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/More/CardiacArrest/About-Cardiac-Arrest_UCM_307905_Article.jsp#.WblD5rKGNQI.
  2. Cardiac arrest in adults. EBSCO DynaMed Plus website. Available at:http://www.dynamed.com/topics/dmp~AN~T116814/Cardiac-arrest-in-adults.
  3. Explore sudden cardiac arrest. National Heart Lung and Blood Institute website. Available at: https://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/scda.
  4. Sudden cardiac arrest. Heart Rhythm Society website. Available at: http://www.hrsonline.org/Patient-Resources/Heart-Diseases-Disorders/Sudden-Cardiac-Arrest-SCA#axzz2IzsoUyQ9
Featured Image Serangan Jantung

Serangan Jantung Koroner: Edukasi Pasien

Serangan jantung koroner disebabkan penyumbatan aliran darah ke area jantung (sumbatan arteri koroner). Jaringan jantung menjadi rusak atau mati dalam waktu singkat setelah aliran darah berhenti. Jika area jantung yang terpengaruh besar atau terjadi pada daerah vital jantung, kerusakan dapat menghentikan detak jantung.

 

Penyebab Serangan Jantung Koroner

 

Sumbatan pembuluh darah pada serangan jantung
Sumbatan pembuluh darah pada serangan jantung

Arteri koroner (pembuluh darah jantung) membawa darah dan oksigen ke otot jantung.

 

Serangan jantung koroner terjadi ketika satu atau lebih dari arteri ini tersumbat. Penyumbatan dapat terjadi karena satu atau lebih hal berikut ini:

  • Penyempitan arteri koroner karena:
    • Penebalan dinding arteri (proses penuaan umum)
    • Timbunan plak lemak di dalam arteri
    • spasme arteri koroner
    • Perkembangan gumpalan/bekuan darah di arteri
  • Embolisme — gumpalan darah yang mengalir ke jantung dari area/lokasi lain tubuh

 

Jantung kita memiliki dua arteri koroner utama.

 

Mereka berpisah menjadi cabang-cabang kecil yang tersebar di jantung.

 

Tingkat keparahan serangan jantung koroner akan tergantung pada di mana penyumbatan terjadi:

  • Penyumbatan di arteri yang lebih besar — memengaruhi area jantung yang lebih luas
  • Penyumbatan di pembuluh yang lebih kecil — memengaruhi area jantung yang lebih kecil

 

Penyumbatan mungkin hanya berlangsung dalam waktu singkat dan kemudian memungkinkan aliran darah kembali lancar.

 

Namun, tidak menutup kemungkinan, sumbatan terjadi lebih lama, dan menyebabkan lebih banyak kerusakan.

 

Faktor Risiko Serangan Jantung Koroner

Ilustrasi Pemeriksaan Jantung
Ilustrasi Pemeriksaan Jantung (Sumber: pexels.com)

Faktor risiko merupakan hal-hal yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami suatu penyakit.

 

Risiko serangan jantung lebih besar pada pria dan orang dewasa.

 

Anda memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung jika Anda tidak memiliki pembuluh darah yang sehat.

 

Pembuluh darah yang tidak sehat mungkin disebabkan oleh:

  • Kegemukan
  • Merokok
  • Tekanan darah tinggi
  • Tidak melakukan aktivitas harian yang cukup
  • Kolesterol darah tinggi — khususnya, kolesterol LDL tinggi, dan kolesterol HDL rendah
  • Trigliserida darah tinggi
  • Diabetes
  • Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen
  • Stres
  • Anggota keluarga dengan riwayat penyakit jantung
  • Menggunakan terapi testosteron

 

Gejala dan Tanda

Pemeriksaan Tekanan Darah Pada Serangan Jantung
Ilustrasi Pemeriksaan Tekanan Darah Pada Serangan Jantung (Sumber: Pexels.com)

Gejala dapat berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Gejala yang paling umum adalah:

  • Dada seperti tertimpa beban berat, nyeri dada yang berat di belakang tulang dada, yang biasanya datang dengan cepat terutama ketika atau setelah:
    • berolahraga atau aktivitas
    • Stres emosional
    • Cuaca dingin
    • Makan besar
  • Nyeri menjalar ke bahu kiri, lengan kiri, atau rahang
  • Sesak napas
  • Kulit berkeringat dan lembap
  • Mual
  • Merasa lemah
  • Hilang kesadaran
  • Kegelisahan, terutama perasaan takut atau panik tanpa alasan yang jelas

 

Gejala serangan jantung yang tidak biasa dan lebih sering terjadi atau ditemukan pada wanita yang mengalami kondisi ini antara lain:

  • Sakit perut
  • Nyeri punggung dan bahu
  • Kebingungan
  • Pingsan

 

Segera cari bantuan medis atau segera datang ke unit gawat darurat jika Anda merasa mengalami serangan jantung. Perawatan dini dapat menghentikan kerusakan lebih lanjut.

 

Diagnosis

Elektrokardiografi Serangan Jantung koroner
Elektrokardiografi Serangan Jantung (Sumber: pexels.com)

Jika dokter mencurigai adanya serangan jantung, kondisi ini dapat dikonfirmasikan dengan:

 

  • EKG (elektrokardiografi) — menunjukkan aktivitas listrik jantung. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan apakah serangan jantung telah terjadi atau mungkin terjadi. EKG juga dapat membantu menentukan apakah serangan jantung adalah:
    • STEMI — Arteri koroner utama tersumbat sepenuhnya. Kondisi ini adalah jenis serangan jantung yang lebih serius
    • NSTEMI — kondisi ini menunjukkan sumbatan parsial (sebagian) dari arteri. Sumbatan juga memungkinkan adanya periode aliran darah pada arteri koroner
  • Tes darah — dapat menunjukkan tanda dalam darah. Penanda ini muncul saat serangan jantung dan dapat menunjukkan seberapa banyak kerusakan yang dilakukan (misalnya Troponin atau CKMB).
  • Echocardiogram — membuat gambar dari ukuran, bentuk, fungsi, dan gerakan jantung dengan menggunakan prinsip ultrasonografi.
  • Angiografi koroner — dilakukan untuk melihat arteri koroner melalui pencitraan sinar X dan selang (kateter) kecil yang dimasukkan melalui pembuluh darah. Dapat membantu menemukan penyumbatan atau kerusakan pada arteri.

 

Tes lain akan didasarkan pada kebutuhan spesifik Anda tetapi dapat meliputi:

  • Tes stres —Merekam aktivitas listrik jantung di bawah tekanan fisik. Dapat dilakukan beberapa hari atau berminggu-minggu setelah serangan jantung.
  • Electron-beam computed tomography (EBCT) – Mengambil gambar jantung, arteri koroner, dan area sekitarnya.

 

Tatalaksana Serangan Jantung Koroner

Tujuan pertama pengobatan adalah untuk meningkatkan aliran darah dan mendapatkan oksigen ke jantung Anda secepat mungkin.

 

Pengobatan termasuk:

  • Aspirin dan agen antiplatelet lainnya — untuk mengurangi pembekuan dalam darah dan meningkatkan aliran darah.
  • Terapi oksigen — untuk meningkatkan jumlah oksigen dalam darah. Obat ini akan meningkatkan oksigen untuk jantung.
  • Obat nitrat — untuk membantu pembuluh darah terbuka atau melebar. Pelebaran pembuluh darah (arteri) dapat meningkatkan aliran darah.
  • Pengencer darah – untuk mengencerkan darah dan membantu melarutkan bekuan darah. Termasuk aspirin, obat-obatan seperti aspirin, dan antikoagulan.
  • Obat penghilang rasa sakit
  • Obat penghambat beta dan/atau angiotensin-converting enzyme (ACE) —untuk mengurangi beban kerja pada jantung.
  • Obat anti-kecemasan
  • Obat penurun kolesterol seperti obat statin yang dapat mengurangi kemungkinan serangan jantung atau stroke.

 

Menghilangkan Sumbatan

Bantuan Hidup Pada Henti Jantung
Bantuan Hidup Pada Henti Jantung (Sumber: pexels.com)

Obat dapat diberikan untuk mencoba memecah gumpalan darah.

 

Semakin cepat obat-obatan ini diberikan, semakin baik hasilnya.

 

Obat ini bekerja paling baik ketika diberikan dalam 6 jam pertama setelah gejala muncul.

 

Pembedahan mungkin diperlukan untuk:

  • Gumpalan yang tidak merespons obat
  • Penyumbatan yang disebabkan oleh penumpukan plak

 

Penyumbatan parah mungkin perlu segera diobati.

 

Pembedahan mungkin ditunda selama beberapa hari jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya aliran darah yang cukup ke jantung.

Opsi tindakan bedah meliputi:

  • Balloon angioplasty — Sebuah kawat dimasukkan melalui pembuluh darah ke jantung. Balon digunakan untuk membuka arteri yang tersumbat. Stent (ring koroner) juga dapat ditempatkan pada lokasi pembuluh darah yang tersumbat. Tindakan ini akan membantu menjaga area terbuka.
  • Cangkok bypass arteri koroner (CABG) — Pembedahan terbuka. Bagian dari pembuluh darah yang berasal dari area tubuh akan diambil. Tindakan ini digunakan untuk membuat jalur di sekitar area yang tersumbat di jantung.

 

Pemulihan

Rehabilitasi jantung dapat membantu setelah serangan jantung. Tindakan pemulihan ini termasuk:

  • Pemantauan selama aktivitas fisik dalam beberapa minggu pertama pemulihan
  • Pendidikan atau edukasi tentang nutrisi sehat dan perubahan gaya hidup

 

Serangan jantung bisa menjadi peristiwa besar dalam kehidupan.

 

Orang yang pernah mengalami serangan jantung rentan mengalami depresi.

 

Psikoterapi dan obat-obatan dapat membantu mengatasi tantangan ini.

 

Pencegahan

Banyak kebiasaan gaya hidup mempengaruhi kesehatan pembuluh darah dan jantung. Kebiasaan jantung yang sehat meliputi:

 

Mempertahankan berat badan yang sehat.

Memulai program latihan yang aman. Ikuti saran dokter Anda:

  • Jangan merokok. Jika Anda merokok, bicarakan dengan dokter Anda tentang cara untuk berhenti.
  • Makanlah makanan yang menyehatkan. Bertujuan untuk orang yang kaya akan biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran. Cari lemak sehat seperti yang ditemukan pada ikan, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
  • Kelola kondisi jangka panjang yang dapat memengaruhi jantung. Ini termasuk tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi.
  • Gunakan teknik relaksasi untuk mengelola stres.

 

Dosis aspirin harian yang kecil dapat membantu beberapa orang mengurangi risiko serangan jantung.

 

Obat ini hanya boleh dilakukan dengan persetujuan dokter Anda.

 

Aspirin dapat memiliki efek samping seperti pendarahan di lambung.

 

Aspirin juga dapat menyebabkan masalah bila dikonsumsi bersamaan dengan obat lain.

 

Referensi

  1. Antithrombotic Trialists’ (ATT) Collaboration, Baigent C, Blackwell L, et al. Aspirin in the primary and secondary prevention of vascular disease: collaborative meta-analysis of individual participant data from randomised trials. Lancet. 2009;373:1849-1860.
  2. Explore heart attack. National Heart Lung and Blood Institute website. Available at: https://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/heartattack.
  3. ST-elevation myocardial infarction (STEMI). EBSCO DynaMed Plus website. Available at: http://www.dynamed.com/topics/dmp~AN~T115392/ST-elevation-myocardial-infarction-STEMI
Featured Image Serangan Jantung

Serangan Jantung Lebih Fatal Pada Wanita

Angka kematian karena penyakit jantung koroner telah menurun drastis. Kondisi ini tercapai karena kemajuan dalam pengobatan medis dan strategi pencegahan selama 40 tahun terakhir. Namun, sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa kejadian serangan jantung (infark miokard akut) meningkat pada wanita dengan usia yang lebih muda.

 

Serangan Jantung
Ilustrasi Serangan Jantung Sumber: pixabay.com

 

Pendahuluan

Angka kejadian serangan jantung secara keseluruhan tetap lebih tinggi pada pria, tapi kematian karena kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita.

 

Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab kematian global untuk pria dan wanita.

Akan tetapi, wanita lebih mungkin meninggal karena serangan jantung dibandingkan dengan pria.

 

Hal ini terjadi berdasarkan fakta bahwa wanita yang mengalami serangan jantung sering kali mengalami gejala yang tidak khas.

 

Wanita mungkin mengalami perasaan sakit yang tidak menyenangkan, yang lebih mudah untuk diabaikan daripada nyeri dada yang intens yang terkait dengan serangan jantung.

 

Akibatnya, tanda-tanda awal biasanya terlewatkan pada wanita, sehingga pengobatan tertunda, dan jantung mengalami lebih banyak kerusakan.

 

Perbedaan fisiologis juga telah diamati antara pria dan wanita yang mengalami serangan jantung.

 

Serangan jantung paling umum adalah konsekuensi dari iskemia jantung (berkurangnya pasokan oksigen) akibat penyumbatan arteri koroner.

 

Namun, pada lebih dari setengah wanita dengan penyakit jantung iskemik, penyumbatan ditemukan di pembuluh darah yang lebih kecil di dalam jantung.

 

Penyumbatan ini tidak muncul pada angiogram (pemeriksaan radiologis untuk menilai pembuluh darah koroner), yang biasanya digunakan untuk mendiagnosis iskemia jantung.

 

Kejadian Serangan Jantung Meningkat Pada Wanita Muda

Bahaya Serangan Jantung
Tekanan Darah Tinggi Sumber: pixabay.com

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah temuan bahwa insiden serangan jantung pada wanita berusia kurang dari 55 tahun meningkat.

 

Kejadian kondisi ini di antara wanita yang lebih muda lebih tinggi daripada 20 tahun yang lalu, namun angka ini telah meningkat pada pria yang lebih muda pada waktu yang sama.

 

Studi surveilans Atherosclerosis Risk in Communities (ARIC) meninjau hampir 29.000 pasien rawat inap dengan penyakit infark miokard akut di empat komunitas Amerika Serikat antara 1995 dan 2014. Secara keseluruhan, sekitar sepertiga di antaranya adalah pasien muda berusia 35 hingga 54 tahun.

 

Angka rawatan karena penyakit infark miokard akut untuk pasien muda terus meningkat dari 27% pada tahun 1995 menjadi 1999 menjadi 32% dari 2010 hingga 2014, dengan peningkatan terbesar diamati pada wanita muda.

 

Seperlima dari angka rawatan antara 1995 dan 1999 adalah wanita berusia 35-54 tahun.

 

Jumlah ini meningkat hampir sepertiga antara 2010 dan 2014.

 

Penurunan jumlah infark miokard akut terlihat di antara pria berusia 35-54 tahun pada periode yang sama.

 

Insidensi komorbiditas (penyakit yang dapat memperburuk kondisi infark miokard) yang lebih tinggi pada wanita daripada pria, seperti hipertensi (73 vs 59%) dan diabetes mellitus (35 vs 25%) mungkin berkontribusi pada perbedaan dalam insiden serangan jantung.

 

Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa wanita yang dirawat di rumah sakit karena infark miokard akut adalah 21% lebih kecil kemungkinannya daripada pria untuk menerima terapi untuk membuka arteri yang tersumbat dan hingga 17% lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan resep pengobatan pencegahan, seperti antikoagulan, seperti yang direkomendasikan dalam pedoman pengobatan .

 

Kesimpulan

Meningkatnya insiden wanita muda yang dirawat di rumah sakit dengan infark miokard akut, bersama dengan tingkat kematian yang lebih tinggi pada wanita menyoroti kebutuhan untuk menargetkan pencegahan primer dan meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah pada wanita untuk mencegah tren buruk ini terus berlanjut.

 

Misalnya, wanita harus didorong untuk memastikan bahwa mereka harus melakukan setidaknya 150 menit olahraga setiap minggu untuk mengurangi risiko obesitas dan tekanan darah tinggi.

 

Selain itu, kesadaran yang lebih besar tentang perbedaan gender dalam etiologi serangan jantung diperlukan untuk memastikan bahwa wanita yang menderita iskemia jantung menerima pengobatan terbaik.

 

penyakit kardiovaskular

Elektrokardiografi: Pendekatan Dasar & Analisis Klinis

Elektrokardiogram (EKG) adalah grafik yang dibuat oleh sebuah elektrokardiografi, yang merekam aktivitas kelistrikan jantung dalam waktu tertentu. Namanya terdiri atas sejumlah bagian yang berbeda: elektro, karena berkaitan dengan elektronika, kardio, kata Yunani untuk jantunggram, sebuah akar Yunani yang berarti “menulis”. Analisis sejumlah gelombang dan vektor normal depolarisasi dan repolarisasi menghasilkan informasi diagnostik yang penting.

 

Dasar-Dasar Elektrokardiografi

Elektrokardiografi merupakan suatu metode diagnostik terutama pada bidang penyakit kardiovaskular. EKG akan memberikan representasi (waktu dengan amplitudo proyeksi vektor elektris jantung) aktivitas elektrik jantung.

Grafik EKG terdiri dari 2 sumbu, yaitu sumbu horizontal dan sumbu vertikal yang disebut juga sebagai Axis.

  • sumbu horizontal mempresentasikan waktu (pada kecepatan kertas 25mm/s), dimana:
    • 1 mm ( 1 kotak kecil) = 40 ms
    • 5 mm (1 kotak besar) = 200 ms
  • sumbu vertikal mempresentasikan voltase (setelan standar 10 mm/mV), dimana:
    • 1 mm (1 kotak kecil) = 0,1 mV
    • 10 mm (2 kotak besar) = 1 mV

ekg standar

Pada EKG terdapat sadapan (lead) yang berperan untuk menerima aktivitas listrik dari jantung. Sadapan pada elektrokardiografi standar berjumlah 12 dan dibagi menjadi dua jenis sadapan berupa:

  • sadapan ekstremitas: I, II, III, aVL, aVR, dan AVF
  • sadapan prekordial: V1-V6 (V1-V2 septal, V3-V4 anterior, V5-V6 lateral)

Selain itu, terdapat pula sadapan tambahan pada elektrokardiografi yang diperlukan apabila terdapat kecurigaan gangguan pada jantung kanan, yaitu:

  • V3R-V6R atau V7-V9 dengan lokasi pemasangan sama seperti sadapan V3-V6 tapi pada sisi dada sebelah kanan (bergunan untuk infark ventrikel kanan dan pada pasien dengan dekstrokardia atau situs inversus)

elektrokardiografi

Indikasi dan Kontraindikasi Pemeriksaan Elektrokardiografi

Pemeriksaan EKG diindikasikan untuk:

  • mendeteksi adanya suatu cedera otot jantung (miokard), dan suatu infark miokard
  • pada pasien palpitasi, sinkop, monitoring obat anti aritmia
  • deteksi aritmia pada pasien dengan risiko irama jantung yang abnormal

Kontraindikasi pemeriksaan EKG

  • tidak ada kontraindikasi absolut pemeriksaan EKG kecuali pasien menolak untuk dilakukan pemeriksaan atau pasien alergi dengan elektroda dari latex.

 

Pendekatan Klinis Elektrokardiografi.

Untuk menentukan apakah suatu hasil elektrokardiogram normal atau terdapat kelainan maka diperlukan beberapa penilaian terhadap hasil EKG. Penilaian tersebut antara lain:

  • Irama

    • irama pada EKG dikelompokkan menjadi reguler dan irreguler atau sinus dan asinus/aritmia
    • irama disebut reguler apabila interval atau jarak dari gelombang R ke gelombang R berikutnya (R’) adalah sama sepanjang perekaman EKG
    • irama irreguler apabila terdapat variasi jarak antara R-R’ bervariasi
    • irama sinus normal (NSR) adalah:
      • setiap gelombang P diikuti oleh kompleks QRS
      • axis gelombang P normal (positif pada 2 dari 3 sadapan I, II, aVF)
      • frekuensi antara 60-100 kali per menit

 

  • Frekuensi/Rate

    • frekuensi jantung yang normal adalah 60-100 kali per menit. Pada beberapa kondisi akan ditemukan frekuensi yang kurang dari 60 (bradikardia) atau lebih dari 100 (takikardia)
      • takikardia (frekuensi atrial)
        • takikardia paroksismal: 150-250 kali per menit
        • atrial flutter: 250-350 kali per menit
        • atrial fibrilasi > 350 kali per menit
      • bradikardia 
        • atrial escape rhythm= 60-80 kali per menit
        • junctional escape rhythm= 40-60 kali per menit
        • ventrikular escape rhythm = 20-40 kali per menit
    • Menghitung rate/frekuensi pada elektrokardiografi
      • reguler
        • untuk menghitung rate, bagi 300 dengan jumlah kotak besar antara R-R’ atau 1500 dengan jumlah kotak kecil antara R-R’
      • ireguler
        • pada EKG dengan irama ireguler maka hitung rate dengan menghitung jumlah gelombang R yang muncul selama 10 detik lalu dikalikan dengan 6

pendekatan bradikardi

pendekatan takikardi

  • Axis

    • axis merupakan istilah yang digunakan untuk menilai arah vektor listrik jantung
    • axis dapat ditentukan dengan menggunakan berbagai gelombang (P, QRS, dan T)
    • pada EKG standar axis biasanya merujuk kepada nilai R-S pada lead I dan aVF
    • Penilaian axis:
      • Axis normal: -30 sampai 90°
      • Left axis deviation (LAD) < – 30° 
      • Right axis deviation (RAD) < 90°

aksis ekg

 

  • Gangguan Konduksi
    • Beberapa karekteristik gangguan konduksi dapat dilihat pada tabel berikut:

[table id=1 /]

Penyakit Kardiovaskular: Diagnosa Banding

Penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di seluruh dunia. Pada tahun 2015, penyakit kardiovaskular merupakan peringkat pertama penyebab kematian. Lebih dari 17 juta orang meninggal dunia pada tahun 2015 karena penyakit ini. Tujuh koma empat juta karena penyakit jantung koroner dan 6,7 juta karena stroke. Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan gambaran diagnosa banding untuk gejala umum pada sistem kardiovaskular.

Catatan:

  • Teks yang tebal merupakan diagnosis yang umum (paling sering)
  • Teks yang digarisbawahi merupakan kondisi yang mengancam jiwa

penyakit kardiovaskular

Gejala Penyakit Kardiovaskular (Nyeri Dada)

  • Kardiak
    • infark miokard/angina, miokarditis, perikarditis/sindrome Dressler’s
  • Pulmoner
    • Emboli paru, pneumotoraks/hemotoraks, tension pnuemotoraks, pneumonia, empiema, neoplasma paru, bronkiektasis, Tuberkulosis paru
  • Gastrointestinal
    • Esofagus: GERD, ruptur esofagus, spasme esofagus, esofagitis, ulserasi, aklasia, neoplasma, sindrom Mallory-Weiss 
    • Struktur lainnya: penyakit ulkus peptikum, gastritis, pankreatitis, kolik bilier
  • Mediastinum
    • limfoma, timoma
  • Vaskular
    • diseksi aneurisma aorta, ruptur aorta
  • Fraktur costae
  • Psikosomatis

 

Gejala Penyakit Kardiovaskular (Penurunan Kesadaran)

  • hipovolemia
  • vasovagal
  • kardiak
    • penyebab struktural atau obstruktif
      • sindrom koroner akut, stenosis aorta, tamponade jantung, kardiomiopati hipertrofi, perikarditis konstriktif
      • aritmia
  • pernapasan
    • emboli paru masif, hipertensi pulmonal, hipoksia, hiperkapnia
  • neurologis
    • stroke/transient ischemic attack, migrain, kejang
  • metabolik
    • anemia, hipoglkemia
  • obat-obatan
    • anti hipertensi, anti aritmia, diuretik
  • disfungsi autonom
    • neuropati diabetik
  • psikiatri
    • serangan panik

 

Gejala Penyakit Kardiovaskular (Edema Lokal)

  • inflamasi atau infeksi
  • obstruksi vena atau limpatik
    • tromboflebitis/trombus vena dalam, insufisiensi vena, limfangitis kronik, infiltarasi tumor limfatik, filariasis

 

 

Gejala Penyakit Kardiovaskular (Edema Generalisata)

  • peningkatan tekanan hidrostatik/overload cairan
    • gagal jantung, kehamilan, obat (penyekat kanal kalsium/CCB), iatrogenik (cairan intravena)
  • penurnan tekanan onkotik/hipoalbuminemia
    • sirosis liver, sindrom nefrotik, malnutrisi
  • peningkatan permeabilitas kapiler
    • sepsis
  • hormonal
    • hipotiroid, steroid eksogenus, kehamilan, estrogen

 

Gejala Penyakit Kardiovaskular (Palpitasi)

  • kardiak
    • aritmia (PAC, PVC, SVT, VT), penyakit katup jantung, kardiomiopati hipertrofik
  • endokrin
    • tirotoksikosis, feokromositoma, hipoglikemia
  • sistemik
    • anemia, demam
  • obat-obatan
    • stimultan dan anti kolinergik
  • psikiatri
    • serangan panik

 

Gejala Penyakit Kardiovaskular (Dispneu)

  • kardiovaskular
    • infark miokard akut, gagal jantung kongestif/gagal ventrikel kanan, stenosis aorta/mitral, regurgitasi aorta/mitral, aritmia, tamponade jantung, perikarditis konstriktif, lesi obstruksi pada sisi kiri (miksoma atrial kiri), peningkatan tekanan vena pulmonaris
  • respirasi
    • penyakit jalan napas
      • asma, PPOK eksaserbasi, obstruksi jalan napas atas (anafilaksis, benda asing, sumbatan mukus)
    • penyakit parenkim paru
      • distress pernapasan akut, pneumonia, penyakit paru interstitial
    • penyakit vaskular pulmoner
      • emboli paru, hipertensi pulmoner, vakulitis pulmonaris
    • penyakit pleura
      • pneumotoraks, efusi pluera
  • gangguan neuromuskular dan dinding dada
    • cedera vertebrae cervicalis
      • polimiositis, myastenia gravis, sindrom Guillain-Barre, kifoskoliosis
  • psikosomatik
  • hematologis/metabolik
    • anemia, asidosis, dan hiperkapnia

Jantung adalah Panglima:”Bukti Ilmiah Jantung Mempengaruhi Kerja Otak Kita” (Bagian 2)

Hubungan Otak & Jantung

NERVUS SYSTEM

Secara fisiologis irama jantung sangat terkait dengan peranan dari sistem saraf manusia yaitu sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Berarti ada beberapa bagian kerja dari jantung yang secara langsung dipengaruhi oleh kerja sistem saraf kita. Jika kita berbicara tentang otak atau sistem saraf maka sebagian besar akan sepakat jika kesadaran kita saat ini diatur oleh otak kita melalui sebuah sistem yang disebut sebagai Ascending reticular activating system (ARAS). Penelitian terbaru membuktikan bahwa kesadaran muncul dari dalam tubuh dan juga otak kita yang bekerja secara bersama-sama. Diikuti dengan semakin banyaknya bukti ilmiah bahwa jantung memainkan banyak perannya dalam proses ini.

Jauh lebih banyak dari fungsinya yang sederhana sebagai sebuah pompa, maka jantung saat ini diyakini oleh para ilmuwan sebagai sebuah organ yang sangat kompleks. Jantung bahkan diyakini memiliki “otak” fungsionalnya sendiri. Penelitian yang dilakukan dalam disiplin ilmu baru pada neurokardiologi menunjukkan bahwa jantung adalah salah satu organ sensorik dan pusat canggih dalam menerima dan mengolah informasi. Sistem saraf pada jantung (“Otak Jantung”) memungkinkan jantung untuk belajar, mengingat, dan mempengaruhi bagian korteks pada otak untuk membuat keputusan fungsional independen. Selain itu, percobaan lainnya juga membuktikan bahwa jantung secara terus menerus selain mendapatkan sinyal dari sistem saraf maka jantung juga mengirimkan sinyal ke otak. Sinyal yang dikirimkan oleh jantung tersebut akan mempengaruhi fungsi otak yang lebih tinggi terkait dengan persepsi, kognisi dan pengaturan emosianal seseorang.

galaksi2

Selain komunikasi melalui serabut saraf yang menghubungkan antara jantung, otak dan baigan tubuh lainnya jantung juga mengkomunikasikan informasi ke otak dan bagian tubuh yang lain melalui interaksi medan elektromagnetik. Jantung menghasilkan medan elektromagnetik berirama yang paling kuat dan paling luas bila dibandingkan dengan medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh otak, komponen medan listrik jantung memiliki amplitudo 60 kali lebih besar, dan dapat menembus setiap sel dalam tubuh. Komponen medan magnetik jantung 5000 kali lebih kuat dari medan magnetik otak dan dapat dideteksi beberapa meter jauhnya dari tubuh dengan magnetometer sensitif.

Penelitian yang dilakukan oleh McCraty, Bradley dan Tomasino dari Institut Heartmath menunjukkan bahwa jantung menghasilkan serangkaian pulsasi elektromagnetik secara terus-menurus dimana interval waktu antara setiap denyut bervariasi secara dinamis dan kompleks. Sehingga, jantung selalu memberikan pengaruh kuat pada proses yang terjadi pada seluruh tubuh. Penelitian mereka menunjukkan, bahwa ritme otak secara alami menyinkronkan aktivitas ritmik jantung. Perasaan cinta atau penghargaan, tekanan darah dan irama pernafasan, dan sistem osilasi lainnya, juga disinkronisasikan dengan ritme jantung. Sehingga mereka menarik kesimpulan bahwa medan elektromagnetik jantung bertindak sebagai gelombang pembawa informasi yang menyebabkan sinkronisasi global untuk seluruh tubuh.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa emosis positif yang berkelanjutan akan menimbulkan bentuk yang berbeda fungsi terhadap gelombang jantung. Dimana ketika perasaan seseorang sedang baik maka gelombang elektromagnetik jantung akan lebih terorganisir dan sejalan serta selalu membentuk irama sinus. Begitu pula sebaliknya ketika gelombang elektromagnetik jantung kacau maka perasaan seseorang akan menjadi tidak bahagia. Keadaan ini disebut sebagai Psikofisiologikal Koheren.

Percobaan yang dilakukan di Institute of HeartMath telah menemukan bukti yang luar biasa bahwa medan elektromagnetik jantung dapat mengirimkan kepada orang lain.

“Kami telah mampu mengukur pertukaran energi jantung antara individu hingga 5 meter. Kami juga telah menemukan bahwa gelombang otak seseorang sebenarnya dapat melakukan sinkronisasi ke jantung orang lain. Selanjutnya, ketika seorang individu menghasilkan irama jantung yang koheren, sinkronisasi antara gelombang otak orang itu dan detak jantung orang lain lebih mungkin terjadi.”

Temuan ini memiliki implikasi menarik, menunjukkan bahwa individu-individu dalam keadaan psikofisiologikal koheren menjadi lebih sadar akan informasi yang dikodekan dalam medan magnetik jantung orang di sekitar mereka. Para peneliti juga menyimpulkan bahwa sistem saraf bertindak sebagai “antena,” yang disetel untuk merespon dan medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh jantung orang lain.

Wallahu A’lam Bishawaf….

 

Sumber.

  1. Al-Najjar AR. Buku Pintar Sains dalam Hadis: Mengerti Mukjizat Ilmiah Sabda Rasulullah. Jakarta: Zaman; 2013. h. 407-413.
  2. Thayyarah N. Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an: Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah. Jakarta: Zaman; 2013. h. 307-308.
  3. Loukas M, Saad Y, Tubbs RS, Shoja MM. The Heart and Cardiovascular System in The Qur’an and Hadeeth. Int Jour of Cardiol 2010;140. p. 19-23.
  4. McCraty R, Bradley RT, Tomasino D. Science of The Heart. Exploring the Role of the Heart in Human Performance: An Overview of Research Conducted by the Institute of HeartMath. HeartMath Research Center, Institute of HeartMath, Publication; 2012.