pengukuran tekanan darah ibu hamil

Langkah & Rekomendasi Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil

Hipertensi merupakan salah satu sindrom yang umum terjadi selama kehamilan. Kondisi hipertensi ini baik hipertensi gestasional dan preeklamsia terjadi pada 7-15% kehamilan diseluruh dunia. Untuk itu diperlukan langkah-langkah pencegahan hipertensi pada ibu hamil.

Artikel ini memuat tentang jenis hipertensi pada kehamilan, faktor risikonya dan beberapa rekomendasi seputar pencegahan hipertensi pada ibu hamil.

Jenis-Jenis Hipertensi Pada Ibu Hamil

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik ≥140 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung serta gagal jantung. Begitu pula dengan risiko stroke dan gangguan ginjal. Terdapat beberapa bentuk hipertensi pada ibu hamil yaitu:

  • Hipertensi gestasional: Gangguan hipertensi baru yang terjadi pada usia kehamilan >20 minggu
  • Preeklamsia: hipertensi gestasional dengan proteinuria (ekskresi ≥300 mg protein setiap 24 jam) dan atau dengan penyakit organ akhir lainnya yang berhubungan dengan hipertensi
  • Hipertensi kronik: hipertensi yang terjadi pada masa awal kehamilan (sebelum usia kehamilan 20 minggu)
  • Hipertensi kronik dengan preeklamsia superimposed: hipertensi kronik disertai dengan kemunculan tanda preeklamsia pada masa kehamilan
pecegahan hipertensi pada ibu hamil
People image created by Iaros – Freepik.com

Faktor Risiko Hipertensi Pada Ibu Hamil

Faktor risiko tertentu untuk mengembangkan hipertensi tidak dapat diubah, seperti usia atau ras. Sebagai contoh, wanita yang lebih tua dari 40 atau lebih muda dari 20 memiliki risiko lebih tinggi terkena hipertensi selama kehamilan; hal yang sama berlaku untuk wanita ras Afrika-Amerika.

Faktor risiko lain termasuk kelebihan berat badan, tidak berolahraga, makan dengan buruk, membawa banyak anak, berurusan dengan penyakit kronis seperti diabetes atau lupus, memiliki tekanan darah tinggi sebelum kehamilan, dan pernah mengalami preeklamsia atau hipertensi selama kehamilan sebelumnya.

faktor risiko hipertensi pada ibu hamil
Heart image created by Ijeab – Freepik.com

Langkah-Langkah Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil

Pencegahan hipertensi pada ibu hamil harus dilakukan karena kondisi peningkatan tekanan darah ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi selama kehamilan. Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah baik bagi ibu hamil ataupun janin dalam kandungan.

Komplikasi yang paling berbahaya adalah eklamsia. Suatu kondisi kejang umum yang mengancam jiwa. Kondisi ini di awali oleh preeklamsia berat. Komplikasi lainnya termasuk gagal jantung, penyakit jantung iskemik, stroke, edema paru, sindrom distress pernapasan akut, gangguan ginjal, liver, dan gangguan pembekuan darah.

Sedangkan komplikasi untuk janin antara lain:

  • Pertumbuhan janin terhambat
  • Abrutio plasenta
  • Cairan ketuban sedikit
  • Kematian janin

Untuk mencegah komplikasi-komplikasi tersebut maka diperlukan pencegahan hipertensi pada ibu hamil.

 

Rekomendasi Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan beberapa hal terkait dengan pencegahan hipertensi pada ibu hamil. Beberapa rekomendasi tersebut antara lain:

  • Pertimbangkan pemberian aspirin dosis rendah 60-80 mg/hari pada trimester pertama untuk ibu hamil baik dengan (ACOG Qualified recommendation, Moderate-quality evidence) :
    • Riwayat preeklamsia onset awal dan kelahiran prematur < 34 minggu
    • Riwayat preeklamsia > 1 kehamilan
  • Vitamin C dan E tidak direkomendasikan untuk mencegah preeklamsia ACOG Strong recommendation, High-quality evidence)
  • Pembatasan asupan garam harian tidak direkomendasikan untuk pencegahan preeklamsia (ACOG Qualified recommendation, Low-quality evidence)
  • Tirah baring dan pembatasan aktivitas fisik tidak direkomendasikan untuk preeklamsia dan komplikasi terkait lainnya. (ACOG Qualified recommendation, Low-quality evidence)

Society of Obstetricians and Gynaecologists of Canada (SOGC) juga memiliki beberapa rekomendasi terkait dengan pencegahan hipertensi pada ibu hamil. Rekomendasi tersebut antara lain:

  • Konseling prekonsepsi direkomendasikan untuk wanita dengan hipertensi (SOGC Grade C, Level III)
  • Tawarkan konsultasi kebidanan pada kunjungan pemeriksaan antenatal pertama untuk wanita dengan peningkatan risiko preeklamsia (SOGC Grade B, Level II-2)
  • Untuk wanita dengan risiko tinggi preeklamsia:
    • Jika asupan kalsium rendah (< 600 mg/hari)
      • pemberian suplementasi kalsium oral 1 gr/hari direkomendasikan (SOGC Grade A, Level I)
    • Pemberian aspirin dosis rendah (75-162 mg/hari) direkomendasikan (SOGC Grade B, Level III)
      • Diminum menjelang tidur (SOGC Grade B, Level I)
      • Mulai pemberian obat setelah diagnosis kehamilan ditegakkan dan sebelum usia kehamilan 16 minggu (SOGC Grade B, Level I)
      • Pertimbangkan untuk melanjutkan terapi setelah persalinan (SOGC Grade C, Level I)
    • Tidak terdapat cukup bukti untuk merekomendasikan tindakan, penggunaan atau konsumsi:
      • Diet jantung sehat (SOGC Grade L, Level III)
      • Olahraga (SOGC Grade L, Level I)
      • selenium (SOGC Grade L, Level I)
      • bawang putih (SOGC Grade L, Level I)
      • zinc (SOGC Grade L, Level III)
      • Suplemen piridoksin (SOGC Grade L, Level III)
      • Zat besi tanpa asam folat (SOGC Grade L, Level III)
      • Multivitamin dengan atau tanpa mikronutrien (SOGC Grade L, Level III)
rekomendasi pencegahan hipertensi pada ibu hamil
Health image created by Welcomia – Freepik.com

Istirahat, Olahraga, dan Kontrol Berat Badan Untuk Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil

Berikut ini merupakan beberapa hasil penelitian yang menunjukkan efek istirahat, olahraga, dan kontrol berat badan untuk pencegahan hipertensi pada ibu hamil.

Istirahat Harian mengurangi risiko preeklamsia pada ibu dengan tekanan darah normal.

  • Penelitian ini menunjukkan istirahat 4-6 jam setiap hari menurunakan risiko preeklamsia
  • Penelitian ini juga menunjukkan bahwa istirahat 30 menit setiap hari dengan suplemen nutrisi juga menurunkan risiko preeklamsia
  • Referensi-Cochrane Database Syst Rev 2010 Feb 17;(2):CD005939

 

Aktivitas fisik dapat mencegah preeklamsia

 

Tidak cukup bukti ilmiah untuk menentukan bahwa olahraga membantu dalam pencegahan preeklamsia

 

Metformin dapat mengurangi kenaikan berat badan ibu dan risiko preeklampsia, tetapi tidak dapat meningkatkan outcome neonatus pada wanita hamil dengan obesitas tanpa diabetes

  • Penelitian ini dilakukan pada 450 wanita (usia rata-rata 32 tahun) dengan kehamilan tunggal pada usia kehamilan 12-18 minggu, tanpa diabetes, tetapi dengan indeks massa tubuh (BMI)> 35 kg / m2 diacak ke metformin 3 g / hari vs plasebo sampai melahirkan
  • Referensi-N Engl J Med 2016 Feb 4;374(5):434

 

Penurunan indeks massa tubuh 10% sebelum kehamilan terkait dengan penurunan risiko preeklamsia pada wanita dengan berat badan berlebih dan obesitas.

  • Penelitian dilakukan pada antara wanita yang kelebihan berat badan dan obesitas dan pengurangan indeks massa tubuh 10% sebelum kehamilan terkait dengan ≥ 10% risiko rendah preeklamsia
  • Referensi-Obstet Gynecol 2015 Jan;125(1):133

 

Pedoman Terkait Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil dan Preeklamsia

Klik Di Sini Untuk Link Pedoman

International guidelines Terkait Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil dan Preeklamsia

  • World Health Organization (WHO) guideline on calcium supplementation in pregnant women can be found at WHO 2013 PDF
  • WHO recommendations for prevention and treatment of preeclampsia and eclampsia can be found at WHO 2011 PDF
  • international expert paper on critical pathways for management of preeclampsia and severe preeclampsia in institutionalised healthcare settings can be found in BMC Pregnancy Childbirth 2003 Oct 3;3(1):6 full-text

United States guidelines Terkait Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil dan Preeklamsia

  • American College of Chest Physicians (ACCP) Evidence-Based Clinical Practice Guidelines on Antithrombotic Therapy and Prevention of Thrombosis (Ninth Edition) recommendation on venous thromboembolism, thrombophilia, antithrombotic therapy, and pregnancy can be found in Chest 2012 Feb;141(2 Suppl):e691S full-text, commentary can be found in Chest 2012 Aug;142(2):545

United Kingdom guidelines Terkait Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil dan Preeklamsia

  • Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) Green-top Guideline No. 56 on maternal collapse in pregnancy and puerperium can be found at RCOG 2011 Jan PDF

Canadian guidelines Terkait Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil dan Preeklamsia

European guidelines Terkait Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil dan Preeklamsia

Mexican guidelines Terkait Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil dan Preeklamsia

  • Colegio Mexicano de Especialistas en Ginecología y Obstetricia (COMEGO) clinical practice guideline on diagnosis and treatment of preeclampsia-eclampsia can be found in Ginecol Obstet Mex 2010 Jun;78(6):S461[Spanish]
  • Grupos de Desarrollo de las Instituciones Públicas del Sistema Nacional de Salud de México (Secretaría de Salud, IMSS, ISSSTE, SEDENA, SEMAR, DIF, PEMEX) guías de práctica clínica en detección, diagnóstico y tratamiento de las enfermedades hipertensivas del embarazo se pueden encontrar en Secretaría de Salud-México 2017 PDF [Spanish]

Central and South American guidelines Terkait Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil dan Preeklamsia

Australian and New Zealand guidelines Terkait Pencegahan Hipertensi Pada Ibu Hamil dan Preeklamsia

 

Kesimpulan

Faktor risiko umum untuk tekanan darah tinggi, seperti obesitas dan riwayat tekanan darah tinggi, dapat diminimalkan melalui diet dan olahraga. Tentu saja, selama kehamilan, tidak dapat dihindari bahwa ibu hamil akan mengalami peningkatan berat badan. Dianjurkan agar wanita hamil berkonsultasi dengan dokter mereka untuk mengidentifikasi target berat badan yang sehat bagi mereka

Pedoman diet untuk wanita hamil bervariasi antara setiap orang. Berbicaralah dengan ahli gizi  atau dokter melakukan pengukuran tinggi dan berat badan spesifik Anda saat membuat rencana nutrisi untuk Anda.

NHLBI menekankan bahwa penting untuk mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko tekanan darah tinggi Anda. Anda harus menghindari merokok dan minum alkohol, keduanya diketahui meningkatkan tekanan darah.

Kehamilan menyebabkan pergeseran hormon, serta perubahan psikologis dan fisik. Ini dapat menimbulkan stres, yang dapat membuat tekanan darah tinggi lebih sulit untuk dikelola. Cobalah teknik-teknik untuk mengurangi tingkat stress.

 

Bila Anda Memiliki Pertanyaan Seputar Hipertensi Pada Kehamilan atau Pengalaman Terkait Hipertensi Pada Kehamilan, Silakan Sampaikan Pertanyaan dan Pendapat Anda Di Kolom Komentar.

 

Referensi

pedoman praktik klinis

Rangkuman Pedoman Klinis Kardiologi Pada Tahun 2017

Rangkuman pedoman klinis kardiologi pada tahun 2017 ini berisikan 11 kelompok pedoman klinis dan rekomendasi yang dikeluarkan pada tahun 2017.

Rangkuman ini berisikan pedoman mulai dari target kadar kolesterol hingga pedoman klinis tromboemboli vena.

pedoman klinis kardiologi
Technology image created by Creativeart – Freepik.com

Anda dapat membaca hingga ke bawah keseluruhan dari rangkuman ini. Tapi, Apabila Anda hanya ingin membaca topik tertentu maka Anda dapat memilih salah satu topik tersebut pada daftar isi di atas.

Anda dapat menemukan link referensi asal rekomendasi tersebut pada setiap akhir bagian atau topik tersebut.

Pedoman praktik klinis pada rangkuman ini berasal dari beberapa pedoman atau rekomendasi dari:

  • American Academy of Family Physicians
  • American Academy of Neurology
  • American Academy of Pediatrics
  • American Association of Clinical Endocrinologists
  • American Association for Thoracic Surgery
  • American College of Cardiology
  • American College of Endocrinology
  • American College of Physicians
  • American Diabetes Association
  • American Heart Association
  • European Association of Cardiothoracic Anaesthesiology
  • European Association for Cardio-Thoracic Surgery
  • European Society of Anesthesiology
  • European Society of Cardiology
  • Heart Failure Society of America

 

Pedoman Klinis Kardiologi 1: Target Kadar Kolesterol

American Association of Clinical Endocrinologists/American College of Endocrinology

AACE/ACE merekomendasikan target LDL <55 mg/dL, <70 mg/dL, < 100 mg/dL, dan <130 mg/dL untuk individu dengan risiko kejadian kardiovaskular ekstrim, sangat tinggi, tinggi/sedang, dan rendah, masing-masing.

Pasien dengan risiko ekstrim: Target LDL <55 mg/dL, non-HDL <80 mg/dL, yaitu pasien dengan:

  • Penyakit kardiovaskular aterosklerotik progresif (ASCVD), termasuk angina tidak stabil pada pasien yang telah mencapai target LDL <70 mg/dL
  • Penyakit kardiovaskular yang telah ditegakkan pada pasien dengan diabetes, gagal ginjal kronis stadium ¾, atau hiperkolesterolemia familial heterozigot (HeFH)
  • Riwayat ASCVD prematur (usia <55 tahun pada pria, dan <65 tahun pada wanita)

 

Pasien dengan risiko sangat tinggi: Target LDL <70 mg/dL, non-HDL <80 mg/dL, yaitu pada pasien dengan:

  • Riwayat dirawat karena sindrom koroner akut, penyakit arteri karotis atau penyakit arteri perifer; risiko 10 tahun >20%
  • Pasien dengan dabetes dan gagal ginjal kronis stadium ¾ dengan satu atau lebih faktor risiko
  • HeFH

 

Pasien dengan risiko tinggi: Target LDL <100 mg/dL, non-HDL <130 mg/dL, yaitu pada pasien dengan:

  • Dua atau lebih faktor risiko kardiovaskular dan risiko 10 tahun 10-20%
  • Diabetes atau CKD stadium ¾ tanpa faktor risiko lainnya

 

Pasien dengan risiko sedang: Target LDL sama dengan risiko tinggi, yaitu pada pasien dengan:

  • Dua atau lebih faktor risiko dan risiko 10 tahun <10%

 

Pasien dengan risiko rendah: Target LDL <130 mg/dL, non-HDL <160 mg/dL

  • Tidak memiliki faktor risiko

 

Referensi

  1. Tucker ME. New AACE Lipid Guidelines Establish ‘Extreme’ CVD Risk Category. Medscape. WebMD Inc. May 5, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/879577
  2. Jellinger PS, Handelsman Y, Rosenblit PD, et al. AMERICAN ASSOCIATION OF CLINICAL ENDOCRINOLOGISTS AND AMERICAN COLLEGE OF ENDOCRINOLOGY GUIDELINES FOR MANAGEMENT OF DYSLIPIDEMIA AND PREVENTION OF CARDIOVASCULAR DISEASE. Endocrine Practice. Vol 23 (Suppl 2) April 2017. https://www.aace.com/files/lipid-guidelines.pdf

 

Pedoman Klinis Kardiologi 2: Terapi Antiplatelet pada Penyakit Jantung Koroner

European Society of Cardiology

Saran terbaru dari ESC adalah dengan melakukan pendekatan personalized medicine (kedokteran pribadi) dengan mempertimbangakan risiko iskemik vs perdarahan. Dimana, setiap pengobatan yang diberikan dan durasinya bersifat individual dan sangat bergantung pada profil pasien secara individu.

  • Terapi dengan antiplatelet ganda (DAPT) misalnya dengan aspirin ditambah inhibitor P2Y12 mengurangi risiko trombosis stent dan/atau infark miokard spontan pada pasien yang menjalani PCI (intervensi koroner perkutan) atau suatu sindrom koroner akut.
  • Risiko perdarahan pada pasien dengan DAPT secara proporsional berhubungan dengan durasi pemberian.
  • Pemanjangan durasi pemberian DAPT dan keuntungannya terhadap mortalitas, bergantung pada riwayat kardiovaskular sebelumnya (misalnya riwayat ACS/MI vs PJK stabil).
  • Untuk pasien dengan sindrom koroner akut, durasi pemberian DAPT harus 12 bulan. Tidak bergantung pada strategi revaskularisasi apa yang digunakan (terapi medis, PCI, atau operasi CABG).
  • Pemberian DAPT selama 6 bulan harus dipertimbangkan pada pada pasien dengan risiko perdarahan tinggi (Skor PRECISE-DAPT ≥ 25).
  • Pemberian DAPT lebih lama dari 12 bulan harus dipertimbangkan pada pasien ACS yang memiliki toleransi DAPT baik tanpa komplikasi perdarahan.
  • Kebutuhan untuk rejimen DAPT jangka pendek tidak lagi membenarkan penggunaan stent bare-metal daripada stent drug-eluting generasi baru. Durasi DAPT harus dipandu oleh penilaian risiko iskemik vs pendarahan individu pasien dan bukan oleh tipe stent.
  • Terlepas dari jenis stent metalik yang ditanamkan, durasi DAPT pada pasien CAD stabil yang diobati dengan PCI harus 1 hingga 6 bulan tergantung pada risiko pendarahan. Durasi DAPT yang lebih lama dapat dipertimbangkan pada pasien yang berisiko iskemik lebih besar daripada risiko perdarahan.
  • Tidak ada data yang cukup untuk merekomendasikan DAPT pada pasien CAD stabil yang diobati dengan CABG.
  • Penambahan DAPT ke terapi antikoagulasi oral meningkatkan risiko komplikasi perdarahan sebanyak dua hingga tiga kali lipat. Indikasi untuk antikoagulasi oral harus ditinjau kembali dan pengobatan dilanjutkan hanya jika ada indikasi yang meyakinkan seperti fibrilasi atrium, katup jantung mekanik, atau riwayat trombosis vena dalam atau emboli pulmoner berulang. Durasi terapi tiga kali (DAPT plus antikoagulan oral) harus dibatasi hingga 6 bulan atau dihilangkan setelah pulang dari rumah sakit, tergantung pada risiko iskemik dan perdarahan.
  • Clopidogrel direkomendasikan sebagai inhibitor P2Y12 pilihan pada pasien dengan CAD stabil yang diterapi dengan PCI, pasien dengan indikasi untuk antikoagulan oral, dan pasien ACS di antaranya ticagrelor atau prasugrel merupakan kontraindikasi. Ticagrelor atau prasugrel direkomendasikan untuk pasien ACS kecuali ada kontraindikasi spesifik obat.
  • Keputusan tentang kapan harus memulai inhibitor P2Y12 tergantung pada obat spesifik dan penyakit tertentu (CAD Stabil vs ACS).

 

Referensi

  1. Hughes S. ESC Guideline Update on Dual Antiplatelet Therapy in CAD. Medscape News. WebMD Inc. September 14, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/885683

 

Pedoman Klinis Kardiologi 3: Gagal Jantung

American College of Cardiology/American Heart Association/Heart Failure Society of America

Untuk pasien yang berisiko mengalami gagal jantung, pemeriksaan berbasis biomarker peptida natriuretik (BNP) yang diikuti oleh perawatan berbasis tim, termasuk spesialis kardiovaskular akan mengoptimalkan manajemen dan terapi yang berdasarkan pedoman (GDMT), dapat berguna untuk mencegah perkembangan disfungsi ventrikel kiri (sistolik atau diastolik) atau gagal jantung onset baru.

  • Pada pasien yang mengalami dispnea, pengukuran biomarker peptida natriuretik berguna untuk mendukung diagnosis atau eksklusi gagal jantung.
  • Selama rawat inap dengan kondisi gagal jantung, pemeriksaan kadar peptida natriuretik pada awal rawatan dapat berguna untuk menetapkan prognosis pasca rawatan.
  • Strategi klinis penghambatan sistem renin-angiotensin dengan inhibitor angiotensin-converting enzyme (ACE), ATAU angiotensin receptor blocker (ARB), atau angiotensin receptor-neprilysin inhibitor (ARNI) dalam hubungannya dengan beta-blocker berbasis bukti, dan antagonis aldosteron pada pasien tertentu, direkomendasikan untuk pasien dengan gagal jantung kronis dengan penurunan fraksi ejeksi (HFrEF) untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas.
  • Pada pasien dengan gejala kronis HFrEF NYHA kelas II atau III yang mentoleransi inhibitor ACE atau ARB, penggantian dengan ARNI dianjurkan untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas lebih lanjut.
  • ARNI tidak boleh diberikan bersamaan dengan inhibitor ACE atau dalam waktu 36 jam dari dosis terakhir inhibitor ACE.
  • ARNI tidak boleh diberikan pada pasien dengan riwayat angioedema.
  • Ivabradine dapat bermanfaat untuk mengurangi rawat inap untuk pasien dengan gagal jantung simptomatik (NYHA kelas II-III) HFrEF kronis stabil (LVEF ≤35%) yang menerima mendapatkan GDEM, termasuk beta blocker pada dosis maksimum yang ditoleransi, dan yang dalam irama sinus dengan detak jantung 70 x/menit atau lebih saat istirahat.
  • Pada pasien yang terpilih secara baik dengan gagal jantung fraksi ejeksi yang tetap (HFpEF) (dengan EF ≥45%, peningkatan kadar B-type natriuretic peptide (BNP) atau gagal jantung dalam 1 tahun, perkiraan laju filtrasi glomerular> 30 mL / menit, kreatinin < 2,5 mg / dL, kalium <5,0 mEq / L), antagonis reseptor aldosteron mungkin dipertimbangkan untuk menurunkan rawat inap.
  • Penggunaan rutin nitrat atau phosphodiesterase-5 inhibitor untuk meningkatkan aktivitas atau kualitas hidup pada pasien dengan HFpEF tidak efektif.
  • Pada pasien dengan gagal jantung NYHA kelas II dan III disertai defisiensi besi (feritin <100 ng / mL atau 100 hingga 300 ng / mL jika saturasi transferin <20%), penggantian besi intravena mungkin dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan status fungsional dan kualitas hidup.
  • Pada pasien dengan gagal jantung dan anemia, agen stimulasi erythropoietin tidak boleh digunakan untuk memperbaiki morbiditas dan mortalitas.
  • Pada pasien dengan peningkatan risiko gagal jantung tahap A, tekanan darah optimal pada mereka dengan hipertensi harus kurang dari 130/80 mm Hg.
  • Pasien dengan HFrEF dan hipertensi harus diresepkan GDMT dititrasi untuk mencapai tekanan darah sistol kurang dari 130 mm Hg.
  • Pasien dengan HFpEF dan hipertensi persisten setelah manajemen volume berlebihan harus diresepkan GDMT dititrasi untuk mencapai tekanan darah sistol kurang dari 130 mm Hg.
  • Pada pasien dengan NYHA kelas II-IV HF dan dugaan gangguan tidur atau kantuk di siang hari yang berlebihan, penilaian tidur formal dapat dipertimbangkan.
  • Pada pasien dengan penyakit kardiovaskular dan apnea tidur obstruktif, tekanan saluran napas positif kontinu (CPAP) mungkin dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi kantuk di siang hari.
  • Pada pasien dengan NYHA kelas II-IV HFrEF dan apnea tidur sentral, servo-ventilasi adaptif menyebabkan bahaya.

Referensi

  1. Yancy CW, Jessup M, Bozkurt B, et al. 2017 ACC/AHA/HFSA Focused Update of the 2013 ACCF/AHA Guideline for the Management of Heart Failure: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Clinical Practice Guidelines and the Heart Failure Society of America. Circulation. 2017 Apr 28. http://circ.ahajournals.org/content/early/2017/04/26/CIR.0000000000000509.long

 

Pedoman Klinis Kardiologi 4: Klasifikasi dan Tatalaksana Hipertensi

American College of Cardiology and American Heart Association

Pedoman ACC / AHA baru menghilangkan klasifikasi prehipertensi dan membaginya menjadi dua tingkat: (1) Tenakan darah yang meningkat, dengan tekanan sistolik antara 120 dan 129 mm Hg dan tekanan diastolik kurang dari 80 mm Hg, dan (2) hipertensi tahap 1 , dengan tekanan sistolik 130 hingga 139 mm Hg atau tekanan diastolik 80 hingga 89 mm Hg.

Ringkasan Lengkap Pedoman Praktik Klinis Hipertensi AHA/ACC 2017 ini dapat Anda baca di sini:

Ringkasan Pedoman Hipertensi ACC/AHA 2017

Pedoman Hipertensi ACC/AHA 2017

 

Pedoman Klinis Kardiologi 5: Hipertensi pada Pasien Diabetes

American Diabetes Association

  • Tekanan darah harus diukur pada setiap kunjungan perawatan klinis rutin. Pasien yang ditemukan memiliki tekanan darah tinggi (≥140 / 90 mmHg) harus memiliki tekanan darah yang dikonfirmasi dengan menggunakan beberapa kali pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran pada hari yang terpisah, untuk mendiagnosis hipertensi.
  • Semua pasien hipertensi dengan diabetes harus memiliki monitoring tekanan darah di rumah untuk mengidentifikasi hipertensi jas putih (whitecoat hipertension).
  • Pengukuran ortostatik tekanan darah harus dilakukan selama evaluasi awal hipertensi dan secara berkala pada tindak lanjut, atau ketika gejala hipotensi ortostatik hadir, dan secara teratur jika hipotensi ortostatik telah terdiagnosis.
  • Sebagian besar pasien dengan diabetes dan hipertensi harus diobati dengan target tekanan darah sistolik <140 mm Hg dan tekanan darah diastolik <90 mm Hg.
  • Target tekanan darah sistolik dan diastolik yang lebih rendah, seperti <130/80 mm Hg, mungkin cocok untuk individu yang berisiko tinggi terhadap penyakit kardiovaskular jika mereka dapat dicapai tanpa beban pengobatan yang tidak semestinya.
  • Untuk pasien dengan tekanan darah sistolik >120 mm Hg atau tekanan darah diastolik >80 mm Hg, intervensi gaya hidup terdiri dari penurunan berat badan jika kelebihan berat badan atau obesitas; Pola Diet untuk Menghentikan Hipertensi (DASH) – gaya pola diet, termasuk mengurangi natrium dan meningkatkan asupan kalium; peningkatan konsumsi buah dan sayuran; moderasi asupan alkohol; dan meningkatkan aktivitas fisik.
  • Pasien dengan tekanan darah berdasarkan pemeriksaan pada poliklinik ≥140 / 90 mmHg harus, di samping terapi gaya hidup, memiliki titrasi tepat waktu terapi farmakologis untuk mencapai gol tekanan darah.
  • Pasien dengan tekanan darah berdasarkan pemeriksaan di poliklinik ≥160 / 100 mmHg harus, di samping terapi gaya hidup, memiliki inisiasi cepat dan titrasi tepat 2 obat atau kombinaobat si pil tunggal yang terbukti mengurangi kejadian kardiovaskular pada pasien dengan diabetes.
  • Pengobatan untuk hipertensi harus termasuk kelas obat yang ditunjukkan untuk mengurangi kejadian kardiovaskular pada pasien dengan diabetes: inhibitor angiotensin-converting enzyme (ACE), angiotensin-receptor blocker (ARB), diuretik tiazid, atau dihidropiridin calcium channel blockers. Terapi multi-obat umumnya diperlukan untuk mencapai target tekanan darah (tetapi bukan kombinasi dari ACE inhibitor dan ARB).
  • Inhibitor ACE atau ARB, pada dosis maksimum yang dapat diterima yang diindikasikan untuk pengobatan tekanan darah, adalah perawatan lini pertama yang disarankan untuk hipertensi pada pasien dengan diabetes dan rasio albumin-kreatinin ≥300 mg / g kreatinin atau 30-299 mg/g kreatinin. Jika satu kelas tidak ditoleransi, yang lain harus diganti.
  • Untuk pasien yang diobati dengan inhibitor ACE, ARB, atau diuretik, kreatinin serum / perkiraan laju filtrasi glomerulus dan kadar serum potasium harus dipantau.
  • Wanita hamil dengan diabetes dan hipertensi yang sudah ada sebelumnya atau hipertensi gestasional ringan dengan tekanan darah sistolik <160 mm Hg, tekanan darah diastolik <105 mm Hg, dan tidak ada bukti kerusakan organ akhir yang tidak perlu diobati dengan terapi antihipertensi farmakologis.
  • Pada pasien hamil dengan diabetes dan hipertensi yang sudah ada sebelumnya yang diobati dengan terapi antihipertensi, tekanan darah sistolik atau diastolik target 120-160 / 80-105 mm Hg disarankan untuk kepentingan mengoptimalkan kesehatan ibu dan pertumbuhan janin jangka panjang.

 

Referensi

  1. Jenkins K. ADA Updates Recommendations for Managing Hypertension in Diabetes. Medscape News. WebMD Inc. September 04, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/885163#vp_2
  2. De Boer IH, Bangalore S, Benetos A, et al. Diabetes and Hypertension: A Position Statement by the American Diabetes Association. Diabetes Care. 2017 Sep;40(9):1273-84. http://care.diabetesjournals.org/content/40/9/1273

 

Pedoman Klinis Kardiologi 6: Hipertensi Pada Pasien Usia ≥60 Tahun

American College of Physicians and American Academy of Family Physicians

  • Dokter harus memulai pengobatan pada pasien berusia 60 tahun atau lebih yang memiliki tekanan darah sistolik persisten ≥150 mm Hg untuk mencapai target <150 mm Hg untuk mengurangi risiko stroke, kejadian jantung, dan kematian.
  • Jika pasien berusia 60 tahun atau lebih memiliki riwayat stroke atau serangan iskemik transien atau memiliki risiko kardiovaskular yang tinggi, dokter harus mempertimbangkan memulai atau meningkatkan terapi obat untuk mencapai tekanan darah sistolik kurang dari 140 mm Hg untuk mengurangi risiko stroke dan kejadian jantung.
  • Pertimbangkan memulai atau mengintensifkan pengobatan farmakologis pada beberapa orang dewasa berusia 60 tahun atau lebih pada risiko kardiovaskular tinggi berdasarkan penilaian individual, untuk mencapai target tekanan darah sistolik kurang dari 140 mm Hg untuk mengurangi risiko stroke atau kejadian jantung. Faktor-faktor termasuk komorbiditas, beban obat, risiko efek samping, dan biaya. Umumnya, peningkatan risiko kardiovaskular termasuk penyakit kardiovaskular yang diketahui, diabetes, atau penyakit ginjal kronis dengan laju filtrasi glomerulus (GFR) kurang dari 45 mL/menit/1,73 m2.

Referensi

  1. Frellick M. Updated hypertension guidelines released by ACP, AAFP. Medscape Medical News. WebMD Inc. January 17, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/874494
  2. Qaseem A, Wilt TJ, Rich R, et al. Pharmacologic treatment of hypertension in adults aged 60 years or older to higher versus lower blood pressure targets: A clinical practice guideline from the American College of Physicians and the American Academy of Family Physicians. Ann Intern Med. 2017 Jan 17.

 

Pedoman Klinis Kardiologi 7: Regurgitasi Katup Mitral

American Association for Thoracic Surgery

  • Penggantian katup mitral dipertimbangkan pada pasien dengan regurgitasi katup mitral iskemik berat (IMR) yang tetap simtomatik meskipun terapi medial dan alat jantung berdasakan pedoman, dan yang memiliki aneurisma basal/diskinesis, penambatan leaflet (daun katup) yang signifikan, dan/atau dilatasi ventrikel kiri yang berat (diameter akhir diastolik ventrikel kiri [LVEDD] > 6,5 cm).
  • Perbaikan katup mitral dengan cincin anuloplasti kaku lengkap berukuran kecil dapat dipertimbangkan pada pasien dengan regurgitasi mitral iskemik berat yang tetap bergejala meskipun terapi peralatan medis dan jantung yang diarahkan oleh Pedoman dan yang tidak memiliki aneurisma basal/diskinesis, penambatan leaflet yang signifikan, atau pembesaran ventrikel kiri yang parah. .
  • Pada pasien dengan regurgitasi mitral iskemik sedang yang menjalani bypass grafting arteri koroner (CABG), perbaikan katup mitral dengan cincin anuloplasti kaku lengkap berukuran kecil dapat dipertimbangkan.
  • Perbaikan katup mitral untuk regurgitasi mitral iskemik dilakukan dengan pelestarian lengkap akord selebaran anterior dan posterior.
  • Perbaikan katup mitral untuk regurgitasi mitral iskemik dilakukan dengan cincin annuloplasty rigid yang kecil, berukuran kecil, dan lengkap.

Referensi

  1. 2016 update to The American Association for Thoracic Surgery consensus guidelines: Ischemic mitral valve regurgitation. J Thorac Cardiovasc Surg. 2017 Jan 17. http://www.jtcvsonline.org/article/S0022-5223(17)30031-4/fulltext

 

Pedoman Klinis Kardiologi 8: Infark Miokard

American College of Cardiology dan American Heart Association

Revisi Pengukuran ST elevasi MI (STEMI) dan non-STEMI (NSTEMI)

  • Statin digunakan untuk pasien dengan AMI (infark miokard akut)
  • Evaluasi LVEF (fraksi ejeksi ventrikel kiri)
  • Reseptor P2Y12 (clopidogrel, ticagrelor, prasugrel) yang diresepkan saat pasien dipulangkan. Ketiganya merupakan obat inhibitor dari reseptor P2Y12 dan direkomendasikan selain aspirin (sebagai bagian dari rejimen antiplatelet ganda) untuk mengurangi kejadian iskemik rekuren setelah AMI.

 

Pengukuran STEMI / NSTEMI Baru

  • Angiografi segera untuk serangan jantung diluar-rumah sakit yang diresusitasi pada pasien STEMI.
  • Tes stres noninvasif sebelum pasien dipulangkan pada pasien yang diobati secara konservatif untuk mendeteksi iskemia yang dapat diinduksi pada pasien STEMI dan NSTEMI yang diobati secara medis.
  • Pengukuran troponin jantung dini (dalam waktu 6 jam setelah kedatangan).
  • Partisipasi dalam registri infark miokard akut regional atau nasional untuk membantu melacak dan menilai hasil, komplikasi, dan kualitas perawatan untuk pasien dengan AMI.
  • Stratifikasi skor risiko untuk pasien NSTEMI untuk menentukan strategi yang tepat (invasif versus dipandu iskemik) dan waktu strategi (awal versus akhir invasif) pada pasien dengan NSTEMI.
  • Strategi invasif dini (dalam 24 jam) pada pasien NSTEMI berisiko tinggi.
  • Hipotermia terapeutik untuk pasien STEMI koma dengan henti jantung di luar rumah sakit.
  • Aldosterone antagonis saat pasien dipulangkan.
  • Penggunaan NSAID yang tidak tepat di rumah sakit (peringatan terhadap penggunaan obat-obatan ini setelah AMI).
  • Resep prasugrel yang tidak sesuai pada saat pasien dipulangkan pada pasien dengan riwayat stroke sebelumnya atau TIA (hati-hati terhadap penggunaan prasugrel pada pasien dengan TIA / stroke sebelumnya, karena bahaya klinis pada pasien ini. FDA juga mengeluarkan peringatan kotak hitam pada ini)
  • Peresepan yang tidak tepat untuk aspirin dosis tinggi dengan ticagrelor saat keluar (peringatan terhadap penggunaan aspirin dosis tinggi >100 mg di antara pasien yang menerima ticagrelor. FDA juga mengeluarkan peringatan kotak hitam mengenai hal ini)

Referensi

  1. Wendling P. AHA/​ACC Issue New Performance, Quality Measures for MI. Medscape News. WebMD Inc. Sep 22, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/886075
  2. Jneid H, Addison D, Bhatt DL, et al. 2017 AHA/ACC Clinical Performance and Quality Measures for Adults With ST-Elevation and Non-ST-Elevation Myocardial Infarction: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Performance Measures. Circ Cardiovasc Qual Outcomes. 2017 Oct;10(10). http://circoutcomes.ahajournals.org/content/10/10/e000032.long

 

Pedoman Klinis Kardiologi 9: Hipertensi Pediatri

American Academy of Pediatrics

  • Tekanan darah harus diperiksa pada semua anak dan remaja ≥3 tahun usia di setiap pertemuan perawatan kesehatan jika mereka mengalami obesitas, minum obat yang diketahui untuk meningkatkan tekanan darah, memiliki penyakit ginjal, memiliki riwayat obstruksi lengkungan aorta atau koarktasio, atau memiliki diabetes.
  • Profesional perawatan kesehatan yang terlatih di lingkungan poliklinik harus membuat diagnosis hipertensi jika seorang anak atau remaja memiliki pembacaan tekanan darah yang dikonfirmasi oleh auskultasi ≥95 persentil pada 3 kunjungan yang berbeda.
  • Pemantauan tekanan darah ambulasi (ABPM) harus dilakukan untuk konfirmasi hipertensi pada anak-anak dan remaja dengan pengukuran tekanan darah di poliklinik dalam kategori tekanan darah tinggi selama 1 tahun atau lebih atau dengan hipertensi tahap 1 selama 3 kunjungan poliklinik.
  • Anak-anak dan remaja dengan suspek hipertensi jas putih (WCH) harus menjalani ABPM. Diagnosis didasarkan pada adanya tekanan darah sistolik rata-rata (SBP) dan tekanan darah diastolik (DBP) <95 persentil dan SBP dan beban DBP <25%.
  • Pemantauan tekanan darah di rumah tidak boleh digunakan untuk mendiagnosis hipertensi, hipertensi tersamar, atau WCH tetapi mungkin merupakan tambahan yang berguna untuk pengukuran tekanan darah di poliklinik dan rawat jalan setelah hipertensi didiagnosis.
  • Anak-anak dan remaja ≥6 tahun usia tidak memerlukan evaluasi yang luas untuk penyebab sekunder hipertensi jika mereka memiliki riwayat keluarga positif hipertensi, kelebihan berat badan atau obesitas, dan/atau tidak memiliki riwayat atau temuan pemeriksaan fisik sugestif dari penyebab sekunder hipertensi.
  • Dokter tidak boleh melakukan elektrokardiografi pada anak hipertensi dan remaja yang sedang dievaluasi untuk hipertrofi ventrikel kiri (LVH).Disarankan bahwa ekokardiografi dilakukan untuk menilai kerusakan organ target jantung (massa LV, geometri, dan fungsi) pada saat pertimbangan pengobatan farmakologis hipertensi.LVH harus didefinisikan sebagai massa LV> 51 g/m (anak laki-laki dan perempuan) untuk anak-anak dan remaja yang lebih tua dari usia 8 tahun dan ditentukan oleh massa LV> 115 g/luas permukaan tubuh (BSA) untuk anak laki-laki dan massa LV> 95 g/ BSA untuk anak perempuan.
  • Ekokardiografi ulangan dapat dilakukan untuk memantau peningkatan atau perkembangan kerusakan organ target pada interval 6 sampai 12 bulan.
  • Indikasi untuk mengulangi echocardiography termasuk hipertensi persisten meskipun ada pengobatan, hipertrofi ventrikel LV, atau fraksi ejeksi ventrikel kiri yang berkurang.
  • Pada pasien tanpa cedera organ target LV pada penilaian ekokardiografi awal, ekokardiografi berulang pada interval tahunan dapat dipertimbangkan pada mereka dengan hipertensi tahap 2, hipertensi sekunder, atau hipertensi tahap 1 kronis yang belum selesai diobati (ketidakpatuhan atau resistansi obat) untuk menilai perkembangan perburukan. Cedera organ target LV.
  • Pada anak-anak dan remaja yang dicurigai memiliki stenosis arteri ginjal (RAS), CT angiografi atau MR angiografi dapat dilakukan sebagai pemeriksaan pencitraan noninvasif. Nuclear renography kurang berguna dalam pediatri dan umumnya harus dihindari.
  • Pada anak-anak dan remaja yang didiagnosis dengan hipertensi, tujuan pengobatan dengan terapi nonfarmakologis dan farmakologis harus mengurangi SBP dan DBP menjadi <90 persen dan <130/80 mm Hg pada remaja ≥13 tahun
  • Pada saat diagnosis BP tinggi atau hipertensi pada anak atau remaja, dokter harus memberikan saran tentang diet DASH dan merekomendasikan aktivitas fisik sedang hingga kuat setidaknya 3 hingga 5 hari / minggu (30-60 menit per sesi) untuk membantu mengurangi BP.
  • Pada anak hipertensi dan remaja yang mengalami modifikasi gaya hidup (terutama mereka yang menderita hipertrofi ventrikel kiri pada ekokardiografi, hipertensi gejala, atau hipertensi tahap 2 tanpa faktor yang dapat dimodifikasi secara jelas [misalnya, obesitas]), dokter harus memulai pengobatan farmakologis dengan enzim pengubah angiotensin. (ACE) inhibitor, angiotensin-receptor blocker (ARB), long-acting calcium channel blocker, atau diuretik tiazid.
  • Anak-anak atau remaja dengan penyakit ginjal kronis dan hipertensi harus diobati untuk menurunkan tekanan arteri rata-rata 24 jam <50 persen oleh ABPM.Anak-anak dan remaja dengan CKD, hipertensi, dan proteinuria harus diobati dengan ACE inhibitor atau ARB.Anak-anak dan remaja dengan diabetes mellitus tipe 1 atau diabetes mellitus tipe 2 harus dievaluasi untuk hipertensi pada setiap pertemuan medis dan diobati jika tekanan darah ≥95 persentil atau> 130/80 mm Hg pada remaja ≥13 tahun.
  • Pada anak-anak dan remaja dengan hipertensi berat akut dan gejala yang mengancam jiwa, pengobatan segera dengan obat antihipertensi jangka pendek harus dimulai, dan tekanan darah harus dikurangi tidak lebih dari 25% dari pengurangan yang direncanakan selama 8 jam pertama.

Referensi

  1. Phillips D. AAP Guideline Updates Practice for Pediatric Hypertension. Medscape News. WebMD Inc. August 21, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/884555#vp_2
  2. Flynn JT, Kaelber DC, Baker-Smith CM, et al. Clinical Practice Guideline for Screening and Management of High Blood Pressure in Children and Adolescents. Pediatrics. 2017 Sep;140(3). http://pediatrics.aappublications.org/content/early/2017/08/21/peds.2017-1904

 

Pedoman Klinis Kardiologi 10: Infark Miokard dengan Elevasi Segmen ST

European Society of Cardiology

  • Dimana fibrinolisis adalah strategi reperfusi, penundaan waktu maksimum dari diagnosis STEMI untuk pengobatan telah dipersingkat dari 30 menit pada tahun 2012 menjadi 10 menit pada tahun 2017.
  • Revaskularisasi lengkap pada pasien dengan penyakit multivessel menerima rekomendasi yang lebih kuat, bergerak dari kelas III (tidak boleh dilakukan) ke kelas IIa (harus dipertimbangkan), dengan non-infark arteri terkait yang dirawat selama prosedur indeks atau titik waktu lain sebelum dipulangkan dari rumah Sakit.
  • Aspirasi trombus tidak lagi direkomendasikan, berdasarkan dua uji coba besar pada lebih dari 15.000 pasien.
  • Stenting yang ditangguhkan, yang melibatkan membuka arteri dan menunggu 48 jam untuk menanamkan stent, tidak lagi direkomendasikan.Untuk PCI, penggunaan stent drug-eluting sebagai pengganti stent bare-metal telah ditingkatkan dari kelas IIa (harus dipertimbangkan) ke kelas I (disarankan/diindikasikan), seperti penggunaan radial, bukan femoral, akses arteri.
  • Terapi antiplatelet ganda setelah 12 bulan dapat dipertimbangkan pada pasien terpilih. Bivalirudin telah diturunkan dari kelas I ke IIa (harus dipertimbangkan), dan enoxaparin ditingkatkan dari kelas IIb (dapat dipertimbangkan) ke IIa (harus dipertimbangkan). Cangrelor (Kengreal), yang tidak disebutkan dalam dokumen 2012, telah direkomendasikan sebagai pilihan pada pasien tertentu.
  • Terapi penurun lipid tambahan dianjurkan pada pasien dengan kolesterol tinggi meskipun mengambil dosis maksimum statin.
  • Cutoff untuk administrasi terapi oksigen telah diturunkan dari kurang dari 95% hingga kurang dari 90% saturasi oksigen arteri.
  • Blok cabang berkas kiri dan kanan sekarang dianggap sama untuk merekomendasikan angiografi urgen ketika pasien mengalami gejala iskemik.

Referensi

  1. Busko M. New ESC Guideline on Acute ST-Segment Elevation MI. Medscape News. WebMD Inc. September 11, 2017. http://www.medscape.com/viewarticle/885509

 

Pedoman Klinis Kardiologi 11: Tromboemboli Vena

European Society of Anesthesiology

  • Risiko untuk tromboemboli vena pasca operasi (VTE) meningkat pada pasien yang lebih tua dari 70 tahun dan pada pasien usia lanjut yang mengalami komorbiditas, seperti gangguan kardiovaskular, keganasan, atau insufisiensi ginjal. Oleh karena itu, stratifikasi risiko, koreksi risiko yang dapat dimodifikasi, dan tromboprofilaksis perioperatif berkelanjutan sangat penting pada populasi pasien ini.
  • Waktu dan dosis farmakoprofilaksis dapat diadopsi dari populasi yang lebih muda.
  • Antikoagulan oral langsung efektif dan ditoleransi dengan baik pada orang tua; statin tidak dapat menggantikan farmakologis thromboprophylaxis.
  • Mobilisasi dini dan penggunaan sarana nonfarmakologis thromboprophylaxis harus dieksploitasi.
  • Pada pasien usia lanjut, sarankan identifikasi komorbiditas yang meningkatkan risiko VTE (misalnya, gagal jantung kongestif, gangguan sirkulasi paru, gagal ginjal, limfoma, kanker metastatik, obesitas, arthritis, terapi estrogen pasca-menopause) dan koreksi jika ada (mis., Anemia , koagulopati).
  • Anjurkan untuk penggantian lutut bilateral pada pasien lanjut usia dan lemah.
  • Sarankan waktu dan dosis farmakologi profilaksis VTE seperti pada populasi yang lebih muda.
  • Pada pasien usia lanjut dengan gagal ginjal, heparin tak terpecah dosis rendah (UFH) dapat digunakan atau dosis yang disesuaikan dengan berat heparin berat molekul rendah.
  • Pada orang lanjut usia, anjurkan secara hati-hati resep profilaksis VTE pasca operasi dan mobilisasi pasca operasi dini.
  • Rekomendasikan intervensi multifaset untuk profilaksis VTE pada pasien lanjut usia dan lemah, termasuk perangkat kompresi pneumatik, heparin berat molekul rendah, dan / atau antikoagulan oral langsung setelah penggantian lutut atau pinggul.

Referensi

  1. Kozek-Langenecker S, Fenger-Eriksen C, Thienpont E, et al. European guidelines on perioperative venous thromboembolism prophylaxis: Surgery in the elderly. Eur J Anaesthesiol 2017 Sep 9. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28901992

 

krisis hipertensi

Captopril Sublingual & Oral: Mana Yang Lebih Efektif?

Krisis hipertensi merupakan salah satu kondisi yang sering kita temui di Puskesmas. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah berat (tekanan darah sistolik > 180 mmHg atau tekanan darah diastolik > 120 mmHg) dengan atau tanpa komplikasi berupa disfungsi organ target (hipertensi emergensi atau hipertensi urgensi). Untuk hipertensi emergensi obat pilihan untuk menurunkan tekanan darah adalah obat anti hipertensi intra vena seperti nicardipine, labetolol, dan esmolol. Pada hipertensi urgensi maka penurunan tekanan darah dapat dilakukan dengan obat anti hipertensi oral seperti captopril, nicardipin, atau labetolol. Namun, di Puskesmas obat anti hipertensi pilihan untuk menurunkan tekanan darah pada kondisi krisis hipertensi hanya berupa captopril. Artikel ini mencoba merangkum hasil penelitian terkait dengan perbandingan efektivitas pemberian captopril sublingual dengan captopril oral untuk menurunkan tekanan darah pada pasien dengan krisis hipertensi.

 

Penelitian 1 Comparison of sublingual and oral captopril in hypertension. 

Penelitian pertama yang dilakukan oleh Dess-Fulgheri P et al ini menyimpulkan bahwa:

“Tidak terdapat perbedaan signifikan terhadap penurunan tekanan darah baik pada pemberian captopril rute oral atau pun sublingual.”

 

Penelitian 2 Sublingual captopril in hypertensive crises

Sebuah tinjauan yang dilakukan oleh Alletto M et al menyimpulkan bahwa:

“Beberapa laporan menunjukkan efek penurunan tekanan darah yang lebih cepat setelah pemberian sublingual. Tidak ada efek samping. Captopril sublingual sangat efektif pada krisis hipertensi dan mekanisme hipotensi secara bertahap menghindari penurunan tekanan darah yang tiba-tiba.”

captopril sublingual
by Skadyfernix – Freepik.com

Penelitian 3 Same effect of sublingual and oral captopril in hypertensive crisis

Penelitian yang dilakukan oleh Karakili E menyimpulkan bahwa:

“Terdapat perbedaan antara efisiensi Captopril oral dan sublingual untuk mengendalikan hipertensi pada pasien dengan hipertensi urgensi. Untuk perawatan yang lebih nyaman, Captopril oral bisa menjadi pilihan yang lebih nyaman dalam urgensi hipertensi.”

 

Penelitian 4 Sublingual vs. Oral Captopril in Hypertensive Crisis.

Penelitian yang dilakukan oleh Kaya A et al terhadap 212 pasien dengan krisis hipertensi menyimpulkan bahwa:

“Captopril sublingual menurunkan tekanan darah lebih cepat pada 30 menit pertama setelah pemberian akan tetapi penurunan tekanan darah yang sama terjadi pada 60 menit pertama setelah pemberian”

 

Berdasarkan beberapa penelitian di atas baik pemberian captopril secara oral ataupun sublingual memberikan efek yang tidak terlalu berbeda untuk penurunan tekanan darah pada pasien dengan krisis hipertensi. Meskipun demikian, pemberian secara oral lebih membuat pasien merasa nyaman dibandingkan pemberian secara sublingual.

 

anti hipertensi

Kapan Waktu Tepat Mengkonsumsi Anti Hipertensi?

Peneliti telah lama menemukan bahwa kejadian kardiovaskular lebih sering terjadi di pagi hari. Stroke, serangan jantung, dan gangguan irama jantung (aritmia) sering terjadi pada pagi hari. Lalu, pertanyaannya adalah apakah kita harus memberikan obat anti hipertensi mengikuti pola kejadian penyakit kardiovaskular tersebut?

 

Artikel ini akan memberikan gambaran tingginya insiden kejadian kardiovaskular di pagi hari dan beberapa penelitian terkait waktu yang tepat untuk memberikan obat penurun tekanan darah.

 

Kejadian Kardiovaskular Cenderung Terjadi di Pagi Hari

penyakit kardiovaskularAnalisis data Framingham telah menunjukkan bahwa kejadian kematian jantung mendadak adalah 70% lebih tinggi antara pukul 7 pagi dan 9 pagi dari pada siang hari.

 

Selain itu, meta-analisis dari 30 penelitian yang melibatkan lebih dari 60.000 pasien telah menunjukkan bahwa kejadian infark miokard adalah 40% lebih besar antara jam 6 pagi dan 12 siang daripada waktu lainnya.

 

Demikian pula, stroke dan aritmia ventrikel terjadi dengan frekuensi yang lebih besar di pagi hari. Variasi siklus seperti kejadian kardiovaskular telah dikaitkan dengan sifat sirkadian dari jam biologis kita, yang dikenal sebagai “chronobiology“.

 

Kondisi ini dapat dijelaskan dengan salah satu teori yang cukup populer yaitu perubahan siklus hormon. Secara khusus, katekolamin dan kortisol plasma, serta tonus vaskular dan volume sirkulasi efektif, paling tinggi pada pagi hari. Kondisi ini menyebabkan kenaikan tekanan darah pagi (sekitar 3/2 mmHg), sehingga kejadian kardiovaskular menjadi lebih tinggi pada pagi hari.

 

Kapan waktu yang tepat untuk memberikan anti hipertensi?

aritmiaSatu pertanyaan jelas yang muncul adalah: Haruskah kita menggunakan obat anti hipertensi dengan cara seperti itu (yaitu, mengkonsumsi obat (dosis satu kali sehari) pada saat akan tidur dan pada malam hari untuk obat dengan pelepasan diperpanjang (extended-release) sehingga aktivitas puncaknya bertepatan dengan dan mungkin akan sesuai dengan meningkatnya tekanan darah pada pagi hari?

 

Strategi pengobatan semacam itu disebut sebagai “chronotherapeutics.” Penting untuk dicatat bahwa penurunan mengesankan pada outcome kardiovaskular telah ditunjukkan dalam berbagai uji klinis di mana obat penurun tekanan darah belum diberikan pada malam hari tetapi secara rutin diberikan di pagi hari.

 

Meskipun demikian, masalah yang dihadapi adalah apakah kita dapat mengurangi kejadian kardiovaskular dengan memberi dosis obat anti hipertensi pada malam hari.

 

Beberapa penelitian kecil telah melihat secara khusus respons tekanan darah secara malam hari dibandingkan dengan dosis pagi dengan berbagai obat penurun tekanan darah agen.

 

Sebuah penelitian kecil menunjukkan kontrol tekanan darah malam hari yang lebih baik apabila obat diberikan setiap malam dibandingkan dengan dosis pagi hari dari ACE-inhibitor (quinapril), meskipun tekanan darah pada siang hari adalah sama dibandingkan dengan kelompok kontrol.

 

Studi kecil lainnya tidak dapat menunjukkan efek yang berbeda pada tekanan darah setiap malam dibandingkan dengan dosis pagi atenolol, nifedipin, atau amlodipin. Khususnya, tak satu pun dari studi kecil ini melihat outcome kardiovaskular jangka panjang, seperti kematian kardiovaskular, infark miokard, atau stroke.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, dua penelitian prospektif besar diterbitkan yang menilai outcome kardiovaskular dengan menggunakan obat antihipertensi dosis malam hari. Penelitian pertama adalah uji klinis Heart Outcomes Prevention Evaluation (HOPE), yang menunjukkan bahwa ramipril dosis harian (selain pengobatan lainnya), dibandingkan dengan rejimen yang tidak mencakup obat golongan ACE Inhibitor lainnya, secara signifikan menurunkan semua outcome kardiovaskular.

 

Salah temuan penting dari percobaan HOPE adalah bahwa hanya setengah dari subyek yang diteliti memiliki hipertensi, dan hanya sebagian kecil dari manfaat tersebut yang dikaitkan dengan pengurangan tekanan darah.

 

Penelitian Controlled Onset Verapamil Investigation of Cardiovascular End Points (CONVINCE) adalah satu-satunya percobaan prospektif besar yang membandingkannya dengan dosis agen anti hipertensi (controlled-onset extended-release verapamil) dengan dosis agen anti hipertensi lainnya (hidroklorotiazid atau atenolol).

 

Penelian CONVINCE tidak dapat menunjukkan superioritas obat yang diberikan pada malam hari sehingga tidak mendukung konsep chronotherapeutic.

 

Kesimpulannya, Terdapat data penelitian yang saling bertolak belakang terkait dengan manfaat pemberian obat penurun tekanan darah baik pada malam atau pagi hari. Jadi untuk saat ini, jadwal pemberian obat anti hipertensi dapat ditentukan oleh faktor lain seperti kenyamanan, persetujuan dengan pemberian obat lain untuk menumbuhkan kepatuhan, dan waktu untuk meminimalkan efek tak diinginkan (misalnya, pemberian malam hari untuk obat-obatan yang dapat menyebabkan hipotensi ortostatik dan bisa mengakibatkan jatuh).

 

 

Referensi:

  1. Willich SN, Levy D, Rocco MB, et al. Circadian variation in the incidence of sudden cardiac death in the Framingham Heart Study population. Am J Cardiol. 1987;60(10):801-806.
  2. Cohen MC, Rohtla KM, Lavery CE, et al. Meta-analysis of the morning excess of acute myocardial infarction and sudden cardiac death. Am J Cardiol. 1997;79(11):1512-1516.
  3. Sica DA, White W. Current Concepts of Pharmacotherapy in Hypertension — Chronotherapeutics and Its Role in the Treatment of Hypertension and Cardiovascular Disease. J Clin Hypertens (Greenwich). 2000;2(4):279-286.
  4. Yusuf S, Sleight P, Pogue J, et al. Effects of an angioten-sin-converting-enzyme inhibitor, ramipril, on cardiovascular events in high-risk patients. The Heart Outcomes Prevention Evaluation Study Investigators. N Engl J Med. 2000;342(3):145-153.
  5. Svensson P, de Faire U, Sleight P, et al. Comparative effects of ramipril on ambulatory and office blood pressures: a HOPE Substudy. Hypertension. 2001;38(6):E28-E32.
  6. Black HR, Elliott WJ, Grandits G, et al., for the CONVINCE Research Group. Principal results of the Controlled Onset Verapamil Investigation of Cardiovascular End Points (CONVINCE) trial. JAMA. 2003;289(16):2073-2082.
herbal

Pengobatan Darah Tinggi Dengan Herbal

Banyak orang beranggapan bahwa pengobatan dengan menggunakan obat kimiawi akan menimbulkan efek samping. Salah satu yang paling dipercayai masyarakat adalah: mengkonsumsi obat anti hipertensi dalam waktu yang lama akan membuat ginjal menjadi rusak. Kepercayaan ini menyebabkan sebagian orang mengalihkan pengobatan darah tinggi mereka dengan mengkonsumsi herbal atau pengobatan alternatif. Lalu, apakah pengobatan alternatif tersebut dapat memberikan efek penurunan tekanan darah? Apakah pengobatan alternatif tersebut aman sebagai pengganti pengobatan darah tinggi dengan obat anti hipertensi? Artikel ini akan memberikan gambaran terkait dengan efektivitas dan bukti ilmiah penggunaan herbal dalam pengobatan darah tinggi.

pengobatan darah tinggi
Background image created by Valeria_aksakova – Freepik.com

PERHATIAN: Semua herbal dan pengobatan alternatif di bawah ini memiliki bukti ilmiah sekedar mewakili laporan yang tidak didasarkan pada analisis ilmiah terhadap suatu outcome klinis. Contohnya adalah hanya berdasarkan laporan kasus, seri kasus, pendapat ahli dan kesimpulan yang ditarik secara tidak langsung berdasarkan penelitian ilmiah.

 

Intervensi yang dapat mengurangi tekanan darah sistolik ≥ 7 mmHg dibandingkan dengan kontrol berdasarkan uji coba acak tanpa hasil klinis untuk pengobatan darah tinggi

 

TanamanVitamin dan anti oksidanPengobatan alternatif
·  Bawang Putih

·  Susu Kedelai

·  Ekstrak Tomat

·  Jus Bit

·  Ekstrak Hawthorn

·  Salvia Miltiorrhiza (Fufang Danshen)

·   Kombinasi Vitamin Antioksidan

·   Stevioside

 

·   Tai Chi

·   Program Kelompok Berbasis Agama

 

 

Intervensi yang mungkin mengurangi tekanan darah berdasarkan uji coba acak tanpa hasil klinis untuk pengobatan darah tinggi

 

Vitamin dan mineralMakananSuplemen HerbalPengobatan Alternatif
·  Vitamin D

·  Kombinasi Vitamin Antioksidan

·  Vitamin C

·  Vitamin E (Tapi Bukti Tidak Konsisten)

·  Kalsium

·  Kalium

·  Kalium + Magnesium

·  Magnesium

· Asam lemak omega-6 (minyak zaitun)

· Asam lemak omega-3 (minyak ikan)

· Coklat hitam

· Bawang putih

· Ekstrak biji kopi hijau

· Buah jambu biji

· Roti yang kaya tepung lupine

· Susu fermentasi

· Produk kedelai

· Ekstrak tomat

· Jus bit

· Glucomannan

· Teh

·  Abana

·  Balsamodendron mukul

·  Biji anggur polifenol (tapi bukti tidak konsisten)

·  Ekstrak hawthorn

·  Hibiscus sabdariffa (teh asam)

·  Jiangya

·  Salvia miltiorrhiza (Fufang Danshen)

·  Berberine

·  Stevioside

·  Ekstrak daun zaitun

·  Panax ginseng (ginseng Asia)

· Akupunktur

· Latihan pernapasan lambat (tapi bukti tidak konsisten)

· Qigong

· Terapi relaksasi, termasuk meditasi

· Tai chi

· Yoga

· Program kelompok berbasis agama

· Cerita yang ditargetkan secara kultural

· Biofeedback

 

 

Intervensi yang ternyata tidak efektif untuk menurunkan tekanan darah pada pengobatan darah tinggi

  1. Kalsium plus vitamin D
  2. Kalsium plus magnesium
  3. Kalsium plus potassium
  4. Jus anggur Concord
  5. Ginseng Amerika Utara
  6. Ekstrak kulit pinus
  7. Koenzim Q10

 

 

Referensi

  1. DynaMed Plus [Internet]. Ipswich (MA): EBSCO Information Services. 1995 – . Record No. 204619, Hypertension alternative treatments; [updated 2017 Nov 21, cited place cited date here]; [about 29 screens]. Available from http://www.dynamed.com/login.aspx?direct=true&site=DynaMed&id=204619 Registration and login required
diskusi pasien dokter

Mitos VS Fakta Tekanan Darah Tinggi

Pernahkah anda merasa khawatir dengan tekanan darah anda, keluarga, atau teman anda yang tinggi? AHA dan ACC di Amerika Serikat baru saja menerbitkan pedoman hipertensi yang menyebabkan hampir setengah populasi dewasa di Amerika mengalami darah tinggi. Hipertensi apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan lainnya termasuk penyakit jantung dan stroke. Mengetahui lebih banyak terkait tekanan darah tinggi (hipertensi) dapat membantu anda untuk mencegah hipertensi. Anda dapat memulai mempelajari fakta-fakta terkait dengan hipertensi. Artikel ini memuat lima mitos terkait hipertensi yang paling sering dibicarakan dan bagaimana fakta sebenarnya.

darah tinggi
Health image created by Welcomia – Freepik.com

 

MITOS 1: Darah Tinggi Bukan Merupakan Suatu Masalah yang Besar

Pada awalnya, seseorang tidak akan menyadari gejala darah tinggi, sehingga tidak menjadi perhatian. Meskipun demikian, peningkatan tekanan darah yang berlangsung terlalu lama dapat MEMBUNUH SESEORANG.

 

Pada kondisi normal, jantung berdetak secara reguler, memompa darah melalui pembuluh darah menuju ke seluruh tubuh. Darah mendapatkan dorongan oleh denyut jantung sehingga darah memberikan dorongan pula ke dinding pembuluh darah. Pada hipertensi darah mendorong pembuluh rdarah terlalu kuat sehingga pembuluh darah dapat menjadi KAKU dan terbentuk PLAK bahkan PECAH. Kondisi tersebut yang menjadi awal dari seluruh masalah.

 

Tekanan darah yang terlalui tinggi dapat memicu kerusakan pada pembuluh darah dan organ lainnya seperti jantung, ginjal, otak, dan organ lainnya. PENYAKIT JANTUNG dan STROKE merupakan kondisi yang paling sering terjadi pada seoseorang dengan menganggap remeh tekanan darah tinggi. Kedua kondisi ini bahkan menjadi penyebab kematian utama di seluruh dunia.

 

Fakta yang menakutkan adalah seseorang penderita hipertensi telah mengalami peningkatan tekanan darah tanpa bisa diketahui. Kondisi ini memberikan hipertensi istilah silent killer.

 

FAKTA 1: Darah Tinggi Merupakan Masalah Yang Besar

 

MITOS 2: Hipertensi Tidak Dapat Dicegah

Bila seseorang memiliki anggota keluarga atau saudara yang menderita hipertensi. Maka, orang tersebut berada pada sekelompok orang yang memiliki RISIKO HIPERTENSI yang lebih besar. Faktor ini disebut sebagai faktor risiko hipertensi yang tidak dapat dirubah. Faktor risiko hipertensi lainnya dapat dilihat pada tabel berikut.

Faktor risiko yang dapat diubahFaktor risiko yang relatif tetap
  • Perokok aktif, perokok pasif
  • Diabetes mellitus
  • Dislipidemia/Hiperkolesterolemia
  • Obesitas/Kelebihan berat badan
  • Kurang aktifitas fisik
  • Diet tidak sehat
  • Gagal ginjal kronik
  • Riwayat keluarga
  • Peningkatan usia
  • Tingkat pendidikan dan sosial ekonomi yang rendah
  • Laki-laki
  • Obstructive sleep apnea
  • Stres psikososial

 

Meskipun demikian, bukan berarti seseorang yang memiliki beberapa faktor risiko pasti menderita tekanan darah tinggi. Terdapat beberapa langkah yang dapat diakukan untuk mencegah hipertensi:

dokter stress
Background image created by Luis_molinero – Freepik.com
  • Pertahankan berat badan anda pada berat badan ideal. Kondisi ini dapat dicapai dengan melakukan kombinasi diet sehat dan olahraga rutin
  • Konsumsi diet sehat. Hal ini dilakukan dengan hanya mengkonsumsi sejumlah makan yang dibutuhkan tubuh dan memilih makanan dengan nutrisi tinggi dan rendah lemak, gula, dan garam
  • Batasi konsumsi garam. Terlalu banyak konsumsi garam akan mengakibatkan peningkatan tekanan darah
  • Jangan merokok dan batasi paparan asap rokok (perokok pasif)
  • Lakukan olahraga rutin. Lakukan minimal olahraga kecil selama minimal 30 menit setiap hari, 5 hari dalam seminggu. Olahraga juga dapat menghilangkan stress dan membantu mengontrol berat badan
  • Jangan biarkan stress mengganggu. Zat kimia pada tubuh (hormon) dapat merespons stress dan mengakibatkan denyut jantung yang semakin keras dan cepat sehingga tekanan darah akan meningkat.

 

Tanyakan kepada dokter terkait dengan tekanan darah tinggi dan bagaimana mencegahnya.

 

FAKTA 2: Hipertensi Dapat Dicegah

 

MITOS 3: Tidak Masalah Apabila Hanya Salah Satu Nilai Tekanan Darah Tinggi

Ketika dilakukan pengukuran tekanan darah maka akan diukur 2 nilai yaitu tekanan darah sistolik dan tekanan darah diaslotik. Tekanan darah sistolik mewakili tekanan ketika darah melewati pembuluh darah saat jantung memompa darah. Tekanan darah diastolik mewakili tekanan ketika darah melewati pembuluh darah saat darah kembali ke jantung.

 

Banyak orang beranggapan bahwa tekanan darah sistolik harus lebih diperhatikan dibandingkan tekanan darah diastolik. Akan tetapi, faktanya tekanan darah sistolik memiliki toleransi peningkatan yang lebih besar dibandingkan tekanan darah diastolik.

 

Tekanan darah akan selalu berubah sepanjang hari dan sangat bergantung pada aktivitas. Tekanan darah sistolik akan cenderung meningkat seiring dengan usia namun kebalikannya pada tekanan darah diastolik. Klasifikasi tekanan darah dapat dilihat pada tabel berikut.

Kategori Tekanan DarahSistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal< 120Dan< 80
Meningkat120-129< 80
Hipertensi Stadium I130-139Atau80-89
Hipertensi Stadium II≥ 140≥ 90

 

 

Jika seseorang mengalami peningkatan tekanan darah baik hanya pada salah satu tekanan darah sistolik atau diastolik maka orang tersebut harus bertemu dengan dokter. Dokter akan membuat rencana pengobatan tekanan darah tinggi sebelum kondisi tersebut menyebabkan kerusaka pada organ laiinya.

 

FAKTA 3: Peningkatan Hanya Satu Komponen Tekanan Darah Juga Merupakan Masalah

 

MITOS 4: Pengobatan Tekanan Darah Tinggi Tidak Menyenangkan

Sebagian besar orang akan berpikir harus berhenti mengkonsumsi makanan kesukaan dan minum obat dengan efek samping yang mengganggu apabila menjalani pengobatan tekanan darah tinggi.

Memang benar perlu beberapa saat untuk mengembangkan rencana pengobatan yang paling sesuai untuk seseorang, karena tekanan darah tinggi seringkali memiliki beberapa penyebab mendasar. Dalam banyak kasus, penyebab spesifik tekanan darah tinggi mungkin tidak jelas.

diskusi dokter pasien
People image created by Iaros – Freepik.com

Dokter akan bekerja sama dengan penderita hipertensi untuk menentukan kombinasi perawatan yang mana yang paling sesuai untuk mengendalikan tekanan darah tinggi. Rencana perawatan tersebut kemungkinan akan mencakup unsur-unsur berikut:

  • Diet DASH
  • Mengontrol berat badan
  • Mengurangi konsumsi alkohol
  • Berhenti merokok
  • Pemberian obat anti hipertensi, seperti obat golongan
    • Diuretik
    • ACE inhibitor dan CCB
    • Beta bloker

 

FAKTA 4: Dokter Akan Selalu Berusaha Melakukan Pengobatan Hipertensi Yang Paling Sesuai Dengan Penderita Hipertensi

 

MITOS 5: Pengobatan Hipertensi Tidak Berjalan Dengan Baik

Sebenarnya, jika penderita hipertensi bekerja sama dengan dokter untuk mengembangkan program komprehensif untuk mengelola tekanan darah tinggi, rencana itu bisa berhasil. Untuk memaksimalkan manfaat rencana pengobatan maka dapat mengikuti langkah-langkah ini:

 

  • Periksa tekanan darah sesering yang direkomendasikan oleh dokter.
  • Ikuti rencana perawatan secara konsisten. Sampaikan kepada dokter jika terdapat masalah dengan bagian-bagian rencana pengobatan.
  • Temui dokter sesering yang diminta. Bawa catatan tekanan darah untuk menunjukkan kepada dokter bagaimana rencana pengobatan berjalan baik.
  • Mintalah dokter atau apoteker untuk menjelaskan tentang efek samping obat anti hipertensi. Ketahuilah kapan harus menghubungi dokter anda jika ada masalah.
  • Kurangi konsumsi garam.
  • Belajar tentang tekanan darah tinggi dan bagaimana hal itu bisa membahayakan kesehatan merupakan langkah pertama dalam mengendalikan kondisi sehingga bisa tetap sehat selama bertahun-tahun yang akan datang.

 

Jika rencana pengobatan berhasil dan anda mendapatkan tekanan darah normal maka jangan pernah berpikir untuk berhenti dengan rencana pengobatan tersebut. Hipertensi dapat menjadi penyakit seumur hidup. Tetap ikuti rekomendasi dokter bahkan jika anda harus mengkonsumsi obat anti hipertensi se-umur hidup

 

FAKTA 5: Pengobatan Hipertensi Dapat Berjalan Dengan Baik Apabila Terjadi Kerjasama Antara Penderita Dengan Dokter

 

 

 

diet golongan darah

Diet DASH bagi Penderita Darah Tinggi

Darah tinggi masih menjadi salah satu masalah kesehatan di seluruh dunia. ACC/AHA baru saja merevisi pedoman tatalaksana hipertensi dan menempatkan tekanan darah 130/80 mmHg sebagai diagnosis hipertensi. Meskipun demikian tidak semua pasien darah tinggi harus ditatalaksana dengan pemberian obat. Tatalaksana yang paling dianjurkan adalah modifikasi gaya hidup. Modifikasi yang dapat dilakukan antara lain dengan mengatur pola makan sesuai dengan Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH). Diet DASH merupakan salah satu metode diet sehat yang disusun serta telah diteliti dapat menurunkan tekanan darah.

Metode diet ini berfokus pada diet tinggi serat, protein dan lemak sedang, dan rendah lemak jenuh, kolesterol serta garam. Selain itu, diet DASH juga disertai dengan peningkatan konsumsi buah, sayur, gandum, produk rendah lemak, kacang, dan daging tanpa lemak.

diet sehat
Background image created by Schantalao – Freepik.com

Berdasarkan beberapa penelitian metode ini dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan menurunkan kejadian darah tinggi. Metode diet ini dan pengurangan konsumsi garam (2,300 mg/hari) dapat menurunkan tekanan darah dan lebih efektif apabila dilakukan secara bersamaan.

Peningkatan kepatuhan terhadap diet DASH juga berhubungan terhadap penurunan risiko kardiovaskular, mortalitas, infark miokard, dan stroke. Selain itu, diet ini dapat menurunkan kadar lemak dan homosistein.

 

Rencana Nutrisi Diet DASH

diet DASH
Background image created by Freepik

Target nutrisi harian (untuk diet sebesar 2.100 kkal)

Lemak total 27% dari total kkal

Lemak jenuh 6% dari total kkal

Protein 18% dari total kkal

Karbohidrat 55% dari total kkal

Diet serat 30 gram

Kolesterol 150 mg

Garam 2.300 mg

Kalsium 1.250 mg

Magnesium 500 mg

 

 

Contoh menu makan berdasarkan diet DASH untuk kebutuhan kalori 2.000 kkal/hari
o 6-8 porsi / hari gandum (1 porsi = 1 roti iris; 1 ons sereal kering; 1/2 gelas [64 gr] nasi, pasta, atau sereal)
o 4-5 porsi sayuran (1 porsi = 1 cangkir sayuran berdaun mentah, 1/2 cangkir sayuran mentah atau dimasak, 1/2 cangkir jus sayuran)
o 4-5 porsi / hari buah (1 porsi = 1 buah buah sedang; 1/4 cangkir buah kering; 1/2 cangkir buah segar, beku atau kaleng; 1/2 cangkir jus buah)
o 2-3 porsi / hari susu bebas lemak atau susu rendah lemak dan produk susu lainnya (1 porsi = 1 cangkir susu atau yogurt, 1 1/2 ons keju)
o 6 porsi atau kurang / hari dari daging, unggas, ikan, atau telur tanpa lemak (1 porsi = 1 ons daging, unggas atau ikan utuh; 1 butir telur utuh)
o 4-5 porsi / minggu kacang-kacangan dan biji-bijian (1 porsi = 1/3 cangkir atau 1 1/2 ons kacang; 2 sendok makan selai kacang; 2 sendok makan atau 1/2 ons biji; 1/2 cangkir kacang polong dimasak [ kacang kering dan kacang polong])
o 2-3 porsi / hari lemak dan minyak (1 porsi = 1 sendok teh margarin lembut, 1 sendok teh minyak sayur, 1 sendok makan mayones, 2 sendok makan saus salad)
o 5 porsi atau kurang / permen dan gula tambahan (1 porsi = 1 sendok makan gula, jeli, atau selai; 1/2 cangkir sorbet, gelatin; 1 gelas limun)

Rencana menu harian lainnya dapat dilihat di pedoman berikut: UNDUH DI SINI

Ringkasan Pedoman Hipertensi ACC/AHA 2017

krisis hipertensiPada tanggal 13 November 2017, American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC) mengeluarkan pedoman hipertensi terbaru. Pedoman ini berisikan banyak perubahan besar dalam pengelolaan hipertensi. Salah satu lompatan terbesar pedoman ini adalah perubahan klasifikasi atau bahkan definisi hipertensi dimana sebelumnya hipertensi dinyatakan sebagai peningkatan tekanan darah arteri sistemik yang menetap dimana tekanan darah sistolik  ≥ 140 Hgmm atau tekanan darah diastolik  ≥ 90 mmHg. Pada pedoman hipertensi tersebut maka hipertensi ditetapkan apabila tekanan darah sistolik  ≥ 130 mmHg atau tekanan darah diastolik  ≥ 80 mmHg. Penurunan 10 poin pada tekanan darah sistolik dan diastolik tersebut menyebabkan 103 juta penduduk Amerika Serikat mengalami hipertensi dan harus menjalani diet, perubahan gaya hidup (berolahraga) dan mengkonsumsi obat anti hipertensi. Seluruh hal tersebut harus dijalani untuk mengurangi risiko terhadap kejadian serangan jantung dan stroke. Artikel ini akan memberikan ringkasan pedoman tersebut.

Untuk memahami rekomendasi dan kualitas bukti pada ringkasan pedoman ini maka harus merujuk kepada kelas (kekuatan) rekomendasi dan tingkat (kualitas) bukti dari ACC/AHA pada tahun 2015 yang ditunjukkan pada gambar berikut.

Rekomendasi Dapat Diunduh Pada Link Berikut

Klik Disini

 

Ringkasan Pedoman Terkait Tekanan darah dan Risiko Kardiovaskular

  • Penelitian observasional menunjukkan hubungan antara tekanan darah sistolik dan diastolik tinggi dengan peningkatan risiko kardiovakular.
  • Meta analisis dari 61 penelitian prospektif menunjukkan bahwa
    • Risiko kardiovaskuler meningkat secara log-linier pada tekanan darah sistolik <155 mmHg hingga > 180 mmHg dan tekanan darah diastolik < 75 mmHg hingga > 105 mmHg
    • Peningkatan tekanan darah sistolik 20 mmHg dan diastolik 10 mmHg berhubungan dengan peningkatan risiko stroke, penyakit jantung, dan penyakit vaskular lainnya sebesar 2 kali lipat.
    • Lebih dari 1 juta pasien berusia ≥30 tahun yang mengalami peningkatan tekanan darah juga memiliki hubungan terkait peningkatan insiden kejadian kardiovaskular dan angina, infark miokard, gagal jantung, stroke, penyakit arteri perifer.
    • Meskipun risiko relatif insiden kardiovaskular dengan tekanan darah sistolik dan diastolik sangat kecil pada usia tua, peningkatan tekanan darah memiliki risiko absolut lebih besar pada usia ≥ 65 tahun.

 

Ringkasan Pedoman Terkait Komponen Tekanan Darah

Ringkasan Pedoman
Designed by Pressfoto / Freepik

Pedoman terbaru juga memuat komponen tekanan darah. Komponen tekanan darah tersebut dapat dimuat dalam ringkasan pedoman ini sebagai berikut.

Pengukuran Tekanan DarahDefinisi
Tekanan darah sistolikSuara Korotkoff Pertama
Tekanan darah DiastolikSuara Korotkoff Kelima
Tekanan PulsasiTekanan darah sistolik dikurangi tekanan darah diastolik
Tekanan arteri rata-rata (Mean Arterial Pressure)Tekanan Darah Diastolik ditambah sepertiga tekanan pulsasi atau dapat dirumuskan sebagai ( 2 kali tekanan diastol ditambah tekanan sistolik dibagi 3)+        
Tekanan tekanan darah tengah (Mid-BP)Penjumlahan tekanan darah sistolik dan diastolik dibagi 2.

+ perhitungan diasumsikan pada tekanan nadi normal

 

Ringkasan Pedoman Terkait Risiko Populasi

  • Tekanan darah tinggi merupakan penyebab kematian dan hendaya terbesar di seluruh dunia pada tahun 2010.
  • Di Amerika Serikat, hipertensi menyebabkan kematian akibat kardiovaskular terbesar dibanding faktor risiko yang dapat diubah kardiovaskular lainnya.
  • National Health and Nutrition Examination Survey menunjukkan bahwa >50% kematian karena penyakit jantung koroner dan stroke terjadi pada orang hipertensi.
  • Tingginya prevalensi hipertensi berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, stroke dan gagal ginjal stadium akhir.

Rekomendasi Ringkasan Pedoman Praktik Klinis Hipertensi ACC/AHA 2017 Dapat DiUnduh Pada Link Berikut

Klik Di Sini

 

 

Referensi

  1. 2017 Hypertension Guidelines Programming. American Heart Association’s annual scientific sessions, Anaheim, California. November 13, 2017.
  2. P.K. Whelton et al. 2017 ACC/AHA/AAPA/ABC/ACPM/AGS/APhA/ASH/ASPC/NMA/PCNA Guideline for the prevention, detection, evaluation and management of high blood pressure in adultsHypertension. Published November 13, 2017. doi: 10.1161/HYP.0000000000000065.
  3. P.K. Whelton et al. 2017 ACC/AHA/AAPA/ABC/ACPM/AGS/APhA/ASH/ASPC/NMA/PCNA Guideline for the prevention, detection, evaluation and management of high blood pressure in adultsJournal of the American College of Cardiology. November 2017. doi: 10.1016/j.jacc.2017.11.006.

Pedoman Hipertensi ACC/AHA 2017

Pada tanggal 13 November 2017, American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC) mengeluarkan pedoman hipertensi terbaru. Pedoman ini berisikan banyak perubahan besar dalam pengelolaan hipertensi. Salah satu lompatan terbesar pedoman ini adalah perubahan klasifikasi atau bahkan definisi hipertensi dimana sebelumnya hipertensi dinyatakan sebagai peningkatan tekanan darah arteri sistemik yang menetap dimana tekanan darah sistolik  ≥ 140 Hgmm atau tekanan darah diastolik  ≥ 90 mmHg. Pada pedoman hipertensi tersebut maka hipertensi ditetapkan apabila tekanan darah sistolik  ≥ 130 mmHg atau tekanan darah diastolik  ≥ 80 mmHg.

 

krisis hipertensi 2

Penurunan 10 poin pada tekanan darah sistolik dan diastolik tersebut menyebabkan 103 juta penduduk Amerika Serikat mengalami hipertensi dan harus menjalani diet, perubahan gaya hidup (berolahraga) dan mengkonsumsi obat anti hipertensi. Seluruh hal tersebut harus dijalani untuk mengurangi risiko terhadap kejadian serangan jantung dan stroke.

Paul Whelton dari Tulane University School of Public Health and Tropical Medicine di New Orleans, Amerika serikat selaku penulis utama pedoman hipertensi ACC dan AHA tersebut, menyatakan bahwa:

 

 

Penelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukkan hubungan tekanan darah yang rendah memiliki korelasi dengan risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah. Pembaruan pada rekomendasi ini “akan meningkatkan kesehatan kardiovaskular pada komunitas dewasa di Ameriksa Serikat”.

Tabel di bawah ini menunjukkan perbedaan klasifikasi antara pedoman hipertensi JNC VII dan pedoman hipertensi ACC/AHA tahun 2017.

Kategori Hipertensi Menurut JNC VII

Kategori Tekanan DarahSistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal< 120Dan< 80
Prehipertensi120-139Atau80-89
Hipertensi Stadium I140-15990-99
Hipertensi Stadium II≥ 160≥ 100
Krisis Hipertensi

(membutuhkan penangan gawat darurat)

 > 180 > 110

 

 

pedoman hipertensi

Beberapa penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa tekanan darah sistolik 130-140 mmHg menunjukkan risiko serangan jantung dan stroke 2 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan tekanan darah sistolik normal. Definisi terbaru ini dapat menjadi suatu hal yang mendasar dalam pencegahan tekanan darah tinggi.

 

Apakah obat anti hipertensi harus diberikan pada orang dengan hipertensi stadium 1 menurut pedoman hipertensi terbaru?

krisis hipertensi

Perubahan gaya hidup tetap merupakan rekomendasi tatalaksana lini pertama pada orang dengan peningkatan tekanan darah. Bagi mereka yang berada dalam hipertensi stadium satu, dimana tekanan darah sistolik 130 sampai 139 dan tekanan darah diastolik 80 sampai 89, pemberian obat anti hipertensi akan tergantung pada riwayat pasien apakah pernah menderita serangan jantung atau stroke.

 

 

Selain itu, pemberian obat anti hipertensi juga perlu mempertimbangkan risiko serangan jantung atau stroke lebih besar dari 10% pada 10 tahun mendatang.

 

Pedoman baru ini tidak diharapkan untuk  mengobati hipertensi selalu dengan obat anti hipertensi.

Pedoman ini adalah pendekatan baru untuk manajemen tekanan darah. Yang terpenting, kita benar-benar perlu melipatgandakan usaha kita untuk memperbaiki pola makan kita dan meningkatkan aktivitas fisik (gaya hidup sehat).

Perubahan kecil itu penting – Anda tidak perlu membuat perubahan besar sekaligus untuk mengontrol tekanan darah anda.

 

Referensi:

  1. 2017 Hypertension Guidelines Programming. American Heart Association’s annual scientific sessions, Anaheim, California. November 13, 2017.
  2. P.K. Whelton et al. 2017 ACC/AHA/AAPA/ABC/ACPM/AGS/APhA/ASH/ASPC/NMA/PCNA Guideline for the prevention, detection, evaluation and management of high blood pressure in adultsHypertension. Published November 13, 2017. doi: 10.1161/HYP.0000000000000065.
  3. P.K. Whelton et al. 2017 ACC/AHA/AAPA/ABC/ACPM/AGS/APhA/ASH/ASPC/NMA/PCNA Guideline for the prevention, detection, evaluation and management of high blood pressure in adultsJournal of the American College of Cardiology. November 2017. doi: 10.1016/j.jacc.2017.11.006.
organ target krisis hipertensi

Krisis Hipertensi: Rekomendasi Tatalaksana

Krisis hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah berat (severe). Kondisi ini diklasifikasikan dengan kriteria:

  • Tekanan darah sistolik: > 180 mmHg

Atau

  • Tekanan darah diastolik: > 120 mmHg.

 

Selanjutnya, kondisi krisis hipertensi juga dapat diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:

  1. Hipertensi emergensi: peningkatan tekanan darah berat disertai dengan kerusakan organ target (end organ damage)
  2. Hipertensi urgensi: peningkatan tekanan darah berat tanpa disertai dengan kerusakan organ target (end organ damage)
  • Kebanyakan pasien asimptomatik
  • Terapi hipertensi yang tepat dapat mencegah hipertensi emergensi

 

Hingga saat ini penyebab utama kondisi krisis hipertensi adalah pengobatan hipertensi yang tidak adekuat atau ketidakpatuhan terhadap rejimen pengobatan. Pencegahan kondisi ini dapat dilakukan dengan pengobatan baik hipertensi primer atau sekunder yang adekuat.

krisis hipertensi

Evaluasi Pasien dengan Krisis Hipertensi

  • Pasien dengan hipertensi berat perlu dilakukan anamnesis dan pemeriksaan yang mendetail untuk menentukan tanda atau gejala kerusakan organ target
  • Membedakan hipertensi emergensi dan urgensi membutuhkan pemeriksaan tambahan untuk mengevaluasi fungsi serta kerusakan serebral, kardiovaskular, renal, dan hematologi.
    • Pemeriksaan darah termasuk elektrolit, fungsi ginjal, dan darah lengkap
    • Biomarker jantung
    • Urinalisis (proteinuria atau hematuria konsisten dengan kerusakan glomerular)
    • Skrining toksikologi
    • Elektrokardiografi
    • Pemeriksaan nervus optikus secara hati-hati untuk melihat tanda hipertensi intrakranial (jika memungkinkan dengan kondisi pupil dilatasi)
    • Pemeriksaan radiologis berdasarkan sangkaan klinis terhadap
    •  berbagai kondisi spesifikkrisis hipertensi 2 termasuk:
      • Rongent thoraks (untuk tanda gagal jantung kiri)
      • CT Scan thoraks atau MRI pada pasien dengan pulsasi yang tidak sama dan metiastinum melebar pada rongent thoraks untuk menilai aneurisma/diseksio aorta
      • Ekokardiografi transthorakal pada pasien yang datang dengan edema pulmoner – untuk membedakan disfungsi diastolik, disfungsi sistolik transient dan regurgitasi mitral
      • Ekokardiografi transesofageal tidak direkomendasikan pada pasien dengan diseksio aneurisma aorta hingga tekanan darah adekuat tercapai
    • Pertimbangkan penyebab sekunder untuk hipertensi

 

 

Manajemen Pasien dengan Krisis Hipertensi

  • Berikan NaCl 0,9% (normal saline) bila status volume pasien berkurang. Nilai kembali status volume pasien karena pasien dapat menjadi hipovolemik selama pengobatan dan membutuhkan cairan yang adekuat untuk perfusi jaringan
  • Untuk hipertensi urgensi:
    • Pasien ditatalaksana tanpa bukti kerusakan organ target dengan salah satu obat oral berikut:
      • Nikardipin 20-40 mg PO setiap 8 jam
      • Captopril 25 mg PO setiap 8 sampai 12 jam
      • Labetolol dosis awal 200 mg PO, kemudia dilanjutkan dengan dosis 200-400 mg setelah 6 sampai 12 jam dari dosis awal jika dibutuhkan.
    • Normalisasi tekanan darah secara bertahap selama 24-48 jam. Penurunan tekanan darah secara cepat dapat menyebabkan penurunan perfusi organ yang berbahaya.
  • Untuk hipertensi emergensi:
    • Rawat pasien (jika memungkinkan di ICU) untuk pemberian obat intravena dan tatalaksana kerusakan organ target
    • Pada kebanyakan pasien, target penurunan tekanan darah adalah sekitar 10-15% dalam 1 jam pertama
    • Obat intravena dan dosisi yang digunakan untuk tatalaksana hipertensi emergensi antara lain:
      • Nicardipine dengan dosis titrasi awal 5 mg/jam, dinaikkan 2,5 mg/jam setiap 5 menit hingga maksimal 15 mg/jam
      • Natrium nitropruside 0,3-0,5 mcg/kgBB/menit, dinaikkan 0,5 mcg/kgBB/menit setiap beberapa menit sesuai dengan kebutuhan hingga dosis maksimal 10 mcg/kgBB/menit
      • Labetolol 10-20 mg IV dilanjutkan dengan dosis bolus 20-80 mg dengan interval 10 menit hingga target tekanan darah tercapai. Dosis kumulatif maksimal adalah 300 mg.
      • Esmolol dengan dosis loading awal 500 mcg/kgBB/menit selama 1 menit, kemudian 50-100 mcg/kgBB/menit hingga dosis maksimal 300 mcg/kgBB/menit
    • Manajemen spesifik berdasarkan organ target yang mengalami kerusakan antara lain:
      • Diseksi aorta akut
        • Target tekanan darah sistolik < 120 mmHg dalam 5-10 menit dan target denyut nadi ≤ 60 kali/menit
        • Pengobatan biasanya membutuhkan penyekat beta dan vasodilator
        • Pilihan obat adalah esmolol, nicardipine, atau nitroprusside
      • Stroke iskemik akut, untuk pasien dengan:
        • Kandidat trombolisis
          • Gunakan obat antihipertensi intravena jika tekanan darah sistolik > 185 mmHg atau tekanan darah diastolik > 110 mmHg untuk memenuhi syarat pemberian aktivator plasminogen rekombinan (rt-PA) intravena
          • Pertimbangkan penggunaan nicardipine atau labetolol
        • Bukan kandidat trombolisis
          • Jangan berikan obat antihipertensi intravena kecuali tekanan darah sistolik > 220 mmHg atau tekanan darah diastolik > 120 mmHg
          • Target penurunan tekanan darah sekitar 15% selama 24 jam setelah onset stroke
        • Perdarahan intraserebral akut (ICH)
          • Jangan menurunkan tekanan darah sistolik secara agresif hingga < 140 mmHg pada pasien dengan ICH fase akut (24 jam pertama) dan pertahankan tekanan darah sistolik dalam rentang 150-220 mmHg
          • Jika tekanan darah sistolik dalam rentang 150-220 mmHg tanpa bukti peningkatan tekanan intrakranial
            • Bukti terbaru mendukung bahwa target tekanan darah sistolik 140 mmHg aman dan dapat meningkatkan outcome fungsional
            • Pilihan obat intravena adalah nicardipine atau labetolol
          • Jika tekanan darah sistolik > 220 mmHg, pertimbangkan untuk tidak menurunkan tekanan darah sistolik hingga 140 mmHg secara agresif.
        • Ensefalopati hipertensif
          • Hati-hati menurunkan tekanan darah lebih dari 20-25% dalam 1 jam pertama
          • Pilihan obatnya adalah nicardipine atau labetolol
          • Hindari menggunakan nitroprusside karena dapat meningkatkan tekanan intrakranial
        • Infark miokard akut
          • Nitrogliserin merupakan obat pilihan; jangan digunakan jika pasien mendapatkan obat penghambat fosfodiesterase (misalnya: sildenafil atau tadalafil) 48 jamm sebelumnya.
            • Dosis awal adalah 5 mcg/menit ditingkatkan 5 mcg/menit setiap 3-5 menit hingga 20 mcg/menit; jika tidak terdapat respons pada dosis 20 mcg/menit maka dapat ditambahkan 10 atau 20 mcg/menit dalam 3-5 menit kemudian.
            • Alternatif dari nitrogliserin adalah labetalol, esmolol dan nicardipine.
          • Kebanyakan pasien dengan krisis hipertensi memiliki riwayat kontrol hipertensi primer atau sekunder yang buruk. Manajemen jangka panjang menjadi prioritas setelah krisis hipertensi teratasi.

 

Referensi:

  1. Seventh Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7)PDFReference Card PDFExpress Report PDF
  2. Marik PE, Varon J. Hypertensive crises: challenges and management.  2007 Jun;131(6):1949-62, correction can be found in Chest 2007 Nov;132(5):1721
  3. Rhoney D, Peacock WF. Intravenous therapy for hypertensive emergencies, part 1. Am J Health Syst Pharm. 2009 Aug 1;66(15):1343-52EBSCOhost Full Text, correction can be found in Am J Health Syst Pharm 2009 Oct 1;66(19):1687
  4. Varon J, Marik PE. Clinical review: the management of hypertensive crises. Crit Care. 2003 Oct;7(5):374-84full-text
  5. Rhoney D, Peacock WF. Intravenous therapy for hypertensive emergencies, part 2. Am J Health Syst Pharm. 2009 Aug 15;66(16):1448-57EBSCOhost Full Text
  6. Johnson W, Nguyen ML, Patel R. Hypertension crisis in the emergency department. Cardiol Clin. 2012 Nov;30(4):533-43
  7. European Society of Hypertension/European Society of Cardiology (ESH/ESC) guideline on management of arterial hypertension can be found in J Hypertens. 2013 Jul;31(7):1281-357PDF
  8. Papadopoulos DP, Sanidas EA, Viniou NA, et al. Cardiovascular hypertensive emergencies. Curr Hypertens Rep. 2015 Feb;17(2):5