Skip to main content
psoriasis

Langkah Pencegahan Psoriasis & Tips Menghindari Pencetus

Psoriasis merupakan suatu penyakit kulit inflamatorik (peradangan) kronis. Penyakit ini pada umumnya mempengaruhi kulit dan/atau sendi. Psoriasis dapat dicetuskan oleh berbagai jenis obat, infeksi, trauma pada kulit, obesitas, stress dan faktor lingkungan lainnya. Lalu, Apa langkah-langkah Pencegahan Psoriasis dan juga Tips Menghindari Pencetus Psoriasis?

 

Gejala Kekambuhan Psoriasis

Gejala psoriasis dapat bervariasi antara satu orang dengan orang lainnya. Gelaja yang paling sering muncul antara lain:

  • Bercak merah yang ditutupi oleh skuama (sisik) putih mengkilat
  • Kulit kering, pecah-pecah, dan terkadang berdarah
  • Rasa gatal dan sensasi kulit terbakar
  • Kuku tidak rata
  • Sendi kaku dan bengkak
pencegahan psoriasis
By User:The Wednesday Island (of the English Wikipedia) – http://en.wikipedia.org/wiki/Image:Psoriasis_on_back.jpg, CC BY-SA 3.0, Link
psoriasis pada kuku
By JVO27 [CC BY-SA 4.0], from Wikimedia Commons

Bagaimana Langkah Pencegahan Psoriasis

Gejala psoriasis dapat muncul dan kemudian menghilang, tapi tidak terdapat suatu metode untuk menyembuhkan kondisi ini.

Jalan terbaik yang dapat dilakukan adalah untuk mencegah gejala-gejala tersebut muncul.

Pencegahan psoriasis terbaik adalah dengan menghindari pencetus yang telah diketahui.

Pencetus psoriasis juga berbeda pada setiap orang. Jadi, langkah pertama yang paling penting adalah mendeteksi faktor apa yang membuat penderita psoriasis mengalami gejala.

Mengetahui faktor yang dapat meringankan gejala juga penting.

Berikut ini beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk pencegahan psoriasis

 

Langkah-Langkah Pencegahan Psoriasis

Mengurangi Stress

Stress yang muncul karena kehidupan sehari-hari memang memiliki dampak buruk bagi setiap orang. Stress juga merupakan masalah yang terjadi pada orang yang mengalami psoriasis.

Tubuh cenderung memiliki reaksi inflamasi terkait stress. Respons inilah yang menyebabkan kekambuhan pada psoriasis.

Mengurangi tingkat stress sebisa mungkin adalah hal yang penting. Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengurangi stress:

  • Psikoterapi
  • Yoga
  • Meditasi dan Teknik Relaksasi Lainnya

 

Hindari Konsumsi Beberapa Jenis Obat

Beberapa jenis obat dapat mempengaruhi respon sistem imun tubuh dan menyebabkan peradangan. Kondisi ini tentu saja akan mencetuskan psoriasis.

Beberapa obat ini harus dihindari dalam langkah pencegahan psoriasis.

  • Lithium
  • Obat anti malaria
  • Indometasin

 

Pastikan bahwa dokter mengetahui obat bebas apa yang Anda konsumsi. Dokter akan menukar obat dengan jenis obat lainnya bila obat-obat di atas dikhawatirkan dapat mencetuskan psoriasis.

psoriasis kulit
Background vector created by Brgfx – Freepik.com

Hindari Cedera Pada Kulit

Cedera pada kulit dapat mencetuskan psoriasis pada beberapa orang. Kondisi in disebut sebagai Fenomena Koebner.

Cedera kulit yang umum seperti garukan atau terbakar sinar matahari merupakan pencetus psoriasis.

Rawat kulit anda untuk mencegah cedera pada kulit. Lakukan tips berikut untuk menghindari cedera kulit ketika Anda melakukan aktivitas:

  • Gunakan tabir surya dan gunakan topi ketika beraktivitas di luar rumah
  • Gunakan lengan panjang dan sarung tangan ketika berkebun
  • Gunakan semprotan anti serangga ketika beraktivitas di luar rumah

Kunjungi dokter ketika gejala psoriasis muncul setelah cedera pada kulit. Bila cepat ditangani maka pengobatan dapat dilakukan secara efektif.

 

Hindari Infeksi

Infeksi merupakan salah satu penyebab psoriasis. Kondisi ini akan meningkatkan stress pada sistem imun yang menyebabkan reaksi peradangan.

Radang tenggorokan diketahui memiliki hubungan dengan onset psoriasis guttate khususnya pada anak-anak.

Tapi, gejala psoriasis juga dapat muncul setelah infeksi telinga, tonsilitis, atau infeksi paru-paru dan infeksi kulit lainnya.

Penting untuk menemui dokter, jika Anda mencurigai adanya infeksi. Jika Anda mengalami cedera kulit, seperti goresan atau luka, pastikan untuk membersihkannya dengan benar dan tetap tertutup untuk mencegah infeksi. Cara lain untuk mencegah infeksi termasuk:

  • sering mencuci tangan sepanjang hari
  • menghindari berbagi makanan, minuman, atau peralatan makan dengan orang lain
  • membatasi paparan dengan orang-orang yang sakit, terutama anak-anak

 

Identifikasi hal-hal yang dapat mencetuskan psoriasis merupakan hal penting dalam pencegahan psoriasis. Mengikuti rencana pengobatan dan menghindari pencetus akan meminimalisir munculnya gejala. Anda dapat berdiskusi dengan dokter untuk mengidentifikasi pencetus atau untuk menanyakan langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk mengurangi kekambuhan.

 

Bila Anda Memiliki Pertanyaan Seputar Pencegahan Psoriasis atau Pengalaman Dalam Pengobatan Psoriasis, Silakan Sampaikan Pertanyaan dan Pendapat Anda Di Kolom Komentar.

 

Referensi
  1. Menter A, Gottlieb A, Feldman SR, et al. Guidelines of care for the management of psoriasis and psoriatic arthritis: Section 1. Overview of psoriasis and guidelines of care for the treatment of psoriasis with biologics. J Am Acad Dermatol. 2008 May;58(5):826-50
  2. Menter A, Korman NJ, Elmets CA, et al; American Academy of Dermatology. Guidelines of care for the management of psoriasis and psoriatic arthritis. Section 3. Guidelines of care for the management and treatment of psoriasis with topical therapies. J Am Acad Dermatol. 2009 Apr;60(4):643-59
  3. Menter A, Korman NJ, Elmets CA, et al. Guidelines of care for the management of psoriasis and psoriatic arthritis: Section 4. Guidelines of care for the management and treatment of psoriasis with traditional systemic agents. J Am Acad Dermatol. 2009 Sep;61(3):451-85
  4. Menter A, Korman NJ, Elmets CA, et al. Guidelines of care for the management of psoriasis and psoriatic arthritis: Section 5. Guidelines of care for the treatment of psoriasis with phototherapy and photochemotherapy. J Am Acad Dermatol. 2010 Jan;62(1):114-35
  5. Boehncke WH, Schön MP. Psoriasis.  2015 Sep 5;386(9997):983-94
  6. Kupetsky EA, Keller M. Psoriasis vulgaris: an evidence-based guide for primary care. J Am Board Fam Med. 2013 Nov-Dec;26(6):787-801full-text
  7. Canadian Psoriasis Guidelines Committee. Canadian guidelines for management of plaque psoriasis CDA 2009 June PDF
  8. Canadian Psoriasis Guidelines Addendum Committee. 2016 Addendum to the Canadian guidelines for the management of plaque psoriasis 2009. J Cutan Med Surg. 2016 Sep;20(5):375-431full-text

 

Anemia: Panduan Diagnosis Berdasarkan Gejala

Anemia dapat menjadi entitas yang berdiri sendiri atau sebagai suatu konsekuensi dari proses yang menyebabkan pansitopenia  (penurunan kadar 3 jenis sel darah [leukosit, trombosit, dan eritrosit]). Langkah awal untuk menentukan penyebab kondisi ini adalah dengan mengidentifikasi mekanisme umum dan mekanisme yang mendasari berdasarkan kerangka patofisiologi, berupa:

  1. Perdarahan akut
  2. Penurunan produksi eritrosis
  3. Peningkatan destruksi eritrosis (Hemolisis)

 

Pasien dengan kecurigaan anemia harus selalu dilakukan penilaian terkait gejala dan tanda perdarahan akut.

anemia

  1. Tanda perdarahan akut
  2. Hipotensi
  3. Takikardia
  4. Ekimosis luas

 

  1. Gejala perdarahan akut
  2. Hematemesis
  3. Melena
  4. Perdarahan rektum
  5. Hematuria
  6. Perdarahan pervaginam
  7. Hemoptisis

 

Setelah mengeksklusikan perdarahan akut, langkah penting selanjutnya adalah membedakan penurunan produksi dari hemolisis dengan menghitung kadar retikulosit:

  1. Retikulosit normal atau menurun menunjukkan suatu anemia yang disebabkan oleh penurunan kadar eritrosit
  2. Retikulosit tinggi terjadi ketika sumsum tulang memiliki respons normal terhadap kehilangan darah, hemolisis atau penggantian zat besi, vitamin B12 atau asam folat
  3. Pengukuran retikulosit antara lain:
    1. Hitung retikulosit: persentase eritrosit yang berupa retikulosit (normal 0,5-1,5%0
    2. Hitung retikulosit absolut: jumlah retikulosit aktual pada sirkulasi, normalnya 25.000-75.000/µL (angka ini dapt ditentukan dengan mengalikan persentase retikulosit dengan jumlah total eritrosit)
  • Indeks produksi retikulosit (RPI)
    1. Hitung retikulosit terkoreksi berdasarkan derajat anemia dan pemanjangan maturasi retikulosit perifer selama 24 jam berdasarkan hapusan darah tepi
    2. RPI normal adalah sekitar 1,0 pada pasien anemia, angka < 2,0 menunjukkan penurunan produksi; sedangkan > 2,0 menunjukkan hemolisis atau respons sumsum tulang yang adekuat untuk perdarahan akut atau untuk pergantian zat besi atau vitamin.

 

Langkah awal untuk mengevaluasi anemia adalah menilai apakah terdapat perdarahan akut dan memeriksa RPI pada pasien yang tidak mengalami perdarahan akut

Setelah menentukan mekanisme umum, langkah selanjutnya untuk mendiagnosis penyebab anemia adalah menentukan penyebab penurunan produksi atau peningkatan produksi. Secara klasik, diagnosis banding untuk anemia yang terjadi karena penurunan produksi dibatasi dengan menggunakan ukuran sel eritrosit. Meskipun cara ini berguna untuk mengelompokkan diagnosis banding dan mungkin memberikan petunjuk penting, akan tetapi sangat penting untuk mengingat bahwa mean corpuscular volume (MCV) tidak spesifik dan tidak digunakan untuk menegakkan penyebab spesifik dari anemia.

 

Gunakan MCV untuk menyusun pola pikir, tidak untuk mendiagnosis penyebab anemia

mikrositik (MCV < 80 µm3)

  • Defisiensi zat besi
  • Talasemia
  • Anemia karena penyakit inflamasi atau penyakit kronis (lebih sering normositik)
  • Anemia sideroblastik (kongenital, paparan timbal, medikasi) – jarang
  • Defisiensi tembaga atau keracunan zinc

makrositik (MCV > 100 µm3)

  • megaloblastik (karena abnormalitas sintesis DNA; peningkatan neutrofil segmental juga muncul)
    • Defisiensi vitamin B12
    • Defisiensi folat
    • Obat antibetabolit sperti metoterksat atau zidovudin
  • non megaloblastik
    • Penyalahgunaan alkohol
    • Penyakit liver
    • Hipotiroid
    • Sndrom mielodisplastik (sering menyebabkan pansitopenia)

normositik

  • Anemia karena inflamasi atau penyakit kronis (gagal ginjal kronik, infeksi, inflamasi, keganasan, penuaan)
  • Defisiensi zat besi awal
  • Supresi sumsum tulang
    • Invasi oleh keganasan atau granuoma
    • Aplasia eritrosit murni didapat
    • Anemia aplastik (sering menyebabkan pansitopenia)
  • Endokrin (hipopituitarisme atau hipotiroidisme)

 

Diagnosis banding untuk anemia hemolitik berdasarkan patofisiologi antara lain:

  1. Diturunkan (Herediter)
  2. Defek enzim seperti defisiensi piruvat kinase atau defisiensi G6PD
  3. Hemoglobinopati seperti anemia sickle sel
  4. Abnormalitas membran eritrosis seperti sferositosis

 

  1. Didapat
    1. Hipersplenisme
    2. Imunitas
      1. Autoimun : warm IgG, cold IgM, cold IgG
      2. Diinduksi obat: autoimun
    3. Mekanis
      1. Makroangiopati
      2. Mikroangiopati: DIC, TTP, HUS
    4. Infeksi seperti malaria
    5. Toksin seperti gigitan ular

 

  1. Gejala anemia kronik akan dapat ditemukan pada pasien karena penurunan hantaran oksigen ke jaringan. Gejala tersebut antara lain:
  2. Lemas merupakan gejala yang sering tapi bukan gejala yang sangat spesifik
  3. Dispneu sering ditemukan
  4. Nyeri dada pada pasien anemia dengan riwayat penyakit jantung koroner atau pada pasien anemia berat atau keduanya
  5. Palpitasi atau takikardi
  6. Edema terkadang dapat terlihat
    1. Edema terjadi karena penurunan aliran darah ginjal yang disebabkan oleh aktivasi neurohormonal dan retensi garam serta air
    2. Kardiak output pada pasien anemia akan meningkat
  7. Anemia ringan sering asimptomatis
  8. Gejala hipovolumia dapat ditemukan pada kasus akut dengan kehilangan volume darah yang besar

 

  1. Pucat pada konjungtiva merupakan salah satu tanda yang menunjukkan kondisi anemia
    1. Pucat atau anemis pada konjungtiva ditunjukkan dengan warna pink pucat baik pada konjungtiva inferior anterior dan posterior
    2. Konjungtiva pucat secara kuat menunjukkan pasien anemia (LR +16,7)
    3. Tidak adanya konjungtiva pucat berlum tentu meeksklusikan diagnosis anemia
  2. Pucat pada telapak tangan (LR + 7,9)
  3. Pucat pada seluruh bagian tubuh tidak selalu berguna dengan LR + < 5
  4. Tidak ada tanda klinis untuk meeksklusikan anemia secara khusus
  5. Rata-rata sensitivitas dan spesivisitas anemia berdasarkan pemeriksaan fisik adalah sekitar 70%

 

Hitung darah lengkap dilakukan jika pasien dianggap mengalami anemia, bahkan tanpa pemeriksaan fisik yang mengarah kepada anemia, atau jika tampak konjungtiva atau telapak tangan pucat.

 

Referensi:

  • Artz A, Thirman  Unexplained anemia predominates despite an intensive evaluation in a racially diverse cohort of older adults from a referral anemia clinic. J Gerontol A Biol Sci Med Sci. 2011:1–8.
  • Anand IS, Chandrashekhar  Y, Ferrari  R, Poole-Wilson  PA, Harris  Pathogenesis of oedema in chronic severe anaemia: studies of body water and sodium, renal function, haemodynamic variables, and plasma hormones. Br Heart J. 1993;70:357–62.
  • Charache S, Terrin  ML, Moore  RD  et al. Effect of hydroxyurea on the frequency of painful crises in sickle cell anemia. N Engl J Med. 1995;332:1317–22.
  • Guyatt GH, Oxman  AD, Ali  M  et al. Laboratory diagnosis of iron deficiency anemia: an overview. J Gen Intern Med. 1992;7(2):145–53.
  • Lindenbaum J, Healton  E, Savage  D  et al. Neuropsychiatric disorders caused by cobalamin deficiency in the absence of anemia or macrocytosis. N Engl J Med. 1988;318:1720–8.
  • Marchand A, Galen  R, Van Lente  The predictive value of serum haptoglobin in hemolytic disease. JAMA. 1980;243:1909–11.
  • Rees DC, Williams  TN, Gladwin  Sickle-cell disease. Lancet. 2010;376:2018–31.
  • Snow Laboratory diagnosis of vitamin B12 and folate deficiency. Arch Intern Med. 1999;159:1289–98.
  • Stabler Vitamin B12 deficiency. N Engl J Med. 2013;368:149–60.
  • Steinberg In the clinic: Sickle cell disease. Ann Intern Med. 2011 Sep 6;155(5):ITC31–15.
  • Steinberg M, Barton  F, Castro  Effect of hydroxyurea on mortality and morbidity in adult sickle cell anemia. JAMA. 2003;289:1645–51.
  • Vichinsky EP, Neumayr  LD, Earles  AN  et al. Causes and outcomes of the acute chest syndrome in sickle cell disease. N Engl J Med. 2000;342:1855–65.
  • Weiss G, Goodnough  Anemia of chronic disease. N Engl J Med. 2005;352:1011–23.