Pos

Demam: Penyebab & Kapan Harus Ke Dokter?

Demam juga disebut dengan hipertermia, pireksia, atau peningkatan suhu tubuh. Kondisi ini menjelaskan peningkatan suhu tubuh di atas batas normal. Kondisi ini dapat terjadi baik pada anak-anak atau orang dewasa. Peningkatan suhu tubuh jangka pendek dapat membantu tubuh untuk melawan penyakit. Meskipun demikian, peningkatan suhu tubuh berat dapat menjadi gejala dari suatu kondisi yang serius dan membutuhkan perawatan medis dengan segera. Artikel ini akan memberikan gambaran penyebab demam, pengobatan kondisi ini di rumah, dan kapan harus menemui dokter.

Mengenali kondisi ini merupakan salah satu langkah yang dibutuhkan untuk mendapatkan pengobatan. Suhu tubuh normal pada umumnya berada pada rentang 36,5-37,5°C. Meskipun demikian, suhu tubuh sangat bervariasi antara satu orang dengan orang yang lainnya.

Suhu tubuh normal juga dapat berfluktuasi bergantung pada waktu dalam sehari. Suhu tubuh paling rendah dapat diukur pada pagi hari sedangkan suhu tubuh tertinggi ditemukan pada siang atau sore hari. Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi suhu tubuh antara lain siklus menstruasi dan olahraga.

 

Untuk mengecek suhu tubuh kita dapat menggunakan termometer baik termometer pada mulut, anus, atau ketiak.

  • Termometer mulut harus diletakkan di bawah lidah selama kurang lebih 3 menit.
  • Termometer ketiak diletakkan ketiak kemudian dijepit dengan lengan atas selama kurang lebih 5 menit.
  • Termometer anus biasanya digunakan untuk mengukur suhu tubuh pada bayi. Sebelum dimasukkan ke anus termometer terlebih dahulu diberikan jelly pelumas. Kemudian dimasukkan sekitar 3 cm ke dalam anus bayi selama 3 menit.

Secara umum, bayi dikatakan mengalami demam apabila suhu tubuhnya berada pada ≥ 38°C. Pada anak dinyatakan demam apabila suhu tubuh lebih dari 37,5 °C dan pada orang dewasa > 37,2-37,5°C.

 

Apa Yang Biasanya Menyebabkan Demam?

Demam akan muncul apabila bagian otak yang disebut hipotalamus merubah titik kontrol (set point) suhu tubuh menjadi lebih tinggi. Ketika kondisi ini terjadi, maka seseorang akan merasa menggigil dan menyelimuti diri untuk meningkatkan panas tubuh. Kondisi ini akan meningkatkan suhu tubuh.

Terdapat berbagai kondisi yang berbeda yang dapat menyebabkan demam pada seseorang. Beberapa kondisi tersebut antara lain:

  • Infeksi: flu, infeksi saluran napas atas dan pneumonia
  • Pemberian imunisasi: imunisasi dipteri atau tetanus pada anak
  • Tumbuh gigi pada bayi
  • Penyakit inflamasi seperti artritis reumatik dan penyakit Crohn’s
  • Bekuan darah
  • Paparan sinar matahari berlebihan
  • Keracunan makanan

 

Berdasarkan dari penyebab demam, beberbagai gejala tambahan dapat terjadi seperti:

  • Berkeringat
  • Gemetar
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Hilang nafsu makan
  • Dehidrasi
  • Lemah seluruh tubuh

Bagaimana Mengatasi Demam di Rumah?

Perawatan demam bergantung dari keparahannya. Demam ringan tanpa gejala lainnya biasanya tidak membutuhkan pengobatan medis. Minum lebih banyak air dan beristirahat cukup untuk mengatasi kondisi ini.

Ketika peningkatan suhu tubuh disertai dengan gejala ringan seperti perasaan lemas atau dehidrasi, beberapa hal berikut dapat membantu untuk menurunkan suhu tubuh:

  • Pastikan suhu ruangan nyaman untuk beristirahat
  • Mandi dengan menggunakan air hangat
  • Minum parasetamol atau ibuprofen
  • Minum air putih lebih banyak dari biasanya

 

Kapan Anda Butuh Menemui Dokter? 

Peningkatan suhu tubuh ringan biasanya dapat diobati di rumah. Pada beberapa kasus, demam dapat menjadi gejala kondisi medis serius yang membutuhkan pengobatan tepat.

Anda harus membawa bayi anda ke dokter apabila:

  • Usia < 3 bulan, demam > 38°C
  • Usia 3-6 bulan, demam > 38,9°C dan tampak rewel, lemas, dan tidak nyaman
  • Usia 6-24 bulan, dmam lebuh dari 38,9°C, lebih dari satu hari

Anda harus membawa anak anda ke dokter apabila:

  • Suhu tubuh ≥ 39°C
  • Demam lebih dari tiga hari
  • Kontak mata buruk
  • Tampak lemas atau rewel
  • Baru saja dilakukan immunisasi
  • Memiliki riwayat penyakit serius sebelumnya

Untuk orang dewasa, maka harus menemui dokter apabila:

  • Suhu tubuh ≥ 39°C
  • Mengalami demam lebih dari 3 hari
  • Mengalami gejala berat lainnya

Semua yang mengalami peningkatan suhu tubuh harus menemui dokter apabila disertai dengan gejala:

  • Nyeri kepala hebat
  • Nyeri tenggorokan
  • Ruam pada kulit, terutama apabila ruam semakin berat
  • Sensisitf terhadap cahaya terang
  • Leher kaku atau nyeri leher
  • Muntah menetap
  • Lemas dan rewel
  • Nyeri perut
  • Nyeri saat kencing
  • Otot menjadi lemah

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan laboratorium. Hal ini membantu dokter untuk menentukan penyebab demam dan pengobatan yang efektif.

 

Kapan Demam Menjadi Suatu Kondisi Gawat Darurat?

Anda harus membawa bayi, anak anda, atau diri anda sendiri ke unit gawat darurat terdekat apabila mengalami peningkatan suhu tubuh disertai dengan salah satu gejala berikut:

  • Penurunan kesadaran
  • Tidak mampu untuk berjalan
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Kejang

 

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan selalu sediakan termometer di rumah. Demam merupakan suatu gejala yang umum, namun dapat menjadi masalah kesehatan yang serius apabila ditangani dengan cara yang salah.

 

Wallahu’alam bisshawab

 

Referensi: Fever and chills. In: Murtagh J. eds. Murtagh’s General Practice, 6e New York, NY: McGraw-Hill; . http://murtagh.mhmedical.com/content.aspx?bookid=1522&sectionid=116032462. Accessed December 09, 2017.

 

berhenti merokok

Berhenti Merokok! Apa Yang Harus Dokter Lakukan?

berhenti merokokSeorang dokter yang baik memiliki kewajiban untuk menyarankan semua pasien untuk berhenti merokok. Pengaruh rokok sebagai faktor risiko yang dapat diubah untuk penyakit-penyakit tidak menular (misalnya penyakit jantung koroner, kanker, penyakit pembuluh darah) merupakan alasan utama bagi seorang dokter untuk menyarankan hal tersebut.

 

Akan tetapi, hal ini bukanlah suatu hal yang mudah. Orang-orang sebenarnya sadar akan dampak buruk merokok terhadap kesehatan akan tetapi efek kecanduan yang disebabkan oleh nikotin membuat mereka enggan untuk berhenti merokok.

Di sisi lain, ketika seorang perokok telah memiliki keinginan untuk berhenti merokok tapi dia tidak tahu cara terbaik untuk memulainya atau bahkan lingkungan tempat dia menetap tidak mendukungnya melakukan hal tersebut.

Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba untuk memberikan informasi apa yang harus dilakukan serta disarankan oleh seorang dokter kepada seorang perokok agar ia dapat berhenti merokok.

Strategi 5-A

berhenti merokok

Berdasarkan pedoman dari United States Department of Health and Human Services, Public Health Service (PHS) sebuah badan layanan kesehatan masyarakat di Amerika Serikat yang dimuat pada pedoman yang berjudul “PHS clinical practice guideline on treating tobacco use and dependence”. Semua dokter harus menyarankan pasien perokok untuk berhenti merokok. Hal tersebut harus dilakukan karena telah terbukti meningkatkan tingkat tidak merokok. Selain itu, semua dokter harus memberikan dan menjelaskan intervensi berhenti merokok terhadap pasiennya.

United States Preventive Services Task Force (USPSTF) merekomendasikan dokter untuk melakukan strategi 5-A untuk menyarankan seorang pasien berhenti merokok.

  1. Ask : Tanyakan dengan jelas pada pasien tentang kebiasaan merokoknya (berapa lama, jenis rokok, berapa batang sehari, alasan merokok dan lain-lain)

  2. Advice: berikan nasehat kepada pasien untuk segera berhenti merokok dengan menggunakan atau menyampaikan pesan personal yang jelas (misalnya pada orang Islam dapat menyampaikan bahwa merokok itu haram atau menyampaikan tentang pengaruh rokok terhadap kesehatan).

  3. Assess: lakukan penilaian seberapa besar keinginan pasien untuk berhenti merokok

  4. Assist: bantu pasien untuk memulai berhenti merokok dengan memberikan intervensi pengobatan.

  5. Arrange: atur jadwal follow up dimana pasien harus kembali kepada dokter untuk menceritakan sejauh mana perkembangan proses tidak merokoknya dan kembali berikan dukungan kepada pasien.

Jadi seorang dokter pada dasarnya tidak hanya disarankan untuk menyampaikan bahwa seorang pasien harus berhenti merokok tapi juga harus menindaklanjuti sejauh apa pasien sudah tidak merokok.