Diagnosis Adalah Kunci Pengobatan Penyakit

Bila merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, diagnosis adalah  penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya. Diagnosis dapat pula berarti pemeriksaan terhadap suatu hal.

diagnosis adalah

Dalam bidang kedokteran, diagnosis adalah upaya yang dilakukan oleh dokter dalam melakukan analisa keluhan subjektif dan temuan objektif pada pasien untuk menentukan penyakit pasien.

 

Pendekatan diagnosis adalah suatu hal yang terkadang sulit dilakukan. Karena banyaknya jenis penyakit tertentu yang memiliki gejala saling tumpang tindih.

 

Oleh karena hal ini, langkah pertama yang penting dilakukan oleh dokter adalah membuat daftar diagnosis banding dan daftar masalah dengan deskripsi terperinci.

 

Diagnosis adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya untuk prognosis (ramalan/kemungkinan tentang peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang berhubungan dengan penyakit atau penyembuhan setelah operasi) tapi juga untuk rencana pengobatan.

 

Diagnosis yang baik juga harus selalu ditinjau kembali. Penyakit sekunder, komplikasi, dan efek samping dapat menjadi diagnosis tambahan saat merawat pasien.

 

Seperti yang disebutkan di atas, diagnosis harus ditentukan berdasarkan diagnosis banding. Tujuan dari diagnosis banding adalah untuk menunjukkan penyakit apa yang dapat terjadi.

 

Dalam kebanyakan kasus, ada banyak kemungkinan dan faktor tambahan. Faktor tambahan ini termasuk:

  • Frekuensi penyakit
  • Usia pasien
  • Gejala sekunder

 

Seluruh komponen ini harus selalu diperhitungkan ketika melakukan diagnosis.

 

Artikel ini akan memberikan gambaran diagnosis banding berdasarkan kelompok penyakit.

 

 

Mengapa Diagnosis Adalah Kunci Pengobatan?

diagnosis adalah kunci

Ketika melakukan proses diagnosis, pada awalnya sangat tidak mungkin mengidentifikasi diagnosis yang sebenarnya hanya dari gambaran klinis.

 

Biasanya diagnosis dapat ditentukan setelah temuan yang relevan terkait suatu penyakit hadir (misalnya tanda spesifik atau pemeriksaan penunjang).

 

Diagnosis banding terkadang harus puas disusun dengan klasifikasi salah satu kelompok penyakit saja.

 

Dalam semua kasus penyakit yang tidak jelas, pertimbangan selalu disusun berdasarkan kelompok penyakit tersebut bukan diagnosis pasti penyakitnya.

 

Bila diagnosis pasti belum dapat ditentukan, rencana pengobatan hanya pada upaya untuk meredakan gejala penyakit yang dirasakan oleh pasien.

 

Target pengobatan tidak tepat saran. Berbeda bila diagnosis penyakit telah dapat ditegakkan.

 

Inilah yang menjadikan diagnosis adalah kunci dalam pengobatan penyakit.

 

Karena proses diagnosis merupakan hal yang terkadang tidak mudah. Mari mengenali beberapa deskripsi kelompok penyakit tertentu yang dapat digunakan untuk melakukan diagnosis banding.

 

 

Kelompok Penyakit Kondisi Degeneratif

 

penyakti degeneratif

Kelompok penyakit ini ditandai dengan perubahan irreversibel yang progresif lambat pada pembuluh darah dan jaringan ikat. Salah satunya adalah peristiwa arteriosklerosis, yang menyebabkan kerusakan pada organ (jantung, otak, ginjal) dan arteri perifer, dan arthrosis adalah gambaran klinis yang paling sering diamati dalam praktek medis saat ini, terutama pada orang tua.

 

 

Kelompok Penyakit Infeksi

penyakit sistem imun

Peradangan atau inflamasi secara klasik ditandai oleh:

  1. rubor (memerah),
  2. calor (panas),
  3. tumor (pembengkakan),
  4. dolor (nyeri), dan
  5. functio laesa (hilangnya fungsi).

 

Demam, pemeriksaan hitung darah, peningkatan protein C-reaktif, dan peningkatan laju endap darah sering dikaitkan dengan infeksi.

 

Namun, tidak adanya gejala-gejala ini tidak mengesampingkan kemungkinan infeksi (mis., Infeksi virus).

 

Selain itu, penyakit lain dapat dipertimbangkan dengan adanya 5 tanda inflamasi tersebut (misalnya Penyakit kolagen atau tumor).

 

 

Kelompok Penyakit Yang Dimediasi Oleh Sistem Imun

penyakit infeksi

Kolagenosis dan vaskulitis termasuk dalam kelompok penyakit ini (lupus eritematosus sistemik, dermatomiositis, sklerodermia, polymyositis, periarteritis nodosa, granulomatosis Wegener, alergi vaskulitis, dan lain-lain).

 

Penyakit-penyakit ini dapat dikenali secara klinis oleh keterlibatan simultan berbagai organ. Effloresensi (perubahan tidak normal) kulit dan arthropathi sering menjadi gejala klinis yang paling sering ditemui.

 

Pada saat yang sama perubahan pada fungsi ginjal, paru-paru, otot, dan jantung terkadang menjadi sangat jelas.

 

Kompleks imun, hasil dari antigen yang berbeda (misalnya Bakteri, virus, substansi tubuh seperti DNA, ribo-nukleoprotein, dan obat-obatan) memainkan peran penting, meskipun saat ini hanya sebagian yang dipahami.

 

Hasil uji laboratorium biasanya menunjukkan tingkat sedimentasi eritrosit meningkat, anemia, dan perubahan hematologi lainnya.

 

Secara praktis semua penyakit dari antibodi anti-nuklear semacam ini dapat ditemukan.

 

Beberapa penyakit di mana autoantibodi memainkan peran penting tercantum dalam Tabel berikut.

 

Contoh Penyakit Autoimun

Organ yang TerlibatPenyakit
Saluran Pencernaan·       Pernicious anemia,

·       Celiac disease/sprue,

·       Colitis ulcerosa,

·       Crohn disease

Darah·       Immune thrombopenia (ITP),

·       Thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP),

·       Autoimmune hemolytic anemia,

·       Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria,

·       Secondary cryoglobulinemia

Ginjal·         Postinfectious glomerulonephritis,

·         IgA nephropathy,

·         Goodpasture syndrome,

·         Syndromes characterized by purpura, arthritis, nephropathy,

·         Periarteritis nodosa

Sistem Endokrin·         Autoimmune thyroiditis (Hashimoto),

·         Basedow disease,

·         Addison disease,

·         Diabetes mellitus (type 1),

·         Idiopathic hypoparathyroidism,

·         Polyglandular deficiency syndrome (Schmidt syndrome),

·         Infertility caused by antibodies,

·         Premature ovarian failure

Sistem Saraf Pusat·         Myasthenia gravis,

·         Mononeuritis multiplex,

·         Multiple sclerosis,

·         Guillain−Barré syndrome,

·         Amyotrophic lateral sclerosis,

Sendi, Otot, & Jaringan Ikat·         Chronic polyarthritis,

·         Visceral lupus erythematosus,

·         Sjögren syndrome,

·         Scleroderma (including CREST),

·         Thromboangitis obliterans,

·         Bechterew disease,

·         Behçet disease,

·         Polymyalgia rheumatica,

·         Arteritis temporalis

Kulit·         Cutaneous lupus erythematosus,

·         Chronic diskoid lupus erythematosus,

·         Alopecia areata,

·         Vitiligo,

·         Pemphigus vulgaris,

·         Dermatitis herpetiformis Duhring,

·         Schoenlein−Henoch purpura

Paru-paru·         Wegener granulomatosis,

·         Churg−Strauss syndrome

Liver (Hati)·         Autoimmune hepatitis,

·         Primary biliary cirrhosis,

·         Sclerosing cholangitis

 

 

Tumor

Diagnosis Sangkaan Tumor

 

Gejala dengan onset lambat hingga sangat lambat, kelelahan, penurunan berat badan, dan gejala umum menyebar di usia menengah dan lanjut adalah penyebab kecurigaan tumor.

 

Gejala lokal dapat tidak muncul untuk jangka waktu yang panjang.

Penting untuk mengetahui perbedaan frekuensi tumor menurut jenis kelamin seperti gambar di bawah ini.

 

Infografis kanker Indonesia tahun 2018 ini juga menunjukkan insiden dan prevalensi kanker di Indonesia.

Infografis Kanker Indonesia 2018
Infografis Kanker Indonesia 2018 (https://whitecoathunter.com)

 

Suhu tubuh bisa dalam kisaran subfebris.

 

Tingkat sedimentasi eritrosit dapat meningkat. Anemia dan jumlah trombosit yang meningkat juga dapat terjadi.

 

 

Penanda Tumor Sebagai Bantuan Diagnosis

Skrining untuk penanda tumor tidak sesuai karena sensitivitas dan spesifisitas rendah. Terkecuali untuk prostate-specific antigen (PSA) yang merupakan penanda tumor prostat.

 

Namun beberapa penanda digunakan untuk tindak lanjut setelah terapi dan untuk klasifikasi stadium kanker.

 

Beberapa penanda tumor tersebut antara lain:

  • α-fetoprotein: Hepatocellular carcinoma
  • α-fetoprotein: Ovarian tumors
  • β-HCG, LDH: Nonseminomatous testicular cancer
  • β-HCG, LDH: Testicular seminoma
  • β2-Microglobulin: Multiple myeloma
  • CA 15−3: Breast cancer
  • CA 19−9: Colon carcinoma
  • CA 125: Ovarian carcinoma
  • CEA: Colon and rectum carcinoma
  • CRP, LDH: Malignant lymphoma
  • PSA: Prostate cancer
  • SCC: Cervical, lung, and rectal carcinoma

 

Tumor yang terjadi dapat menyebabkan gambaran dan kondisi klinis tertentu. Sebuah subkelompok penting yang disebut sindrom paraneoplastik dibentuk oleh sindrom paraendokrin.

 

Tabel Berikut menunjukkan sindrom para neoplastik dan para endokrin

Manifestasi KlinisJenis Tumor Yang Paling Umum
Sindrom Paraneoplastik Umum
AnemiaBerbagai Jenis Tumor
EosinofiliaLimfoma maligna, Leukemia, Metastasis Tumor
LeukositosisBerbagai Jenis Tuor
TrombositosisBerbagai Jenis Tumor
TrombositopeniaHemangioma maligna, Penyakit limfoproliperatif
HiperkoagulabilitasBronkus, lambung, usus, pankreas, payudara, karsinoma uterus; limfoma ganas
Disseminated intravascular coagulationMetastasis karsinoma, leukemia, limfoma
Erythema nodosumlimfoma, leukemia, karsinoma
HiperpigmentasiKarsinoma saluran pencernaan, melanoma maligna
UrtikariaLimfoma maligna, polistemia vera mastositosis
MiopatiKarsinoma Bronkus, Lambung, Ovarium
NeuropatiKarsinoma bronkus, payudara, lambung
EnsefalomiopatiTumor paru, karsinoma ovarium, karsinoma endometrium, Penyakit Hodgkin
ParaproteinemiaLimfoma maligna, leukemia kronis
GlomerulonefritisLimfoma maligna, leukemia, karsinoma
Trombotik endokarditisAdenokarsinoma (lambung, paru, pankreas)
DemamSarkoma, hipernefroma, tumor saluran pencernaan, hepatoma, leukemia
AkropachyTumor intratorakalis, karsinoma bronkus
Sindrom Paraendokrin
Sindrom CushingKarsinoma bronkial sel kecil, tumor sel island pankreas, thymoma, karsinoma tiroid meduler, karsinoid
HirutismeOvarium, tumor adrenal (androgenik)
Pubertas praekok, GinekomastiaHeratoma hepatoselular, testis dan mediastinum, korio karsinoma, tumor paru
Hipoglikemiasarkoma besar, hepatoma, karsinoma gastrointestinal, karsinoid
Hiperkalemiametastasis tulang, multiple myeloma, limfoma ganas serta karsinoma bronkus (epitelioma), tumor di daerah otolaryngeal, karsinoma serviks
HiperertireoidosisChoriocarcinoma, tumor paru-paru,
PoliglobulinKarsinoma ginjal, hemangioblastoma serebelum (erythropoietin)
Sindrom Schwartz−BartterBronkus, pankreas, karsinoma duodenum (ADH)

 

 

Jaringan tumor dari organ non-endokrin dapat menjadi aktif secara hormonal. Jenis produksi hormon ini biasanya tidak tunduk pada mekanisme kontrol fisiologis dan tidak hilang sampai tumor diangkat.

 

 

Faktor Predisposisi Tumor Ganas

Perbedaan antara lima kelompok utama faktor predisposi yang dapat dipertimbangkan sebagai etiologi tumor manusia dalam penegakan diagnosis adalah:

 

  1. Warisan langsung atau tidak langsung (sekitar 5% dari tumor):
  • Retinoblastomas, sel basal nevoid, endokrin multipel adenomatosis, poliposis kolon familial, kanker payudara
  • Neurofibromatosis, tuberous sclerosis, multipel eksostosis, albinisme, sindrom Fanconi, Sindrom Wiskott−Aldrich (pengembangan sekunder tumor)

 

  1. Faktor lingkungan (sekitar 60%)
  • Pola makan (tinggi lemak, rendah serat, nitrosamin, mikotoksin)
  • Konsumsi tembakau (bertanggung jawab terhadap 40% diagnosis karsinoma pada laki-laki termasuk karsinoma mulut, laring, dan paru)
  • Alkohol (karsinoma esofagus dan liver)
  • Profesi (faktor pencetus pada 5% kasus tumor)
  • Seks bebas: human papillomavirus, yang bisa menyebabkan karsinoma serviks pada wanita yang lebih muda, Tumor terkait HIV
  • Sinar ultraviolet (melanoma), radioisotop, radiasi
  • Obat (obat sitostatik, hormon)

 

 

  1. Virus:
  • Infeksi HIV (sarkoma kaposi, limfoma maligna)
  • Epstein−Barr virus (Burkitt lymphoma)
  • Hepatitis B dan C virus (hepatoma)

 

  1. Tidak diketahui penyebab tumor (sekitar 35%)

 

  1. Berbagai Kondisi Lainnya (langka):
  • -cholelithiasis, sirosis hati, penyakit Crohn, kolitis ulcerosa, anemia pernisiosa –
  • dermatomiositis
  • Struma nodosa, lupus vulgaris, penyakit Paget, akromegali

 

 

Penyakit-Penyakit Metabolik

Metabolisme patologis atau jumlah abnormal zat fisiologis dalam darah, urine, atau jaringan tubuh dapat diidentifikasi dengan berbagai jenis penyakit.

 

Misalnya, porfiria ditandai dengan porfirin, ochronosis yang disebabkan oleh asam homogentisic, penyakit asam urat yang disebabkan oleh asam urat, hyperlipoproteinemia yang dicirikan oleh kolesterol dan trigliserida.

 

Enzimopati terkait genetik

Hingga saat ini peran diagnosis adalah menemukan lebih dari 150 penyakit dengan gangguan enzimatik yang melibatkan cacat genetik (enzymopathy).

 

Kondisi ini juga disebut sebagai “kesalahan metabolisme bawaan”.

 

Mayoritas adalah penyakit bawaan resesif autosom. Sebuah gen mutan menghasilkan penurunan atau non-produksi protein enzimatik atau non-enzimatik.

 

Enzim yang dimaksud merupakan bagian integral dari langkah khusus metabolisme dalam biosintesis atau katabolisme.

 

Untuk beberapa hal, jalur metabolik diblokir dan jalur alternatif diperlukan, yang sering tidak dapat mencegah defisiensi metabolik karena kapasitas yang buruk. Karena efek ini, berbagai mekanisme dalam enzim dapat dideteksi:

  • Pada beberapa penyakit, jumlah zat-zat biologis penting yang tidak cukup diproduksi. Misalnya produksi melanin ditekan dalam albinisme karena tiadanya tirosinase, atau diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh kurangnya insulin.
  • Produk patologis yang terakumulasi karena kurangnya degradasi enzimatik diekskresi melalui ginjal dan dapat menyebabkan batu ginjal. Misalnya oxaluria, xanthinuria, dan cystinuria.
  • Metabolit abnormal terakumulasi. Misalnya penyakit penyimpanan glikogen, mucopolysaccharidosis, dan galaktosemia.
  • Melalui akumulasi produk antara, efek toksik berkembang. Misalnya alkaptonuria, dicirikan oleh asam homogentisic, atau galaktosemia, dicirikan oleh galaktosa-1-fosfat.
  • Steroid metabolik normal terakumulasi dalam sindrom adrenogenital karena defisiensi 17-hidroksilase.
  • Struktur kolagen yang salah menyebabkan kolagen normal menjadi tidak stabil seperti pada sindrom Ehlers−Danlos.

 

 

Diagnosis adalah Penting Untuk Mengetahui Disfungsi Sistem Endokrin

Gambaran klinis penyakit organ sekretori sering ditandai oleh sekresi disfungsional daripada oleh organ yang sakit itu sendiri. Hormon dan metabolitnya dapat ditentukan secara kuantitatif, yang pada gilirannya memberikan informasi penting tentang jenis penyakit (misalnya dalam kasus diabetes mellitus).

 

 

Gangguan Mental

Penilaian kondisi mental adalah salah satu upaya diagnostik. Melakukan tindakan diagnosis adalah penting pada kondisi ini.

 

Pengenalan sindrom psikopatologi khas sebagian memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi penyakit fisik (misalnya, delirium tremens dan sindrom Korsakow ditemukan pada alkoholisme kronis yang menyertai pneumonia, atau setelah operasi).

 

Faktor ini tidak berlaku untuk psikosis endogen (skizofrenia, manic-depressive psychosis) atau untuk keluhan vegetatif.

 

Dalam kasus ini, seringkali bukan pasien yang mengeluh, tetapi perilaku intelektual atau afektifnya dicatat oleh orang lain.

 

Keluhan Vegetatif secara Fungsional

Ketika mendiagnosis keluhan-keluhan vegetatif “secara fungsional” (juga gangguan psikosomatis atau sindrom psychovegetative), penting untuk menyingkirkan penyakit somatik.

 

Umumnya, penyakit fungsional termasuk kelompok gangguan psikis terbesar, baik sebagai penyakit yang berdiri sendiri atau sebagai akibat dari penyakit lain.

 

Karakterisasi yang seragam dari pasien psikosomatis tidak mungkin. Namun, penyakit vegetatif fungsional sering muncul sebagai berikut:

  • Dengan perjalanan penyakit kronis
  • Dengan perubahan yang tidak teratur dari organ yang terkena
  • Dipicu oleh situasi stres.

 

Diagnosis banding dan diagnosis adalah penting pada kondisi ini. Klinisi biasanya membedakan antara berbagai sub-kelompok somatik dari sindrom psikovegetatif (misalnya gangguan pada daerah kepala, sistem kardiovaskular, pernapasan, dan saluran cerna).

 

Hampir tidak ada diagnosis yang lebih sulit daripada diagnosis gangguan fungsional.

 

Gangguan Psikosomatis

Asma bronkial, obesitas, dan anoreksia, serta serangan kecemasan yang sering dianggap sebagai gangguan psikosomatis. Gejala kompleks yang semakin umum, yang sulit dibedakan dari depresi, adalah sindrom kelelahan kronis.

 

Sindrom kelelahan kronis dapat didefinisikan sebagai:

  1. Kelelahan yang dievaluasi secara klinis, tidak dapat dijelaskan, persisten atau kambuh yang merupakan onset baru atau pasti, bukan hasil dari pengerahan yang sedang berlangsung, dan tidak berkurang dengan istirahat, dan menghasilkan pengurangan substansial dalam tingkat dari pekerjaan, pendidikan, sosial, atau kegiatan pribadi sebelumnya.
  2. Empat atau lebih dari gejala berikut yang bertahan atau kambuh selama enam atau lebih bulan berturut-turut sakit dan gejala tersebut tidak mendahului kelelahan:
    1. Penurunan yang dilaporkan sendiri dalam memori jangka pendek atau konsentrasi
    2. Sakit tenggorokan
    3. Nyeri serviks atau aksilaris
    4. Nyeri otot
    5. Nyeri beberapa sendi tanpa kemerahan atau bengkak
    6. Sakit kepala
    7. Tidur tidak nyenyak
    8. Malaise pasca-aktivitas berlangsung >24 jam

 

 

Psosis Eksogen

Gangguan mental pada kelompok “psikosis eksogen” adalah gejala yang menyertai penyakit somatik. Bleuler membedakan antara empat kelompok utama gangguan terkait somatik:

  1. Sindrom Psychoorganic (POS). Sebagai akibat dari kerusakan otak difus (arteriosclerosis, cedera otak, sindrom Korsakow), pasien yang diperiksa memiliki disfungsi dan disorientasi perhatian yang khas serta kurangnya konsentrasi. Selanjutnya, ketidakmampuan untuk berpikir, ketekunan, dan labilitas emosional adalah karakteristik utama kondisi ini.
  2. Psikosyndrome lokal. Meskipun otak secara lokal berpenyakit, gangguan memori atau gangguan kesadaran tidak biasanya terjadi, tetapi perubahan suasana hati yang tidak menentu diamati.
  3. Psikosyndrome endokrin. Gangguan mental dapat terjadi pada penyakit endokrin. Gambaran klinisnya sama dengan psikosyndrome lokal.
  4. Jenis reaksi eksogen akut. Pada penyakit akut, berat, umum, serta pada penyakit otak akut, gejala mental yang khas (seperti amentia tiba-tiba, disorientasi, pengucapan tidak jelas, gelisah, dan apatis, serta halusinasi dan ide delusional), dapat berkembang. Subkelompok khas dari tipe reaksi eksogen akut adalah delirium (halusinasi), dan keadaan senja, serta berbagai tingkat gangguan kesadaran (somnolen, sopor, koma). Seringkali sulit untuk membedakan antara jenis psikosis akut dengan reaksi eksogen dan gangguan neurotik atau skizofrenia.

 

 

Diagnosis Penyakit-Penyakit Herediter

Kromosom manusia terdiri dari 22 pasang kromosom autosomal dan 2 kromosom seks (laki-laki: XY, perempuan: XX), total 46 kromosom. Untuk diagnosis, kromosom dari sel manusia dianalisis secara individual menggunakan pewarnaan fluoresen (kariotipe).

 

 

Aberasi Struktural

Penyimpangan kromosom dapat diwariskan atau ditransmisikan (zat kimia mutagenik, sinar-X, radioaktivitas). Kelainan kromosom dapat dideteksi sebelum lahir dengan metode cytogenic.

 

 

Kromosom Anomali: Aberasi Numerik.

Trisomi (47 kromosom), gangguan kromosom yang paling umum, ditemukan kebanyakan dalam trisomi 21 (sindrom Down; terjadi pada 1: 650) dan pada trisomi kromosom seks, dengan harapan hidup lebih lama daripada sindrom Down.

 

Di antara kelainan kromosom seks yang paling umum adalah: sindrom Klinefelter (47, XXY; terjadi pada 1: 500) dan sindrom Triplo X yang biasanya tidak terlihat secara klinis yang mempengaruhi wanita (47, XXX; terjadi pada 1: 1000), dan sindrom Turner ( 45, X0; terjadi dalam 1: 10000), yang merupakan monosomi kromosom seks.

 

 

Genetika Mendelian Sederhana

Jenis hereditas ini dicapai dengan transmisi gen mutan tunggal.

 

Warisan dominan Autosomal. Gejala terjadi pada pembawa heterozigot, yang memiliki satu kromosom dengan gen mutan dan kromosom lainnya dengan gen normal.

 

Faktor risiko untuk progeni dari pasien dengan penyakit nyata adalah 50%.

 

Kelainan bawaan yang berat dan dominan pada sebagian besar kasus disebabkan oleh mutasi baru, dan menghilang dengan kematian pembawa sebelum memiliki keturunan.

 

Warisan autosomal resesif. Gejala hanya terjadi ketika pasien homozigot (i. E., Alel yang sama pada kedua kromosom homologinya).

 

Risiko pengulangan untuk saudara kandung lainnya dengan penyakit nyata adalah 25%, untuk pembawa sehat heterozigot 50%, dan untuk saudara kandung yang sehat 25%.

 

Warisan X-kromosom. X kromosom membawa gen mutan. Dalam kebanyakan kasus, wanita hanya vektor tanpa gejala (pembawa), tetapi 50% dari keturunan laki-laki mereka jatuh sakit.

 

 

Diagnosis Penyakit-Penyakit Alergi

Alergi ditandai oleh reaksi kekebalan tubuh yang abnormal terhadap zat (alergen), yang tidak mempengaruhi individu yang sehat.

 

Kita membedakan antara alergi humoral yang disebabkan oleh antibodi yang bersirkulasi (tipe I, II, III) dan alergi sel-mediated (tipe IV).

 

Alergi Tipe-I

Alergi Tipe-I yang disebut mewakili reaksi anafilaksis yang dramatis. Jenis alergi ini ditandai dengan terjadinya gejala dalam beberapa menit, atau jam, paparan alergen (inhalasi, per oral, per suntikan, perkutan). Selain pruritus, urtikaria, dan angioedema, dyspnea serta diare, kolik, dan gejala syok berat juga bisa terjadi.

 

Alergi Tipe-II

Dalam tipe-II, antibodi sirkulasi alergi dapat menyebabkan lisis sel (misalnya, anemia hemolitik alergik, reaksi transfusi).

 

Alergi Tipe III

Alergi tipe-III terdiri dari apa yang disebut penyakit kompleks imun. Antigen yang berbeda (obat, bakteri, virus, sel tumor, mungkin jaringan endogen) bersama dengan antibodi masing-masing membentuk kompleks imun yang beredar yang dapat mengendap dalam membran basal arteri dan glomeruli.

 

Biasanya, pasien ini menyajikan gambaran klinis yang relatif sama, yang biasanya ditandai oleh arthralgia, berbagai jenis perubahan kulit, dan glomerulonefritis. Gejala yang kurang sering adalah pleuritis, perikarditis, dan alveolitis alergika.

 

Contoh penyakit kompleks imun adalah: paru-paru Petani, glomerulonefritis pascainptokokus, glomerulonefritis yang berhubungan dengan endokarditis, dan berbagai jenis tumor, seperti kanker kolon, tumor bronkus, dan hipernephroma.

 

 

Alergi Tipe-IV

Dalam kaitannya dengan alergi tipe-IV, limfosit T peka dapat menyebabkan reaksi alergi, terutama pada kulit. Alergi ini diamati sebagai kontak eczemas dan exanthemas. Permulaan dari waktu kontak alergi hingga munculnya gejala bisa sampai 10 hari.

 

 

Kesimpulan

Daftar di atas merupakan daftar penyakit-penyakit berdasarkan subkelompok sistemnya.

 

Pengelompokan ini membuat dokter lebih mudah dalam penegakan diagnosis.

 

Hal ini juga yang membuat tindakan diagnosis adalah kunci pengobatan penyakit.

 

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar diagnosis adalah kunci pengobatan silakan tuliskan di kolom komentar.

Referensi
  1. Bowen SL. Educational strategies to promote clinical diagnostic reasoning. N Engl J Med 2006;355:2217−2225.
  2. De Vita VT Jr, Hellmann S, Rosenberg SA. Cancer – Principles and Practice of Oncology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott 1997.
  3. Kassirer JP. Teaching problem solving-how are we doing? N Engl J Med 1995; 332: 1507.
  4. Fitzgerald FT. Chapter 1. History and Physical Examination: Art and Science. In: Henderson MC, Tierney LM, Jr., Smetana GW. eds. The Patient History: An Evidence-Based Approach to Differential Diagnosis New York, NY: McGraw-Hill; 2012. http://accessmedicine.mhmedical.com/content.aspx?bookid=500&sectionid=41026543.
  5. Diagnostic Process. In: Stern SC, Cifu AS, Altkorn D. eds. Symptom to Diagnosis: An Evidence-Based Guide, 3e New York, NY: McGraw-Hill; 2014. http://accessmedicine.mhmedical.com/content.aspx?bookid=1088&sectionid=61696411.
anak demam

Diagnosis dan Tatalaksana Demam Pada Anak

Demam pada anak dapat didefinisikan sebagai suhu pada anus (rektal) > 38°C atau suhu pada ketiak (aksila) > 37,2°C atau suhu pada mulut > 37,5°C (oral).

 

Demam < 41,7 °C tidak menyebabkan kerusakan otak. Dan hanya 4% dari total anak yang demam mengalami kejang demam.

demam pada anak
Sumber: https://pixabay.com

Beberapa istilah yang perlu dipahami terkait dengan demam pada anak antara lain:

 

  1. Hiperpireksia

Istilah ini digunakan untuk kondisi suhu tubuh > 41,5°C. Kondisi ini membutuhkan terapi anti piretik agresif karena berisiko untuk menimbulkan kerusakan organ permanen (irreversibel)

 

  1. Fever of unknown origin (FUO)

FUO berarti demam > 3 minggu, demam > 38°C pada beberapa kesempatan pengukuran, dan diagnosis yang tidak jelas setelah 1 minggu perawatan dan pemeriksaan di rumah sakit.

 

  1. Nosocomial FUO

Istilah ini merujuk kepada pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit bukan karena penyakit infeksi atau gejala deam tapi memiliki suhu tubuh > 38,3°C dalam beberapa kali pemeriksaan dengan menggunakan termometer.

 

 

Diagnosis Demam Pada Anak

Pencatatan Demam Pada Anak

diagnosis demam pada anak
Sumber: https://pixabay.com
  • Suhu tubuh yang diperiksa pada mulut cukup akurat untuk menentukan apakah seorang anak mengalami demam atau tidak bila anak tidak mengkonsumsi minuman dingin atau panas sekurangnya 20 menit sebelum pemeriksaan dilakukan.
  • Suhu tubuh pada ketiak sebenarnya paling tidak akurat dan pemeriksaan suhu tubuh ada anus tidak nyaman terutama pada anak yang sudah cukup besar.
  • Pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer membran timpani menunjukkan suhu tubuh yang akurat dan lebih aman dibandingkan termometer klasik (termometer raksa)
  • Termometer raksa harus ditempatkan sekitar 2 menit untuk pengukuran pada anus; 3 menit pada mulut; dan 5-6 menit untuk ketiak
  • Termometer digital dapat mengukur suhu tubuh kurang dari 2 detik tapi tentu saja harganya lebih mahal

 

Temukan Penyebab Demam Pada Anak

  • Cobalah untuk menentukan penyebab demam berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik
  • Demam dengan durasi singkat (< 2 minggu) biasanya terjadi karena infeksi
  • Karakter demam (misalnya relaps, Pel Ebstein, Step ladder) dapat memberikan petunjuk penyebab demam.
  • Hiperpireksia karena paparan lingkungan yang panas, demam karena dehidrasi, demam karena alergi obat, dan krisis hemolitik merupakan penyebab yang jarang ditemukan untuk kasus demam dengan durasi singkat.

 

Secara sederhana demam pada anak juga dapat dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan gejala dan tanda yang ditemukan pada anak, yaitu:

 

  1. Demam karena infeksi tanpa tanda lokal (Tabel 1)

 

Tabel 1 Diagnosis Banding demam tanpa tanda lokal

DiagnosisDeskripsi
Malaria·   Onset tiba-tiba disertai menggigil kemudian berkeringat

·   Apusan darah positif malaria

·   Tes diagnostik cepat (RDT) positif

·   Anemia berat

·   Pembesaran limfa (lien)

Septikemia·   Sakit berat dan sakit tanpa penyebab yang pasti

·   Purpura atau petekie

·   Syok atau hipotermia

Demam Tifoid·   Sakit berat dan sakit tanpa penyebab yang pasti

·   Nyeri tekan abdomen

·   Kebingunan

·   Mencret dan muntah

Infeksi saluran kemih·   Nyeri ketok CVA atau suprapubik

·   Nyeri ketika buang air kecil

·   Buang air kecil menjadi lebih sering

·   Inkontinesia urin

·   Leukosit dan/atau bakteri pada urin

 

  1. Demam karena infeksi dengna tanda lokal (Tabel 2)

 

Tabel 2 Diagnosis Banding demam dengan tanda lokal

DiagnosisDeskripsi
Meningitis
  • Demam dengan nyeri kepala dan muntah
  • Kejang
  • Leher kaku (tanda meningeal positif)
  • Ubun-ubun cembung (bulging)
  • Ruam meningococcal (petekie atau purpura)
Otitis Media
  • Gendang telinga eritem pada pemeriksaan otoskopi
  • Pus dari telinga
  • Nyeri telinga
Mastoiditis
  • Nyeri atau kemerahan di bagian belakang telinga
Osteomielitis
  • Nyeri lokal
  • Terbatasnya gerakan tungkai yang sakit
  • Batasan menyangga berat badan pada tungkai yang sakit
Artritis septik
  • Sendi terasa panas, nyeri, dan bengkak
Pneumonia
  • Batuk dengan sesak napas
  • Demam
  • Rhonki
  • Nyeri dada
Infeksi saluran napas atas
  • Gejala batuk dan pilek
  • Disertai perasaan tidak enak badan (letih dan lemah)

 

  1. Demam disertai ruam pada kulit (Tabel 3)

 

Tabel 3 Diagnosis Banding demam disertai ruam pada kulit

DiagnosisDeskripsi
Campak/Measles/Rubeola
  • Ruam tipikal (makulopapular)
  • Batuk, hidung berair, mata merah
  • Terpapar penderia campak sebelumnya
  • Tidak mendapatkan imunisasi campak
Infeksi Virus
  • Badan letih dan lemas
  • Ruam tidak spesifik transien
Infeksi Meningococcal
  • Ruam petekie atau purpura
  • Kulit lebam
  • Syok
  • Leher kaku bila disertai dengan meningitis
Demam Berdarah Dengue
  • Nyeri perut
  • Petekie
  • Perdarahan pada hidung, gusi atau perdarahan saluran cerna
  • syok

 

 

Selain itu dapat pula dipikirkan kemungkinan diagnosis pada demam yang lebih dari 7 hari (Tabel 4)

 

Tabel 4 Diagnosis Banding demam lebih dari 7 hari

DiagnosisDeskripsi
Abses
  • demam tanpa fokus infeksi yang jelas (deep abses)
  • massa dengan nyeri tekan atau fluktuasi
  • nyeri lokal
  • tanda spesifik pada daerah supraprenikus, liver, psoas, retroperitoneal, paru-paru, atau renal
Demam Reumatik
  • Murmur jantung
  • Artritis/artralgia
  • Gagal jantung
  • Denyut nadi cepat
  • Pericardial friction rub
  • Korea
  • Riwayat infeksi streptoccocal
Endokarditis Infektif
  • Penurunan berat badan
  • Lien membesar
  • Anemia
  • Murmur jantung
  • Perdarahan splinter pada nailbed
  • Hematuria mikroskopik
  • Jari tabuh
Tuberkulosis
  • Penurunan berat badan
  • Anoreksia, keringat pada malam hari
  • Batu
  • Pembesaran hepar dan/atau lien
  • Riwayat keluarga dengan tuberkulosis
  • Rongent paru mengarah ke tuberkulosis
  • Tes tuberkulin positif
  • Limfadenopati

 

 

  • Demam yang bertahan hingga > 2 minggu harus diinvestigasi terkait dengan infeksi, keganasan, gangguan jaringan ikat, penyakit autoimun, dan penyebab metabolik
  • Pemeriksaan laboratorium yang sesuai seperti pemeriksaan darah lengkap, apusan darah tepi, urinalisa, tes serologi, pemeriksaan radiologi (terutama rongent thoraks) dan kultur darah atau cairan tubuh. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan sesuai indikasi dengan memperhatikan tanda dan gejala terkait demam.

 

 

Anak dengan salah satu kondisi berikut harus diperiksa segera:

  • Usia < 3 bulan
  • Demam > 40,6°C
  • Menangis tanpa sebab yang jelas
  • Menangis ketika digerakkan atau disentuh
  • Sulit untuk dibangunkan
  • Leher kaku
  • Ruam ungun atau merah pada kulit
  • Sulit bernapas
  • Sulit menelan
  • Kejang
  • Tampak sakit berat

 

 

Tatalaksana Demam Pada Anak

Terapi Non Farmakologis

obat demam pada anak
sumber: https://pixabay.com
  • Tenangkan orang tua pasien atau pasien dan jelaskan bahwa demam dengan derajat ringan tidak harus diatasi dengan pemberian antipiretik
  • Berikan lebih banyak minum
  • Gunakan pakaian satu lapis yang tipis
  • Jangan berada di lingkungan yang dingin atau panas
  • Kompres menggunakan air biasa pada daerah lipatan tubuh seperti ketiak dan/atau lipat paha. Berikan parasetamol 30 menit sebelum mengompres anak.
  • Untuk anak dengan usia < 3 bulan. Identifikasi risiko rendah pada bayi seperti yang ditunjukkan pada tabel 5. Pasien dengan risiko rendah demam tidak harus dirawat di rumah sakit
  • Bila tidak memenuhi kriteria pada tabel 5 maka pasien harus dirawat di rumah sakit

 

Tabel 5. Identifikasi demam risiko rendah untuk infeksi bakteri pada anak < 3 bulan

1. Non-toksik
2. Anak sebelumnya tampak sehat
3. Tidak ditemukan fokus infeksi bakteri saat pemeriksaan fisik
4. status sosial baik
5. Hitung leukosit 5.000-15.000/μL dan < 1.500 neutrofil batang/μL
6. leukosit pada pemeriksaan urin mikroskopik leukosit ≤10 sel/lapangan pandang
7. Jika diare, hasil pemeriksaan mikroskopik feses leukosit ≤10 sel/lapangan pandang

 

Pada anak usia > 3 bulan

  • Suhu tubuh < 38°C tidak perlu diberikan antipiretik
  • Suhu tubuh > 38°C pemberian antipiretik direkomendasikan

 

 

Terapi Farmakologis

 

Parasetamol tablet atau sirup per oral 10-15 mg/kgBB/dosis, dosis dapat diulangi dengan interval 4 jam

(parasetamol menurunkan demam sekitar 1-2°C 2 jam setelah pemberian)

Perhatian!

Parasetamol intravena tidak direkomendasikan untuk anak usia < 6 bulan dan berat badan < 5 kg

ATAU

 

Ibuprofen tablet atau sirup per oral 10 mg/kgBB/dosis, dosis dapat diulangi dengan interval 8 jam.

(efektivitas sama dengan parasetamol. Efek obat dapat berlangsung sekitar 6-8 jam dibandingkan parasetamol 4-6 jam)

 

Perhatian!

Aspirin tidak boleh digunakan untuk pengobatan demam pada anak karena berpotensi menyebabkan sindrom Reye

 

Pengobatan spesifik harus dilakukan berdasarkan diagnosis.

 

Bila Anda memiliki pertanyaan seputar demam pada anak silakan tuliskan pada kolom komentar.

Referensi
  1. In: Current Paediatric Diagnosis and Treatment. Hay WW, Hayward AR, Levin MJ, Sandheimer JM (eds). 15th Edition. Lange Medical Books, New York, 2001; pp. 211-212.
  2. Fevers in Childhood. In: Ghai’s Essential Paediatrics. Ghai OP, Gupta P, Paul VK (eds). 6th Edition. Interprint, New Delhi, 2004; pp. 201-239.
  3. Facility Based IMNCI (F-IMNCI) Participants Manual. WHO, UNICEF, and Ministry of Health & Family Welfare, Government of India, 2009.
termometer demam

Diagnosis dan Tatalaksana Pada Demam Akut

Demam akut merupakan suatu kondisi dimana terjadi peningkatan suhu tubuh di atas suhu tubuh normal < 7 hari.

 

Rata-rata suhu tubuh manusia dewasa adalah sekitar 36,8 ±0,4 °C dengan suhu terendah pada pukul 6 pagi serta tertinggi pada pukul 4 hingga 6 sore.

 

Suhu tubuh > 37,2 °C pada pagi hari dan > 37,7 °C di sore hari dapat dipertimbangkan sebagai kondisi demam.

 

Demam secara klasik dapat dikelompokkan menjadi:

  • Kontinu: terus-menerus
  • Intermiten: hilang-timbul, berjeda, tidak menetap
  • Remiten: demam naik turun tapi tidak mencapai suhu tubuh normal

 

Akan tetapi, penggunaan anti piretik yang tersedia sebagai obat bebas menyebabkan pola klasik di atas sudah jarang ditemukan.

 

 

Diagnosis Demam Akut

Demam merupakan salah satu keluhan yang cukup sulit untuk ditegakkan diagnosis pastinya.

 

Terkadang bahkan diagnosis dari kondisi ini hanya sekedar observasi febris”.

 

Rentang dosis yang cukup luas ini terkadang menjadi tantangan sendiri bagi seorang dokter.

 

Jika anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat mengarahkan kepada diagnosis, misalnya seperti infeksi saluran kemih atau infeksi virus maka tidak dibutuhkan pemeriksaan lanjutan.

 

Kebutuhan akan pemeriksaan lanjutan sangat bergantung pada:

  • Keadaan umum pasien (sakit sedang atau berat)
  • Kemungkinan diagnosis (misalnya pada demam berdarah atau malaria)
  • Status kekebalan tubuh pasien (misalnya pasien immunocompromised atau orang dengan HIV/AIDS)
demam akut
Sumber: https://pixabay.com

Pada kasus dimana pasien datang dengan keadaan umum sakit sedang-berat tapi tidak ada petunjuk yang mengarahkan pada diagnosis maka pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Hitung darah lengkap dengan laju endap darah
  • Urinalisa
  • Pemeriksaan malaria
  • Pemeriksaan tifoid (tes Widal atau Tubex)

 

Bila demam menetap hingga > 2 minggu maka dapat diindikasikan pemeriksaan rongent thoraks bahkan bila pasien tidak memiliki gejala saluran napas.

 

Ultrasonografi terkadang dibutuhkan pada beberapa kasus demam akut tertentu misalnya pada pasien dengan abses hepar amoebeik.

 

 

Tatalaksana Demam Akut

obat demam
Sumber: https://pixabay.com

Penggunaan antipiretik rutin untuk demam derajat rendah tidak dapat dibenarkan.

 

Gunakan anti piretik sesuai dengan indikasi klinis.

 

Pada kondisi demam akut yang mengarah kepada diagnosis infeksi bakteri atau virus maka demam dapat ditatalaksana secara simptomatis.

 

 

Tatalaksana Non Farmakologis

Hidroterapi dengan menggunakan kompres. Teknik kompres dengan air biasa (air keran bukan air dingin [es] apalagi air panas) pada daerah lipatan seperti ketiak dan lipat paha dapat membantu menurunkan suhu tubuh.

 

Istirahat yang cukup (bed rest) dan konsumsi cukup air dapat membantu mengatasi demam.

 

 

Tatalaksana Farmakologis

Pengobatan demam akut sangat tidak spesifik dan bersifat simptomatis.

 

Beberapa pilihan pengobatan simptomatis tersebut antara lain:

 

Parasetamol tablet 500-1.000 mg setiap 6-8 jam (maksimal 4 gram dalam 24 jam)

 

Untuk dosis anak dapat diberikan:

 

10-15 mg/kg/dosis secara oral setiap 4 sampai 6 jam; maksimal 75 mg/kg/hari untuk bayi dan kurang dari 100 mg/kg/hari atau 1625 mg/hari pada anak-anak

[Catatan: kurangi dosis pada lansia dan orang dewasa dengan berat badan < 50 kg serta orang dengan risiko hepatotoksik yang lebih besar]

 

ATAU

 

Ibuprofen 400-600 mg setiap 8 jam

 

Untuk dosis anak dapat diberikan:

  • Usia 6 bulan hingga 12 tahun: 5-10 mg/kg/dosis secara oral setiap 6 hingga 8 jam sesuai kebutuhan, maksimal 4 dosis/hari

  • Usia > 12 tahun: 200 hingga 400 mg per oral setiap 4 hingga 6 jam sesuai kebutuhan, maksimal 1200 mg/hari

  • jangan memberikan lebih dari 10 hari kecuali dengan anjuran oleh dokter

 

 

Pengobatan spesifik seperti pemberian antibiotik, antiviral, atau anti malaria sangat bergantung pada kondisi klinis, evaluasi laboratoris, dan diagnosis.

 

 

Outcome

anak demam
Sumber: https://pixabay.com

Pada sebagian besar kasus demam akut. Pasien dapat pulih secra spontan atau diagnosis dapat ditentukan setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik ulang beberapa hari setelah demam muncul.

 

Jika tidak dapat menentukan diagnosis dan demam berlangsung hingga minggu ke 3 maka pasien dapat dinyatakan mengalami FUO.

 

Pasien yang mengalami Fever of Unknown Origin (FUO) harus menjalani beberapa pemeriksaan lanjutan untuk dapat menentukan diagnosis penyebab demam tersebut.

 

 

Edukasi Pasien

  • Pada demam yang tidak turun setelah pemberian anti piretik pertama kali di rumah maka hindari untuk meneruskan pengobatan rumahan dan segera periksakan pasien ke dokter
  • Anti piretik injeksi sebaiknya dihindari bila pasien masih memungkinkan untuk asupan oral dan hanya digunakan pada kasus demam berat
  • Jangan mengkonsumsi antibiotik ketika demam terjadi. Demam bukanlah penyakit melainkan gejala penyakit dan tidak tepat diobati dengan antibiotik
  • Hindari penggunaan selimut pada pasien dengan demam tinggi
  • Cobalah untuk menambah asupan air.
  • Kompres pada daerah lipatan harus dilakukan berulang kali hingga demam teratasi.

 

 

Referensi
  1. Alterations in Body Temperature. In: Harrison’s Principles of Internal Medicine. Fauci, Braunwald, Kasper et al (eds), 18th Edition, McGraw Hill Company Inc., New York, 2012; pp 143-170.
  2. Physiological Changes in Infected Patients. In: Oxford Textbook of Medicine. Warrell DA, Cox TM, Firth JD, Benz EJ Jr (eds), 4th Edition, Oxford University Press, 2003; pp 1.289-1.292.
  3. http://www.dynamed.com
Acute mountain sickness

Pedoman Diagnosis dan Tatalaksana Acute Altitude Illnesses

Acute altitude illnesses merupakan kondisi yang berpotensi serius yang dialami oleh orang yang berada atau naik pada ketinggian lebih dari 2.500 meter (8.202 kaki) dari permukaan air laut.

Kondisi ini memiliki banyak faktor risiko mayor termasuk pendakian yang cepat, tingkat ketinggian yang semakin meningkat, riwayat penyakit acute altitude illnesses sebelumnya, pengeluaran tenaga yang berlebihan (kelelahan), dan suhu dingin.

Kondisi ini mencakup:

Acute mountain sickness (AMS)

  • gejala dari kondii ini adalah nyeri kepala, mual/muntah, keletihan, dan pusing
  • umunya terjadi 6-12 jam paska sampai pada ketinggian dan membaik pada 1-3 hari setelahnya

High altitude cerebral edema (HACE)

  • perkembangan penyakit dari acute mountain sickness yang tidak membaik

High altitude pulmonary edema (HAPE)

  • bentuk non kardiogenik dari edema paru
  • berkembang 1-4 hari setelah sampai pada ketinggian lebih dari 2.500 meter pada orang dengan atau tanpa gejala acute mountain sickness

 

Evaluasi Acute Altitude Illnesses

Diagnosis acute mountain sickness ditegakkan pada orang yang berada pada ketinggian lebih 500 meter dari permukaan air laut yang mengalami keluhan  sakit kepala, keletihan, kelemahan, pusing, mual, muntah, anoreksia, atau sulit tidur.

Kondisi ini biasanya muncul 6-12 jam setelah sampai pada ketinggian tersebut

Acute altitude illnesses
By Benh LIEU SONG (Own work) [GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html) or CC BY-SA 3.0 (https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0)], via Wikimedia Commons
Diagnosis HACE ditegakkan apabila terdapat perubahan status mental pada pasien AMS yang tidak mengalami perbaikan atau perubahan status mental dan ataksia pada pasien tanpa AMS

Diagnosis HAPE ditegakkan apabila terdapat ≥ 2 gejala pulmoner (dispneu saat beristirahat, batuk, penurunan kemampuan beraktivitas, dan dada terasa sesak) dan ≥ 2 tanda (ronhki atau wheezing, sianosis sentral, takipneu, takikardi).

HAPE biasanya terjadi 1-4 hari setelah sampai, dan dapat terjadi tanpa AMS.

Pertimbangkan penggunaan skor Lake Louise untuk mengetahui tingkat keparahan AMS.

Skor Lake Louise untuk AMS

Skor ini terdiri dari 5 pertanyaan terkait gejala dan 3 pemeriksaan klinis

Kuisioner Gejala

  • Nyeri Kepala
  • Tidak ada – 0
  • Ringan – 1 poin
  • Sedang – 2 poin
  • Berat – 3 poin

Gejala gastrointestinal

  • Tidak ada – 0
  • Nafsu makan buruk atau nausea – 1 poin
  • Nausea sedang atau vomitus – 2 poin
  • Nausea dan vomitus berat – 3 poin

Kelemahan atau keletihan

  • Tidak letih atau lemah – 0
  • Ringan – 1 poin
  • Sedang – 2 poin
  • Berat – 3 poin

Pusing

  • Tidak ada – 0
  • Ringan – 1 poin
  • Sedang – 2 poin
  • Berat – 3 poin

Sulit tidur

  • Tidur baik seperti biasa – 0
  • Tidak dapat tidur seperti biasa – 1 poin
  • Terbangun beberapa kali di malam hari – 2 poin
  • Tidak dapat tidur sama sekali – 3 poin

Penilaian Klinis

Perubahan status mental

  • Tidak ada perubahan – 0
  • Letargis – 1 poin
  • Disorientasi/kebingungan – 2 poin
  • Stupor/setengah sadar – 3 poin

Penilaian ataksia (menggunakan pemeriksaan berjalan menggunakan tumit-jempol)

  • Tidak ada – 0
  • Bermanuver untuk mempertahankan keseimbangan – 1 poin
  • Berjalan keluar garis – 2 poin
  • Jatuh – 3 poin
  • Tidak mampu berdiri – 4 poin

Penilaian edema perifer

  • Tidak ada – 0
  • Satu lokasi – 1 poin
  • ≥ 2 lokasi – 2 poin

Interpretasi Skor

  • Skor 2-4 dipertimbangkan sebagai AMS ringan
  • Skor 5-15 dipertimbangkan sebagai AMS sedang-berat

 

Tatalaksana Acute Altitude Illnesses

Prinsip Tatalaksana

  • Setiap gejala atau keluhan yang tidak berkurang dengan istirahat dianggap sebagai AMS
  • Berikan parasetamol atau ibuprofen untuk nyeri kepala saat berada diketinggian tanpa gejala lainnya.
  • Berikan anti-emetik untuk gejala gastrointestinal tanpa gejala lainnya
  • Untuk AMS, HACE, dan HAPE
  • Bila memungkinkan, turun hingga gejala menghilang
  • Turun sejauh 300-1.000 meter pada umumnya adekuat tapi bervariasi antar individu
  • Jangan dibiarkan pasien turun sendiri

Untuk AMS

  • Pemberian deksametason direkomendasikan untuk semua derajat AMS khususnya derajat sedang-berat
  • Dewasa: Deksametason 4 mg PO, IV atau IM setiap 6 jam
  • Anak-anak: Deksametason 0,15 mg/kg per dosis PO, IV, IM setiap 6 jam
  • Tunda pendakian lebih lanjut setelah pasien mendapatkan deksametason sampai pasien asimptomatik tanpa obat ini.
  • Acetazolamid dapat digunakan untuk AMS ringan
  • Dewasa: Acetazolamid 250 mg 2 kali sehari PO
  • Anak: Acetazolamid 2,5 mg/kg setiap 12 jam (dosis maksimal 125 mg per dosis)

Bila tidak terdapat perbaikan terhadap manajemen konservatif, pertimbangkan:

  • Pemberian oksigan
  • Ruang hiperbarik portabel

HACE dan HAPE harus tatalaksana sebagai kondisi emergensi (kematian karena edema serebri dapat terjadi dalam hitungan jam setelah gejala)

Jika tidak memungkinkan untuk turun, pertimbangkan pemberian:

  • Oksigen
  • Ruang hiperbarik portabel

Jika sangkaan HACE

  • Lakukan terapi primer dengan deksametason 8 mg dosis pertama lalu dilanjutkan 4 mg PO, IV, atau IM setiap 6 jam
  • Pertimbangkan menambah acetazolamid 250 mg 2 kali sehari pada dewasa atau 2,5 mg/kg setiap 12 jam (maksimal 125 mg/kali beri) pada anak sebagai tambahan deksametason

Jika sangkaan HAPE

  • Tambahkan nipedifine sustained release 30 mg 2 kali sehari (tanpa dosis loading) sebagai tambahan terapi oksigen dan turun.

 

Pencegahan Acute Altitude Illnesses

Direkomendasikan naik secara bertahap kurang lebih 500 meter/hari dengan istirahat setiap 3-4 hari

Untuk orang dengan risiko sedang hingga berat (seperti riwayat high-altitude illness atau yang akan naik hingga 2.800 meter dalam satu hari)

  • Berikan acetazolamid 125 mg (2,5 mg/kg untuk anak) PO 2 kali sehari dimulai ≥ 1 hari sebelum naik dan dilanjutkan hingga mulai untuk turun.
  • Jika acetazolamid tidak ditoleransi, berikan deksametason 2 mg PO setiap 6 jam atau 4 mg PO setiap 12 jam (hingga 10 hari)

Untuk orang dengan riwayat HAPE, pertimbangkan salah satu pencegahan berikut

  • Nifedipin SR 30 mg 2 kali sehari PO dimulai dari saat naik hingga mulai turun atau 4 hari
  • Salmeterol inhalasi 125 mcg 2 kali sehari
  • Deksametason 8 mg PO 2 kali sehari
  • Tadalafil 10 mg PO 2 kali sehari

 

Referensi:

  1. Luks AM, McIntosh SE, Grissom CK, et al. Wilderness Medical Society practice guidelines for the prevention and treatment of acute altitude illness: 2014 update. Wilderness Environ Med. 2014 Dec;25(4 Suppl):S4-14
  2. Imray C, Booth A, Wright A, Bradwell A. Acute altitude illnesses.  2011 Aug 15;343:d4943
  3. Palmer BF. Physiology and pathophysiology with ascent to altitude. Am J Med Sci. 2010 Jul;340(1):69-77
  4. Fiore DC, Hall S, Shoja P. Altitude illness: risk factors, prevention, presentation, and treatment. Am Fam Physician. 2010 Nov 1;82(9):1103-10

 

Beberapa Pedoman dan Tinjauan Lainnya terkait kondisi ini dapat dilihat pada link berikut

Pedoman

International Climbing and Mountaineering Federation – Union International des Associations d’Alpinisme (UAII) guidelines for drug use and misuse in the mountains can be found in High Alt Med Biol 2016 Sep;17(3):157

Tinjauan Pustaka

JEMS 2016 Jun;41(6):22

Curr Sports Med Rep 2015 Mar-Apr;14(2):82

BMJ 2011 Aug 15;343:d4943

Am Fam Physician 2010 Nov 1;82(9):1103 full-text

 

 

krim jerawat

Panduan Diagnosis dan Tatalaksana Jerawat

Jerawat (Acne Vulgaris) adalah masalah kulit yang ditandai dengan munculnya bintik-bintik pada beberapa bagian tubuh, seperti wajah, leher, punggung, dan dada. Kondisi ini dapat memunculkan presentasi yang berbeda-beda mulai dari yang ringan seperti komedo (hitam dan putih atau terbuka dan terutup), pustula, hingga kista dan nodul.

jerawat
Background image created by Bearfotos – Freepik.com

 

 

PETUNJUK PENTING JERAWAT

 

  • Sering dialami pada masa pubertas
  • Komedo terbuka dan tertutup merupakan ciri khas jerawat
  • Kondisi kulit yang paling sering terjadi
  • Tingkat keparahan bervariasi mulai dari komedonal-papular-pustular (jewarat inflamatorik)-kista atau nodul
  • Mengenai wajah dan badan atau punggung
  • Skuele penyakit berupa skar dan terjadi karena garukan pasien

 

 

Manifestasi Klinis

Gejala dan Tanda

krim jerawat
Leaf image created by Skadyfernix – Freepik.com
  • Nyeri tekan ringan, nyeri, dan gatal
  • Lesi muncul pada wajah, leher, dada, punggung, dan bahu
  • Komedo merupakan ciri khas
  • Komedo tertutup (putih) berukuran kecil, sewarna kulit, papula superfisial non inflamatorik yang menyebabkan tekstur kulit menjadi kasar
  • Komedo terbuka (hitam) berukuran lebih besar, memiliki material hitam
  • Papula inflamatorik, pustula, kista jerawat, dan skar
  • Jewarat dapat memiliki presentasi yang berbeda pada usia yang berbeda

Penegakan dan Diagnosis Banding

Diagnosis banding kondisi ini antara lain:

  • Acne rosacea (wajah)
  • Bacterial folliculitis (wajah atau badan)
  • Tinea (wajah atau badan)
  • Penggunaan steroid topikal (wajah)
  • Perioral dermatitis (wajah)
  • Pseudofolliculitis barbae
  • Miliaria (biang keringat) (badan)
  • Eosinophilic folliculitis (badan)
  • Kondisi hiperandrogen pada wanita
  • Pustula pada wajah juga disebabkan karena infeksi tinea

 

Diagnosis kondisi ini ditegakkan berdasarkan:

 

Tatalaksana Jerawat

Medikamentosa

Jerawat Komedonal

  • Sabun berperan kecil, jika digunakan harus bersifat ringan
  • Retinoid topikal
    • Tretinoin
      • Sangat efektif
      • Mulai dengan krim 0,025% 2 kali per minggu pada malam hari
      • Tingkatkan frekuensi bila toleransi tidak baik
      • Krim seukuran kacang cukup untuk separuh wajah
      • Oleskan 20 menit setelah mencuci muka
    • Jika tretinoin standar menyebabkan iritasi, pilihan lainnya termasuk:
      • Adapalene gel 0,1%
      • Tretinoin refomulasi
      • Tazarotene gel 0,05% atau 0,1%
    • Lesi dapat mengalami flare selama 4 minggu masa perawatan
    • Kontraindikasi pada ibu hamil
  • Benzoyl peroxide 2,5% lebih efektif dan kurang iritatif dibandingkan dengan 10%
  • Penggunaan antibiotik topikal menunjukkan penurunan lesi komedonal dan pustular
    • Pilihan antibiotik dapat berbeupa:
    • Clindamycin phosphate: solusio, gel, dan losion  1% → 2 kali sehari
    • Eritromisin: solusio dan gel 2% → 2 kali sehari

Jerawat inflamatorik papular atau kistik

  • Antibiotik adalah terapi pemeliharaan yang diberikan per oral dan topikal
  • Jerawat derajat ringan
    • Pilihan pertama adalah kombinasi eritromisin atau klindamisin → 2 kali sehari dengan benzoyl peroxida gel topikal → 1 kali sehari pada pagi hari
    • Dapat ditambahkan tretinoin gel 0,025% atau 0,01% pada malam hari
  • Jerawat derajat sedang
    • Doksisiklin oral (100 mg 2 kali sehari), atau kotrimoksazol (960 mg 2 kali sehari), atau sefalosporin (sefadroksil 500 mg 2 kali sehari)
      • Dikombinasikan dengan benzoyl peroxide
      • Dosis diturunkan 50% setiap 6-8 minggu hingga dosis terendah
    • Penghentian antibiotik tiba-tiba akan meningkatkan risiko kekambuhan
    • Retinoid topikal merupakan terapi pemeliharaan terbaik bersama dengan antibiotik
    • Pada ibu hamil, doksiklin dikontraindikasikan. Gunakan eritromisin atau sefalosforin
  • Jerawat derajat berat kistik
    • Gunakan isotretinoin sebelum skar signifikan ditemukan atau jika gejala tidak dapat dikontrol dengan pemberian antibiotik
      • Dosis 0,5-1,0 mg / kg / hari selama 20 minggu untuk dosis kumulatif minimal 120 mg / kg biasanya cukup
      • Memiliki cukup banyak efek samping

 

Komplikasi, Prognosis, dan Pencegahan Jerawat

Komplikasi kondisi ini antara lain:

  • Pembentukan kista
  • Perubahan pigmen
  • Skar berat
  • Masalah psikologis

Prognosis kondisi ini adalah sebagai berikut:

  • Flare intermiten pada saat pengobatan
  • Jika kondisi ini menetap hingga dewasa dapat menyebabkan skar berat jika tidak ditatalaksana dengan baik
  • Antibiotik berkelanjutan memperbaiki kulit selama 3-6 bulan pengobatan
  • Kekambuhan selama pengobatan menunjukkan suatu P acnes yang resistan
  • Remisi terhadap pengobatan sistemik dengan isotretinoin dapat bertahan pada 60% kasus
  • Kekambuhan setelah isotretionin dapat terjadi dalam 3 tahun dan membutuhkan pemberian isotretionion kedua pada hingga 20% pasien

Pencegahan yang dapat dilakukan untuk kondisi ini antara lain:

  • Edukasi pasien untuk tidak memanipulasi lesi (memencet dan menggaruk)
  • Hindari paparan minyak topikal

 

Kapan Jerawat Harus Dirujuk

Kondisi ini harus dirujuk ke spesialis kulit dan kelamin ketika:

  • Gagal respons terhadap rejimen standar
  • Ketika diagnosis tidak dapat ditegakkan
  • Penyakit skar fulminant (gejala parah dan onset tiba-tiba)

Referensi:

Das  S  et al. Recent advances in acne pathogenesis: implications for therapy. Am J Clin Dermatol. 2014 Dec;15(6):479–88.
[PubMed: 25388823] 

Koo  EB  et al. Meta-analysis comparing efficacy of antibiotics versus oral contraceptives in acne vulgaris. J Am Acad Dermatol. 2014 Sep;71(3):450–9.
[PubMed: 24880665] 
Thompson  AE. JAMA patient page. Acne. JAMA. 2015 Feb 10;313(6):640.
[PubMed: 25668279] 

Konjungtivitis Alergi: Diagnosis dan Tatalaksana

Konjungtivitis alergi adalah reaksi alergi pada jaringan okular dan periokular yang bermanifestasi sebagai kemerahan mata disertai dengan rasa gatal serta pembengkakan akibat paparan alergen. Konjungtivitis alergi dapat bersifat musiman dan perenial dengan tidak melibatkan kornea dan merupakan hasil dari reaksi hipersensitivitas awal imunoglobulin E (IgE). Kondisi  ini biasanya terkait dengan manifestasi penyakit atopik lainnya seperti rhinitis alergi, asma, urtikaria, dan / atau dermatitis atopik. Kondisi ini biasanya muncul dengan kemerahan mata ringan sampai sedang, air mata berlebihan, dan gatal dan pembengkakan konjungtiva hingga sedang (chemosis) dalam pola musiman atau sedang. Diagnosis awal biasanya ditemukan pada masa kanak-kanak atau dewasa muda.

konjungtivitis alergi
Business image created by Katemangostar – Freepik.com

Evaluasi Konjungtivitis Alergi

  • Pertimbangkan manajemen konservatif untuk penyakit ringan termasuk edukasi pasien untuk menghindari menggaruk mata, menghindari paparan alergen, dan iritan. Edukasi pasien untuk melakukan kompres dingin pada mata dan pemberian air mata buatan
  • Medikasi hanya diberikan pada penyakit derajat sedang hingga berat atau sebagai tambahan untuk mengatasi gejala
    • Pemberian stabilisator sel masa okular, anithistamin, atau keduanya merupakan terapi lini pertama
  • Pertimbangkan dual-action mast cell stabilizer / antihistamine sebagai terapi awal, seperti:
    • ketotifen 0,01% -0,035% 1 tetes mata ≤ 3 kali sehari
    • alcaftadine 0,25% 1-2 tetes mata satu kali sehari (FDA Pregnancy Category B)
    • bepotastine 1,5% 1 tetes mata dua kali sehari
    • olopatadine 1% 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari (atau olopatadine 2% 1-2 tetes mata satu kali sehari)
    • azelastine 0,15% 1 tetes mata satu kali sehari
  • Pertimbangkan obat single-action jika pasien peka terhadap komponen dual-action mast cell stabilizer / antihistamine, seperti:
    • antihistamin – dikontraindikasikan pada pasien yang berisiko terkena glaukoma sudut tertutup dan pilihannya meliputi:
      • feniramin maleat 0,315% / naphazolin 0,02675% (kombinasi antihistamin dan dekongestan) 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari
      • Epinastine 0,05% 1 tetes mata dua kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 3 tahun
      • emedastine difumarate 0,05% 1 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 3 tahun
      • levokabastin 0,1% 1 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 12 tahun
    • stabilizer sel mast – pilihan dapat mencakup:
      • nedocromil 2% 1-2 tetes mata dua kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 3 tahun
      • cromolyn 4% 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 2 tahun
      • lodoxamide tromethamine 0,1% 1-2 tetes mata ≤ 4 kali sehari, disetujui untuk digunakan pada pasien ≥ 2 tahun
    • Obat okular lainnya dapat dipertimbangkan jika terapi awal tidak efektif, termasuk obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) sendiri atau sebagai obat tambahan, dekongestan okular sebagai pengobatan tambahan, atau steroid okular untuk kasus yang sangat parah atau resisten atau jika ada paparan yang berkepanjangan / berulang terhadap alergen.
    • Antihistamin oral generasi kedua dapat dipertimbangkan pada pasien dengan atau tanpa rinitis alergi.
    • Imunoterapi alergen dapat dipertimbangkan untuk penyakit sedang sampai berat jika alergen spesifik diidentifikasi dan diperlukan penanganan tambahan.
    • Jika terdapat gejala rhinitis alergi yang jelas, pertimbangkan steroid intranasal, antihistamin oral, dan / atau montelukast oral.
    • Pertimbangkan rujukan ke dokter mata jika ada komorbiditas yang signifikan, diperlukan pemberian kortikosteroid, atau gejala mata baru berkembang.

 

Referensi:

  1. La Rosa M, Lionetti E, Reibaldi M, et al. Allergic conjunctivitis: a comprehensive review of the literature. Ital J Pediatr. 2013 Mar 14;39:18full-text
  2. Friedlaender MH. Ocular allergy. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2011 Oct;11(5):477-82
  3. Bielory L, Meltzer EO, Nichols KK, Melton R, Thomas RK, Bartlett JD. An algorithm for the management of allergic conjunctivitis. Allergy Asthma Proc. 2013 Sep-Oct;34(5):408-20, commentary can be found in Allergy Asthma Proc 2015 Jul-Aug;36(4):79
ansietas

Guidelines Ansietas Berdasarkan NICE 2011

Gangguan cemas menyeluruh (generalised anxiety disorder / GAD) atau ansietas ditandai dengan kekhawatiran dan stres kronis, tidak fokus, dan terkait dengan gangguan klinis dan gangguan fungsional yang signifikan, sering disertai  insomnia, kegelisahan, spasme otot, dan masalah konsentrasi. Usia onset tampaknya bimodal, biasanya terjadi antara usia 10-14 tahun pada anak-anak dan remaja dan pada usia rata-rata 31 tahun pada orang dewasa. GAD dapat terjadi akibat aktivitas neurotransmiter serotonergik dan noradrenergik yang tidak normal. Kombinasi genetika dan pengaruh lingkungan dapat berperan dalam manifestasi gejala. Perjalanan klinis biasanya kronis, dengan kemungkinan remisi yang lebih rendah pada kondisi psikologis komorbid dan dukungan keluarga. GAD dikaitkan dengan peningkatan risiko perilaku bunuh diri serta semua penyebab kematian dan kematian terkait kardiovaskular. Artikel ini memuat guidelines ansietas berdasarkan NICE 2011.

guidelines ansietas
Business image created by Creativeart – Freepik.com

Populasi

Dewasa

Rekomendasi

  • NICE 2011
  1. Rekomendasi cognitive behavioral therapy untuk gangguan cemas menyeluruh (generalized anxiety disorder/GAD)
  2. Rekomendasi pemberian Sertraline jika pengobatan dengan obat dibutuhkan
  3. Jika sertraline tidak efektif, direkomendasikan pemberian selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) atau selective noradrenergic reuptake inhibitor (SNRI) lainnya. Hindari penggunaan terapi benzodiazepin atau anti psikotik jangka panjang pada GAD.

 

Pengobatan/Medikasi berdasarkan Guidelines Ansietas NICE 2011

  1. Cognitive behavioral therapy:
  • Komponen CBT meliputi
    • Paparan terhadap stimulus dan perasaan yang terkait dengan peristiwa traumatik
    • Inhibisi perilaku mengurangi kecemasan dengan menjauhi atau mencari hiburan untuk meningkatkan ketahanan diri
    • Strategi kongnitif unutk mengurangi persepsi berlebihan terhadap ancaman
    • Strategi untuk mengelola tingkat kecemasan/arousal salah satunya dengan kontrol pernapasan
  • Dilakukan selama 6-12 sesi dengan durasi 1 jam untuk setiap sesi.

 

  1. Antidepresan
  • Antidepresan dengan bukti mengurangi remisi dan gejala
    • Sertraline; Escitalopram; Paroxetine
  • Antidepresan dengan bukti untuk mengurangi gejala
    • duloxetine venlafaxine extended release; imipramine; trazodone; opipramol; citalopram; agomelatine
  • Dosis antidepresan:
    • escitalopram 10-20 mg/hari
    • paroxetine 20-50 mg/hari
    • sertraline 50–200 mg/hari
    • duloxetine 60–120 mg/hari
    • venlafaxine 75–225 mg/hari
    • imipramine 50-200 mg/hari
    • citalopram 10-40 mg/hari
    • nortriptyline 20-150 mg/hari
    • opipramol 50–300 mg/hari

 

  1. Benzodiazepin
  • Efektif untuk pengobatan jangka pendek
  • Drug of Choice (DOC): alprazolam 0,5-2 mg/hari, diazepam 2,5-5 mg/hari, lorazepam 1-4 mg/hari
  • Gunakan dengan perhatian terhadap pembentukan kebiasaan yang berujung pada rebound ansietas, dan memiliki efek samping yang lebih parah ketika dihentikan

 

  1. Buspirone
  • Dilaporkan mengurangi gejala ansietas pada GAD
  • Memiliki efek samping yang lebih sedikit
  • Dosis 10-60 mg/hari diberikan 3-4 kali per hari

 

  1. Hidroxyzine
  • Dosis 50-100 mg 4 kali sehari (dewasa)
  • 50-100 mg/hari 3 kali sehari (anak)
  1. Pregabalin
  • DOC untuk pasien yang intoleran terhadap SSRI dan SNRI
  • Dosis 150-600 mg/hari

 

Referensi

  1. Katzman MA, Bleau P, Blier P, et al; Canadian Anxiety Guidelines Initiative Group on behalf of the Anxiety Disorders Association of Canada/Association Canadienne des troubles anxieux and McGill University. Canadian clinical practice guidelines for the management of anxiety, posttraumatic stress and obsessive-compulsive disorders. BMC Psychiatry. 2014;14 Suppl 1:S1
  2. http://www.nice.org.uk/nicemedia/live/13314/52599/52599.pdf
anafilaksis

Guidelines Anafilaksis NICE 2011 dan EACCI 2014

Anafilaksis adalah reaksi alergi sistemik akut yang mengancam jiwa yang dapat berkembang dengan cepat menuju obstruksi jalan napas dan kegagalan (kolaps) kardiovaskular. Anafilaksis dapat dikaitkan dengan kondisi alergi lainnya. Pemicu umum meliputi alergen makanan, obat-obatan, sengatan serangga, media kontras, dan paparan lateks dan anamnesis adalah modalitas yang paling penting dalam menentukan apakah anafilaksis telah terjadi dan apa yang menjadi penyebabnya. Artikel ini memberikan ringkasan guidelines anafilaksis NICE 2011 dan EACCI 2014.

Populasi yang termasuk dalam guidelines anafilaksis

  • Anak-anak dan dewasa

Rekomendasi guidelines anafilaksis NICE 2011 dan EACCI 2014

  • NICE 2011, EACCI 2014
    • Uji sel mast triptase dilakukan pada saat onset dan setelah 1-2 jam kemudian
    • Pada pasien ≥16 tahun dengan sangkaan reaksi anafilaksis harus diobservasi 6-12 jam sebelum dipulangkan
    • Semua pasien <16 tahun dengan sangkaan reaksi anafilaksis harus dirawat untuk observasi
    • Pasien yang telah mendapatkan pengobatan reaksi anafilaksis harus dirujuk ke konsultan alergi
    • Obati anafilaksis dengan epinefrin (1:1000/0,1%) 0,01 mg/kg (maksimal 0,5 mg) SC; jika diperlukan dapat diulang setiap 15 menit.
    • Pasien harus diberikan reseo epinefrin injektor (Cth: EpiPen)
    • Pasien dengan kardiovaskular tidak stabil harus diposisikan supine dengan kedua tungkai bawah ditinggikan dan bolus NaCl 0,9 IV 20mL/kg
    • Direkomendasikan pemberian agonis β-2 dan glukokortikoid pada pasien dengan wheezing atau tanda bronkokontriksi
    • H1– dan H2blockers dapat ditambahkan untuk mengatasi tanda kutaneus anafilaksis.

 

Poin Kunci Guidelines Anafilaksis:

Anafilaksis didefinisikan sebagai reaksi hipersensitivitas general berat, mengancam jiwa dengan karakteristik berupa perkembangan cepat dari: reaksi hipersensitivitas pada kulit atau mukosa, edema saluran napas, bronkospasme, dan disfungsi vaskular.

 

Pengobatan/Medikasi berdasarkan Guidelines Anafilaksis NICE 2011 dan EACCI 2014

guidelines anafilaksis
Background image created by Www.slon.pics – Freepik.com
  1. Epinefrin
  • Lini pertama
  • Diberikan setiap 5-15 menit untuk mengontrol gejala dan meningkatkan tekanan darah
    • Dosis dewasa (epinefrin 1: 1.000 atau 1mg/mL): 0,2-0,5 mL
    • Dosis anak : 0,01 mg/kg (Maks. 0,3 mg atau 0,3 mL)
    • Waktu antar injeksi hars semakin diperpendek
    • Pengulangan dosis diperlukan pada sekitar 35% kasus anafilaksis
  • Injeksi IM pada paha memungkinkan kadar plasma epinefrin tercapai lebih cepat dibandingkan dengan SC atau IM pada bahu.
  • Pada pasien yang tidak respons pemberian epinefrin IM maka perlu diberikan epinefrin IV.
  • Epinefrin IV
    • Potensial beriko untuk mengembangkan aritmia letal.
    • Hanya digunakan jika henti jantung atau hipotensi berkepanjangan yang tidak respons terhadap pemberian epinefrin IM berulang dan resusitasi cairan.
    • Rejimen epinefrin (dilusi 1:100.000)
      • Dosis inisial 2-10 mcg/menit
      • Titrasi dosis berdasarkan respons klinis dan efek samping
      • Lakukan monitoring hemodinamik
    • Jika terjadi Henti Jantung (Cardiac Arrest) maka pemberian epinefrin pada resusitasi jantung paru adalah sebagai berikut:
      • Dewasa: Epinefrin (1:10.000) 1 mg IV, Ulangi setiap 3-5 menit selama henti jantung
      • Anak: Epinefrin (1:10.000) 0,01 mg/kg (0,1 ml/kg hingga 1 mg dosis tunggal), ulangi setiap 3-5 menit selama henti jantung.

 

  1. Antihistamin
  • Terapi lini kedua
    • Antihistamin H1 (Difenhidramin)
      • Dewasa: 25-50 mg IV berikan selama 10-15 menit
      • Anak: 1 mg/kg (maks 50 mg) berikan selama 10-15 menit
    • Antihistamin H2 (Ranitidin)
      • Dewasa: 12,5-50 mg IV bolus lambat atau IM
      • Anak: 1 mg/kg IV bolus lambat atau IM

 

  1. Glukokortikoid
  • Diberikan sebagai terapi adjuvan epinefrin
  • Tidak membantu dalam mengurangi gejala akut akan tetapi mencegah rekurensi dan durasi anafilaksis
  • Pilihan Obat berupa:
    • Dewasa:
      • Hidrokortison 200 mg IV
      • Metilprednisolone 50-100 mg IV
      • Prednison PO dosis ekuivalen metilprednisolon
    • Anak
      • Metilprednisolon 1mg/kg IV (maks 50 mg)
      • Hidrokortison 2 mg/kg IV (maks 100 mg)
      • Prednison PO dosis ekuivalen metilprednisolon

 

  1. Agonis β-2
  • Untuk pengobatan bronkospasme berikan agonis β-2 inhalasi
  • Albuterol/salbutamol
    • 2-6 puff MDI atau 2,5-5 mg nebule+3 mL NaCl 0,9%
    • Dapat diulang jika diperlukan

 

  1. Vasopresor
  • Hanya diberikan pada pasien dengan hipotensi refrakter pasca pemberian epinefrin dan cairan resusitasi
  • Diberikan hanya jika tersedia alat monitoring hemodinamik
  • Dosis vasopresor
    • Dopamin 2-20 mcg/kg/menit titrasi hingga target tekanan darah tercapai
    • Norepinefrin 0,05-0,1 mcg/kg/menit (titrasi maksimal 2 mcg/kg/menit) juga dapat digunakan.

 

Referensi:

  1. Lieberman P, Nicklas RA, Randolph C, et al. American Academy of Allergy, Asthma, and Immunology/American College of Allergy, Asthma, and Immunology (AAAAI/ACAAI) Joint Task Force: Anaphylaxis – a practice parameter update 2015. Ann Allergy Asthma Immunol. 2015 Nov;115(5):341-84
  2. Campbell RL, Li JT, Nicklas RA, Sadosty AT, Members of the Joint Task Force, Practice Parameter Workgroup. Emergency department diagnosis and treatment of anaphylaxis: a practice parameter. Ann Allergy Asthma Immunol. 2014 Dec;113(6):599-608

 

anafilaksis obsturksi jalan napas

Anafilaksis: Rangkuman Diagnosis, dan Tatalaksana

Anafilaksis adalah reaksi alergi sistemik akut yang mengancam jiwa yang dapat berkembang dengan cepat menuju obstruksi jalan napas dan kegagalan (kolaps) kardiovaskular. Anafilaksis dapat dikaitkan dengan kondisi alergi lainnya. Pemicu umum meliputi alergen makanan, obat-obatan, sengatan serangga, media kontras, dan paparan lateks dan anamnesis adalah modalitas yang paling penting dalam menentukan apakah anafilaksis telah terjadi dan apa yang menjadi penyebabnya.

 

Diagnosis Anafilaksis

anafilaksis

  • Segera menilai jalan napas, pernapasan, sirkulasi, dan tingkat kesadaran.
  • Gejala meliputi angioedema, urtikaria, pruritus, kulit berwarna kemerahan dan ruam, sesak napas, disfagia, palpitasi, mual, muntah, diare, kram perut, merasakan akan segara meninggal, pingsan, dan sakit kepala.
  • Temuan pemeriksaan fisik dapat mencakup tingkat kesadaran, hipotensi, dyspnea, stridor, wheezing, eritema, urtikaria dan / atau angioedema yang.
  • Diagnosa anafilaksis secara klinis dapat dilakukan berdasarkan salah satu dari skenario berikut ini:
    1. Reaksi kulit akut atau reaksi jaringan mukosa (seperti gatal-gatal, pruritus, kulit kemerahan, pembengkakan mulut, atau angioedema) terlepas dari apakah paparan alergen yang diketahui telah terjadi dan setidaknya 1 dari:
      • kompromi pernafasan
      • penurunan tekanan darah
      • gejala gastrointestinal
    2. Setelah terpapar kemungkinan alergen, 2 atau lebih reaksi berikut terjadi dengan cepat (beberapa menit sampai jam):
      • keterlibatan kulit atau jaringan mukosa
      • kompensasi pernafasan
      • penurunan tekanan darah
      • gejala gastrointestinal persisten
      • disfungsi organ akhir (seperti hipotonia, sinkop, atau inkontinensia)
    3. setelah terpapar alergen yang secara pasti diketahui
      • Tekanan darah rendah, tekanan darah sistolik rendah (ditentukan oleh usia) atau penurunan tekanan darah sistolik> 30% selama beberapa menit beberapa hingga beberapa jam setelah terpapar alergen yang pasti diketahui.

 

Tatalaksana Anafilaksis

obat-obat

  • Segera berikan epinefrin 0,2-0,5 mg (0,01 mg / kg pada anak-anak, dosis maksimal 0,3 mg) secara intramuskular setiap 5-10 menit bila diperlukan untuk mengendalikan gejala dan mempertahankan tekanan darah.
  • Untuk pasien dengan hipotensi pertimbangkan:
    • menempatkan dalam posisi telentang dan mengangkat kaki sampai pasien hemodinamik stabil dan asimtomatik (rekomendasi lemah)
    • NaCl 0,9% 1-2 L atau 5-10 mL / kg dalam 5 menit pertama (30 mL / kg pada jam pertama untuk anak-anak)
    • infus vasopressor (rekomendasi lemah)
  • Pada pasien yang tidak responsif terhadap epinefrin, pertimbangkan penanganan adjuvan berupa dengan:
    • diphenhydramine 1-2 mg / kg atau 25-50 mg per dosis IV atau secara intramuskular
    • ranitidin 50 mg pada orang dewasa atau 12,5-50 mg (1 mg / kg) pada anak-anak (diencerkan dengan dekstrosa 5% untuk volume total 20 mL) IV selama 5 menit.
    • kortikosteroid – memiliki onset lebih lambat daripada epinefrin dan hanya boleh digunakan sebagai terapi tambahan untuk epinefrin (rekomendasi kuat)
  • Pertimbangkan untuk observasi pasien selama 6-12 jam dari onset gejala, tergantung pada respons pengobatan (rekomendasi lemah).
  • Setelah perawatan akut, berikan autoinjector epinefrin dan edukasi pasien mengenai pencegahan dan pengobatan serangan berulang.
  • Pada tindak lanjut, pertimbangkan pemeriksaan imunoglobulin E (IgE) atau pengujian kulit untuk mengetahui penyebab dan potensi desensitisasi.

 

Referensi:

  1. Lieberman P, Nicklas RA, Randolph C, et al. American Academy of Allergy, Asthma, and Immunology/American College of Allergy, Asthma, and Immunology (AAAAI/ACAAI) Joint Task Force: Anaphylaxis – a practice parameter update 2015. Ann Allergy Asthma Immunol. 2015 Nov;115(5):341-84
  2. Sampson HA, Muñoz-Furlong A, Campbell RL, et al. Second symposium on the definition and management of anaphylaxis: summary report Second National Institute of Allergy and Infectious Disease/Food Allergy and Anaphylaxis Network symposium. J Allergy Clin Immunol. 2006 Feb;117(2):391-7
  3. Simons FE. Anaphylaxis. J Allergy Clin Immunol. 2010 Feb;125(2 Suppl 2):S161-81, correction can be found in J Allergy Clin Immunol 2010 Oct;126(4):885
  4. National Institute of Health and Care Excellence. Anaphylaxis: assessment to confirm an anaphylactic episode and the decision to refer after emergency treatment for a suspected anaphylactic episode. NICE 2011 Dec:CG134PDF, executive summary can be found in BMJ 2011 Dec 14;343:d7595
  5. Campbell RL, Li JT, Nicklas RA, Sadosty AT, Members of the Joint Task Force, Practice Parameter Workgroup. Emergency department diagnosis and treatment of anaphylaxis: a practice parameter. Ann Allergy Asthma Immunol. 2014 Dec;113(6):599-608

 

Nyeri Punggung Bawah: Panduan Diagnosis

Nyeri punggung bawah disebabkan oleh berbagai kondisi dan biasanya tidak bersifat progresif atau mengancam jiwa. Mengidentifikasi apa yang menyebabkan nyeri punggung belakang merupakan tujuan utama evaluasi pasien dengan keluhan ini. Evaluasi ini sangat diperlukan terutama pada pasien yang membutuhkan tatalaksana segera terkait dengan nyeri punggung bawah. Pada praktik klinis, nyeri punggung serius dapat terjadi karena penyakit sistemik atau viseral atau nyeri dengan tanda dan gejala neurologis yang signifikan. Nyeri punggung bawah juga dapat terkait dengan struktur muskuloskeletal punggung yang disebut sebagai nyeri punggung mekanis. Diagnosis banding nyeri punggung bawah dapat ditinjau sebagai berikut:

  • Nyeri punggun karena gangguan struktur muskuloskeletal
    • Nyeri punggung (mekanis) non spesifik: hubungan antara abnormalitas anatomis yang terlihat pada pemeriksaan radiologis dan gejala tidak dapat didefinisikan dengan jelas
    • Nyeri punggung muskuloskeletal spesifik: terdapat hubungan yang jelas antara abnormalitas anatomis dan gejala
      • Radikulopati lumbal karena herniasi diskus, osteofit, hipertrofi facet atau penyempitan neuroforaminal
      • Stenosis spinal
      • Sindrom kauda equina
    • Nyeri punggung karena penyakit sistemik yang mengenai tulang belakang
      • Serius dan gawat (membutuhkan pengobatan spesifik dan sering segera)
        • Neoplasia
          • Mieloma multipel, karsinoma metastasis, limfoma, leukemia
          • Tumor korda spinalis, tumor vertebra primer
        • Infeksi
          • Ostemielitis
          • Diskritis septik
          • Abses paraspinal
          • Abses epidural
        • Serius tapi tidak gawat (membutuhkan pengobatan spesifik tapi tidak harus segera)
          • Fraktur kompresi osteoporotik
          • Artritis inflamatorik
            • Spondilitis ankilosis
            • Artritis psoriatik
            • Artritis reaktif
            • Penyakit usus inflamatorik terkait artritis
          • Nyeri punggung karena penyakit viseral (serius, membutuhkan pengobatan spesifik dan segera)
            • Retroperitoneal
              • Aneurisma aorta
              • Adenopati atau massa retroperitoneum
            • Pelvis
              • Protatitis
              • Endometriosis
              • Penyakit inflamatorik pelvis
            • Renal
              • Nefrolitiasis
              • Pielonefritis
              • Abses perinefrik
            • Saluran cerna
              • Pankreatitis
              • Kolesistitis
              • Ulkus penetratum

 

Gambar berikut mengelompokkan diagnosis banding berdasarkan poin penting dan gambaran pendekatan diagnosis nyeri punggung bawah. Pada pasien dengan nyeri punggung, pentig untuk menanyakan petunjuk klinis secara sistematis terkait dengan penyebab nyeri punggung yang serius (Tabel 1). Pasien dengan temuan pemeriksaan yang positif akan membuat klinisi lebih udah dalam mendiagnosis nyeri punggung.

nyeri punggung bawah

Tabel 1. Poin penting dan petunjuk klinis dalam mendiagnosis nyeri punggung bawah
Sindrom kauda ekuina·    Retensi urin

·    Anestesia saddle

·    Kelemahan tungkai bilateral

·    Sciatica bilateral

Infeksi·    Demam

·    Infeksi saluran kemih atau kulit

·    Imunosuppresif

·    Penggunaan obat injeksi

Keganasan·    Riwayat kanker, khususnya kanker aktif

·    Penurunan berat badan

·    Usia >  50 tahun

·    Durasi > 1 bulan

Fraktur kompresi·    Usia > 70 tahun

·    Jenis kelamin wanita

·    Pengguna kortikosteroid

·    Riwayat osteoporosis

·    Trauma

Radikulopati lumbal·    Sciatika

·    Pemeriksaan neurologis abnormal

 

Selain itu, sangat penting untuk memahami neuroanatomi klinis ekstremitas bawah agar pemeriksaan fisik pasien dengan nyeri punggung dapat lebih baik.

neuroanatomi klinis tungkai bawah

gerakan tungkai bawah dan kaitannya dengan neuroanatomi

 

Referensi:

  1. Balague F, Mannion A, Pellise F, Cedraschi C. Non-specific low back pain. Lancet. 2012;379:482–91.
  2. Chou R, Qaseem A, Snow V et al.; Clinical Efficacy Assessment Subcommittee of the American College of Physicians; American College of Physicians; American Pain Society Low Back Pain Guidelines Panel. Diagnosis and treatment of low back pain: a joint clinical practice guideline from the American College of Physicians, and the American Pain Society. Ann Intern Med. 2007;147:478–91.
  3. Chou R, Qaseem A, Owens DK, Shekelle P; Clinical Guidelines Committee of the American College of Physicians. Diagnostic imaging for low back pain: advice for high-value health care from the American College of Physicians. Ann Intern Med. 2011;154:181–9.
  4. Chou R, Shekelle P. Will this patient develop persistent disabling low back pain? JAMA. 2010;303:1295–1302. Dauouich RO. Spinal epidural abscess. N Engl J Med. 2006;355:2012–20.
  5. Domen PM, Hofman PA, van Santbrink H, Weber WE. Predictive value of clinical characteristics in patients with suspected cauda equina syndrome. Eur J Neurol. 2009;16:416–9.
  6. Katz JN, Harris MB. Lumbar spinal stenosis. N Engl J Med. 2008;358:818–25.
  7. Khan NA, Rahim SA, Anand SS,, Simel DL, Panju A. Does the clinical examina­tion predict lower extremity peripheral arterial disease? JAMA. 2006;295:536–46.
  8. Lurie JD. What diagnostic tests are useful for low back pain? Best Pract Res Clin Rheumatol. 2005;19:557–75.
  9. Sandoval AEG. Electrodiagnostics for low back pain. Phys Med Rehabil Clin N Am. 2010;4:767–76.
  10. Suri P, Rainville J, Kalichman L, Katz JN. Does this older adult with lower extremity pain have the clinical syndrome of lumbar spinal stenosis? JAMA. 2010;304:2628–36.
  11. Tarulli AW, Raynor EM. Lumbosacral radiculopathy. Neurol Clin. 2007;25:387–405.
  12. Watson J. Office evaluation of spine and limb pain: spondylotic radiculopathy and other nonstructural mimickers. Semin Neurol. 2011;31:85–101.
  13. White C. Intermittent claudication. N Engl J Med. 2007;356:1241–50. Zimmerli W. Vertebral osteomyelitis. N Engl J Med. 2010;362:1022–9.