Featured Image Pengobatan alternatif dan komplementer

Pengobatan Alternatif dan Komplementer Pada Kanker

Banyak pasien dengan diagnosis kanker saat ini menggunakan pengobatan alternatif dan komplementer. Fakta ini memunculkan pertanyaan bahwa seberapa sering pengobatan alternatif dan komplementer digunakan oleh pasien kanker. Serta, alasan apa yang menyebabkan pasien kanker lebih memilih metode pengobatan ini.

Pengobatan Alternatif dan Komplementer
Pengobatan Alternatif dan Komplementer (sumber: pixabay.com)

Kanker atau tumor ganas merupakan salah satu diagnosis medis yang paling menakutkan.

 

Bila seorang pasien didiagnosis dengan kondisi kanker, pasien mungkin akan bertanya apakah terdapat perawatan non medis atau non konvensional yang memiliki manfaat apa pun.

 

Sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh Martin Keene dan rekan-rekannya dari Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi di James University Australia memberikan beberapa penjelasan terbaru terkait jawaban pertanyaan di atas.

 

Tapi, sebelum saya menjabarkan apa temuan penelitian tersebut ada baiknya kita terlebih dahulu memahami apa yang dimaksud dengan pengobatan alternatif dan komplementer dalam bidang kedokteran.

 

Berbagai Definisi dari Pengobatan Alternatif dan Komplementer

Obat alternatif
Obat alternatif (sumber: pixabay.com)

Sebagian orang menganggap suatu pengobatan yang cukup “alami” sebagai pelayanan kesehatan alternatif dan komplementer.

 

Sebagian lainnya beranggapan bahwa metode pengobatan ini cenderung diberikan oleh profesional non kesehatan jadi berdasarkan oleh siapa yang memberikannya.

 

Pengobatan alternatif telah menjalani evolusi dari yang sebelumnya disebut sebagai metode perdukunan kini berkembang menjadi terapi alternatif.

Istilah pengobatan alternatif lebih sering didengar dan memiliki arti bahwa metode ini merupakan alternatif dari pengobatan konvensional.

 

Para pendukung metode ini tidak setuju dengan pernyataan di atas sehingga menambahkan pelayanan kesehatan alternatif dan komplementer.

 

Dampaknya, intervensi yang tidak masuk akal, tidak terbukti, atau bisa dibilang berbahaya dapat masuk ke dalam kategori pelayanan kesehatan alternatif dan komplementer.

 

Mengapa Memahami Pengobatan Alternatif dan Komplementer yang Digunakan pada Kanker Menjadi Penting?

Obat Alami
Obat Alami (sumber: pixabay.com)

Penggunaan pelayanan kesehatan alternatif dan komplementer yang luas tetapi tidak dinyatakan secara jujur berpotensi membahayakan pengobatan kanker.

 

Banyak pasien kanker meninggalkan perawatan kanker berbasis ilmu pengetahuan dan beralih menggunakan pelayanan kesehatan alternatif atau bahkan menggunakan keduanya secara bersamaan.

 

Beberapa produk obat alternatif dapat mempengaruhi atau meningkatkan risiko perdarahan atau bahkan menyebabkan kemoterapi yang diberikan menjadi tidak efektif.

 

Khususnya pada pasien yang masih menjalani pengobatan konvensional dengan kemoterapi namun menyembunyikan fakta bahwa ia juga menggunakan obat alternatif.

 

Kondisi di atas adalah hal yang sering ditemukan. Publikasi ilmiah menunjukkan sekitar 20 hingga 77 persen pasien kanker tidak mengungkapkan bahwa mereka juga menggunakan obat alternatif atau komplementer.

 

Penelitian yang akan saya tampilkan dalam artikel ini adalah sebuah tinjauan sistematis.

 

Sebuah pencarian komprehensif terhadap literatur medis untuk seluruh penelitian yang kemudian dirangkum menjadi analisis tunggal.

 

Penelitian yang dirangkum adalah penelitian berbahasa Inggris dengan tujuan menentukan penggunaan pengobatan alternatif dan komplementer yang setidaknya melibatkan 100 pasien kanker aktif.

 

Lalu, apa yang menjadi hasil tinjauan sistematis ini?

 

Hasil Tinjauan Sistematis Tentang Pengobatan Alternatif dan Komplementer pada Pasien Kanker

Pengobatan Alternatif dan Komplementer Pada Kanker
Pengobatan Alternatif dan Komplementer Pada Kanker (sumber: pixabay.com)

Publikasi ilmiah ini berjudul Complementary and alternative medicine use in cancer: A systematic review dan diterbitkan dalam jurnal Complementary Therapies in Clinical Practice.

 

Para penulis mengidentifikasi 61 studi yang relevan yang mencakup lebih dari 20.000 pasien kanker secara total.

 

Pasien kanker payudara adalah kelompok pasien yang paling umum dipelajari, diikuti oleh kanker hematologi (darah).

 

Menariknya, topik ini sedang diteliti di Amerika Utara. Negara yang paling umum di antara 61 studi adalah Jerman (9), Turki (6), Australia (5), dan Malaysia (5).

 

Ada 4 dari Italia dan Amerika Serikat, dengan beberapa negara lain diwakili oleh 3 atau kurang. Dalam sebagian besar studi, kuesioner yang diisi sendiri adalah sumber data.

 

Yang paling penting, 53 dari 61 studi memiliki definisi pengobatan alternatif dan komplementer yang mencakup terapi pikiran/tubuh.

 

Hanya 5 studi yang meneliti “terapi biologis” seperti obat herbal atau suplemen makanan.

 

Secara keseluruhan, keragaman dan definisi pengobatan alternatif berfungsi untuk memperkirakan populasi pengguna obat alternatif secara berlebihan.

 

Lalu, apa yang menjadi hasil tinjauan sistematis ini:

 

Prevalensi

Rata-rata, 51% pasien kanker menggunakan pengobatan alternatif & komplementer dengan rentang prevalensi mulai dari 16,5% hingga 93,4%.

 

Para penulis berusaha memecah pasien kanker ini berdasarkan jenis kanker, tetapi analisis statistik tidak menunjukkan perbedaan antara kelompok.

 

Selain itu, tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara negara yang berbeda dalam hal prevalensi penggunaan.

 

Demografis

56 dari 61 studi melihat demografi pengguna. Prediktor paling umum penggunaan obat alternatif dan komplementer adalah:

  • Perempuan
  • Pendidikan yang lebih tinggi
  • Usia muda
  • Penghasilan yang lebih tinggi
  • Penggunaan terapi alternatif & komplementer sebelumnya

 

Alasan Menggunakan Terapi Alternatif dan Komplementer

Keinginan untuk mengobati atau menyembuhkan kanker adalah alasan yang paling sering dikutip untuk digunakan, tercatat dalam 74% penelitian.

 

Alasan lain yang diberikan termasuk niat untuk mengobati komplikasi (misalnya, efek samping kemoterapi) (61%), mempengaruhi kesehatan umum (misalnya, meningkatkan kekebalan tubuh) (57%), pengobatan holistik (57%), “Mengambil Kontrol” atau “Tidak ingin ketinggalan sebuah peluang untuk kesembuhan”(46%) dan kepercayaan pada obat alternatif dan komplementer atau ketidakpuasan dengan pengobatan konvensional (34%).

 

Kesimpulan

Jika Pengobatan alternatif berfungsi dan sesuai dengan prinsip ilmiah maka dapat dijadikan pertimbangan serta bukan sekedar alternatif dari pengobatan konvensional.

 

Sayangnya, tidak terdapat banyak bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa perawatan kesehatan alternatif dan komplementer bermanfaat untuk pasien kanker bahkan bila diberikan bersamaan dengan terapi konvensional.

 

Yang paling penting harus diingat bahwa apa pun metode pengobatannya semuanya memiliki risiko termasuk pengobatan alternatif & komplementer.

 

Namun, pasien kanker mungkin lebih bersedia menerima risiko dari obat alternatif dan komplementer.

 

Penelitian tinjauan sistematis yang saya gambarkan pada artikel ini mengonfirmasi bahwa sebagian besar pasien kanker menggunakan pelayanan kesehatan alternatif dan komplementer.

 

Peran dokter seharusnya dapat membuat pasien kanker nyaman untuk mendiskusikan pengobatan alternatif & komplementer dengan dokter mereka.

 

Dokter harus melakukan pendekatan untuk tidak menghakimi pandangan pasien terhadap penggunaan pengobatan alternatif & komplementer  sambil memberikan informasi ilmiah terbaik.

 

Tujuan hal di atas adalah untuk mendukung prinsip etik autonomi pada pasien dan perawatan kanker yang optimal dan aman.

 

Referensi

Klik di Sini
  1. Complementary and alternative medicine use in cancer: A systematic review

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1744388118307679?via%3Dihub

  1. “Integrative” medicine versus “alternative” medicine

https://sciencebasedmedicine.org/integrative-medicine-versus-alternative-medicine/

obat herbal 2

Pengobatan Alternatif : Mengapa Pasien Beralih?

Beberapa minggu belakangan, saya mengikuti grup-grup di media sosial facebook yang terkait dengan konsultasi kesehatan. Fakta yang saya temukan pada grup tersebut adalah banyak orang yang berusaha untuk bertanya seputar masalah kesehatan mereka. Yang menarik dari fenomena ini adalah sebagian besar pertanyaan tersebut dijawab oleh orang-orang dengan menawarkan produk pengobatan alternatif tertentu. Metode marketing atau promosi pengobatan alternatif seperti ini tidak jarang mendapatkan banyak keuntungan. Selain itu, metode pendekatan marketing atau promosi masif ini juga sedikit banyaknya menimbulkan kepercayaan manfaat metode alternatif kepada orang-orang yang mencari jawaban atas masalah kesehatannya.

 

Satu hal yang sangat disayangkan adalah sebagian besar metode marketing dan promosi tersebut menggunakan klaim kesehatan yang tidak memiliki bukti ilmiah sama sekali atau hanya sekedar berdasarkan testimoni orang yang mendapatkan manfaat dari produk tertentu.

Tapi, mengapa orang-orang dapat mempercayai hal-hal yang berbau marketing atau promosi ini?

 

Masalah di atas juga memunculkan pertanyaan lain dalam benak saya,

Mengapa orang-orang yang memiliki masalah kesehatan saat ini lebih tertarik untuk meminta saran pengobatan alternatif dibandingkan pengobatan konvensional (oleh dokter)?

Artikel ini saya tulis dengan harapan bahwa kita memiliki gambaran mengapa orang-orang yang memiliki masalah kesehatan saat ini lebih sering memilih pengobatan alternatif.

 

Apa yang dimaksud dengan pengobatan alternatif?

Dunia kedokteran komvensional saat ini telah mencoba untuk memasukkan pengobatan alternatif sebagai salah satu komponen pengobatan yang holistik yang dapat dilakukan secara berbarengan dengan pengobatan konvensional. Dalam dunia kedokteran sendiri pengobatan sejenis ini disebut sebagai Complementary Alternatif Medicine (CAM).

pengobatan alternatif
by Jannoon028 – Freepik.com

National Center for Complementary and Alternative Medicine (NCCAM) di Amerika Serikat mendefinisikan CAM sebagai suatu kelompok sistem kesehatan dan medis, praktik medis, dan produk-produk yang digunakan dalam pengobatan tapi tidak termasuk dalam kategori kedokteran konvensional.

Kedokteran konvensional yang kita kenal saat ini merupakan produk atau praktik medik yang dilakukan oleh kalangan profesional (dokter, perawat, terapis fisik, psikolog, apoteker, dan profesi lainnya) sesuai dengan kompetensi masing-masing. Kompetensi ini didapat dengan pendidikan yang didasarkan pada bukti ilmiah terhadap suatu produk atau praktik medik tertentu berdasarkan penelitian-penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah pula.

CAM saat ini juga telah mendapatkan tempat dan mulai dianggap sebagai salah satu fokus penelitian pada dunia kedokteran. Beberapa diantara CAM bahkan telah dapat dimasukkan ke dalam kedokteran konvensional seperti akupuntur, terapi hiperbarik, biofeedback, terapi kognitif dan beberapa metode lainnya.

CAM di Indonesia diatur dalam beberapa peraturan dan keputusan menteri kesehatan terkait dengan pengobatan alternatif seperti Permenkes No. 37 Tahun 2017 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional Terintegrasi. Meskipun, sudah terdapat payung hukum yang mengatur regulasi jenis pengobatan ini. Namun, banyak diantara masyarakat yang masih mendapatkan pelayanan kesehatan tradisional yang tidak terstandar dengan baik.

Lalu, kembali lagi ke pertanyaan yang menjadi masalah, mengapa orang-orang yang mengalami masalah kesehatan lebih memilih untuk menjalani pengobatan alternatif ini?

 

Mengapa pasien beralih ke pengobatan alternatif ?

Dr. Heather Boon, seorang peneliti dari Universitas Toronto di Kanada telah melakukan penelitian untuk mengetahui mengapa pasien beralih kepada pengobatan altenatif. Dia menemukan bahwa  pasien memilih jenis pengobatan ini pada umumnya merupakan pasien yang menderita penyakit kronis atau kondisi yang mengancam jiwa.

Pasien-pasien dengan AIDS, kanker, penyakit jiwa kronis, lebih sering menjalani terapi alternatif karena mereka merasa bahwa pengobatan yang diberikan oleh kedokteran konvensional tidak adekuat untuk mengobati penyakit mereka.

Beberapa pasien lainnya memilih metode alternatif karena rasa takut yang muncul karena khawatiran mereka terhadap efek samping pengobatan konvensional, keuntungan yang sangat sedikit dari pengobatan konvensional, dan bahkan disebabkan karena buruknya interaksi dokter-pasien yang mereka dapatkan dalam menjalani pengobatan kompensional.

pengobatan alami
by Valeria_aksakova – Freepik.com

Mereka juga terkadang mempercayai bahwa sesuatu yang bersifat natural atau alami itu lebih baik. Mereka menganggap bahwa CAM lebih aman dan merupakan suatu pendekatan yang lebih dipercayai karena kesehatan atau pengobatan terhadap kondisi medis tertentu dilakukan secara alami.

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa satu dari tiga pasien yang berkunjung ke dokter melakukan pengobatan alternatif. Tapi, tujuh dari sepuluh pasien tersebut tidak menyampaikan langsung kepada dokter bahwa mereka menjalani pengobatan tersebut.

Pasien berpikir bahwa pengobatan natural bersifat tidak membahayakan dan tidak perlu untuk disampaikan kepada dokter.

Beberapa pasien lainnya berpikir bahwa dokter yang mereka kunjungi tidak memiliki ketertarikan atau pengetahuan terhadap pengobatan tersebut, sehingga tidak ada yang dapat diskusikan terkait pengobatan ini kepada dokter.

Peran dokter dalam edukasi pengobatan alternatif

Kondisi peralihan pasien kepada metode alternatif juga bukan semata-mata hanya karena pandangan pasien. Dokter juga dapat memiliki peran cukup besar sehingga menyebabkan pasien beralih. Salah satunya disebabkan karena buruknya hubungan dokter-pasien.

Beberapa dari dokter mungkin akan bersikap defensif dan merasa dikritik ketika pasien menyampaikan bahwa mereka juga menjalani pengobatan alternatif.

hubungan dokter-pasien
by Ijeab – Freepik.com

Pasien juga merasa takut untuk menyampaikan bahwa mereka ingin mencari alternatif pengobatan karena merasa takut dan merasa dokter akan menganggap bahwa metode alternatif itu tidak akan berguna.

Di sisi lain, seorang dokter juga bisa jadi akan menunjukkan kekesalan kepada pasien karena pasien tidak mengikuti saran pengobatannya dan malah mencari alternatif pengobatan yang lain.

Dokter juga dapat menjadi frustasi karena pendekatan pengobatan yang mereka ajukan dan telah diketahui memiliki manfaat terhadap suatu kondisi kesehatan tapi pasien malah memilih pendekatan alternatif.

Beberapa dokter menemukan bahwa hubungan dokter-pasien akan menjadi sulit dibangun ketika pasien mempercayai sesuatu yang bertentangan dengan ilmu kedokteran konvensional yang dipercayai oleh dokter.

Kondisi-kondisi di atas dapat di atasi dengan pemikiran bahwa dokter harus selalu membantu dan menghargai segala bentuk jalan pemikiran pasien terkait dengan kesehatan dan pengobatan yang akan dipilih dan menemukan beberapa kecocokan atau memberikan saran terkait dengan metode alternatif yang dipilih pasien.

Dokter diharapkan memiliki pengetahuan terkait dengan CAM, bagaimana jenis CAM tertentu dapat bekerja mengobati berbagai kondisi kesehatan, dan interaksi yang dapat muncul apabilan CAM tertentu dilakukan berbarengan dengan pendekatan konvensional.

Apabila kondisi ini dapat dicapai maka hubungan antara dokter-pasien akan menjadi lebih baik. Pasien akan merasa lebih dihargai pendapatnya untuk suatu pengobatan alternatif tertentu dan dokter dapat memberikan edukasi terkait manfaat, efek samping, dan interaksi pengobatan tersebut dengan pengobatan konvensional.

Dari pada menyerang kepercayaan pasien terhadap suatu metode alternatif tertentu, dokter akan lebih membantu apabila memberikan pemahaman yang lebih baik terkait dengan metode pengobatan tersebut sehingga kesalahpahaman dan ketidakpercayaan terhadap pengobatan konvensional dapat diatasi dan tentu saja pasien dapat kembali percaya kepada pengobatan konvensional yang diintegrasikan dengan pengobatan alternatif yang telah diteliti memiliki bukti ilmiah bermanfaat terhadap kondisi-kondisi tertentu.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita semua terkait dengan pengobatan alternatif.

Wallahu’alam bisshawab

Referensi:

  • Borins M. A Doctor’s Guide to Alternative Medicine: What Works, what Doesn’t, and why. Rowman & Littlefield; 2014 Oct 7.
obat herbal 2

Obat Herbal: Antara Realitas dan Kebohongan

Saat menjalani kegiatan sebagai Dokter Internsip di Puskesmas saat ini saya menemukan suatu hal yang membuat saya binggung dan bertanya-tanya. Contohnya pada Ny. A, beliau adalah penderita hipertensi dan diabetes mellitus. Hari itu dia datang ke puskesmas untuk mengecek tekanan darah dan kadar gula darahnya. Pemeriksaan ini adalah hal yang rutin dilakukan oleh Ny. A setiap bulannya. Saat itu Ny. A mengaku bahwa sudah tidak lagi mengkonsumsi obat hipoglikemik oral dan obat anti hipertensi selama satu bulan terakhir. Iya memilih beralih ke obat herbal dari sebuah perusahan yang berfokus untuk memproduksi obat herbal.

obat herbal
Food image created by Dashu83 – Freepik.com

Hari itu, kadar gula darah dan tekanan darah Ny.A dalam batas normal. Padahal catatan tekanan darah dan kadar gula darah bulan yang lalu masih dalam batas tinggi. Hal inilah yang membuat saya binggung, Ny. A tidak mengokonsumsi OHO dan anti hipertensi tapi mengapa tekanan darah dan kadar gula darahnya normal? Apakah produk herbal yang dikonsumsi memiliki efek terhadap penurunan tekanan darah dan kadar glukosa darah?

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul ini membuat saya mencoba menulis pandangan pribadi terkait dengan obat herbal dan posisinya dalam ilmu kedokteran modern.

 

Obat herbal atau pengobatan alternatif mungkin sudah tidak lagi menjadi alternatif seutuhnya.

Pernyataan di atas terlontar begitu saja dari pikiran saya. Didukung dengan fakta bahwa banyak pengobatan alternatif atau obat herbal yang saat ini telah dikemas dalam bentuk modern. Namun, Belum adanya integrasi metode pengobatan ini ke dalam dunia kedokteran modern lah yang membuatnya masih dipandang sebagai alternatif.

Seorang dokter di Indonesia kurang lebih akan menjalani pendidikan dan pelatihan sekitar 5-6 tahun sebelum akhirnya menerapkan ilmunya pada masyarakat melalui program yang disebut Internsip. Waktu yang lama tersebut terkadang kurang untuk membuka pikiran dan mengarahkan dokter bahwa setiap pasien memiliki potensi untuk sembuh serta menyadari bahwa bukan dokter yang menyembuhkan melainkan Allah SWT.

obat herbal 2
Background image created by 4045 – Freepik.com

Dokter hanya perantara untuk kesembuhan pasien. Jika kita dapat membuka pikiran kita maka sebagai seorang penyembuh yang menjadi perpanjangan tangan Allah SWT maka kita dapat mengintegrasikan semua terapi termasuk pengobatan alami dan menggunakannya untuk membantu penyembuhan pasien.

Superioritas Dunia Kedokteran Modern

Dunia kedokteran modern yang berfokus pada pengobatan berdasarkan hasil penelitian dan bukti ilmiah terhadap manfaat dan risiko suatu metode pengobatan telah berada pada posisi teratas dalam ilmu kedokteran modern. Pemahaman yang baik terhadap percobaan atau uji klinis acak acak, double blind, terkontrol dan bahkan hingga meta analisis atau tinjuan sistematis merupakan standar emas dalam dunia kedokteran agar suatu pengobatan dapat diterapkan pada praktik sehari-hari.

Jauh sebelum ilmu kedokteran modern berkembang, ilmu pengobatan tradisional telah lebih dahulu berkembang pesat. Dalam islam, ilmu kedokteran nabi atau pengobatan ala Rasullulah pada masa itu juga sangat berkembang dengan prinsip pengobatannya yang berfokus pada prinsip menjaga kesehatan, menjaga tubuh dari unsur berbahaya, mengeluarkan unsur berbahaya dari dalam tubuh.

Saat ini, Jika kita membaca jurnal kedokteran. Beberapa dari kita pasti merasa bahwa jurnal tersebut paling benar. Namun, tidak semua jurnal dapat memberikan suatu gagasan yang membedakan hitam atau putih dengan jelas.
Saat memberikan pengobatan dokter harus mempertimbangkan pro dan kontra, manfaat versus bahaya.
Ada bukti yang menunjukkan bahwa suatu perawatan yang diyakini oleh medis bermanfaat berdasarkan bukti ternyata di kemudian hari dinyatakan tidak bermanfaat malah berbahaya.

Bukti ilmiah bisa berubah cukup cepat dari waktu ke waktu. Baik dengan pengobatan baru dan bukti baru tentang seberapa efektif pengobatan yang telah ada sebelumnya.

Bila kita membaca majalah kesehatan yang dikeluarkan oleh produsen produk kesehatan alami, anda mungkin akan mendapatkan gagasan bahwa semua yang alami itu baik dan tidak membahayakan. Kita mungkin mempercayai bahwa pendekatan dengan sesuatu yang alami telah terbukti benar melalui penelitian.

Tapi apakah penelitian terhadap obat herbal atau obat alami itu merupakan penelitian yang standar.

Di luar sana banyak percobaan klinis yang buruk dan tentu saja tidak memberikan cukup bukti ilmiah.

Fakta yang harus kita pahami adalah beberapa jurnal lebih baik dibandingkan dengan jurnal yang lainnya. Jika hasil penelitian dipublikasikan pada jurnal peer-review, maka artikel penelitian tersebut telah diperiksa oleh reviewer atau editor dan dapat diterima oleh profesi.

Jadi apabila mendengar tentang penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal yang tidak umum. Hasil penelitiannya mungkin akan bias dan tidak dapat diandalkan sebagai suatu bukti ilmiah.

Kondisi inilah yang juga menyebabkan obat herbal belum dapat menandingi atau diintegrasikan dengan superioritas kedokteran modern.

Hambatan Pengunaan Obat Herbal

Hingga saat ini, salah satu tantangan lain yang dihadapi dalam penelitian obat herbal atau pengobatan alternatif adalah berkaitan dengan pendanaan. Perusahaan farmasi mengembangkan sebagian besar obat-obatan, dan mereka berhadap bisa memasarkan dan menghasilkan uang dari obat yang mereka temukan melalui penelitian.

obat kapsul
Background image created by Suksao – Freepik.com

Penelitian untuk obat dapat menghabiskan biaya investasi milyaran rupiah untuk memastikan suatu obat aman. Jika pengobatan alami atau obat herbal dilakukan hal yang sama maka tentu saja pengobatan atau obat herbal tersebut dapat digunakan secara utuh dalam dunia kedokteran.

Seringkali obat herbal atau pengobatan alternatif dinyatakan bermanfaat hanya karena ada satu dua orang yang mendapatkan hasil yang baik ketika mengkonsumsi atau mengikuti pengobatan alternatif tersebut. Padahal, hal yang sama belum tentu dapat terjadi dengan anda.

Saat ini kita hidup dalam dunia modern dimana para peneliti telah berlomba untuk membuat peta DNA, penelitian sel punca (stem sel), transplantasi organ, MRI, dan mengembangkan peralatan diagnostik yang canggih, serta obat-obatan dan teknik bedah yang lebih baru dan canggih.

Sementara fokus untuk membantu mengatasi gejala dan penyakit pasien berada ujung jari dokter. Terkadang kita lupa bahwa seseorang yang sakit lebih dari sekedar penyakit di dalam tubuhnya. Kita lupa bahwa manusia lebih dari sekedar gejala atau pengobatan. Kita melemahkan profesi kita hanya kerena menanggap pasien sebagai penyakit yang harus disembuhkan bukan manusia seutuhnya.

Kedokteran juga terkadang menjadi profesi yang konservatif oleh sebab itu dokter membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menerima suatu pengobatan baru yang telah diterima oleh profesi medis. Mindset dokter terhadap suatu pengobatan baru dapat menjadi cacat karena kepercayaan akan ilmu yang telah dipelajari terlebih dahulu. Padahal ilmu dalam bidang kedokteran berkembang sangat cepat.

Jika kita belajar dari sejarah Semmelweis,yang pada tahun 1848, mengenalkan prosedur cuci tangan antiseptik di ruang rawat kebidanan.

Pendekatan baru ini terbukti mengurangi angka kematian akibat demam saat nifas. Namun, apa yang terjadi pada Semmelweis saat itu, Ia dikucilkan oleh rekan-rekannya karena mereka merasa tersinggung dan menggangap hal tersebut merupakan gagasan bahwa dokter dapat menjadi pembawa kematian.

Jadi untuk saat ini, kita tidak boleh membuang metode ilmiah kita ketika berhadapan dengan pengobatan alternatif atau herbal dan disaat yang bersamaan kita sebagai dokter harus terbuka terhadap gagasan pengobatan baru yang telah memiliki bukti ilmiah yang cukup meskipun hal tersebut adalah pengobatan alternatif atau obat herbal.

 

Wallahu’alam Bishawab