Featured Image Manfaat Cuka Apel

Cuka sari apel atau cuka apel adalah cairan hasil fermentasi sari buah apel. Proses fermentasi sari buah apel melibatkan peran ragi dan/atau bakteri. Ragi dan/atau bakteri tersebut akan mengubah sari apel menjadi alkohol hingga membentuk cuka. Selain itu, manfaat cuka apel untuk kesehatan juga banyak menjadi sorotan.

Gambar Cuka Apel
Gambar Cuka Apel (pixabay.com)

Sebelum membahas manfaat cuka apel untuk kesehatan mari kita kenali lebih dekat apa itu cuka apel?

 

Mirip seperti cuka lainnya, komponen utama cuka apel adalah asam asetat. Cuka ini juga mengandung zat lain seperti:

  1. Asam laktat
  2. Sitrat
  3. Malat
  4. Bakteri

 

Teknik pengobatan rumahan telah menggunakan cuka ini selama berabad-abad. Banyak sekali yang mengaitkan manfaat kesehatan cuka apel terutama sebagai disinfektan serta pengawet alami.

 

Mari kita kenali satu per satu manfaat kesehatan cuka apel.

 

Manfaat Cuka Apel untuk Kesehatan

Banyak orang yang percaya terdapat banyak manfaat cuka apel untuk kesehatan. Untungnya, terdapat bukti ilmiah yang mendukung beberapa manfaat tersebut.

 

Untuk lebih jelasnya mari kita bahas satu per satu.

 

Manfaat Cuka Apel untuk Gula Darah

kadar gula darah tinggi
Kadar Gula Darh Tinggi (Background image created by Xb100 – Freepik.com)

Salah satu klaim menyatakan bahwa mengonsumsi cuka apel dapat berpengaruh terhadap kadar glukosa darah.

 

Pada dasarnya, asam asetat dalam cuka memiliki kemampuan untuk menghambat enzim yang membantu kita untuk mencerna zat pati. Kemampuan ini menghasilkan efek respons kadar gula darah yang lebih sedikit. Terutama bila kita makan makanan bertepung seperti pasta atau roti.

 

Penelitian yang termuat dalam Diabetes Research & Clinical Practice (2017) menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi cuka bersamaan saat makan dapat menurunkan fluktuasi (perubahan) insulin dan menurunkan kadar gula darah setelah makan.

 

Cara termudah untuk menambahkan cuka apel dalam diet kita adalah dengan menuangkan sedikit cuka apel dalam salat atau saus. Penderita diabetes atau prediabetes harus berkonsultasi dengan dokter terkait dengan berapa banyak cuka apel yang boleh dikonsumsi.

 

Hal tersebut terkait dengan efek interaksi cuka apel dengan obat anti diabetes. Selain itu, penderita gastroparesis sebaiknya menghindari konsumsi cuka apel.

 

Cuka Apel untuk Menurunkan Berat Badan

cara menurunkan kolesterol
menurunkan berat badan untuk menurunkan kolesterol (sumber: pixabay.com)

Berapa orang mengklaim bahwa salah satu manfaat cuka apel untuk kesehatan adalah menurunkan berat badan.

 

Mereka berpendapat bahwa, mengonsumsi cuka apel sebelum atau saat makan mungkin memiliki efek mengenyangkan.

 

Menariknya, sebuah penelitian di Jepang (2017) melaporkan bahwa mengonsumsi 30 mL (sekitar 2 sendok makan) cuka apel per hari dapat menurun berat badan 0,5 hingga 1 kg. Indeks massa tubuh (IMT), lingkar pinggang, kadar kolesterol trigliserida, dan lemak perut juga sedikit berkurang.

 

Manfaat Cuka Apel untuk Kesehatan Lainnya

Selama bertahun-tahun, cuka sari apel telah digunakan sebagai pengobatan rumahan untuk banyak masalah kesehatan dan kecantikan.

 

Meskipun tidak ada bukti penelitian yang kuat untuk mendukung klaim ini, ada beberapa bukti anekdot untuk menegaskan potensinya.

 

Mari kita bahas satu per satu.

 

Cuka Apel untuk Ketombe

Ketombe Berlebihan
Ketombe Berlebihan (Hmochoa95, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Beberapa orang berpendapat bahwa dengan menyemprotkan sedikit cuka apel yang telah tercampur air ke rambut dapat mengatasi ketombe. Larutan cuka apel yang telah diencerkan dapat membuat mengurangi jumlah ketombe, rasa gatal, dan iritasi pada kulit kepala.

 

Asam asetat pada dasarnya dapat mengubah pH kulit kepala. Perubahan pH ini membuat jamur sulit tumbuh. Kita tahu bahwa jamur merupakan salah satu penyebab ketombe.

 

Namun, bila ketombe menetap sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter sebab terdapat kemungkinan hal tersebut adalah eksim atau dermatitis seboroik.

 

Terdapat laporan kasus yang terbit pada Galen Medical Journal (2017) menunjukkan bahwa pemberian topikal (oles) ramuan bunga Althaea officinalis yang dikombinasikan dengan cuka mampu mengatasi dermatitis seboroik pada wanita berusia 32 tahun.

 

Meskipun beberapa orang menyarankan penggunaan cuka apel untuk membilas rambut agar menghilangkan sisa sampo dan memperbaiki rambut kusam, larutan tersebut harus sangat encer agar tidak membuat mata perih.

 

Terbakar Matahari dan Kondisi Kulit Lainnya

Kaki Terbakar Matahari (Sunburn)
Kaki Terbakar Matahari (Sunburn) (Sumber: Pixabay.com)

Sebagian besar tenaga kesehatan merekomendasikan penggunaan kompres air dingin, mandi air dingin, gel lidah buaya, atau pelembab untuk kondisi kulit terbakar sinar matahari. Namun, beberapa orang mengklaim bahwa manfaat cuka apel untuk kesehatan lainnya adalah untuk mengatasi kondisi kulit terbakar matahari.

 

Orang beranggapan bahwa menambahkan cuka apel dalam bak mandi air dingin atau dicampurkan dengan air dingin dan disemprotkan ringan pada kulit yang terbakar matahari (kecuali wajah) dapat mengatasi rasa sakit dan perasaan tidak nyaman.

 

Terdapat sedikit bukti penelitian yang menunjukkan bahwa cuka apel dapat membantu menyembuhkan atau meredakan rasa sakit akibat terbakar sinar matahari. Cuka apel juga memiliki sifat anti bakteri yang sangat baik untuk mencegah infeksi kulit karena sengatan sinar matahari atau cedera kulit lainnya.

 

Cuka apel tidak boleh dioleskan tanpa diencerkan terlebih dahulu dengan air. Konsentrasi keasamannya yang kuat dapat semakin membuat kulit iritasi.

 

Kondisi tersebut dapat membuat luka bakar karena tersengat matahari bertambah parah. Pastikan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau dokter untuk menentukan tingkat keparahan kulit yang terbakar sinar matahari.

 

Larutan cuka apel juga dapat membantu mengurangi rasa gatal dan iritasi akibat gigitan nyamuk atau sengatan ubur-ubur.

 

Manfaat Cuka Apel untuk Jerawat

Wajah Berjerawat
Wajah Berjerawat (Sumber: pixabay.com)

Konsentrasi asam asetat dalam cuka apel sangat bervariasi. Di sisi lain, belum tersedia standarisasi konsentrasi asam asetat untuk setiap produk cuka apel yang beredar. Hal ini menyebabkan kita sulit menilai berapa banyak cuka apel yang perlu diencerkan agar aman sebagai toner cuka apel.

 

Kondisi ini tentu juga menyulitkan untuk menentukan cara pemakaian cuka apel untuk wajah.

 

Selain itu, hanya sedikit penelitian yang mendukung penggunaan cuka apel untuk mengobati jerawat. Penelitian menunjukkan bahwa cuka apel dapat membantu mengurangi munculnya varises bila dioleskan ke kulit.

 

Manfaat Cuka Apel untuk Sakit Tenggorokan

Gambar Minuman Cuka Apel
Gambar Minuman Cuka Apel (Bri, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Salah satu pengobatan paling sederhana untuk sakit tenggorokan adalah berkumur dengan air garam. Namun, minum cuka apel juga dapat membantu meredakannya.

 

Terdapat banyak resep dan cara penggunaan cuka apel yang berbeda. Setidaknya kita membutuhkan satu sendok makan cuka sari apel, satu sendok makan madu, dan satu cabai rawit kecil yang dicampurkan ke dalam secangkir air hangat.

 

Pendukung metode di atas beranggapan bahwa cuka apel berkhasiat melawan kuman dan capsaicin pada cabai mampu meredakan sakit. Belum ada penelitian yang menunjukkan manfaat cuka apel untuk meredakan sakit tenggorokan.

 

Selain itu, terdapat bukti cuka dapat membuat lebih banyak masalah bila digunakan untuk pengobatan sakit tenggorokan dibandingkan manfaatnya.

 

Jika tidak kita tidak benar dalam mengencerkan cuka maka akan muncul pengikisan (erosi) pada jaringan tenggorokan. Kondisi ini tentu membuat tenggorokan bertambah nyeri dan menyebabkan kita kesulitan menelan.

 

Di samping itu, tidak jelas berapa konsentrasi cuka sari apel yang aman untuk kita gunakan dalam mengobati nyeri tenggorokan. Terutama pada anak-anak.

 

Penggunaannya Sebagai Deodorant

Klaim manfaat cuka apel lainnya adalah menghilangkan bau kaki. Cuka apel dapat membantu menyeimbangkan pH kulit dan melawan bakteri yang menyebabkan bau kaki.

 

Biasanya cuka apel dicampur dengan sedikit air lalu membasahi tisu atau handuk dengan larutan tersebut dan kemudian menyeka bagian bawah kaki menggunakan handuk atau tisu.

 

Untuk membantu mengendalikan bau kaki, para pendukung mengklaim cuka sari apel dapat membantu menyeimbangkan pH kulit dan melawan bakteri yang menyebabkan bau kaki. Biasanya, sedikit cuka sari apel dicampurkan ke dalam air. Tisu bayi, bola kapas atau pembalut, handuk kecil, atau kain katun dapat dicelupkan ke dalam larutan, diperas, dan digunakan untuk menyeka bagian bawah kaki. Tisu dapat dibuat terlebih dahulu dan disimpan dalam wadah kedap udara.

 

Meskipun aroma cuka akan tercium, sering kali aroma tersebut menghilang saat larutan cuka mengering. Hindari memakai sepatu yang terbuat dari bahan seperti kulit sebab bisa rusak oleh keasaman.

 

Larutan cuka apel juga dapat membantu menetralkan bakteri ketiak penyebab bau badan. Biasanya, pembalut kapas, tisu, atau kain katun  disemprot dengan larutan cuka yang telah dicampur air dan disapukan ke ketiak. Bau cuka akan menghilang saat mengering.

 

Sebaiknya uji larutan cuka sari apel di area yang lebih kecil terlebih dahulu dan hindari menggunakannya jika kita memakai serat yang lembut, seperti sutra.

 

Potensi Efek Samping

Cuka apel adalah bahan rumah tangga yang populer, yang mungkin membuat kita percaya bahwa cuka ini benar-benar aman. Meskipun tidak ada alasan untuk khawatir jika kita sehat, ada beberapa efek samping potensial yang harus diperhatikan, terutama jika konsentrasinya terlalu kuat atau bersentuhan dengan tubuh terlalu lama.

 

Cuka apel dapat menyebabkan luka bakar kimiawi. Ada laporan kasus luka bakar kimia setelah cuka apel digunakan untuk kutil dan kondisi kulit yang dikenal sebagai moluskum kontagiosum.

 

Meskipun cuka sari apel secara luas disebut-sebut sebagai obat rumahan untuk memutihkan gigi atau menyegarkan napas, membuat gigi kita terkena asam cuka dapat mengikis enamel gigi dan menyebabkan gigi berlubang.

 

Cuka apel dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu, termasuk obat pencahar, diuretik (pil air), obat pengencer darah, obat penyakit jantung, dan obat diabetes.

 

Penggunaan cuka apel sebagai semprot hidung juga dilarang. Termasuk menggunakan sebagai pembersih sinus dengan neti pot juga tidak diperbolehkan oleh pakar kesehatan. Cuka ini juga tidak akan membantu pengobatan kutu.

Lalu, berapa dosis cuka apel yang aman untuk kesehatan?

 

Dosis Penggunaan

Cuka apel tersedia dalam bentuk cair dan kapsul suplemen. Tidak ada dosis standar untuk suplemen cuka apel, jadi ikuti petunjuk penggunaan pada kemasan suplemen dan tanyakan kepada penyedia layanan kesehatan atau dokter.

 

Saat menggunakan cuka, sebagian besar penggunaan yang disarankan melibatkan pengenceran cuka apel sebelum mengaplikasikannya ke tubuh. Namun, Berapa perbandingan cuka-air yang aman tidak diketahui. Perbanidngan 1:10 telah disarankan saat mengaplikasikannya langsung ke kulit, namun harus lebih lemah (atau dihindari sama sekali) pada kulit yang lembut atau halus.

 

Meskipun satu sendok teh hingga satu sendok makan dicampur ke dalam 250 ml air sering disarankan sebagai jumlah yang wajar untuk penggunaan internal, keamanan berbagai dosis tidak diketahui.

 

Kita dapat mencoba menggunakan larutan yang sangat encer, tetapi jumlah asam asetat dalam cuka sari apel komersial bervariasi (tidak seperti cuka dapur, yang mengandung konsenterasi asam asetat 5%) sehingga tidak mungkin untuk memastikan kekuatan yang sebenarnya.

 

Apa yang Harus Diperhatikan Sebelum Membeli Produk Ini?

Perbedaan Cuka Apel dan Jus Apel
Perbedaan Cuka Apel dan Jus Apel (Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported)

Cuka apel tersedia dalam produk yang telah disaring atau tidak disaring. Sari apel yang disaring berwarna coklat muda bening. Cuka apel yang tidak disaring dan tidak dipasteurisasi (seperti cuka sari apel Bragg) memiliki endapan gelap dan keruh di bagian bawah botol. Sedimen ini sebagian besar terdiri dari bakteri asam asetat. Cuka sari apel juga tersedia dalam bentuk tablet suplemen.

 

Namun, setelah kami mengecek dalam daftar produk cuka apel yang mendapat izin edar dari BPOM tidak terdapat produk cuka apel berbentuk tablet suplemen.

 

Pastikan bahwa cuka apel yang kita beli telah mendapat izin edar dari BPOM untuk menghindari diri kita dari produk cuka apel yang tidak berkualitas.

 

Kami merangkum beberapa produk cuka apel yang telah mendapat izin edar dari BPOM pada daftar berikut ini:

  1. Cuka Apel (Kusuma Agrowisata)
  2. Minuman Sari Buah Anggur dengan Cuka Apel Organik (Organic Apple Cider Vinegar & Concord Grape-Acai) (BRAGG)
  3. Cuka Apel Organik (Organic Apples Vinegar) (ALCE NERO)
  4. Cuka Apel Organik (Apple Cider Vinegar) LA RAMBLA
  5. Toner Cuka Apel (GREENSHE)
  6. Cuka Apel (Ringo Su) TAMANOI
  7. Cuka Apel (Apple Cider Vinegar) S&W
  8. Cuka Apel (Apple Cider Vinegar) Gesund
  9. Cuka Apel Organik (Organic Raw Apple Cider Vinegar) CERESORGANICS
  10. Cuka Apel (Apple Vinegar) OTTOGI

 

Untuk daftar lengkapnya silakan kunjungi tautan berikut:

 

Daftar Produk Cuka Apel yang Terdaftar BPOM

 

Jadi, pastikan semua produk yang kita beli terdaftar pada Badan Pengawas Obat dan Makanan agar kualitasnya dapat terjamin dan kita mendapatkan manfaat kesehatannya.

 

Kesimpulan

Ada banyak kegunaan anekdot dan beberapa bukti awal yang menunjukkan bahwa cuka apel memang bermanfaat untuk berbagai kondisi kesehatan tertentu.

 

Meskipun kita mungkin mendapatkan manfaat dari khasiatnya, uji klinis skala besar diperlukan sebelum dapat direkomendasikan sebagai pengobatan untuk kondisi kesehatan apa pun.

 

Jika kita mempertimbangkan untuk menggunakan cuka apel untuk tujuan kesehatan apa pun, pastikan untuk berbicara dengan penyedia layanan kesehatan atau berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah itu tepat untuk kita, daripada mengobati sendiri dan menghindari atau menunda pengobatan standar.

 

Orang dengan kondisi tertentu (seperti penyakit maag, hernia hiatus, esofagus Barrett, atau kadar kalium rendah) mungkin perlu menghindari cuka sari apel sepenuhnya.

 

Referensi

  1. Shishehbor F, Mansoori A, Shirani F. Vinegar consumption can attenuate postprandial glucose and insulin responses; a systematic review and meta-analysis of clinical trialsDiabetes Res Clin Pract. 2017;127:1-9. doi:10.1016/j.diabres.2017.01.021
  2. Kondo T, Kishi M, Fushimi T, Ugajin S, Kaga T. Vinegar intake reduces body weight, body fat mass, and serum triglyceride levels in obese Japanese subjectsBiosci Biotechnol Biochem. 2009;73(8):1837-43. doi:10.1271/bbb.90231
  3. Mohammad P, Mojtaba H, Mohammad N. Successful treatment of chronic scalp seborrheic dermatitis using traditional Persian medicine: a case report and literature reviewGalen Med J. 2017;6:157-9. doi:10.22086/GMJ.V6I2.706
  4. Yagnik D, Serafin V, J Shah A. Antimicrobial activity of apple cider vinegar against Escherichia coli, Staphylococcus aureus and Candida albicans; downregulating cytokine and microbial protein expressionSci Rep. 2018;8(1):1732. doi:10.1038/s41598-017-18618-x
  5. Atik D, Atik C, Karatepe C. The effect of external apple vinegar application on varicosity symptoms, pain, and social appearance anxiety: a randomized controlled trialEvid Based Complement Alternat Med. 2016;2016:6473678. doi:10.1155/2016/6473678
  6. Chang J, Han SE, Paik SS, Kim YJ. Corrosive esophageal injury due to a commercial vinegar beverage in an adolescentClin Endosc. 2019 Aug;2019:ce.2019.066. doi:10.5946/ce.2019.066
  7. Biswal B. Drug-excipient interaction study for apple cider vinegar with 20 potential excipients using modern analytical techniquesAsian J Pharma. 2016;2016:107. doi:10.22377/ajp.v10i1.530

 

By Rifan Eka Putra Nasution

Dr. Rifan Eka Putra Nasution, Lahir di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, 29 Oktober 1992. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahiran lalu menyelesaikan pendidikan tingginya pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.Dr. Rifan mendapatkan medali Emas pada Olimpiade Kedokteran Regional Sumatera Pertama untuk cabang Kardiovaskular-Respirologi dan menghantarkan dirinya menjadi Mahasiswa Berprestasi Universitas Syiah Kuala pada tahun 2013. Pada tahun 2014, ia mendapatkan penghargaan Mahasiswa Kedokteran Berprestasi Se-Sumatera dari ISMKI Wilayah I.Saat ini beliau bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan Jabatan Dokter Ahli Pertama di UPTD Puskesmas Sukarame, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara.Beliau juga aktif menulis di Media Online dan Situs Kedokteran dan Kesehatan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan Newsletter Kami

Berlangganan Newsletter Kami

Bergabunglah dengan milis kami untuk menerima berita dan pembaruan terbaru dari tim kami.

Anda Telah Berhasil Berlangganan