Leptospirosis: Ancaman Infeksi di Musim Banjir

Featured Image Leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang dapat terjadi baik pada manusia atau hewan. Kondisi ini merupakan infeksi zoonosis (penyakit-penyakit dan infeksi yang secara alami dapat ditularkan dari hewan kepada manusia) yang paling sering ditemui di seluruh dunia. Kondisi ini muda ditularkan dari hewan yang mengalami infeksi melalui urine, baik secara langsung atau melalui tanah atau air yang terinfeksi.[1,2]

 

Gejala penyakit infeksi ini seperti gejala flu yang dapat sembuh sendiri (self limited disease) atau penyakit yang lebih serius. Penyakit ini juga disebut sebagai penyakit Weil dan dapat berkembang menjadi penyakit yang menyebabkan kegagalan multi organ dengan potensi kematian.

 

Saat kondisi banjir, kejadian penyakit infeksi yang dapat mematikan ini semakin meningkat sehingga patut untuk kita kenali dan kita waspadai.

 

Lalu, apa yang menjadi penyebab leptospirosis?

 

Penyebab Leptospirosis

Bakteri Leptospira di Bawah Mikroskop

Bakteri Leptospira di Bawah Mikroskop (Sumber: bluuurgh [Public domain], via Wikimedia Commons)

Leptospirosis disebabkan oleh infeksi dengan bakteri spirochete Leptospira. Bakteri ini paling sering menyebar melalui paparan urine hewan yang terinfeksi baik dari kontak langsung atau dari kontak dengan tanah atau air yang terkontaminasi oleh urine.

 

Hewan umum yang menularkan Leptospirosis termasuk hewan ternak seperti sapi, babi, dan kuda tetapi dapat berkisar dari hewan liar seperti rakun dan landak hingga anjing peliharaan bahkan tikus.[3-5]

 

Lebih dari 160 spesies hewan yang ditemukan membawa penyakit tidak menunjukkan tanda/gejala jika terinfeksi. Mereka dapat menjadi vektor penyakit selama beberapa bulan setelah inokulasi, kadang-kadang tidak pernah menunjukkan tanda/gejala infeksi.

 

Kejadian dan Kasus Leptospirosis

Insiden Leptospirosis Global Per 100.000 Penduduk Per Tahun

Insiden Leptospirosis Global Per 100.000 Penduduk Per Tahun (Sumber: Paul R. Torgerson,José E. Hagan,Federico Costa,Juan Calcagno,Michael Kane,Martha S. Martinez-Silveira,Marga G. A. Goris,Claudia Stein,Albert I. Ko,and Bernadette Abela-Ridder [CC BY 4.0], via Wikimedia Commons)

Leptospirosis biasanya terjadi dalam iklim temporal, selama akhir musim panas atau awal musim gugur di negara-negara Barat dan musim hujan di daerah tropis.

 

Insiden di daerah tropis hampir 10 kali lipat dari iklim temporal. Kondisi ini cenderung menjadi penyakit yang tidak dilaporkan karena gejalanya meniru banyak proses penyakit lainnya; namun, Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan ada 873.000 kasus setiap tahun dengan lebih dari 40.000 kematian.[6,7]

Baca Juga!  Resistensi Antibiotik: Ancaman Bagi Setiap Orang

 

Pada kondisi bencana banjir, leptospirosis pada umumnya terjadi > 10 hari pasca banjir. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan banjir sebagai faktor risiko utama untuk penularan Leptospirosis.

 

Pada tahun 2015, curah hujan yang besar yaitu hampir 1.000 mm dalam 24 jam di Mumbai, India menghasilkan wabah penyakit infeksi ini yang sangat signifikan. Pada masa tersebut terdapat > 400 kasus infeksi penyakit ini yang didiagnosis berdasarkan skrining serologi dalam 3 bulan setelah curah hujan tinggi.

 

Bagaimana Proses Perjalanan Penyakit ini?

Kuman atau bakteri Leptospira dapat menyerang kulit yang tidak utuh (kulit yang terluka) dan selaput lendir. Infeksi didapat dengan bersentuhan dengan hewan yang terinfeksi atau urine yang terinfeksi atau jaringan tubuh.

 

Kadang-kadang Leptospira bahkan dapat diperoleh setelah kontak dengan tanah dan air yang terkontaminasi.

 

Ketika organisme kuman atau bakteri keluar bersama urine hewan yang terinfeksi, ia dapat bertahan hidup dalam air tawar hingga 16 hari dan di tanah selama hampir 24 hari.

 

Kuman atau bakteri tersebut kemudian dapat masuk ke inang manusia melalui luka terbuka, selaput lendir, atau paru-paru jika air yang terinfeksi terhirup.

Penyakit infeksi ini juga dapat ditularkan melalui plasenta jika manusia yang terinfeksi sedang hamil, yang menyebabkan keguguran pada dua trimester awal.

 

Jika terinfeksi selama trimester ketiga, kehamilan dapat berakibat bayi lahir mati atau kematian bayi dalam lahir.

 

Begitu berada di dalam tubuh, bakteri masuk ke aliran limfatik dan kemudian ke aliran darah. Dari aliran darah, infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh tetapi cenderung menetap di hati dan ginjal.

 

Biasanya dibutuhkan antara 1 hingga 2 minggu bagi orang yang terinfeksi untuk mulai menunjukkan gejala, tetapi bisa memakan waktu hingga satu bulan.

 

Apa yang Terjadi Pada Tubuh Bila Terinfeksi Leptospira?

Gejala dan Tanda Leptospirosis

Gejala dan Tanda Leptospirosis (Sumber: Cerevisae [CC BY-SA 4.0], via Wikimedia Commons)

Leptospirosis dapat hadir dalam dua sindrom klinis yang berbeda, ikterik (dengan kuning) atau anikterik (tanpa kuning).

Baca Juga!  Keputihan: Penyebab, Gejala, dan Diagnosis

 

Sindrom anikterik bersifat mandiri dan muncul dengan penyakit seperti flu yang tidak spesifik. Gejala yang dirasakan dapat muncul tiba-tiba seperti:

  • sakit kepala
  • batuk
  • ruam non-pruritus (tanpa gatal)
  • demam
  • kekakuan
  • nyeri otot
  • anoreksia, dan
  • diare

 

Penyakit ini dapat berlangsung beberapa hari sebelum resolusi demam. Bentuk penyakit ini jarang fatal dan mewakili sekitar 90% dari semua kasus penyakit infeksi ini yang terdokumentasi.

Sindrom anikterik juga dapat kambuh beberapa hari kemudian, dan fase ini disebut tahap kekebalan dan kondisi meningitis aseptik dapat terjadi pada fase ini.

 

Pasien-pasien ini dapat pulih sepenuhnya tetapi mungkin menderita sakit kepala kronis dan episodik.

 

Fase ikterik leptospirosis secara klasik dikenal sebagai penyakit Weil. Kondisi ini merupakan infeksi yang parah, dan manifestasinya termasuk:

  • demam
  • gagal ginjal
  • penyakit kuning
  • perdarahan, dan
  • gangguan pernapasan.

 

Fase ikterik juga dapat melibatkan jantung, sistem saraf pusat, dan otot. Penyakit ini biasanya parah dan dapat berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan jika pasien selamat.

 

Diagnosis banding untuk untuk penyakit infeksi ini sangat banyak dan bervariasi dari proses ringan seperti infeksi saluran pernapasan atas oleh virus, penyakit lain yang menyerupai flu virus, hingga infeksi parah dari kondisi “perjalanan” yang lebih jarang termasuk:

  • Demam Berdarah
  • Malaria, dan
  • Demam tipoid

 

Juga pertimbangkan kondisi lain yang lebih umum (yang kemungkinan akan dipertimbangkan kecuali riwayat pajanan spesifik diketahui) seperti:

  • Kolesistitis
  • Mononukleosis
  • HIV primer, atau
  • Campak atau rubella jika ditemukan riwayat tidak divaksinasi.

 

Bagaimana Dokter Mendiagnosis Leptospirosis?

Investigasi Leptospirosis di Indonesia

Investigasi Leptospirosis di Indonesia (Sumber: CDC Global [Public domain], via Wikimedia Commons)

Diagnosis penyakit infeksi ini dibuat oleh pertumbuhan  bakteri dalam kultur khusus atau uji aglutinasi mikroskopis (saat ini hanya tersedia di Amerika Serikat). Karena banyak sistem organ yang terlibat, pemeriksaan darah lainnya dapat meliputi tes fungsi ginjal dan hati, studi koagulasi, hitung darah lengkap, cairan serebrospinal, dan rontgen dada. Jika ada kekhawatiran untuk meningitis aseptik pada fase imun, diperlukan pungsi lumbal untuk mengambil sampel cairan serebrospinal. [1,8]

 

Jika muncul pertanyaan atau masalah tentang cara terbaik untuk membuat diagnosis ini, jangan menunda pengobatan jika dicurigai. Dalam kasus yang parah, pastikan untuk menghubungi pusat kesehatan terdekat yang dapat membantu mengumpulkan dan mengangkut spesimen untuk pengujian diagnostik.

Baca Juga!  Berapa Lama Nikotin Akan Meracuni Tubuh Anda?

 

Penatalaksanaan dan Pengobatan Leptospirosis

Skrining Leptospirosis di Indonesia

Skrining Leptospirosis di Indonesia (Sumber: Evi Susanti Sinaga, Indonesia [Public domain], via Wikimedia Commons)

Pengobatan leptospirosis tergantung pada tingkat keparahannya. Sebagian besar ahli menyarankan pemberian antibiotik dalam kasus-kasus ringan. Pasien akan mendapat manfaat dari pemberian cairan serta pengendalian rasa sakit dan demam.

 

Pada kasus rawat jalan, antibiotik yang dapat digunakan termasuk doksisiklin, amoksisilin, atau ampisilin. [2,9]

 

Jika infeksi tersebut parah, seseorang harus diberikan pengobatan penisilin G intravena, sefalosporin generasi ketiga, atau erythromycin.

 

Pasien dengan leptospirosis ikterik biasanya memerlukan perawatan unit perawatan intensif karena banyak organ dapat terlibat dan dekompensasi dapat terjadi dengan cepat.

 

Bila penyakit infeksi ini menyebabkan komplikasi gagal ginjal, kortikosteroid mungkin bermanfaat, tetapi penggunaannya masih kontroversial.

 

Gangguan pernapasan karena keterlibatan paru-paru mungkin memerlukan ventilasi mekanis. Terapi tambahan termasuk penggunaan tetes mata, diuretik, dan agen inotropik termasuk dopamin dosis renal.

 

Bentuk ringan leptospirosis jarang berakibat fatal, tetapi bentuk parah atau penyakit Weil memang membawa tingkat kematian yang tinggi.

 

Referensi

Klik di Sini
  1. Russell CD, Jones ME, O’Shea DT, Simpson KJ, Mitchell A, Laurenson IF. Challenges in the diagnosis of leptospirosis outwith endemic settings: a Scottish single centre experience. J R Coll Physicians Edinb. 2018 Mar;48(1):9-15. [PubMed]
  2. Jiménez JIS, Marroquin JLH, Richards GA, Amin P. Leptospirosis: Report from the task force on tropical diseases by the World Federation of Societies of Intensive and Critical Care Medicine. J Crit Care. 2018 Feb;43:361-365. [PubMed]
  3. Lokida D, Budiman A, Pawitro UE, Gasem MH, Karyana M, Kosasih H, Siddiqui S. Case report: Weil’s disease with multiple organ failure in a child living in dengue endemic area. BMC Res Notes. 2016 Aug 15;9(1):407. [PMC free article] [PubMed]
  4. Mazhar M, Kao JJ, Bolger DT. A 23-year-old Man with Leptospirosis and Acute Abdominal Pain. Hawaii J Med Public Health. 2016 Oct;75(10):291-294. [PMC free article] [PubMed]
  5. Pothuri P, Ahuja K, Kumar V, Lal S, Tumarinson T, Mahmood K. Leptospirosis Presenting with Rapidly Progressing Acute Renal Failure and Conjugated Hyperbilirubinemia: A Case Report. Am J Case Rep. 2016 Aug 10;17:567-9. [PMC free article] [PubMed]
  6. Allan KJ, Halliday JE, Cleaveland S. Renewing the momentum for leptospirosis research in Africa. Trans. R. Soc. Trop. Med. Hyg. 2015 Oct;109(10):605-6. [PMC free article] [PubMed]
  7. Rodríguez-Vidigal FF, Vera-Tomé A, Nogales-Muñoz N, Muñoz-García-Borruel M, Muñoz-Sanz A. Leptospirosis in South-western Spain. Rev Clin Esp (Barc). 2014 Jun-Jul;214(5):247-52. [PubMed]
  8. Shivalli S. Diagnostic evaluation of rapid tests for scrub typhus in the Indian population is needed. Infect Dis Poverty. 2016 May 12;5(1):40. [PMC free article] [PubMed]
  9. Guidelines for the control of leptospirosis. WHO Offset Publ. 1982;(67):1-171. [PubMed]
Berikan Komentar Di Sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.