Hilang penciuman adalah gejala terkait saluran napas atas yang menjadi perbincangan banyak orang. Banyak dari kita yang berusaha untuk memahami bagaimana gejala ini muncul. Terutama pada masa pandemi COVID-19. Berapa informasi bahkan menyebutkan bahwa hilang penciuman merupakan salah satu tanda dari infeksi virus corona baru. Benarkah demikian?

Prognosis COVID-19
Hilang Penciuman Akibat COVID-19 (Sumber: pixabay.com)

Kita mungkin akan segera sadar ketika kemampuan penciuman mulai berkurang. Kondisi ini terjadi sebab kemampuan penghidu (penciuman) ini terkait dengan kualitas hidup kita secara keseluruhan.

 

Percaya atau tidak, kemampuan penghidu merupakan salah satu kemampuan agar kita dapat menikmati makanan. Seseorang yang mengalami hilang penciuman sering kali mengalami kehilangan nafsu makan.

 

Seseorang yang mengalami penurunan kemampuan untuk mencium bau akan merasakan segala sesuatu yang dimana berbeda.

 

Faktanya, kedua indra ini saling berhubungan. Seseorang yang mengalami indra penciuman sering kali percaya bahwa mereka kehilangan kemampuan lidah untuk mengecap rasa. Kemampuan indra penciuman kita juga dapat memperingatkan kita dari kondisi bahaya.

 

Misalnya, bau asap akan memperingatkan kita adanya api, dan bau bahan kimia berbahaya akan memaksa kita untuk meninggalkan suatu area berbahan kimia ini dapat merusak paru atau bagian lain tubuh kita.

 

Begitu juga dengan infeksi COVID-1. Banyak anggapan bahwa hilang penciuman selalu terkait dengan infeksi virus corona baru.

 

Sebelum kita membahas lebih jauh apa kaitan hilang penciuman dengan COVID-19, alangkah baiknya kita kenali lebih dekat apa itu hilang penciuman?

 

Apa itu Hilang Penciuman?

Penjelasan Tentang Anosmia
Penjelasan Tentang Anosmia (ASzvoboda, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Hilang penciuman adalah penurunan atau menghilangnya sebagian atau seluruh kemampuan seseorang untuk membedakan berbagai jenis bau (penghidu). Kehilangan kemampuan ini mungkin bersifat sementara atau permanen.

 

Penyebab utama hilangnya kemampuan kita dalam membedakan bau adalah iritasi atau peradangan pada lapisan hidung. Kondisi seperti alergi dan pilek dapat menyebabkan hilang penciuman.

 

Anosmia adalah istilah medis yang berasal dari bahasa latin untuk menyebut hilangnya kemampuan seseorang dalam menghidu.

 

Anosmia dapat terjadi karena kondisi atau penyakit berat lainnya yang mempengaruhi otak atau saraf seperti tumor otak atau cedera kepala (akibat benturan atau kecelakaan). Kondisi atau penyakit berat ini dapat menyebabkan anosmia secara permanen.

 

Meskipun jarang yang memunculkan masalah serius, anosmia dapat berdampak besar bagi kualitas hidup kita.

 

Bayangkan saja, ketika seseorang mengalami kondisi ini maka seluruh makanan yang dikonsumsi akan terasa hambar dan tidak berasa.

 

Penyebab Hilang Penciuman

Ilustrasi Hilang Penciuman
Ilustrasi Hilang Penciuman (Manu5, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Banyak kondisi atau penyakit yang menjadi penyebab hilang penciuman. Beberapa di antaranya kami tuliskan pada daftar di bawah ini:

  1. Alergi
  2. Hidung tersumbat akibat pilek atau infeksi saluran pernapasan atas
  3. Masalah gigi atau mulut
  4. Deviasi septum (penyimpangan posisi sekat rongga hidung)
  5. Polip hidung
  6. Radang sinus (sinusitis)
  7. Perubahan sementara kadar hormon (fluktuasi)
  8. Kekurangan vitamin atau malnutrisi (jarang)

 

Hilangnya penciuman karena beberapa kondisi atau faktor risiko dapat bersifat reversibel (kembali pulih), pulih sebagian, atau permanen. Misalnya, begitu seorang perokok berhenti merokok maka kemampuan penciuman akan meningkat.

 

Efek samping obat juga dapat menyebabkan hilangnya bau yang bersifat sementara atau permanen, tetapi sangat bergantung pada obatnya.

 

Semprot hidung yang menggandung zat besi juga telah diketahui sebagai salah satu penyebab anosmia permanen. Menghirup bahan kimia atau polutan juga dapat menyebabkan anosmia permanen juga, misalnya menghirup formalin terlalu lama.

 

Penggunaan kokain atau obat lain yang dihirup juga dapat menyebabkan anosmia. Sama seperti merokok, kemampuan seseorang untuk mencium mungkin atau mungkin tidak kembali ketika obat dihentikan atau hanya dikonsumsi sebagian.

 

Daftar beberapa obat yang dapat mengubah kemampuan seseorang untuk mencium atau mengacap antara lain:

  1. Antibiotik
  2. Anti depresan
  3. Obat tekanan darah tinggi
  4. obat-obatan terkait penyakit jantung lainnya.

 

Kondisi Lainnya terkait Hilang Penciuman

Seperti yang telah kami sampaikan sebelumnya, ada banyak kondisi yang dapat menyebabkan anosmia secara permanen. Namun, penyebab dan setiap kasus yang dialami oleh seseorang akan sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya.

 

Proses penurunan kemampuan membedakan bau pada orang lanjut usia merupakan suatu kondisi yang normal. Cedera otak (trauma kepala) dapat menyebabkan anosmia, begitu pula dengan gangguan atau penyakit yang melibatkan sistem saraf seperti:

  1. penyakit Parkinson
  2. multiple sclerosis
  3. penyakit Alzheimer

 

Pengobatan radiasi pada daerah kepala dan leher pada pasien dengan kanker juga dapat menjadi salah satu penyebab anosmia.

 

Kondisi lainnya yang dapat menjadi penyebab anosmia, tetapi jarang ditemukan antara lain:

  1. Sindrom insufisiensi adrenokortikal
  2. Pecah atau sumbatan pembuluh darah otak (stroke)
  3. Sindrom Cushing
  4. Diabetes
  5. Epilepsi
  6. Sindrom Kallmann
  7. Hipotiroidisme
  8. Kondisi kejiwaan
  9. Sindrom Sjogren
  10. Lupus eritematosus sistemik
  11. Tumor otak, rongga sinus atau hidung
  12. Sindrom Turner

 

Bagaimana Anosmia Didiagnosis?

Kemampuan kita dalam menghidu sangat sulit untuk diukur. Dokter mungkin akan bertanya beberapa pertanyaan terkait dengan gejala yang kita alami, memeriksa hidung, melakukan pemeriksaan fisik lengkap, dan bertanya tentang riwayat kesehatan.

 

Dokter juga mungkin bertanya tentang:

  1. Kapan gejala mulai muncul?
  2. Apakah semua atau hanya beberapa jenis bau saja yang tidak bisa dicium?
  3. Bisa mencicipi atau merasa makanan atau tidak?

 

Berdasarkan jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut, dokter mungkin membutuhkan beberapa pemeriksaan tambahan untuk memastikan penyebab langsung dari anosmia.

 

Pemeriksaan tersebut antara lain:

  1. Ct scan
  2. MRI
  3. Rongent tengkorak
  4. Endoskopi hidung

 

Kapan Kita Harus Ke Dokter bila Mengalami Anosmia?

Kehilangan penciuman yang tidak dapat dijelaskan berlangsung lebih lama dari kondisi infeksi virus flu mungkin harus diperiksa ke dokter.

 

Hubungi dokter segera bila kemampuan mencium kembali secara tiba-tiba, tetapi disertai dengan gejala lain yang mengkhawatirkan atau aneh.

 

Segera ke unit gawat darurat jika kita kehilangan kemampuan untuk menghidup dan mengalami gejala neurologis seperti pusing, bicara cadel, atau kelemahan otot.

 

Kondisi tersebut merupakan gejala stroke.

 

Bagaimana Pengobatan Anosmia?

Kami telah menyampaikan bahwa banyak kondisi yang dapat menyebabkan hilangnya indra penciuman. Pengobatan anosmia sangat bergantung dari kondisi apa yang menyebabkan kemunculannya.

 

Polip hidung atau septum deviasi dapat diobati dengan pembedahan, sinusitis terkadang dapat diobati dengan antibiotik, dan alergi dapat diobati dengan obat-obatan.

 

Jika anosmia adalah efek samping dari obat yang kita minum, pengobatan harus dihentikan. Tidak ada pengobatan atau perawatan yang secara khusus dirancang untuk memperbaiki atau mengembalikan indra penciuman kita, tetapi menemukan penyebab anosmia dan menyelesaikan masalah yang mendasarinya berhasil dalam banyak kasus. Dalam beberapa kasus, indera penciuman dapat kembali secara bertahap.

 

Lalu, bagaimana dengan hilang penciuman dan covid-19?

 

Hilang Penciuman dan COVID-19

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa benar COVID-19 menyebabkan hilang penciuman sementara dan mungkin dalam waktu jangka panjang. Gejala anosmia juga dianggap sebagai indikator awal infeksi virus corona baru.

 

Meskipun demikian, para ahli masih belum yakin apa yang menyebabkan terjadinya kondisi ini. Penelitian yang terbit pada tanggal 31 Juli 2020 pada jurnal Science Advances menyebutkan bahwa sel-sel penghidu atau sel penciuman pada rongga hidung bagian atas paling mungkin diserang oleh virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

 

Para dokter dan peneliti sekarang mengamati lebih dekat apa yang menyebabkan hilangnya penciuman ini dan apa implikasi jangka panjangnya.

 

Apa itu Anosmia COVID-19?

Anosmia terkait COVID-19 atau hilang penciuman karena COVID-19 adalah hilangnya penciuman sementara yang terjadi segera pada hari ketiga infeksi virus corona baru. Anosmia menjadi salah satu gejala COVID-19 yang paling awal.

 

Pasien COVID-19 27 kali lebih mungkin mengalami kehilangan penciuman dibandingkan dengan orang yang tidak mengidap penyakit tersebut. Namun, pasien COVID-19 dengan hilang penciuman hanya lebih mungkin mengalami demam, batuk, atau gangguan pernapasan  sekitar 2,2 hingga 2,6 kali.

 

Pengalaman pasien COVID-19 anosmia mungkin berbeda dengan anosmia yang disebabkan oleh infeksi virus lain, termasuk virus corona lainnya. Biasanya dibutuhkan waktu beberapa minggu bagi pasien COVID-19 untuk mendapatkan kembali indra penciumannya, yang lebih lama daripada anosmia yang disebabkan oleh infeksi virus yang memicu masalah pernapasan bagian atas seperti hidung tersumbat atau pilek. Pasien COVID-19 mengalami hilang penciuman tanpa disertai hidung tersumbat.

 

Apa yang Menyebabkan Pasien COVID-19 Mengalami Anosmia?

Serabut Saraf untuk Fungsi Penciuman
Serabut Saraf untuk Fungsi Penciuman (Servier Medical Art)

Para peneliti yang dipimpin oleh ahli saraf di Harvard Medical School mengatakan bahwa neuron (sel saraf) sensorik yang bertanggung jawab untuk menemukan dan mendistribusikan indra penciuman kita ke otak bukanlah yang ditargetkan oleh virus SARS-CoV-2.2

 

Menurut para peneliti, virus mengejar sel-sel yang mendukung neuron untuk mendeteksi bau, tetapi tidak pada neuron itu sendiri. Oleh karena itu, para ilmuwan percaya bahwa hilangnya penciuman mungkin tidak permanen.

 

Bagaimana Pemulihan Anosmia Sebab COVID-19?

Dokter Carol H. Yan, yang merupakan bagian dari Global Consortium for Chemosensory Research (GCCR), sebuah konsorsium penelitian global yang mempelajari hilangnya bau dan rasa yang berkaitan dengan COVID-19, mengatakan hilangnya bau dan rasa pada COVID- 19 pasien sering kali berat dan terjadi tiba-tiba. Selain itu, anosmia terkadang satu-satunya gejala yang muncul. Pasien tidak mengalami gejala COVID-19 lainnya.

 

Sebagian besar pasien terkonfirmasi COVID-19 positif akan pulih dalam waktu dua hingga empat minggu. Namun, masa tersebut tidak menjamin fungsi penghidu atau penciuman akan kembali normal sepenuhnya.

 

Terdapat sekitar 11% pasien COVID-19 yang masih mengalami hilang penciuman selama lebih dari 1 bulan. Peneliti juga belum menemukan jawaban mengapa sebagian orang gejala ini dapat pulih lebih cepat, tetapi pada sebagian pasien lainnya gejala anosmia bertahan lebih lama.

 

Meskipun demikian, gejala anosmia yang terus menerus tidak menunjukkan keberadaan virus (viral load) dan kemungkinan pasien untuk menularkan virus bahkan bila gejala terus terjadi.

 

Kesimpulan

Hilang penciuman adalah penurunan tingkat kemampuan saraf penghidu untuk membedakan dan merasakan bau. Fungsi ini erat kaitannya dengan fungsi mengecap. Orang yang kehilangan penciuman dapat pula kehilangan untuk membedakan rasa.

 

Kondisi ini disebut pula sebagai anosmia dan gejalanya disebut sebagai indikator infeksi COVID-19 yang lebih kuat dibandingkan dengan demam, batuk atau sakit tenggorokan.

 

Peneliti masih belum yakin secara pasti apa yang menyebabkan kondisi ini dapat terjadi pada infeksi virus corona baru. Peneliti juga belum dapat memutuskan dampak jangka panjang penurunan fungsi penghidu ini.

 

Kabar baiknya, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa pasien COVID-19 dengan hilang penciuman tidak mengalaminya secara permanen. Meskipun demikian, pemulihan jangka panjang dapat terjadi hingga fungsi penciuman kembali normal.

 

Peneliti masih terus berusaha untuk menemukan pemahaman yang lebih baik terkait dengan gejala ini. Pemahaman yang lebih baik dapat digunakan untuk mengembangkan pengobatan yang efektif dalam mengatasi anosmia COVID-19.

 

Sebaiknya waspadai gejala hilang penciuman terutama yang muncul begitu saja tanpa gejala lainnya seperti batuk atau pilek.

 

Referensi

  1. Sedaghat AR, Gengler I, Speth MM. Olfactory dysfunction: A highly prevalent symptom of COVID-19 with public health significance.Otolaryngol Head Neck Surg. 2020;163(1):12-15. doi:10.1177/0194599820926464
  2. Brann D, et al. Non-neuronal expression of SARS-CoV-2 entry genes in the olfactory system suggests mechanisms underlying COVID-19-associated anosmiaScience Advances. Jul 2020. doi:10.1126/sciadv.abc5801
  3. Wager T, et al. Augmented curation of clinical notes from a massive EHR system reveals symptoms of impending COVID-19 diagnosiseLife. 2020 July; doi:10.7554/eLife.58227
  4. Eliezer M, Hautefort C, Hamel A, et al.Sudden and complete olfactory loss of function as a possible symptom of COVID-19JAMA Otolaryngol Head Neck Surg. 2020;146(7):674–675. doi:10.1001/jamaoto.2020.0832
  5. Boscolo-Rizzo P, Borsetto D, Fabbris C, et al. Evolution of altered sense of smell or taste in patients with mildly symptomatic COVID-19.JAMA Otolaryngol Head Neck Surg. 2020;146(8):729–732. doi:10.1001/jamaoto.2020.1379
  6. Gerkin R, et al. The best COVID-19 predictor is recent smell loss: a cross-sectional study.medRxiv. 2020 July; doi:10.1101/2020.07.22.20157263
  7. Hummel T, Landis BN, Hüttenbrink KB. Smell and taste disordersGMS Curr Top Otorhinolaryngol Head Neck Surg. 2011;10:Doc04. doi:10.3205/cto000077
  8. Boesveldt S, Postma EM, Boak D, et al. Anosmia-A Clinical ReviewChem Senses. 2017;42(7):513-523. doi:10.1093/chemse/bjx025
  9. Boyce JM, Shone GR. Effects of ageing on smell and tastePostgrad Med J. 2006;82(966):239-41. doi:10.1136/pgmj.2005.039453
  10. Sorokowski P, Karwowski M, Misiak M, et al. Sex differences in human olfaction: A meta-analysisFront Psychol. 2019;10:242. doi:10.3389/fpsyg.2019.00242
  11. Schiffman SS. Influence of medications on taste and smellWorld J Otorhinolaryngol Head Neck Surg. 2018;4(1):84-91. doi:10.1016/j.wjorl.2018.02.005
  12. Molteni M, Saibene AM, Luciano K, Maccari A. Snorting the clivus away: an extreme case of cocaine-induced midline destructive lesionBMJ Case Rep. 2016;2016. doi:10.1136/bcr-2016-216393
  13. Schofield PW, Moore TM, Gardner A. Traumatic brain injury and olfaction: a systematic reviewFront Neurol. 2014;5:5. doi:10.3389/fneur.2014.00005

By Rifan Eka Putra Nasution

Dr. Rifan Eka Putra Nasution, Lahir di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, 29 Oktober 1992. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahiran lalu menyelesaikan pendidikan tingginya pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.Dr. Rifan mendapatkan medali Emas pada Olimpiade Kedokteran Regional Sumatera Pertama untuk cabang Kardiovaskular-Respirologi dan menghantarkan dirinya menjadi Mahasiswa Berprestasi Universitas Syiah Kuala pada tahun 2013. Pada tahun 2014, ia mendapatkan penghargaan Mahasiswa Kedokteran Berprestasi Se-Sumatera dari ISMKI Wilayah I.Saat ini beliau bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan Jabatan Dokter Ahli Pertama di UPTD Puskesmas Sukarame, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara.Beliau juga aktif menulis di Media Online dan Situs Kedokteran dan Kesehatan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berlangganan Newsletter Kami

Berlangganan Newsletter Kami

Bergabunglah dengan milis kami untuk menerima berita dan pembaruan terbaru dari tim kami.

Anda Telah Berhasil Berlangganan