stetoskop 2

Siapa yang tidak kenal dengan benda yang satu ini. Stetoskop adalah alat medis aukustik yang digunakan untuk mendengarkan suara-suara yang terdapat didalam organ tubuh seseorang. Sebuah penelitian dari Swiss baru-baru ini membuktikan  stetoskop ternyata lebih terkotaminasi bakteri dibanding telapak tangan dokter.

stetoskop
Medical image created by Dragana_Gordic – Freepik.com

Para peneliti menemukan bakteri lebih banyak menutupi diafragma stetoskop (bagian yang bersentuhan dengan tubuh pasien ) dibandingkan seluruh bagian tangan dokter, kecuali jari.

Studi ini juga menemukan korelasi erat antara tingkat kontaminasi diafragma dan ujung jari dokter.  Para peneliti mengatakan tidak ada pedoman resmi yang memberitahu dokter seberapa sering mereka harus membersihkan stetoskop mereka.

 

 

 

“Semakin terdapat banyak bakteri di ujung jari Anda, maka semakin Anda menemukan bakteri pada membran stetoskop,” kata penulis studi sekaligus direktur pengendalian infeksi di University of Geneva Hospitals, Dr Didier Pittet.

Dalam studi tersebut, sebanyak 71 pasien diperiksa oleh salah satu dari tiga dokter yang menggunakan sarung tangan steril, dan stetoskop steril.

Setelah pemeriksaan, para peneliti memeriksa tingkat kontaminasi bakteri pada dua bagian stetoskop – tabung dan membran – dan empat daerah tangan dokter – belakang, ujung jari, daerah di dekat pangkal ibu jari dan daerah dekat sedikit jari.

Para peneliti menemukan kontaminasi lebih banyak terjadi pada diafragma daripada di seluruh wilayah tangan dokter, kecuali jari. Tabung stetoskop juga menunjukkan kontaminasi lebih banyak pada punggung tangan dokter.

“Apa yang relatif mengejutkan adalah derajat kolonisasi, yang cukup tinggi,” kata Pittet.

Temuan mungkin memiliki implikasi untuk peraturan keselamatan pasien. Menurut Pittet, hal ini berarti stetoskop perlu dibersihkan atau “didekontaminasi ” atau “didesinfeksi” setelah digunakan.

Pittet menambahkan saat ini tidak ada pedoman yang diakui untuk membersihkan stetoskop di dunia. Namun, dokter dapat menggunakan stetostop berbeda untuk  memeriksa pasien yang terinfeksi bakteri  dan pasien yang resisten terhadap obat. (Antara-Viva).

By Rifan Eka Putra Nasution

Dr. Rifan Eka Putra Nasution, Lahir di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, 29 Oktober 1992. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahiran lalu menyelesaikan pendidikan tingginya pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.Dr. Rifan mendapatkan medali Emas pada Olimpiade Kedokteran Regional Sumatera Pertama untuk cabang Kardiovaskular-Respirologi dan menghantarkan dirinya menjadi Mahasiswa Berprestasi Universitas Syiah Kuala pada tahun 2013. Pada tahun 2014, ia mendapatkan penghargaan Mahasiswa Kedokteran Berprestasi Se-Sumatera dari ISMKI Wilayah I.Saat ini beliau bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil dengan Jabatan Dokter Ahli Pertama di UPTD Puskesmas Sukarame, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara.Beliau juga aktif menulis di Media Online dan Situs Kedokteran dan Kesehatan lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.