manfaat obat generik

Dok, Jangan Resepkan Obat Generik Ya!

Beberapa minggu yang lalu saya bertemu dengan membawa anaknya yang berusia 4 tahun. Ibu tersebut mengaku anaknya demam hari ke 3 disertai dengan batuk pilek. Dari hasil pemeriksaan saya temukan amandel anak ini membesar dan sedang meradang. Ibu tersebut mengaku bahwa 1 hari yang lalu sudah berobat tapi menggunakan jaminan kesehatan nasional. Ibu merasa anaknya tidak ada perbaikan dan memutuskan untuk kembali berobat dan kali ini bertemu dengan saya. Lalu, tersampaikanlah pernyataan tersebut: Dok, Jangan Resepkan Obat Generik Ya! Kalau saya berobat pakai “asuransi” pasti diresepkan obat generik. Ini saya berobat umum dok, tidak pakai asuransi. Anak saya tidak sembuh dengan obat generik.

 

Pernahkah Anda mendengar pernyataan yang sama atau Anda menjadi salah satu orang yang menyampaikannya kepada dokter Anda?

 

Selama hampir setengah tahun saya bertemu dengan pasien di klinik 24 jam. Saya terkadang bertemu dengan pasien yang seperti ini. Termasuk ketika saya 4 bulan menjalani internship di Puskesmas.

 

“Dok, saya tidak mau obat dari puskesmas ya, dokter resepkan saja obat paten. Nanti biar saya beli saja di Apotek.” Ujar salah seorang pasien yang saya temu di Puskesmas dengan keluhan “masuk angin”.

 

Teman-teman sejawat lain juga sering menemui pasien seperti ini.

 

Artikel ini saya tulis dengan harapan memberikan informasi tentang apa itu obat generik yang sebenarnya.

 

 

Obat Generik: Obat Kelas Dua

Bila mendengar obat generik sebagian besar dari kita pasti akan menghubungkan obat ini dengan beberapa hal, yaitu:

  • Obat murah
  • Obat yang diberikan bila berobat dengan jaminan kesehatan nasional
  • Obat untuk orang yang kurang mampu
  • Obat kelas dua
  • Obat paten lebih menyembuhkan dibandingkan generik

 

Yang paling parah obat generik dikatakan sebagai obat yang tidak bisa atau malu dipamerkan ke orang lain. Mengkonsumsi obat kok jadi bahan pamer..

 

Apa benar seperti itu?

 

Seharusnya tidak “selalu” begitu.

 

Anda yang beranggapan bahwa obat generik benar seperti poin-poin di atas, jujur saja saya dapat nyatakan bahwa Anda kurang informasi seputar obat generik.

 

Kurang informasi inilah yang menyebabkan obat generik kurang disukai dan kurang dilirik orang yang membutuhkannya.

 

Sikap-sikap skeptis (kurang percaya; ragu-ragu) yang menyebabkan obat ini menjadi kelas dua sikap ini merugikan banyak pihak.

 

Siapa saja yang dirugikan?

 

Yang paling dirugikan adalah pihak pasien sendiri. Mengapa demikian? Karena pasien tidak lagi efisien dalam pembiayaan kesehatannya terutama untuk biaya yang dikeluarkan dalam membeli obat.

 

Sebab keinginannya adalah membeli obat paten bukan obat generik.

 

Banyak yang lupa bahwa kualitas suatu obat tidak ditentukan oleh tingginya harga.

 

Semua obat baru, harus dibayar dengan harga yang tinggi untuk jasa dan biaya penelitian atas penemuannya, hak atas monopoli produksi obat baru tersebut.

 

Namun, tidak semua penyakit yang pasien derita memerlukan jenis obat baru.

 

Bila masa paten obat baru tersebut habis. Maka obat yang sama dapat diproduksi oleh perusahaan farmasi lainnya. Hak atas monopoli obat hilang dan pemerintah dapat menetapkan harga eceran tertinggi untuk obat itu.

 

Biasanya pemerintah akan mengeluarkan daftar obat esensial yang berisi obat-obat yang harus tersedia pada setiap tingkat layanan kesehatan. Daftar ini biasanya berisi nama obat generik.

 

Masalah Yang Muncul Karena Terlalu Banyak Merek Obat

Masalahnya bukan hanya obat generik VS obat paten ini saja. Bila daftar obat esensial tersebut berisi setidaknya 200 jenis obat dan masing-masing obat tersebut memiliki 10 perusahaan farmasi yang memproduksi dengan merek berbeda.

 

Berapa ribu merek obat yang harus diingat oleh seorang dokter?

 

Saking menjamurnya merek obat dari jenis obat yang sama, mungkin Anda lebih mengenal obat yang Anda konsumsi dibandingkan saya.

 

Dan hal inilah yang terjadi, saya punya cerita menarik tentang penamaan obat ini.

 

Saya sedang melaporkan seorang pasien di bangsal dengan tanda-tanda keluhan depresi berat pada dokter psikiater (Sp. KJ). Hasil dari konsultasi dengan dokter Sp.KJ tersebut pasien harus diberikan obat golongan anti depresan yaitu Sertraline.

 

Karena obat ini jarang digunakan saya mohon izin ke dr. Sp.KJ untuk menanyakan terlebih dahulu ke bagian farmasi apakah obat ini ada atau tidak.

 

Saya kemudian menghubungi pihak farmasi. Jawaban dari farmasi adalah obat tersebut tidak tersedia.

 

Lalu, saya mengabarkan dr. Sp.KJ bahwa obatnya tidak tersedia. Beliau mengganti obatnya menjadi Fluoxetine. Lalu, saya kembali bertanya ke farmasi dan lagi-lagi obat Fluoxetine juga tidak tersedia.

 

Ketika saya laporkan kembali maka dr. Sp.KJ menanyakan obat anti depresi apa yang tersedia di bagian farmasi.

 

Saya pun menanyakan hal tersebut ke pihal farmasi. Pihak farmasi menyatakan bahwa obat anti depresan yang tersedia adalah Fridep.

 

Fridep itu adalah salah satu merek obat untuk Sertraline.

 

Berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk berulang kali konfirmasi ke dokter spesialis bila pihak farmasi juga tidak perhatian dengan nama generik obat anti depresi ini.

 

Terlalu, banyak cerita lainnya yang bila saya tuliskan di sini maka artikel ini dapat menjadi cerita pendek tentang anggapan obat generik sebagai obat kelas dua.

 

Lebih baik, mari kita kenali siapa obat generik itu sebenarnya.

 

 

Siapa obat generik sebenarnya?

Pada mulanya tidak ada obat generik. Semua obat sejak awal mula ditemukan adalah obat bermerek yang dipatenkan. Ketika masa patennya habis (biasanya 10 hingga 20 tahun) maka pihak lain diperbolehkan untuk memproduksinya dengan merek dari perusahaan farmasi tersebut masing-masing.

 

Berbagai merek obat tersebut mengandung isi senyawa obat yang sama dengan obat paten tersebut. Nama senyawa inilah yang digunakan sebagai nama generik dari obat.

 

Semua perusahaan farmasi lainnya boleh memproduksi obat tersebut. Karena masa patennya sudah habis maka tidak ada lagi monopoli obat sehingga harga bahan baku obat dapat diturunkan dan harga obat menjadi lebih murah.

 

Jadi tidak alasan, termasuk alasan medis untuk menyangsikan efektivitas obat generik.

 

Toh, bahan bakunya sama, kandungan senyawa aktifnya juga sama. Hanya kemasan, proses produksi, dan sedikit perubahan pada sediaan obat (ada obat yang dapat diperpanjang efeknya) serta seberapa besar profit yang diinginkan oleh perusahaan farmasi yang menyebabkan obat bermerek memiliki harga yang berbeda dengan obat generik.

 

Jadi sebagai kesimpulan setidaknya ada 3 istilah obat yang harus Anda ketahui.

 

Jenis obat berdasarkan patennya

Yang pertama: Obat Paten

Obat paten adalah obat yang diproduksi oleh satu perusahaan farmasi setelah mereka melakukan penelitian terkait dengan penemuan dan pengembangan obat tersebut. Untuk proses itu mereka mendapatkan hak paten atas obat dan tidak ada perusahaan farmasi lain yang boleh memproduksi dan memasarkan obat tersebut tanpa izin.

 

Yang kedua: Obat Generik Bermerek

Obat ini yang sering sekali masyarakat menganggapnya sebagai obat paten. Padahal obat ini merupakan obat generik dengan kandungan zat aktif yang sama seperti obat paten yang telah habis masa patennya dan diberi merek tertentu oleh perusahaan farmasinya. Kemasannya pun dibuat semenarik mungkin sehingga perusahaan farmasi bisa menetapkan harga obatnya sesuai dengan keinginan mereka.

 

Yang ketiga: Obat Generik Berlogo

Obat generik berlogo ini selalu menyertakan logo generik. Untuk produksi obat ini harganya ditetapkan oleh pemerintah melalui harga eceran tertinggi. Obat ini juga memiliki kandungan obat yang sama dengan obat paten yang telah habis masa patennya.

 

Jadi, kalau kandungannya sama apakah khasiatnya berbeda?

 

Seharusnya tidak. Bila Anda masih kekeh akan pendapat  bahwa Anda tidak sembuh bila tidak mendapatkan obat bermerek maka saya sarankan Anda untuk menunggu tulisan saya yang berikutnya.

 

Tulisan saya berikutnya akan membahas mengapa Anda merasa demikian dan efek psikologis dari obat generik.

 

Bila Anda memiliki pertanyaan dan cerita tentang penggunaan obat generik ini silakan tuliskan di kolom komentar. Saya dengan senang hati akan mencoba menjawab pertanyaan dari Anda sekalian.

 

Referensi
  1. Nadesul H. Obat Bisa Salah: Cerdas dan Bijak Mengkonsumsi Obat, Seri Cara Sehat. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2014.
  2. Generic Drugs: Myths and Facts

https://doh.dc.gov/sites/default/files/dc/sites/doh/publication/attachments/Generics%20Drugs%20Myths%20and%20Facts.pdf

  1. Generic drugs: myths, facts, and limitations – Italian Journal of Medicine

https://italjmed.org/index.php/ijm/article/view/itjm.2012.146/pdf

Berikan Komentar Di Sini