komplikasi persalinan

Komplikasi Persalinan Pada Ibu Usia Tua

Semakin banyak wanita yang memutuskan menjadi ibu pada usia yang lebih tua, maka semakin banyak pula diantara mereka yang akan mengalami komplikasi persalinan. Hasil penelitian terbaru berikut dapat menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi.

komplikasi persalinan
sumber: http://www.womenfitness.net/wp/wp-content/uploads/2016/11/Complications-Pregnancy1.jpg

Fakta menunjukkan bahwa semakin banyak wanita yang memilih untuk menjadi ibu pada usia yang lebih tua (> 35 tahun). Laporan dari The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) selama 4 dekade terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan untuk populasi ini. Wanita yang memilih untuk menjadi ibu pada usia 35 tahun atau lebih adalah 1,7 per 1.000 kelahiran pada tahun 1973 menjadi 11 per 1.000 kelahiran pada tahun 2012. Beberapa penelitian menemukan terdapat hubungan yang erat antara meningkatnya usia ibu pada saat persalinan dengan kejadian komplikasi kehamilan dan komplikasi persalinan.

Peningkatan usia maternal (ibu) juga merupakan salah satu faktor risiko yang sangat dipertimbangkan untuk persalinan dengan tindakan operasi sesar.

Para peneliti dari King College London (KCL) di Inggris telah menyelidiki perubahan fisiologis dalam tubuh ibu yang bisa menjelaskan komplikasi kehamilan  dan komplikasi persalinan terkait dengan kontraksi uterus.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Physiology ini, menggunakan model tikus untuk meneliti hubungan antara penuaan ibu dan struktur rahim.

Analisa fungsi uterus pada tikus hamil dan komplikasi persalinan

Para peneliti, yang dipimpin oleh Dr. Rachel M. Tribe, peneliti dalam bidang kesehatan wanita di KCL, menggunakan model tikus hamil untuk meniru penuaan ibu pada manusia. Biasanya, kesuburan puncak tikus betina pada usia 3-5 bulan, tikus betina yang berusia 8 bulan dianggap setara dengan ibu manusia berusia 35 tahun.

Tribe dan tim menganalisis fungsi fisiologis serviks dan otot uterus tikus hamil. Mereka melihat bagaimana kontraksi berlangsung, bagaimana rahim merespon oksitosin, dan jumlah mitokondria yang tersedia, serta jalur sinyal hormon progesteron.

Oksitosin adalah hormon yang diproduksi secara alami oleh tubuh kita. Di antara banyak fungsinya, oksitosin juga dilepaskan selama persalinan untuk memfasilitasi kontraksi uterus. Hormon ini juga dapat diberikan sebagai obat untuk menginduksi persalinan.

Mitokondria adalah bagian dari sel yang disebut pembangkit tenaga listrik sel. Mereka adalah bagian kecil di dalam sel dan bertanggung jawab untuk memproduksi energi. Dalam studi ini, peneliti memeriksa mitokondria untuk melihat berapa banyak energi yang mereka disediakan untuk kontraksi otot rahim.

Progesteron adalah hormon yang dikenal memainkan peran penting dalam kehamilan. Selain membantu rahim menebal dan bersiap-siap untuk implantasi embrio, progesteron juga memperkuat dinding panggul dalam persiapan untuk kontraksi. Hormon ini juga bertanggung jawab untuk mengurangi aktivitas uterus, sehingga menjaga rahim “tenang” sampai jangka waktu yang tepat untuk persalinan.

Usia Ibu Mempengaruhi Fungsi Uterus

Para peneliti menemukan perubahan dalam sinyal hormonal dan struktur otot bisa menjelaskan terjadinya penundaan persalinan.

Pada tikus yang lebih tua, kemampuan otot uterus dalam berkontraksi mengalami gangguan. Otot-otot juga kurang responsif terhadap oksitosin dan memiliki jumlah mitokondria yang lebih rendah.

Para peneliti juga menemukan perubahan dalam proses sinyal progesteron, yang mereka yakini menyebabkan keterlambatan dalam proses persalinan.

“Penelitian kami menyoroti bahwa terdapat perubahan fisiologis dan seluler kunci terkait dengan usia ibu yang mengakibatkan disfungsi persalinan. Waktu kelahiran dan kemajuan persalinan secara langsung berkaitan dengan usia ibu dan hal ini dapat menyebabkan komplikasi selama kelahiran.”-Dr.Rachel M. Tribe-

Dr. Rima Patel, seorang peneliti dari Divisi Kesehatan wanita di KCL dan rekan penulis lainnya, juga menjelaskan fokus hasil studi lainnya.

“Studi kami hanya menggunakan model tikus, penelitian lebih spesifik untuk mengukur hormon dan menganalisis jaringan rahim pada wanita hamil tua masih diperlukan. Studi seperti ini, terkait penuaan ibu sangat penting dilakukan karena memberikan informasi terkait strategi manajemen klinis pada masa depan bagi ibu tua serta untuk memastikan ibu tua bebas komplikasi persalinan saat melahirkan.”

 

Sumber:

Patel, R., Moffatt, J. D., Mourmoura, E., Demaison, L., Seed, P. T., Postson, L. and Tribe, R. M. (2016), Effect of reproductive ageing on pregnant mouse uterus and cervix. J Physiol. Accepted Author Manuscript.

Jantung adalah Panglima:”Bukti Ilmiah Jantung Mempengaruhi Kerja Otak Kita” (Bagian 2)

Hubungan Otak & Jantung

NERVUS SYSTEM

Secara fisiologis irama jantung sangat terkait dengan peranan dari sistem saraf manusia yaitu sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Berarti ada beberapa bagian kerja dari jantung yang secara langsung dipengaruhi oleh kerja sistem saraf kita. Jika kita berbicara tentang otak atau sistem saraf maka sebagian besar akan sepakat jika kesadaran kita saat ini diatur oleh otak kita melalui sebuah sistem yang disebut sebagai Ascending reticular activating system (ARAS). Penelitian terbaru membuktikan bahwa kesadaran muncul dari dalam tubuh dan juga otak kita yang bekerja secara bersama-sama. Diikuti dengan semakin banyaknya bukti ilmiah bahwa jantung memainkan banyak perannya dalam proses ini.

Jauh lebih banyak dari fungsinya yang sederhana sebagai sebuah pompa, maka jantung saat ini diyakini oleh para ilmuwan sebagai sebuah organ yang sangat kompleks. Jantung bahkan diyakini memiliki “otak” fungsionalnya sendiri. Penelitian yang dilakukan dalam disiplin ilmu baru pada neurokardiologi menunjukkan bahwa jantung adalah salah satu organ sensorik dan pusat canggih dalam menerima dan mengolah informasi. Sistem saraf pada jantung (“Otak Jantung”) memungkinkan jantung untuk belajar, mengingat, dan mempengaruhi bagian korteks pada otak untuk membuat keputusan fungsional independen. Selain itu, percobaan lainnya juga membuktikan bahwa jantung secara terus menerus selain mendapatkan sinyal dari sistem saraf maka jantung juga mengirimkan sinyal ke otak. Sinyal yang dikirimkan oleh jantung tersebut akan mempengaruhi fungsi otak yang lebih tinggi terkait dengan persepsi, kognisi dan pengaturan emosianal seseorang.

galaksi2

Selain komunikasi melalui serabut saraf yang menghubungkan antara jantung, otak dan baigan tubuh lainnya jantung juga mengkomunikasikan informasi ke otak dan bagian tubuh yang lain melalui interaksi medan elektromagnetik. Jantung menghasilkan medan elektromagnetik berirama yang paling kuat dan paling luas bila dibandingkan dengan medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh otak, komponen medan listrik jantung memiliki amplitudo 60 kali lebih besar, dan dapat menembus setiap sel dalam tubuh. Komponen medan magnetik jantung 5000 kali lebih kuat dari medan magnetik otak dan dapat dideteksi beberapa meter jauhnya dari tubuh dengan magnetometer sensitif.

Penelitian yang dilakukan oleh McCraty, Bradley dan Tomasino dari Institut Heartmath menunjukkan bahwa jantung menghasilkan serangkaian pulsasi elektromagnetik secara terus-menurus dimana interval waktu antara setiap denyut bervariasi secara dinamis dan kompleks. Sehingga, jantung selalu memberikan pengaruh kuat pada proses yang terjadi pada seluruh tubuh. Penelitian mereka menunjukkan, bahwa ritme otak secara alami menyinkronkan aktivitas ritmik jantung. Perasaan cinta atau penghargaan, tekanan darah dan irama pernafasan, dan sistem osilasi lainnya, juga disinkronisasikan dengan ritme jantung. Sehingga mereka menarik kesimpulan bahwa medan elektromagnetik jantung bertindak sebagai gelombang pembawa informasi yang menyebabkan sinkronisasi global untuk seluruh tubuh.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa emosis positif yang berkelanjutan akan menimbulkan bentuk yang berbeda fungsi terhadap gelombang jantung. Dimana ketika perasaan seseorang sedang baik maka gelombang elektromagnetik jantung akan lebih terorganisir dan sejalan serta selalu membentuk irama sinus. Begitu pula sebaliknya ketika gelombang elektromagnetik jantung kacau maka perasaan seseorang akan menjadi tidak bahagia. Keadaan ini disebut sebagai Psikofisiologikal Koheren.

Percobaan yang dilakukan di Institute of HeartMath telah menemukan bukti yang luar biasa bahwa medan elektromagnetik jantung dapat mengirimkan kepada orang lain.

“Kami telah mampu mengukur pertukaran energi jantung antara individu hingga 5 meter. Kami juga telah menemukan bahwa gelombang otak seseorang sebenarnya dapat melakukan sinkronisasi ke jantung orang lain. Selanjutnya, ketika seorang individu menghasilkan irama jantung yang koheren, sinkronisasi antara gelombang otak orang itu dan detak jantung orang lain lebih mungkin terjadi.”

Temuan ini memiliki implikasi menarik, menunjukkan bahwa individu-individu dalam keadaan psikofisiologikal koheren menjadi lebih sadar akan informasi yang dikodekan dalam medan magnetik jantung orang di sekitar mereka. Para peneliti juga menyimpulkan bahwa sistem saraf bertindak sebagai “antena,” yang disetel untuk merespon dan medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh jantung orang lain.

Wallahu A’lam Bishawaf….

 

Sumber.

  1. Al-Najjar AR. Buku Pintar Sains dalam Hadis: Mengerti Mukjizat Ilmiah Sabda Rasulullah. Jakarta: Zaman; 2013. h. 407-413.
  2. Thayyarah N. Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an: Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah. Jakarta: Zaman; 2013. h. 307-308.
  3. Loukas M, Saad Y, Tubbs RS, Shoja MM. The Heart and Cardiovascular System in The Qur’an and Hadeeth. Int Jour of Cardiol 2010;140. p. 19-23.
  4. McCraty R, Bradley RT, Tomasino D. Science of The Heart. Exploring the Role of the Heart in Human Performance: An Overview of Research Conducted by the Institute of HeartMath. HeartMath Research Center, Institute of HeartMath, Publication; 2012.

Jantung Adalah Panglima: “Bukti Ilmiah Jantung Mempengaruhi Kerja Otak Kita” (Bagian 1)

Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik pulalah seluruh jasadnya; Jika ia rusak maka rusak pulalah seluruh jasadnya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah qalb (Jantung)”. (H.R Al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah, Ahmad, Al-Darimi).”

 

heart 3

Secara anatomi, jantung merupakan organ tubuh yang teletak pada bagian kiri rongga dada. Ukurannya tidak lebih dari sebesar kepalan tangan orang dewasa dan beratnya tidak lebih dari 3 kg. Jantung berdenyut sekitar 60-100 permenit atau sekitar 100 ribu denyutan perhari dengan memompa sekitar 5 liter darah dalam satu menit. Jadi, dalam sehari, jantung memompa sekitar 7.200 liter darah melalui pembuluh darah (arteri & vena), dan kapiler-kapiler pembuluh darah yang panjangnya mencapai ribuan km agar darah sampai ke seluruh menghantarkan nutrisi, dan bahan bakar berupa oksigen serta membuang zat sisa melalui sistem organ lainnya.

Jantung tidak pernah lalai ataupun lupa, tidak jengah dan lengah, serta tidak bosan dan mengeluh menjalankan fungsinya dari saat kita lahir hingga menemui ajal. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, proses sirkulasi darah akan berjalan dengan lancar apabila jantung dapat bekerja dengan baik. Jika jantung rusak, sirkulasi darah akan kacau sehingga nutrisi dan oksigen tidak akan bisa dihasilkan ke seluruh sel tubuh. Akibatnya, seluruh organ tubuh menjadi lemah hingga akhirnya rusak. Hal tersebut di atas telah dibuktikan oleh riset ilmiah kedokteran yang membuktikan bahwa jika jantung sehat maka seluruh tubuh akan sehat dan apa bila jantung sakit maka seluruh tubuh akan sakit. Fenomena yang sangat ilmiah ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW melalui hadist di atas bahkan jauh sebelum metode penelitian ilmiah itu sendiri muncul.

Sementara, jika kita melihatnya dari kajian mental spiritual, hadist di atas tidak berbicara tentang fungsi jantung (qalb) sebagai panglima yang mengatur proses sirkulasi dan metabolisme tubuh. Qalb yang dimaksud dalam Al-qur’an, Hadits dan sebagian besar ulama bukan lah qalb sebagai organ tubuh melainkan suatu fungsi yang berhubungan dengan emosi, konsep, gagasan, keyakinan, etika, dan interaksi sosial. Sebagian ulama, diantaranya Al-Ghazali berpendapat bahwa kata qalb dalam hadist di atas harus dimaknai secara maknawi, yaitu “hati”. Ia memiliki keterkaitan dengan jantung. Dalam pengertian ini, menurutnya, qalb mempresentasikan hakikat manusia yang sebenarnya. Qalb adalah eksistensi dalam tubuh manusia yang bisa mengetahui, memahami, menerima, dan memproses segala macam pesan, kritik, celaan, maupun tuntutan. Jika semua aspek di atas baik maka baik pula seluruh tingkah lakunya!

Secara ilmiah kita semua pasti sepakat bahwa ada satu organ dalam tubuh kita yang berperan dalam pengatuaran emosi, konsep, gagasan, keyakinan, etika, hingga tingkah laku. Organ itu adalah Otak kita yang terdiri dari bermilyar-milyar sel otak. Jadi akan muncul pertentangan di sini apakah qalb itu otak atau jantung atau “hati”. Sebagian orang juga berbeda pendapat tentang hal ini.

Lanjut ke bagian 2 !!!

stetoskop 2

Stetoskop Anda Dapat Menjadi Sarang Kuman

Siapa yang tidak kenal dengan benda yang satu ini. Stetoskop adalah alat medis aukustik yang digunakan untuk mendengarkan suara-suara yang terdapat didalam organ tubuh seseorang. Sebuah penelitian dari Swiss baru-baru ini membuktikan  stetoskop ternyata lebih terkotaminasi bakteri dibanding telapak tangan dokter.

stetoskop
Medical image created by Dragana_Gordic – Freepik.com

Para peneliti menemukan bakteri lebih banyak menutupi diafragma stetoskop (bagian yang bersentuhan dengan tubuh pasien ) dibandingkan seluruh bagian tangan dokter, kecuali jari.

Studi ini juga menemukan korelasi erat antara tingkat kontaminasi diafragma dan ujung jari dokter.  Para peneliti mengatakan tidak ada pedoman resmi yang memberitahu dokter seberapa sering mereka harus membersihkan stetoskop mereka.

 

 

 

“Semakin terdapat banyak bakteri di ujung jari Anda, maka semakin Anda menemukan bakteri pada membran stetoskop,” kata penulis studi sekaligus direktur pengendalian infeksi di University of Geneva Hospitals, Dr Didier Pittet.

Dalam studi tersebut, sebanyak 71 pasien diperiksa oleh salah satu dari tiga dokter yang menggunakan sarung tangan steril, dan stetoskop steril.

Setelah pemeriksaan, para peneliti memeriksa tingkat kontaminasi bakteri pada dua bagian stetoskop – tabung dan membran – dan empat daerah tangan dokter – belakang, ujung jari, daerah di dekat pangkal ibu jari dan daerah dekat sedikit jari.

Para peneliti menemukan kontaminasi lebih banyak terjadi pada diafragma daripada di seluruh wilayah tangan dokter, kecuali jari. Tabung stetoskop juga menunjukkan kontaminasi lebih banyak pada punggung tangan dokter.

“Apa yang relatif mengejutkan adalah derajat kolonisasi, yang cukup tinggi,” kata Pittet.

Temuan mungkin memiliki implikasi untuk peraturan keselamatan pasien. Menurut Pittet, hal ini berarti stetoskop perlu dibersihkan atau “didekontaminasi ” atau “didesinfeksi” setelah digunakan.

Pittet menambahkan saat ini tidak ada pedoman yang diakui untuk membersihkan stetoskop di dunia. Namun, dokter dapat menggunakan stetostop berbeda untuk  memeriksa pasien yang terinfeksi bakteri  dan pasien yang resisten terhadap obat. (Antara-Viva).

depresi

Depresi Menjadi Mahasiswa Fakultas Kedokteran?

 

Sebuah studi menunjukkan bahwa banyak mahasiswa fakultas kedokteran yang sedang menjalani masa belajar mengalami depresi dan kelelahan. Masalah ini sangat mengganggu apalagi bagi mereka yang baru saja merasakan susahnya belajar di Fakultas Kedokteran (Mahasiswa baru-red). Depresi seakan menjadi lebih umum terjadi pada mahasiswa kedokteran dibandingkan dengan masyarakat. Sebuah studi menunjukkan bahwa 14% dari total populasi mahasiswa kedokteran mengalami depresi dengan tingkat sedang hingga berat(1).
 
Studi lainnya yang dilakukan di Korea menunjukkan bahwa lebih dari 40% mahasiswa kedokteran mengalami depresi(2). Mahasiswa kedokteran yang mengalami depresi yang parah juga mungkin kurang mencari bantuan untuk mengasi depresinya. Penelitian JAMA menunjukkan bahwa secara khusus mahasiswa yang mengalami depresi akan setuju dengan pernyataan bahwa, jika mereka tertekan, mahasiswa yang lain akan kurang mengormati pendapat saya dan civitas akademika akan menganggap bahwa dirinya tidak mampu melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa fakultas kedokteran. Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa banyak yang setuju kalau mencari bantuan untuk mengatasi masalah depresi meraka akan membuat mereka merasa kurang cerdas(3).
 
depresi
Business image created by Jcomp – Freepik.com

Beberapa mahasiswa mengatakan sulit untuk dapat mempertahankan emosi yang sehat selama berkuliah di fakultas kedokteran. Hal tersebut dikarenakan sangat sedikitnya waktu yang tersedia bagi mereka untuk menjalani konseling. Beberapa lainnya juga mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang cacatan depresi mereka sewaktu berkuliah akan mempengaruhi karier mereka di dunia medi nantinya. Bahkan mahasiswa kedokteran yang tidak mengalami depresi bisa menderita kelelahan, kelelahan emosional, dan perasaan tidak mampu profesional. Menurut survei dari sekitar 2500 mahasiswa dari 7 sekolah kedokteran Amerika Serikat, sekitar 53 % siswa memenuhi kriteria tersebut (4). Selain itu, mahasiswa yang kelelahan lebih mungkin untuk melakukan sesuatu yang tidak jujur, curang, dan juga yang lebih serius, yaitu mempertimbangkan untuk keluar dari fakultas kedokteran(5).

 
Apakah hal tersebut terjadi kepada rekan-rekan pembaca sekalian? Atau malah ada diantara teman-teman yang tidak sadar kalau dirinya mengalami depresi?
 
Pada artikel selanjutnya akan dibahas tentang bagaimana kita dapat survive dalam menjalankan aktivitas sebagai mahasiswa fakultas kedokteran.
·
* Artikel ini diterjemahkan dari Medscape dengan sedikit perubahan
 
  1.  Schwenk TL, Davis L, Wimsatt LA. Depression, stigma, and suicidal ideation in medical students. JAMA. 2010;304:1181-1190.
  2. Jeong Y, Kim JY, Ryu JS, Lee KE, Ha EH, Park H. The associations between social support, health-related behaviors, socioeconomic status and depression in medical students. Epidemiol Health. 2010
  3.  Helmich E, Bolhuis S, Koopmans R. Medical students and depression. JAMA 2011;305:38-39
  4.  Dyrbye LN, Thomas MR, Massie FS, et al. Burnout and suicidal ideation among US medical students. Ann Intern Med. 2008;149:334-341.
  5.  Dyrbye LN, Thomas MR, Power DV, et al. Burnout and serious thoughts of dropping out of medical school: a multi-institutional study. Acad Med. 2010;85:94-102