kalsium

Lansia Tidak Butuh Suplemen Kalsium & Vitamin D

Suplemen kalsium dan vitamin D menjadi salah satu suplemen yang paling banyak dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat, khususnya lansia. Akan tetapi, sebuah tinjauan sistematis terbaru menunjukkan bahwa konsumsi suplemen ini oleh lansia hanya menghabiskan waktu dan uang saja.

 

Tinjauan tersebut menunjukkan bahwa hanya terdapat sedikit bukti bahwa suplemen ini berperan dalam mencegah kejadian patah tulang panggul dan patah tulang lainnya. Kesimpulan ini diambil berdasarkan analisis dari puluhan uji klinis.

 

Dr. Jia-Guo Zhao, seorang ahli bedah tulang dari rumah sakit Tianjin di Cina yang menjadi peneliti utama pada tinjauan sistematis ini menyatakan bahwa:

“Konsumsi rutin suplemen in tidak dibutuhkan oleh lansia. Kita harus berpikir bahwa sekaranglah saatnya yang tepat untuk berhenti mengkonsumsi suplemen ini.”

 

Tidak semua ahli setuju dengan kesimpulan yang ditemukan pada tinjauan sistematis ini. Ahli bedah tulang lainnya Dr. Daniel Smith menyatakan bahwa penelitian tersebut membuat suatu kesimpulan yang sangat berani dan menentang bahwa suplemen kalsium serta vitamin D ini sama sekali tidak baik.

 

Dr. Smith berpendapat bahwa:

“Manfaat potensial dari konsumsi suplemen ini dalam mencegah sedikit patah tulang panggul jauh lebih bermanfaat dari pada risiko minimal yang terjadi sebagai efek samping konsumsi suplemen rutin pada populasi berisiko.”

 

Pendapat kedokteran menyarankan bahwa bahwa orang tua harus mendapatkan cukup asupan kalsium dan vitamin D untuk menjaga kesehatan tulang mereka seiring bertambahnya usia.

 

Sekitar 99 persen kalsium dalam tubuh manusia tersimpan di tulang dan gigi, dan tubuh tidak dapat menghasilkan mineral ini dengan sendirinya. Kadar kalsium yang terlalu sedikit menyebabkan pengeroposan tulang (osteoporosis). Tubuh juga membutuhkan vitamin D untuk menyerap kalsium.

National Osteoporosis Foundation merekomendasikan wanita berusia 50 atau lebih muda dan pria berusia 70 atau lebih muda harus mendapatkan asupan 1.000 miligram (mg) kalsium per hari. Pria dan wanita lebih tua seharusnya mendapatkan 1.200 mg setiap hari.

 

Tinjauan sistematis yang dilakuan oleh Zhao dan rekan-rekannya menyisir literatur medis untuk menemukan uji klinis yang sebelumnya menguji kegunaan suplemen kalsium dan vitamin D. Mereka menyelesaikan data dari 33 uji klinis yang berbeda yang melibatkan lebih dari 51.000 peserta, yang semuanya berusia lebih dari 50 tahun dan tinggal secara mandiri.

 

Sebagian besar uji klinis dilakukan di Amerika Serikat, Inggris, Selandia Baru dan Australia, kata Zhao. Dosis suplemen bervariasi antara uji klinis, begitu juga frekuensi konsumsinya.

 

Data gabungan tersebut menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara suplemen kalsium atau vitamin D dan risiko patah tulang pinggul atau patah tulang lainnya, dibandingkan dengan orang-orang yang menerima plasebo atau tidak mendapatkan pengobatan sama sekali.

Kalsium dan vitamin D masih penting untuk kesehatan tulang, namun hasil ini menunjukkan bahwa Anda harus mendapatkannya melalui diet dan gaya hidup Anda daripada dari suplemen.

 

“Kalsium yang berasal dari makanan tidak tergantikan untuk kesehatan tulang,” kata Zhao. “Produk susu, sayur, buah dan kacang merupakan sumber makanan untuk memenuhi asupan kalsium kalsium.”

 

“Vitamin D disintesis di kulit sebagai respons terhadap radiasi ultraviolet-B di bawah sinar matahari, dan sumber makanan vitamin D terbatas,” lanjut Zhao. Berolahraga di bawah sinar matahari harus menyediakan vitamin D yang dibutuhkan semua orang.

 

Referensi: 

https://jamanetwork.com/journals/jama/article-abstract/2667071?redirect=true

selfie diagnostik

Selfie Sebagai Metode Diagnostik Masa Depan

Pada tahun 2050, ketika anda merasa sakit. Alih-alih anda pergi menemui dokter; profesi yang mungkin menjadi tidak terkenal di masa depan. Anda mengeluarkan ponsel anda dan mengambil selfie diagnostik. Apakah hal di atas merupakan suatu “Fiksi” belaka? Bisa jadi dalam waktu dekat akan menjadi suatu fakta; peneliti telah mendesain suatu model komputer yang dapat memprediksi kesehatan secara akurat berdasarkan bentuk wajah.

Jika paragraf di atas terlalu tidak masuk akal bagi anda, tapi model komputer ini tidak hanya berhasil menebak aspek kesehatan hanya dengan melihat wajah tapi pola yang sama juga dapat diterapkan pada otak untuk menemukan diagnosis penyakit dengan pola yang sama.

Dr. Ian Stephen, dari Macquarie University di Sydney, Australia, dan rekan-rekannya menggunakan analisis bentuk wajah untuk mendeteksi secara tepat tanda kesehatan fisiologis di lebih dari 270 individu dari etnis yang berbeda.

“Kami telah mengembangkan model komputer,” Dr. Stephen menjelaskan, “yang dapat menentukan informasi tentang kesehatan seseorang hanya dengan menganalisis selfie wajah mereka, mendukung gagasan bahwa wajah berisi isyarat yang benar dan jelas terhadap kesehatan fisiologis.”

Temuan ini sekarang telah dipublikasikan di jurnal Frontiers in Psychology, dan mereka membuat gagasan tentang super-doctor yang disempurnakan dengan komputer dimana otaknya telah dioptimalkan untuk diagnosa tanpa cela. Hal ini tampak lebih ilmiah daripada fiksi.

 

Model komputer selfie ini memprediksi lemak tubuh, indeks massa tubuh, tekanan darah

Dr. Stephen menjelaskan bagaimana penelitian ini dilakukan: “Pertama, kami menggunakan foto selfie 272 wajah Asia, Afrika, dan Kaukasia untuk melatih komputer mengenali lemak tubuh, indeks massa tubuh, dan tekanan darah dari bentuk wajah mereka.”

 

“Kami kemudian meminta komputer untuk memprediksi ketiga variabel kesehatan ini di wajah lain, dan menemukan bahwa model komputer ini bisa melakukannya,” kata Dr. Stephen.

 

Selanjutnya, para peneliti ingin melihat apakah manusia mendeteksi isyarat kesehatan dengan cara yang sama. Jadi, Dr. Stephen dan rekan-rekannya merancang sebuah aplikasi yang memungkinkan peserta penelitian mengubah tampilan selfie wajah sehingga mereka terlihat sehat semaksimal mungkin.

Parameter aplikasi bisa diubah sesuai model komputer.

“Kami menemukan bahwa para partisipan mengubah wajah agar terlihat lebih rendah lemak, memiliki indeks massa tubuh yang lebih rendah dan tekanan darah rendah, agar mereka terlihat lebih sehat,” kata Dr. Stephen.

 

“Metode aplikasi ini menunjukkan bahwa beberapa fitur yang menentukan seberapa sehat tampilan wajah pada manusia adalah fitur yang sama dengan model komputer yang digunakan untuk memprediksi lemak tubuh, indeks massa tubuh, dan tekanan darah.”

Dengan kata lain, otak kita bekerja dengan cara yang sama seperti model komputer, dan bisa memprediksi kesehatan dari bentuk wajah dengan akurasi yang mengejutkan.

Dr. Stephen melanjutkan dengan berspekulasi tentang signifikansi evolusioner temuan tersebut. Dia mengatakan, “Hasilnya menunjukkan bahwa otak kita telah mengembangkan mekanisme untuk mengekstrak informasi kesehatan dari wajah orang-orang, memungkinkan kita untuk mengidentifikasi orang sehat untuk dikawinkan dengan atau untuk membentuk hubungan kerja sama dengan.”

“Ini mengisi sebuah tautan penting yang hilang dalam teori daya tarik evolusioner saat ini,” tambahnya.

 

“Temuan ini,” Dr. Stephen menyimpulkan, “memberikan dukungan kuat untuk hipotesis bahwa wajah mengandung isyarat yang benar dan jelas terhadap kesehatan fisiologis, dan sementara model pada tahap awal, kami berharap dapat digunakan untuk membantu diagnosis masalah kesehatan di masa depan. “

 

Apakah masih ada profesi dokter di masa depan atau digantikan oleh teknologi pelayan kesehatan super yang melakukan pekerjaan lebih akurat dan lebih singkat dari pada yang seorang dokter dapat lakukan?

 

Referensi: Diterjemahkan dari https://www.medicalnewstoday.com/articles/320316.php

vape rokok elektrik

Vape: Apakah Aman Untuk Kesehatan Jantung?

Banyak orang beralih dari menghisap rokok kompensional menjadi pencandu rokok elektrik (e-ciggarettes/vape). Orang-orang ini berpikiran bahwa rokok elektronik lebih aman dibandingkan dengan rokok konvensional (baik kretek atau filter). Akan tetapi, apakah vape memang lebih aman dibandingkan dengan rokok konvensional?

 

Peneliti dari Universitas West Virginia di Morgantown melakukan percobaan untuk menentukan dampak paparan akut dan jangka panjang vape terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah pada hewan coba (tikus).

vape

Peneliti memiliki hipotesis bahwa paparan akut dan kronik dari asap yang ditimbulkan oleh rokok elektronik dapat menyebabkan peningkatan disfungsi atau gangguan jantung dan pembuluh darah dibandingkan dengan rokok konvensional.

Temuan penelitian ini dipresentasikan pada  konfrensi Cardiovascular Aging: New Frontiers and Old Friends

 

Vape Bukan Merupakan Suatu Alat Yang Aman

Prof. Olfert dan rekan meneliti empat ekor tikus betina yang terpapar dengan rokok elektronik secara akut (paparan singkat asap rokok selama lebih kurang 5 menit) dan enam ekor tikus betina yang terpapar asap rokok elektronik secara kronik (selama 4 jam setiap hari, selama 5 hari dalam seminggu, selama 8 bulan). Rokok elektronik yang digunakan mengandung 18 miligram nikotin per mililiter dan memiliki rasa cappucino.

 

Peneliti kemudian memeriksa ukuran diameter pembuluh darah arteri dan vasodilatasi (kemampuan pembuluh darah untuk melebar dan menyempit). Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan suatu teknik yang disebut dengan mikroskop intravital. Peneliti juga mengevaluasi reaktivitas pembuluh darah arteriola yang lebih kecil. Arteriola merupakan cabang dari arteri yang akan menjadi kapiler darah.

 

Prof. Olfert dan rekan juga menilai kekakuan aorta (pembuluh darah arteri terbesar). Kekauan aorta merupakan petunjuk penyakit jantung dan pembuluh darah. Kekakuan aorta akan menyebabkan hilangnya elastisitas dan kondisi ini biasanya ditemukan pada populasi lansia. 

 

Peneliti menggunakan ultrasonografi doppler untuk mengevaluasi kecepatan gelombang pulsasi. Pemeriksaan ini merupakan baku emas pemeriksaan kekakuan aorta.

 

Peneliti menemukan bahwa satu jam paska paparan asap dari vape selama 5 menit maka pembuluh darah arteri akan menyempit sekitar 31% dari ukuran sebelumnya. Paparan asap rokok elektrik secara kronik akan menyebabkan kekakuan aorta. Kondisi ini dua setengah kali lebih besar bila dibandingkan dengan tikus yang tidak mendapatkan paparan asap rokok elektrik.

 

Paparan akut juga menyebabkan penurunan vasodilatasi sebesar 9%. Relaksasi maksimum aorta akan dicapai dengan reaksi terhadap metakolin. Uji ini biasanya dilakukan untuk menentukan apakah pasien mengalami asma atau tidak. Reaksi terhadap metakolin ditemukan 90% pada tikus kelompok kontrol tapi hanya 70 persen pada tikus yang mendapatkan paparan asap rokok kronik.

 

Penulis menyimpulkan bahwa paparan rokok elektrik memiliki efek samping yang sangat parah terhadap kesehatan jantung dan pembuluh darah. Paparan asap rokok elektrik akan mengakibatkan penuaan prematur pembuluh darah.

 

Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa rokok elektrik atau vape sangat tidak aman. Paparan akut ataupun kronik asap dari rokok elektrik dapat mengakibatka gangguan pada lapisan terdalam (endotel) pembuluh darah besar ataupun pembuluh darah perifer. Kondisi ini akan menyebabkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah akan muncul lebih cepat dibandingkan dengan orang yang tidak menghisap rokok elektrik atau vape.

 

menguap 2

Menguap: Mengapa Kita Melakukannya?

Menguap merupakan refleks tidak sadar (involunter) yang menyebabkan mulut terbuka lebar, dan paru-paru mendapatkan lebih banyak udara. Kemudian udara yang masuk akan dikeluarkan secara perlahan. Selama periode tersebut, gendang telinga akan menegang dan mata tertutup rapat.

menguap

Tidak ada gerakan atau tindakan yang dapat menyebabkan kita menguap. Proses seperti yang telah dituliskan di atas terjadi sama pada setiap orang. Menguap pada umumnya terjadi baik sebelum atau setelah tidur. Hal ini yang menyebabkan menguap dipertimbangkan sebagai salah satu gejala keletihan. Menguap juga sering terjadi pada seseorang yang sedang melakukan aktivitas yang membosankan dan menjemukan.

Menguap juga memiliki aspek sosial. Kondisi ini dianggap dapat menular diantara orang yang satu dengan yang lainnya begitu pula pada binatang, dan penyebaran menguap terdokumentasikan dengan baik akan tetapi sulit untuk dipahami.

 

Fakta-fakta Tentang Menguap

menguap 2Berikut ini merupakan poin kunci tentang menguap. Detail lebih lengkapnya dapat dibaca pada artikel ini secara keseluruhan.

  • pada umumnya, menguap adalah respons terhadap keletihan atau  kurangnya stimulasi
  • Bayi dapat menguap bahkan janin pun dapat melakukannya
  • Menguap menular, sebagai bagian dari respons empati natural
  • Menguap memberikan fungsi sosial sebagai alat yang mengkomunikasikan kebosanan.

 

 

Apa yang potensial menyebabkan menguap?

Tidak terdapat bukti yang pasti untuk kondisi ini. Banyak teori yang disarankan dan telah diteliti, beberapa dari teori tersebut memberikan sedikit petunjuk mengapa kita menguap.

 

Perubahan Kondisi

Menguap umumnya merupakan tanda mengantuk atau bosan, akan tetapi kedua kondisi itu tidak selalu menjadi penyebab seseorang menguap.

Ketika seseorang yang mengalami keletihan menguap, maka denyut jantung akan meningkat, sehingga kondisi ini dapat dipertimbangkan sebagai tanda waspada dibandingkan tanda lesu.

Pada umumnya, menguap merupakan jalan sederhana tubuh untuk mengubah kondisi atau tingkat kewaspadaan pada:

  • sebelum tidur: menguap merupakan tanda tubuh menyiapkan diri untuk tidur
  • ketika bosan: menguap ketika mengerjakan suatu aktivitas yang membosankan merupakan tanda transisi otak dari tingkat kewaspadaan tinggi menjadi yang lebih rendah untuk mengurangi penggunaan energi otak.
  • setelah berolahraga: menguap setelah berolahraga juga merukan tanda penurunan penggunaan energi oleh otak dari kondisi penggunaan tinggi ke rendah.

 

Orang-orang juga menguap ketika mengalami perubahan fisik seperti bergerak dari lingkungan dengan tekanan tinggi ke tekanan rendah. Tekanan ini akan menyebabkan perubahan pada gendang telinga dan menyebabkan seseorang menguap.

 

Fungsi Respirasi

Menguap dapat berfungsi untuk pernapasan. Menguap lebih sering terjadi ketika darah membutuhkan lebih banyak oksigen. Menguap menyebabkan inspirasi udara yang lebih banyak dan mempercepat denyut jantung. Kondisi ini secara teori menyebabkan jantung akan memompa lebih banyak oksigen ke seluruh tubuh. Jadi, menguap secara sederhana diciptakan untuk memberikan suplai oksigen yang lebih banyak kepada tubuh.

 

Untuk Mendinginkan Otak

Menguap dapat mendinginkan otak. Menguap dapat merenggangkan rahang, meningkatkan aliran darah pada leher dan wajah. Inspirasi besar oksigen dan peningkatan denyut nadi juga akan menyebabkan darah dan cairan serebro spinal mengalami siklus yang lebih cepat. Seluruh proses ini akan membuat otak menjadi lebih dingin.

Penelitian yang dipublikasikan pada Physiology & Behavior  mendukung teori ini. Peneliti menemukan bahwa menguap lebih sering terjadi pada suhu 20 °C. Suhu ini merupakan suhu ideal untuk mendinginkan darah dan otak.

 

Sebagai alat komunikasi

Beberapa peneliti percaya bahwa fakta manusia menguap merupakan salah satu bentuk komunikasi. Sebelum manusia berkomunikasi secara vokal seperti saat ini. Manusia berkomunikasi dengan menguap untuk menyampaikan pesan. Menguap dipertimbangkan sebagai gejala kebosanan dan mengantuk. Sehingga menguap dianggap sebagai salah satu bentuk komunikasi non verbal.

menguap 3

Mengapa Menguap Dapat Ditularkan?

Menguap merupakan refleks yang tidak mengikuti suatu pola tertentu. 

Sebagian besar orang setuju bahwa menguap mungkin saja ditularkan. Melihat orang lain menguap dapat membuat orang yang melihat juga menguap.

Ilmu pengetahuan mencoba mencari tahu mengapa hal ini terjadi. Beberapa teori diajukan terkait dengan hal tersebut termasuk:

  • Waktu sehari: Beberapa peneliti telah menyarankan bahwa waktu sehari atau kecerdasan orang-orang yang menangkap menguap menyebabkan  menguap menular, namun kebanyakan orang tidak memikirkan hal ini lagi.
  • Empati: salah satu teori yang paling umum mengapa menguap menular adalah tanda empati untuk orang lain. Melihat seseorang menguap dapat menyebabkan yang melihat juga menguap, khususnya jika mereka sangat dekat atau nyaman dengan orang tersebut.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada PLOS One menunjukkan video sekelompok simpanse menguap ketika simpanse lain menguap. Hasil ini menunjukkan bahwa simpanse akan menguap ketika melihat simpanse lainnya menguap. Hal ini mendukung ide bahwa empati terlibat dalam menularnya menguap.

Penelitian lainnya yang diterbitkan pada PLOS One  juga menemukan bahwa penularan pada manusia merupakan suatu respons individual. Terdapat korelasi sedikit antara inteligensi, waktu, dan empati. Faktor terbesar yang ditemukan adalah usia. Lansia lebih sering menguap dibandingkan kelompok usia lainnya.

Alasan yang pasti mengapa menguap menular belum dapat dijelaskan.

 

 

gula buatan

Pemanis Buatan: Teman Atau Musuh Untuk Diet

Peneliti dari Universitas Manitoba George dan Fay Yee Pusat Inovasi Pelayanan Kesehatan di Kanada menemukan bahwa pemanis buatan tanpa nutrisi berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas, peningkatan tekanan darah, diabetes, dan penyakit jantung.

pemanis buatan

Obesitas hingga saat ini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat. Obesitas dialamai 1 dari 3 orang dewasa di Amerika Serikat. Selain itu, obesitas juga menyebabkan peningkatan insiden diabetes mellitus tipe 2 dan penyakit kardiovaskular.

 

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula akan cenderung meningkatkan epidemi obesitas. Gula buatan (non-nutrive) seperti aspartame, stevioside, dan sukralose juga menunjukkan risiko peningkatan obesitas. Faktanya, lebih dari 30 persen penduduk Amerika Serikat menggunakan pemanis non nutrisi dan proporsi ini akan terus meningkat.

 

Bukti terbaru juga menunjukkan bahwa produk tersebut dapat menyebabkan efek samping pada proses metabolisme tubuh, bakteri saluran pencernaan, dan nafsu makan. Penelitian juga menunjukkan bahwa paparan kronik gula buatan dapat meningkatkan konsumsi makanan dan penambahan berat badan.

 

Academy of Nutrition and Dietetics menyatakan bahwa pemanis buatan dapat digunakan untuk mengatur berat badan dan gula darah dengan membantu membatasi asupan energi. Meskipun demikian, konsumsi produk tersebut berhubungan dengan peningkatan berat badan dan obesitas.

 

Penelitian yang dilakukan pada Universitas Manitoba bertujuan untuk menentukan apakah konsumsi pemanis buatan berhubungan dengan efek samping jangka panjang terhadap berat badan dan penyakit jantung. Penelitian ini dipublikasikan pada CMAJ.

 

Peneliti melakukan tinjauan sistematis terhadap 37 penelitian yang melibatkan lebih dari 400.000 individu selama kurang lebih 10 tahun. Dari seluruh penelitian tersebut, 7 penelitian merupakan uji klinis acak, yang mempertimbangkan standar baku emas untuk penelitian klinis. Uji klinis acak ini melibatkan sekitar 1.003 orang selama 6 bulan.

 

Pemanis Buatan Terkait dengan Peningkatan Berat Badan

gula buatanUji klinis acak dengan periode tindak lanjut jangka pendek menunjukkan bahwa asupan pemanis buatan tidak konsisten berhubungan dengan penurunan berat badan, indeks massa tubuh, dan lingkar pinggang. Pada penelitian observasional jangka panjang, temuan penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara konsumsi pemanis buatan dan peningkatan pada pengukuran berat badan, indeks massa tubuh, dan lingkar pinggang.

 

Peneliti juga melaporkan hubungan antara konsumsi pemanis buatan  dengan peningkatan risiko diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, stroke dan penyakit jantung.

 

“Meskipun fakta bahwa jutaan orang rutin mengkonsumsi pemanis buatan, yang sedikit pasien yang telah dilibatkan pada uji klinis terhadap produk ini. Penelitian kami menemukan data dari uji klinis tidak menunjukkan bukti yang jelas untuk mendukung keuntungan produk tersebut dengan manajemen berat badan.”– Dr. Ryan Zarychanski (Ketua Tim Peneliti)  

 

Selain itu, Dr. Azad salah seorang pimpinan peneliti juga menyatakan bahwa, kita harus lebih waspada untuk mengkonsumsi pemanis buatan hingga efek kesehatan jangka panjang dari konsumsi produk tersebut dapat dijelaskan secara nyata berdasarkan bukti penelitian. Dr. Azad juga menyatakan bahwa mengkonsumsi pemanis buatan pada ibu hamil dapat mempengaruhi berat badan lahir, metabolisme, dan bakteri saluran cerna bayi.

 

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah dengan peningkatan dan penyebaran konsumsi pemanis buatan, dan epidemik obesitas serta penyakit terkait lainnya, dibutuhkan penelitian lainnya untuk menentukan risiko jangka panjang dan keuntungan dari produk turunan gula tersebut.

 

Referensi:

Azad MB. Nonnutritive sweeteners and cardiometabolic health: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials and prospective cohort studies. CMAJ July 17, 2017 vol. 189 no. 28.

peminum kopi

Peminum Kopi Lebih Panjang Umur: Fakta atau Mitos?

Peminum kopi dapat hidup lebih panjang. Peryataan tersebut merupakan kesimpulan dari beberapa penelitian. Saat ini, peneliti percaya bahwa mereka dapat menemukan mekanisme yang menyebabkan hubungan antara konsumsi kopi dengan panjang umur.peminum kopi

Pada sebuah penelitian terbaru, peneliti mengungkapkan sebuah temuan terhadap proses inflamasi yang dapat mempercepat perkembangan penyakit jantung pada usia tua. Peneliti juga menemukan bahwa konsumsi kafein dapat melawan proses inflamasi ini.

David Furman, Ph.D peneliti utama dari Institute for Immunity, Transplantation and Infection pada Stanford University di California, beserta rekan-rekannya melaporkan temuan mereka tersebut pada jurnal Nature Medicine.

Kopi, teh, soda,  minuman berenergi, dan cokelat merupakan makanan dan minuman yang mengandung kafein dan paling sering dikonsumsi. Kafein sendiri merupakan senyawa yang telah diketahui memiliki kemampuan untuk menstimulasi otak.

Meskipun demikian, kafein lebih dari sekedar zat yang dapat memberikan dorongan semangat dan energi pada pagi hari. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi kopi membuat seseorang berumur lebih panjang. Salah satu penelitian yang diterbitkan pada tahun 2015 menemukan bawa peminum kopi (1-5 cangkir per hari) memiliki risiko semua penyebab kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan bukan peminum kopi.

Pada penelitian terbarunya, Furman dan rekan dengan fokus menyimpulkan bahwa konsumsi kafein meningkatkan harapan hidup dan kafein merupakan suatu senyawa anti inflamasi.

Penelitian tersebut dilakukan untuk mengindentifikasi proses-proses inflamasi yang dapat berkontribusi untuk status kesehatan yang buruk pada lansia.

Tim peneliti menganalisa data dari kohort Stanford-Ellison, termasuk satu kelompok orang dewasa yang sehat berusia antara 20 dan 30, dan satu kelompok orang dewasa yang sehat berusia 60 atau lebih tua.

Setelah menilai sampel darah masing-masing peserta, para peneliti mengidentifikasi dua kelompok gen yang teraktivasi lebih tinggi pada kelompok yang lebih tua. Mereka menemukan bahwa kelompok gen ini terkait dengan produksi IL-1β (sejenis protein inflamasi).

Penelitian ini mengkonfirmasi peran dua kelompok gen inflamasi dan kesehatan jantung, para peneliti menemukan bahwa mereka mampu meningkatkan aktivitas di salah satu kelompok gen dengan menginkubasi sel imun dengan dua metabolit asam nukleat yang dihasilkan oleh aktivitas radikal bebas. Hal ini menyebabkan peningkatan produksi IL-1β.

 

Peminum kopi dapat mencegah inflamasi yang dicetuskan oleh metabolisme asam nukleat

Analisis lanjutan dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa kafein pada kopi mencegah efek negatif dari metabolisme asam nukleus.

Ketika menilai asupan kafein subjek penelitian, peneliti menemukan bahwa darah pada kelompok subjek penelitian lansia, yang memiliki aktivitas kluster gen yang lebih rendah mengandung metabolit kafein seperti teofilin dan teobromin.

Ketika peneliti menginkubasi sel imun dengan metabolit kafein dan metabolit asam nukleat, peneliti menemukan bahwa metabolit kafein mencegah efek inflamasi yang disebabkan oleh metabolit asam nukleat.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa proses inflamasi yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia, tidak hanya menyebabkan penyakit kardiovaskular, tapi terjadi dalam bentuk proses molekuler yang mampu menjadi target pengobatan.

Sumber:

Furman D, Chang J, Lartigue L, Bolen CR, Haddad F, Gaudilliere B, Ganio EA, Fragiadakis GK, Spitzer MH, Douchet I, Daburon S. Expression of specific inflammasome gene modules stratifies older individuals into two extreme clinical and immunological states. Nature Medicine. 2017 Jan 16.

mengunyah makanan

Mengunyah Makanan Mencegah Terjadinya Infeksi

Saat kita kecil, tentu kita ingat bahwa guru akan memberitahukan untuk mengunyah makanan sebanyak 30 kali sebelum ditelan. Berdasarkan penelitian terbaru maka kita harus bijaksana untuk menerima nasehat tersebut. Peneliti menemukan bahwa mengunyah makanan memungkinkan pelepasan sel imun yang dapat melindungi kita dari infeksi.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada jurnal Immunity, menemukan bahwa mengunyah makanan (mastikasi) dapat menstimulasi pelepasan sel T helper 17 (Th17) di dalam mulut.

Th17 merupakan bagian dari sistem pertahanan imunitas adaptif, yang memberikan perlidungan terhadap antigen spesifik yang berasal dari patogen (kuman) berbahaya. Sebaliknya, Th17 tidak akan menyerang bakteri baik yang memberikan keuntungan untuk kita.

Dr. Joanne Konkel ketua tim peneliti dari Universitas Manchester, Inggris menyatakan bahwa di kulit dan saluran pencernaan, Th17 diproduksi melalui kehadiran bakteri baik.

Meskipun demikian, peneliti mencatat bahwa mekanisme produksi sel Th17 di mulut masih belum jelas.

Mengunyah Makanan Akan Menginduksi Respon Imun Protektif Pada Gusi

Dr. Konkel dan rekan menemukan bahwa terdapat gaya mekanis yang ditimbulkan dari proses mengunyah berperan dalam proses fisiologis abrasi dan kerusakan di mulut. Berdasarkan fakta ini, tim peneliti melakukan penyelidikan terhadap peran kerusakan tersebut dengan produksi sel Th17.

Penelitian ini dilakukan dengan cara memberikan tikus makanan dengan tekstur lunak (yang membutuhkan sedikit kunyahan), hingga tikus mencapai usia 24 minggu. Pada usia 24 minggu, dilakukan penilaian terhadap pelepasan sel Th17 pada mulut tikus.

Penurunan signifikan dari produksi Th17 ditemukan pada penelitian ini. Dimana tim peneliti beranggapan peristiwa tersebut terjadi karena penurunan  kerusakan fisiologi karena mastikasi.

Mengkonfirmasikan teori mereka, para peneliti menemukan bahwa peningkatan tingkat kerusakan fisiologis dalam mulut tikus ‘- dengan menggosok rongga mulut dengan aplikator kapas steril – menyebabkan peningkatan produksi sel Th17.

Dr. Konkel dan rekan percaya temuan ini menunjukkan bahwa mengunyah makanan dapat membantu untuk melindungi kita dari penyakit.

“Sistem imum melakukan tindakan penyeimbang yang luar biasa pada lokasi penghalang seperti kulit, mulut dan usus dengan melawan patogen berbahaya sementara menoleransi keberadaan bakteri baik yang normal.

Penelitian kami menunjukkan bahwa, tidak seperti organ penghalang lainnya, mulut memiliki cara yang berbeda untuk merangsang sel-sel Th17: tidak oleh bakteri tetapi dengan mastikasi. Oleh karena itu, mastikasi dapat menginduksi respon imun protektif di gusi kita. ”

-Dr. Joanne Konkel-

 

Sumber:

Dutzan, Nicolas et al. On-going Mechanical Damage from Mastication Drives Homeostatic Th17 Cell Responses at the Oral Barrier. Immunity , Volume 46 , Issue 1 , 133 – 147

komplikasi persalinan

Komplikasi Persalinan Pada Ibu Usia Tua

Semakin banyak wanita yang memutuskan menjadi ibu pada usia yang lebih tua, maka semakin banyak pula diantara mereka yang akan mengalami komplikasi persalinan. Hasil penelitian terbaru berikut dapat menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi.

komplikasi persalinan

sumber: http://www.womenfitness.net/wp/wp-content/uploads/2016/11/Complications-Pregnancy1.jpg

Fakta menunjukkan bahwa semakin banyak wanita yang memilih untuk menjadi ibu pada usia yang lebih tua (> 35 tahun). Laporan dari The Centers for Disease Control and Prevention (CDC) selama 4 dekade terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan untuk populasi ini. Wanita yang memilih untuk menjadi ibu pada usia 35 tahun atau lebih adalah 1,7 per 1.000 kelahiran pada tahun 1973 menjadi 11 per 1.000 kelahiran pada tahun 2012. Beberapa penelitian menemukan terdapat hubungan yang erat antara meningkatnya usia ibu pada saat persalinan dengan kejadian komplikasi kehamilan dan komplikasi persalinan.

Peningkatan usia maternal (ibu) juga merupakan salah satu faktor risiko yang sangat dipertimbangkan untuk persalinan dengan tindakan operasi sesar.

Para peneliti dari King College London (KCL) di Inggris telah menyelidiki perubahan fisiologis dalam tubuh ibu yang bisa menjelaskan komplikasi kehamilan  dan komplikasi persalinan terkait dengan kontraksi uterus.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Physiology ini, menggunakan model tikus untuk meneliti hubungan antara penuaan ibu dan struktur rahim.

Analisa fungsi uterus pada tikus hamil dan komplikasi persalinan

Para peneliti, yang dipimpin oleh Dr. Rachel M. Tribe, peneliti dalam bidang kesehatan wanita di KCL, menggunakan model tikus hamil untuk meniru penuaan ibu pada manusia. Biasanya, kesuburan puncak tikus betina pada usia 3-5 bulan, tikus betina yang berusia 8 bulan dianggap setara dengan ibu manusia berusia 35 tahun.

Tribe dan tim menganalisis fungsi fisiologis serviks dan otot uterus tikus hamil. Mereka melihat bagaimana kontraksi berlangsung, bagaimana rahim merespon oksitosin, dan jumlah mitokondria yang tersedia, serta jalur sinyal hormon progesteron.

Oksitosin adalah hormon yang diproduksi secara alami oleh tubuh kita. Di antara banyak fungsinya, oksitosin juga dilepaskan selama persalinan untuk memfasilitasi kontraksi uterus. Hormon ini juga dapat diberikan sebagai obat untuk menginduksi persalinan.

Mitokondria adalah bagian dari sel yang disebut pembangkit tenaga listrik sel. Mereka adalah bagian kecil di dalam sel dan bertanggung jawab untuk memproduksi energi. Dalam studi ini, peneliti memeriksa mitokondria untuk melihat berapa banyak energi yang mereka disediakan untuk kontraksi otot rahim.

Progesteron adalah hormon yang dikenal memainkan peran penting dalam kehamilan. Selain membantu rahim menebal dan bersiap-siap untuk implantasi embrio, progesteron juga memperkuat dinding panggul dalam persiapan untuk kontraksi. Hormon ini juga bertanggung jawab untuk mengurangi aktivitas uterus, sehingga menjaga rahim “tenang” sampai jangka waktu yang tepat untuk persalinan.

Usia Ibu Mempengaruhi Fungsi Uterus

Para peneliti menemukan perubahan dalam sinyal hormonal dan struktur otot bisa menjelaskan terjadinya penundaan persalinan.

Pada tikus yang lebih tua, kemampuan otot uterus dalam berkontraksi mengalami gangguan. Otot-otot juga kurang responsif terhadap oksitosin dan memiliki jumlah mitokondria yang lebih rendah.

Para peneliti juga menemukan perubahan dalam proses sinyal progesteron, yang mereka yakini menyebabkan keterlambatan dalam proses persalinan.

“Penelitian kami menyoroti bahwa terdapat perubahan fisiologis dan seluler kunci terkait dengan usia ibu yang mengakibatkan disfungsi persalinan. Waktu kelahiran dan kemajuan persalinan secara langsung berkaitan dengan usia ibu dan hal ini dapat menyebabkan komplikasi selama kelahiran.”-Dr.Rachel M. Tribe-

Dr. Rima Patel, seorang peneliti dari Divisi Kesehatan wanita di KCL dan rekan penulis lainnya, juga menjelaskan fokus hasil studi lainnya.

“Studi kami hanya menggunakan model tikus, penelitian lebih spesifik untuk mengukur hormon dan menganalisis jaringan rahim pada wanita hamil tua masih diperlukan. Studi seperti ini, terkait penuaan ibu sangat penting dilakukan karena memberikan informasi terkait strategi manajemen klinis pada masa depan bagi ibu tua serta untuk memastikan ibu tua bebas komplikasi persalinan saat melahirkan.”

 

Sumber:

Patel, R., Moffatt, J. D., Mourmoura, E., Demaison, L., Seed, P. T., Postson, L. and Tribe, R. M. (2016), Effect of reproductive ageing on pregnant mouse uterus and cervix. J Physiol. Accepted Author Manuscript.

Jantung adalah Panglima:”Bukti Ilmiah Jantung Mempengaruhi Kerja Otak Kita” (Bagian 2)

Hubungan Otak & Jantung

NERVUS SYSTEM

Secara fisiologis irama jantung sangat terkait dengan peranan dari sistem saraf manusia yaitu sistem saraf simpatis dan parasimpatis. Berarti ada beberapa bagian kerja dari jantung yang secara langsung dipengaruhi oleh kerja sistem saraf kita. Jika kita berbicara tentang otak atau sistem saraf maka sebagian besar akan sepakat jika kesadaran kita saat ini diatur oleh otak kita melalui sebuah sistem yang disebut sebagai Ascending reticular activating system (ARAS). Penelitian terbaru membuktikan bahwa kesadaran muncul dari dalam tubuh dan juga otak kita yang bekerja secara bersama-sama. Diikuti dengan semakin banyaknya bukti ilmiah bahwa jantung memainkan banyak perannya dalam proses ini.

Jauh lebih banyak dari fungsinya yang sederhana sebagai sebuah pompa, maka jantung saat ini diyakini oleh para ilmuwan sebagai sebuah organ yang sangat kompleks. Jantung bahkan diyakini memiliki “otak” fungsionalnya sendiri. Penelitian yang dilakukan dalam disiplin ilmu baru pada neurokardiologi menunjukkan bahwa jantung adalah salah satu organ sensorik dan pusat canggih dalam menerima dan mengolah informasi. Sistem saraf pada jantung (“Otak Jantung”) memungkinkan jantung untuk belajar, mengingat, dan mempengaruhi bagian korteks pada otak untuk membuat keputusan fungsional independen. Selain itu, percobaan lainnya juga membuktikan bahwa jantung secara terus menerus selain mendapatkan sinyal dari sistem saraf maka jantung juga mengirimkan sinyal ke otak. Sinyal yang dikirimkan oleh jantung tersebut akan mempengaruhi fungsi otak yang lebih tinggi terkait dengan persepsi, kognisi dan pengaturan emosianal seseorang.

galaksi2

Selain komunikasi melalui serabut saraf yang menghubungkan antara jantung, otak dan baigan tubuh lainnya jantung juga mengkomunikasikan informasi ke otak dan bagian tubuh yang lain melalui interaksi medan elektromagnetik. Jantung menghasilkan medan elektromagnetik berirama yang paling kuat dan paling luas bila dibandingkan dengan medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh otak, komponen medan listrik jantung memiliki amplitudo 60 kali lebih besar, dan dapat menembus setiap sel dalam tubuh. Komponen medan magnetik jantung 5000 kali lebih kuat dari medan magnetik otak dan dapat dideteksi beberapa meter jauhnya dari tubuh dengan magnetometer sensitif.

Penelitian yang dilakukan oleh McCraty, Bradley dan Tomasino dari Institut Heartmath menunjukkan bahwa jantung menghasilkan serangkaian pulsasi elektromagnetik secara terus-menurus dimana interval waktu antara setiap denyut bervariasi secara dinamis dan kompleks. Sehingga, jantung selalu memberikan pengaruh kuat pada proses yang terjadi pada seluruh tubuh. Penelitian mereka menunjukkan, bahwa ritme otak secara alami menyinkronkan aktivitas ritmik jantung. Perasaan cinta atau penghargaan, tekanan darah dan irama pernafasan, dan sistem osilasi lainnya, juga disinkronisasikan dengan ritme jantung. Sehingga mereka menarik kesimpulan bahwa medan elektromagnetik jantung bertindak sebagai gelombang pembawa informasi yang menyebabkan sinkronisasi global untuk seluruh tubuh.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa emosis positif yang berkelanjutan akan menimbulkan bentuk yang berbeda fungsi terhadap gelombang jantung. Dimana ketika perasaan seseorang sedang baik maka gelombang elektromagnetik jantung akan lebih terorganisir dan sejalan serta selalu membentuk irama sinus. Begitu pula sebaliknya ketika gelombang elektromagnetik jantung kacau maka perasaan seseorang akan menjadi tidak bahagia. Keadaan ini disebut sebagai Psikofisiologikal Koheren.

Percobaan yang dilakukan di Institute of HeartMath telah menemukan bukti yang luar biasa bahwa medan elektromagnetik jantung dapat mengirimkan kepada orang lain.

“Kami telah mampu mengukur pertukaran energi jantung antara individu hingga 5 meter. Kami juga telah menemukan bahwa gelombang otak seseorang sebenarnya dapat melakukan sinkronisasi ke jantung orang lain. Selanjutnya, ketika seorang individu menghasilkan irama jantung yang koheren, sinkronisasi antara gelombang otak orang itu dan detak jantung orang lain lebih mungkin terjadi.”

Temuan ini memiliki implikasi menarik, menunjukkan bahwa individu-individu dalam keadaan psikofisiologikal koheren menjadi lebih sadar akan informasi yang dikodekan dalam medan magnetik jantung orang di sekitar mereka. Para peneliti juga menyimpulkan bahwa sistem saraf bertindak sebagai “antena,” yang disetel untuk merespon dan medan elektromagnetik yang dihasilkan oleh jantung orang lain.

Wallahu A’lam Bishawaf….

 

Sumber.

  1. Al-Najjar AR. Buku Pintar Sains dalam Hadis: Mengerti Mukjizat Ilmiah Sabda Rasulullah. Jakarta: Zaman; 2013. h. 407-413.
  2. Thayyarah N. Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an: Mengerti Mukjizat Ilmiah Firman Allah. Jakarta: Zaman; 2013. h. 307-308.
  3. Loukas M, Saad Y, Tubbs RS, Shoja MM. The Heart and Cardiovascular System in The Qur’an and Hadeeth. Int Jour of Cardiol 2010;140. p. 19-23.
  4. McCraty R, Bradley RT, Tomasino D. Science of The Heart. Exploring the Role of the Heart in Human Performance: An Overview of Research Conducted by the Institute of HeartMath. HeartMath Research Center, Institute of HeartMath, Publication; 2012.

Jantung Adalah Panglima: “Bukti Ilmiah Jantung Mempengaruhi Kerja Otak Kita” (Bagian 1)

Rasulullah SAW bersabda, “Ingatlah bahwa dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik pulalah seluruh jasadnya; Jika ia rusak maka rusak pulalah seluruh jasadnya. Ketahuilah segumpal daging itu adalah qalb (Jantung)”. (H.R Al-Bukhari, Muslim, Ibn Majah, Ahmad, Al-Darimi).”

 

heart 3

Secara anatomi, jantung merupakan organ tubuh yang teletak pada bagian kiri rongga dada. Ukurannya tidak lebih dari sebesar kepalan tangan orang dewasa dan beratnya tidak lebih dari 3 kg. Jantung berdenyut sekitar 60-100 permenit atau sekitar 100 ribu denyutan perhari dengan memompa sekitar 5 liter darah dalam satu menit. Jadi, dalam sehari, jantung memompa sekitar 7.200 liter darah melalui pembuluh darah (arteri & vena), dan kapiler-kapiler pembuluh darah yang panjangnya mencapai ribuan km agar darah sampai ke seluruh menghantarkan nutrisi, dan bahan bakar berupa oksigen serta membuang zat sisa melalui sistem organ lainnya.

Jantung tidak pernah lalai ataupun lupa, tidak jengah dan lengah, serta tidak bosan dan mengeluh menjalankan fungsinya dari saat kita lahir hingga menemui ajal. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, proses sirkulasi darah akan berjalan dengan lancar apabila jantung dapat bekerja dengan baik. Jika jantung rusak, sirkulasi darah akan kacau sehingga nutrisi dan oksigen tidak akan bisa dihasilkan ke seluruh sel tubuh. Akibatnya, seluruh organ tubuh menjadi lemah hingga akhirnya rusak. Hal tersebut di atas telah dibuktikan oleh riset ilmiah kedokteran yang membuktikan bahwa jika jantung sehat maka seluruh tubuh akan sehat dan apa bila jantung sakit maka seluruh tubuh akan sakit. Fenomena yang sangat ilmiah ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW melalui hadist di atas bahkan jauh sebelum metode penelitian ilmiah itu sendiri muncul.

Sementara, jika kita melihatnya dari kajian mental spiritual, hadist di atas tidak berbicara tentang fungsi jantung (qalb) sebagai panglima yang mengatur proses sirkulasi dan metabolisme tubuh. Qalb yang dimaksud dalam Al-qur’an, Hadits dan sebagian besar ulama bukan lah qalb sebagai organ tubuh melainkan suatu fungsi yang berhubungan dengan emosi, konsep, gagasan, keyakinan, etika, dan interaksi sosial. Sebagian ulama, diantaranya Al-Ghazali berpendapat bahwa kata qalb dalam hadist di atas harus dimaknai secara maknawi, yaitu “hati”. Ia memiliki keterkaitan dengan jantung. Dalam pengertian ini, menurutnya, qalb mempresentasikan hakikat manusia yang sebenarnya. Qalb adalah eksistensi dalam tubuh manusia yang bisa mengetahui, memahami, menerima, dan memproses segala macam pesan, kritik, celaan, maupun tuntutan. Jika semua aspek di atas baik maka baik pula seluruh tingkah lakunya!

Secara ilmiah kita semua pasti sepakat bahwa ada satu organ dalam tubuh kita yang berperan dalam pengatuaran emosi, konsep, gagasan, keyakinan, etika, hingga tingkah laku. Organ itu adalah Otak kita yang terdiri dari bermilyar-milyar sel otak. Jadi akan muncul pertentangan di sini apakah qalb itu otak atau jantung atau “hati”. Sebagian orang juga berbeda pendapat tentang hal ini.

Lanjut ke bagian 2 !!!