Reaksi Transfusi Darah: Apa yang perlu diketahui?

Reaksi TransfusiTransfusi darah adalah prosedur yang menyelamatkan nyawa, khususnya pada kondisi gawat darurat. Transfusi juga dapat dilakukan dengan segera dan aman serta telah terbukti memberikan pemulihan pasien yang lebih cepat. Akan tetapi, setiap kantung darah yang diberikan kepada pasien memiliki risiko memberikan reaksi Transfusi.

Praktik kedokteran saat ini menggunakan banyak produk darah seperti whole blood, packed red cell, trombosit, dan fresh frozen plasma, keseluruhan secara spesifik digunakan sesuai dengan indikasi dan kebutuhan pasien.

 

Setiap kantung darah yang ditransfusikan, apapun jenisnya, memiliki risiko mengalami reaksi terkait dengan Transfusi. Risiko ini dapat bersifat ringan atau bahkan hingga mengancam jiwa. Setiap klinisi harus mengingat risiko ini setiap kali melakukan prosedur Transfusi kepada pasien.

Transfusi darah telah berkembang menjadi cabang spepesialisasi tersendiri dalam dunia kedokteran. Tantangan yang dihadapi bukan hanya sekedar memutuskan kapan harus melakukan Transfusi darah tapi juga berapa banyak darah yang harus diberikan hingga kapan Transfusi darah harus dihentikan.

 

Patofisiologi Reaksi Transfusi Darah

Komplikasi yang terkait dengan Transfusi darah dapat berupa: reaksi Transfusi, komplikasi non imunologi, dan transmisi penyakit infeksi.

Komplikasi non imunologis dapat berupa:

  • Hipotermia (Transfusi cepat komponen darah beku atau dingin)
  • Hiperkalemia (leakage yang berasal dari sel eritrosit yang tersimpan)
  • Hipokalsemia (penggunaan sitrat untuk menyimpan produk darah dapat mengikat kalsium dalam plasma)
  • Koagulopati (terjadi karena kalsium berikatan dengan sitrat, jalur koagualsi tidak dapat berjalan)
  • Haemosiderosis (terjadi sebagai akibat overload zat besi dari sel darah merah yang diTransfusikan, kelebihan zat besi yang tersimpan pada organ penting. Biasanya muncul pada pasien yang menerima Transfusi darah berulang)

Transfusi darah juga dapat menjadi rute penyebaran berbagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen. Infeksi yang berisiko ditransmisikan melalui Transfusi darah antara lain:

  • Malaria
  • Penyakit Chagas
  • Babesiosis
  • Hepatitis B dan C
  • HIV
  • Infeksi bakteri, pada umumnya disebabkan oleh bakteri Gram negatif seperti Escherichia, Yersinia, Pseudomonas, dan lain-lain
  • Parvovirus B19
  • Virus West Nile
  • Cytomegalovirus

 

Reaksi Transfusi darah terjadi karena salah satu dari dua mekanisme yang mungkin menyebabkan reaksi imun atau reaksi non imun. Reaksi imun membutuhkan interaksi antara antigen dan antibodi. Reaksi non imun membutuhkan pencetuh dari karakteristik psikokimia pada darah donor atau resipien (penerima).

 

Reaksi Transfusi juga dapat diklasifikasikan sebagai reaksi:

  • Hemolitik
  • Alergik
  • Dan reaksi lainnya

Dasar dari seluruh jenis reaksi Transfusi, baik onset akut atau onset lambat, disebabkan oleh respons sistem imun donor dan resipien. Reaksi hemolitik dapat terjadi karena golongan darah yang tidak sesuai. Sementara presensitisasi atau atopi dapat menyebabkan reaksi Transfusi alergik.

Beberapa kelompok pasien cenderung lebih sering mengalami reaksi Transfusi antara lain adalah:

  • Wanita hamil
  • Wanita multipara
  • Pasien yang sering menerima Transfusi darah seperti pada pasien gagal ginjal atau anemia hemolitik berat

 

Presentasi Klinis Reaksi Transfusi Darah

  • Reaksi Transfusi hemolitik dapat bersifat akut atau segera (dalam 24 jam) atau tertunda (lambat) lebih dari 24 jam dalam 3-10 hari. Antibodi yang tereksitasi pada darah penerima melawan antigen sel darah merah pendonor merupakan penyebab utama. Paling sering terjadi karena ketidaksesuaian golongan ABO atau pada wanita multipara yang sebelumnya telah mengalami eksitasi sebelumnya. Presentasi klnis dapat dramatik dan meliputi demam disertai menggigil, pingsan, dada menyesak, nyeri dada atau abdomen, takikardia, takipneua, hipotensi, oliguria, dan/atau hematuria. Akan tetapi, insiden reaksi ini sudah sangat jarang ditemukan pada masa kini.
  • Reaksi Transfusi alergik memiliki rentang dari urtikaria ringan hingga edema laring fatal atau bahkan syok anafilaktik. Pembentukan antibodi sebelumnya pada darah penerima pada berbagai protein plasma darah pendonor atau muncunya anti-IgA pada darah penerima akan mencetuskan reaksi ini. Namun, reaksi ini juga jarang terjadi.
  • Reaksi Transfusi lainnya adalah jenis reaksi febril non hemolitik (febrile non haemolytic reaction) yang terjadi karena penerima merespon antigen sel darah putih pendonor. Reaksi ini sangat sering ditemukan dan pada umumnya bersifat ringan.

 

Manifestasi Klinis Khusus

Terdapat dua kondisi unik yang berhubungan dengan raksi Transfusi darah yaitu:pasien ditransfusi

  1. Purpura pascaTransfusi (PTP) merupakan trombositopenia signifikan yang terjadi sekitar 7-10 hari pasca pemberian konsentrat trombosit. Kondisi ini sangat jarang, sering ditemukan pada wanita multipara atau pasien yang telah mendapatkan beberapa Transfusi sebelumnya. Kondisi ini terjadi karena diproduksinya antibodi yang melaawan antigen permukaan trombosit yang disebut sebagai HPA-1a.
  2. Transfusion-related acute lung injury ( TRALI ) merupakan edema pulmoner non kardiogenik akut/segera, kondisi ini terjadi karena neurofil terperangkap pada sirkulasi pulmoner. Lagi-lagi lebih sering terjadi pada wanita multipara dengan antibodi anti-HLA yang banyak (imun TRALI). Non imun TRALI dapat terjadi ketika ditemukan ketiadaan antibodi plasma donor, tapi terdapat respons terhadap berbagai produk lipid reaktif pada membran sel donor. Kondisi ini juga jarang ditemukan dan biasanya sembuh dengan sendirinya (self-limiting).

 

Tatalaksana dan Pencegahan Reaksi Transfusi Darah

  • Reaksi Transfusi hemolitik harus ditatalaksana secara agresif. Transfusi harus segera dihentikan. Antipiretik, diuresis dengan NaCl 0,9% disertai loop diuretik, dan monitorik tanda-tanda vital adalah hal penting yang harus dilakukan. Urine output yang adekuat (80-100 cc/jam) merupakan tanda prognostik yang baik. Pencegahan reaksi ini belum ditemukan. Akan tetapi, uji silang yang baik dan penandaan produk darah dari bank darah serta produk darah diberikan pada peneima yang paling tepat merupakan langkah yang paling efektif untuk mencegah reaksi Transfusi. Perlu juga mengkonfirmasi klinis terhadap jumlah dan jenis produk darah yang akan diberikan.
  • Reaksi alergik dapat dicegah dan ditatalaksana dengan pemberian antihistamin berupa dipenhidramin baik oral atau parenteral. Pada kondisi yang serius, dapat diberikan adrenalin subkutan 0,1-0,5 mg dan/atau deksametason parenteral.
  • Reaksi demam tipe non hemolitik dapat dengan mudah ditatalaksana dengan pemberian antipiretik
  • Purpura pasca Transfusi harus ditatalaksana dengan pemberian imunoglobulin intravena atau plasmafaresis. Transfusi trombosit sebaliknya dihindari pada kondisi ini karena dapat menyebabkan perburukan
  • TRALI dapat ditatalaksana dengan pemberian ventilator untuk mendukung pernapasan dengan pengukuran parameter pernapasan dan biasanya akan sembuh dalam waktu tertentu.

 

Wallahu A’lam Bishawab

 

Daftar Pustaka

  1. Galel SA, et al. Transfusion medicine. In: Greer JP, editor. Wintrobe’s clinical hematology, vol. 1. 12th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2009. Part III, Chapter 23.
  2. Longo DL, et al. Harrison’s principles of internal medicine, vol. 1. 18th ed. New York: The Mc-Graw Hill Companies; 2012. Chapter 113, Transfusion biology and therapy.
  3. Popovsky M, Chaplin Jr H, Moore SB. Transfusion-related acute lung injury: a neglected, serious complication of hemotherapy. Transfusion. 1992;32(6):589–92.
  4. Butch SH, Davenport RD, Cooling L. Blood transfusion policies and standard practices. 2004. http://www.pathology.med.umich.edu/bloodbank/manual/bb_pref/index.html . Last accessed on 26 Mar 2015.
  5. Choat JD, Maitta RW, Tormey CA, et al. Chapter 120. Transfusion reactions to blood and cell therapy products. In: Hoffman R, Benz Jr EJ, Silberstein LE, Heslop HE, Weitz JI, editors. Hematology: basic principles and practice. 6th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2012.
  6. Goodnough L. Chapter 180. Transfusion medicine. In: Goldman L, Schafer AI, editors. Goldman’s Cecil medicine. 24th ed. Philadelphia: Saunders Elsevier; 2011.
film kedokteran

Film Bertema Kedokteran Terbaik

Sebagai seorang mahasiswa kedokteran, banyak sekali kegiatan yang harus dilakukan. Capek! Pasti!, Jadi terkadang untuk mengistirahatkan sejenak otak dan juga tubuh dari rutinitas yang begitu padat ada baiknya dilakukan dengan cra menonton film yang dapat memotivasi diri kembali menjalani rutinitas yang sibuk itu. Nah, film-film bertema kedokteran dapat menjadi salah satu pembangkit motivasi dan semangat..

1. Patch Adams

film

Film drama komedi produksi tahun 1998 ini berdasarkan kisah nyata tentang Dr. Hunter “Patch” Adams” yang terkenal dengan metode penyembuhannya yang tidak lazim dan melawan tradisi kedokteran modern. Kisahnya dimulai dengan Hunter Adams (Robin Williams) yang depresi lantaran ditinggal pacarnya namun secara sukarela masuk ke rumah sakit jiwa lantaran ingin sembuh.

Ketika dirawat di rumah sakit jiwa, Hunter mulai menemukan jalan hidupnya. Di sana ia menikmati bisa menolong pasien lain lantaran melihat dokter dan staf bersikap kaku pada para pasien. Ia menolong para pasien dengan humor dan tawa. Sejak itu Hunter yang kemudian lebih dikenal dengan julukan Patch bertekad menjadi dokter agar bisa membantu banyak orang.

Namun di sekolah kedokteran, Patch melihat metode pengobatan yang diajarkan sangat kaku karena hanya melihat sisi badaniah dan mengabaikan sisi rohaniah. Patchmenganggap pengobatan harusnya mencakup dua sisi tersebut serta melihat humor adalah obat terbaik untuk kesehatan. Metode yang digunakannya sangat ditentang para dokter dan profesor sekolah kedokteran yang tidak suka metode mereka dipertanyakan.

Tetap saja Patch maju terus, tidak peduli kecaman atau gugatan dari kolega di dunia medis. Setelah lulus kedokteran, Patch kemudian mendirikan klinik sendiri yang bernama Gesundheit Clinic agar lebih leluasa menggunakan metodenya dan juga ingin membantu banyak pasien miskin yang tidak terjangkau sistem kesehatan Amerika yang mahal dan elitis. Namun lantaran Patch berpraktek tanpa izin praktek, ia lalu diajukan ke dewan kehormatan kedokteran, Medical Review Board.

2. Gifted Hands

Gifted-hands-movie

Menceritakan kisah hidup Dokter Ben Carson seorang ahli bedah saraf(neurosurgion). film ini diangkat dari buku autobiografi Benjamin Carson, MD. Film ini memiliki alur yang menarik, detil-detil berbau dunia medis mulai dari istilah-istilah medis, instrumen bedah, antomi kepala, sampai suasana ruang operasi dan rumah sakit yang begitu nyata dan hidup.

Motivasi, dan perjuangannya untuk melakukan perubahan hingga menjadi dokter bedah saraf terbaik.  Melalui tangannya operasi pemisahan bayi kembar siam pada bagian kepala (berbagi otak)pertama di dunia berhasil dilakukan.

 

 

3. The Doctor

Doctor

Film ini dirilis pada tahun 1991. Dalm film ini tokoh utamanya William Hurt berperan sebagai seorang dokter ahli bedah jantung dari California yang bertangan dingin serta minim ekspresi saat berhadapan dengan pasien bahkan dengan  keluarganya sendiri. Dia mengobati pasien-pasiennya sebagai angka, bukan sebagai manusia seutuhnya. Hingga akhirnya, tiba-tiba Hurt didiagnosa menderita kanker tenggorokan. Yang mengharuskan dia harus tunduk seutuhnya terhadap birokasi medis yang harus dia hadapi dan juga merasakan sikap rekan-rekannya yang tidak berperasaan kepadanya. Film ini didasarkan pada memoar kehidupan nyata dokter bedah Ed Rosenbaum, yang berjudul “A Taste of My Own Medicine”.

 

4. Awakenings

awakenings

Diangkat berdasarkan memoar seorang dokter spesialis saraf berkebangsaan Inggris tahun 1973, Oliver Sack. Film yang di sutradarai oleh Pinney Marhsall ini menjadi salah satu nominasi oscar pada tahun 1990.  Robin Williams berperan sebagai seorang Amerika, bernama Malcom Sayer. Pada Tahun 1969, dia menemukan kegunaan obat L-Dopa dan memberikan obat tersebut kepada pasien-pasien dengan Katatonik, yang merupakan korban epidemi enchepalitis pada dekade sebelumnya. Robert De Niro berperan sebagai Leonard Lowe, yang tidak pernah berkomunikasi dengan orang lain sejak dia kecil dan kemudian tersembuhkan dari katatonianya. Film ini menjadi menarik karena didalamnya terdapat penggambaran yang jelas dan menyenangkan tentang bagaimana uji klinis dilakukan.

 

5.Something The Lord Made

download (1)Film HBO pada tahun 2004 ini menceritakan tentang orang-orang yang merintis operasi jantung modern. Film ini berlatarkan daerah Nashville dan Baltimore pada tahun 1930, menceritakan tentang seorang tukang kayu afrika-amerika Vivien Thomas (Mos Def) dan temannya yang mudah menguap seorang dokter berkulit putih,  Alfred Blalock (Alan Rickman). Alfred adalah dokter bedah kepala pada Universitas John Hopkins. Melawan rasisme yang berlangsung sepanjang waktu, ketika rumah sakit di Amerika masih terpisahkan antara kulit hitam dan kulit putih. Kedua orang ini berkerjasama untuk menyelamatkan seorang bayi yang menderita penyakit jantung bawaan dan memberikan sumbangan yang luar biasa untuk kemajuan baru di bidang bedah jantung.

Ketika Membaca Lalu Menulis Jauh Lebih Baik

Ketika membaca dan menulis lebih baik

Hari ini 1 Maret 2014 adalah “The Date” bagi saya…

Ya, Saya adalah seorang “Reader” yang tergabung dalam program  #OneMonthOneBook, Klub #2. Bagi yang penasaran apa itu #OneMonthOneBook, silakan saja dikunjungi linknya.

Nah, untuk buku pertama saya di  #OneMonthOneBook ini adalah sebuah novel karangan Khrisna Pabichara yang berjudul “Surat Dahlan”. Tidak ada alasan khusus sebenarnya saya memilih novel yang menceritakan kehidupan seorang Dahlan Iskan ini menjadi buku pertama saya. Tapi, lebih karena buku itulah yang berada diantrian terdepan buku saya yang belum terbaca saat “Komin Reader” Klub#2 menanyakan tentang “The Date” dan judul buku yang harus saya selesaikan membacanya dalam waktu satu bulan.

Untuk membaca bukunya sendiri menurut saya tidaklah sulit karena merupakan sebuah novel bukan buku ilmiah yang biasanya menjadi teman tidur saya… Tapi untuk kewajiban menulis ini yang sebenarnya agak berat karena jujur belum pernah nulis apa-apa di blog ini selain hal yang terkait dengan bidang ilmu yang saya geluti saat ini. Ya sudahlah… Dari pada saya terlalu panjang Curcolnya sebaiknya langsung saja deh saya tulis pendapat saya setelah membaca buku pertama saya di  #OneMonthOneBook.

________________________________________________________________________________

surat dahlanBuku setebal 376 halaman ini adalah buku kedua dari trilogi Dahlan yang menceritakan kisah kehidupan seorang Dahlan Iskan. Khrisna Pabichara sabagai penulisnya menceritakan semua konflik, dilema, derita, kebahagian dan juga cinta sosok utama novel ini secara gamblang dan dibungkus menjadi sebuah kisah seru nan mengharukan yang sangat menarik dibaca. Di Novel Kedua ini, Diceritakan tentang kehidupan seorang Dahlan yang pergi merantau ke tanah borneo untuk melanjutkan pendidikannya. Pada awalnya ceritanya berfokus pada surat-surat yang diterima Dahlan yang pada saat itu sedang menjalin komunikasi dengan kekasihnya di seberang lautan (kalau bahasa keren sekarang LDR).

Kehidupan yang berat dirantau, dan dosen-dosen yang anti kritik akhirnya membuat Dahlan memutuskan untuk berhenti dari kuliahnya dan kemudian menjadikan Dahlan Muda sebagai seorang mahasiswa organisatoris sejati yang pada akhirnya membuatnya terseret dalam Peristiwa Malapetaka Januari, dimana ia dan teman-temannya dianggap memberontak melawan pemerintah yang pada saat itu diwakili para tentara.. Saya sepakat dengan Sinopsis yang ditulis di website Mizan Publishing ini adalah bagian yang paling menengangkan dalam cerita di novel ini.

“Makian dan bentakan para tentara terdengar membelah malam.

Dadaku mulai sesak. Kakiku panas. Tubuhku memberat.

Sebab menoleh sambil berlari, aku tergelincir.

Tubuhku meluncur deras ke arah jurang.

Lenganku menabrak akar pohon. Lalu, segalanya jadi gelap.”

Kemudian Dahlan menjadi buronan yang paling dicari oleh tentara, hingga akhirnya diakhir pelariannya dia harus menerima kenyataan pahit bahwa cinta yang diseberang lautan sana bukanlah cinta yang sejati yang ditakdirkan untuknya. Tapi akhirnya Dahlan Muda menemukan 2 cinta sejatinya yaitu Gadis dari Lowa kulu, dimana dia akhirnya sadar kalau pepatah jawa “witing tresno, jalaran soko kulino (cinta tumbuh karena terbiasa bersama)” itu benar terjadi dalam kehidupannya. Dan cintanya yang satu lagi adalah kecintaannya akan dunia kuli tinta dan membawanya menjadi bagian penting perkembangan sebuah surat kabar besar di Indonesia. Dimana akhirnya hal itu pulalah yang membawa dia menemui Bapaknya yang telah lama ditinggalkan dikampung halamannya…

Kalau Penasaran akan kisah lengkapnya Ya Silakan dibaca Novelnya… Saya sendiri penasaran dan akan menunggu keluarnya novel yang ketiga…  Dan satu hal yang saya yakini selama ini adalah membaca adalah suatu kewajiban bagi setiap orang maka dengan menulis engkau akan merasakan hal yang lebih menyenangkan dan dapat berbagi banyak hal dengan orang lain. Jadi “Membaca adalah kewajiban, Menulis maka engkau akan lebih Baik” …Terimakasih…..

ditemani segelas Kopi, Lamdingin, 1 Maret 2014.