Artikel Kedokteran Dan Kesehatan Terbaru

Featured Image Benjolan di Leher

Benjolan di Leher: Algoritma Klinis

Benjolan di leher dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Mulai dari infeksi hingga kondisi tumor jinak atau bahkan keganasan.

benjolan di leher
Nyeri Pada Leher (Sumber: pixabay.com)

 

Artikel ini akan memberikan gambaran bagaimana algoritma klinis terkait dengan gejala benjolan di leher.

 

Pendekatan Algoritma Benjolan di Leher

algoritma klinis benjolan di leher
Algoritma Klinis Benjolan di Leher (Sumber: whitecoathunter.com)

 

Download Algoritma Klinis Benjolan di Leher melalui link berikut ini.

Algoritma Klinis Benjolan di Leher (62 downloads)

 

Algoritma Benjolan di Leher A

Anamnesis dan pemeriksaan fisik menyeluruh tetap menjadi andalan evaluasi awal benjolan di leher.

 

Gejala “red flag” utama meliputi:

  1. benjolan bertambah besar dengan cepat,
  2. disfagia,
  3. penurunan berat badan,
  4. otalgia,
  5. telinga terasa penuh,
  6. gangguan pendengaran,
  7. hemoptisis,
  8. epistaksis,
  9. parestesia, dan
  10. dispnea

 

Sembilan puluh persen massa leher anak adalah lesi jinak, terkait dengan respons inflamasi atau anomali kongenital.

 

Bila bukan benjolan di leher karena pembesaran tiroid, 80% dari benjolan di leher pada orang dewasa adalah “GANAS”.

 

Tanda dan gejala infeksi termasuk gejala:

  • demam,
  • menggigil,
  • meriang,
  • eritema,
  • nyeri tekan pada benjolan, atau
  • benjolan terasa hangat

 

Bila tanda dan gejala infeksi ini muncul maka harus segera diobati dengan pemberian antibiotik dan evaluasi ulang.

 

Algoritma B

Pemeriksaan kepala dan leher yang terperinci sangat penting.

 

Mobilitas, nyeri tekan, lokasi benjolan pada leher, kekencangan, fluktuasi, eritema, dan bruit terpalpasi adalah beberapa tanda yang harus diperhatikan.

 

Saluran aerodigestif harus dievaluasi melalui palpasi dan visualisasi dari dasar mulut, lidah, langit-langit, amandel, pangkal lidah, mukosa bukal, nasofaring, orofaring, laring, dan rongga hidung.

 

Algoritma C

Computed tomography (CT) adalah modalitas pencitraan yang paling sering digunakan.

 

Untuk menghindari radiasi pengion, ultrasonografi mungkin awalnya berguna dalam populasi anak karena mereka memiliki kemungkinan lebih tinggi dari proses inflamasi, infeksi, atau penyakit bawaan.

 

Ultrasonografi (USG) juga harus dipertimbangkan untuk massa tiroid, karena penggunaan CT dengan kontras yodium dapat menunda potensi perawatan radioiodine.

 

MRI berguna dalam menggambarkan anatomi jaringan lunak, terutama jika dicurigai adanya penyakit perineural.

 

CTA atau MRA dapat dipertimbangkan jika ada kecurigaan untuk lesi vaskular.

 

Algoritma D

Aspirasi jarum halus (Fine Needle Aspiration) atau biopsi jarum inti (Core Needle Biopsy) dapat dilakukan.

 

Jika tindakan ini belum mampu memastikan diagnosis, biopsi eksisi dapat dilakukan.

 

Namun, ahli bedah harus menyadari risiko penyebaran tumor.

 

 

Algoritma E

Jika lesi ditemukan menular, terapi konservatif dengan pengobatan antibiotik dan steroid yang mungkin dapat diberikan sementara lesi kongenital harus menjalani pengamatan dengan penilaian ulang untuk eksisi bedah.

 

Lesi neoplastik harus dirujuk ke ahli bedah onkologi kepala dan leher untuk pemeriksaan lebih lanjut untuk staging dan manajemen yang tepat.

 

Referensi
  1. Shokri T., Siddique L., Goyal N. (2019) Evaluation of Neck Mass. In: Docimo Jr. S., Pauli E. (eds) Clinical Algorithms in General Surgery. Springer, Cham
  2. Goff CJ, Allred C, Glade RS. Current management of congenital branchial cleft cysts, sinuses and fistulae. Curr Opin Otolaryngol Head Neck Surg. 2012;20:533–9.
  3. Tracy TF, Muratore CS. Management of common head and neck masses. Semin Pediatr Surg. 2007;16:3–13.
  4. Chen AY, Otto KJ. Differential diagnosis of neck masses. In: Flint PW, Haughey BH, Lund VJ, editors. Cummings otolaryngology: head and neck surgery. 5th ed. Philadelphia: Elsevier; 2010.
  5. Kadom N, Lee EY. Neck masses in children: current imaging guidelines and imaging findings. Semin Roentgenol. 2012;47:7–20.
  6. Layfield L. Fine-needle aspiration in the diagnosis of head and neck lesions: a review and discussion of problems in differential diagnosis. Diagn Cytopathol. 2007;35:798–805.
Featured Image Henti Jantung

Henti Jantung: Apa Yang Harus Anda Tahu?

Henti jantung atau cardiac arresst adalah suatu kondisi dimana jantung tiba-tiba berhenti berdetak. Kondisi ini pada umumnya terjadi karena masalah dengan sistem kelistrikan jantung.

Penyakit Jantung Koroner Sebagai Penyebab Henti Jantung
Penyakit Jantung Koroner Sebagai Penyebab Henti Jantung | Sumber: NIH: National Heart, Lung and Blood Institute [Public domain], via Wikimedia Commons
Ketika henti jantung terjadi, pertolongan medis darurat perlu segera disediakan. Jika tidak, orang tersebut dapat dengan cepat meninggal karena darah tidak dipompa ke seluruh tubuh.

 

Henti jantung tidak sama dengan serangan jantung.

 

Ketika seseorang mengalami serangan jantung, aliran darah ke jantung terganggu. Kondisi serangan jantung mungkin karena masalah dengan arteri koroner, seperti penumpukan plak, gumpalan darah, atau penebalan dinding arteri.

 

Anda dapat membaca lebih lengkap tentang serangan jantung pada artikel berikut ini:

Serangan Jantung: Edukasi Pasien

 

Penyebab Henti Jantung

Sumbatan pembuluh darah pada serangan jantung
Sumbatan pembuluh darah pada serangan jantung

Henti jantung dapat disebabkan oleh:

  • Irama jantung yang cepat dan tidak teratur, mencegah terjadinya proses sirkulasi darah (penyebab paling umum henti jantung mendadak) – fibrilasi ventrikel
  • Irama jantung yang cepat tetapi teratur yang jika berkelanjutan dapat berubah menjadi fibrilasi ventrikel— takikardia ventrikel
  • Detak jantung yang lambat secara dramatis karena kegagalan alat pacu jantung atau blok jantung yang parah (gangguan pada konduksi listrik jantung)
  • Henti pernapasan
  • Tersedak atau tenggelam
  • Sengatan listrik
  • Hipotermia
  • Tiba-tiba kehilangan tekanan darah
  • Komplikasi dari gangguan makan
  • Penyebab tidak dikenal

 

Faktor Risiko Henti Jantung

Faktor risiko adalah hal-hal yang menyebabkan seseorang lebih mungkin mengalami suatu kondisi atau penyakit.

 

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung meliputi:

  • Penyakit jantung koroner
  • Serangan jantung
  • Kardiomiopati
  • Jantung membesar (kardiomiopati)
  • Penyakit jantung bawaan
  • Katup jantung yang tidak berfungsi dengan baik
  • Kondisi yang mempengaruhi sistem kelistrikan jantung
  • Ketidakseimbangan metabolisme yang parah
  • Efek samping obat seperti dari obat untuk mengobati irama jantung abnormal
  • Kondisi paru-paru
  • Trauma ke dada
  • Kehilangan darah yang ekstensif (cukup banyak)
  • Mengalami gangguan makan
  • Beban kerja jantung yang berlebihan pada orang dengan gangguan jantung
  • Obat-obatan terlarang seperti penggunaan kokain

 

Gejala

Gejalanya meliputi:

 

  • Hilang kesadaran
  • Tidak bernafas
  • Tidak ada denyut nadi

 

Sebelum henti jantung, beberapa orang melaporkan gejala atau tanda peringatan berikut pada minggu-minggu sebelum kejadian:

  • Mengalami nyeri dada
  • Merasa lemah
  • Memiliki sensasi berdebar di dada
  • Merasa lemas

 

Diagnosis

Orang pertama yang melihat seseorang yang tiba-tiba jatuh atau pingsan dengan kecurigaan henti jantung harus memeriksa apakah orang tersebut responsif (sadar atau merespons terhadap panggilan).

 

Jika orang itu tidak merespons, segera hubungi layanan medis darurat atau minta orang lain yang mencari bantuan/menelepon.

 

Jika ada defibrillator eksternal otomatis (AED) yang tersedia, Anda atau orang lain harus mendapatkannya dan ikuti langkah-langkah pada mesin.

 

Setelah memanggil layanan medis darurat, Resusitasi Jantung Paru (RJP) akan dimulai jika orang tersebut tidak bernapas secara normal.

 

Jika tidak ada AED tersedia atau saat Anda menunggu, mulai lakukan RJP dengan memberikan kompresi dada.

 

Tekan dada (pompa jantung) setidaknya dengan kedalaman dua inci dan kecepatan cepat setidaknya 100 kompresi per menit.

 

Jika Anda terlatih dalam RJP, setelah 30 kali kompresi, buka jalan napas orang tersebut dan berikan dua napas.

 

Kemudian, lanjutkan dengan kompresi dada. Jika Anda merasa lebih nyaman, Anda bisa memberikan pompa jantung luar tanpa napas sampai ambulans tiba.

 

Untuk lebih jelasnya terkait proses RJP Anda dapat melihat video dibawah ini.

 

Tatalaksana Henti Jantung

AED Pada Henti Jantung
AED Pada Henti Jantung | Sumber: Puradigm [CC BY-SA 4.0], via Wikimedia Commons
Perawatan segera meningkatkan peluang untuk bertahan hidup. 4 langkah dalam rantai bantuan hidup jantung adalah:

 

Panggilan untuk Layanan Medis Darurat (Mencari Pertolongan)

Segera hubungi layanan medis darurat, terutama jika Anda melihat tanda-tanda henti jantung (tidak respon, tidak bernapas, tidak ada nadi) atau dugaan serangan jantung.

 

Defibrilasi

Defibrilasi mengirimkan sengatan listrik melalui dada.

 

Sengatan listrik melalui proses defibrilasi bertujuan untuk menghentikan irama jantung yang tidak efektif dan tidak teratur.

 

Tindakan ini memungkinkan jantung untuk melanjutkan pola listrik yang lebih normal.

 

AED memeriksa ritme jantung sebelum menginstruksikan penyelamat untuk memberikan kejutan.

 

Mulai Resusitasi Jantung Paru

Chain of Survival di Luar Rumah Sakit
Rantai Kehidupan pada Henti Jantung | Sumber: https://cpr.heart.org/AHAECC/CPRAndECC/AboutCPRFirstAid/CPRFactsAndStats/UCM_475731_CPR-Chain-of-Survival.jsp

Resusitasi Jantung Paru membantu menjaga darah dan oksigen mengalir ke jantung dan otak sampai perawatan lain dapat diberikan.

 

Jantung dan otak sangat rentan terhadap kadar oksigen yang rendah.

 

Kerusakan permanen dapat terjadi, bahkan dengan resusitasi yang berhasil.

 

Perawatan Medis Lanjut

Tenaga medis darurat di tempat kejadian dan dokter di rumah sakit akan memberikan perawatan medis yang penting dan pemantauan intensif.

 

Mereka akan memberikan obat-obatan, memasukkan tabung untuk mempertahankan jalan napas terbuka, dan mengelola perawatan darurat.

 

Epinefrin sering diberikan sejak dini untuk membuat jantung lebih mudah menerima impuls listrik dan meningkatkan aliran darah ke jantung dan otak.

 

Pasien juga akan diberikan oksigen.

 

Hipotermia terapeutik adalah jenis perawatan lain yang dapat digunakan di rumah sakit.

 

Tindakan ini melibatkan penurunan suhu tubuh seseorang menjadi 89 ° -93 ° F (32 ° -34 ° C) dengan menggunakan selimut dingin, kompres es, dan infus saline dingin.

 

Pendinginan tubuh ini dilakukan dalam upaya membantu fungsi dan pemulihan otak.

 

Tubuh orang tersebut dapat tetap pada suhu ini untuk waktu yang lama (12-24 jam).

 

Bahkan dalam kasus di mana irama jantung yang efektif telah dipulihkan, kadar oksigen yang rendah dapat menyebabkan kerusakan serius pada jantung, otak, dan organ vital lainnya.

 

Pencegahan Henti Jantung

Anda mungkin dapat menurunkan risiko serangan jantung dengan:

  • Pelajari tanda-tanda peringatan penyakit jantung dan dapatkan bantuan segera jika Anda mengalaminya
  • Bicarakan dengan dokter Anda tentang cara untuk menjadi lebih sehat jika Anda sudah didiagnosis menderita penyakit jantung — Sebagai contoh, dokter Anda mungkin menyarankan Anda minum obat untuk mencegah aritmia.
  • Tanyakan kepada dokter Anda apakah Anda harus memiliki AED di rumah Anda jika Anda berisiko tinggi terkena henti jantung

 

Bila Anda memiliki pertanyaan terkait dengan henti jantung silakan tuliskan pada kolom komentar.

Referensi
  1. About cardiac arrest. American Heart Association website. Available at: http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/More/CardiacArrest/About-Cardiac-Arrest_UCM_307905_Article.jsp#.WblD5rKGNQI.
  2. Cardiac arrest in adults. EBSCO DynaMed Plus website. Available at:http://www.dynamed.com/topics/dmp~AN~T116814/Cardiac-arrest-in-adults.
  3. Explore sudden cardiac arrest. National Heart Lung and Blood Institute website. Available at: https://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/scda.
  4. Sudden cardiac arrest. Heart Rhythm Society website. Available at: http://www.hrsonline.org/Patient-Resources/Heart-Diseases-Disorders/Sudden-Cardiac-Arrest-SCA#axzz2IzsoUyQ9
Featured Image lupus

Lupus: Sebuah Tinjauan Tentang Penyakit Autoimun

Lupus adalah penyakit autoimun yang terjadi dalam beberapa bentuk, di antaranya lupus erythematosus sistemik (SLE).

Ruam Malar Pada Lupus
Ruam Malar Pada Penderita Lupus Sumber: Doktorinternet [CC BY-SA 4.0], via Wikimedia Commons
Lupus dapat memengaruhi bagian tubuh mana pun, tetapi paling sering menyerang kulit, persendian, jantung, paru-paru, sel darah, ginjal, dan otak.

 

Sekitar 1,5 juta orang Amerika memiliki beberapa bentuk lupus, menurut Lupus Foundation of America, dengan perkiraan 16.000 baru didiagnosis setiap tahun.

 

Siapa pun pada usia berapa pun dapat tertular penyakit ini, meskipun sebagian besar pasien lupus adalah wanita berusia antara 15 dan 45 tahun.

 

Sebelum membahas tentang penyakit ini lebih jauh ada baiknya kita terlebih dahulu berkenalan dengan sistem kekebalan tubuh kita.

 

Sistem Kekebalan Tubuh dan Lupus

Biasanya, sistem kekebalan kita melindungi tubuh kita terhadap serangan kuman atau mikroba seperti virus dan bakteri.

 

Pada kondisi penyakit autoimun, terjadi kerusakan sistem kekebalan tubuh ini sehingga sistem pertahanan ini mulai menyerang jaringan atau sel normal yang ada pada tubuh.

 

Sistem kekebalan tubuh tidak lagi menyerang kuman yang masuk ke dalam tubuh.

 

Sistem pertahanan ini malah merusak sel-sel tubuh normal.

 

Ketika penyakit autoimun terjadi, seseorang dapat mengalami peradangan, rasa sakit, dan kerusakan jaringan.

 

Peradangan dalam dan dari tubuh sendiri dapat menyebabkan rasa sakit, panas, kemerahan, pembengkakan, dan kehilangan fungsi, baik secara internal (organ-organ tertentu), secara eksternal (terutama kulit), atau keduanya.

 

Penyakit autoimun seperti lupus terkadang sulit didiagnosis dan dibedakan.

 

Jenis-Jenis Lupus

Kondisi ini terdiri dari empat jenis utama yang mempengaruhi berbagai bagian tubuh.

 

Bahkan jika Anda memiliki jenis penyakit autoimun yang sama dengan orang lain, gejalanya tidak akan sama, karena penyakitnya sangat bersifat individual.

 

Mari kita berkenalan dengan jenis-jenis kondisi ini.

 

Systemic Lupus Erythematosus (SLE)

Bentuk paling umum dari lupus adalah SLE, yang dapat mempengaruhi banyak bagian tubuh, termasuk persendian, kulit, pembuluh darah, dan organ.

 

Jenis ini mempengaruhi sekitar 70 persen orang dengan penyakit ini dan biasanya disebut apa ketika orang menyebut “Lupus“.

 

Penderita SLE dapat mengalami ruam merah selama bertahun-tahun, kelelahan ekstrem, nyeri sendi atau bengkak pada sendi.

 

Penyakit ini juga ditandai dengan demam tanpa pernah memperhatikan pola serangan (flare) atau dokter yang pernah dapat mendiagnosis SLE.

 

Gejala-gejala tersebut dapat datang dan pergi sewaktu-waktu dan mulai dari serangan ringan hingga parah.

 

SLE sering didiagnosis menggunakan tes darah antibodi anti-nuclear (ANA test), yang mengidentifikasi autoantibodi yang menyerang jaringan dan sel tubuh Anda sendiri.

 

Antibodi merupakan zat yang dibentuk dalam darah untuk memusnahkan bakteri virus atau untuk melawan toksin yang dihasilkan oleh bakteri.

 

Autoantibodi ini ditemukan dalam darah bersama dengan antibodi (sehat, sel darah merah, sel darah putih, dan zat darah lainnya.

 

Hasil positif dari ANA test tidak secara otomatis menunjukkan seseorang menderita Lupus.

 

Tapi, hasil positif pemeriksaan ini, gejala, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium yang lebih spesifik dapat mengarahkan kepada diagnosis SLE.

 

Lupus Yang Diinduksi Oleh Obat

Induksi adalah kata yang digunakan untuk menjelaskan suatu proses kemunculan penyakit atau kondisi tertentu.

 

Lupus yang diinduksi obat dikaitkan dengan gejala yang serupa, tetapi mereka secara khusus disebabkan oleh jenis obat tertentu, biasanya diminum dalam jangka waktu yang lama.

 

Jenis ini sepenuhnya reversibel setelah obat dihentikan, dan gejalanya biasanya hilang dalam waktu enam bulan.

 

Jenis ini menyumbang sekitar 10 persen dari kasus kondisi ini.

 

Banyak obat telah diketahui menyebabkan bentuk penyakit ini, tetapi beberapa dianggap sebagai penyebab utama.

 

Obat penyebab utamanya adalah anti-inflamasi, antikonvulsan, atau obat yang digunakan untuk mengobati kondisi kronis seperti penyakit jantung, penyakit tiroid, hipertensi (tekanan darah tinggi), dan gangguan neuropsikiatri.

 

Tiga obat yang paling sering menyebabkan kondisi ini adalah:

  1. procainamide – digunakan untuk mengobati aritmia (gangguan irama) jantung
  2. hydralazine – digunakan untuk mengobati hipertensi
  3. isoniazid – digunakan untuk mengobati TBC

 

Lupus kulit

Beberapa orang hanya memiliki manifestasi atau gejala dan tanda kondisi ini pada kulit.

Hal ini didiagnosis sebagai lupus kulit.

 

jenis ini terpisah dari jenis lainnya, yang menyumbang sekitar 10 persen dari seluruh kasus.

 

Namun, lesi lesi kulit juga terjadi pada dua pertiga orang yang didiagnosis menderita SLE.

 

Seperti halnya bentuk-bentuk lain dari lupus, kondisi ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh Anda menyerang kulit normalnya sendiri.

 

Penyebab pasti dari bentuk ini tidak diketahui, meskipun wanita lebih cenderung menderita kondisi ini.

 

Merokok dan sinar matahari telah terbukti memperburuk kondisi ini.

 

Secara umum, terdapat tiga jenis lupus kulit, termasuk:

 

  1. Cutaneous kronis (discoid lupus)

Pada discoid lupus, bentuk paling umum dari cutaneous lupus kronis, luka radang berkembang di wajah, telinga, kulit kepala, dan area tubuh lainnya. Lesi-lesi ini bisa jadi keras atau bersisik dan sering juga bekas luka. Mereka biasanya tidak sakit atau gatal. Beberapa pasien melaporkan lesi dan jaringan parut pada kulit kepala, membuat rambut tidak dapat tumbuh kembali di area tersebut. Kebanyakan orang dengan discoid lupus tidak memiliki SLE. Faktanya, lupus diskoid lebih sering terjadi pada pria daripada pada wanita.

 

  1. Kutaneus subakut

Gejala kulit kutaneus subakut biasanya ringan. Orang dengan kondisi ini akan memiliki plak ungu kemerahan, yang tegas dan terangkat, lesi kulit yang rata. Plak-plak ini dapat ditemukan sendiri atau berkelompok dengan ukuran mulai dari 5 mm hingga 20 mm, biasanya muncul di bagasi, termasuk dada bagian atas dan punggung. Sekitar 10 persen orang dengan SLE menderita lupus kulit subakut. Obat-obatan tertentu juga dapat menyebabkan lupus kulit subakut.

 

  1. Lupus Kulit akut

Ini adalah jenis flare (serangan) kulit yang terjadi ketika SLE Anda aktif. Lesi-lesi yang berhubungan dengan lupus kulit akut muncul sebagai area-area kulit merah yang rata pada wajah, yang mengingatkan pada luka bakar akibat sinar matahari — ruam kupu-kupu. Lesi ini dapat muncul pada lengan, kaki, dan tubuh, dan bersifat peka terhadap cahaya. Meskipun lesi dapat menghitamkan kulit, lesi tersebut tidak meninggalkan bekas. Lesi biasanya muncul selama suar atau setelah paparan sinar matahari.

 

Perhatikan bahwa baik lupus kulit kronis/diskoid dan subakut dapat terjadi secara independen, atau mereka mungkin merupakan manifestasi dari SLE, sedangkan lupus kulit akut tidak terjadi di luar kondisi SLE.

 

Lupus Neonatal

Lupus neonatal adalah bentuk langka lupus sementara yang mempengaruhi janin atau bayi baru lahir.

 

Kondisi ini terjadi ketika autoantibodi ibu diteruskan kepada anaknya dalam kandungan.

 

Autoantibodi ini dapat memengaruhi kulit, jantung, dan darah bayi.

 

Untungnya, bayi yang lahir dengan lupus neonatal tidak berisiko lebih tinggi terkena SLE di kemudian hari.

 

Banyak bayi dengan kondisi ini akan mengalami ruam kulit saat lahir.

 

Sisanya akan pecah biasanya dalam dua hingga lima bulan.

 

Paparan sinar matahari cenderung menyebabkan perburukkan penyakit ini.

 

Ruam, rata-rata, akan hilang sekitar enam bulan atau segera setelahnya, karena autoantibodi ibu menghilang dari bayi.

 

Perawatan untuk lesi kulit biasanya tidak lebih dari salep untuk membantu meringankan gejala kulit pada wajah.

 

Meskipun jarang, beberapa bayi ibu dengan kondisi ini dapat dilahirkan dengan kondisi gangguan jantung yang permanen tetapi dapat diobati dengan menggunakan alat pacu jantung.

 

Kelainan ini dapat dideteksi sejak minggu ke 18 kehamilan.

 

Lupus masa kecil

Lupus masa kanak-kanak mempengaruhi antara 5.000 dan 10.000 anak di bawah 18 tahun di Amerika Serikat.

 

Paling sering didiagnosis antara usia 11 dan 15 tahun.

 

Anak-anak dari segala usia dapat menderita lupus, dan lupus dapat menyerang anak-anak dari berbagai ras atau etnis.

 

Kondisi ini mempengaruhi anak-anak sama dengan cara itu mempengaruhi orang dewasa dalam hal itu mengekspresikan dirinya secara berbeda pada setiap orang, meskipun tampaknya memiliki lebih banyak keterlibatan organ.

 

Kondisi ini mungkin karena anak-anak sering sakit untuk jangka waktu yang lebih lama ketika mereka akhirnya didiagnosis.

 

Gejala pada anak-anak mirip dengan gejala pada orang dewasa, yang paling umum adalah kelelahan dan rasa sakit.

 

Gejala penyakit yang jelas termasuk demam, ruam kupu-kupu, dan keterlibatan ginjal.

 

Sebagian besar kasus berhasil didiagnosis ketika tes darah ANA  termasuk dalam tes diagnostik.

 

Perawatan mungkin perlu sedikit lebih agresif untuk anak-anak, tetapi dokter juga harus berhati-hati mengenai efek samping jangka panjang dari obat-obatan, terutama kortikosteroid seperti prednison.

 

Sebagian besar anak-anak menjalani masa kanak-kanak normal dengan perawatan dan perawatan yang tepat.

 

Gejala

Gejala-Gejala Lupus
Gejala-Gejala Lupus Sumber: Häggström, Mikael (2014). “Medical gallery of Mikael Häggström 2014”. WikiJournal of Medicine 1 (2). DOI:10.15347/wjm/2014.008. ISSN 2002-4436. Public Domain.orBy Mikael Häggström, used with permission. [Public domain], via Wikimedia Commons
Gejala kondisi ini awal dan kronis meniru gejala beberapa penyakit, yang dapat menyebabkan kesalahan diagnosis. Gejala awal sering termasuk:

  • Demam
  • Malaise, atau ketidaknyamanan umum
  • Nyeri sendi
  • Nyeri otot
  • Kelelahan

 

Biasanya, gejala-gejala tersebut digabungkan dengan tanda-tanda lain yang lebih menunjukkan bahwa dokter cenderung mengarahkan diagnosisnya kepada kondisi ini.

 

Tanda-tanda itu termasuk, tetapi tidak terbatas pada:

  • Bisul, lesi, dan ruam, paling signifikan ruam malar, biasanya disebut ruam kupu-kupu
  • Anemia
  • Kekurangan zat besi
  • Masalah jantung, seperti perikarditis, miokarditis, dan endokarditis
  • Pleuritis dan peradangan paru-paru lainnya
  • Masalah ginjal, termasuk hematuria tanpa rasa sakit atau proteinuria (darah atau protein dalam urin Anda)
  • Kejang

 

Penyebab

Penyebab kondisi ini masih menjadi misteri relatif bagi para peneliti medis.

 

Penyebab pasti penyakit ini masih belum diketahui, dan banyak yang masih memperdebatkan apakah kondisi ini adalah satu penyakit atau kombinasi dari beberapa penyakit serupa.

 

Tetapi konsensus tentang cara yang paling mungkin di mana lupus berkembang dipengaruhi oleh faktor berupa:

  • Genetika (faktor risiko yang Anda warisi dari orang tua Anda)
  • Pemicu lingkungan (dari obat-obatan, stres, infeksi, dan/atau paparan sinar matahari)
  • Reaksi terhadap obat-obatan (dalam kasus lupus yang diinduksi oleh obat)

 

Diagnosa Lupus

Jika dokter Anda mencurigai bahwa Anda memiliki lupus erythematosus kulit sendiri atau dalam kombinasi dengan SLE, beberapa faktor dipertimbangkan, termasuk:

  • Temuan pemeriksaan fisik
  • Temuan laboratorium
  • Tes antibodi
  • Biopsi jaringan
  • Imunofluoresensi langsung

 

Pada akhirnya, karena berbagai gejala, bisa jadi sulit bagi dokter Anda untuk mendiagnosis lupus, dan kebanyakan orang pertama kali didiagnosis lima tahun setelah pertama kali mengalami gejala.

 

Jadi, jika Anda merasa bahwa Anda mungkin mengalami gejala yang konsisten dengan diagnosis lupus, pastikan untuk mengunjungi dokter Anda dan mengungkapkan kekhawatiran ini.

 

Prognosis untuk mereka yang menderita lupus seringkali tergantung pada jumlah keterlibatan organ.

 

Dengan kata lain, apakah penyakit ini menyerang organ daripada kulit dan persendian.

 

Kelangsungan hidup untuk pasien lupus dengan gejala sistem saraf pusat, keterlibatan organ utama, dan/atau penyakit ginjal, kemungkinan lebih pendek daripada mereka yang hanya memiliki penyakit kulit dan/atau sendi yang berhubungan dengan kondisi ini.

 

Penyebab kematian paling umum yang terkait dengan lupus adalah infeksi karena imunosupresi, yang disebabkan oleh obat yang digunakan untuk mengelola penyakit, terutama pada awal penyakit.

 

Pengobatan

Saat ini, tidak ada obat untuk kondisi ini.

 

Perawatan berfokus pada mengendalikan respons autoimun, membatasi peradangan dan kerusakan organ, dan menghilangkan gejala:

  • Terapi obat, seperti obat antiinflamasi dan modulator sistem kekebalan
  • Gaya hidup sehat, termasuk penurunan berat badan dan perlindungan dari sinar matahari
  • Akupunktur (dan perawatan alternatif lainnya)
  • Terapi fisik

 

Untuk beberapa pasien yang menderita gejala ringan, gejala kondisi ini dapat dikelola sebagai penyakit kronis, tetapi penyakit ini bisa sangat serius dan bahkan mengancam jiwa bagi orang lain.

 

Penyakit ini tidak mengikuti jalur yang umum, sehingga pasien sering menderita serangan (flare) yang tidak terduga yang diikuti oleh periode remisi (perbaikan penyakit) bahkan dengan perawatan.

 

Mengatasi

Kondisi ini dapat membawa segala macam tantangan fisik dan emosional, terutama jika Anda baru didiagnosis.

 

Belajar untuk mengatasi penyakit Anda membutuhkan waktu dan latihan, dan mencakup hal-hal seperti:

  • mendidik diri sendiri dan orang yang Anda cintai tentang penyakit Anda,
  • merawat diri sendiri dengan cukup istirahat dan makan dengan baik,
  • belajar bagaimana mengelola ruam Anda, dan
  • mendapatkan dukungan dari keluarga terkait kondisi ini.

 

Referensi

Artikel ini diterjemahkan dari:

https://www.verywellhealth.com/what-is-lupus-2249968

Atas izin dari:

Christina McGrath, RD, CDN

Health Editor, Content – www.Verywell.com

Dengan Sedikit Perubahan

Featured Image Serangan Jantung

Serangan Jantung Koroner: Edukasi Pasien

Serangan jantung koroner disebabkan penyumbatan aliran darah ke area jantung (sumbatan arteri koroner). Jaringan jantung menjadi rusak atau mati dalam waktu singkat setelah aliran darah berhenti. Jika area jantung yang terpengaruh besar atau terjadi pada daerah vital jantung, kerusakan dapat menghentikan detak jantung.

 

Penyebab Serangan Jantung Koroner

 

Sumbatan pembuluh darah pada serangan jantung
Sumbatan pembuluh darah pada serangan jantung

Arteri koroner (pembuluh darah jantung) membawa darah dan oksigen ke otot jantung.

 

Serangan jantung koroner terjadi ketika satu atau lebih dari arteri ini tersumbat. Penyumbatan dapat terjadi karena satu atau lebih hal berikut ini:

  • Penyempitan arteri koroner karena:
    • Penebalan dinding arteri (proses penuaan umum)
    • Timbunan plak lemak di dalam arteri
    • spasme arteri koroner
    • Perkembangan gumpalan/bekuan darah di arteri
  • Embolisme — gumpalan darah yang mengalir ke jantung dari area/lokasi lain tubuh

 

Jantung kita memiliki dua arteri koroner utama.

 

Mereka berpisah menjadi cabang-cabang kecil yang tersebar di jantung.

 

Tingkat keparahan serangan jantung koroner akan tergantung pada di mana penyumbatan terjadi:

  • Penyumbatan di arteri yang lebih besar — memengaruhi area jantung yang lebih luas
  • Penyumbatan di pembuluh yang lebih kecil — memengaruhi area jantung yang lebih kecil

 

Penyumbatan mungkin hanya berlangsung dalam waktu singkat dan kemudian memungkinkan aliran darah kembali lancar.

 

Namun, tidak menutup kemungkinan, sumbatan terjadi lebih lama, dan menyebabkan lebih banyak kerusakan.

 

Faktor Risiko Serangan Jantung Koroner

Ilustrasi Pemeriksaan Jantung
Ilustrasi Pemeriksaan Jantung (Sumber: pexels.com)

Faktor risiko merupakan hal-hal yang meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami suatu penyakit.

 

Risiko serangan jantung lebih besar pada pria dan orang dewasa.

 

Anda memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung jika Anda tidak memiliki pembuluh darah yang sehat.

 

Pembuluh darah yang tidak sehat mungkin disebabkan oleh:

  • Kegemukan
  • Merokok
  • Tekanan darah tinggi
  • Tidak melakukan aktivitas harian yang cukup
  • Kolesterol darah tinggi — khususnya, kolesterol LDL tinggi, dan kolesterol HDL rendah
  • Trigliserida darah tinggi
  • Diabetes
  • Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen
  • Stres
  • Anggota keluarga dengan riwayat penyakit jantung
  • Menggunakan terapi testosteron

 

Gejala dan Tanda

Pemeriksaan Tekanan Darah Pada Serangan Jantung
Ilustrasi Pemeriksaan Tekanan Darah Pada Serangan Jantung (Sumber: Pexels.com)

Gejala dapat berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Gejala yang paling umum adalah:

  • Dada seperti tertimpa beban berat, nyeri dada yang berat di belakang tulang dada, yang biasanya datang dengan cepat terutama ketika atau setelah:
    • berolahraga atau aktivitas
    • Stres emosional
    • Cuaca dingin
    • Makan besar
  • Nyeri menjalar ke bahu kiri, lengan kiri, atau rahang
  • Sesak napas
  • Kulit berkeringat dan lembap
  • Mual
  • Merasa lemah
  • Hilang kesadaran
  • Kegelisahan, terutama perasaan takut atau panik tanpa alasan yang jelas

 

Gejala serangan jantung yang tidak biasa dan lebih sering terjadi atau ditemukan pada wanita yang mengalami kondisi ini antara lain:

  • Sakit perut
  • Nyeri punggung dan bahu
  • Kebingungan
  • Pingsan

 

Segera cari bantuan medis atau segera datang ke unit gawat darurat jika Anda merasa mengalami serangan jantung. Perawatan dini dapat menghentikan kerusakan lebih lanjut.

 

Diagnosis

Elektrokardiografi Serangan Jantung koroner
Elektrokardiografi Serangan Jantung (Sumber: pexels.com)

Jika dokter mencurigai adanya serangan jantung, kondisi ini dapat dikonfirmasikan dengan:

 

  • EKG (elektrokardiografi) — menunjukkan aktivitas listrik jantung. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan apakah serangan jantung telah terjadi atau mungkin terjadi. EKG juga dapat membantu menentukan apakah serangan jantung adalah:
    • STEMI — Arteri koroner utama tersumbat sepenuhnya. Kondisi ini adalah jenis serangan jantung yang lebih serius
    • NSTEMI — kondisi ini menunjukkan sumbatan parsial (sebagian) dari arteri. Sumbatan juga memungkinkan adanya periode aliran darah pada arteri koroner
  • Tes darah — dapat menunjukkan tanda dalam darah. Penanda ini muncul saat serangan jantung dan dapat menunjukkan seberapa banyak kerusakan yang dilakukan (misalnya Troponin atau CKMB).
  • Echocardiogram — membuat gambar dari ukuran, bentuk, fungsi, dan gerakan jantung dengan menggunakan prinsip ultrasonografi.
  • Angiografi koroner — dilakukan untuk melihat arteri koroner melalui pencitraan sinar X dan selang (kateter) kecil yang dimasukkan melalui pembuluh darah. Dapat membantu menemukan penyumbatan atau kerusakan pada arteri.

 

Tes lain akan didasarkan pada kebutuhan spesifik Anda tetapi dapat meliputi:

  • Tes stres —Merekam aktivitas listrik jantung di bawah tekanan fisik. Dapat dilakukan beberapa hari atau berminggu-minggu setelah serangan jantung.
  • Electron-beam computed tomography (EBCT) – Mengambil gambar jantung, arteri koroner, dan area sekitarnya.

 

Tatalaksana Serangan Jantung Koroner

Tujuan pertama pengobatan adalah untuk meningkatkan aliran darah dan mendapatkan oksigen ke jantung Anda secepat mungkin.

 

Pengobatan termasuk:

  • Aspirin dan agen antiplatelet lainnya — untuk mengurangi pembekuan dalam darah dan meningkatkan aliran darah.
  • Terapi oksigen — untuk meningkatkan jumlah oksigen dalam darah. Obat ini akan meningkatkan oksigen untuk jantung.
  • Obat nitrat — untuk membantu pembuluh darah terbuka atau melebar. Pelebaran pembuluh darah (arteri) dapat meningkatkan aliran darah.
  • Pengencer darah – untuk mengencerkan darah dan membantu melarutkan bekuan darah. Termasuk aspirin, obat-obatan seperti aspirin, dan antikoagulan.
  • Obat penghilang rasa sakit
  • Obat penghambat beta dan/atau angiotensin-converting enzyme (ACE) —untuk mengurangi beban kerja pada jantung.
  • Obat anti-kecemasan
  • Obat penurun kolesterol seperti obat statin yang dapat mengurangi kemungkinan serangan jantung atau stroke.

 

Menghilangkan Sumbatan

Bantuan Hidup Pada Henti Jantung
Bantuan Hidup Pada Henti Jantung (Sumber: pexels.com)

Obat dapat diberikan untuk mencoba memecah gumpalan darah.

 

Semakin cepat obat-obatan ini diberikan, semakin baik hasilnya.

 

Obat ini bekerja paling baik ketika diberikan dalam 6 jam pertama setelah gejala muncul.

 

Pembedahan mungkin diperlukan untuk:

  • Gumpalan yang tidak merespons obat
  • Penyumbatan yang disebabkan oleh penumpukan plak

 

Penyumbatan parah mungkin perlu segera diobati.

 

Pembedahan mungkin ditunda selama beberapa hari jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya aliran darah yang cukup ke jantung.

Opsi tindakan bedah meliputi:

  • Balloon angioplasty — Sebuah kawat dimasukkan melalui pembuluh darah ke jantung. Balon digunakan untuk membuka arteri yang tersumbat. Stent (ring koroner) juga dapat ditempatkan pada lokasi pembuluh darah yang tersumbat. Tindakan ini akan membantu menjaga area terbuka.
  • Cangkok bypass arteri koroner (CABG) — Pembedahan terbuka. Bagian dari pembuluh darah yang berasal dari area tubuh akan diambil. Tindakan ini digunakan untuk membuat jalur di sekitar area yang tersumbat di jantung.

 

Pemulihan

Rehabilitasi jantung dapat membantu setelah serangan jantung. Tindakan pemulihan ini termasuk:

  • Pemantauan selama aktivitas fisik dalam beberapa minggu pertama pemulihan
  • Pendidikan atau edukasi tentang nutrisi sehat dan perubahan gaya hidup

 

Serangan jantung bisa menjadi peristiwa besar dalam kehidupan.

 

Orang yang pernah mengalami serangan jantung rentan mengalami depresi.

 

Psikoterapi dan obat-obatan dapat membantu mengatasi tantangan ini.

 

Pencegahan

Banyak kebiasaan gaya hidup mempengaruhi kesehatan pembuluh darah dan jantung. Kebiasaan jantung yang sehat meliputi:

 

Mempertahankan berat badan yang sehat.

Memulai program latihan yang aman. Ikuti saran dokter Anda:

  • Jangan merokok. Jika Anda merokok, bicarakan dengan dokter Anda tentang cara untuk berhenti.
  • Makanlah makanan yang menyehatkan. Bertujuan untuk orang yang kaya akan biji-bijian, buah-buahan, dan sayuran. Cari lemak sehat seperti yang ditemukan pada ikan, kacang-kacangan, dan biji-bijian.
  • Kelola kondisi jangka panjang yang dapat memengaruhi jantung. Ini termasuk tekanan darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi.
  • Gunakan teknik relaksasi untuk mengelola stres.

 

Dosis aspirin harian yang kecil dapat membantu beberapa orang mengurangi risiko serangan jantung.

 

Obat ini hanya boleh dilakukan dengan persetujuan dokter Anda.

 

Aspirin dapat memiliki efek samping seperti pendarahan di lambung.

 

Aspirin juga dapat menyebabkan masalah bila dikonsumsi bersamaan dengan obat lain.

 

Referensi

  1. Antithrombotic Trialists’ (ATT) Collaboration, Baigent C, Blackwell L, et al. Aspirin in the primary and secondary prevention of vascular disease: collaborative meta-analysis of individual participant data from randomised trials. Lancet. 2009;373:1849-1860.
  2. Explore heart attack. National Heart Lung and Blood Institute website. Available at: https://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/heartattack.
  3. ST-elevation myocardial infarction (STEMI). EBSCO DynaMed Plus website. Available at: http://www.dynamed.com/topics/dmp~AN~T115392/ST-elevation-myocardial-infarction-STEMI
Featured Image Gejala Usus Buntu

Waspada! Kenali Gejala Usus Buntu Yang Meradang

Apendisitis adalah peradangan usus buntu, yang merupakan kantong berbentuk mirip cacing yang menempel pada sekum, awal dari usus besar.  Gejala usus buntu meradang sering kali terlewatkan. Meskipun apendiks berperan dalam sistem kekebalan tubuh, tetapi usus buntu tepat dapat terinfeksi dan meradang. Radang usus buntu adalah keadaan darurat medis. Jika tidak diobati, usus buntu dapat pecah dan menyebabkan infeksi yang berpotensi fatal.

Usus Buntu
Usus Buntu Pada Anak (Sumber: BruceBlaus. When using this image in external sources it can be cited as:Blausen.com staff (2014). “Medical gallery of Blausen Medical 2014”. WikiJournal of Medicine 1 (2). DOI:10.15347/wjm/2014.010. ISSN 2002-4436. [CC BY 3.0], via Wikimedia Commons)

Apa itu radang usus buntu?

Penjalaran Nyeri Perut Sebagai Gejala Usus Buntu (Sumber: Aleritty [CC BY-SA 3.0], via Wikimedia Commons)
Radang usus buntu adalah keadaan gawat darurat daerah perut yang paling umum pada anak-anak dan dewasa muda.

 

Satu dari 15 orang menderita radang usus buntu dalam hidupnya. Kejadian ini paling tinggi di antara laki-laki berusia 10-14 dan perempuan berusia 15-19 tahun.

 

Lebih banyak laki-laki daripada perempuan yang mengalami apendisitis antara pubertas dan usia 25 tahun.

 

Kondisi ini jarang terjadi pada orang tua dan anak-anak di bawah usia dua tahun.

 

Gejala usus buntu meradang yang paling utama adalah nyeri perut yang semakin lama semakin parah.

 

Rasa sakit radang usus buntu dimulai di tengah perut dan menjadi terkonsentrasi di kuadran kanan bawah perut.

 

Karena banyak kondisi berbeda dapat menyebabkan sakit perut, diagnosis apendisitis yang akurat bisa jadi sulit.

 

Diagnosis yang tepat waktu adalah penting, karena penundaan dapat menyebabkan perforasi, atau pecahnya usus buntu.

 

Ketika ini terjadi, isi usus buntu yang terinfeksi tumpah ke perut, berpotensi menyebabkan peritonitis, infeksi serius pada perut.

 

Kondisi lain dapat memiliki gejala yang sama, terutama pada wanita.

 

Kondisi tersebut termasuk penyakit radang panggul, pecahnya folikel ovarium, pecahnya kista ovarium, kehamilan tuba, dan endometriosis.

 

Berbagai bentuk gangguan lambung dan radang usus juga bisa menyerupai apendisitis.

 

Pengobatan untuk apendisitis akut (mendadak, berat) adalah operasi usus buntu, untuk mengangkat usus buntu.

 

Karena potensi usus buntu yang mengancam jiwa, orang-orang yang dicurigai menderita radang usus buntu kali langsung menjalani pembedahan sebelum diagnosis dipastikan.

 

Penyebab Dan Gejala Usus Buntu Meradang

Penyebab radang usus buntu tidak dipahami dengan baik, tetapi diyakini terjadi sebagai akibat dari satu atau lebih dari faktor-faktor ini: obstruksi dalam apendiks, perkembangan ulserasi dalam apendiks, dan invasi bakteri.

 

Dalam kondisi ini, bakteri dapat berkembang biak di dalam usus buntu.

 

Apendiks bisa menjadi bengkak dan penuh dengan nanah dan akhirnya bisa pecah.

 

Tanda-tanda pecahnya termasuk adanya gejala usus buntu meradang selama lebih dari 24 jam, demam, jumlah sel darah putih yang tinggi, dan detak jantung yang cepat.

 

Sangat jarang, peradangan dan gejala usus buntu meradang bisa hilang tetapi kambuh dikemudian hari.

 

Gejala usus buntu meradang yang membedakan dengan sakit perut lainnya adalah rasa sakit yang dimulai di sekitar atau di atas pusar.

 

Rasa sakit, yang mungkin parah atau hanya sakit ringan dan tidak nyaman, akhirnya bergerak ke sudut kanan bawah perut.

 

Di sana, menjadi lebih stabil dan lebih parah dan sering meningkat dengan gerakan atau batuk.

 

Gejala usus buntu meradang lainnya adalah perut sering menjadi kaku dan nyeri saat disentuh.

 

Meningkatnya kekakuan dan nyeri mengindikasikan peningkatan kemungkinan perforasi (pecahnya usus buntu) dan peritonitis.

 

Gejala usus buntu meradang lainnya adalah kehilangan nafsu makan.

 

Mual dan muntah dapat terjadi pada sekitar setengah dari kasus, dan kadang-kadang mungkin ada sembelit atau diare.

 

Suhu tubuh mungkin normal atau sedikit meningkat (demam).

 

Kehadiran demam dapat mengindikasikan bahwa usus buntu telah pecah.

 

Diagnosis Berdasarkan Gejala Usus Buntu Meradang

Pemeriksaan yang cermat adalah cara terbaik untuk mendiagnosis usus buntu.

 

Menegakkan diagnosis hanya berdasarkan gejala usus buntu yang terinfeksi sering kali sulit, bahkan untuk dokter yang berpengalaman.

Terutama untuk membedakan gejala usus buntu meradang dengan gejala gangguan perut lainnya.

 

Seorang dokter harus mengajukan pertanyaan seperti di mana rasa sakit itu berpusat, apakah rasa sakit telah bergeser, dan di mana rasa sakit dimulai.

 

Dokter harus melakukan pemeriksaan dengan cara menekan pada perut untuk menilai lokasi rasa sakit dan tingkat nyeri.

 

Gejala usus buntu meradang dengan urutan khas gejala ditemukan pada sekitar 50% kasus.

 

Pada separuh kasus lainnya, pola yang kurang khas mungkin terlihat, terutama pada wanita hamil, orang tua, dan bayi.

 

Pada wanita hamil, radang usus buntu mudah disamarkan oleh seringnya terjadi nyeri perut ringan dan mual dari penyebab lain.

 

Orang lanjut usia mungkin merasakan lebih sedikit rasa sakit dan nyeri tekan daripada kebanyakan orang, sehingga menunda diagnosis dan pengobatan dan menyebabkan gejala usus buntu pecah pada 30% kasus.

 

Bayi dan anak kecil sering mengalami diare, muntah, dan demam selain merasakan gejala usus buntu yang nyeri.

 

Di bawah ini terdapat  video yang menjelaskan radang usus buntu.

 

Pemeriksaan untuk Penegakan Diagnosis Appendisitis

Sementara tes laboratorium tidak dapat menegakkan diagnosis, peningkatan jumlah sel darah putih mungkin mengarah ke apendisitis.

 

Urinalisis (pemeriksaan air kencing) dapat membantu menyingkirkan infeksi saluran kemih yang dapat menyerupai radang usus buntu.

 

Orang dengan diagnosis radang usus buntu biasanya segera dilakukan tindakan operasi, di mana laparotomi (eksplorasi bedah perut) dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis.

 

Dalam kasus dengan diagnosis yang dipertanyakan, pemeriksaan lain seperti CT scan dapat dilakukan untuk menghindari pembedahan yang tidak perlu.

 

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada abdomen dapat membantu mengidentifikasi usus buntu yang meradang atau kondisi lain yang akan menjelaskan gejalanya.

 

Rongent atau pemeriksaan Sinar-X perut tidak banyak nilainya, kecuali bila usus buntu pecah.

 

Diagnosis Tidak Pasti dan Kemungkinan Gejala Usus Buntu Meradang “Palsu”

Seringkali, diagnosis tidak pasti sampai operasi selesai.

 

Untuk menghindari usus buntu yang pecah, pembedahan dapat direkomendasikan tanpa penundaan jika gejalanya mengarah ke apendisitis.

 

Jika gejalanya tidak jelas, pembedahan mungkin ditunda hingga cukup berkembang untuk memastikan diagnosis.

 

Ketika apendisitis diduga kuat pada wanita usia subur, laparoskopi diagnostik kadang-kadang direkomendasikan untuk memastikan bahwa masalah ginekologis seperti kista ovarium yang pecah tidak menyebabkan rasa sakit.

 

Dalam prosedur ini, sebuah kamera kecil dimasukkan ke dalam perut melalui sayatan kecil di sekitar pusar.

 

Apendiks normal ditemukan pada sekitar 10% -20% pasien yang menjalani laparotomi karena dugaan apendisitis.

 

Kadang-kadang ahli bedah akan membuang usus buntu yang normal sebagai perlindungan terhadap radang usus buntu di masa depan.

 

Selama operasi, penyebab spesifik lain untuk rasa sakit dan gejala usus buntu ditemukan sekitar 30% dari pasien ini.

 

Pengobatan Radang Usus Buntu

Gejala Radang Usus Buntu
Tindakan Operasi Radang Usus Buntu (Sumber: Ralf Roletschek [GFDL], via Wikimedia Commons)
Pengobatan untuk radang usus buntu adalah operasi usus buntu segera, yang dilakukan dengan membuka perut dengan teknik usus buntu terbuka standar, atau melalui laparoskopi.

 

Pada laparoskopi, sayatan yang lebih kecil dibuat di samping pusar.

 

Tidak pasti bahwa laparoskopi memiliki keunggulan dibandingkan apendektomi terbuka.

 

Ketika usus buntu pecah, pasien yang menjalani operasi usus buntu laparoskopi mungkin harus dialihkan ke prosedur operasi usus buntu terbuka untuk keberhasilan penatalaksanaan ruptur.

 

Jika apendiks yang pecah dibiarkan tidak diobati, kondisinya fatal.

 

Prognosa Gejala Usus Buntu Meradang

Apendisitis biasanya berhasil ditangani dengan apendektomi. Kecuali ada komplikasi, orang biasanya sembuh tanpa masalah lebih lanjut.

 

Tingkat kematian pada kasus tanpa komplikasi kurang dari 0,1%.

 

Ketika apendiks pecah atau infeksi parah telah berkembang, kemungkinan komplikasi lebih tinggi, dengan pemulihan lebih lambat, atau kematian akibat penyakit.

 

Ada tingkat perforasi dan kematian yang lebih tinggi di antara anak-anak dan orang tua.

 

Referensi

BOOKS

  1. Kasper, Dennis L., et al., editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine, 19th ed. New York: McGraw-Hill Education, 2015.
  2. Kliegman, Robert M., et al., editors. Nelson Textbook of Pediatrics, 20th ed. Philadelphia: Elsevier, 2015.

WEBSITES

  1. “What Is Appendicitis?” http://www.healthline.com/health/appendicitis
  2. Mayo Clinic staff. “Appendicitis.” orghttp://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/appendicitis/basics/definition/con-20023582
  3. “Appendicitis.” http://www.webmd.com/digestivedisorders/digestive-diseases-appendicitis#1
Featured Image Alergi 101

Alergi 101: Mengenal Segala Jenis Alergi

Alergi adalah respons berlebihan (hipersensitif) sistem kekebalan tubuh terhadap zat asing yang tidak berbahaya yang disebut alergen. Kondisi ini merupakan gangguan medis dan masalah kesehatan paling umum pada anak-anak. Kondisi ini memengaruhi hingga 30% orang dewasa dan hingga 40% anak-anak, dan pada umumnya lebih dari separuh populasi negara positif mengidap satu atau lebih alergen. Kondisi ini juga penyebab utama keenam penyakit kronis dan alasan paling sering anak tidak datang ke sekolah.

Alergi
Urtikaria sebagai salah satu Alergi (Sumber:By James Heilman, MDOwn work, CC BY-SA 3.0, Link)

 

Data-Data Terkait Kejadian Alergi

  • Hingga 50 juta orang Amerika menderita alergi musiman, terutama rinitis alergi musiman atau demam hay.
  • Alergi serbuk sari umumnya berkembang antara usia 6 dan 13 tahun.
  • Sekitar 15 juta orang Amerika memiliki alergi makanan, termasuk sekitar 8% anak balita dan 4% orang dewasa.
  • Insiden alergi makanan telah meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
  • Kacang adalah alergi makanan yang paling umum dan yang paling parah, diikuti dengan makanan laut.
  • Alergi makanan mencakup sekitar 200.000 kunjungan ruang gawat darurat Amerika serikat setiap tahun dan hampir 10.000 rawat inap.
  • Alergi merupakan 5% -10% dari semua reaksi obat yang merugikan, dengan reaksi kulit yang paling umum.
  • Sekitar seperlima dari semua anak alergi terhadap beberapa jenis obat, seringkali penisilin, obat sulfa, atau aspirin.
  • Sekitar 15% orang dewasa memiliki reaksi alergi ringan dan terlokalisasi terhadap gigitan dan sengatan serangga, dan 3% alergi serius terhadap racun serangga, meskipun reaksi racun parah jarang terjadi pada anak-anak.
  • Urtikaria mempengaruhi hingga 20% orang di beberapa titik dalam kehidupan mereka.
  • Sekitar 8,8 juta anak-anak Amerika menderita alergi kulit, yang paling umum pada anak-anak berusia empat tahun ke bawah dan pada anak-anak Afrika-Amerika.
  • Dermatitis kontak alergi adalah kondisi kulit yang paling umum pada anak di bawah 11 tahun dan telah meningkat secara signifikan di antara anak-anak dalam beberapa dekade terakhir.
  • Dermatitis kontak juga merupakan salah satu penyakit kulit yang paling umum pada orang dewasa, serta penyakit akibat kerja yang paling umum.
  • Alergi lateks memengaruhi 1%-6% populasi, termasuk 8%-12% dari petugas kesehatan.
  • Asma, yang dapat dipicu oleh banyak alergen yang berbeda
  • Anafilaksis adalah reaksi alergi yang mengancam jiwa terhadap makanan, sengatan serangga, dan terutama obat-obatan.
  • Insiden alergi dan asma meningkat di negara-negara industri sekitar 5% setiap tahun, dengan hingga setengahnya meningkat pada anak-anak.

 

Faktor Risiko Alergi

Meskipun alergi spesifik tidak diwariskan, kecenderungan bawaan untuk mengembangkan alergi adalah satu-satunya faktor risiko yang paling penting.

  • Seorang anak memiliki 10% -20% risiko mengembangkan reaksi hipersensitivitas jika tidak ada orang tua yang memiliki riwayat yang sama
  • Seorang anak dengan satu orang tua dengan riwayat reaksi hipersensitivitas memiliki risiko 30%-50%
  • Kemungkinan anak mengalami kondisi ini akan meningkat hingga 40%-75% jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi

 

Paparan berulang terhadap alergen tertentu atau paparan yang lama terhadap alergen kuat merupakan faktor risiko spesifik. Faktor risiko lain pada anak termasuk:

  • berat badan lahir rendah
  • dilahirkan selama musim serbuk sari tinggi
  • tidak mendapatkan ASI ekslusif
  • paparan asap tembakau
  • pajanan terhadap hewan peliharaan

 

Penyebab dan Gejala Alergi

Jalur Proses Terjadinya Alergi
Jalur Proses Terjadinya Alergi (Sumber:By SariSabban Sabban, Sari (2011) Development of an in vitro model system for studying the interaction of Equus caballus IgE with its high- affinity FcεRI receptor (PhD thesis), The University of Sheffield, CC BY-SA 3.0, Link)

 

Predisposisi genetik terhadap reaksi hipersensitivitas setelah terpapar antigen spesifik disebut atopi.

 

Setelah lahir, interaksi hereditas dan lingkungan menyebabkan sistem kekebalan menjadi rawan non-alergi (TH1) atau rawan alergi (TH2).

 

Sel-sel TH1 adalah sel T-helper yang melawan bakteri dan virus dan melindungi dari alergi.

 

Sel T-helper TH2 melawan infeksi parasit dan meningkatkan produksi IgE berlebihan, meningkatkan kemungkinan alergi.

 

Imunitas TH2 jauh lebih mungkin untuk diaktifkan pada anak-anak dengan riwayat alergi keluarga.

 

Namun, anak-anak tidak selalu peka terhadap alergen yang sama dengan orang tua mereka; mereka mungkin hanya mewarisi kecenderungan untuk menghasilkan lebih banyak IgE.

 

Mereka juga harus terpapar alergen spesifik yang rentan secara genetik dan, mungkin, pada tingkat ambang batas dan lamanya pemaparan terhadap alergen.

Tingkat IgE yang tinggi meningkatkan kemungkinan sensitivitas terhadap beberapa alergen.

 

Anak-anak dengan mutasi gen yang mengganggu fungsi enzim yang disebut A20 lebih mungkin untuk mengembangkan alergi dan asma, dan A20 telah ditemukan kurang aktif di paru-paru orang dewasa dengan asma.

 

Video singkat terkait dengan alergi dapat dilihat pada halaman berikut.

Penyebab kondisi hipersensitivitas mengancam jiwa (Anafilaksis)

anafilaksis
Gejala Anafilaksis (Sumber: Mikael Häggström [CC0], via Wikimedia Commons)
Anafilaksis adalah reaksi hipersensitivitas yang dimediasi IgE yang ditimbulkan oleh mediator yang dilepaskan oleh sel mast dalam jaringan dan oleh basofil dalam darah.

 

Mediator ini dapat menyebabkan penyempitan jalan napas, penurunan tekanan darah, pembengkakan jaringan yang luas, kelainan irama jantung, dan kadang-kadang kehilangan kesadaran.

 

Gejala anafilaksis lainnya mungkin termasuk pusing, lemah, kejang, batuk, kemerahan, atau kram.

 

Gejala dapat dimulai segera setelah paparan alergen dan biasanya mencapai keparahan puncak dalam 5-30 menit.

 

Atopi telah meningkat secara signifikan di Amerika Serikat selama setengah abad terakhir, karena alasan yang tidak dipahami dengan baik.

 

Alergen lingkungan mungkin telah meningkat, dan faktor-faktor pelindung mungkin telah hilang dari lingkungan.

 

Sebagai contoh, ada bukti yang menunjukkan bahwa peningkatan kebersihan pribadi dan perjuangan dunia melawan penyakit menular dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan tubuh.

 

Hipotesis kebersihan yang disebut berteori bahwa kurangnya paparan kuman dan antigen lain di awal kehidupan meningkatkan alergi anak-anak.

 

Perubahan iklim dan perubahan yang menyertai dalam pola vegetasi dan peningkatan produksi serbuk sari juga bisa menjadi faktor yang mempengaruhi.

 

Alergen di Udara

Alergen di udara
Alergen di udara (sumber: pexels.com)

Alergen yang ditularkan melalui udara adalah:

  • serbuk sari tanaman
  • bulu binatang dan bulu
  • bagian tubuh dari tungau debu, yang selalu ada di rumah
  • debu rumah tangga
  • spora jamur
  • kecoak
  • bulu
  • asap rokok
  • bahan kimia
  • pelarut
  • pembersih

 

Serbuk sari dapat menyebabkan rinitis alergi musiman dan kronis.

 

Rinitis musiman terjadi pada waktu yang sama setiap tahun dan disebabkan oleh serbuk sari dari tanaman tertentu, terutama rumput dan pohon di musim semi dan ragweed di akhir musim panas dan gugur.

 

Gejala cenderung memburuk saat musim berlangsung dan sistem kekebalan menjadi peka terhadap antigen tertentu dan menghasilkan respons yang lebih cepat dan lebih kuat.

 

Rinitis alergi kronis atau tahunan dapat disebabkan oleh tungau debu, bulu binatang, kecoak, dan/atau spora jamur.

Alergen di udara menyebabkan reaksi hipersensitivitas langsung di saluran udara bagian atas dan mata.

 

Gejalanya meliputi bersin, pilek, hidung tersumbat, dan tenggorokan gatal atau teriritasi karena tetesan postnasal.

 

Peradangan pada selaput tipis (konjungtiva) yang menutupi mata menyebabkan kemerahan, iritasi, dan meningkatnya robekan konjungtivitis alergi.

 

Asma adalah gangguan pernapasan kronis dan reversibel yang disebabkan oleh obstruksi dan pembengkakan saluran udara.

 

Gejala asma termasuk batuk, mengi, sesak napas, sesak dada, kelelahan, dan kecemasan.

 

Asma dapat dipicu oleh alergen seperti serbuk sari, bulu binatang, debu, bagian kecoa, dan makanan tertentu, serta oleh iritan non-alergen.

 

Alergi Makanan

Alergi Makanan
Makanan Penyebab Alergi (David Castor (dcastor) [CC BY-SA 3.0], via Wikimedia Commons)
Kondisi ini paling umum terjadi pada anak kecil, dan juga dapat berlanjut hingga dewasa. Alergen makanan umum adalah:

  • susu sapi
  • telur
  • biji-bijian seperti gandum atau jagung
  • kacang-kacangan, terutama kacang tanah, kacang kenari, dan kacang Brazil
  • ikan, moluska, dan kerang
  • kedelai
  • beberapa buah, terutama buah berbiji mentah
  • beberapa sayuran, terutama tomat atau kacang-kacangan seperti kacang polong atau kacang-kacangan
  • cokelat
  • rempah-rempah tertentu
  • bahan aditif dan pengawet makanan

 

Sebagian besar kondisi ini dimediasi oleh IgE, yang dihasilkan dari paparan kulit atau saluran pencernaan terhadap alergen dalam makanan.

 

Perbedaan dengan intoleransi makanan

Sebagian kecil dari kondisi ini dimediasi sel-T. Alergi makanan berbeda dari intoleransi makanan.

 

Misalnya, alergi susu disebabkan oleh sensitivitas terhadap alergen (seringkali protein laktalbumin) dalam susu.

 

Sebaliknya, orang yang kekurangan enzim laktase memiliki intoleransi laktosa. Suatu ketidakmampuan untuk mencerna salah satu gula dalam susu.

 

Perbedaan dengan intoleransi gluten

Demikian juga, alergi biji-bijian berbeda dari intoleransi gluten, yang mengiritasi saluran pencernaan, dan penyakit celiac, yang merupakan kelainan autoimun yang diturunkan yang disebabkan oleh gluten dalam gandum, barley, dan gandum hitam.

 

Gejala Alergi Makanan

Gejala kondisi ini tergantung pada jaringan yang paling sensitif terhadap alergen dan apakah alergen telah menyebar secara sistemik melalui sistem peredaran darah.

 

Alergen makanan dapat menyebabkan reaksi hipersensitivitas langsung yang meliputi gatal, bengkak, dan/atau ruam mata, bibir, mulut, dan tenggorokan.

 

Kondisi ini juga dapat menyebabkan gejala pernapasan.

 

Pembengkakan dan iritasi pada lapisan usus dapat menyebabkan mual, muntah, kram, diare, dan gas.

 

Ketika alergen makanan memasuki aliran darah dari saluran pencernaan, mereka dapat menyebabkan gatal-gatal, dermatitis atopik, atau reaksi yang lebih parah seperti angioedema.

 

Beberapa alergen makanan dapat menyebabkan anafilaksis.

 

Reaksi terhadap kacang dan kacang-kacangan lainnya bisa sangat berbahaya sehingga banyak kantin sekolah membatasi atau melarangnya, karena bahkan mencium atau menyentuh kacang dapat menyebabkan reaksi alergi yang parah pada beberapa anak.

 

Alergi obat dan racun

Alergi obat
Ilustrasi Obat Penyebab Alergi (Sumber: pexels.com)

Alergen yang disuntikkan dari obat-obatan atau gigitan serangga dan sengatan dimasukkan langsung ke dalam sirkulasi di mana mereka dapat menyebabkan reaksi lokal, seperti pembengkakan dan iritasi di tempat suntikan, dan reaksi sistemik (sistemik), termasuk anafilaksis.

 

Penisilin dan antibiotik lain, vaksin flu, dan gamma globulin adalah obat yang sering menyebabkan reaksi alergi.

 

Serangga Penyebab Reaksi Hipersensitivitas

Serangga dan arthropoda lain yang gigitan dan sengatannya dapat menyebabkan berbagai reaksi alergi termasuk:

  • tawon dan lebah
  • nyamuk
  • kutu
  • semut api
  • tomcat

 

Gejala reaksi hipersensitivitas racun serangga meliputi:

  • gatal-gatal
  • mata gatal
  • batuk kering
  • penyempitan tenggorokan dan sesak napas
  • mual
  • pusing
  • sakit perut

 

Alergi kulit

Ada tiga jenis utama reaksi hipersensitivitas pada kulit, yaitu:

  1. dermatitis atopik atau eksim
  2. gatal-gatal atau biduran (urtikaria)
  3. dermatitis kontak

 

Dermatitis Atopik

dermatitis atopik
Dermatitis atopik (sumber: The original uploader was Eisfelder at German Wikipedia. [CC BY-SA 3.0], via Wikimedia Commons)
Dermatitis atopik atau eksim adalah reaksi kulit terhadap alergen yang masuk melalui kulit, saluran udara, atau saluran pencernaan.

 

Eksim sering terjadi pada bayi dan anak-anak dengan riwayat keluarga alergi dan biasanya tumbuh terlalu besar pada usia enam tahun.

 

Biasanya terjadi dalam siklus, dimulai dengan kulit kering, gatal yang menjadi meradang ketika digaruk, diikuti oleh luka yang kemudian mengeras.

 

Pada tahap kronis, kulit yang terkena menjadi menebal, kasar, dan bersisik.

 

Eksim paling sering terjadi pada pipi, telinga, leher, dan lipatan dalam siku dan lutut, tetapi juga dapat mempengaruhi bagian tubuh lainnya.

 

Lebih dari setengah anak-anak dengan dermatitis atopik juga menderita asma.

 

Biduran (urtikaria)

Biduran adalah reaksi kulit sistemik yang ditandai dengan bercak-bercak yang terangkat, merah, gatal dengan berbagai ukuran di mana saja di tubuh, tetapi terutama pada perut, dada, lengan, tangan, dan wajah.

 

Seluruh tubuh atau reaksi sistemik dapat terjadi dengan semua jenis alergen tetapi lebih umum terjadi setelah konsumsi atau injeksi makanan atau obat.

 

Angioedema adalah reaksi yang lebih dalam, lebih luas, dan menyakitkan, di mana akumulasi cairan dapat menyebabkan pembengkakan berulang pada kulit, kelopak mata, bibir, selaput lendir, alat kelamin, otak, dan organ lainnya.

 

Namun, angioedema paling sering terjadi pada ekstremitas, jari tangan, jari kaki, dan bagian kepala, leher, dan wajah.

 

Gatal-gatal dan angioedema biasanya merupakan kondisi akut, meskipun kadang-kadang dapat bertahan selama berminggu-minggu.

 

Dermatitis Kontak

Dermatitis kontak memiliki gejala dimulai dengan kuli memerah, gatal, dan melepuh karena kontak kulit dengan alergen.

 

Dermatitis kontak kadang-kadang memiliki pola pengidentifikasian, seperti garis anting-anting atau sarung tangan lateks.

 

Sekitar 3.000 zat yang berbeda dikenal sebagai alergen kontak, termasuk:

  • racun ivy, oak, sumac, dan tanaman lainnya — alergen kulit yang paling umum
  • nikel, paduan nikel, dan logam lainnya
  • bahan kimia, termasuk pewarna
  • kosmetik dan deodoran
  • getah
  • kecoak dan tungau debu
  • makanan tertentu

 

Diagnosis Alergi

Pemeriksaan

Kondisi ini sering dapat didiagnosis dengan riwayat medis yang cermat yang menghubungkan timbulnya gejala dengan paparan terhadap alergen yang dicurigai, serta riwayat alergi keluarga.

 

Pemeriksaan Penunjang

Tes Alergi
Tes Tusuk Kulit Untuk Penilaian Alergi (Sumber: National Institutes of Health (NIH) [Public domain], via Wikimedia Commons)
Tes alergi dapat mengidentifikasi alergen potensial, tetapi hasilnya harus didukung oleh bukti respons alergi.

 

Tes tusuk atau gores kulit dengan dosis kecil dari ekstrak alergen yang dicurigai ke dalam kulit, biasanya di bagian belakang, lengan, atau paha atas.

 

Tes kulit intradermal menyuntikkan alergen ke lapisan luar kulit.

 

Tes intradermal lebih sensitif dan menggunakan jumlah alergen yang lebih sedikit, sehingga dapat digunakan dengan alergen yang berpotensi fatal seperti antibiotik.

 

Reaksi biasanya dievaluasi sekitar 20 menit setelah paparan.

 

Alergen dapat menghasilkan respons imun dan  ruam (flare) imun klasik: lesi kulit dengan area yang terangkat, putih, dan dapat dikompresi, dikelilingi oleh ruam merah.

 

Reaksi kulit yang positif akan terjadi bahkan jika alergen biasanya ditemui di saluran udara atau saluran pencernaan.

 

Pengujian kulit dapat menghasilkan positif palsu dan, kadang-kadang, reaksi alergi yang serius.

 

Jenis-jenis tes alergi lainnya

Ada berbagai tes alergi lainnya.

  • Tes tempel digunakan untuk mendiagnosis dermatitis kontak. Sejumlah kecil alergen potensial ditempatkan pada kulit dan ditutupi dengan perban. Reaksi positif adalah ruam yang muncul dalam 48 jam.
  • Tes provokasi dilakukan dengan pemberian alergen melalui rute normal dalam kondisi yang terkendali secara medis. Sebagai contoh, alergen makanan yang dicurigai dapat dicerna dalam kapsul setelah tidak ada paparan atau pantang mengonsumsi alergen yang dicurigai selama dua minggu atau lebih. Hasilnya dibandingkan dengan respons terhadap konsumsi plasebo. Tes provokasi tidak pernah digunakan ketika ada kemungkinan anafilaksis.
  • Total IgE dalam serum darah dapat diukur; Namun, ada tumpang tindih yang cukup dalam kadar serum IgE di antara orang dengan dan tanpa alergi. Kondisi non-alergi, termasuk merokok, HIV/AIDS, infeksi parasit, dan IgE myeloma, dapat meningkatkan kadar IgE.
  • IgE spesifik alergen dapat diukur dengan menginkubasi serum pasien dengan alergen yang dicurigai dengan dukungan padat. Uji radioallergosorbent (RAST), multiple radioallergosorbent test (MAST), dan radioimmunosorbent test (RIST) menggunakan antibodi anti-IgE radioaktif untuk mendeteksi ikatan. Uji immunosorbent terkait enzim (ELISA) menggunakan antibodi anti-IgE terkait dengan enzim. CAP-RAST mengukur jumlah IgE dalam darah yang spesifik untuk makanan tertentu.
  • Pengujian elektrodermal atau uji alergi akupuntur elektrik menerapkan potensi listrik pada kulit dan mengukur perubahan resistensi listrik setelah terpapar alergen yang dicurigai.

 

Pengobatan Alergi

Pengobatan alergi yang paling efektif adalah menghindari alergen tertentu.

 

Walaupun ini biasanya dilakukan dengan alergen makanan, bisa jadi sulit untuk menghindari jenis alergen lain.

 

Imunoterapi atau suntikan alergen atau desensitisasi dapat mengubah keseimbangan jenis antibodi dalam tubuh.

 

Pengobatan ini digunakan ketika alergen tidak dapat dihindari, dan obat-obatan tidak dapat menghilangkan gejala.

 

Ekstrak alergen disuntikkan ke kulit dalam jumlah yang meningkat secara bertahap selama beberapa minggu, bulan, atau tahun, dengan suntikan penguat sesekali.

 

Jumlah alergen terlalu kecil untuk memicu respons alergi, meskipun pasien dipantau secara ketat setelah setiap suntikan karena risiko kecil anafilaksis.

 

Lebih dari 1.200 ekstrak alergen telah disetujui untuk imunoterapi.

 

Imunoterapi paling efektif untuk rinitis alergi dan racun serangga.

 

Beberapa ahli merekomendasikan imunoterapi pencegahan untuk anak-anak yang memiliki reaksi parah terhadap sengatan serangga.

 

Namun, imunoterapi mungkin memerlukan pengobatan selama beberapa tahun untuk manfaat penuh, dan sekitar satu dari lima pasien tidak merespons sama sekali.

 

Imunoterapi biasanya tidak efektif untuk bulu, makanan, atau alergi obat atau untuk eksim atau biduran.

 

Obat

Ada banyak obat bebas dan resep untuk mengobati reaksi hipersensitivitas secara langsung.

 

Sebagian besar bekerja dengan mengganggu aktivitas histamin.

 

Obat yang lain menangkal efek histamin dengan menstimulasi sistem lain atau dengan mengurangi respons imun secara umum.

 

Obat-obatan tersedia dalam bentuk pil, cairan, semprotan hidung, obat tetes mata, dan krim kulit.

 

Obat yang tepat tergantung pada gejala dan kesehatan keseluruhan pasien. Seorang dokter dapat merekomendasikan mencoba berbagai obat untuk menentukan mana yang paling efektif dengan efek samping paling sedikit.

 

Antihistamin/dekongestan

Antihistamin dan dekongestan adalah pengobatan paling umum untuk alergi, termasuk rinitis, ruam, dan gatal-gatal.

 

Antihistamin

Antihistamin memblokir reseptor histamin, sehingga mengurangi efek histamin yang dilepaskan oleh sel mast.

 

Obat ini dapat digunakan setelah gejala muncul, meskipun mereka mungkin lebih efektif ketika digunakan secara preventif, sebelum gejala muncul.

 

Antihistamin membantu mengurangi bersin, gatal, dan pilek (rinore).

 

Obat tetes mata resep mengandung antihistamin yang dapat mengurangi gejala mata alergi.

 

Antihistamin generasi pertama meliputi diphenhydramine (Benadryl dan obat generik), chlorpheniramine (Chlor-trimeton dan obat generik), brompheniramine, dan clemastine.

 

Mengantuk bisa menjadi efek samping utama dari obat generasi pertama.

 

Obat ini juga dapat menyebabkan pusing, mulut kering, takikardia, penglihatan kabur, sembelit, dan ambang batas kejang yang lebih rendah.

 

Antihistamin generasi baru yang tidak menyebabkan kantuk atau melewati sawar darah-otak termasuk:

  • loratadine
  • setirizin
  • fexofenadine
  • desloratadine
  • azelastine

 

Dekongestan

Dekongestan menyempitkan pembuluh darah di mukosa nasofaring dan sinus, mengurangi pembengkakan dan mengurangi hidung tersumbat dan sinus.

 

Obat ini tersedia sebagai persiapan sistemik oral dan semprotan hidung.

 

Dekongestan adalah stimulan dan dapat menyebabkan peningkatan detak jantung dan tekanan darah, sakit kepala, insomnia, agitasi, dan kesulitan mengosongkan kandung kemih.

 

Penggunaan dekongestan hidung selama lebih dari tiga hari dapat berakibat pada hilangnya keefektifan dan peningkatan sumbatan di mana saluran hidung menjadi semakin membengkak.

 

Pengubah sistem kekebalan tubuh

Cromolyn sodium adalah stabilisator sel mast nonsteroid yang mencegah pelepasan granula sel mast yang mengandung histamin dan bahan kimia lainnya.

 

Obat ini dapat dimulai beberapa minggu sebelum dimulainya musim alergi sebagai pengobatan pencegahan.

 

Obat ini juga dapat digunakan untuk pencegahan alergi sepanjang tahun.

 

Cromolyn sodium tersedia sebagai semprotan hidung untuk mengobati rinitis alergi dan dalam bentuk aerosol untuk asma.

 

Jenis-jenis obat alergi yang lebih baru termasuk:

  • pengubah IgE omalizumab yang mengganggu aksi sel mast
  • pengubah leukotrien atau antileukotrien termasuk zafirlukast, montelukast, dan zileuton (Zyflo) yang memblok kerja leukotrien (zat inflamasi yang dilepaskan oleh sistem kekebalan tubuh selama reaksi alergi)
  • salep topikal imunomodulator, termasuk pimecrolimus dan tacrolimus, yang mengganggu mekanisme sel yang menghasilkan respons inflamasi
  • ekstrak alergen untuk rinitis alergi, termasuk ekstrak serbuk sari rumput (Oralair dan Grastek), ekstrak serbuk sari ragweed (Ragwitek untuk orang dewasa saja), dan ekstrak tungau debu rumah (Odactra hanya untuk orang dewasa)

 

Kortikosteroid

Kortikosteroid membantu mencegah dan mengobati peradangan yang berhubungan dengan alergi dengan mengurangi perekrutan sel-sel inflamasi dan sintesis bahan kimia sistem kekebalan yang disebut sitokin.

 

Penelitian telah menunjukkan bahwa semprotan hidung steroid lebih efektif berdasarkan kebutuhan untuk alergi musiman daripada antihistamin.

 

Walaupun gatal-gatal dan angioedema biasanya diobati dengan antihistamin, kromolin, atau epinefrin, kasus-kasus yang sulit ditangani dapat diobati dengan kortikosteroid oral.

 

Kortikosteroid juga digunakan untuk mencegah dan mengendalikan serangan asma.

 

Kortikosteroid topikal mengurangi selaput lendir dan peradangan kulit dengan mengurangi jumlah cairan yang bergerak dari ruang pembuluh darah ke jaringan.

 

Krim kortikosteroid topikal efektif untuk dermatitis kontak, meskipun terlalu sering dapat menyebabkan kulit kering dan bersisik.

 

Kortikosteroid yang cukup kuat dapat diaplikasikan sebagai bungkus selama 24 jam.

 

Terapi kortikosteroid oral jangka pendek mungkin sesuai untuk dermatitis kontak akut. Efek samping biasanya ringan.

 

Bronkodilator

Karena reaksi alergi yang melibatkan paru-paru menyebabkan saluran udara atau saluran bronkial menyempit, bronkodilator yang mengendurkan otot polos untuk melebarkan saluran udara bisa sangat efektif untuk mengobati serangan asma. Bronkodilator meliputi:

  • epinefrin
  • Albuterol
  • pirbuterol
  • teofilin
  • stimulan adrenergik lainnya

 

Sebagian besar bronkodilator diberikan sebagai aerosol.

 

Teofilin biasanya diminum tetapi dapat diberikan secara intravena untuk serangan asma yang parah.

 

Bronkodilator sering diberikan melalui inhaler takaran terukur (MDI).

 

Keadaan darurat anafilaksis diobati dengan injeksi epinefrin, yang melemaskan otot dan membantu membuka saluran udara.

 

Orang yang rentan terhadap anafilaksis karena alergi makanan atau serangga sering membawa Epipen untuk injeksi epinefrin segera ke paha.

 

Pengobatan Alternatif

Berbagai pengobatan alternatif dapat membantu meringankan gejala alergi, tetapi ada sedikit bukti untuk efektivitasnya.

  • Pengobatan Tiongkok tradisional menggunakan obat kombinasi untuk mencegah dan mengobati rinitis alergi dan obat herbal, krim topikal, dan mencuci untuk ruam dan dermatitis atopik. Obat yang mengandung ephedra (ma huang) tidak boleh digunakan karena risiko kesehatan yang parah.
  • Berbagai obat homeopati disarankan untuk sumbatan hidung, sengatan serangga, gatal-gatal, dan ruam.
  • Akupunktur mungkin sama efektifnya dengan antihistamin untuk mengobati rinitis alergi dan memperkuat sistem kekebalan tubuh.
  • Vitamin antioksidan dan A, E, koenzim Q10, dan seng dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh normal tetapi tidak akan mengurangi alergi atau gejala alergi.
  • Echinacea spp. mungkin memiliki aktivitas anti-inflamasi dan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
  • Astragalus membranaceus dapat membantu memperkuat sistem kekebalan tubuh tetapi tidak akan mengurangi alergi atau gejala alergi.
  • Vitamin C memiliki aktivitas antihistamin dan dekongestif.
  • Ekstrak sengatan jelatang (Urtica dioica) dan anggur (Vitis vinifera) memiliki sifat antihistamin dan antiinflamasi.
  • Bioflavonoid hesperidin dan quercetin dapat membantu menstabilkan sel mast.
  • Suplemen makanan N-asetilsistein mungkin memiliki aktivitas dekongestif.
  • Licorice (Glycyrrhiza glabra) memiliki aktivitas anti-inflamasi seperti kortison untuk menghilangkan gejala alergi.
  • Kulit kepala Cina (Scutellaria baicalensis), khellin (Ammi visnaga), dan kulit kram (Viburnum opulus) memiliki aktivitas bronkodilatasi.

 

Solusi Pengobatan Rumahan

Obat yang paling penting untuk alergi adalah menghindari atau menghilangkan alergen, termasuk mengendalikan debu rumah tangga, menghilangkan binatang peliharaan dan barang-barang seperti bantal bulu, dan menghilangkan makanan alergen dari makanan.

 

Membilas saluran hidung dengan larutan garam (NaCl 0,9%) bisa seefektif dekongestan.

 

Eksim diobati dengan menjaga kulit dilumasi dengan lotion hypoallergenic dan sabun lembut.

 

Untuk kulit yang sangat kering dan sensitif, lotion Cetaphil dapat digunakan sebagai pembersih daripada sabun.

 

Kompres air dingin dan lotion kalamin dapat membantu mengurangi iritasi akibat dermatitis kontak.

 

Prosedur desensitisasi oral kadang-kadang digunakan untuk anak-anak yang alergi terhadap susu, telur, ikan, atau apel.

 

Anak-anak terpapar pada makanan alergi dalam jumlah yang dikontrol dengan hati-hati, sehingga membantu mereka mengembangkan toleransi.

 

Prognosa

Alergi dapat berubah seiring waktu: kadang-kadang membaik tetapi sering memburuk.

 

Dermatitis atopik bayi hampir selalu menghilang.

 

Anak-anak kecil seringkali tumbuh melampaui alergi makanan berbahaya terhadap susu, telur, gandum, dan kedelai, meskipun anak-anak yang mengembangkan alergi makanan setelah usia tiga tahun lebih kecil kemungkinannya untuk berkembang.

 

Alergi terhadap makanan seperti kacang pohon, ikan, dan makanan laut umumnya seumur hidup.

 

Lebih dari separuh anak-anak mengatasi asma, dan 10% lainnya membaik ke titik di mana mereka hanya mengalami serangan sesekali saat dewasa.

 

Namun, kehilangan alergi yang jelas paling sering disebabkan oleh berkurangnya paparan alergen atau meningkatnya toleransi terhadap gejala.

 

Alergi ragweed anak-anak dapat berkembang menjadi alergi debu dan serbuk sari sepanjang tahun.

 

Terkadang alergi hilang hanya untuk kembali bertahun-tahun kemudian. Sebagian besar gejala alergi dapat berhasil diobati dengan obat-obatan, tetapi obat-obatan biasanya tidak mencegah reaksi alergi di masa depan.

 

Namun, suntikan alergi dapat mengurangi gejala demam pada sekitar 85% pasien.

 

Referensi

Buku

  1. Allergies Sourcebook. 5th ed. Detroit: Omnigraphics, 2016.
  2. Bassett, Clifford W. The New Allergy Solution: Supercharge Resistance, Slash Medication, Stop Suffering. New York: Avery, 2017.
  3. Galland, Leo, and Jonathan Galland. The Allergy Solution: Unlock the Surprising, Hidden Truth About Why You Are Sick and How to Get Well. Carlsbad, CA: Hay House, 2016.
  4. Mindell, Earl, and Pamela Wartian Smith. What You Must Know About Allergy Relief: How to Overcome the Allergies You Have & Find the Hidden Allergies That Make You Sick. Garden City Park, NY: Square One, 2016.
  5. Pompa, Robin Nixon. Allergy-Free Kids: The Science-Based Approach to Preventing Food Allergies. New York: William Morrow, 2017.
  6. Schwartz, Mireille. When Your Child has Food Allergies: A Parent’s Guide to Managing It All, from the Everyday to the Extreme. New York: AMACOM, 2017.

 

Website

  1. American College of Allergy, Asthma & Immunology. “Allergic Reactions.”http://www.aaaai.org/conditions-and-treatments/library/at-a-glance/allergic-reactions
  2. American College of Allergy, Asthma & Immunology. “Allergy” February 18, 2016.http://acaai.org/news/facts-statistics/allergies.aspx 
  3. Asthma and AllergyFoundation of America. “Allergies.” September 2015.http://www.aafa.org/page/allergies.aspx⊂=15 .
  4. National Institute of Allergyand Infectious Diseases. “Food Allergy.” March 27, 2017.https://www.niaid.nih.gov/diseases-conditions/food-allergy 
  5. S. Food and Drug Administration. “AllergyRelief for Your Child.” For Consumers. June 1, 2017.https://www.fda.gov/forconsumers/consumerupdates/ucm273617.htm 
Featured Image Mengurangi Konsumsi Kafein

Mengurangi Konsumsi Kafein: Mengapa & Bagaimana?

Ada beberapa kondisi yang memerlukan perhatian bila Anda ingin mengurangi konsumsi kafein. Salah satunya mungkin bila dokter Anda menyarankan Anda mengurangi konsumsi kafein. Lalu, kapan dan mengapa Anda harus mengurangi konsumsi kafein Anda serta bagaimana cara menguranginya?

mengurangi konsumsi kafein
sumber: picjumbo.com

Berikut adalah beberapa langkah untuk membantu Anda melakukannya.

 

Mengapa Harus Mengurangi Konsumsi Kafein?

kopi dan kafein
sumber: picjumbo.com

Kafein adalah stimulan ringan. Banyak orang minum kopi, teh, atau soda akan mendapatkan efek ini.

 

Kafein akan membantu kita merasa lebih terjaga dan waspada. Namun, efek stimulan ini juga dapat menyebabkan kegugupan, kecemasan, dan kesulitan tidur.

 

Toleransi (ambang batas munculnya efek suatu zat) setiap orang terhadap kafein berbeda.

 

Seiring bertambahnya usia, kita menjadi lebih sensitif terhadap efek kafein.

 

Anda mungkin disarankan untuk mengurangi konsumsi kafein dalam situasi tertentu. Sebagai contoh:

  • Jika Anda sedang hamil atau menyusui. Selama kehamilan, Anda mungkin lebih sensitif terhadap kafein. Selain itu, kafein dapat melewati plasenta dan ASI sehingga bayi Anda juga akan terpengaruh dengan kafein yang Anda konsumsi.
  • Jika Anda memiliki masalah medis tertentu seperti tekanan darah tinggi atau faktor risiko lain untuk serangan jantung, gastritis, atau bisul. Diskusikan dengan dokter Anda tentang bagaimana kafein mempengaruhi Anda untuk menentukan apakah Anda perlu mengurangi konsumsinya.

 

Bagaimana Cara Mengurangi Konsumsi Kafein?

kurangi kopi
sumber: picjumbo.com

Pertama, Anda perlu mengetahui semua sumber kafein yang mungkin ada dalam makanan Anda.

 

Tabel berikut ini dapat membantu Anda untuk memahami kandungan kafein dari berbagai minuman.

 

Sementara cokelat tidak mengandung kafein, tapi cokelat mengandung theobromine.

 

Bagi sebagian orang, theobromine dalam cokelat memiliki efek yang sama dengan kafein.

 

Ini daftar kandungan kafein dari beberapa minuman yang sering Anda konsumsi.

 

Sumber Kafein

Porsi

Rata-Rata Kandungan Kafein

Obat Bebas

Bodrex1 tablet120 mg
Panadol1 tablet65 mg
Oskadon1 tablet35 mg
Oskadon Ekstra1 tablet200 mg
Procold Obat Sakit Kepala1 tablet65 mg

Kopi

Kopi, manual brew16 Oz/480 mL133 mg
Kopi espresso2 Oz/60 mL150 mg
Kopi Instan8 Oz/240 mL148 mg
Kopi Dekafein12 Oz/360 mL2-10 mg

Teh

Teh Hitam16 Oz/480 mL30 mg
Teh hijau8 Oz/240 mL30-80 mg

 

Mengurangi Secara Bertahap

segelas kafein
sumber: picjumbo.com

Cara yang paling efektif untuk mengurangi konsumsi kafein adalah menguranginya secara bertahap.

 

Beberapa orang mengalami sakit kepala atau kantuk jika Anda langsung menghilangkan semua sumber kafein dari makanan mereka.

 

Mengurangi konsumsi kafein secara bertahap dapat membantu mencegah efek ini. Cobalah hal berikut ini:

  1. Campurkan setengah kopi biasa dan setengah tanpa kafein
  2. Minumlah kopi instan yang memiliki lebih sedikit kafein daripada kopi biasa. Pastikan bahwa kafeinnya lebih sedikit karena sebagian besar kopi instan justru mengandung kafein dengan jumlah yang lebih besar
  3. Menyeduh teh untuk waktu yang lebih singkat. menyeduh teh selama 1 menit mengandung sekitar setengah dari kafein dibandingkan teh yang diseduh selama 3 menit.

 

Jika Anda menemukan bahwa salah satu dari tiga metode pengurangan konsumsi kafein ini bekerja untuk Anda, maka Anda dapat mulai:

  1. Minumlah kopi atau teh tanpa kafein, yang hampir tidak mengandung kafein.
  2. Minum teh herbal, yang secara alami tidak mengandung kafein.
  3. Ganti kopi, teh, dan soda dengan air atau jus.

 

Jika Anda mencoba menurunkan berat badan, jangan lupa bahwa jus dan minuman ringan mengandung gula mungkin memiliki lebih banyak kalori daripada beberapa minuman berkafein yang sering Anda minum.

 

Referensi
  1. EBSCO DynaMed website. Available at: http://www.ebscohost.com/dynamed
  2. Caffeine and heart disease. American Heart Association website. Available at: http://www.heart.org/HEARTORG/GettingHealthy/NutritionCenter/HealthyDietGoals/Caffeine-and-Heart-Disease_UCM_305888_Article.jsp.
  3. Caffeine content of food & drugs. Center for Science in the Public Interest website. Available at: http://www.cspinet.org/new/cafchart.htm
  4. Cornelis MC, El-Sohemy A, Kabagambe EK, Campos H. Coffee, CYP1A2 genotype, and risk of myocardial infarction. JAMA. 2006;295(10):1135-1141.
  5. Lopez-Garcia E, van Dam RM, Willett WC, et al. Coffee consumption and coronary heart disease in men and women: a prospective cohort study. Circulation. 2006;113(17):2045-2053.
  6. Neurodegenerative disorders: coffee and age-related cognitive decline. Coffee & Health website. Available at: http://www.coffeeandhealth.org/coffee-and-health-topics/coffee-consumption-and-neurodegenerative-disorders/coffee-and-age-related-cognitive-decline/
Featured Image ibu hamil naik pesawat

Ibu Hamil Naik Pesawat Berbahaya Bagi Janin?

Keamanan yang semakin tinggi membuat perjalanan udara semakin diminati baik oleh wisatawan atau pun orang-orang yang melakukan perjalanan bisnis. Dibandingkan dengan pilihan model transportasi lainnya, bepergian dengan pesawat tetap merupakan cara yang sangat aman untuk dilakukan. Tetapi apakah kondisi ini aman untuk semua orang? Salah satu kelompok penumpang pesawat yang berpotensi rentan adalah wanita hamil dan “penumpang rapuh” yang mereka bawa. Lalu, apakah ada bahaya yang muncul pada janin bila ibu hamil naik pesawat ?.

 

Bukti untuk Klaim Kesehatan Bahwa Ibu Hamil Naik Pesawat Berbahaya Bagi Janin

ibu hamil
Sumber: pixabay.com

Salah satu risiko kesehatan yang diberikan dokter terhadap ibu hamil naik pesawat adalah tekanan kabin yang lebih rendah dan penurunan kadar oksigen selama penerbangan.

 

Banyak dokter menyarankan pasien mereka untuk menghindari terbang di ketinggian tertentu, untuk meminimalkan kemungkinan keguguran akibat kekurangan oksigen pada janin.

 

Bahkan, oksigen tambahan sering diberikan kepada penumpang yang mengalami komplikasi dalam kehamilan mereka dan masih harus menjalani penerbangan.

 

Masalah kesehatan lainnya adalah risiko bagi janin ketika wanita hamil terpapar radiasi kosmik selama penerbangan pada ketinggian yang sangat tinggi.

 

Meskipun hal ini dapat menimbulkan risiko minimal bagi ibu hamil naik pesawat sesekali. Orang-orang yang lebih sering terbang termasuk pilot dan pramugari, lebih sering terkena tingkat radiasi yang lebih intens.

 

Beberapa ahli mengklaim bahwa paparan janin terhadap radiasi dalam penerbangan dapat menyebabkan cacat lahir dan peningkatan risiko kanker pada anak dikemudian hari.

 

Bukti Yang Bertentangan Dengan Klaim Kesehatan Bahwa Ibu Hamil Naik Pesawat Berbahaya Bagi Janin

ibu hamil naik pesawat
Sumber: pixabay.com

Banyak dokter dan pakar kesehatan penerbangan berpendapat bahwa perjalanan udara komersial tidak menimbulkan risiko khusus bagi wanita hamil atau janinnya.

 

Ahli kedokteran penerbangan berpendapat bahwa tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa kejadian keguguran lebih besar pada ibu hamil naik pesawat dan awak kabin daripada populasi umum.

 

Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa 15% -20% wanita hamil akan mengalami keguguran secara spontan pada tahap awal kehamilan, terlepas dari pekerjaan mereka.

 

Terkait masalah radiasi, banyak ahli sepakat bahwa faktor penentu dalam menilai risiko pada janin adalah tingkat paparan serta panjang dan frekuensi penerbangan.

 

Faktanya, banyak ahli kesehatan mengatakan bahwa paparan radiasi selama penerbangan komersial sangat rendah, jauh di bawah dosis yang berpotensi membahayakan janin.

 

Kesimpulan

amankah bayi terbang
Sumber: pixabay.com

Tidak ada bukti yang cukup untuk mendukung klaim bahwa ibu hamil naik pesawat berbahaya bagi ibu dan janin, terutama untuk penerbangan yang lebih lama di mana kabinnya memiliki tekanan yang baik.

 

Wanita dengan masalah medis yang signifikan dan ibu hamil yang kehamilannya dianggap berisiko tinggi pada umumnya harus menghindari penerbangan kecuali benar-benar diperlukan.

 

Semua wanita hamil harus berkonsultasi dengan dokter mereka sebelum merencanakan perjalanan udara.

 

Tentu saja, sebagian besar dokter dengan bijak menyarankan pasien mereka untuk tidak terbang selama bulan terakhir kehamilan, karena ketinggian 35.000 kaki bukanlah tempat yang ideal untuk melahirkan.

 

Pertimbangan penting lainnya adalah tujuan, yang dapat menimbulkan risiko jauh lebih besar daripada penerbangan itu sendiri, terutama jika bepergian secara internasional.

 

Misalnya, ibu hamil tersebut berencana untuk berwisata ke daerah dengan penyakit endemis misalnya malaria.

 

Di Indonesia, masing-masing maskapai penerbangan memiliki prosedur perjalanan untuk ibu hamil.

 

Misalnya, maskapai Garuda Indonesia, Ibu hamil diizinkan terbang bersama Garuda Indonesia sesuai dengan kondisi dan usia kehamilannya berdasarkan tabel di bawah ini.

 

Tabel Prosedur Perjalanan untuk Ibu Hamil Garuda Indonesia

KATEGORIUSIA KEHAMILANLARANGANINFORMASI MEDIF 1INFORMASI MEDIF 2SURAT IZIN/
FORMULIR PERTANGGUNGAN
PERSETUJUAN DARI GSM/
JKTIH
KEHAMILAN SINGLE,
KESEHATAN NORMAL,
TIDAK ADA KOMPLIKASI *)
DI BAWAH 32 MINGGUTIDAKTIDAKTIDAKYA **)TIDAK DIBUTUHKAN
KEHAMILAN KEMBAR,
KESEHATAN NORMAL,
TIDAK ADA KOMPLIKASI *)
DI BAWAH 32 MINGGUTIDAKTIDAKTIDAKYA **)TIDAK DIBUTUHKAN
KEHAMILAN DENGAN KOMPLIKASIDI BAWAH 32 MINGGUYAYA ***)YA ***)YA **)DIBUTUHKAN
KEHAMILAN SINGLE, KEMBAR,
KESEHATAN NORMAL,
TIDAK ADA KOMPLIKASI
32 – 36 MINGGUYAYA ***)YA ***)YA **)DIBUTUHKAN
KEHAMILAN DENGAN KOMPLIKASI32 – 36 MINGGUYAYA ***)YA ***)YA **)DIBUTUHKAN
SEMUA KATEGORILEBIH DARI 36 MINGGUTIDAK DIIZINKAN MELAKUKAN PERJALANAN
Catatan:

*) Jika seorang ibu hamil terlihat tidak sehat saat check-in, informasi medis dan persetujuan dari Garuda Sentra Medika (GSM) akan dibutuhkan.

**) Ibu hamil yang melakukan perjalanan di sektor internasional diharuskan melampirkan fotokopi paspor mereka.

***) Harus diperoleh atau disetujui oleh Garuda Sentra Medika (GSM) minimal 7 hari sebelum keberangkatan.

Informasi medis, formulir pertanggungan, dan persetujuan dapat diperoleh di Garuda Sentra Medika (GSM).

Jika Anda membutuhkan bantuan lebih lanjut, Anda dapat mengunjungi Garuda Sentra Medika (GSM) untuk konsultasi dan perolehan dokumen yang dibutuhkan untuk penerbangan Anda.

 

Referensi
  1. Air travel during pregnancy: is it safe? Mayo Clinic website. Available at http://www.mayoclinic.com/health/air-travel-during-pregnancy/AN00398.
  2. In-flight radiation exposure during pregnancy. American College of Obstetricians and Gynecologists website. Available at http://www.acog.org/from_home/publications/green_journal/2004/v103n6p1326.pdf.
  3. Preconceptional planning, pregnancy, and travel. Centers For Disease Control and Prevention website. Available at http://www2.ncid.cdc.gov/travel/yb/utils/ybGet.asp?section=special&obj=pregnant.htm.
  4. Pregnancy and flying. Health Physics Society website. Available at http://hps.org/publicinformation/ate/faqs/pregnancyandflying.html.
  5. Pregnant? you can still travel. ThirdAge website. Available at http://www.thirdage.com/healthgate/files/14617.html.
  6. Work and travel during pregnancy. University of Pennsylvania Health System website. Available at http://www.pennhealth.com/health_info/pregnancy/000237.htm.
  7. Prosedur Perjalanan Untuk Ibu Hamil. Garuda Indonesia. Tersedia Pada https://www.garuda-indonesia.com/id/id/garuda-indonesia-experience/on-ground/traveling-procedures-for-expectant-mothers.page
Featured Image Serangan Jantung

Serangan Jantung Lebih Fatal Pada Wanita

Angka kematian karena penyakit jantung koroner telah menurun drastis. Kondisi ini tercapai karena kemajuan dalam pengobatan medis dan strategi pencegahan selama 40 tahun terakhir. Namun, sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa kejadian serangan jantung (infark miokard akut) meningkat pada wanita dengan usia yang lebih muda.

 

Serangan Jantung
Ilustrasi Serangan Jantung Sumber: pixabay.com

 

Pendahuluan

Angka kejadian serangan jantung secara keseluruhan tetap lebih tinggi pada pria, tapi kematian karena kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita.

 

Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab kematian global untuk pria dan wanita.

Akan tetapi, wanita lebih mungkin meninggal karena serangan jantung dibandingkan dengan pria.

 

Hal ini terjadi berdasarkan fakta bahwa wanita yang mengalami serangan jantung sering kali mengalami gejala yang tidak khas.

 

Wanita mungkin mengalami perasaan sakit yang tidak menyenangkan, yang lebih mudah untuk diabaikan daripada nyeri dada yang intens yang terkait dengan serangan jantung.

 

Akibatnya, tanda-tanda awal biasanya terlewatkan pada wanita, sehingga pengobatan tertunda, dan jantung mengalami lebih banyak kerusakan.

 

Perbedaan fisiologis juga telah diamati antara pria dan wanita yang mengalami serangan jantung.

 

Serangan jantung paling umum adalah konsekuensi dari iskemia jantung (berkurangnya pasokan oksigen) akibat penyumbatan arteri koroner.

 

Namun, pada lebih dari setengah wanita dengan penyakit jantung iskemik, penyumbatan ditemukan di pembuluh darah yang lebih kecil di dalam jantung.

 

Penyumbatan ini tidak muncul pada angiogram (pemeriksaan radiologis untuk menilai pembuluh darah koroner), yang biasanya digunakan untuk mendiagnosis iskemia jantung.

 

Kejadian Serangan Jantung Meningkat Pada Wanita Muda

Bahaya Serangan Jantung
Tekanan Darah Tinggi Sumber: pixabay.com

Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah temuan bahwa insiden serangan jantung pada wanita berusia kurang dari 55 tahun meningkat.

 

Kejadian kondisi ini di antara wanita yang lebih muda lebih tinggi daripada 20 tahun yang lalu, namun angka ini telah meningkat pada pria yang lebih muda pada waktu yang sama.

 

Studi surveilans Atherosclerosis Risk in Communities (ARIC) meninjau hampir 29.000 pasien rawat inap dengan penyakit infark miokard akut di empat komunitas Amerika Serikat antara 1995 dan 2014. Secara keseluruhan, sekitar sepertiga di antaranya adalah pasien muda berusia 35 hingga 54 tahun.

 

Angka rawatan karena penyakit infark miokard akut untuk pasien muda terus meningkat dari 27% pada tahun 1995 menjadi 1999 menjadi 32% dari 2010 hingga 2014, dengan peningkatan terbesar diamati pada wanita muda.

 

Seperlima dari angka rawatan antara 1995 dan 1999 adalah wanita berusia 35-54 tahun.

 

Jumlah ini meningkat hampir sepertiga antara 2010 dan 2014.

 

Penurunan jumlah infark miokard akut terlihat di antara pria berusia 35-54 tahun pada periode yang sama.

 

Insidensi komorbiditas (penyakit yang dapat memperburuk kondisi infark miokard) yang lebih tinggi pada wanita daripada pria, seperti hipertensi (73 vs 59%) dan diabetes mellitus (35 vs 25%) mungkin berkontribusi pada perbedaan dalam insiden serangan jantung.

 

Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa wanita yang dirawat di rumah sakit karena infark miokard akut adalah 21% lebih kecil kemungkinannya daripada pria untuk menerima terapi untuk membuka arteri yang tersumbat dan hingga 17% lebih kecil kemungkinannya untuk mendapatkan resep pengobatan pencegahan, seperti antikoagulan, seperti yang direkomendasikan dalam pedoman pengobatan .

 

Kesimpulan

Meningkatnya insiden wanita muda yang dirawat di rumah sakit dengan infark miokard akut, bersama dengan tingkat kematian yang lebih tinggi pada wanita menyoroti kebutuhan untuk menargetkan pencegahan primer dan meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah pada wanita untuk mencegah tren buruk ini terus berlanjut.

 

Misalnya, wanita harus didorong untuk memastikan bahwa mereka harus melakukan setidaknya 150 menit olahraga setiap minggu untuk mengurangi risiko obesitas dan tekanan darah tinggi.

 

Selain itu, kesadaran yang lebih besar tentang perbedaan gender dalam etiologi serangan jantung diperlukan untuk memastikan bahwa wanita yang menderita iskemia jantung menerima pengobatan terbaik.

 

featured image cara menghilangkan jerawat

Cara Menghilangkan Jerawat Dengan Diet Jerawat

Sebagian besar orang mempercayai bahwa makanan yang dikonsumsi berpengaruh terhadap kemunculan jerawat pada wajah. Bahkan, ada yang mempercayai bahwa diet bebas jerawat merupakan salah satu cara menghilangkan jerawat dari wajah.

Pembentukan JerawatOSC Microbio 21 02 acne.jpg
By CNX OpenStax – https://cnx.org/contents/[email protected], CC BY 4.0, Link

Benarkah demikian? Faktanya, tidak ada satu pun diet bebas jerawat yang direkomendasikan secara resmi oleh salah satu organisasi ilmiah di bidang kedokteran dan kesehatan.

 

Diet bebas jerawat sendiri dianggap sebagai pengaturan pola makan untuk mencegah dan sebagai cara menghilangkan jerawat yang efektif.

 

Dokter, ahli gizi, dan penderita jerawat telah bereksperimen dengan berbagai modifikasi diet, beberapa di antaranya diklaim efektif.

 

Internet dan toko buku penuh dengan sumber daya yang mengklaim tahu cara menghilangkan jerawat dengan diet.

 

Komunitas medis telah terlibat dalam perdebatan tentang dampak diet pada jerawat, dan selama bertahun-tahun, banyak dokter mengklaim bahwa jerawat tidak terpengaruh oleh diet.

 

Namun, semakin banyak bukti yang mendukung gagasan bahwa makanan tertentu memengaruhi kulit dan bahwa kekurangan nutrisi memengaruhi kesehatan dan penampilan kulit.

 

Sebelum membahas lebih jauh apa saja yang harus dilakukan pada diet bebas jerawat, sebaiknya kita mengetahui dari mana istilah diet bebas jerawat ini berasal.

 

Sejarah Diet Bebas Jerawat

Cara Menghilangkan JerawatPimples.jpg
By AlexanderHovanecOwn work, CC BY-SA 4.0, Link

Kebanyakan budaya memiliki obat tradisional untuk membantu membersihkan kulit, dan sampai tahun 1960-an kebanyakan orang Amerika percaya bahwa diet tinggi gula menyebabkan jerawat.

 

Pada akhir abad ke-20, penelitian ilmiah yang serius berusaha untuk mengkonfirmasi atau menyangkal dongeng dan mitos rakyat ini.

 

Penelitian awal gagal menemukan hubungan antara makanan dan jerawat. Salah satu penelitian pertama tentang makanan dan jerawat berfokus pada cokelat, berdasarkan pada keyakinan bahwa cokelat berkontribusi terhadap jerawat.

 

Penelitian ini menemukan bahwa cokelat tidak meningkatkan jerawat. Sebagian besar penelitian lain telah mengkonfirmasi temuan ini. Berdasarkan temuan awal ini, dokter kulit bersikeras bahwa diet tidak membuat perbedaan terkait dengan kemunculan atau hilangnya jerawat.

 

Namun, penelitian terus berlanjut. Penelitian lain menyelidiki kelompok etnis dan komunitas dengan sedikit atau tidak ada kejadian jerawat, seperti orang-orang dari Kepulauan Pasifik dan Afrika.

 

Ketika diet daerah-daerah ini dibandingkan dengan makanan khas Barat, ada perbedaan nutrisi yang signifikan: kelompok etnik dengan insiden jerawat yang sangat rendah mengonsumsi makanan nabati yang hampir bebas gula, sedangkan makanan Barat banyak mengandung daging, lemak jenuh, gula rafinasi, dan makanan olahan.

 

Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan bahwa mungkin ada beberapa hubungan antara diet dan kondisi kulit, walaupun, pasti, banyak perbedaan gaya hidup lainnya juga mungkin berperan.

 

Pada 2000-an dan 2010-an, beberapa penelitian telah menemukan hubungan antara makanan indeks glikemik tinggi dan jerawat. Laporan internet yang meluas tentang pembersihan kulit secara ajaib setelah perubahan pola makan memperluas pembicaraan tentang topik tersebut; individu telah menemukan diet yang mereka yakini benar-benar membantu mereka dan telah membagikan temuan mereka secara online.

 

Bagaimana Cara Menghilangkan Jerawat dengan Diet Bebas Jerawat?

Proses Pembentukan Jerawat515 Acne formation.jpg
By OpenStax College – Anatomy & Physiology, Connexions Web site. http://cnx.org/content/col11496/1.6/, Jun 19, 2013., CC BY 3.0, Link

Jerawat pada umumnya terjadi ketika kelenjar di kulit yang disebut kelenjar sebaceous mulai membentuk minyak lengket yang disebut sebum.

 

Kelenjar ini dipengaruhi oleh hormon yang menjadi aktif pada masa pubertas, itulah sebabnya jerawat paling sering terjadi pada masa remaja, ketika hormon ini diproduksi secara melimpah.

 

Minyak yang dibentuk oleh kelenjar sebaceous berperan mengumpulkan sel-sel kulit mati, mencegahnya terkelupas.

 

Ketika sel-sel ini mati, mereka menciptakan lingkungan yang sempurna bagi bakteri untuk tumbuh.

 

Ketika bakteri ini, yang disebut acne vulgaris, menjadi terlalu banyak, mereka akan berusaha meletus dari kulit, menyebabkan jerawat. Terkadang, ketika bakteri tumbuh, tubuh mengirim sel darah putih untuk melawan infeksi.

 

Reaksi alami ini dapat menyebabkan kista besar dan menyakitkan terbentuk di lapisan kulit yang lebih dalam.

 

Beberapa perubahan pola makan telah diusulkan untuk membantu mencegah jerawat. Saran itu bisa kontradiktif, dan banyak dari itu memiliki sedikit bukti ilmiah untuk mendukungnya.

 

Saran Diet Bebas Jerawat

Diet untuk cara menghilangkan jerawatAkne-jugend.jpg
By No machine-readable author provided. Ellywa assumed (based on copyright claims). – No machine-readable source provided. Own work assumed (based on copyright claims)., Public Domain, Link

Makanlah makanan rendah lemak. Konsumsi lemak tinggi telah disarankan untuk meningkatkan kadar hormon dalam tubuh yang menyebabkan cacat pada kulit.

Atau, makan makanan tinggi lemak.

 

Diet tinggi lemak, rendah karbohidrat, khususnya yang menghilangkan gula, dikatakan mengurangi peradangan dan lonjakan hormon yang menyebabkan jerawat.

 

Makanlah makanan vegan karena pola makan nabati telah dikaitkan dengan prevalensi jerawat yang lebih rendah.

 

Hindari produk susu seperti susu, keju, dan es krim. Penjelasan yang menghubungkan susu dengan jerawat berimplikasi pada tingginya kandungan gula atau tingginya hormon dari sapi, yang keduanya dapat memicu peradangan.

 

Hindari produk kacang. Produk kacang ditemukan menyebabkan jerawat dalam sebuah penelitian pada 500 remaja.

 

Hindari makanan yang digoreng atau berminyak.

 

Hindari makanan olahan dan junk food karena diet gaya Barat telah disarankan untuk meningkatkan risiko.

 

Batasi asupan garam, terutama garam dapur atau garam beryodium. Banyak orang dengan jerawat mengalami peningkatan kadar yodium, ditemukan dalam garam meja, dalam aliran darah mereka selama jerawat meradang.

 

Minumlah teh hijau dan makan lebih banyak sayuran hijau, beri, ikan, biji rami, probiotik, dan seng.

 

Konsumsi 0,71-1,1 ons. (20–30 g) serat setiap hari. Serat membantu menjaga usus besar tetap bersih dan para pendukung gagasan diet ini menyarankan untuk menghilangkan racun dari tubuh sebelum mencapai kulit.

 

Cara Menghilangkan Jerawat dengan Vitamin

Vitamin dan mineral lain yang diusulkan untuk membersihkan jerawat termasuk vitamin A, D, E, dan B; selenium; seng; asam lemak omega-3; yodium; dan kromium.

 

Vitamin D menjadi perhatian khusus sekarang; pada tahun 2016 para peneliti Korea menemukan bahwa pasien yang mengonsumsi suplemen vitamin D mengalami peningkatan yang signifikan pada kesembuhan jerawat mereka.

 

Asam lemak omega 3, ditemukan dalam ikan, juga tampaknya bekerja untuk mengurangi jerawat. Sebuah penelitian tahun 2014, juga dari Korea, menemukan bahwa pasien yang menggunakan suplemen minyak ikan melihat pengurangan yang signifikan dalam lesi peradangan jerawat.

 

Fungsi Diet Bebas Jerawat

Menghilangkan makanan tertentu dari diet dan meningkatkan jumlah vitamin dan mineral tertentu, jika kurang dari diet, dapat membantu mengurangi jumlah sebum yang diproduksi dan mencegah jerawat.

 

Namun, interaksi antara diet dan jerawat bukanlah hubungan sebab dan akibat yang sederhana — jika makanan berminyak dikonsumsi, minyak tidak menyebar ke kulit atau menyebabkannya berminyak.

 

Manfaat Diet Bebas Jerawat

Kebiasaan seperti membatasi natrium dan makanan olahan dan meningkatkan asupan biji-bijian, sayuran, dan serat sejalan dengan rekomendasi diet dan mendukung kesehatan secara keseluruhan.

 

Menghilangkan seluruh kelompok makanan berpotensi menyebabkan kekurangan vitamin atau mineral.

 

Orang-orang yang tertarik pada diet jerawat harus berkonsultasi dengan dokter atau ahli diet terdaftar sebelum memulai diet.

 

Hal-Hal yang Menjadi Perhatian

Diet bebas jerawat, seperti semua pengobatan jerawat dan cara menghilangkan jerawat lainnya, membutuhkan waktu untuk menunjukkan keberhasilan.

 

Beberapa orang yang menerapkan diet indeks glikemik rendah melaporkan mendapatkan manfaat setelah 10 hingga 12 minggu.

 

Jika diet bebas, merupakan salah satu cara menghilangkan jerawat, kekambuhan jerawat dapat terjadi karena konsumsi makan gula atau makanan bertepung.

 

Beberapa diet bebas jerawat menyarankan suplementasi seng atau vitamin A.

 

Setiap orang harus selalu berkonsultasi dengan dokter mereka sebelum mengonsumsi suplemen atau obat lain.

 

Suplemen seng dapat menyebabkan sakit perut, dan penulis rencana diet jerawat merekomendasikan tidak lebih dari 30 mg seng per hari untuk menghindari efek samping ini.

 

Menghindari produk susu dapat membatasi jumlah kalsium yang dikonsumsi. Suplemen kalsium mungkin diperlukan untuk memastikan bahwa kebutuhan kalsium harian terpenuhi.

 

Suplemen makanan berpotensi berinteraksi dengan obat yang diresepkan untuk jerawat. Beberapa obat jerawat mengandung retinol, suatu bentuk vitamin A.

 

Mengonsumsi suplemen vitamin A dengan retinol dapat menyebabkan penumpukan vitamin A yang berbahaya dalam tubuh.

 

Wanita yang sedang hamil atau mereka yang hamil mungkin tidak boleh mengonsumsi suplemen vitamin A atau obat-obatan yang mengandung vitamin A, karena jumlah berlebihan vitamin A dapat menyebabkan cacat lahir.

 

Wanita tidak boleh minum obat jerawat selama kehamilan karena hal itu menyebabkan cacat lahir; wanita yang minum obat ini harus sangat berhati-hati untuk tidak hamil.

 

Risiko Diet Bebas Jerawat

Ada beberapa risiko yang terkait dengan diet bebas jerawat. Sebagian besar berhubungan dengan mengonsumsi suplemen makanan.

 

Seng dapat mencegah tubuh menyerap cukup tembaga. Untuk menghindari hal ini, Anda harus menghindari penggunaan dosis tinggi.

 

Vitamin A adalah vitamin yang larut dalam lemak. Oleh karena itu, kelebihan vitamin A disimpan dalam tubuh daripada dibuang melalui urine.

 

Banyak obat jerawat mengandung bentuk vitamin A pekat, tetapi terlalu banyak vitamin A bisa beracun.

 

Konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen vitamin A.

 

Penelitian dan Bukti Ilmiah Diet Bebas Jerawat Sebagai Cara Menghilangkan Jerawat

Benarkah diet bebas jerawat merupakan salah satu cara menghilangkan jerawat?

 

Faktanya, Belum ada konsensus yang dicapai tentang apakah diet berperan atau menyebabkan atau mencegah jerawat.

Banyak dokter kulit tidak percaya bahwa diet memiliki efek signifikan pada jerawat.

 

Penelitian awal tentang diet dan jerawat berfokus pada makanan tertentu yang diyakini memicu timbulnya jerawat.

 

Sebagian besar penelitian ini tidak menemukan bukti bahwa makanan individu menyebabkan jerawat.

 

Namun, penelitian terbaru adalah menemukan hubungan antara diet dan jerawat, terutama antara jerawat dan makanan dengan indeks glikemik tinggi.

 

Teori dengan dukungan terkuat adalah bahwa makanan yang tinggi pada indeks glikemik berkontribusi pada jerawat, membuat jerawat yang ada menjadi lebih buruk.

 

Penelitian telah menunjukkan bahwa setengah dari pasien jerawat yang diuji memiliki kadar glukosa abnormal, dan dalam penelitian lain, 80% wanita pramenstruasi dengan jerawat memiliki metabolisme glukosa abnormal.

 

Data ini, dan lainnya yang menunjukkan diet tinggi karbohidrat meningkatkan kadar testosteron dalam darah, telah menyebabkan rekomendasi untuk membatasi konsumsi karbohidrat olahan sebagai cara mengobati jerawat.

 

Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada 2016 menemukan hubungan yang sama antara susu dan makanan glikemik tinggi dan jerawat remaja, seperti yang ditunjukkan oleh sebuah makalah 2017 dari Norwegia.

 

Penelitian tahun 2016 lainnya menemukan hubungan antara jerawat dan susu rendah lemak, tetapi tidak susu penuh lemak.

 

Sebuah penelitian tahun 2017 menemukan hubungan antara konsumsi karbohidrat tinggi dan jerawat pada orang dewasa di New York City.

Peran cokelat dalam menyebabkan jerawat telah ditinjau kembali dalam beberapa tahun terakhir. Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2016 menemukan bahwa remaja pria yang makan cokelat setiap hari selama empat minggu memiliki jerawat yang lebih buruk secara signifikan pada akhir periode penelitian, meskipun peneliti ragu-ragu untuk menyimpulkan bahwa perubahan pola makan menyebabkan jerawat.

 

Sebuah penelitian di Polandia tahun 2016 mengaitkan susu dan cokelat dengan jerawat, dan menyimpulkan bahwa bukti hubungan antara diet dan jerawat sangat menarik.

 

Beberapa penelitian telah membandingkan hasil suplementasi seng oral dengan terapi antibiotik oral untuk mengatasi jerawat dan menemukan seng hampir sama efektifnya dengan antibiotik tetrasiklin. Peneliti lainnya telah menemukan efek suplemen pada jerawat tidak dapat disimpulkan.

 

Referensi

Buku

  1. Grigore, Adina. Skin Cleanse: The Simple, All-Natural Program for Clear, Calm, Happy Skin. New York: Harper, 2015.

 

  1. Logan, Alan C., and Valori Treloar. The Clear Skin Diet. Nashville: Cumberland House, 2007.

 

  1. Nelson, Nina, and Randa Nelson. The Clear Skin Diet: The Six-Week Program for Beautiful Skin. New York: Hachette, 2018.

 

Jurnal

  1. Bae, Yoon Soo, Nikki D. Hill, Yuval Bibi, et al. “Innovative Uses for Zinc in Dermatology.” Dermatologic Clinics 28, no. 3 (2010): 587–97.

 

  1. Bowe, Whitney P., Smita S. Joshi, and Alan R. Shalita. “Diet and Acne.” Journal of the American Academy of Dermatology 63, no. 1 (2010): 124–41.

 

  1. Burris, Jennifer, William Rietkerk, Kathleen Woolf, et al. “Acne: The Role of Medical Nutrition Therapy.” Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics 113, no. 3 (March 2013): 416–30.

 

  1. Campbell, Christine E., and Beverly I. Strassmann. “The Blemishes of Modern Society? Acne Prevalence in the Dogon of Mali.” Evolution, Medicine, and Public Health 2016, no. 1 (October 2, 2016): 325–37.

 

  1. Caperton, C., S. Block, M. Viera, et al. “Double-Blind, Placebo-Controlled Study Assessing the Effects of Chocolate Consumption in Subjects with a History Of Acne Vulgaris.” Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology 7, no. 5 (May 2014): 19–23.

 

Website

  1. Butler, Natalie. “Anti-AcneDiet” Healthline. https://www.healthline.com/health/anti-acne-diet(accessed May 5, 2018).
  2. Kern, Dan. “Diet and Acne” orghttps://www.acne.org/diet.html (accessed May 5, 2018).
  3. Spritzler, Franziska. “Can Keto or Low-Carb Diets Cure Acne?” Diet Doctor.https://www.dietdoctor.com/low-carb/benefits/acne(accessed May 5, 2018).