Diagnosis Adalah Kunci Pengobatan Penyakit

Bila merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, diagnosis adalah  penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya. Diagnosis dapat pula berarti pemeriksaan terhadap suatu hal.

diagnosis adalah

Dalam bidang kedokteran, diagnosis adalah upaya yang dilakukan oleh dokter dalam melakukan analisa keluhan subjektif dan temuan objektif pada pasien untuk menentukan penyakit pasien.

 

Pendekatan diagnosis adalah suatu hal yang terkadang sulit dilakukan. Karena banyaknya jenis penyakit tertentu yang memiliki gejala saling tumpang tindih.

 

Oleh karena hal ini, langkah pertama yang penting dilakukan oleh dokter adalah membuat daftar diagnosis banding dan daftar masalah dengan deskripsi terperinci.

 

Diagnosis adalah hal yang sangat penting. Tidak hanya untuk prognosis (ramalan/kemungkinan tentang peristiwa yang akan terjadi, khususnya yang berhubungan dengan penyakit atau penyembuhan setelah operasi) tapi juga untuk rencana pengobatan.

 

Diagnosis yang baik juga harus selalu ditinjau kembali. Penyakit sekunder, komplikasi, dan efek samping dapat menjadi diagnosis tambahan saat merawat pasien.

 

Seperti yang disebutkan di atas, diagnosis harus ditentukan berdasarkan diagnosis banding. Tujuan dari diagnosis banding adalah untuk menunjukkan penyakit apa yang dapat terjadi.

 

Dalam kebanyakan kasus, ada banyak kemungkinan dan faktor tambahan. Faktor tambahan ini termasuk:

  • Frekuensi penyakit
  • Usia pasien
  • Gejala sekunder

 

Seluruh komponen ini harus selalu diperhitungkan ketika melakukan diagnosis.

 

Artikel ini akan memberikan gambaran diagnosis banding berdasarkan kelompok penyakit.

 

 

Mengapa Diagnosis Adalah Kunci Pengobatan?

diagnosis adalah kunci

Ketika melakukan proses diagnosis, pada awalnya sangat tidak mungkin mengidentifikasi diagnosis yang sebenarnya hanya dari gambaran klinis.

 

Biasanya diagnosis dapat ditentukan setelah temuan yang relevan terkait suatu penyakit hadir (misalnya tanda spesifik atau pemeriksaan penunjang).

 

Diagnosis banding terkadang harus puas disusun dengan klasifikasi salah satu kelompok penyakit saja.

 

Dalam semua kasus penyakit yang tidak jelas, pertimbangan selalu disusun berdasarkan kelompok penyakit tersebut bukan diagnosis pasti penyakitnya.

 

Bila diagnosis pasti belum dapat ditentukan, rencana pengobatan hanya pada upaya untuk meredakan gejala penyakit yang dirasakan oleh pasien.

 

Target pengobatan tidak tepat saran. Berbeda bila diagnosis penyakit telah dapat ditegakkan.

 

Inilah yang menjadikan diagnosis adalah kunci dalam pengobatan penyakit.

 

Karena proses diagnosis merupakan hal yang terkadang tidak mudah. Mari mengenali beberapa deskripsi kelompok penyakit tertentu yang dapat digunakan untuk melakukan diagnosis banding.

 

 

Kelompok Penyakit Kondisi Degeneratif

 

penyakti degeneratif

Kelompok penyakit ini ditandai dengan perubahan irreversibel yang progresif lambat pada pembuluh darah dan jaringan ikat. Salah satunya adalah peristiwa arteriosklerosis, yang menyebabkan kerusakan pada organ (jantung, otak, ginjal) dan arteri perifer, dan arthrosis adalah gambaran klinis yang paling sering diamati dalam praktek medis saat ini, terutama pada orang tua.

 

 

Kelompok Penyakit Infeksi

penyakit sistem imun

Peradangan atau inflamasi secara klasik ditandai oleh:

  1. rubor (memerah),
  2. calor (panas),
  3. tumor (pembengkakan),
  4. dolor (nyeri), dan
  5. functio laesa (hilangnya fungsi).

 

Demam, pemeriksaan hitung darah, peningkatan protein C-reaktif, dan peningkatan laju endap darah sering dikaitkan dengan infeksi.

 

Namun, tidak adanya gejala-gejala ini tidak mengesampingkan kemungkinan infeksi (mis., Infeksi virus).

 

Selain itu, penyakit lain dapat dipertimbangkan dengan adanya 5 tanda inflamasi tersebut (misalnya Penyakit kolagen atau tumor).

 

 

Kelompok Penyakit Yang Dimediasi Oleh Sistem Imun

penyakit infeksi

Kolagenosis dan vaskulitis termasuk dalam kelompok penyakit ini (lupus eritematosus sistemik, dermatomiositis, sklerodermia, polymyositis, periarteritis nodosa, granulomatosis Wegener, alergi vaskulitis, dan lain-lain).

 

Penyakit-penyakit ini dapat dikenali secara klinis oleh keterlibatan simultan berbagai organ. Effloresensi (perubahan tidak normal) kulit dan arthropathi sering menjadi gejala klinis yang paling sering ditemui.

 

Pada saat yang sama perubahan pada fungsi ginjal, paru-paru, otot, dan jantung terkadang menjadi sangat jelas.

 

Kompleks imun, hasil dari antigen yang berbeda (misalnya Bakteri, virus, substansi tubuh seperti DNA, ribo-nukleoprotein, dan obat-obatan) memainkan peran penting, meskipun saat ini hanya sebagian yang dipahami.

 

Hasil uji laboratorium biasanya menunjukkan tingkat sedimentasi eritrosit meningkat, anemia, dan perubahan hematologi lainnya.

 

Secara praktis semua penyakit dari antibodi anti-nuklear semacam ini dapat ditemukan.

 

Beberapa penyakit di mana autoantibodi memainkan peran penting tercantum dalam Tabel berikut.

 

Contoh Penyakit Autoimun

Organ yang Terlibat Penyakit
Saluran Pencernaan ·       Pernicious anemia,

·       Celiac disease/sprue,

·       Colitis ulcerosa,

·       Crohn disease

Darah ·       Immune thrombopenia (ITP),

·       Thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP),

·       Autoimmune hemolytic anemia,

·       Paroxysmal nocturnal hemoglobinuria,

·       Secondary cryoglobulinemia

Ginjal ·         Postinfectious glomerulonephritis,

·         IgA nephropathy,

·         Goodpasture syndrome,

·         Syndromes characterized by purpura, arthritis, nephropathy,

·         Periarteritis nodosa

Sistem Endokrin ·         Autoimmune thyroiditis (Hashimoto),

·         Basedow disease,

·         Addison disease,

·         Diabetes mellitus (type 1),

·         Idiopathic hypoparathyroidism,

·         Polyglandular deficiency syndrome (Schmidt syndrome),

·         Infertility caused by antibodies,

·         Premature ovarian failure

Sistem Saraf Pusat ·         Myasthenia gravis,

·         Mononeuritis multiplex,

·         Multiple sclerosis,

·         Guillain−Barré syndrome,

·         Amyotrophic lateral sclerosis,

Sendi, Otot, & Jaringan Ikat ·         Chronic polyarthritis,

·         Visceral lupus erythematosus,

·         Sjögren syndrome,

·         Scleroderma (including CREST),

·         Thromboangitis obliterans,

·         Bechterew disease,

·         Behçet disease,

·         Polymyalgia rheumatica,

·         Arteritis temporalis

Kulit ·         Cutaneous lupus erythematosus,

·         Chronic diskoid lupus erythematosus,

·         Alopecia areata,

·         Vitiligo,

·         Pemphigus vulgaris,

·         Dermatitis herpetiformis Duhring,

·         Schoenlein−Henoch purpura

Paru-paru ·         Wegener granulomatosis,

·         Churg−Strauss syndrome

Liver (Hati) ·         Autoimmune hepatitis,

·         Primary biliary cirrhosis,

·         Sclerosing cholangitis

 

 

Tumor

Diagnosis Sangkaan Tumor

 

Gejala dengan onset lambat hingga sangat lambat, kelelahan, penurunan berat badan, dan gejala umum menyebar di usia menengah dan lanjut adalah penyebab kecurigaan tumor.

 

Gejala lokal dapat tidak muncul untuk jangka waktu yang panjang.

Penting untuk mengetahui perbedaan frekuensi tumor menurut jenis kelamin seperti gambar di bawah ini.

 

Infografis kanker Indonesia tahun 2018 ini juga menunjukkan insiden dan prevalensi kanker di Indonesia.

Infografis Kanker Indonesia 2018

Infografis Kanker Indonesia 2018 (https://whitecoathunter.com)

 

Suhu tubuh bisa dalam kisaran subfebris.

 

Tingkat sedimentasi eritrosit dapat meningkat. Anemia dan jumlah trombosit yang meningkat juga dapat terjadi.

 

 

Penanda Tumor Sebagai Bantuan Diagnosis

Skrining untuk penanda tumor tidak sesuai karena sensitivitas dan spesifisitas rendah. Terkecuali untuk prostate-specific antigen (PSA) yang merupakan penanda tumor prostat.

 

Namun beberapa penanda digunakan untuk tindak lanjut setelah terapi dan untuk klasifikasi stadium kanker.

 

Beberapa penanda tumor tersebut antara lain:

  • α-fetoprotein: Hepatocellular carcinoma
  • α-fetoprotein: Ovarian tumors
  • β-HCG, LDH: Nonseminomatous testicular cancer
  • β-HCG, LDH: Testicular seminoma
  • β2-Microglobulin: Multiple myeloma
  • CA 15−3: Breast cancer
  • CA 19−9: Colon carcinoma
  • CA 125: Ovarian carcinoma
  • CEA: Colon and rectum carcinoma
  • CRP, LDH: Malignant lymphoma
  • PSA: Prostate cancer
  • SCC: Cervical, lung, and rectal carcinoma

 

Tumor yang terjadi dapat menyebabkan gambaran dan kondisi klinis tertentu. Sebuah subkelompok penting yang disebut sindrom paraneoplastik dibentuk oleh sindrom paraendokrin.

 

Tabel Berikut menunjukkan sindrom para neoplastik dan para endokrin

Manifestasi Klinis Jenis Tumor Yang Paling Umum
Sindrom Paraneoplastik Umum
Anemia Berbagai Jenis Tumor
Eosinofilia Limfoma maligna, Leukemia, Metastasis Tumor
Leukositosis Berbagai Jenis Tuor
Trombositosis Berbagai Jenis Tumor
Trombositopenia Hemangioma maligna, Penyakit limfoproliperatif
Hiperkoagulabilitas Bronkus, lambung, usus, pankreas, payudara, karsinoma uterus; limfoma ganas
Disseminated intravascular coagulation Metastasis karsinoma, leukemia, limfoma
Erythema nodosum limfoma, leukemia, karsinoma
Hiperpigmentasi Karsinoma saluran pencernaan, melanoma maligna
Urtikaria Limfoma maligna, polistemia vera mastositosis
Miopati Karsinoma Bronkus, Lambung, Ovarium
Neuropati Karsinoma bronkus, payudara, lambung
Ensefalomiopati Tumor paru, karsinoma ovarium, karsinoma endometrium, Penyakit Hodgkin
Paraproteinemia Limfoma maligna, leukemia kronis
Glomerulonefritis Limfoma maligna, leukemia, karsinoma
Trombotik endokarditis Adenokarsinoma (lambung, paru, pankreas)
Demam Sarkoma, hipernefroma, tumor saluran pencernaan, hepatoma, leukemia
Akropachy Tumor intratorakalis, karsinoma bronkus
Sindrom Paraendokrin
Sindrom Cushing Karsinoma bronkial sel kecil, tumor sel island pankreas, thymoma, karsinoma tiroid meduler, karsinoid
Hirutisme Ovarium, tumor adrenal (androgenik)
Pubertas praekok, Ginekomastia Heratoma hepatoselular, testis dan mediastinum, korio karsinoma, tumor paru
Hipoglikemia sarkoma besar, hepatoma, karsinoma gastrointestinal, karsinoid
Hiperkalemia metastasis tulang, multiple myeloma, limfoma ganas serta karsinoma bronkus (epitelioma), tumor di daerah otolaryngeal, karsinoma serviks
Hiperertireoidosis Choriocarcinoma, tumor paru-paru,
Poliglobulin Karsinoma ginjal, hemangioblastoma serebelum (erythropoietin)
Sindrom Schwartz−Bartter Bronkus, pankreas, karsinoma duodenum (ADH)

 

 

Jaringan tumor dari organ non-endokrin dapat menjadi aktif secara hormonal. Jenis produksi hormon ini biasanya tidak tunduk pada mekanisme kontrol fisiologis dan tidak hilang sampai tumor diangkat.

 

 

Faktor Predisposisi Tumor Ganas

Perbedaan antara lima kelompok utama faktor predisposi yang dapat dipertimbangkan sebagai etiologi tumor manusia dalam penegakan diagnosis adalah:

 

  1. Warisan langsung atau tidak langsung (sekitar 5% dari tumor):
  • Retinoblastomas, sel basal nevoid, endokrin multipel adenomatosis, poliposis kolon familial, kanker payudara
  • Neurofibromatosis, tuberous sclerosis, multipel eksostosis, albinisme, sindrom Fanconi, Sindrom Wiskott−Aldrich (pengembangan sekunder tumor)

 

  1. Faktor lingkungan (sekitar 60%)
  • Pola makan (tinggi lemak, rendah serat, nitrosamin, mikotoksin)
  • Konsumsi tembakau (bertanggung jawab terhadap 40% diagnosis karsinoma pada laki-laki termasuk karsinoma mulut, laring, dan paru)
  • Alkohol (karsinoma esofagus dan liver)
  • Profesi (faktor pencetus pada 5% kasus tumor)
  • Seks bebas: human papillomavirus, yang bisa menyebabkan karsinoma serviks pada wanita yang lebih muda, Tumor terkait HIV
  • Sinar ultraviolet (melanoma), radioisotop, radiasi
  • Obat (obat sitostatik, hormon)

 

 

  1. Virus:
  • Infeksi HIV (sarkoma kaposi, limfoma maligna)
  • Epstein−Barr virus (Burkitt lymphoma)
  • Hepatitis B dan C virus (hepatoma)

 

  1. Tidak diketahui penyebab tumor (sekitar 35%)

 

  1. Berbagai Kondisi Lainnya (langka):
  • -cholelithiasis, sirosis hati, penyakit Crohn, kolitis ulcerosa, anemia pernisiosa –
  • dermatomiositis
  • Struma nodosa, lupus vulgaris, penyakit Paget, akromegali

 

 

Penyakit-Penyakit Metabolik

Metabolisme patologis atau jumlah abnormal zat fisiologis dalam darah, urine, atau jaringan tubuh dapat diidentifikasi dengan berbagai jenis penyakit.

 

Misalnya, porfiria ditandai dengan porfirin, ochronosis yang disebabkan oleh asam homogentisic, penyakit asam urat yang disebabkan oleh asam urat, hyperlipoproteinemia yang dicirikan oleh kolesterol dan trigliserida.

 

Enzimopati terkait genetik

Hingga saat ini peran diagnosis adalah menemukan lebih dari 150 penyakit dengan gangguan enzimatik yang melibatkan cacat genetik (enzymopathy).

 

Kondisi ini juga disebut sebagai “kesalahan metabolisme bawaan”.

 

Mayoritas adalah penyakit bawaan resesif autosom. Sebuah gen mutan menghasilkan penurunan atau non-produksi protein enzimatik atau non-enzimatik.

 

Enzim yang dimaksud merupakan bagian integral dari langkah khusus metabolisme dalam biosintesis atau katabolisme.

 

Untuk beberapa hal, jalur metabolik diblokir dan jalur alternatif diperlukan, yang sering tidak dapat mencegah defisiensi metabolik karena kapasitas yang buruk. Karena efek ini, berbagai mekanisme dalam enzim dapat dideteksi:

  • Pada beberapa penyakit, jumlah zat-zat biologis penting yang tidak cukup diproduksi. Misalnya produksi melanin ditekan dalam albinisme karena tiadanya tirosinase, atau diabetes mellitus tipe 1 disebabkan oleh kurangnya insulin.
  • Produk patologis yang terakumulasi karena kurangnya degradasi enzimatik diekskresi melalui ginjal dan dapat menyebabkan batu ginjal. Misalnya oxaluria, xanthinuria, dan cystinuria.
  • Metabolit abnormal terakumulasi. Misalnya penyakit penyimpanan glikogen, mucopolysaccharidosis, dan galaktosemia.
  • Melalui akumulasi produk antara, efek toksik berkembang. Misalnya alkaptonuria, dicirikan oleh asam homogentisic, atau galaktosemia, dicirikan oleh galaktosa-1-fosfat.
  • Steroid metabolik normal terakumulasi dalam sindrom adrenogenital karena defisiensi 17-hidroksilase.
  • Struktur kolagen yang salah menyebabkan kolagen normal menjadi tidak stabil seperti pada sindrom Ehlers−Danlos.

 

 

Diagnosis adalah Penting Untuk Mengetahui Disfungsi Sistem Endokrin

Gambaran klinis penyakit organ sekretori sering ditandai oleh sekresi disfungsional daripada oleh organ yang sakit itu sendiri. Hormon dan metabolitnya dapat ditentukan secara kuantitatif, yang pada gilirannya memberikan informasi penting tentang jenis penyakit (misalnya dalam kasus diabetes mellitus).

 

 

Gangguan Mental

Penilaian kondisi mental adalah salah satu upaya diagnostik. Melakukan tindakan diagnosis adalah penting pada kondisi ini.

 

Pengenalan sindrom psikopatologi khas sebagian memungkinkan dokter untuk mengidentifikasi penyakit fisik (misalnya, delirium tremens dan sindrom Korsakow ditemukan pada alkoholisme kronis yang menyertai pneumonia, atau setelah operasi).

 

Faktor ini tidak berlaku untuk psikosis endogen (skizofrenia, manic-depressive psychosis) atau untuk keluhan vegetatif.

 

Dalam kasus ini, seringkali bukan pasien yang mengeluh, tetapi perilaku intelektual atau afektifnya dicatat oleh orang lain.

 

Keluhan Vegetatif secara Fungsional

Ketika mendiagnosis keluhan-keluhan vegetatif “secara fungsional” (juga gangguan psikosomatis atau sindrom psychovegetative), penting untuk menyingkirkan penyakit somatik.

 

Umumnya, penyakit fungsional termasuk kelompok gangguan psikis terbesar, baik sebagai penyakit yang berdiri sendiri atau sebagai akibat dari penyakit lain.

 

Karakterisasi yang seragam dari pasien psikosomatis tidak mungkin. Namun, penyakit vegetatif fungsional sering muncul sebagai berikut:

  • Dengan perjalanan penyakit kronis
  • Dengan perubahan yang tidak teratur dari organ yang terkena
  • Dipicu oleh situasi stres.

 

Diagnosis banding dan diagnosis adalah penting pada kondisi ini. Klinisi biasanya membedakan antara berbagai sub-kelompok somatik dari sindrom psikovegetatif (misalnya gangguan pada daerah kepala, sistem kardiovaskular, pernapasan, dan saluran cerna).

 

Hampir tidak ada diagnosis yang lebih sulit daripada diagnosis gangguan fungsional.

 

Gangguan Psikosomatis

Asma bronkial, obesitas, dan anoreksia, serta serangan kecemasan yang sering dianggap sebagai gangguan psikosomatis. Gejala kompleks yang semakin umum, yang sulit dibedakan dari depresi, adalah sindrom kelelahan kronis.

 

Sindrom kelelahan kronis dapat didefinisikan sebagai:

  1. Kelelahan yang dievaluasi secara klinis, tidak dapat dijelaskan, persisten atau kambuh yang merupakan onset baru atau pasti, bukan hasil dari pengerahan yang sedang berlangsung, dan tidak berkurang dengan istirahat, dan menghasilkan pengurangan substansial dalam tingkat dari pekerjaan, pendidikan, sosial, atau kegiatan pribadi sebelumnya.
  2. Empat atau lebih dari gejala berikut yang bertahan atau kambuh selama enam atau lebih bulan berturut-turut sakit dan gejala tersebut tidak mendahului kelelahan:
    1. Penurunan yang dilaporkan sendiri dalam memori jangka pendek atau konsentrasi
    2. Sakit tenggorokan
    3. Nyeri serviks atau aksilaris
    4. Nyeri otot
    5. Nyeri beberapa sendi tanpa kemerahan atau bengkak
    6. Sakit kepala
    7. Tidur tidak nyenyak
    8. Malaise pasca-aktivitas berlangsung >24 jam

 

 

Psosis Eksogen

Gangguan mental pada kelompok “psikosis eksogen” adalah gejala yang menyertai penyakit somatik. Bleuler membedakan antara empat kelompok utama gangguan terkait somatik:

  1. Sindrom Psychoorganic (POS). Sebagai akibat dari kerusakan otak difus (arteriosclerosis, cedera otak, sindrom Korsakow), pasien yang diperiksa memiliki disfungsi dan disorientasi perhatian yang khas serta kurangnya konsentrasi. Selanjutnya, ketidakmampuan untuk berpikir, ketekunan, dan labilitas emosional adalah karakteristik utama kondisi ini.
  2. Psikosyndrome lokal. Meskipun otak secara lokal berpenyakit, gangguan memori atau gangguan kesadaran tidak biasanya terjadi, tetapi perubahan suasana hati yang tidak menentu diamati.
  3. Psikosyndrome endokrin. Gangguan mental dapat terjadi pada penyakit endokrin. Gambaran klinisnya sama dengan psikosyndrome lokal.
  4. Jenis reaksi eksogen akut. Pada penyakit akut, berat, umum, serta pada penyakit otak akut, gejala mental yang khas (seperti amentia tiba-tiba, disorientasi, pengucapan tidak jelas, gelisah, dan apatis, serta halusinasi dan ide delusional), dapat berkembang. Subkelompok khas dari tipe reaksi eksogen akut adalah delirium (halusinasi), dan keadaan senja, serta berbagai tingkat gangguan kesadaran (somnolen, sopor, koma). Seringkali sulit untuk membedakan antara jenis psikosis akut dengan reaksi eksogen dan gangguan neurotik atau skizofrenia.

 

 

Diagnosis Penyakit-Penyakit Herediter

Kromosom manusia terdiri dari 22 pasang kromosom autosomal dan 2 kromosom seks (laki-laki: XY, perempuan: XX), total 46 kromosom. Untuk diagnosis, kromosom dari sel manusia dianalisis secara individual menggunakan pewarnaan fluoresen (kariotipe).

 

 

Aberasi Struktural

Penyimpangan kromosom dapat diwariskan atau ditransmisikan (zat kimia mutagenik, sinar-X, radioaktivitas). Kelainan kromosom dapat dideteksi sebelum lahir dengan metode cytogenic.

 

 

Kromosom Anomali: Aberasi Numerik.

Trisomi (47 kromosom), gangguan kromosom yang paling umum, ditemukan kebanyakan dalam trisomi 21 (sindrom Down; terjadi pada 1: 650) dan pada trisomi kromosom seks, dengan harapan hidup lebih lama daripada sindrom Down.

 

Di antara kelainan kromosom seks yang paling umum adalah: sindrom Klinefelter (47, XXY; terjadi pada 1: 500) dan sindrom Triplo X yang biasanya tidak terlihat secara klinis yang mempengaruhi wanita (47, XXX; terjadi pada 1: 1000), dan sindrom Turner ( 45, X0; terjadi dalam 1: 10000), yang merupakan monosomi kromosom seks.

 

 

Genetika Mendelian Sederhana

Jenis hereditas ini dicapai dengan transmisi gen mutan tunggal.

 

Warisan dominan Autosomal. Gejala terjadi pada pembawa heterozigot, yang memiliki satu kromosom dengan gen mutan dan kromosom lainnya dengan gen normal.

 

Faktor risiko untuk progeni dari pasien dengan penyakit nyata adalah 50%.

 

Kelainan bawaan yang berat dan dominan pada sebagian besar kasus disebabkan oleh mutasi baru, dan menghilang dengan kematian pembawa sebelum memiliki keturunan.

 

Warisan autosomal resesif. Gejala hanya terjadi ketika pasien homozigot (i. E., Alel yang sama pada kedua kromosom homologinya).

 

Risiko pengulangan untuk saudara kandung lainnya dengan penyakit nyata adalah 25%, untuk pembawa sehat heterozigot 50%, dan untuk saudara kandung yang sehat 25%.

 

Warisan X-kromosom. X kromosom membawa gen mutan. Dalam kebanyakan kasus, wanita hanya vektor tanpa gejala (pembawa), tetapi 50% dari keturunan laki-laki mereka jatuh sakit.

 

 

Diagnosis Penyakit-Penyakit Alergi

Alergi ditandai oleh reaksi kekebalan tubuh yang abnormal terhadap zat (alergen), yang tidak mempengaruhi individu yang sehat.

 

Kita membedakan antara alergi humoral yang disebabkan oleh antibodi yang bersirkulasi (tipe I, II, III) dan alergi sel-mediated (tipe IV).

 

Alergi Tipe-I

Alergi Tipe-I yang disebut mewakili reaksi anafilaksis yang dramatis. Jenis alergi ini ditandai dengan terjadinya gejala dalam beberapa menit, atau jam, paparan alergen (inhalasi, per oral, per suntikan, perkutan). Selain pruritus, urtikaria, dan angioedema, dyspnea serta diare, kolik, dan gejala syok berat juga bisa terjadi.

 

Alergi Tipe-II

Dalam tipe-II, antibodi sirkulasi alergi dapat menyebabkan lisis sel (misalnya, anemia hemolitik alergik, reaksi transfusi).

 

Alergi Tipe III

Alergi tipe-III terdiri dari apa yang disebut penyakit kompleks imun. Antigen yang berbeda (obat, bakteri, virus, sel tumor, mungkin jaringan endogen) bersama dengan antibodi masing-masing membentuk kompleks imun yang beredar yang dapat mengendap dalam membran basal arteri dan glomeruli.

 

Biasanya, pasien ini menyajikan gambaran klinis yang relatif sama, yang biasanya ditandai oleh arthralgia, berbagai jenis perubahan kulit, dan glomerulonefritis. Gejala yang kurang sering adalah pleuritis, perikarditis, dan alveolitis alergika.

 

Contoh penyakit kompleks imun adalah: paru-paru Petani, glomerulonefritis pascainptokokus, glomerulonefritis yang berhubungan dengan endokarditis, dan berbagai jenis tumor, seperti kanker kolon, tumor bronkus, dan hipernephroma.

 

 

Alergi Tipe-IV

Dalam kaitannya dengan alergi tipe-IV, limfosit T peka dapat menyebabkan reaksi alergi, terutama pada kulit. Alergi ini diamati sebagai kontak eczemas dan exanthemas. Permulaan dari waktu kontak alergi hingga munculnya gejala bisa sampai 10 hari.

 

 

Kesimpulan

Daftar di atas merupakan daftar penyakit-penyakit berdasarkan subkelompok sistemnya.

 

Pengelompokan ini membuat dokter lebih mudah dalam penegakan diagnosis.

 

Hal ini juga yang membuat tindakan diagnosis adalah kunci pengobatan penyakit.

 

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar diagnosis adalah kunci pengobatan silakan tuliskan di kolom komentar.

Referensi
  1. Bowen SL. Educational strategies to promote clinical diagnostic reasoning. N Engl J Med 2006;355:2217−2225.
  2. De Vita VT Jr, Hellmann S, Rosenberg SA. Cancer – Principles and Practice of Oncology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott 1997.
  3. Kassirer JP. Teaching problem solving-how are we doing? N Engl J Med 1995; 332: 1507.
  4. Fitzgerald FT. Chapter 1. History and Physical Examination: Art and Science. In: Henderson MC, Tierney LM, Jr., Smetana GW. eds. The Patient History: An Evidence-Based Approach to Differential Diagnosis New York, NY: McGraw-Hill; 2012. http://accessmedicine.mhmedical.com/content.aspx?bookid=500&sectionid=41026543.
  5. Diagnostic Process. In: Stern SC, Cifu AS, Altkorn D. eds. Symptom to Diagnosis: An Evidence-Based Guide, 3e New York, NY: McGraw-Hill; 2014. http://accessmedicine.mhmedical.com/content.aspx?bookid=1088&sectionid=61696411.
Featured Picture Meninggal Saat Tidur

Meninggal Saat Tidur: Anda Wajib Tahu Penyebabnya

Tidur adalah kebutuhan utama bagi setiap orang. Selain mengonsumsi makanan yang bergizi tinggi dan melakukan olahraga teratur, tidur yang cukup adalah salah satu kunci untuk mempertahankan tubuh tetap sehat. Tetapi, tahukah Anda bahwa ketika Anda menutup mata dan masuk ke dalam kondisi tidur, Anda bisa saja tidak terbangun lagi untuk selamanya. Anda meninggal saat tidur.

meninggal saat tidur

Sumber: pixabay.com

Ketika Anda tidur, hampir seluruh bagian tubuh Anda ikut serta beristirahat. Tapi, sadarkah Anda bahwa terdapat organ-organ tubuh yang masih bekerja ketika Anda sedang terlelap.

 

Otak dan jantung adalah organ yang masih tetap bekerja selama Anda tidur. Meski pun banyak penelitian yang telah dilakukan terkait tidur, masih banyak misteri lainnya yang belum terjawab.

 

Misteri-misteri tersebut belum dapat diungkap oleh para ilmuwan modern.

 

Di samping misteri itu, terdapat pula beberapa hal yang mengejutkan ketika otak sadar Anda berhenti dan tubuh Anda mulai tertidur.

 

Hal mengejutkan tersebut termasuk kondisi orang-orang yang meninggal saat tidur.

 

Pada artikel ini, kami akan memberikan informasi terkait kondisi medis apa saja yang dapat menyebabkan seseorang meninggal saat tidur.

 

Bila Anda tidak punya cukup waktu untuk membaca artikel ini sekarang. Kami menyediakan versi pdf-nya. Anda dapat menekan tombol kematian saat tidur.pdf di bawah ini untuk mendownload versi PDF dari artikel ini.

 

Penyebab Meninggal Saat Tidur

  1. Henti Jantung Mendadak

henti jantung

Sumber: pixabay.com

Henti jantung mendadak pada umumnya terjadi akibat gangguan pada sistem listrik jantung Anda.

 

Jantung kita pada umumnya akan berdenyut sebanyak 60-100 kali per menit dalam irama teratur.

 

Apabila gangguan listrik jantung terjadi maka denyut jantung dapat meningkat atau lebih rendah dari nilai normal. Selain itu, denyut jantung bisa menjadi tidak teratur.

 

Kondisi gangguan listrik jantung yang mempengaruhi irama dan denyut jantung ini disebut sebagai aritmia.

 

Aritmia yang parah (aritmia mayor) dapat menyebabkan kematian seseorang hanya beberapa menit setelah kondisi ini terjadi.

 

Mengapa kondisi ini dapat menyebabkan seseorang meninggal saat tidur?

 

Pada dasarnya, kondisi gangguan irama dan denyut jantung akan menyebabkan penurunan aliran darah ke organ tubuh.

 

Termasuk berkurangnya aliran darah menuju otak. Otak akan mengalami kondisi kekurangan oksigen karena kurangnya aliran darah.

 

Kondisi ini akan berujung pada kematian sel otak beberapa menit kemudian.

 

Hal tersebut yang menyebabkan kematian saat tidur.

 

 

  1. Meninggal Saat Tidur Karena Gas CO

keracunan karbon monoksida

Sumber: pixabay.com

Karbon monoksida (CO), adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau.

 

Gas ini dapat menyebabkan kematian bila dihirup dan terlalu banyak masuk ke dalam paru-paru Anda.

 

Gas ini banyak ditemukan pada asap yang berasal dari mobil, perapian, kompor gas, tungku, dan bahkan genset listrik.

 

Gas ini hampir mustahil untuk dideteksi secara kasat mata kecuali dengan menggunakan detektor karbon monoksida.

 

Lalu, mengapa keracunan gas karbon monoksida dapat menyebabkan kejadian meninggal saat tidur??

 

Gas karbon monoksida merupakan gas memiliki tingkat ikatan kuat dengan hemoglobin dalam darah.

 

Pada kondisi normal, hemoglobin dalam darah akan berikatan dengan oksigen dan membawa oksigen ke seluruh tubuh.

 

Pada kondisi keracunan karbon monoksida, gas CO lebih banyak berikatan dengan hemoglobin sehingga gas oksigen tersingkirkan.

 

Akibatnya tubuh akan kekurangan oksigen. Bila Anda sadar bahwa tubuh Anda mengalami kekurangan oksigen maka Anda akan mengalami gejala pusing, kelemahan otot, sakit kepala, atau sakit perut.

 

Tapi, ketika Anda tidur dan menghirup sejumlah besar karbon monoksida.

 

Anda dapat meninggal saat tidur bahkan sebelum Anda menyadari bahwa Anda telah memasukkan terlalu banyak zat karbon monoksida ini dalam tubuh Anda.

 

 

  1. Infark Miokard (Serangan Jantung)

serangan jantung

Sumber: pixabay.com

Serangan jantung adalah salah satu penyebab kematian terbesar di seluruh dunia. Kondisi ini juga dapat terjadi ketika Anda sedang tertidur pulas.

 

Tapi, sebagian besar pasien yang mengalami serangan jantung ketika tidur akan terbangun karena nyeri dada sebelah kiri yang mereka rasakan.

 

Nyeri ini terkadang muncul sebagai suatu perasaan yang paling menyakitkan sepanjang kehidupan orang-orang yang mengalami serangan jantung.

 

Sebagian kecil kasus, serangan jantung ini akan menyebabkan kejadian meninggal saat tidur.

 

Mengapa hal ini terjadi?

 

Kondisi serangan jantung pada dasarnya muncul karena sel otot jantung kekurangan suplai oksigen.

 

Suplai oksigen sel otot jantung ini pada kondisi normal diberikan oleh arteri atau pembuluh darah jantung (koroner).

 

Sumbatan pada pembuluh darah koroner akan menyebabkan sel otot kekurangan oksigen hingga kematian sel otot jantung.

 

Kondisi kematian sel inilah yang disebut infark sedangkan miokard sendiri adalah bahasa latin untuk otot jantung.

 

Serangan jantung butuh pertolongan medis segera karena merupakan kondisi gawat darurat.

 

Bagaimana Anda mendapatkan pertolongan medis segera bila Anda mengalami kondisi ini ketika tidur?

 

 

  1. Aneurisma Serebral

aneurisma otak

Sumber: pixabay.com

Aneurisma serebral, juga dikenal sebagai aneurisma otak, pada dasarnya adalah titik lemah di dinding pembuluh darah di otak.

 

Aneurisma ini ibarat balon tipis pada dinding pembuluh darah yang juga terisi darah.

Namun seiring berjalannya waktu, ketika darah dipompa oleh jantung melalui pembuluh darah arteri, ia terus melemah dan membengkak.

 

Jika tekanannya meningkat terlalu banyak, bisa terjadi robekan (pecah) atau dalam istilah medis disebut sebagai aneurisma.

 

Bagaimana kondisi ini dapat menyebabkan kematian saat tidur?

 

Ketika aneurisma pecah, pendarahan biasanya hanya berlangsung selama beberapa detik.

 

Tetapi darah akan membeku, menggumpal, dan menekan sel-sel otak lainnya.

 

Kondisi ini menyebabkan kerusakan pada sel-sel otak di sekitarnya dan dapat meningkatkan tekanan di dalam tengkorak.

 

Jika tekanan meningkat terlalu banyak, kondisi ini dapat dengan cepat berubah fatal.

 

Batang otak dapat tertekan, menghentikan proses pernapasan Anda dan berujung pada kematian.

 

 

  1. Obstructive Sleep Apnea

obstructive sleep apnea

Sumber: pixabay.com

Obstructive sleep apnea (OSA) adalah gangguan tidur di mana pasien berulang kali mengalami henti napas lalu memulai kembali proses pernapasan mereka selama tidur.

 

OSA sejauh ini adalah jenis sleep apnea yang paling umum dan ternyata kondisi ini juga merupakan alasan yang paling mungkin bahwa seseorang dapat meninggal saat tidur.

 

Jenis sleep apnea ini secara harfiah disebabkan oleh obstruksi yang menghalangi jalan napas.

 

Obstruksi atau sumbatan ini biasanya disebabkan oleh otot-otot tenggorokan yang kendur, meskipun otot dan lidah, uvula (anak tekak), amandel, dan bagian lunak pada langit-langit rongga mulut semuanya dapat berperan.

 

Diperkirakan bahwa sebanyak 22 juta orang Amerika menderita sleep apnea tetapi 80 persen kasus tidak terdiagnosis.

 

Hal ini menjadikannya sebagai “silent killer” sejati yang masih belum diketahui banyak orang.

 

Lalu mengapa OSA dapat menyebabkan seseorang meninggal saat tidur?

Orang-orang yang mengalami OSA tentu saja akan mengalami penurunan kadar oksigen dalam darah secara tiba-tiba ketika mereka berhenti bernafas.

 

Dan jika mereka sudah berisiko terkena serangan jantung, stroke, atau gagal jantung, maka OSA bisa menjadi pemicu yang membuat kejadian henti jantung mendadak

 

Dalam kasus seperti ini, seperti yang telah disampaikan pula di atas kematian dapat terjadi sebelum korban bahkan memiliki kesempatan bangun.

 

 

Kesimpulan

Itulah beberapa kondisi medis yang dapat mengakibatkan seseorang mengalami kematian saat tidur.

 

Kondisi-kondisi tersebut adalah bagian-bagian dari penyakit tidak menular.

 

Sebagian besar kondisi tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan perbaikan pola hidup sehat dan olahraga teratur.

 

Pencegahan adalah hal yang paling penting dan harus kita lakukan dari sekarang.

 

Semoga hal-hal tersebut tidak terjadi pada diri Anda.

 

Bila Anda memiliki pertanyaan dan komentar terkait dengan kondisi medis yang menyebabkan peristiwa ini silakan tuliskan di kolom kometar.

 

antibiotik rasional

Antibiotik: Penggunaan Rasional Antibiotik Pada ISPA

Sebagian besar obat antibiotik diresepkan pada pasien rawat jalan. Terutama untuk kondisi infeksi saluran napas, otitis media akut, infeksi saluran kemih, dan masalah terkait kulit.

Hasil penelitian yang diterbitkan pada jurnal Clinical Infectious Diseases  menyatakan bahwa lebih dari setengah obat antibiotik yang diresepkan untuk pasien rawat jalan adalah tidak sesuai.

 

Sedangkan sebesar 30% pemberian antibiotik ternyata tidak dibutuhkan.

 

Sebagian besar penelitian menggunakan pendapat ahli atau definisi berdasarkan pedoman terapi yang tepat untuk menilai ketepatan penggunaan obat ini.

 

Penggunaan tidak tepat didefinisikan sebagai:

  • Penggunaan anti mikroba tidak direkomendasikan pada pedoman pengobatan ATAU
  • Penggunaan anti mikroba pada organisme resistan obat

 

Sedangkan penggunaan yang tidak perlu atau tidak dibutuhkan didefinisikan sebagai

  • Penggunaan anti mikroba untuk gangguan atau penyakit non infeksi
  • Penggunaan antibiotik pada kondisi infeksi non bakteri
  • Durasi penggunaan obat sebagai terapi yang melebihi waktu manfaat
  • Terapi anti mikroba yang mubazir (menggunakan ≥ 2 jenis obat dengan aktivitas melawan bakteri yang sama)
  • Melanjutkan terapi spektrum luas empiris setelah organisme penyebab infeksi dan uji sensitivitas antibiotik telah diketahui

 

Terdapat pula istilah penggunaan anti mikroba sub optimal yang didefinisikan sebagai kesalahan dalam:

  • Pemilihan jenis agen
  • Rute pemberian
  • Dosis obat

 

Penggunaan rasional antibiotik merujuk kepada pemberian antibiotik hanya pada pasien yang diharapkan mendapatkan manfaat dari pemberian obat tersebut dengan:

  • menentukan kemungkinan infeksi bakteri
  • Menimbang manfaat vs bahaya terapi antibiotik untuk pasien dengan infeksi bakteri yang sangat mungkin atau terkonfirmasi
  • memilih agen spektrum sempit yang tepat dan dosis, rute, dan durasi terapi yang tepat

 

 

Pada artikel ini Anda akan menemukan pendekatan rasional penggunaan antibiotik khususnya untuk pasien rawat jalan.

 

Bila Anda tidak punya cukup waktu untuk membaca artikel ini sekarang. Kami menyediakan versi Antibiotik.pdf untuk artikel ini. Anda dapat mengunduhnya dengan klik tombol di bawah ini.

 

 

Latar Belakang

antibiotik

sumber: pixabay.com

Penggunaan anti mikroba yang tidak sesuai berhubungan dengan berbagai konsekuensi yang tidak menguntungkan termasuk:

  1. berkembangnya organisme resistan-antibiotik
  2. kejadian efek samping seperti:
    • reaksi efek samping ringan misalnya ruam atau diare
    • respons hipersensitivitas yang mengancam jiwa seperti sindrom Steven-Johnson atau anafilaksis
    • infeksi Clostridium difficile
    • reaksi dari interaksi antar obat
  3. biaya pengobatan yang meningkat

 

Resistansi anti mikroba menjadi isu kesehatan masyarakat yang cukup besar.

 

Kondisi ini merupakan ancaman terhadap pencegahan dan pengobatan berbagai jenis infeksi.

 

Resistansi sendiri merupakan proses alami pada bakteri. Bakteri akan mengembangkan resistansi lebih cepat karena penggunaan atau salah guna agen anti mikroba.

 

Beberapa isu besar yang menjadi perhatian dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) termasuk:

  • carbapenem-resistant Enterobacteriaceae (CRE)
  • drug-resistant Neisseria gonorrhoeae

 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memiliki beberapa isu terkait resistansi obat yang menjadi perhatian besar mereka seperti:

  • resistansi Escherichia coli (bakteri penyebab umum infeksi saluran kemih, infeksi darah, infeksi intra abdomen, dan infeksi terkait kebersihan lingkungan dan makanan) terhadap cephalosporins generasi ketiga dan fluoroquinolone
  • resistansi Klebsiella pneumoniae terhadap cephalosporins generasi ketiga dan karbapenem
  • resistansi Staphylococcus aureus terhadap methicillin
  • resistansi Streptococcus pneumoniae terhadap penicillin
  • resistansi spesies nontyphoidal Salmonella dan Shigella terhadap fluoroquinolones
  • resistansi gonorrhoeae terhadap cephalosporins generasi ketiga

 

 

Pendekatan Dalam Menurunkan Kejadian Resistansi Antibiotik

pil antibiotik

sumber: pixabay.com

Pendekatan rasional penggunaan anti mikroba merupakan salah satu pendekatan untuk mengurangi resistensi anti mikroba.

Tujuan dari program ini adalah untuk:

  • memaksimalkan penggunaan antibiotik yang sesuai untuk mencapai outcome klinis optimal
  • mengurangi efek samping terkait antibiotik, seperti infeksi Difficile
  • mengurangi kemunculan resistansi antibiotik
  • menurunkan biaya kesehatan

 

Selain itu, program ini juga bertujuan memberikan edukasi kepada pasien terkait dengan:

  • kapan anti mikroba dibutuhkan sebagai bagian dari pengambilan keputusan klinis
  • potensi efek buruk dari terapi anti mikroba
  • kapan harus menemui dokter jika gejala tidak membaik atau memburuk
  • penggunaan dan durasi terapi yang tepat.

 

Versi lebih lengkap dari laporan dan program ini dapat dilihat dengan menekan link berikut.

 

WHO 2014 Antimicrobial Resistance Global Report WHO 2014 Apr PDF

Clin Infect Dis 2007 Jan 15;44(2):159

CDC 2013 PDF

 

 

Pemberian Antibiotik Yang Tidak Sesuai Untuk Pasien Rawat Jalan

resistensi antibiotik

sumber: pixabay.com

Kriteria standar yang memuat pemberian antibiotik yang sesuai hingga saat ini belum tersedia. Upaya untuk mendefinisikan ketidaksesuaian terhalang oleh berbagai skenario klinis.

 

Sebagian besar penelitian menggunakan pendapat pakar atau definisi berdasarkan pedoman untuk terapi yang sesuai dalam menilai kecocokan pemberian anti mikroba.

 

Proses mendefinisikan indikator kualitas dan metode untuk menentukan ketepatan penggunaan anti mikroba berdasarkan kriteria obyektif masih diperlukan.

 

Kriteria yang saat ini digunakan telah kami tuliskan pada bagian awal artikel ini.

 

Untuk versi lebih lengkapnya Anda dapat melihatnya pada jurnal berikut:

 

Clin Infect Dis 2016 Dec 15;63(12):1639

 

 

Tingkat Penggunaan Antibiotik Secara Tidak Tepat

Berdasarkan penelitian yang dimuat dalam JAMA 2016 May 3;315(17):1864 sekitar 30% dari seluruh anti mikroba yang diresepkan di Amerika Serikat adalah tidak tepat.

 

Meskipun demikian, penelitian lainnya menyatakan bahwa 50% hingga 80% anak-anak yang memerlukan antibiotik untuk infeksi saluran pernapasan atas di Belanda mendapatkan pengobatan dengan anti mikroba lini pertama sesuai dengan rekomendasi pedoman praktik klinis. (J Antimicrob Chemother 2016 Jun;71(6):1707)

 

Angka yang lebih kecil dilaporkan untuk pengobatan sinusitis, otitis media, atau faringitis di Amerika Serikat yang mendapatkan pengobatan menggunakan anti mikroba lini pertama sesuai rekomendasi pedoman praktik klinis. (JAMA Intern Med 2016 Dec 1;176(12):1870)

 

 

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian Yang Tidak Cepat

anti mikroba

sumber: pixabay.com

Berdasarkan tinjuan sistematik dari penelitian observasional disimpulkan bahwa:

 

“Persepsi dokter terhadap keinginan pasien mendapatkan antibiotik berhubungan dengan peningkatan kemungkinan kesalahan pemberian obat ini pada pasien dengan infeksi saluran pernapasan.-Antimicrob Agents Chemother 2016 Jul;60(7):4106 full-text

 

 

Pasien dengan infeksi pernapasan yang datang ke unit gawat darurat lebih jarang diberikan pengobatan menggunakan anti mikroba tapi agen anti mikroba bila diberikan selalu menggunakan spektrum luas. (J Antimicrob Chemother 2014 Jan;69(1):234)

 

Disisi lain, perawatan di rumah sakit dan perawatan di layanan kesehatan komunitas masing-masing berhubungan dengan peresepan antibiotik yang tidak tepat bila dibandingkan dengan perawatan di unit gawat darurat untuk pasien dengan infeksi saluran napas. (Open Forum Infect Dis 2016 Feb 23;3(1):ofw045 full-text)

 

Pasien lanjut usia dan kunjungan ke spesialis penyakit dalam juga berhubungan dengan pemberian agen golongan fluorokuinolon pada wanita dengan infeksi saluran kemih tanpa komplikasi. (Open Forum Infect Dis 2016 Aug 2;3(3):ofw159 full-text)

 

Faktor lainnya yang berhubungan dengan pemberian obat anti mikroba yang tidak tepat adalah alergi penisilin dan batuk yang dikeluhkan pasien dengan infeksi saluran napas atas non spesifik. (Antimicrob Agents Chemother 2015 Jul;59(7):3848 full-text)

 

 

Penggunaan Antibiotik Rasional

obat antibiotik

sumber: pixabay.com

Infeksi Saluran Napas Non Spesifik (Infeksi Saluran Napas Atas)

Infeksi saluran napas atas (ISPA) atau common cold merupakan diagnosis yang paling sering dijumpai pada pasien rawat jalan.

 

Sebagian besar ISPA disebabkan oleh virus dan antibiotik bukan merupakan pengobatan yang efektif.

 

Tujuan pengobatan kondisi ini adalah perbaikan dan hilangnya gejala.

Beberapa rekomendasi penolakan penggunaan anti mikroba untuk kondisi ISPA antara lain:

 

  • American College of Physicians/Centers for Disease Control and Prevention (ACP/CDC) recommends against using antibiotics for the common cold.(2)
  • American Academy of Family Physicians (AAFP) recommends against using antibiotics for the treatment of cold symptoms in children or adults (Am Fam Physician 2012 Jul 15;86(2):153full-text)
  • American Academy of Pediatrics recommends against using antibiotics for apparent viral respiratory illnesses including sinusitis, pharyngitis, and bronchitis (Choosing Wisely 2014 Mar 17)
  • Canadian Medical Association (CMA) Forum on General and Family Practice Issues, and College of Family Physicians of Canada recommend against using antibiotics for upper respiratory infections that are likely viral in origin, such as influenza-like illness, or self-limiting, such as sinus infections of < 7-day duration (Choosing Wisely Canada 2014 Oct 29)
  • Australasian Society for Infectious Diseases recommends avoiding prescription of antibiotics for upper respiratory tract infection (Choosing Wisely Australia 2016 Mar 1)

 

Dokter  harus memberikan edukasi kepada pasien terkait dengan:

  • Gejala dapat berlangsung hingga 2 minggu
  • Antibiotik tidak dibutuhkan dan dapat menyebabkan efek samping
  • Penggunaan antibiotik yang tidak perlu pada situasi infeksi virus tidak memberikan keuntungan terapeutik pada pasien dan berkontribusi terhadap resistansi antibiotik
  • Risiko dan keuntungan dari terapi simtomatis
  • Pentingnya untuk kembali memeriksakan diri jika gejala memburuk atau berlangsung lebih dari 2 minggu.

 

 

Bronkitis Akut

Tidak kriteria diagnosis yang jelas tersedia untuk bronkitis akut. Pasien dengan akut bronkitis biasanya datang dengan keluhan:

  • Batuk produktif atau non produktif yang berlangsung lebih dari 6 minggu
  • Gejala konstitusional ringan mirip dengan pasien infeksi saluran pernapasan bagian atas

 

Terapi anti mikroba rutin tidak direkomendasikan untuk akut bronkitis tanpa komplikasi, terlepas dari durasi batuknya.

 

Pasien dengan bronkitis akut akan mendapatkan keuntungan dari pemberian obat pereda gejala.

 

Rekomendasi terkait anti mikroba untuk diagnosis bronkitis akut antara lain:

  • American College of Physicians/Centers for Disease Control and Prevention (ACP/CDC) do not recommend routine antibiotic treatment for uncomplicated acute bronchitis, regardless of duration of cough, unless pneumonia suspected. (2)
  • American Academy of Pediatrics (AAP) principles of judicious antibiotic prescribing for upper respiratory tract infections (URI) in pediatrics do not recommend antibiotics for common cold, nonspecific upper respiratory infection, acute cough illness, and acute bronchitis(1)
  • National Institute for Health and Care Excellence (NICE) recommends a no antibiotic strategy or a delayed antibiotic prescribing strategy for adults and children > 3 months old with acute cough/acute bronchitis (NICE 2008 Jul:CG69PDF), reaffirmed February 2014, summary can be found in BMJ 2008 Jul 23;337:a437, editorial can be found in BMJ 2008 Jul 23;337:a656
  • Canadian Association of Emergency Physicians recommends avoiding use of antibiotics in adults with bronchitis/asthma (Choosing Wisely Canada 2015 Jun 2)

 

Jika disangkakan diagnosis pertusis, lakukan pemeriksaan diagnostik dan mulai terapi anti mikroba.( N Engl J Med 2006 Nov 16;355(20):2125 full-text)

 

Terapi anti mikroba pada pasien dewasa dengan dugaan pertusis direkomendasikan terutama untuk mengurangi patogen dan penyebaran penyakit.

 

Terapi anti mikroba pada pasien dengan dugaan pertusis juga menunjukkan percepatan resolusi gejala.

 

 

Pengobatan Simtomatis ISPA Non Spesifik

Tujuan pengobatan ISPA non spesifik adalah untuk perbaikan gejala. Beberapa pengobatan yang dapat dilakukan antara lain:

 

Pada anak-anak:

  • Suction nasal
  • Terapi inhalasi
  • Irigasi nasal
  • Menggunakan humidifer ruangan
  • Berikan asupan cairan yang cukup
  • Elevasi kepala ketika berbaring
  • Berkumur dengan larutan garam (seperempat sampai setengah sendok makan larutkan dengan 200 mL air hangat)
  • Istirahat yang cukup

 

Pada orang dewasa:

  • Istirahat yang cukup
  • Hidrasi dan nutrisi adekuat

 

Beberapa obat bebas dan terapi alternatif yang efektif untuk meringankan gejala antara lain:

 

Pada anak-anak:

  • madu dapat membantu meredakan batuk dan meningkatkan kualitas tidur pada anak-anak> 1 tahun
  • Ekstrak pelargonium sidoides (geranium) dapat membantu meredakan batuk
  • Vapor yang dioleskan pada dada dan leher dapat mengurangi gejala batuk dan meningkatkan kualitas tidur
  • zinc sulfate berhubungan dengan pengurangan durasi gejala ketika dikonsumsi dalam 24 jam setelah onset ISPA muncul
  • kortikosteroid inhalasi dosis tinggi dapat mengurangi gejala wheezing
  • acetylcysteine (umumnya digunakan di Eropa) selama 6-7 hari dapat meredakan batuk pada anak-anak usia > 2 tahun

 

Pada orang dewasa:

  • Dekongestan oral dan topikal mungkin agak efektif untuk meredakan gejala jangka pendek
  • Kombinasi antihistamin generasi pertama dan dekongestan dapat membantu meredakan gejala umum, gejala terkait hidung, dan batuk
  • Ipratropium dapat membantu meredakan batuk
  • obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) efektif untuk menghilangkan rasa sakit
  • Ekstrak sidoides (geranium) dapat mengurangi durasi dan keparahan gejala
  • Echinacea purpura pada awal penyakit dapat mengurangi durasi dan keparahan gejala
  • Andrographis paniculata dapat meredakan gejala
  • Zinc acetate atau glukonat berhubungan dengan pengurangan durasi gejala ketika dikonsumsi dalam 24 jam setelah onset

 

Pedoman lengkap untuk pengobatan simptomatis pada pasien dengan ISPA dapat diunduh pada link di bawah ini:

Am Fam Physician 2012 Jul 15;86(2):153 full-text

ICSI 2013 Jan PDF

 

FDA (BPOM-nya Amerika Serikat) merekomendasikan untuk tidak menggunakan produk obat bebas atau resep obat batuk pada anak yang berusia < 2 tahun dan mendukung untuk menggunakan obat batuk pada anak < 2 tahun. (FDA Press Release 2008 Jan 17)

 

Rekomendasi ini termasuk termasuk obat bebas berupa:

  • Dekongestan
  • Ekspektoran
  • Anti histamin, dan
  • Antitusif

 

Larangan ini dibuat karena terkait dengan efek samping yang serius bahkan mengancam jiwa.

 

Efek samping tersebut termasuk:

  • Kematian
  • Kejang
  • Peningkatan denyut nadi
  • Penurunan kesadaran

 

Rekomendasi yang sama juga disampaikan oleh American Academy of Pediatrics (APA). APA merekomendasikan untuk tidak meresepkan atau merekomendasikan obat batuk dan pilek untuk penyakit ISPA pada anak-anak <4 tahun. (Choosing Wisely 2014 Mar 17)

 

Bila Anda ingin mengajukan pertanyaan atau pendapat terkait artikel ini, silakan tuliskan di kolom komentar.

 

Referensi Utama
  1. Hersh AL, Jackson MA, Hicks LA, American Academy of Pediatrics Committee on Infectious Diseases. Principles of judicious antibiotic prescribing for upper respiratory tract infections in pediatrics.  2013 Dec;132(6):1146-54full-text
  2. Harris AM, Hicks LA, Qaseem A. Appropriate Antibiotic Use for Acute Respiratory Tract Infection in Adults: Advice for High-Value Care From the American College of Physicians and the Centers for Disease Control and Prevention. Ann Intern Med. 2016 Mar 15;164(6):425-34, summary for patients can be found in Ann Intern Med 2016 Mar 15;164(6):I34
  3. Sanchez GV, Fleming-Dutra KE, Roberts RM, Hicks LA. Core Elements of Outpatient Antibiotic Stewardship. MMWR Recomm Rep. 2016 Nov 11;65(6):1-12
haruskah anda mengonsumsi kafein

Kafein: Haruskah Anda Mengonsumsi Kafein?

Kafein adalah senyawa kimia yang ditemukan dalam banyak minuman. Substansi ini adalah bahan alami yang ditemukan pada beberapa minuman, seperti kopi dan teh. Selain itu, secara artifisial ditambahkan pada minuman seperti soda dan banyak minuman energi. Zat ini juga ditemukan pada makanan tertentu, seperti coklat.

kafein bagi tubuh

Sumber: pixabay.com

Zat ini paling dikenal sebagai stimulan yang membantu orang merasa lebih terjaga dan lebih berenergi.

 

Mahasiswa sering minum kopi atau soda untuk membantu mereka tetap terjaga saat belajar. Demikian pula, para pekerja minum minuman berkafein di siang hari untuk tetap waspada dan merasa lebih bertenaga.

 

Dari minuman berkafein yang umum tersedia, kopi merupakan minuman berkafein paling banyak. Yaitu sekitar 130 miligram setiap cangkir delapan oz atau sekitar 230 mL.

 

Teh mengandung hampir 50 miligram dalam ukuran porsi yang sama. Sedangkan minuman soda mengandung sekitar 20 miligram. Sebagian besar minuman energi mengandung sekitar 80 miligram.

 

Para pengamat mencatat bahwa, selama beberapa ratus tahun terakhir, jadwal tidur manusia telah berubah secara signifikan. Terjadi peningkatan waktu yang dihabiskan untuk bekerja. Sedangkan waktu untuk tidur berkurang.

 

Jurnalis T. R. Reid menulis di National Geographic bahwa perubahan jadwal kerja telah meningkatkan konsumsi minuman berkafein. Reid berpendapat,

 

“Kafein adalah obat yang membuat dunia modern menjadi mungkin. Dan semakin modern dunia kita, semakin kita membutuhkannya. Tanpa kopi yang berguna untuk mengeluarkan kita dari tempat tidur dan kembali bekerja, masyarakat 24 jam pada negara maju tidak dapat terwujud.”

 

Versi PDF Dari Artikel Ini Dapat Anda Unduh Pada Dengan Menekan Tombol Di Bawah Ini

 

Pro dan Kontra Konsumsi Kafein

segelas kafein

Sumber: pixabay.com

Beberapa orang sudah lama takut kafein tidak sehat. Memang, zat itu adiktif dan sering digambarkan sebagai obat. Menghilangkan asupan kafein tiba-tiba setelah periode konsumsi yang lama dapat menjadi kejutan bagi sistem tubuh seseorang dan sering menyebabkan gejala penarikan diri atau putus obat (withdrawal), seperti sakit kepala dan iritabilitas.

 

Banyak ahli mengatakan bahwa kafein, meskipun sifatnya adiktif, relatif tidak berbahaya. Menggambarkan kafein sebagai obat, menurut mereka adalah suatu hal yang menyesatkan, karena kafein jauh lebih aman daripada kebanyakan zat adiktif lainnya, seperti alkohol atau nikotin.

 

Efek kesehatan langsung dari kafein masih diperdebatkan, dengan beberapa peneliti melaporkan bahwa zat membantu orang-orang tertentu menangkal penyakit tertentu sementara membuat orang lain rentan terhadap kondisi tertentu.

 

Kepercayaan ilmiah yang paling luas adalah bahwa kafein aman dalam jumlah sedang sekitar 250 miligram per hari, atau setara dengan dua atau tiga cangkir kecil kopi. Tapi dapat berbahaya dalam porsi yang jauh lebih besar.

 

Apakah kafein sehat atau berbahaya? Haruskah orang bergantung padanya untuk membantu mereka melewati hari-hari mereka?

 

Orang yang pro berpendapat bahwa kafein tidak memberikan bahaya nyata selain dari sifat adiktifnya, dan mungkin memiliki manfaat kesehatan yang besar.

 

Zat ini membantu orang-orang lebih fokus dan bekerja lebih baik di tempat kerja, dan dapat mengarah pada masyarakat yang lebih produktif.

 

Selain itu, pendukung berpendapat, gejala penarikan atau putus obat yang dialami orang ketika mereka berhenti konsumsi kafein tidak terlalu parah dan tidak berlangsung lama, membuat substansi ini relatif tidak berbahaya.

 

Orang yang kontra berpendapat bahwa kafein adalah obat adiktif dan harus dihindari. Seperti halnya obat, mereka berpendapat, kafein menyebabkan pengguna menjadi ketergantungan, dan bisa ada gejala penarikan yang tidak menyenangkan ketika mereka berhenti mengonsumsinya.

 

Asupan kafein dapat menyebabkan tekanan darah tinggi yang dapat menyebabkan serangan jantung menurut para kritikus kafein.

 

Kritikus berpendapat bahwa, meskipun kafein berfungsi sebagai stimulan, tetapi juga dapat menghasilkan efek stres dan kecemasan.

 

Ada cara yang jauh lebih sehat dan lebih alami untuk mendapatkan dosis energi, kata para kritikus, seperti tidur lebih banyak atau berolahraga.

 

Sebelum membahas lebih lanjut terkait pro dan kontra kafein ini maka ada baiknya Anda mengetahui sejarah kafein dan apa saja efeknya terhadap tubuh.

 

Sejarah Kafein

kafein

Sumber: pixabay.com

Kopi dan teh telah dikonsumsi oleh manusia selama ribuan tahun.  Untuk sebagian besar waktu itu, keduanya adalah sumber utama asupan kafein.

 

Penggunaan kopi dan teh sebagai stimulan berasal dari sejarah manusia yang tercatat paling awal. Penyair Yunani, Homer, yang hidup pada abad ke-9 dan ke-8 SM. dan menulis karya sastra klasik The Iliad dan The Odyssey, menyebutkan minuman yang dapat membantu orang tetap terjaga; sejarawan percaya bahwa dia mengacu pada teh.

 

Pada zaman kuno, kopi paling populer di Timur Tengah dan Afrika Utara, sementara teh umumnya dianggap berasal dari China. Penggunaan kopi sebagai stimulan selama ritual keagamaan yang panjang di Timur Tengah telah didokumentasikan, dengan para peserta minum kopi untuk membantu mereka tetap terjaga.

 

Kopi dan teh akhirnya dibawa ke bagian lain dunia oleh para penjelajah. Selama bertahun-tahun, kopi dikritik oleh tokoh agama, yang mengklaim bahwa substansi itu adalah instrumen kejahatan.

 

Pada tahun 1819, ahli kimia Jerman Friedlieb Ferdinand Runge mengidentifikasi kafein sebagai bahan dalam kopi yang bertindak sebagai stimulan.

 

Pada tahun 1903, pedagang kopi Jerman Ludwig Roselius dan asistennya Karl Wimmer menemukan proses dekafeinasi, yang mengekstraksi kafein dari biji kopi. Selain memungkinkan orang untuk minum kopi tanpa kafein, proses dekafeinasi memungkinkan produsen makanan dan minuman untuk menambahkan kafein ke minuman dan obat-obatan lainnya.

 

Minuman berkafein menjadi sangat populer di AS dan Inggris selama akhir abad 19 dan awal 20, ketika orang pindah dari daerah pedesaan ke kota-kota besar dan mulai bekerja berjam-jam di pabrik.

 

Pada 1940, AS adalah konsumen kopi terbesar di dunia. Akhirnya, pabrik pembuat obat sakit kepala mulai memasukkan dosis kecil kafein untuk mengurangi sakit kepala.

 

Dimasukkannya kafein dalam obat sakit kepala ini yang sering dikaitkan dengan gejala penarikan.

 

Salah satu obat-obatan itu adalah Excedrin, yang mengandung kafein sejak tahun 1960.

 

Kopi dan teh adalah dua minuman paling populer di seluruh dunia. Meskipun keduanya sering diseduh di rumah, kedai kopi ritel telah menjadi bisnis utama.

 

Dunkin’ Donuts, J-CO, Excelso dan Starbucks menghasilkan miliaran dolar setiap tahun hanya dari penjualan kopi.

 

 

Efek Kafein Terhadap Tubuh

kafein dalam kopi

Sumber: pixabay.com

Kafein adalah bagian dari kelas bahan kimia yang dikenal sebagai xanthines, yang dapat merangsang sistem saraf.

 

Zat ini dikenal bertindak cepat, bergerak cepat ke otak dan mempengaruhi pengguna dalam hitungan menit.

 

Kafein memiliki rasa pahit, yang biasanya dikurangi dalam minuman dengan menambahkan bahan lain, seperti susu, madu atau gula.

 

Efek terhadap kimia otak

Para ahli mengatakan bahwa efek kafein sebagai hasil stimulan dari kemampuannya untuk memblokir zat kimia yang dikenal sebagai adenosin.

 

Adenosis adalah zat yang dikirim oleh tubuh ke otak untuk mengatakan bahwa tubuh telah lelah dan perlu tidur.

 

Kafein memotong adenosine, mengubah pesan ‘Saya lelah,’ menjadi ‘Saya sangat terjaga’.

 

Oleh karena itu disarankan bahwa orang tidak mengonsumsi kafein dalam waktu enam jam sebelum tidur .

 

Zat ini juga meningkatkan produksi dopamin, zat kimia yang mirip dengan adrenalin yang dapat mempengaruhi emosi seseorang.

 

Senyawa ini dapat secara signifikan meningkatkan mood seseorang, meskipun para ahli menekankan bahwa terlalu banyak mengonsumsi minuman berkafein dapat membuat seseorang mudah tersinggung.

 

Efek diuretik kafein

Zat ini juga bertindak sebagai diuretik, menyebabkan peningkatan buang air kecil. Bahkan, beberapa ahli mengatakan bahwa zat ini dapat menyebabkan kekurangan kalsium, karena peningkatan jumlah kalsium dibuang dalam urine.

 

Namun, para ahli tersebut mencatat, jumlah kalsium yang hilang saat buang air kecil dapat diimbangi dengan sejumlah kecil susu, kira-kira jumlah susu yang sama yang akan ditambahkan ke secangkir kopi.

 

Efek terhadap denyut jantung

Zat ini juga meningkatkan denyut jantung, meskipun tidak sampai batas yang membahayakan ketika dikonsumsi dalam dosis kecil.

 

Para ahli juga menekankan bahwa asupan minuman berkafein tidak melawan efek alkohol atau mengurangi keracunan.

 

Penelitian telah menunjukkan hasil yang bertentangan, namun, apakah kafein dapat mengurangi efek hangover. (Para peneliti telah lama berpendapat bahwa kafein tidak dapat meringankan gejala-gejala mabuk, meskipun beberapa penelitian terbaru menunjukkan sebaliknya).

 

Meskipun ada beberapa keuntungan yang diperoleh dari mengkonsumsi minuman berkafein, ada banyak manfaat potensial yang masih sedang diuji oleh para peneliti.

 

Sebagai contoh, beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat ini dapat mencegah timbulnya penyakit Alzheimer, serta penyakit Parkinson dan jenis kanker tertentu.

 

 

Pendapat Ahli Tentang Efek Buruk Kafein

kafein dan tubuh

Sumber: pixabay.com

Sebaliknya, meskipun kafein belum ditentukan secara definitif untuk menyebabkan penyakit, beberapa penelitian telah mengindikasikan bahwa hal itu mungkin terkait dengan penyakit jantung, serta kondisi payudara fibrocystic pada wanita.

 

Selain itu, beberapa ahli mengingatkan bahwa minum minuman berkafein dapat merusak pertumbuhan anak-anak karena dapat menyebabkan gangguan tidur nyenyak.

 

Zat ini juga dikatakan dapat meningkatkan tekanan darah seseorang suatu kondisi yang dapat menyebabkan serangan jantung jika tidak diobati dan dipantau meskipun para peneliti mengatakan minuman berkafein tidak memiliki efek yang sama pada tekanan darah orang yang berbeda.

 

Sheldon Sheps, seorang spesialis hipertensi, menulis untuk situs web Mayo Clinic, sebuah organisasi penelitian medis yang berbasis di Rochester, Minnesota.

 

“Beberapa orang yang secara teratur minum minuman berkafein memiliki tekanan darah rata-rata lebih tinggi daripada mereka yang tidak minum alkohol. Orang lain yang secara teratur minum minuman berkafein mengembangkan toleransi untuk itu. Akibatnya, zat ini tidak memiliki efek jangka panjang pada tekanan darah mereka.”

 

Kebanyakan ahli mengatakan bahwa orang dengan tekanan darah tinggi harus membatasi atau menghindari asupan zat ini.

 

Penelitian juga menunjukkan bahwa mengonsumsi zat ini saat hamil dapat meningkatkan risiko keguguran.

 

Beberapa ahli menyarankan bahwa wanita hamil tidak mengonsumsi kopi sama sekali; Namun, yang lain berpendapat bahwa banyak wanita hamil mengonsumsi kopi dalam jumlah banyak tanpa efek samping. Carolyn Westhoff, seorang profesor kebidanan, ginekologi dan epidemiologi di Columbia University Medical Center di New York City, mengatakan kepada New York Times, bahwa kafein pada ibu hamil tidak berbahaya bila dikonsumsi kurang dari 200 mg per hari.

 

Meskipun zat ini dapat bersifat adiktif, dan secara tiba-tiba menghentikan konsumsinya dapat menyebabkan gejala penarikan, banyak ahli ragu untuk menggambarkannya sebagai gejala penarikan obat.

 

Situs web medis WebMD menjelaskan itu karena:

 

“Zat stimulan ini tidak menyebabkan keparahan penarikan atau perilaku mencari seperti efek penarikan obat yang berbahaya seperti pada narkoba atau alkohol.”

 

Namun, para ahli menyarankan bahwa jika seseorang berhenti mengkonsumsinya, orang itu harus secara bertahap mengurangi asupan, mengkonsumsi sedikit lebih sedikit setiap hari.

 

Beberapa pengamat, mencatat bahwa penelitian terhadap zat stimulan ini mungkin tidak sepenuhnya dapat diandalkan.

 

 

Kesimpulan

Para ahli lebih menekankan bahwa konsumsi kafein dalam batas yang wajar adalah aman bagi kesehatan.

 

Orang-orang yang akan mendapatkan efek negatif dari zat ini bila dikonsumsi secara berlebihan.

 

Disisi lain, toleransi yang berbeda antara orang yang satu dengan yang lain.

 

Misalnya Anda dapat mengonsumsi dua hingga tiga cangkir kopi tanpa mengalami efek samping yang buruk sedangkan teman Anda mungkin merasakan efek sampingnya hanya dengan meminum satu gelas kopi.

 

Jadi pada dasarnya zat ini tidak berbahaya. Tapi, perlu informasikan bahwa zat ini juga dapat menimbulkan efek adiktif kecil dan tidak sebesar alkohol atau nikotin pada rokok.

 

 

Bila Anda memiliki pertanyaan dan pendapat mengenai kafein maka silakan tuliskan di kolom komentar.

Referensi
  1. Ashton, Jennifer. “C Is for Caffeine: Americans Are Jacked on It, Here’s Why.” CBS News, May 7, 2010, cbsnews.com.
  2. Bakalar, Nicholas. “Childhood: A Caffeine Buzz from Soft Drinks.” New York Times, December 16, 2010, nytimes.com.
  3. Blakeslee, Sandra. “Yes, People Are Right. Caffeine Is Addictive.” New York Times, October 5, 1994, nytimes.com
  4. “Caffeine Nation: Diet Coke Addiction.” ABC News, August 4, 2007, abcnews.go.com.
  5. Collins, Karen. “A Cup of Confusion: Is Coffee Healthy or Not?” MSNBC, 2010, msnbc.com.
  6. “Daily Caffeine ‘Protects Brain.'” BBC, April 2, 2008, news.bbc.co.uk.
  7. Goodnough, Abby. “F.D.A. Issues Warning over Alcoholic Energy Drinks.” New York Times, November 17, 2010, nytimes.com.
  8. Grady, Denise. “Pregnancy Problems Tied to Caffeine.” New York Times, January 21, 2008, nytimes.com.
  9. Hensrud, Donald. “Nutrition and Healthy Eating.” Mayo Clinic, accessed January 19, 2011, mayoclinic.com.
  10. Klein, Sarah. “Coffee: Is It Healthier Than You Think?” CNN Health, April 28, 2010, articles.cnn.com.

Amankah Minum Kopi Bagi Ibu Hamil dan Menyusui?

Kopi merupakan minuman paling digemari di seluruh dunia. Tidak hanya digemari oleh pria tapi digemari juga oleh para wanita. Tapi, sebagian besar wanita akan menghentikan kebiasaan mereka untuk minum kopi ketika hamil dan menyusui. Mereka takut kopi yang mereka minum akan mempengaruhi kehamilan dan ASI mereka. Lalu, amankah minum kopi bagi ibu hamil dan menyusui?

 

Artikel ini akan mencoba untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Pada artikel ini Anda akan menemukan beberapa topik yang akan kami bahas antara lain:

  • Amankah kopi bagi ibu hamil?
  • Berapa cangkir kopi yang dapat dikonsumsi ibu hamil?
  • Minum kopi bagi ibu menyusui
  • Efek kafein terhadap air susu ibu
  • Efek kafein terhadap bayi, dan
  • Efek kopi pada ibu menyusui

 

 

Minum Kopi Bagi Ibu Hamil: Aman?

Kehamilan adalah salah satu periode paling penting dan sensitif dalam kehidupan seorang wanita.

 

Karena itu, sangat penting bagi wanita hamil untuk makan makanan dan minuman sehat.

 

Ibu hamil harus memperhatikan dengan seksama apa yang mereka makan dan minum serta harus memastikan diri untuk menghindari makanan dan minuman yang berbahaya.

 

Beberapa makanan dan minuman harus dikurangi konsumsinya sedangkan beberapa makanan dan minuman lainnya sama sekali tidak dianjurkan untuk dikonsumsi selama kehamilan.

 

Apakah kopi termasuk salah satu minuman yang harus dikurangi konsumsinya selama kehamilan?

 

Atau malah menjadi minuman yang dilarang untuk dikonsumsi. Apakah tidak boleh minum kopi bagi ibu hamil?

 

Jawabannya: kopi merupakan minuman yang harus dikurangi asupannya selama kehamilan.

 

Kopi memiliki kandungan senyawa stimulan aktif yang kita kenal sebagai kafein.

 

Kafein ini juga ditemukan pada teh, coklat, dan kola.

 

Ibu hamil umumnya disarankan untuk membatasi asupan kafein mereka menjadi kurang dari 200 mg per hari, atau sekitar 2-3 cangkir kopi.

 

Kafein diserap sangat cepat dan dapat dengan mudah melewati sawar darah ibu ke dalam plasenta dan janin dalam kandungan.

 

Kondisi ini menyebabkan ibu hamil harus membatasi konsumsi kafein.

 

Selain itu, pembatasan konsumsi kafein pada ibu hamil ini dikarenakan bayi yang masih dalam kandungan dan plasenta mereka tidak memiliki enzim utama yang diperlukan untuk memetabolisme kafein.

 

Sehingga kadar kafein pada janin dalam kandungan dapat meningkat dan tidak dapat dibuang oleh janin dalam kandungan.

 

Bila ibu hamil terlalu banyak minum kopi, kemudian terjadi peningkatan kadar kafein dalam aliran darah ibu dan janin, kondisi ini akan menghambat pertumbuhan bayi dalam kandungan.

 

Selain menghambat pertumbuhan bayi dalam kandungan. Kondisi ini juga dapat mengakibatkan berat badan bayi lahir rendah.

 

Berat badan lahir rendah ini diartikan sebagai berat badan lahir kurang dari 2500 gr atau 2,5 kg.

 

Kondisi ini dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian bayi dan risiko penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung yang lebih tinggi ketika dewasa.

 

Jadi, Amankah minum kopi bagi ibu hamil?

 

Jawabannya adalah “AMAN” selagi tidak lebih dari asupan kafein mereka menjadi kurang dari 200 mg per hari, atau sekitar 2-3 cangkir kopi per hari.

 

Sebelum melanjutkan, Bila Anda Tertarik Dengan Artikel Terkait dengan Kopi dan Kafein Maka Anda Dapat Membaca Artikel Terkait Kopi Lainnya pada Link Berikut Ini:

Pengaruh Baik & Buruk Kopi Instan Untuk Kesehatan

Indahnya Perpaduan Senyawa Kimia Di Balik Secangkir Kopi

Manfaat Kopi Bagi Kesehatan Berdasarkan Sains

Peminum Kopi Lebih Panjang Umur: Fakta atau Mitos?

Mengenal Lebih Dekat Senyawa Kafein

Waspadai Efek Terlalu Banyak Konsumsi Kafein

Minum Kopi Bagi Ibu Menyusui

Bila Anda seorang wanita yang sebelum menyusui merupakan pencinta kopi.

 

Maka, Anda tidak perlu berhenti minum kopi jika Anda sedang menyusui.

 

Asupan kafein dari kopi dalam jumlah sedang atau setara dengan sekitar dua hingga tiga cangkir kopi setiap hari tidak akan berdampak buruk pada bayi Anda.

 

Perlu diingat bahwa kandungan kafein dalam secangkir kopi dapat bervariasi tergantung pada jenis biji kopi.

 

Para ahli merekomendasikan untuk mempertahankan asupan kafein sekitar 200 hingga 300 miligram sebagai tingkat “AMAN” setiap hari.

 

Waspada bila Anda mengonsumsi kopi instan atau kopi sachet karena kopi jenis ini memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi.

 

Kemudian apakah minum kopi ketika menyusui memiliki dampak bagi air susu ibu, bayi, dan juga Anda yang sedang menyusui?

 

Silakan lanjutkan membaca untuk mengetahui jawabannya.

 

 

Kafein dalam Kopi dan Air Susu Ibu

minum kopi bagi ibu hamil

Kadar kafein mencapai puncak dalam ASI sekitar satu hingga dua jam setelah konsumsi.

 

Tapi, yang perlu Anda ketahui bahwa sangat sedikit kadar kafein yang benar-benar melewati ASI ketika seorang ibu minum kopi.

 

Menurut hasil dari penelitian hanya sekitar 0,06 hingga 1,5 persen dari dosis kafein dari seorang ibu yang mengonsumsi kopi mencapai bayi saat menyusui.

Jadi kalau seorang ibu mengonsumsi satu gelas kopi dengan kandungan kafein kurang lebih 100 mg maka bayi hanya mendapat 0,06 hingga 1,5 mg kafein dari air susu ibunya.

 

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa kafein juga ditemukan dalam makanan dan minuman lain, seperti teh, cokelat, minuman energi, dan soda.

 

Penting bagi seorang ibu menyusui untuk memasukkan seluruh minuman dan makanan tersebut saat menghitung asupan kafein hariannya.

 

American Academy of Pediatrics telah mengkategorikan kafein sebagai obat yang biasanya kompatibel dengan menyusui.

 

Misalnya seorang ibu menyusui mengalami sakit kepala, dan ibu tersebut beranggapan bahwa dia harus mengonsumsi obat nyeri kepala yang mengandung parasetamol dan kafein yang sering dikonsumsi ketika mengalami sakit kepala yang sama.

 

Maka obat tersebut menurut American Academy of Pediatrics tidak masalah dikonsumsi oleh ibu yang sedang menyusui.

Meskipun aman, sebaiknya ibu menyusui tetap membatasi asupan kopi nya kurang dari 300 miligram kafein per hari.

 

Bila ASI yang diberikan oleh seorang ibu yang minum kopi kepada bayinya mengandung sedikit kafein. Apakah kafein tersebut memiliki dampak terhadap bayi yang disusui?

 

 

Efek Kafein Terhadap Bayi dan Ibu Menyusui

kopi bagi ibu hamil

Karena sedikit sekali kafein yang terkandung dalam ASI maka efek kafein pada bayi pada umumnya muncul ketika seorang ibu menyusui mengonsumsi kurang lebih 10 cangkir kopi per hari.

 

Efek samping kafein pada bayi yang mendapatkan ASI dari seorang ibu yang mengonsumsi kopi antara lain:

  • Bayi menjadi rewel
  • Pola tidur bayi menjadi buruk
  • Gemetar
  • Lebih sering menangis

 

 

Bayi prematur dan bayi baru lahir (neonatus) memecah kafein lebih lambat daripada bayi yang lebih tua.

 

Kondisi ini mengakibatkan efek kafein akan lebih mudah tampak pada bayi prematur atau neonatus.

 

Beberapa bayi mungkin juga lebih sensitif terhadap kafein daripada yang lain. J

 

Jika Anda melihat peningkatan iritabilitas (rewel) atau pola tidur yang buruk setelah konsumsi kafein, pertimbangkan untuk mengurangi asupan atau menunggu untuk minum kopi setelah Anda memberikan ASI kepada bayi Anda.

 

Selain itu, kafein juga bisa berefek pada Anda, ibu menyusui.

 

Efek tersebut antara lain:

  • migrain
  • kesulitan tidur
  • sering buang air kecil
  • sakit perut
  • denyut jantung cepat
  • tremor otot

 

 

Kesimpulan

Minum kopi bagi ibu hamil dan menyusui adalah AMAN.

 

Meskipun aman, minum kopi bagi ibu hamil dan menyusui juga memiliki batasan.

 

Batasan ini terkait dengan jumlah kafein yang AMAN dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui.

 

Membatasi asupan kafein maksimal 200-300 mg setiap hari atau dua cangkir kopi merupakan tindakan yang bijak bagi ibu hamil dan ibu menyusui yang tidak dapat melepas kegemarannya dalam minum kopi.

 

Sebagian besar bayi tidak akan menunjukkan efek samping yang merugikan dengan tingkat konsumsi kafein maksimal tersebut.

 

Tetapi tetap perhatikan tanda-tanda seperti bayi lebih rewel, iritabilitas, atau pola tidur yang buruk pada bayi.

 

Sesuaikan asupan kopi Anda dengan benar dan pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter atau konsultan laktasi untuk saran tambahan.

 

Bila Anda memiliki pertanyaan dan komentar seputar minum kopi bagi ibu hamil dan menyusui Anda dapat menuliskannya pada kolom komentar di bawah ini.

 

Referensi
  1. American Academy of Pediatrics. (2001). The transfer of drugs and other chemicals into human milk. DOI: 10.1542/peds.108.3.776
  2. Berlin Jr CM, et al. (1984). Disposition of dietary caffeine in milk, saliva, and plasma of lactating women.

https://ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/6691042

  1. Breastfeeding your baby. (2016).

https://acog.org/-/media/For-Patients/faq029.pdf

  1. (2016).

https://ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK501467/

  1. Caffeine chart. (n.d.).

https://cspinet.org/eating-healthy/ingredients-of-concern/caffeine-chart

  1. Kredlow MA, et al. (2015). The effects of physical activity on sleep: A meta-analysis. DOI: 10.1007/s10865-015-9617-6
  2. Maternal diet. (2018).

https://cdc.gov/breastfeeding/breastfeeding-special-circumstances/diet-and-micronutrients/maternal-diet.html

  1. Mayo Clinic Staff. (2017). Caffeine content for coffee, tea, soda, and more.

https://mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/caffeine/art-20049372

  1. Mayo Clinic Staff. (2017). Caffeine: How much is too much?

https://mayoclinic.org/healthy-lifestyle/nutrition-and-healthy-eating/in-depth/caffeine/art-20045678