kafein pada kopi

Mengenal Lebih Dekat Senyawa Kafein

Bila Anda seorang pencinta kopi tentu Anda telah mengenal senyawa ini. Kafein adalah salah satu senyawa stimulan alami yang paling banyak ditemukan pada kopi.

 

Stimulan adalah senyawa kimia yang dapat mempercepat beberapa fungsi atau proses dalam tubuh.

 

Tapi, apakah Anda benar-benar yakin telah mengenal senyawa kafein ini dengan baik?

 

Tahukah Anda bahwa kafein juga dapat menyebabkan masalah pada tubuh bila dikonsumsi secara berlebihan?

 

Artikel ini akan memberikan kepada Anda gambaran yang sederhana terkait:

  • Apa itu kafein?
  • Bagaimana pengaruh kafein terhadap tubuh?
  • Kapan Anda harus membatasi atau menghindari konsumsi kafein?
  • Berapa batas kafein yang dapat Anda konsumsi?

 

Untuk pertama sekali mari kita bahas terkait apa itu senyawa kafein.

 

Bila Anda belum punya cukup waktu untuk membaca artikel ini hingga selesai, kami menyediakan file dalam format PDF yang dapat Anda unduh dan Anda baca kapan saja pada link berikut.

Senyawa Kafein.pdf

 

Apa itu Kafein?

senyawa kafein

Seperti yang telah disebutkan di atas, senyawa kafein adalah senyawa yang masuk dalam golongan stimulan.

 

Stimulan adalah senyawa yang dapat mempercepat proses beberapa fungsi tubuh. Senyawa ini ditemukan secara alami pada daun teh, biji kopi, dan juga biji coklat.

 

Selain secara alami, senyawa ini juga dapat diproduksi secara kimiawi. Persis seperti pembuatan obat-obatan.

 

Sebagian besar kafein yang Anda konsumsi berasal dari berbagai jenis minuman, antara lain:

  • Kopi
  • Teh
  • Minuman berkarbonasi
  • Minuman energi

 

Selain dari minuman, kafein juga dapat ditemukan pada:

  • Permen min
  • Permen karet
  • Cokelat
  • Energi bar
  • Dan makanan lainnya.

 

Bila Anda perhatikan, beberapa obat yang dijual bebas, terutama obat anti nyeri dan obat sakit kepala juga mengandung kafein.

 

Jadi pada dasarnya kafein merupakan stimulan alami tapi dapat pula diproduksi secara kimiawi. Kafein ditemukan pada makanan dan minuman serta digunakan pula dalam obat.

 

Bila kafein juga digunakan sebagai salah satu komposisi obat apa yang dapat dilakukan kafein terhadap tubuh?

 

Sebelum melanjutkan, Bila Anda Tertarik Dengan Artikel Terkait dengan Kopi Maka Anda Dapat Membaca Artikel Terkait Kopi Lainnya pada Link Berikut Ini:

Pengaruh Baik & Buruk Kopi Instan Untuk Kesehatan

Indahnya Perpaduan Senyawa Kimia Di Balik Secangkir Kopi

Manfaat Kopi Bagi Kesehatan Berdasarkan Sains

Peminum Kopi Lebih Panjang Umur: Fakta atau Mitos?

 

Pengaruh Senyawa Kafein Terhadap Tubuh Anda

pengaruh kafein

Karena berperan sebagai stimulan, setiap organ tubuh Anda yang memiliki reseptor stimulan dapat terpengaruh dengan kadar kafein dalam darah.

 

Kafein yang masuk ke dalam tubuh Anda melalui berbagai makanan dan minuman yang Anda konsumsi akan diserap oleh sistem pencernaan.

 

Sistem pencernaan akan menyerap kafein ke dalam pembuluh darah. Peningkatan kadar kafein dalam pembuluh darah dapat mempengaruhi berbagai bagian dan organ tubuh, yaitu:

  • Kafein akan menstimulasi otak dan membuat Anda terjaga lebih lama, berenergi, dan membantu agar dapat berkonsentrasi lebih baik
  • Denyut nadi akan meningkat
  • Bekerja lebih lama tanpa merasa capek
  • Membuat Anda menjadi lebih tidak sensitif terhadap nyeri atau sakit
  • Membantu otot untuk bekerja lebih baik
  • Meningkatkan jumlah asam lambung

 

Meskipun demikian, tidak selamanya kafein memberikan dampak positif pada tubuh Anda.

 

Konsumsi kafein yang berlebihan juga dapat memberikan efek buruk terhadap kesehatan Anda.

 

Efek buruk tersebut antara lain:

  • Cemas, gangguan tidur, dan keletihan
  • Denyut jantung cepat dan tidak teratur (irreguler)
  • Otot berkedut
  • Mual
  • Nyeri perut atau nyeri ulu hati

Peningkatan kadar kafein dalam darah juga mengakibatkan percepatan proses pembentukan urine dan dapat menyebabkan Anda kekurangan cairan atau dehidrasi.

 

Untuk itu jangan heran bila Anda akan lebih sering buang air kecil setelah mengonsumsi satu gelas kopi atau teh.

 

Kafein dalam kopi atau teh tersebut yang membuat Anda menjadi lebih sering untuk ke kamar mandi.

 

Efek negatif dari senyawa kafein ini lebih sering terjadi pada orang yang jarang mengonsumsinya.

 

Bila Anda rutin minum segelas kopi atau teh mungkin Anda jarang mengalami dampak negatif dari kafein dibandingkan orang yang jarang minum teh atau kopi.

 

Kondisi ini disebut sebagai toleransi kafein. Toleransi kafein ini berbeda-beda sehingga dampak kafein dan seberapa banyak kafein memberikan dampak pada tubuh berbeda-beda pula antara orang yang satu dengan orang yang lain.

 

Lalu, kapan Anda harus membatasi atau menghindari konsumsi kafein?

 

 

Kondisi yang Menyebabkan Anda Harus Menghindari Konsumsi Kafein

efek negatif kafein

Senyawa kafein dapat memberikan masalah bila Anda menderita:

  • Diabetes tipe 2 (konsumsi kafein lebih dari 250 mg akan meningkatkan kadar gula darah)
  • Penderita serangan panik atau gangguan cemas (ansietas)
  • Denyut jantung tidak teratur
  • Penyakit jantung atau riwayat serangan jantung
  • Tekanan darah yang tidak terkontrol
  • Gangguan tidur
  • Ulkus peptikum (luka pada lambung atau usus)
  • Penyakit refluks asam lambung
  • Sindrom premenstruasi

 

Bila Anda merupakan salah seorang yang mengalami kondisi tersebut maka Anda sebaiknya menghindari konsumsi makanan dan minuman yang mengandung kafein.

 

Kafein dapat memperburuk penyakit yang sedang Anda derita.

 

Lalu, bila Anda cukup sehat, berapa banyak kafein yang dapat Anda konsumsi?

 

 

Jumlah Senyawa Kafein Yang Dapat Anda Konsumsi

konsumsi kafein

Jumlah kafein yang dapat Anda konsumsi selama satu hari adalah sekitar 200 hingga 300 mg per hari.

 

Bila Anda hamil, maka Anda tidak boleh mengonsumsi kafein pada 3 bulan pertama kehamilan (trimester pertama) dan tidak boleh lebih dari 200 mg pada usia kehamilan selanjutnya.

 

Satu hal yang harus dipahami, khusus untuk kopi, jumlah kafein dalam kopi sangat bergantung pada jumlah bubuk kopi yang digunakan, jenis kopi, dan proses penyeduhan kopi tersebut.

 

Kandungan kafein dalam beberapa minuman dapat adalah sebagai berikut:

 

  • Satu cangkir kopi reguler (250 mL) dapat mengandung 75 hingga 120 mg kafein
  • Kopi espresso mengandung sekitar 30 hingga 50 mg kafein untuk setiap 31,25 mL atau untuk setiap one shot
  • Satu cangkir teh (250 mL) mengandung 20 hingga 100 mg kafein
  • Minuman ringan dengan kafein mengandung sekitar 30 hingga 70 mg kafein untuk setiap botolnya (375 mL)
  • Minuman berenergi dapat mengandung 50 hingga 300 mg kafein dalam setiap 250 mL.

 

Ketika Anda telah mengetahui berapa jumlah senyawa kafein dalam minuman di atas maka cara terbaik untuk mengetahui apakah Anda telah mengonsumsi terlalu banyak kafein adalah dengan memperhatikan bagaimana efek kafein terhadap tubuh Anda.

 

Jika Anda merasakan gejala buruk kafein seperti:

  • Terlalu sering buang air kecil
  • Nyeri ulu hati
  • Jantung berdebar
  • Diare

 

Maka Anda telah terlalu banyak mengonsumsi kafein.

 

Anda dapat mengukur sendiri besar toleransi tubuh Anda terhadap kafein.

 

 

Kesimpulan

Senyawa kafein mempengaruhi banyak bagian dan organ tubuh.

 

Kafein dapat membantu Anda lebih waspada dan lebih sulit capek.

 

Konsumsi terlalu banyak kafein dapat menyebabkan Anda terlalu bersemangat, gangguan tidur, dan masalah perut. Kafein juga dapat mempengaruhi detak jantung Anda.

 

Cara terbaik untuk mengetahui apakah Anda terlalu banyak mengonsumsi kafein adalah dengan memperhatikan bagaimana kafein mempengaruhi tubuh Anda dengan melihat gejala yang muncul.

 

Bila Anda memiliki pertanyaan terkait dengan konsumsi kafein maka silakan Anda tuliskan dalam komentar

 

Referensi
sakit kepala

Kenali Penyebab Sakit Kepala Yang Anda Alami

Apa yang Anda lakukan pertama kali yang terpikirkan di dalam benak Anda jika Anda mengalami sakit kepala? Tentu saja Anda pasti mencari obat sakit kepala. Apakah ada di antara Anda yang berusaha untuk mencari apa yang menjadi penyebab sakit kepala tersebut?

pusing dan sakit kepala

Rata-rata orang di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia melakukan hal yang sama dengan Anda.

 

Jadi yang harus Anda ketahui, bahwa obat sakit kepala hanya untuk meredakan nyeri kepala Anda sementara.

 

Tetapi Anda harus mengetahui penyebabnya. Jika tidak, mungkin setelah minum obat Anda sembuh.

 

Namun keesokan harinya atau seminggu kemudian, jika Anda mengulangi penyebabnya, Anda akan mengalami sakit kepala lagi.

 

Dan jika Anda mengonsumsi obat terus menerus, yang ditakutkan adalah efek samping dari obat tersebut.

 

Oke, mari kita bahas satu persatu apa yang menjadi penyebab sakit kepala ini.

 

 

Kurang Tidur Sebagai Penyebab Sakit Kepala

penyebab sakit kepala

Penyebab sakit kepala yang pertama adalah kurang tidur.

 

Mungkin bagi Anda yang suka begadang dan bagi Anda yang kurang tidur, kondisi inilah yang paling sering menjadi “biang keladi” penyebab sakit kepala Anda.

 

Saat kita tidur, tubuh kita melakukan proses pemulihan (recovery).

 

Jadi saat kita stres seharian, tubuh akan mengalami banyak kerusakan.

 

Jadi saat tidur, tubuh Anda akan melakukan pemulihan. Begitu pula dengan otak Anda.

 

Pada otak terdapat milyaran sel saraf yang disebut sebagai neuron dan sel-sel pendukung lainnya.

 

Neuron akan dipulihkan kembali dengan sendirinya saat tidur.

 

Jadi bukan berarti saat Anda makan sel neuron akan mengalami pemulihan, tetapi saat Anda tidur.

 

Makanan itu hanya mengisi nutrisi bagi perbaikan otak dan tubuh Anda. Tetapi proses perbaikannya adalah di saat Anda tidur.

 

Jadi, percuma Anda mengisi bahan bakunya tetapi tidak Anda istirahatkan.

 

Penyebab Sakit Kepala Yang Kedua Adalah Stres

sakit kepala karena stres

Stres ini boleh saya katakan semua orang di dunia ini pasti pernah mengalami stres.

Namun yang terpenting adalah bukan seberapa besar stres yang Anda hadapi. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana Anda dapat mengelola stres Anda.

 

Secara sederhana disebut juga sebagai manajemen stres atau cara Anda dalam merespons stres ini. Tindakan ini adalah yang terpenting.

 

Jenis sakit kepala yang disebabkan terlalu banyak beban pikiran adalah nyeri kepala tegang atau disebut pula sebagai Tension Type Headadche (TTH).

 

Jadi tipe sakit kepala seperti ini mungkin beberapa dari Anda pernah merasakannya.

 

Kondisi TTH ini akan mengakibatkan bagian belakang kepala Anda sampai ke pundak dan leher kaku.

 

Jadi Anda pegang, rasanya seperti papan. Kaku sekali dan sangat keras.

 

Jika terjadi seperti ini, ototnya terlalu tegang. Otomatis pembuluh darah dan syaraf pada lokasi tersebut akan tertekan.

 

Banyak dari mereka akhirnya mencari obat untuk relaksasi.

 

Sebenarnya penyebab utamanya adalah karena “stres Anda”.

 

Hal ini banyak saya jumpai pada pelajar atau mahasiswa yang akan menghadapi ujian, misalnya. Lehernya terasa kaku.

 

Atau para pebisnis dan pekerja kantoran yang akan menghadapi klien pada keesokan harinya, atau mendapatkan sebuah proyek yang lebih besar.

 

Mereka terlalu tegang dan akhirnya tidak bisa tidur pada malam harinya.

 

Dehidrasi Juga Dapat Menjadi Penyebab Sakit Kepala

dehidrasi dan sakit kepala

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa hubungannya dehidrasi dengan sakit kepala?

 

Tubuh kita sebagai manusia itu kurang lebih 70% terdiri dari cairan.

Jadi, air di dalam tubuh kita itu sangat berperan penting untuk melancarkan aliran darah (sirkulasi) dan metabolisme di dalam tubuh.

 

Jika Anda kekurangan cairan atau disebut sebagai dehidrasi, maka sirkulasi dan metabolisme di dalam tubuh Anda akan terganggu.

 

Begitu pula dengan peredaran nutrisi dan peredaran oksigen ke otak Anda. Karena sekali lagi, 70% tubuh kita adalah cairan.

 

Jika peredaran oksigen terganggu, maka otak Anda yang membutuhkan suplai oksigen dan nutrisi tadi juga akan mengalami gangguan.

 

Jadi ingat, tubuh Anda memerlukan cairan. Lalu, berapakah jumlah cairan yang Anda butuhkan? Apakah Anda harus mengonsumsi 8 gelas setiap hari?

 

Kebutuhan cairan Anda adalah sekitar 40 mL per kilogram berat badan. Jadi kalau misalnya Anda memiliki berat badan 70 kg maka kebutuhan cairan harian Anda adalah sekitar 2,8 liter.

 

Dalam kondisi cuaca lebih panas, atau Anda sedang berolahraga, maka Anda boleh menambah asupan cairan Anda.

 

 

Pilek Juga Menjadi Penyebab Sakit Kepala

sakit kepala karena pilek

Sebagian besar yang mengalami Pilek atau Flu atau Masuk Angin akan mengalami sakit kepala.

 

Mengapa? Karena biasanya pilek itu paling banyak disebabkan oleh infeksi virus yang akan menyebabkan peradangan.

 

Jika tubuh mengalami peradangan, biasanya akan mengalami sakit di seluruh sendi, termasuk kepala Anda.

 

Jika kondisi ini terjadi, maka yang Anda butuhkan adalah beristirahat lebih banyak serta konsumsi lebih banyak air putih dan vitamin C.

 

Anda bisa mendapatkan vitamin C tersebut dengan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.

 

Atau mungkin Anda bisa mendapatkannya dari makanan tambahan seperti suplemen.

 

 

Sakit Kepala Ditambah Sakit Gigi

sakit kepala karena sakit gigi

Almarhum Meggy Z menyanyikan salah satu lirik lagu populer ini, “Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini. Biar tak mengapa”

 

Tapi, saya tidak yakin bahwa Anda yang pernah mengalaminya setuju dengan lirik lagu tersebut. Mengapa demikian?

 

Karena sakit gigi itu sangat erat kaitannya dengan sakit kepala.

 

Apa alasannya? Sederhana, karena sangat dekat posisinya. Dan syarafnya saling terhubung.

 

Banyak orang di Indonesia, mungkin di seluruh dunia yang sangat malas untuk memeriksakan giginya 6 bulan sekali dan menjaga kebersihan gigi mereka.

 

Akhirnya sampai berlubang. Kalau sudah berlubang, itu sakit sekali.

 

Anda sampai tidak bisa tidur, tutup mulut saja setengah mati. Mengunyah makanan juga susah.

 

Jadi saya sarankan kepada Anda semua untuk kontrol ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali.

 

Anda juga harus berusaha untuk menjaga kebersihan mulut Anda.

 

Dengan melakukannya, maka Anda mengurangi risiko terjadinya gigi berlubang.

 

Kemudian yang keenam, mengonsumsi makanan dingin terlalu cepat. Mengonsumsi makanan atau minuman dingin terlalu cepat.

 

Tapi ada pula pasien yang bertanya seperti ini: “Dokter, ketika makanan atau minuman dingin jika masuk ke dalam tubuh kita bukankah tubuh kita akan membuat suhunya akan kembali normal seperti tubuh kita”.

 

Ya, benar. Saya tidak menyalahkan itu.

 

Tapi ingat, tubuh harus memecah senyawa yang disebut sebagai ATP (Adenosin Trifosfat) untuk menghasilkan energi  sehingga bisa menormalkan kembali suhu yang terlalu dingin tadi.

 

Dan ingat, itu butuh waktu.

 

Jika Anda mengonsumsinya terlalu cepat, maka akan mengganggu sistem tubuh dan syaraf-syaraf Anda.

 

Syaraf ini juga berhubungan dengan syaraf di otak Anda. Sehingga jika terganggu, Anda akan mengalami sakit kepala.

 

Biasanya tidak terlalu lama. Tetapi jika Anda sering melakukannya, otomatis tidak baik juga bagi tubuh Anda.

 

Kesimpulan

Oke, apa yang saya jabarkan di atas tadi merupakan 6 penyebab umum mengapa Anda sakit kepala.

 

Pesan saya di sini adalah:

 

“Ketahuilah penyebab mengapa Anda sampai sakit kepala.

Dan bukan berarti begitu Anda sakit kepala, harus langsung mencari obat.”

 

Mungkin Anda bisa membeli obat di apotek terdekat atau di toko terdekat dan langsung mengonsumsinya setiap kali sakit kepala.

 

Banyak masyarakat kita yang akhirnya mendapatkan efek buruk dari obat sakit kepala yang diminum setiap hari.

 

Mungkin dosis pertama 1 tablet. Akhirnya naik 2 tablet, 3 tablet, karena terjadi resisten (dosis menjadi tidak efektif) di dalam tubuh mereka.

 

Saya harapkan Anda semua dapat mengonsumsi obat dengan bijak. Dan Anda dapat mengetahui penyebab mengapa Anda bisa sakit kepala.

 

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar sakit kepala atau Anda ingin membagikan pengalaman Anda terkait dengan pengobatan sakit kepala, silakan Anda tuliskan di kolom komentar. Saya akan senang untuk dapat membantu Anda menjawab pertanyaan tersebut.

 

kopi reguler

Pengaruh Baik & Buruk Kopi Instan Untuk Kesehatan

Beberapa minggu yang lalu dunia maya dihebohkan dengan seorang pria yang melakukan uji coba dengan membakar salah satu serbuk kopi instan menggunakan pemantik api. Dan mengaitkannya dengan dampak buruk kopi instan untuk kesehatan.

 

Serbuk kopi instan tersebut terbakar dan orang-orang yang melakukan uji coba tersebut menyatakan bahwa pasti terdapat efek buruk kopi instan untuk kesehatan.

 

Nyatanya, produk berbentuk serbuk tersebut memang ringan dan berpartikel halus serta mengandung minyak, dan memiliki kadar air yang rendah, sehingga mudah terbakar dan menyala.

 

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bahkan telah menjelaskan bahwa setiap produk pangan yang memiliki rantai karbon (ikatan antar atom karbon), kadar air rendah, terutama yang berbentuk tipis, serbuk, dan berpori  dapat terbakar atau menyala jika disulut dengan api.

 

Namun, bukan berarti pangan ini berbahaya jika dikonsumsi.

 

Artikel ini saya tulis bukan untuk menjelaskan bagaimana proses serbuk kopi instan tersebut dapat terbakar.

 

Melainkan ingin memberikan gambaran pengaruh konsumsi kopi instan untuk kesehatan.

 

Pendahuluan

kopi instan untuk kesehatan

Seperti yang kita ketahui bahwa kopi instan merupakan salah satu produk yang populer di seluruh dunia.

 

Bahkan kopi instan ini menyumbang angka 50% dari total komsumsi kopi di seluruh dunia.

 

Kopi instan digemari karena mudah dan cepat untuk disajikan dan tentu saja jauh lebih murah dibandingkan kopi reguler (kopi yang diseduh dari biji kopi yang dihaluskan baik dengan proses seduh (brewing) modern atau manual).

 

Kopi reguler sendiri, memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan.

 

Untuk lebih jelasnya Anda dapat membaca artikel saya berikut yang menuliskan terkait dengan hal tersebut.

Manfaat Kopi Bagi Kesehatan Berdasarkan Sains

 

Tapi yang menjadi pertanyaan apakah kopi instan juga memberikan manfaat kesehatan seperti kopi reguler?

 

Untuk pertama, mari kita mengenal lebih dekat apa yang dimaksud dengan kopi instan.

 

 

Apa itu kopi instan?

kopi instan

Kopi instan merupakan jenis kopi yang terbuat dari ekstrak kopi yang dikeringkan.

 

Ekstrak kopi ini diproduksi dari proses brewing biji kopi, mirip dengan proses seduh kopi reguler tapi dengan konsentrasi yang lebih tinggi atau lebih pekat.

 

Setelah diseduh, air dibuang dari ekstrak tersebut untuk membuat fragmen atau serbuk kering, di mana keduanya akan larut bila ditambahkan air.

 

Terdapat 2 cara untuk membuat kopi instan ini, yaitu:

 

  • Spray-drying: ekstrak kopi disemprot dengan udara panas, maka akan segera mengering menjadi droplets (butiran halus) dan mengubah mereka menjadi serbuk atau kepingan-kepingan kecil
  • Freeze-drying: dengan teknik ini ekstrak kopi dibekukan dan kemudian dipotong menjadi fragmen kecil. Lalu dikeringkan pada suhu rendah dengan kondisi hampa udara (vakum).

 

Kedua metode tersebut memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mempertahankan kualitas, aroma, dan rasa kopi.

 

Cara paling mudah untuk menyiapkan segelas kopi jenis ini adalah dengan menambahkan air panas dan satu saset atau satu sendok makan bubuk kopinya.

 

 

Kopi Instan Mengandung Anti Oksidan dan Nutrisi.

Kopi merupakan salah satu sumber antioksidan yang cukup besar pada diet modern.

 

Kandungan antioksidan yang tinggi ini dipercaya bertanggung jawab terhadap banyak manfaat kesehatan ketika Anda mengonsumsi kopi.

 

Seperti kopi reguler kopi instan juga mengandung antioksidan yang cukup besar.

 

Berdasarkan salah satu penelitian, kopi jenis instan bahkan mengandung lebih banyak jenis antioksidan dibandingkan dengan jenis kopi lainnya. Kondisi ini tercapai karena prosesnya yang berbeda.

 

Selain itu, pada satu gelas kopi standar mengandung 4 kalori dan memberikan asupan sedikit kalium, magnesium, dan niacin (Vitamin B3).

 

Kopi instan mengandung kafein lebih sedikit

Kafein merupakan zat stimulan utama pada kopi.

 

Kopi jenis instan diketahui mengandung kafein lebih sedikit dibandingkan dengan kopi reguler.

 

 

Satu cangkir kopi instan dapat mengandung 30–90 mg kafein, sementara satu cangkir kopi biasa mengandung sekitar 70–140 mg kafein.

 

kepekaan setiap orang terhadap kafein berbeda-beda maka kopi instan dapat menjadi pilihan yang lebih baik bagi mereka yang perlu mengurangi konsumsi kafein.

 

Kopi instan juga tersedia sebagai kopi tanpa kafein, yang mengandung lebih sedikit kafein.

 

Terlalu banyak kafein dapat menyebabkan kecemasan, gangguan tidur, gelisah, sakit perut, tremor dan detak jantung cepat.

 

 

Efek Buruk Kopi Instan Untuk Kesehatan Karena Kandungan Akrilamida

ceri kopi

Akrilamida adalah zat kimia berbahaya yang terbentuk ketika biji kopi dipanggang (roasting).

 

Bahan kimia ini juga biasa ditemukan dalam berbagai makanan, asap, barang-barang rumah tangga dan produk perawatan pribadi.

 

Menariknya, kopi instan dapat mengandung akrilamida sebanyak dua kali lebih banyak dari kopi reguler.

 

Paparan berlebihan akrilamida dapat merusak sistem saraf dan meningkatkan risiko kanker.

 

Namun, jumlah akrilamida yang Anda hadapi melalui konsumsi kopi jauh lebih rendah daripada dosis yang terbukti berbahaya.

 

Oleh karena itu, minum kopi instan seharusnya tidak menimbulkan kekhawatiran mengenai paparan akrilamida.

 

Beberapa hal lainnya yang dapat menyebabkan efek buruk kopi instan untuk kesehatan adalah kandungan bahan pengawet, pewarna, penyedap, dan pemanis buatan di dalamnya.

 

Untuk efek buruk pemanis buatan Anda dapat membaca artikel berikut:

Pemanis Buatan: Teman Atau Musuh Untuk Diet

 

Lalu apakah kopi instan masih memiliki manfaat untuk kesehatan?

 

 

Manfaat Kopi Instan Untuk Kesehatan

Pemuda Minum Kopi

Minum kopi telah dikaitkan dengan banyak manfaat kesehatan.

 

Mengingat bahwa kopi instan mengandung antioksidan dan nutrisi yang sama seperti kopi biasa, seharusnya memiliki sebagian besar efek kesehatan yang sama.

 

Minum kopi instan dapat:

  • Meningkatkan fungsi otak: Kafein dapat meningkatkan fungsi otak.
  • Meningkatkan metabolisme: Kafein dapat meningkatkan metabolisme dan membantu Anda membakar lebih banyak lemak.
  • Mengurangi risiko penyakit: Kopi dapat mengurangi risiko penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer dan Parkinson.
  • Turunkan risiko diabetes: Kopi dapat membantu mengurangi risiko diabetes tipe 2.
  • Meningkatkan kesehatan hati: Kopi dan kafein dapat mengurangi risiko penyakit hati seperti sirosis dan kanker hati.
  • Meningkatkan kesehatan mental: Kopi dapat membantu menurunkan risiko depresi dan bunuh diri.
  • Promosikan umur panjang: Minum kopi dapat membantu Anda hidup lebih lama.

 

Namun, penting untuk diingat bahwa banyak dari penelitian di atas bersifat observasional.

 

Jenis penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa kopi menyebabkan pengurangan risiko penyakit, hanya saja orang yang terbiasa minum kopi cenderung tidak mendapatkan penyakit tersebut.

 

Jika Anda bertanya-tanya berapa banyak kopi yang harus diminum, mengonsumsi 3-5 cangkir kopi instan setiap hari mungkin optimal. Jumlah ini biasanya dikaitkan dengan pengurangan risiko tertinggi dalam studi.

 

Yang paling perlu Anda perhatikan adalah komposisi zat lain selain ekstrak kopi.

 

 

Kesimpulan

Kopi instan cepat, mudah dan tidak memerlukan mesin atau alat pembuat kopi. Kopi jenis ini juga memiliki umur simpan yang sangat panjang dan lebih murah daripada kopi biasa.

Oleh karena itu, mungkin sangat berguna ketika Anda sedang sangat sibuk atau sedang bepergian.

 

Kopi instan mengandung sedikit kafein dan lebih banyak akrilamida daripada kopi biasa, tetapi mengandung sebagian besar antioksidan yang sama.

 

Secara keseluruhan, kopi instan adalah minuman yang sehat, rendah kalori yang terkait dengan manfaat kesehatan yang sama seperti jenis kopi lainnya.

 

Tapi, waspada terhadap tambahan pemanis, pewarna, penyedap, dan pengawet makanan.

 

Bila Anda ragu akan kopi instan sebaiknya kembali mengonsumsi kopi reguler.

 

 

Apabila Anda memiliki pendapat atau pun pertanyaan seputar manfaat kopi instan untuk kesehatan maka Anda dapat menyampaikannya pada kolom komentar di bawah ini. Saya akan senang hati berusaha menjawab pertanyaan Anda.

 

Referensi
  1. Tareke E, Rydberg P, Karlsson P, Eriksson S, Törnqvist M. Analysis of acrylamide, a carcinogen formed in heated foodstuffs. Journal of agricultural and food chemistry. 2002 Aug 14;50(17):4998-5006.
  2. EFSA Panel on Contaminants in the Food Chain (CONTAM). Scientific opinion on acrylamide in food. EFSA Journal. 2015 Jun;13(6):4104. http://www.efsa.europa.eu/en/efsajournal/pub/4104
  1. Nawrot P, Jordan S, Eastwood J, Rotstein J, Hugenholtz A, Feeley M. Effects of caffeine on human health. Food Additives & Contaminants. 2003 Jan 1;20(1):1-30.
  2. Yang A, Palmer AA, de Wit H. Genetics of caffeine consumption and responses to caffeine. Psychopharmacology. 2010 Aug 1;211(3):245-57.
  3. Ludwig IA, Mena P, Calani L, Cid C, Del Rio D, Lean ME, Crozier A. Variations in caffeine and chlorogenic acid contents of coffees: what are we drinking?. Food & function. 2014;5(8):1718-26.
  4. Frary CD, Johnson RK, Wang MQ. Food sources and intakes of caffeine in the diets of persons in the United States. Journal of the American Dietetic Association. 2005 Jan 1;105(1):110-3.
  5. Niseteo T, Komes D, Belščak-Cvitanović A, Horžić D, Budeč M. Bioactive composition and antioxidant potential of different commonly consumed coffee brews affected by their preparation technique and milk addition. Food chemistry. 2012 Oct 15;134(4):1870-7.
  6. Bichler J, Cavin C, Simic T, Chakraborty A, Ferk F, Hoelzl C, Schulte-Hermann R, Kundi M, Haidinger G, Angelis K, Knasmüller S. Coffee consumption protects human lymphocytes against oxidative and 3-amino-1-methyl-5H-pyrido [4, 3-b] indole acetate (Trp-P-2) induced DNA-damage: results of an experimental study with human volunteers. Food and chemical toxicology. 2007 Aug 1;45(8):1428-36.
  7. https://nutritiondata.self.com/facts/beverages/3901/2
manfaat obat generik

Dok, Jangan Resepkan Obat Generik Ya!

Beberapa minggu yang lalu saya bertemu dengan membawa anaknya yang berusia 4 tahun. Ibu tersebut mengaku anaknya demam hari ke 3 disertai dengan batuk pilek. Dari hasil pemeriksaan saya temukan amandel anak ini membesar dan sedang meradang. Ibu tersebut mengaku bahwa 1 hari yang lalu sudah berobat tapi menggunakan jaminan kesehatan nasional. Ibu merasa anaknya tidak ada perbaikan dan memutuskan untuk kembali berobat dan kali ini bertemu dengan saya. Lalu, tersampaikanlah pernyataan tersebut: Dok, Jangan Resepkan Obat Generik Ya! Kalau saya berobat pakai “asuransi” pasti diresepkan obat generik. Ini saya berobat umum dok, tidak pakai asuransi. Anak saya tidak sembuh dengan obat generik.

 

Pernahkah Anda mendengar pernyataan yang sama atau Anda menjadi salah satu orang yang menyampaikannya kepada dokter Anda?

 

Selama hampir setengah tahun saya bertemu dengan pasien di klinik 24 jam. Saya terkadang bertemu dengan pasien yang seperti ini. Termasuk ketika saya 4 bulan menjalani internship di Puskesmas.

 

“Dok, saya tidak mau obat dari puskesmas ya, dokter resepkan saja obat paten. Nanti biar saya beli saja di Apotek.” Ujar salah seorang pasien yang saya temu di Puskesmas dengan keluhan “masuk angin”.

 

Teman-teman sejawat lain juga sering menemui pasien seperti ini.

 

Artikel ini saya tulis dengan harapan memberikan informasi tentang apa itu obat generik yang sebenarnya.

 

 

Obat Generik: Obat Kelas Dua

Bila mendengar obat generik sebagian besar dari kita pasti akan menghubungkan obat ini dengan beberapa hal, yaitu:

  • Obat murah
  • Obat yang diberikan bila berobat dengan jaminan kesehatan nasional
  • Obat untuk orang yang kurang mampu
  • Obat kelas dua
  • Obat paten lebih menyembuhkan dibandingkan generik

 

Yang paling parah obat generik dikatakan sebagai obat yang tidak bisa atau malu dipamerkan ke orang lain. Mengkonsumsi obat kok jadi bahan pamer..

 

Apa benar seperti itu?

 

Seharusnya tidak “selalu” begitu.

 

Anda yang beranggapan bahwa obat generik benar seperti poin-poin di atas, jujur saja saya dapat nyatakan bahwa Anda kurang informasi seputar obat generik.

 

Kurang informasi inilah yang menyebabkan obat generik kurang disukai dan kurang dilirik orang yang membutuhkannya.

 

Sikap-sikap skeptis (kurang percaya; ragu-ragu) yang menyebabkan obat ini menjadi kelas dua sikap ini merugikan banyak pihak.

 

Siapa saja yang dirugikan?

 

Yang paling dirugikan adalah pihak pasien sendiri. Mengapa demikian? Karena pasien tidak lagi efisien dalam pembiayaan kesehatannya terutama untuk biaya yang dikeluarkan dalam membeli obat.

 

Sebab keinginannya adalah membeli obat paten bukan obat generik.

 

Banyak yang lupa bahwa kualitas suatu obat tidak ditentukan oleh tingginya harga.

 

Semua obat baru, harus dibayar dengan harga yang tinggi untuk jasa dan biaya penelitian atas penemuannya, hak atas monopoli produksi obat baru tersebut.

 

Namun, tidak semua penyakit yang pasien derita memerlukan jenis obat baru.

 

Bila masa paten obat baru tersebut habis. Maka obat yang sama dapat diproduksi oleh perusahaan farmasi lainnya. Hak atas monopoli obat hilang dan pemerintah dapat menetapkan harga eceran tertinggi untuk obat itu.

 

Biasanya pemerintah akan mengeluarkan daftar obat esensial yang berisi obat-obat yang harus tersedia pada setiap tingkat layanan kesehatan. Daftar ini biasanya berisi nama obat generik.

 

Masalah Yang Muncul Karena Terlalu Banyak Merek Obat

Masalahnya bukan hanya obat generik VS obat paten ini saja. Bila daftar obat esensial tersebut berisi setidaknya 200 jenis obat dan masing-masing obat tersebut memiliki 10 perusahaan farmasi yang memproduksi dengan merek berbeda.

 

Berapa ribu merek obat yang harus diingat oleh seorang dokter?

 

Saking menjamurnya merek obat dari jenis obat yang sama, mungkin Anda lebih mengenal obat yang Anda konsumsi dibandingkan saya.

 

Dan hal inilah yang terjadi, saya punya cerita menarik tentang penamaan obat ini.

 

Saya sedang melaporkan seorang pasien di bangsal dengan tanda-tanda keluhan depresi berat pada dokter psikiater (Sp. KJ). Hasil dari konsultasi dengan dokter Sp.KJ tersebut pasien harus diberikan obat golongan anti depresan yaitu Sertraline.

 

Karena obat ini jarang digunakan saya mohon izin ke dr. Sp.KJ untuk menanyakan terlebih dahulu ke bagian farmasi apakah obat ini ada atau tidak.

 

Saya kemudian menghubungi pihak farmasi. Jawaban dari farmasi adalah obat tersebut tidak tersedia.

 

Lalu, saya mengabarkan dr. Sp.KJ bahwa obatnya tidak tersedia. Beliau mengganti obatnya menjadi Fluoxetine. Lalu, saya kembali bertanya ke farmasi dan lagi-lagi obat Fluoxetine juga tidak tersedia.

 

Ketika saya laporkan kembali maka dr. Sp.KJ menanyakan obat anti depresi apa yang tersedia di bagian farmasi.

 

Saya pun menanyakan hal tersebut ke pihal farmasi. Pihak farmasi menyatakan bahwa obat anti depresan yang tersedia adalah Fridep.

 

Fridep itu adalah salah satu merek obat untuk Sertraline.

 

Berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk berulang kali konfirmasi ke dokter spesialis bila pihak farmasi juga tidak perhatian dengan nama generik obat anti depresi ini.

 

Terlalu, banyak cerita lainnya yang bila saya tuliskan di sini maka artikel ini dapat menjadi cerita pendek tentang anggapan obat generik sebagai obat kelas dua.

 

Lebih baik, mari kita kenali siapa obat generik itu sebenarnya.

 

 

Siapa obat generik sebenarnya?

Pada mulanya tidak ada obat generik. Semua obat sejak awal mula ditemukan adalah obat bermerek yang dipatenkan. Ketika masa patennya habis (biasanya 10 hingga 20 tahun) maka pihak lain diperbolehkan untuk memproduksinya dengan merek dari perusahaan farmasi tersebut masing-masing.

 

Berbagai merek obat tersebut mengandung isi senyawa obat yang sama dengan obat paten tersebut. Nama senyawa inilah yang digunakan sebagai nama generik dari obat.

 

Semua perusahaan farmasi lainnya boleh memproduksi obat tersebut. Karena masa patennya sudah habis maka tidak ada lagi monopoli obat sehingga harga bahan baku obat dapat diturunkan dan harga obat menjadi lebih murah.

 

Jadi tidak alasan, termasuk alasan medis untuk menyangsikan efektivitas obat generik.

 

Toh, bahan bakunya sama, kandungan senyawa aktifnya juga sama. Hanya kemasan, proses produksi, dan sedikit perubahan pada sediaan obat (ada obat yang dapat diperpanjang efeknya) serta seberapa besar profit yang diinginkan oleh perusahaan farmasi yang menyebabkan obat bermerek memiliki harga yang berbeda dengan obat generik.

 

Jadi sebagai kesimpulan setidaknya ada 3 istilah obat yang harus Anda ketahui.

 

Jenis obat berdasarkan patennya

Yang pertama: Obat Paten

Obat paten adalah obat yang diproduksi oleh satu perusahaan farmasi setelah mereka melakukan penelitian terkait dengan penemuan dan pengembangan obat tersebut. Untuk proses itu mereka mendapatkan hak paten atas obat dan tidak ada perusahaan farmasi lain yang boleh memproduksi dan memasarkan obat tersebut tanpa izin.

 

Yang kedua: Obat Generik Bermerek

Obat ini yang sering sekali masyarakat menganggapnya sebagai obat paten. Padahal obat ini merupakan obat generik dengan kandungan zat aktif yang sama seperti obat paten yang telah habis masa patennya dan diberi merek tertentu oleh perusahaan farmasinya. Kemasannya pun dibuat semenarik mungkin sehingga perusahaan farmasi bisa menetapkan harga obatnya sesuai dengan keinginan mereka.

 

Yang ketiga: Obat Generik Berlogo

Obat generik berlogo ini selalu menyertakan logo generik. Untuk produksi obat ini harganya ditetapkan oleh pemerintah melalui harga eceran tertinggi. Obat ini juga memiliki kandungan obat yang sama dengan obat paten yang telah habis masa patennya.

 

Jadi, kalau kandungannya sama apakah khasiatnya berbeda?

 

Seharusnya tidak. Bila Anda masih kekeh akan pendapat  bahwa Anda tidak sembuh bila tidak mendapatkan obat bermerek maka saya sarankan Anda untuk menunggu tulisan saya yang berikutnya.

 

Tulisan saya berikutnya akan membahas mengapa Anda merasa demikian dan efek psikologis dari obat generik.

 

Bila Anda memiliki pertanyaan dan cerita tentang penggunaan obat generik ini silakan tuliskan di kolom komentar. Saya dengan senang hati akan mencoba menjawab pertanyaan dari Anda sekalian.

 

Referensi
  1. Nadesul H. Obat Bisa Salah: Cerdas dan Bijak Mengkonsumsi Obat, Seri Cara Sehat. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2014.
  2. Generic Drugs: Myths and Facts

https://doh.dc.gov/sites/default/files/dc/sites/doh/publication/attachments/Generics%20Drugs%20Myths%20and%20Facts.pdf

  1. Generic drugs: myths, facts, and limitations – Italian Journal of Medicine

https://italjmed.org/index.php/ijm/article/view/itjm.2012.146/pdf

takut suntik insulin

Pasien Diabetes Takut Suntikan Insulin?

Seminggu yang lalu saya bertemu dengan seorang penderita diabetes mellitus tipe 2. Ini adalah kunjungan rutinnya ke klinik. Sebulan sebelumnya kadar gula darahnya 340 mg/dL. Kali ini angka itu lebih tinggi lagi 480 mg/dL. Pasien ini telah mendapat kombinasi 2 obat hipoglikemik oral. Saya menawarkan untuk merujuknya ke dokter spesialis penyakit dalam. Ia menolak, alasannya dokter penyakit dalam pasti akan menyarankannya untuk mendapatkan suntikan insulin.

 

Rasa penasarannya saya muncul lalu saya bertanya kepada pasien:

 

“Kenapa Bapak menolak untuk mendapatkan pengobatan dengan suntikkan insulin?”

 

Pasien menjawab:

 

“Saya tidak mau kecanduan insulin, dan saya tidak mau lebih cepat mati karena suntikan itu.”

 

“Dari mana Bapak mendengar bahwa insulin dapat menyebabkan kecanduan? Dan bagaimana Bapak bisa menyatakan pasien diabetes yang mendapatkan pengobatan insulin akan lebih cepat mati?”

 

Pasien kemudian menceritakan pandangan saudara, teman, tetangga, dan siapa pun yang pernah punya pengalaman atau pernah mendengar cerita tentang bahaya insulin ini. Selain itu, dia melihat sendiri tetangga sebelah rumahnya yang juga penderita diabetes meninggal dunia setelah 1 bulan menggunakan insulin.

 

Sungguh, meskipun ada satu Dokter yang paling pintar sekalipun, tiada daya dan upayanya untuk dapat menunda kematian seorang pasien bahkan satu detik pun.

 

Profesi ini hanya berusaha untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari, melakukan tindakan pengobatan sesuai standar, dan memberikan edukasi kepada pasien tentang kondisi sakitnya.

 

Itu semua sebagai salah satu upaya (ikhtiar) yang dapat dilakukan seorang pasien untuk mendapatkan kesembuhan.

Lalu, kembali ke cerita insulin di atas. Pada akhir pertemuan akhirnya pasien tersebut mau untuk saya rujuk ke spesialis penyakit dalam tapi masih tetap pada pendiriannya yang sederhana bahwa insulin itu berbahaya dan mempercepat kematian.

 

Sulit memang untuk mengubah persepsi seseorang bila orang tersebut sudah terlalu percaya.

 

Tapi, apakah benar insulin itu berbahaya? Kalau insulin aman, mengapa masih banyak penderita diabetes yang takut dengan suntikan insulin?

 

 

Mengapa pasien takut dengan suntikan insulin?

Beberapa pasien saya memahami bahwa insulin penting dan perlu untuk diabetes, tetapi pasien lain benar-benar menolak pendapat saya ketika saya memperkenalkan insulin kepada mereka. Baru sekedar memperkenalkan belum meresepkannya dan meminta mereka untuk menyuntikkan jarum halus pada ujung pena insulin di tubuh mereka.

 

Saya mendengar banyak tentang pasien yang melaporkan bahwa keluarga mereka memiliki masalah dengan insulin.

 

“Ketika bibi saya harus mendapatkan insulin, dia kehilangan kakinya,”

 

atau

 

“Ketika nenek saya menderita diabetes dan mendapatkan suntikan insulin, dia menjadi buta.”

 

Pendekatan apa yang harus dilakukan oleh dokter terhadap pasien dengan kekhawatiran tentang keamanan insulin ketika mereka benar-benar membutuhkannya?

 

Yang pertama harus disampaikan kepada pasien bahwa insulin “AMAN”. Tapi, keterlibatan masalah budaya, masalah sosial ekonomi, masalah agama, dan kepercayaan merupakan teka-teki bagi banyak orang.

 

Penelitian dari University of Texas Southwestern di Dallas menunjukkan bahwa 43% dari pasien diabetes yang mendapatkan suntikan insulin ragu untuk mendapatkan suntikan. Kekhawatiran ini berlandaskan pada alasan-alasan tertentu termasuk pernah melihat atau mendengar anggota keluarga mengalami efek merugikan dari insulin.

 

Selain itu, banyak pasien takut kecanduan insulin. Banyak orang yang tidak memahami konsekuensi atau manfaat penggunaan insulin dalam jangka waktu yang lama.

 

Orang-orang yang takut suntikan insulin ini juga mengaku bahwa mereka takut jarum, tidak mau disuntik karena nyeri pasca suntikan.

 

Yang menarik, 25% dari pasien yang diteliti oleh University of Texas Southwestern menyatakan bahwa mereka tidak mau disuntik insulin karena khawatir insulin menyebabkan kebutaan.

 

 

Pertanyaannya, benarkah insulin memiliki efek yang demikian parah bahkan hingga menyebabkan kebutaan?

 

 

Mengapa Insulin Penting Bagi Tubuh?

Insulin merupakan hormon yang diproduksi oleh organ pankreas. Insulin memungkinkan tubuh untuk menggunakan gula dan mengubahnya menjadi energi.

 

Setelah makan, saluran pencernaan Anda akan menghancurkan karbohidrat dan mengubahnya menjadi glukosa. Glukosa kemudian diserap pembuluh darah yang terdapat di permukaan usus halus.

 

Ketika glukosa berada di aliran darah, insulin akan membantu untuk memindahkan glukosa dari pembuluh darah tersebut ke sel. Sel, terutama mitokondria sel akan menggunakan glukosa tersebut sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi.

 

Insulin juga membantu tubuh mempertahankan keseimbangan kadar glukosa darah. Ketika terlalu banyak glukosa pada darah, insulin adakan memberikan sinyal kepada tubuh untuk menyimpan kelebihan glukosa tersebut pada liver (hati).

 

Glukosa yang disimpan tidak akan dilepaskan ke dalam aliran darah hingga kadar glukosa di dalam aliran darah menurun. Misalnya ketika, Anda berpuasa atau ketika tubuh menghadapi stres atau tubuh sedang membutuhkan energi ekstra seperti saat Anda berolah raga.

 

Penderita diabetes tidak dapat menggunakan hormon insulin dengan baik atau pankreas tidak memproduksi insulin yang cukup untuk mempertahankan keseimbangan glukosa darah tersebut.

 

Lalu, apakah semua penderita diabetes membutuhkan suntikkan insulin?

 

 

Insulin Sebagai Pengobatan Penderita Diabetes

Suntikan insulin dapat membantu mengobati kedua jenis diabetes. Insulin yang disuntikkan bertindak sebagai pengganti atau menambah insulin tubuh Anda. Orang dengan diabetes tipe 1 tidak dapat memproduksi insulin, jadi mereka harus menyuntikkan insulin untuk mengontrol kadar glukosa darah mereka.

Banyak orang dengan diabetes tipe 2 dapat mengatur kadar glukosa darah mereka dengan perubahan gaya hidup dan obat-obatan oral. Namun, jika perawatan ini tidak membantu mengontrol kadar glukosa, maka mereka juga memerlukan insulin untuk membantu mengontrol kadar glukosa darah mereka.

 

 

Insulin dengan dosis yang sesuai sangat aman digunakan. Beberapa efek buruk yang ditimbulkan oleh insulin erat kaitannya dengan penggunaan dosis yang tidak sesuai.

 

Yang paling sering adalah penggunaan dosis insulin yang terlalu tinggi.

 

Insulin yang berlebihan akan menyebabkan tubuh mengalami kondisi kekurangan kadar glukosa darah yang disebut sebagai hipoglikemia.

 

Hipoglikemia, atau kadar glukosa darah yang terlalu rendah, kadang-kadang dapat terjadi ketika Anda mendapatkan suntikan insulin.

 

Kondisi ini disebut  sebagai reaksi insulin. Jika Anda berolahraga terlalu banyak atau tidak cukup makan, kadar glukosa Anda bisa turun terlalu rendah dan memicu reaksi insulin. Anda perlu menyeimbangkan insulin yang Anda berikan sendiri dengan makanan atau kalori. Gejala reaksi insulin meliputi:

 

  • kelelahan
  • ketidakmampuan untuk berbicara
  • berkeringat
  • kebingungan
  • hilang kesadaran
  • kejang
  • kedutan otot
  • kulit pucat

 

Jadi, bila digunakan dengan tepat, insulin membantu menjaga kadar glukosa darah Anda dalam kisaran yang sehat.

 

Kadar glukosa darah yang sehat membantu mengurangi risiko komplikasi diabetes, seperti kebutaan dan kehilangan anggota badan.

 

Pasien buta dan kehilangan anggota badang karena harus diamputasi bukan karena penggunaan insulin tapi karena kadar glukosa darahnya tidak terkontrol.

 

Sangat penting untuk memonitor kadar glukosa darah Anda secara teratur jika Anda menderita diabetes.

 

Anda juga harus membuat perubahan gaya hidup untuk mencegah tingkat glukosa darah menjadi terlalu tinggi. Dan bicarakan dengan dokter Anda tentang cara-cara untuk membuat pengobatan Anda dengan insulin seefektif mungkin.

 

Bila Anda memiliki pertanyaan atau cerita tentang penggunaan suntikan insulin ini silakan tuliskan di kolom komentar.

 

Referensi

1. Everything You Need to Know About Insulin

https://www.healthline.com/health/type-2-diabetes/insulin

2. If Insulin Is Safe, Why Are Patients Afraid of It?

https://www.medscape.com/viewarticle/875794